Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Istri Muda Binal

Istri Muda Binal

Istri muda jalang
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Badan Sarina terasa segar setelah mandi dengan air hangat. Dirasakannya kondisi badannya sudah mulai enteng. Panas badannya sudah menurun dan pening di kepalanya pun telah menghilang. Ya, sebenarnya dia sudah merasa cukup sehat tapi dia toh beringsut lagi di balik selimut.

“Kapan lagi bisa malas-malasan seperti ini…?” Pikirnya senang. Sambil tiduran dipencetnya remote televisi mencari-cari channel yang menayangkan infotainment. Setelah memilih 1 channel, diraihnya sebuah apel dari meja kecil di samping ranjangnya.

“Hari ini muas-muasin manjain diri aah…” ucapnya dalam hati. Sementara itu Tejo baru saja selesai menyapu seisi rumah. Di dekatnya, Doni yang sebelumnya anteng di dalam babywalkernya mulai merengek-rengek. Tejo pun paham, botol susu yang sudah disiapkan sejak tadi segera diberikannya.

Pokoknya hari ini Tejo benar-benar seperti ibu rumah tangga menggantikan Sarina. Setelah menyapu dia mengerjakan pekerjaan lainnya dengan sigap. Dan bila Doni rewel, Tejo juga sudah tak canggung lagi memomongnya.

***

Hari kini menjelang siang. Doni yang sebelumnya aktif bermain ditemani oleh Tejo sudah tampak kelelahan. Tejo pun menggendongnya dan masuk ke kamar Sarina. Diketuknya pintu kamar Sarina yang tidak tertutup.

“Yaa…?” Sahut Sarina yang masih bermalas-malasan di ranjang.

“Tante nggak tidur ya?” Tanya Tejo setelah masuk.

“Nggak Jo, tidur terus-terusan malah tambah pening…” Jawab Sarina. Dihadiahinya Tejo dengan senyuman manis karna dia sudah membantu mengurusi rumah dan Doni.

“Sudah beres semua ya Jo, duh kamu hebat deehh… Bisa diandalkan!” Pujinya.

“Iya Tante… Ini Doninya udah ngantuk lagi, biar tidur dulu…” Jawab Tejo yang kegeeran. Hatinya melambung mendapat senyuman dari Tantenya itu. Takut salah tingkah, Tejo segera melangkah ke ruang sebelah hendak menidurkan Doni di box bayi.

“Eh, sini aja Jo, biar tidur di samping Tante. Biar Tante kelonin…” Sarina menggelar kain perlak di sampingnya dan ditutupinya lagi dengan kain yang empuk. Disuruhnya Tejo membaringkan Doni di atasnya.

“Kamu ambilin bantalnya di box bayi…” Pinta Sarina lagi.

“Ya Tante…” Jawab Tejo.

Setelah Tejo menyerahkan bantal Doni Sarina pun mengeloni Doni dengan sayang. “Makasih ya Jo, kamu istirahat gih…” Ucap Sarina lembut.

Tejo yang begitu mengagumi Tantenya itu kali ini memandangnya tanpa nafsu karna Sarina sedang memancarkan kharisma keibuannya. Tapi, melihat ibu yang cantik begitu, Tejo pun berkhayal seandainya istrinya nanti, ibu dari anak-anaknya kelak bisa secantik Sarina. Tejo yang sangat menghayati tanggungjawabnya kini berpikir untuk menyiapkan lagi susu Tejo untuk sore nanti.

Seperti tadi pagi, dia sudah menyiapkan susu di awal sehingga ketika Doni rewel minta minum dia tinggal menyerahkan botol susunya. Tapi tiba-tiba saja muncul rasa penasaran Tejo dengan air susu itu ketika mengambilnya dari lemari es. Ditimang-timangnya botol susu itu. Ini adalah air susu Sarina yang diperah Sarina sendiri. Sebelumnya belum pernah Tejo membayangkan seorang ibu memerah air susunya sendiri.

Air susu itu adalah yang terakhir. Hanya cukup untuk 1 botol lagi. Setelah ini jika Tantenya masih belum bisa menyusui Doni, berarti tentu dia harus memerah susunya lagi. Wajah Tejo mulai mupeng membayangkan adegan Sarina memerah air susunya sendiri dari payudaranya yang indah itu.

Terbesit ide nakal dalam benak Tejo. Dia penasaran seperti apa rasa susu ibu itu. Bukannya memindah air susu itu ke botol susu Doni, Tejo malah menuangkannya ke dalam gelas untuk diminumnya sendiri.

Awalnya Tejo agak ragu dengan rencananya itu, dalam hatinya merasa konyol. Tapi persetan, pikirnya kemudian. Ditenggak habis juga akhirnya gelas berisi air susu Tantenya itu. Tiap kali meneguk susu itu, dada Tejo berdebar kencang. Dipandangnya gelas yang sudah licin tandas itu. Tanpa memikirkan rasa susu itu, ada semacam perasaan puas dalam diri Tejo. Bahkan tanpa terasa batang Tejo mengeras di balik celananya.

“Waduh…” Keluhnya. “Bisa-bisanya bangun adik kecilku ini…?” Keluh Tejo pada dirinya sendiri dalam hati.

Ya terang saja batangnya itu mengeras. Jelas tidak mungkin kalau dia minum air susu Tantenya tanpa memikirkan sumbernya, alias buah dada Tantenya yang montok itu.

Tejo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Sesekali tangannya menepuk-nepuk kepalanya sendiri. Dia seperti ingin mengenyahkan bayangan yang kerap menyiksa batinnya itu. Tapi alih-alih hilang, bayangan itu malah makin menjadi. Batangnya malah makin menegang hingga maksimal.

“Anjiir…” makinya dalam hati. Entah setan mana yang merasukinya, tiba-tiba Tejo bangkit menuju kamar Sarina. Dia sendiri tidak tahu apa yang hendak dilakukannya. Kakinya seperti bergerak sendiri melangkah memasuki kamar Tantenya itu. Di dalam kamar dijumpai Tantenya sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil membaca majalah. Di sampingnya Doni tampak telah tertidur pulas.

“Ada apa Jo?” Tanya Sarina.

Tejo terdiam. Wajah Sarina yang tampak segar, dengan beberapa helai rambut tipis jatuh menutupi dahi dan wajahnya, makin tampak mempesona di mata Tejo. Sarina menyibak rambut yang jatuh menutupi wajahnya itu. Darah Tejo makin berdesir. Tiap gerakan Sarina seperti sudah didesain untuk memanjakan mata laki-laki. Lidah Tejo pun makin kelu.

“Ngapain aku ke sini dalam keadaan ngaceng begini???” Dalam hati dia menghardik dirinya sendiri.
“Kamu mau perkosa Tantemu sendiri memangnya, haah??? Buruan sana ke kamar!! Coli sanaaa…!!!” Hatinya menghardik kembali. Tapi dia sudah terlanjur masuk ke kamar Sarina. Jelas tidak mungkin pergi begitu saja mengatakan apa-apa. Makin lama dirinya diam, makin heran Sarina dibuatnya.

“Ngg…ga Tante, ga ada apa-apa…” Akhirnya Tejo menjawab.

Tapi jawaban macam apa itu? Kalo ga ada apa-apa ngapain masuk? Hatinya seperti menertawai dirinya sendiri. Tejo pun tersenyum kecut. Sarina tampak heran dengan jawaban itu, matanya melirik gelas kosong yang dibawa Tejo.

“Oh mai gat!! Tantee… Cantik nian dirimuuu…” Puja Tejo dalam hatinya yang makin terbuai.

