Reyhan memasukan Olin yang berada pada gendongannya ke dalam mobil, kemudian ia pun ikut duduk di samping Olin. Olin menatap Reyhan yang sedang sibuk menggerogoh laci mobil. Matanya membelalak kaget melihat sebuah benda kecil pada genggaman.
Ia mengangkat single egg vibrating tersebut sambil mengayunkan nya. Senyuman remeh kembali terlihat pada sudut bibir Reyhan.
“Mas, kamu dapet darimana itu? kok bawa yang begituan? jangan pake itu ya? ” Tanya Olin dengan cepat, ia menatap ngeri kearah vibrator yang sedang Reyhan genggam.
Reyhan menguraikan kabel vibrator tersebut, tangannya mengutak-atik remot kecil yang tersambung. Getaran kecil mulai terlihat, ia menatap kearah Olin menyeringai.
“Ada apa? kamu takut? tadi katanya ingin bermain di mobil? ”
Olin menggigit bibirnya gugup, yang ia maksud adalah bermain biasa tanpa menggunakan toy sex, ia terlalu takut untuk mencoba alat tersebut karena melihat beberapa aktor favoritnya menangis ketika menggunakan alat itu.
“takut mas, kayanya itu sakit.. ” Ucap Olin menggelengkan kepalanya pelan.
Reyhan tertawa, ia menarik kaki kedua kaki Olin maju menghadap ke arahnya, lalu kedua tangan Reyhan melebarkan kaki Olin. Kini posisi kaki Olin sudah terbuka lebar dengan rok tersingkap ke belakang memperlihatkan celana dalamnya yang sudah basah. Kedua tangan Olin bergerak menutup vaginanya malu.
Reyhan menyingkirkan tangan Olin, ia meneguk ludahnya kasar, tangannya bergerak mengelus vagina Olin yang masih terbalut celana dalam. Ia mulai menggerakan jarinya turun naik, memutar dan sesekali menusuk pelan lubang yang sudah basah.
“Emhhmm.. Mass gehlli.. ” Desah Olin menutup matanya menahan nikmat karena ulah Reyhan.
Tak sabar ingin memainkan lebih vagina cantik Olin, Reyhan mulai membuka celana dalam dan rok yang Olin kenakan tersebut, lalu menariknya agar terlepas dari kedua kaki Olin.
Ia kembali menelan ludah tergiur untuk menjilat lendir-lendir yang menetes tanpa henti, namun ia ingin mempermainkan Olin dengan mainan yang baru saja ia beli pada online shop.
Reyhan mengelus vagina Olin dan sesekali menamparnya menimbulkan rasa perih nan nikmat bagi Olin. Mendapat perlakuan kasar dari Reyhan, vagina yang seakan haus dengan kenikmatan mulai kembang kempis tak karuan.
Reyhan mengambil vibrator, tangannya mengutak-atik kembali remot kecil yang terhubung, getaran kecil pun terlihat. Salah satu sudut bibir Reyhan terangkat, tersenyum licik. Tangannya kembali menahan kedua paha Olin agar tetap terbuka lebar.
“Memek murah, sudah ga sabar di masukan bukan sampai kedutan begini? cuih” Reyhan meludah pada vagina Olin.
Vagina Olin semakin basah lantaran mendengar kata-kata frontal Reyhan yang merendahkannya, ia menjerit ketika sebuah benda kecil kini sudah masuk bersarang pada vaginanya. Ia merasakan benda tersebut bergerak kecil mengusak vaginanya. Olin menggigit bibir menikmati sensasi asing yang baru pertama kali ia rasakan.
“Tahan pelepasan mu sampai Mas ijinkan. ” Reyhan memasang shealbet-nya dan mulai menarik kemudi, menjalankan mobil.
Olin menahan vagina nya yang terus merasa sensitif seakan ingin melepaskan hasratnya sekarang saat mendengar perintah Reyhan. Pria tersebut tahu betul bahwa dirinya lemah terhadap perintah, namun ia malah sengaja membuat dirinya tersiksa sekarang. Vibrator dengan getaran berubah-ubah, sejenak pelan kemudian menjadi cepat, betul-betul menyiksa dirinya.
“masshhh.. smmhh… mauu pipissshh” desah Olin dengan jari kaki yang menekuk menahan pelepasan. Dirinya terus saja bergerak resah menunggu perintah dari Reyhan.
Reyhan mengambil remot vibrator disamping menggunakan satu tangan sedangkan tangan lainnya tetap memegang setir. Ia menekan salah satu fitur pada remot vibrator tersebut.
“ARGHH, m-maassshh saakiiithh ahh”
“Sakit atau enak sayang? ” tanya Reyhan sambil tersenyum remeh menatap jalanan.
Olin mengeliat hebat merasakan vaginanya di usak habis-habisan oleh benda kecil ini, getaran yang Reyhan berikan semakin cepat membuat sang empu menjerit merasakan nikmat dan rasa perih yang menyatu.
“Punya mulut itu di pakai untuk bicara, bukan hanya untuk mendesah. ” Tegas Reyhan merasa pertanyaannya tidak mendapat jawaban apapun dari Olin. Ia melirik kembali kearah Olin.
“eughhh.. shh enaakhh.. ahh masshh pelaninn.. mhhh.. perrihh”
Reyhan mengambil kembali vibrator tersebut dan mengaturnya pada getaran sedang.
“Enak memek nya di sumpel pakai mainan? ” tanya Reyhan saat melihat Olin menutup mata sambil menggigit bibirnya menahan desah.
Olin menggeleng kecil, kepalanya pening menahan pelepasan yang ia ingin keluarkan sedaritadi.
“Enakhh pake kontol masshh Ahhhhh.. pengenhh keluaarhh please mhh.. ”
“Tahan.” Tangan Reyhan bergerak memutar lagu, ia membuka laci mobil dan mengambil satu permen batang. Dengan santai Reyhan memakan permen tersebut sambil terus mengemudi tanpa menghiraukan Olin yang merengek terus-menerus meminta keluar.
Beberapa menit berlalu, Olin masih terus merengek. Kini matanya sudah basah menangis, ia benar-benar ingin keluar saat ini. Tak tahan lagi dengan perintah Reyhan, tubuhnya menggelinjang tak karuan. Desahnya semakin nyaring bercampur dengan nafas yang memburu.
CURRRR CURHHH CURRRH
Suara air yang deras mengucur bersamaan dengan teriakan nikmat dari Olin, tubuhnya terkulai lemas setelah mendapat pelepasan. sumber Ngocoks.com
Reyhan membanting setir ke samping memberhentikan mobil sejenak, netranya menatap kearah Olin yang sedang terpejam lemas. Reyhan mencengkram kuat kemudi mobil menahan amarah. Tangannya bergerak mengambil vibrator yang masih tertanam pada vagina Olin dengan kasar. Olin membuka matanya, ia bergetar takut melihat Reyhan yang sedang menatap serius kearahnya.
“Maaf mas, aku ga tahan.. ” cicit Olin mengigit bibir bawah.
Sebulan tinggal bersama Reyhan membuat dirinya memahami akan sifat-sifat yang di miliki Reyhan. Salah-satunya adalah seperti saat ini, amarah yang bisa saja memuncak jika ia tidak menuruti perintahnya.
Reyhan masih menatap Olin sambil otaknya memikirkan suatu ide gila. Ia mengambil permen batang yang berada pada mulutnya, permen yang masih bulat sempurna kini ia arahkan pada vagina Olin yang terus berkedut.
Olin memundurkan tubuhnya perlahan sembari menggeleng kecil menolak ide tersebut. Tidak peduli dengan penolakan Olin, ia melebarkan gelambir gemuk vagina yang masih teramat sensitif.
Ia mengesekan permen tersebut turun naik membuat Olin bergelinjang kembali merasakan geli. Reyhan membuang nafas berat nya, mengalihkan sejenak pandangan pada jendela di samping.
“Sial, cantik banget memeknya. Pasti manis kalau saya jilat sekarang. ” Batin Reyhan tak tahan ingin menjilat vagina Olin yang berkilat akibat dari lelehan permen dan lendir sisa-sisa pelepasan. Ia menggeleng keras, pandangannya kembali menatap kearah vagina Olin, kini ia menusukkan permen tersebut masuk ke dalam vagina.
“Aaahhkkk.. masshh masihh ngilu ahhhh.. jangan di masukhhinn eummhh.. ” Kepalanya menonggak, menabrak jendela di belakang akibat Permen yang kini melesat masuk ke dalam dirinya.
“Pakai ini sampai apart. ” ucap Reyhan kembali mengemudikan mobil tanpa menghiraukan Olin yang sibuk dengan permen yang tertanam vaginanya.
***
Reyhan keluar dari mobil, ia berjalan pada sisi satunya sembari membuka jas yang ia pakai. Reyhan membuka pintu mobil, ia membungkukan tubuhnya, jas yang sudah terlepas tadi, kemudian ia kenakan untuk menutupi bagian bawah Olin yang sudah terlepas. Reyhan menggendong Olin dengan sigap membawanya ke dalam.
“Mas tidak sabar jilat permen yang ada di dalam memek kamu. ”
Bersambung…