Sungguh dahsyat kharisma kecantikan Tantenya itu. Hanya dengan gerakan mata saja, dia sudah bisa membuat hati Tejo blingsatan. Tapi hanya sekejap saja dirinya terbuai. Tanpa sengaja gelas yang tadi digunakan untuk minum susu Sarina masih dipegang di tangannya.

Menyadari hal itu, Tejo pun makin bingung harus berkata apa. Lirikan Sarina pada gelas itu seperti memberondongnya dengan pertanyaan, “gelas apa itu Jo?! Kamu baru minum apa Jo?!” Padahal Sarina sendiri sama sekali tidak menanyakan apa-apa.

“Sini Jo…” Sarina menyuruh Tejo mendekat.

Tangannya menepuk-nepuk sisi ranjangnya mengisyaratkan bahwa dia mempersilahkan Tejo duduk di situ. Sarina tersenyum. Dalam hatinya bertanya ada apa dengan keponakannya itu, kok canggung seperti dulu saat awal-awal dia baru datang. Sungguh bagi Tejo saat itu lebih baik Sarina menyuruhnya keluar kamar saja ketimbang malah menyuruhnya mendekat. Tapi sambil melangkah dikuatkan hatinya.

“Tampaknya aku sudah tak bisa mundur lagi… Maju teruuuss…” Katanya dalam hati. Lho, seperti mau ngapain aja dia itu. Gila.

Bukan Tejo namanya kalau tidak segera bisa menguasai diri.

“Ini, susunya habis Tante…” Ucapnya lancar setelah duduk di dekat Sarina.

“Lho… Habis ya…? Kirain cukup buat 3 kali…” Jawab Sarina.

“Eee… Iya sih tadi sebenernya masih ada buat sekali lagi Tante.” Sahut Tejo.

“Nah, trus kemana? Tumpah ya?” Tanya Sarina.

Tejo hendak mengiyakan. Dia sudah siap berbohong tentang hal ini. Tapi entah kenapa, tiba-tiba muncul keberanian dalam dirinya untuk menjawab jujur.

“Tejo minum Tante…” Jawabnya polos. Hatinya pun berdebar menanti reaksi Tantenya.

Sungguh di luar dugaan, Sarina spontan tertawa geli mendengar jawaban Tejo. Tejo meringis.

“Aduuh… Serius kamu Jo? Kok bisa-bisanya kamu minum air susu Tante itu…? Bukannya Tante udah belikan susu buat kamu sendiri? Sudah habis memangnya?” Tanya Sarina bertubi-tubi setelah tawanya reda. Senyum lebar masih tersungging di bibir manisnya.

“Penasaran aja Tante…” Jawab Tejo cengengesan dengan muka memerah.

“Penasaran gimana?” Tanya Sarina lagi.

“Ya yang dibelikan Tante kan susu sapi…” Jawab Tejo.

“Ya iyalah… terus kamu penasaran ya rasanya ASI? Duh, kamu ini ada-ada aja Jo… Jatah Doni gitu loh kamu minuum…” Ujar Sarina gemas.

“Iya Tante, tadi Tejo cuma iseng aja… ga tau deh… Maaf ya Tante…” Ucap Tejo meminta maaf walau Tantenya itu sama sekali tidak menampakkan nada marah.

“Yah udah deh… Tapi gimana nanti kalo Doni haus, hayoo…? Tante belum bisa nyusuin nih… masih lemesss…” Ucap Sarina manja.

“Diperah lagi aja Tante…” Jawab Tejo enteng.

“Huuu… Kamu ini… Dipikirnya enak?” Ujar Sarina sambil mengusap-usap kepala Tejo dengan cepat hingga rambutnya berantakan. Tejo meringis saja sambil merapikan rambutnya. Hatinya senang diperlakukan seperti itu oleh Sarina.

“Badan Tante ini masih pegal. Terutama leher ini loh yang paling sakit kalo masuk angin… Kalo merah susu kepalanya harus nunduk terus, Tante belum kuat…” Jelas Sarina. Tangannya diangkat memijit-mijit tengkuknya.

“Mmm… Biar Tejo bantu Tante…” Entah angin darimana yang membuat Tejo nekat mengucapkan itu tanpa ragu sedikit pun. Sarina agak tercengang dalam hatinya melihat ponakannya yang mulai ‘nakal’ itu. Tapi dalam hatinya malah merasa gemas dan makin ingin menggoda Tejo lebih jauh.

“Iih kamu… bantu ngapain?” Tanyanya menggoda. Tejo tersipu tak menjawab.

“Tejoo… kamu mulai genit yah? Kamu mau bantu memerah buah dada Tante iniii…?” Sarina mencubit Tejo gemas.

“I… iyaa Tante, kan kemarin Tante sendiri yang bilang…” Tejo meringis membela diri. Cubitan Sarina yang tidak sakit seperti cubitan sayang baginya. Jantungnya mulai berdebar-debar lagi, kali ini karena terlampau bersemangat.

“Kamu ini… Jo…” Ucap Sarina lembut sambil membelai-belai rambut Tejo yang terdiam tidak berani menatapnya.

“Sebenarnya itu ide bagus Jo, Tante memang butuh bantuan, kalau Oom-mu ada pasti Tante udah minta ke dia… Tapi kalo sama kamu…?” Sarina idak melanjutkan ucapannya.

Tejo
Tejo

“Kenapa memangnya Tante…” Tanya Tejo berlagak polos.

Sarina tersenyum geli mendengarnya. Dipijitnya hidung Tejo gemas,

“Kamu ini udah gede Jo…!” Ucapnya. Sarina sebenarnya sedang mempermainkan perasaan Tejo.

Dari tadi tangannya melancarkan ‘serangan maut’ mengusap-usap kepala Tejo, mengelus rambutnya, mencubitnya, menepuk-nepuknya, kini bahkan memijit hidungnya. Belum lagi ditambah senyum manis yang bertubi-tubi dilemparkan pada Tejo dari tadi.

“Kamu udah remaja sekarang. Udah pernah ‘ngimpi’ kan Jo? Kapan pertama kali?” Tanya Sarina serius.

“Ee…Ngimpi apa…? Ooh maksud Tante mimpi basah?” Tejo balik bertanya.Wajahnya merah padam tak menyangka Tantenya bakal menanyakan hal itu.

“Ya iya…” Jawab Sarina. “Udah kan?” lanjutnya mengulang pertanyaan.

“Ya… Udah Tante…”

“Kapan pertama kali?”

“Yaa… Ga tahu Tante udah lama deh, pas SD…”

“Nah lo, malah udah sejak SD…!”

Tejo terdiam. Sarina juga ikut diam sejenak memikirkan kata-kata yang akan dilontarkannya lagi.

“Artinya kamu udah matang Jo… Udah punya nafsu kamu…” Sarina menerangkan dengan serius. “Coba Tante tanya, gimana menurutmu Tante ini?” Tanyanya kemudian.

“Ee… maksudnya? Tante… Ya Tante orangnya baik…?” Jawab Tejo masih terbata bata belum tahu arah pembicaraan Tantenya. Ngocoks.com

“Bukan gitu…” Sarina tertawa kecil. “Maksudnya secara fisik, bagaimana penilaian kamu sebagai laki-laki dewasa terhadap Tante sebagai seorang wanita dewasa… Bagaimana kamu memandang Tante?” Tanya Sarina lagi.

“Ta… Tante cantik…?” Jawab Tejo agak ragu.

Sarina tersenyum. “Hanya itu?”

“Mmm…” Tejo bingung harus berkata apa lagi. Sebenarnya dengan ditanya begitu ingin sekali ditumpahkan perasaannya saat itu juga. Tapi dia segan dan ragu, di samping menerka-nerka apa sebenarnya maksud Tantenya itu.

“Jangan malu… Hayo…?” Sarina mengusap-usap rambut Tejo lagi seperti hendak memunculkan keberaniannya.

“S… Seksi Tante…!” Jawab Tejo sambil meringis.

“Haa…?” Sarina berlagak tak mendengar.

“Iya… Tante seksi. Cantik dan seksi!” Ucap Tejo lagi kali ini mantap.

Sarina tertawa kecil. “Apa selama ini cuma itu yang kamu pikirkan tentang Tante?” Ucapnya. “Tante tahu, bukannya sombong ya Tante sadar dengan kecantikan Tante. Dulu Oom-mu itu banyak saingannya loh… Memperebutkan Tantemu ini. Hi hi hi…”

Tejo mangut-mangut. Sarina melanjutkan, “Tapi kalau cuma cantik dan seksi… Mmm…” Kalimatnya terputus. Dia bingung bagaimana menjelaskan maksudnya.

“Sekarang gini aja… Tante tanya, gimana menurutmu kulit Tante?” Tanya Sarina lagi. Tejo berpikir sebentar, tapi kemudian dia tak ragu lagi.

“Putih dan mulus…” Jawabnya meringis.

Sarina tersenyum. “Nah begitu, kalo body Tante gimana?” Kerlingnya.

“Yaaa… Itu tadi, seksi…” Sahut Tejo tak bisa menemukan kata lain.

Sarina tertawa, “Oh iya…” Ucapnya. Tejo jadi ikut tertawa.

“Yaa ya… sudah deh nanti Tante malah kege-eran… Tapi kamu dah paham kan maksud Tante? Kamu itu udah gede, naluri seksualmu pasti udah tumbuh. Wanita dewasa dan bagian-bagian tubuhnya menjadi sangat menarik dan merangsang buat kamu… Iya kan? Buktinya kemarin kamu nonton DVD porno… Kamu bilang penasaran. Lha iya memang begitu fitrahnya. Tante juga wanita dewasa. Bukannya ge-er, tapi Tante tahu kok selama ini kamu mengagumi Tante. Kamu suka curi-curi pandang ke Tante, terutama kalo Tante lagi nyusuin si Doni… Tante nggak marah karena emang begitu normalnya. Kecuali kamu homo…” Jelas Sarina panjang lebar.

“Buah dada memang salah satu bagian dari wanita yang paling menarik bagi laki-laki di samping wajahnya. Kalo wajah kan selalu terlihat… Sementara buah dada selalu tersembunyi, jadi memang menjadi misteri yang menyenangkan bagi laki-laki, dan sensasinya jauh lebih besar kalo sudah bisa melihatnya.” Lanjut Sarina masih panjang lebar.

“Itulah sebabnya Tante ragu kasih kamu memerah buah dada Tante Jo… Tante ga berani…” Pungkasnya.

Tejo menelan ludahnya. Mendengar Sarina mengucap ‘buah dada’ berulang kali saja sudah membuat jantungnya blingsatan.

“Memangnya kenapa Tante?” Tejo bertanya lugu.

“Halah, masih nanya juga kamu udah dijelasin juga… Jo, kamu bukan hanya bakal melihat buah dada Tante telanjang tapi juga menyentuhnya Jo… Bahkan meremas-remas… Itu terlalu beresiko!” Jawab Sarina gemas.

“Tapi Tejo kan ga mungkin macem-macem Tante… Kan sama Tante sendiri.” Jawab Tejo meyakinkan. Sarina terdiam. Dipandangnya wajah Tejo yang ngenes.

“Duuh, kamu ini benar-benar kepingin yaa…?” Tanya Sarina pelan. Dibelainya lagi kepala Tejo.

“I… Iya Tante…” Jawab Tejo tercekat. Matanya memandang Sarina penuh harap.

“Kamu belum punya pacar Jo?” Sarina mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Duh, ga kepikiran Tante… Lagian sejak kenal Tante rasanya cewek lain jadi ga menarik di mata Tejo…” Jawab Tejo polos.

“Waduuh, malah sudah berani merayu kamu ini… Ini Tantemu Jo…!” Tawa Sarina meledak. Tejo seketika tersipu. Dia sama sekali tidak ada maksud merayu tadi. Ucapannya benar-benar apa adanya.

Tiba-tiba mimik Sarina berubah serius, ditatapnya mata Tejo dalam-dalam.

“Jo……” Ucapnya.

“Ya Tante?” Sahut Tejo berdebar-debar.

“Gimanapun Doni memang butuh ASI… Kamu… Kamu bener ya janji ga macem-macem?” Tanya Sarina agak terbata. Diam-diam dia sendiri juga mulai terangsang.

“Janji Tante!” Jawab Tejo mantap.

Sarina terdiam sesaat. Berdebar-debar Tejo dibuatnya.

“Ya udah, kamu ambil wadah sana…” Akhirnya Sarina memberi instruksi.

“Ja… Jadi Tante…?” Sahut Tejo seperti tak percaya. Dalam hatinya seketika berteriak girang seperti orang yang baru menang lotre.

“Tapi ingat loh Jo…! walau kamu nanti terangsang dengan buah dada Tante, ini demi Doni. Bukan buat pelampiasan nafsu kamu. Kamu kontrol diri ya, ingat Oom kamu…!” Ucap Sarina mengingatkan.

“Siap Tante!” Sahut Tejo sambil melesat keluar kamar mengambil wadah yang diminta Tantenya.

Sarina diam terpaku di atas ranjang. Dirinya juga berdebar membayangkan apa yang sebentar lagi bakal terjadi. Ada perasaan grogi menyelinap, di samping nafsunya juga mulai meluap-luap.

“Aah Tejo, gak nyangka secepat ini kamu sudah bisa menjamah Tante.” Ucapnya dalam hati.

Kalau saja di dapur ada kamera tersembunyi, tentu polah Tejo yang melompat-lompat kegirangan seperti orang yang lupa diri akan terekam. Ya, begitulah Tejo saat Sarina tak lagi melihatnya di luar kamar. Kegembiraannya teramat sangat, bahkan ingin rasanya dia teriak, tapi urung karena tentu Sarina bakal mendengarnya. “Yess, datang juga hari ini…!” Pekiknya dalam hati.

Holy Cow!

Dengan membawa wadah yang dibutuhkan Tejo segera kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Sarina duduk pasrah di tepi ranjang. Sarina menoleh, senyumnya tersungging lagi.

“Ahh Tante…” gumam Tejo dalam hati dengan gemas. Tak membuang waktu Tejo segera duduk di ranjang berhadapan dengan Sarina. Untuk sesaat keduanya tampak canggung. Tapi Sarina segera angkat bicara.

“Siap Jo…?” Ucapnya tersenyum menggoda.

“Y.. ya Tante…” Tejo tampak grogi.

“Yang lembut ya…?” Melihat Tejo yang grogi Sarina malah makin gemas menggodanya.

“I… iya Pasti Tante!” Tejo makin blingsatan.

“Tante tahu ini saat teristimewa bagimu…” Sarina makin nekat menggoda.

Tejo terdiam.

“Ini pertama kalinya kamu lihat payudara secara langsung kan?’ Tanya Sarina.

Tejo mengangguk cepat.

“Nah, Tante ingin kasih yang spesial buat kamu…” Kerling Sarina. “Sekarang Tante kasih kamu kesempatan, kamu yang buka baju Tante…” Tantangnya.

Edan. Sarina seperti lupa kata-katanya sendiri. Padahal tadi dia minta pada Tejo untuk mengontrol diri dan tidak menganggapnya sebagai pelampiasan nafsu, tapi kini malah dia sendiri menggodanya seperti itu. Tejo sendiri jelas terkesiap mendengar kata-kata Sarina. Jakunnya naik turun, tapi belum juga berani bergeming.

“Nah lo, sekarang malah kamu yang malu-malu… Hi hi hi…” Sarina membelai pipi Tejo, diangkat dan ditolehkannya kepala Tejo yang dari tadi menunduk supaya menghadap dirinya. Kemudian Sarina membuka 1 kancing paling atas piyamanya lantas diam menunggu Tejo untuk meneruskannya.

Tejo yang paham apa yang dikehendaki Tantenya mulai memberanikan diri. Dengan gemetar tangannya mulai melolosi kancing piyama Sarina satu demi satu. Nafasnya menderu. Dalam hatinya geregetan sekali dia pada Tantenya. Serasa ingin langsung ditubruk dan digagahinya. Inilah yang selalu dia bayangkan saat Anton mengunjungi Tantenya itu. Bayangan yang selalu menyiksa dirinya, tentang bagaimana Anton menelanjangi Tantenya.

Kini peran itu dimainkan olehnya. Sekarang dia yang jadi bintangnya! Tejo berhenti di kancing ketiga. 2 kancing paling bawah dibiarkannya tetap mengancing. Nafasnya makin memburu. Keberanian makin muncul dalam dadanya. Dibukanya piyama Sarina dengan menyibak bagian kerahnya dan memelorotkannya dengan cepat dari atas melewati bahunya hingga berhenti di tengah lengannya. Sarina tentu saja kaget.

“Kyaaa…!” Kedua payudaranya langsung melompat keluar karena dia tak mengenakan BH.

Tejo terkesiap melihat pemandangan yang begitu indahnya itu. Pemandangan yang selama ini menghantui jiwa remajanya, yang menjadi impian tiap laki-laki untuk memandangnya, kini terpampang jelas di hadapannya tanpa halangan apapun. Detak jantungnya mengencang bak dentuman meriam. Nafasnya tercekat, tenggorokannya menjadi gersang, dan yang pasti ‘adik kecil’nya langsung terbangun dengan tegangan super tinggi.

Tejo merasa betapa beruntungnya dirinya. Pengalaman pertama melihat payudara wanita, dirinya langsung mendapat kualitas nomor satu. Payudara Sarina memang benar-benar sempurna. Besar, namun padat dan kencang sehingga putingnya yang mungil mengacung seperti menantang minta segera dihisap. Putih tanpa noda, mulus tanpa cacat.

“Ahh…” Sarina mendesah lirih merasakan angin dingin AC menerpa kulit payudaranya yang terbuka bebas.

Bulu kuduknya berdiri seketika. Debar jantungnya juga makin keras seperti halnya Tejo. Naluri ekshibisionisnya hari ini naik ke level yang lebih tinggi dengan mempertontonkan kedua payudaranya dengan bebas tepat di hadapan keponakannya sendiri yang buruk rupa itu.

Awalnya Sarina mengira Tejo hanya akan menyingkap piyamanya saja. Tak disangka Tejo telah membuka dirinya dengan cara seperti itu. Bagian pundak hingga dada Sarina kini terekspos. Secara spontan dia menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Kenapa dibuka dua-duanya Jo…? Nakal iih… Satu aja…” Ujarnya.

“Hari ini Tejo mau memeras Susu yang banyak…!” Jawab Tejo nakal.

“Satu aja cukup Jo…” Ucap Sarina tersenyum.

Ditariknya piyamanya supaya menutupi lagi pundaknya yang terbuka. Tejo buru-buru mencegahnya.

“Jangan Tante pliss…” Ucapnya ngenes. Dia tak ingin pemandangan itu segera berakhir.

Sarina langsung mencubit pipinya, “Nah lo, mulai nakal… Tante ini bukannya mau memuaskan nafsu kamu Jo. Hayo, tadi katanya janji mau kontrol diri…?! Lagian dingin kan, nanti Tante sakit lagi…” Sahutnya tegas.

Tejo tidak berani membantah. Geregetan perasaannya dengan sikap Sarina yang main tarik ulur itu. Sarina sendiri dalam hati juga menikmati permainannya itu. Dia tahu Tejo tentu terangsang berat saat itu.

“Kamu suka Jo?” Tanya Sarina pelan.

“I.. Iya Tante, suka sekali…” Jawab Tejo polos.

Sarina tersenyum mendengarnya. Dielusnya lagi kepala Tejo.

“Tante tahu betapa menariknya buah dada Tante buat kamu. Dan Tante nggak marah, justru itu menunjukkan kalo kamu laki-laki normal. Walaupun niat kita menyediakan ASI buat Doni, Tante tahu bagaimanapun juga nafsu kamu pasti tetap muncul. Kamu pasti terangsang kan? Itu resiko yang Tante ambil dan Tante harap kamu ikut jaga kehormatan Tante… Oke?” Ucap Sarina, mencoba memainkan peran sebagai Tante yang bijaksana. Tejo pun mengangguk tanda menurut.

“Nah ayo dimulai Jo…” Ucap Sarina tersenyum menggoda. Manis sekali. Tejo mulai mengulurkan tangannya.

Waktu seakan berhenti saat jemarinya menyentuh kulit payudara Sarina. Bahkan jantungnya sendiri pun seolah berhenti berdenyut. Tejo tidak langsung menggenggam payudara itu. Dia terlebih dulu mengelusnya dengan lembut, ingin merasakan kehalusannya.

Sarina merinding saat merasakan kulit payudaranya bergesekan dengan jemari Tejo yang kasar. Dia membiarkan Tejo mengelus-elus payudaranya untuk beberapa saat. Dipandangnya wajah Tejo yang tampak tegang.

“Puas-puasin deh Jo rasa penasaran kamu dengan payudara Tante…” gumamnya dalam hati. Sesaat kemudian, tangannya meraih tangan Tejo dan digenggamkannya pada payudaranya.

“Kok malah dielus-elus Jo, ayo mulai diperas ASI Tante…” Ucapnya. Dia pun membimbing tangan Tejo dengan gerakan meremas. “Begini caranya Jo…” Jelasnya. Ngocoks.com

Sarina mengajarkan gerakan mengurut dan memeras dengan 2 jari hingga air susunya pun mulai keluar. Tejo benar-benar takjub melihat air susu yang mengucur keluar dari puting susu Tantenya itu. Sarina melepaskan tangannya dan menyandarkan tubuhnya.

Tejo mengerti, dia pun segera meneruskan memeras payudara Sarina. Air susu Sarina yang mulai mengucur deras ditampungnya di wadah yang telah disiapkan.

“Curr… Cuurr… Cuurrr…” Sarina memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Bagaimanapun dia juga merasakan sensasi dari remasan tangan Tejo pada payudaranya.

“Aah… Jo jangan terlalu kencang, sakit…” Desah Sarina manja.

“Iya Tante… Maaf…” Tejo tersipu menyadari dirinya yang terlalu bersemangat.

“Pelan aja ya sayang…” Ucap Sarina lagi.

Lagi-lagi perasaan Tejo dilambungkan oleh godaan Sarina yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Makin gemas dia melumat payudara Tantenya itu dengan tangannya. Betapa menakjubkannya gumpalan payudara itu. Bentuknya sangat sederhana tapi bisa membuat semua laki-laki mabuk kepayang, blingsatan, hingga lupa diri. “Duh herannya, benda ginian aja kok nggemesin banget… Hiiih…!!! Oh mai gat… indahnyaaa…!!! Ingin rasanya Tejo teriak.

“Ouuuhhh…. Joooo, pelan…!” Sarina mendesah panjang. Matanya mulai sayu. Tanpa sadar Tejo terlalu keras lagi meremasnya. Lenguhan Sarina terdengar merdu sekali di telinga Tejo. Penisnya pun makin meronta di balik celananya.

“Maaf Tante… Habis gemas…” Tejo meringis seperti tanpa dosa.

“Kamu ini… mau memerah susu apa mau mencabuli Tante sih…?” Sarina merengut manja. Sekali lagi Tejo takjub mendengar kata-kata “mencabuli” dari bibir Tantenya itu. Hatinya teriak, “Iyaa Tante, Tejo pingin mencabuli Tante sekarang jugaa…!” Tapi tentu saja kalimat itu tidak sampai keluar dari mulutnya.

Dengan pelan Tejo meneruskan lagi memerah ASI dari payudara Sarina. Sedikit demi sedikit wadah yang dibawanya pun mulai penuh. Sarina diam saja sambil tetap menyandarkan tubuhnya. Posisinya terlihat seperti sedang pasrah. Kalau saja Doni terbangun dan bisa berpikir, tentu dia akan takjub melihat pemandangan yang ganjil itu.

Mamanya yang cantik jelita bersandar pasrah sementara payudaranya yang putih mulus diremas-remas oleh tangan Tejo yang kasar dan hitam legam. Sesekali Sarina terlihat meringis dan menggigit bibir karena Tejo masih saja kerap meremas terlalu kencang.

Tapi dirinya tidak lagi memprotesnya. Diam-diam sesungguhnya dia pun menikmatinya. Tak lama kemudian wadah yang dibawanya pun penuh dengan air susu Sarina. Tejo menghentikan perasannya. Diambilnya tisu dan diusapnya puting susu Sarina yang basah.

“Sudah Jo?” Tanya Sarina. Tubuhnya menggelinjang merasakan geli di putingnya yang disapu tisu.

“Iya Tante, ni yang satu udah penuh…” Tejo yang masih gemas pada payudara Sarina ternyata sudah menyiapkan wadah kedua. Lho… Sarina jelas tidak menyangka, tapi dirinya malah tertawa geli.

“Ya ampun Tejo, kamu bawa 2 wadah? Buat apa banyak-banyak Jo, 1 aja cukup…!” Ujarnya gemas.

“Buat persediaan Tante…” Jawab Tejo meringis. Tapi dirinya ragu juga untuk meneruskan karna tampaknya Sarina keberatan. “Itu kan sudah bisa buat 2 kali Jo… Lagian nanti kalo habis kan bisa diperah lagi…” Ucap Sarina lembut.

Tejo terdiam. Jelas sekali dia menahan sesuatu yang hendak disampaikannya. Mungkin karena takut. Sarina yang mengamati raut muka Tejo pun memahami.

“Kamu mau perah buat kamu sendiri ya? Hayo…?” Terkanya.

Muka Tejo memerah. Sebenarnya dia hanya ingin lebih lama lagi menikmati menjamah payudara Tantenya itu. Tapi dirinya pun mengangguk mengiyakan.

“He eh Tante…. Bo.. leh kan Tante?” Tanyanya ragu.

Lagi-lagi Sarina tertawa geli. “Kamu ini ada-ada aja Jo… Tante beliin kamu susu sapi, jarang sekali kamu minum. Eh, sekarang kamu malah ketagihan susu Tante…” Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Tejo karena gemas.

Tejo hanya meringis saja. Dirinya masih belum berani bicara.

“Ya udah deh Tante kasih…” Akhirnya Sarina memutuskan. “Tapi, secukupnya saja ya…?” Kerlingnya.

Tejo pun sumringah, “Baik Tante…” Sahutnya cepat.

Sarina tersenyum geli. Tubuhnya pun bersandar lagi mempersilahkan Tejo melanjutkan. Tejo tidak buang waktu. Disingkapnya piyama Sarina yang menutupi payudaranya yang 1 lagi. Sarina langsung memprotesnya,

“Nah lo, kok dibuka lagi Jo…? Nakal banget sih kamu…” Ujarnya pura-pura mengomel.

“Ka… Katanya boleh 1 lagi Tante…?” Jawab Tejo ngeles. “Kan biar imbang Tante, kalo ga pindah susu nanti yang 1 kosong, yang 1 penuh kan jadi berat sebelah…” Lanjutnya.

Sarina langsung tertawa geli mendengar logika Tejo yang lugu itu. “Huuu…! Sok tahu kamu Jo…!” Dicubitnya pipi Tejo dengan gemas. “Ya udah deh terserah kamu… Dasar genit!” Lanjutnya. Bagaimanapun juga pada akhirnya Sarina membiarkan saja apa mau Tejo.

Tidak heran memang kalau Tejo terobsesi menelanjangi seluruh dada Tantenya itu. Payudara tentu jauh lebih indah bila tampil sepasang ketimbang hanya sebelah. Tejo hanya mesam-mesem saja melihat tingkah Tantenya yang sok jual mahal itu.

Dia pun mulai nekat. Sebelum mulai memeras, dia menyingkap lagi bagian atas piyama Sarina yang masih menutupi bahunya. Dengan 1 gerakan, bahu Sarina pun terbuka lagi. Sarina langsung bergidik merasakan angin AC yang kembali menerpa tubuhnya.

“Iiih Tejo…!” Protesnya.

“Biar leluasa Tante…” Tejo berdalih.

“Dingiin Joo…” Keluh Sarina.

“AC-nya dikecilin aja Tante…” Usul Tejo.

Tanpa minta persetujuan Sarina dia sendiri langsung meraih remote AC dan menekan tombol untuk menaikkan suhu. Sarina terdiam menyaksikan ulah keponakannya yang mulai nakal itu. Piyamanya yang masih terbuka separuh dan menggantung di lengannya pun ia lolosi hingga terlepas sepenuhnya. Kemudian piyama itu dilemparkannya ke wajah Tejo dengan gemas.

“Niih… Puaas…? Puaaass…?” Serunya menirukan Tukul Arwana.

Tejo jelas terkesiap melihat Tantenya yang kini bertelanjang dada. Dia tak berani menjawab, hanya menelan ludah berkali-kali.

“Gila… Betapa mulus dan betapa sempurnanya…” Puja Tejo dalam hatinya.

Ingin sekali dijelajahi dan dielusnya seluruh tubuh Tantenya itu. Darah Sarina juga makin berdesir kencang di dalam dadanya. Dia sendiri tak menyangka akan berbuat sejauh itu. Tapi ada semacam perasaan lega dan puas sekali dalam dirinya saat itu. Terjadi keheningan sesaat yang membuat mereka berdua merasa canggung satu sama lain. Akhirnya karena tidak tahan Sarina pun angkat bicara.

“Hayo dimulai lagi… Kok malah bengong? Kalo kamu cuma mau melototi tubuh Tante, tak usah yaa…! Tante pakai lagi lho piyamanya!” Ujarnya.

Tejo tersentak. “I… Iya Tante!” Jawabnya.

Dengan sigap Tejo mulai memerah payudara Sarina yang satunya. ASI murni nan jernih pun mulai mengucur deras dari puting susu Sarina yang bersandar terdiam. Dirasakannya Tejo masih saja kerap meremas payudaranya dengan kasar. Tapi dia enggan memprotesnya lagi. Lagipula dirinya juga mulai merasakan keenakan dari sensasi itu.

“Aaahh…” Desahnya lirih.

Mendengar itu Tejo spontan memperlunak remasannya. “Sakit Tante? Tejo terlalu kencang ya…?” Tanyanya prihatin.

“Eh ng… Nggak Jo, terusin aja…” Jawab Sarina dengan muka memerah. Ada perasaan malu menyelinap. Desahan tadi keluar spontan saja, tak diduganya Tejo ternyata memperhatikan.

Adegan pemerahan susu itu pun berlanjut. Suasana kamar menjadi hening karena tak satupun di antara mereka yang bersuara. Yang ada hanya suara derasnya kucuran air susu Sarina yang tertampung dalam wadah. Baik Sarina maupun Tejo, sama-sama saling meresapi fantasi dan kenikmatannya masing-masing. Lama kelamaan Tejo pun makin tidak konsentrasi dengan pekerjaan memerahnya.

Perahan pada payudara Sarina untuk mengeluarkan ASInya membutuhkan gerakan mengurut yang konsisten. Sementara gerakan tangan Tejo sendiri makin bervariasi, dari meremas, mengelus, bahkan memelintir-melintir puting susu Sarina dengan gemas. Jelas air susu Sarina tidak keluar lagi. Tejo bukannya tidak menyadari hal itu, namun dia tidak peduli. Padahal wadah yang dibawanya baru terisi separuh.

Sarina sebenarnya juga merasakan bahwa gerakan tangan Tejo mulai ‘ngaco’. Tapi dia sendiri malah mendiamkannya. Ada kepuasan tersendiri dari membiarkan jiwa remaja Tejo melampiaskan rasa gemas dan penasaran pada payudaranya.

Dia sendiri juga sedang melampiaskan kecenderungan ekshibisionisnya, dan kejadian hari ini sungguh memuaskan dirinya. Perasaan itu terus bergejolak, terus memuncak dan makin memuncak, makin memuncak, hingga akhirnya…

“Aaahhh… hhh…” Tubuh Sarina menggelinjang hebat. Dirinya mengalami orgasme hanya dengan rangsangan di buah dadanya. Cairan cintanya memancar dengan deras di dalam rahimnya hingga membanjirinya.

Tejo tersentak. Remasannya spontan terhenti. Disaksikannya tubuh Tantenya yang melemas seakan seluruh tulang dalam tubuhnya dilolosi satu persatu. Tejo tidak menyadari bahwa Tantenya itu sedang mengalami orgasme. Dirinya pun khawatir, wajahnya memucat merasa telah melakukan kesalahan.

“T… Tante gapapa? Tante capek ya? Maafin Tejo Tante…” Ucapnya gugup.

“Nggak Jo, Tante gapapa kok…” Jawab Sarina sambil tersenyum.

Wajahnya terlihat sendu. Matanya yang sayu menatap Tejo. Dielusnya lembut tangan Tejo yang barusan memeras payudaranya. Tejo terkesima memandang wajah Sarina yang sayu namun memancarkan ‘kharisma’ keayuan tersendiri. Dirinya pun tak sanggup berkata.

“Jo…” Gumam Sarina lirih.

“Iya Tante?” Jawab Tejo.

“Kalo udah, udah ya…” Ucap Sarina tersenyum. Dielusnya pipi tejo dengan perasaan sayang. Tejo pun tersipu.

“Jangan keterusan Jo, ga bakal ada habisnya kamu mainin buah dada Tante. Kamu menyiksa diri sendiri kan dengan begitu…? Udah sana buruan dibuang, biar plong…” Lanjut Sarina bijaksana.

Muka Tejo makin memerah mendengarnya. Tantenya ternyata mengerti betul apa yang dirasakannya. Gejolak dalam dadanya. Dia pun perlahan bangkit.

“Iya Tante…” Jawabnya lirih.

“Sana di kamar mandi Tante aja… Tapi disiram ya?” Ucap Sarina.

Tejo menurut. Ditaruhnya kedua wadah yang berisi air susu Sarina di atas meja dan dirinya segera ngeloyor ke kamar mandi. Sarina melihat ke 2 wadah itu. Satunya penuh dan satunya hanya terisi separuh. Dia pun hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Puas sekali dirinya sudah menyuguhkan dirinya pada keponakannya sendiri yang baru berumur belasan itu.

Dia terdiam sejenak, namun kemudian pikirannya mulai membayangkan Tejo yang sedang coli di kamar mandinya. Darahnya pun berdesir kembali. Tanpa mengenakan piyamanya lagi ia pun bangkit menuju kamar mandi. Penasaran dia ingin menonton pertunjukan Tejo yang sedang menguras amunisinya di situ.

Tejo yang sedang berkonsentrasi mengocok batangnya sama sekali tidak menyangka Sarina muncul dengan bertelanjang dada. Tantenya itu hanya berdiri di pintu kamar mandi, menatapnya sambil tersenyum manis. Namun karena mungkin setan sudah menguasai kepalanya, hal itu sama sekali tidak mengusik Tejo. Justru pemandangan Tantenya yang telanjang dada itu makin memicu kocokannya.

“Aahh… Tanteee…” Desahnya sambil menatap tubuh telanjang Sarina.

Perasaan Sarina bergolak lagi melihat bagaimana Tejo onani sambil melihat tubuh telanjangnya. Dirinya merasa seksi sekali dengan begitu. Terlebih lagi dia benar-benar takjub melihat ukuran penis Tejo. Sungguh tidak disangka penis keponakannya itu berukuran super. Tangan Tejo sendiri bahkan terlihat tidak cukup untuk menggenggamnya.

Panjangnya mungkin 2 kali genggaman tangan Tejo. Mata Sarina berbinar memandang batang berurat itu diurut maju mundur dengan tangan kecil Tejo. Kepalanya jamurnya yang mengkilat terlihat merah padam seakan semua darah di tubuh Tejo berkumpul di situ.

Timbul kerinduan luar biasa dalam dirinya pada ‘batang ajaib’ milik laki-laki itu. Bayangan penis-penis semua pria yang pernah menidurinya pun berseliweran dalam benaknya. Wajah Sarina memerah menyadari Tejo yang sedang memandanginya. Keponakannya itu tentu menyadari matanya tadi terpaku pada penis miliknya.

Senyum manisnya pun mengembang dan dihadiahkan pada Tejo seakan mengatakan, “Kereen Jo… Kamu punya barang bagus!” Ngocoks.com

Dihadiahi senyuman maut itu Tejo pun tak kuasa menahan laharnya yang sudah di ujung. Kocokannya dipercepat, dan… “Crraaattzz…!” Sperma Tejo muncrat berkali-kali membasahi dinding kamar mandi Sarina. Lagi-lagi Sarina dibuat takjub melihat kekuatan orgasme Tejo.

Padahal antara Tejo berdiri dan dinding kamar mandinya berjarak lebih dari 1 meter. Namun sperma Tejo mampu muncrat begitu jauh hingga mencapai dinding itu. Tak setetes pun yang jatuh mendarat di lantai kecuali yang sisa-sisa akhir saja.

Dihitungnya ada 5 kali semburan yang bertubi-tubi pada dinding kamar mandinya. Semuanya berwarna putih dan kental. Benar-benar orgasme yang luar biasa. Sarina sampai ikut berdebar melihatnya. Dia pun menyadari bahwa hari ini dirinya telah menghadiahi Tejo dengan sesuatu yang sangat luar biasa istimewa. Bangga sekali dirinya memikirkan hal itu.

“Tejoo… Tejoo… Cepet cari pacar gih…!” Candanya.

Tejo hanya tersipu tanpa menjawab. Dia sibuk menyiram spermanya hingga bersih. Sarina pun beranjak meninggalkannya. Dirasakannya tubuhnya mulai panas dingin lagi, mungkin gara-gara nafsunya yang bergejolak. Piyamanya dikenakan lagi sebelum dia kemudian beringsut kembali di balik selimutnya.

***

Setelah itu Sarina masih memuaskan diri bermalas-malasan sepanjang hari, sementara Tejo sendiri makin bersemangat mengerjakan tugas-tugas rumah tangga menggantikannya. Hingga hari berakhir, tak ada lagi obrolan atau peristiwa yang ‘menjurus’ di antara keduanya.

Baik Sarina maupun Tejo pun saling bersikap wajar seolah pagi tadi tak terjadi apa-apa. Saat Doni bangun, ASI yang cukup untuk diminum seharian pun telah siap. Selain itu Tejo juga yang memandikannya, mengajaknya bermain, menyiapkan makan dan menyuapinya.

Hari Kedua

Keesokan harinya. Sarina masih meminta Tejo untuk tak masuk sekolah dulu. Meskipun urusan Doni sudah bisa ditanganinya sendiri, dia belum mau ditinggal sendirian di rumah. Tejo masih sering dimintai tolong mengambilkan ini-itu saat Sarina mengurusi Doni. Dari menyiapkan air hangat, handuk, popok, bedak, dan lain-lain. Sarina masih mudah kecapekan kalau semua itu harus ditanganinya sendiri.

Di samping itu, urusan kebersihan rumah juga masih dibebankan kepada Tejo. Menjelang siang saat semua sudah beres, Sarina bersantai-santai menemani Doni bermain-main di ruang tengah. Tejo yang baru selesai mandi ikut duduk di situ namun tidak berkata apa-apa.

Dirinya seperti menunggu-nunggu kejutan apa lagi yang akan dia dapatkan dari Tantenya yang seksi itu. Wajah Sarina tampak cerah dan segar. Agaknya kondisinya benar-benar sudah pulih seperti sedia kala. Tak bosan-bosannya Tejo memandangi dan mengaguminya.

“Sarapan gih Jo…!” Karena merasa diamati oleh Tejo, Sarina pun angkat bicara.

“Iya Tante…” Tejo mengiyakan tapi enggan beranjak.

“Habis sarapan kamu belajar ya Jo? Yah baca-baca dikit lah… Kamu kan udah 3 hari ini bolos sekolah. Tante gak mau kamu ketinggalan pelajaran loh Jo…” Ucap Sarina lagi.

Tejo manggut-manggut saja. Meski dia cukup bagus dalam pelajaran ada kalanya juga dia malas belajar. Dan saat-saat sekarang ini justru sedang malas-malasnya dia membuka buku pelajaran. Terlebih, berduaan dengan Tantenya yang membuat pikirannya sering melayang dan susah konsentrasi. Walau bagaimanapun, Tejo tetap tak berani membantah Sarina. Dia pun beranjak. Saat sarapan Tejo tak banyak makan.

Dirinya seperti tak bernafsu. Atau lebih tepatnya, ‘nafsu’ lainnya lebih berbicara ketimbang nafsu makan. Apalagi saat dia harus diam di kamar membaca buku. Tak satupun bab pelajaran yang masuk ke dalam otaknya. Dia pun lebih banyak tiduran dan melamun, namun tak keluar kamar. Paling tidak Tantenya mengira dia sedang belajar di dalam kamar. Beberapa saat kemudian, merasa sudah lama di dalam kamar Tejo pun tidak betah lagi.

Dilihatnya jam dinding, “Buseet, ternyata waktu baru berlalu sejam…” Keluhnya dalam hati. Padahal dirinya merasa seakan sudah berjam-jam dia di dalam kamar.

Tapi persetan, gumamnya. Dia pun melangkah keluar kamar. Kalau Tantenya menanyakan, dia akan menjawab bahwa dia sudah belajar. Betapa girangnya Tejo, di luar kamar dia menjumpai Sarina sedang menyusui Doni. Sekali lagi dia mendapat pemandangan mulusnya kulit buah dada Tantenya itu. Agaknya dari ke hari pujaan dirinya terhadap Tantenya itu bukannya surut, tapi malah makin menjadi.

“Cepet amat belajarnya Jo?” Sarina langsung bertanya begitu melihat Tejo.

Sama sekali bukan pertanyaan menghardik. Malahan seperti biasa Sarina melemparkan senyuman manisnya, seperti hendak mengatakan,

“Ya sudah kalo sedang tidak ingin belajar ya tak apa.” Itulah sebabnya Tejo tak jadi berbohong menjawab pertanyaan Sarina itu. Dengan polos dia menjawab,

“Susah konsentrasi Tante…” Dan jawaban itu ternyata memancing tawa Sarina.

“Ya ampun Jo, awas loh nilai kamu turun…” Ucapnya. “Itulah sebabnya kemarin Tante ragu ngasih kamu buah dada Tante…!” Lanjut Sarina.

“Yang kayak begitu memang sebenarnya ga baik buat kamu yang masih remaja. Kalo bayangan-bayangan porno sudah masuk ke otak, susah banget ngilanginnya, akibatnya ya itu kamu jadi susah konsentrasi… Pikiran-pikiran kamu yang harusnya dicurahkan ke pelajaran malah teralih ke hal-hal yang mesum… Kalo saja kemarin bukan karna demi Doni, Tante pasti tegas sama kamu.”

Sarina terus menyerocos panjang lebar. Tejo tersipu mendengarnya, walaupun sudah tidak surprise lagi dengan kalimat Tantenya itu.

“He he iya Tante… Nah itu sekarang sudah bisa nyusuin Doni, berarti ga ada acara memerah susu lagi dong Tante…?” Ucap Tejo nakal.

“Idiih kamu ini baru dibilangin malah udah genit…!” Sahut Sarina seraya mencubit lengan Tejo. Tejo menghindar sambil meringis.

“Trus yang kemarin masih sisa loh Tante…” Ucapnya.

“Kamu minum aja… Katanya doyan?” Jawab Sarina sekenanya.

“Ya udah Tejo minum ya…” Tejo beranjak ke ruang makan mengambil air susu Sarina yang tersisa di dalam lemari es.

Setelah menuangkannya dalam gelas, dia pun balik lagi duduk menemani Sarina yang masih menyusui Doni di ruang tengah. Tejo meringis mesum padanya, tapi Sarina berlagak tak memperhatikannya. Untuk sesaat keduanya duduk tanpa memulai obrolan. Pikiran Tejo juga sudah sibuk berfantasi.

“Wah ini peristiwa unik,” pikirnya. Dia, Sarina dan Doni duduk berkumpul.

Baik Tejo maupun Doni sama-sama minum ASI dari Sarina, bedanya Doni minum langsung dari sumbernya, sedangkan Tejo minum dari gelas. Sarina juga tampak canggung dengan keadaan itu. Diliriknya Tejo yang sedang minum. Ternyata Tejo juga sedang memandangi wajahnya, hingga kedua mata mereka pun bertemu.

“Enak Jo?” Tanya Sarina spontan. Tejo yang ditanya malah cengengesan.

“Yang penting bukan rasanya Tante…” Jawabnya nakal.

Sarina merengut mendengarnya. “Dasar kamu…” Diambilnya bantal kursi dan dilemparkan pada Tejo gemas.

Tiba-tiba mereka dikejutkan suara bel. Sesaat keduanya terdiam bertanya-tanya. “Kalo Heru mestinya baru balik 4 hari lagi…” Gumam Sarina dalam hati.

“Jo, bukain pintu sana…!” Perintahnya kesal karena Tejo tak juga beranjak.

Sambil senyam-senyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal Tejo bangkit menuju pintu depan. Tak disangka ternyata teman-temannyalah yang datang. Luki cs berlima seperti biasa. Melihat Tejo sendiri yang membukakan pintu, mereka langsung menyeru nyaris bersamaan dengan suara cempreng,

“Oi Jo ngapain aja kamu bolos 3 hari??!”

Bukannya menjawab Tejo malah menghardik, “Apa-apaan sih langsung teriak aja, anak Tante lagi mau tidur tuh! Lagian kok jam segini udah pada pulang sekolah? Bolos juga ya kalian?” Selidiknya.

“6uru-9uru pada rapat Jo…” Jawab Luki cs cengengesan.

“Ooh Luki dan geng… Ayo masuk masuk…!” Seru Sarina dari dalam.

Kebetulan Doni baru saja selesai menyusu dan kini sedang terkantuk-kantuk dalam gendongan Sarina. Kelima remaja tanggung sahabat Tejo itu nyengir kuda lebar saat bertemu Sarina. Ya, sama seperti Tejo mereka juga sangat memuja-muja kecantikan Sarina. Sarina juga balas menghadiahi mereka dengan senyum manis.

“Siang Tante…” Mereka mengucap salam serempak.

“Ini Tante, Tejo dah 3 hari ga masuk sekolah kirain sakit atau apa…” Luki menjelaskan maksud kedatangannya.

Sarina tersenyum, “Bukan Tejo yang sakit tapi Tante…” Jelasnya.

“Ooo…” Mereka manggut-manggut bersamaan.

“Ya, dia jadi jagain dan gantiin Tante ngurusin rumah… Tante kan sendirian ga ada pembantu…” Sarina melanjutkan sambil tersenyum melirik Tejo. Tejo yang merasa dirinya dibanggakan itu tersipu.

“Ambilin minum sana Jo buat teman-temanmu…” Ucap Sarina pada Tejo.

“Wah ga usah repot-repot Tante…” Beni menyahut basa-basi.

“Cuman nuang aja kok… di luar lagi panas-panasnya kan, pasti pada haus kan…?” Jawab Sarina.

Setelah minuman dingin datang, mereka langsung menyerbunya. Obrolan pun seterusnya berlangsung hangat. Walau Sarina ikut nimbrung, teman-teman Tejo sama sekali tak keberatan dengan keberadaannya. Sarina memang sosok yang ramah dan supel. Hal itu sangat mempesona mereka. Bahkan dalam beberapa kedatangan mereka sebelum ini, sudah menjadi tujuan mereka untuk dapat bertemu Sarina.

Hari ini pun tak terkecuali. Dalam obrolan itu, Sarina menyinggung-nyinggung tentang pacar. Untuk menggoda Tejo dia bertanya pada teman-temannya benarkah keponakannya itu belum punya pacar. Semua temannya membenarkan sambil tertawa-tawa. Tejo tampak bersungut-sungut karna kesal dan malu. Melihat itu, Sarina malah makin menggodanya. Luki juga ikut menimpali,

“Tiap hari udah tinggal bareng Tante cantik, ya gak kepikiran cari pacar tuh!”

Sarina tertawa tersanjung mendengarnya. “Emang paling jago nggombal kamu ya Luk… Ajarin dong Tejo ini…” Sahut Sarina melirik Tejo.

Obrolan pun terus berlangsung cair dengan tema itu. Dari obrolan itu Sarina baru mengetahui ternyata Luki sudah pernah menghamili gadis SMU. Walau masih SMP sekelas dengan Tejo, usia Luki hampir 3 tahun lebih tua. Harusnya kini dia sudah kelas 2 SMU, tapi karna bengal dan bodoh dia terus tinggal kelas. Walau surprise, Sarina pura-pura menanggapinya biasa-biasa saja.

Luki menjelaskan gadis yang dihamilinya itu melakukan aborsi. Karna usia kehamilannya yang masih muda, aborsi berjalan lancar dan tidak membahayakan. Meski Luki mengaku menyesal namun teman-temannya mengatakan bahwa seminggu setelah diputus oleh gadis itu, Luki sudah menggandeng pacar baru. Sarina geleng-geleng kepala mendengarnya,

“Wajah pas-pasan gitu aja bisa jadi playboy kamu ya…?” Ledeknya.

“Yee… muka boleh pas-pasan Tante, tapi ‘perkakas’ lainnya maksimal!” Sahut Luki jumawa.

Semua tertawa mendengarnya karna paham apa yang dimaksud Luki. Sarina yang sudah pernah melihat ‘perkakas’ milik Tejo melirik keponakannya itu sambil tersenyum penuh arti. Tatapan mereka bertemu, Tejo tersenyum juga seakan memahami apa yang dipikirkan Sarina.

Ya, Sarina memang memikirkan bahwa dengan kemaluannya yang besar, Tejo pasti bisa memuaskan pacar-pacarnya nanti. Sungguh ganjil. Sarina yang seorang wanita dewasa dan Ibu dari 1 anak, turut serta dalam perbincangan para remaja tanggung yang menjurus. Tapi Toh, Sarina tidak merasa risih dan tidak ambil pusing. Saat minuman habis, Tejo mengambil 1 botol air dari lemari es untuk menambahnya.

“Ah segarnya, panas-panas gini minum minuman dingin…” Mereka langsung menenggak gelasnya yang telah diisi lagi oleh Tejo.

“Doni kok ga minum Tante…?” Celetuk Boim nakal.

“Ye maunya liat Tante nyusuin… Udah dari tadi udah kenyang!” Cibir Sarina.

“He he he… Kalo udah kenyang trus langsung bobo ya Tante?” Kali ini Eno yang menimpali.

Sarina seperti baru sadar Doni sudah terlelap di gendongannya.

“Iya nih, wah bentar ya Tante taruh dulu di boxnya.” Sarina mohon diri dan ngeloyor masuk kamar.

“Tapi bukannya Doni sudah 8 bulan, kok masih minum ASI Tante?” Tanya Luki setelah Sarina kembali duduk di tengah-tengah mereka.

“Lha memangnya kenapa Luk kalo udah 8 bulan?” Sarina balik bertanya.

“Bukannya bayi harus disusui sampe 6 bulan aja Tante?” Tanya Luki lagi.

“Sok tau kamu… 6 bulan itu wajib ASI gak boleh yang lain. Kalo udah lewat 6 bulan baru boleh dikasih yang lain, tapi bukan berarti ASInya harus berhenti… Ya boleh-boleh saja dikasih ASI terus Luk…” Jelas Sarina.

“Oo…” Para remaja tanggung itu manggut-manggut bersamaan.

Tanpa sadar topik perbicangan mereka berganti menjadi membahas ASI.

“Memang yang paling baik itu ASI ya Tante?” Tanya Tejo.

“Ya iya kalo bayi masih usia segitu paling bagus ya ASI…” Jawab Sarina. “Sebenarnya yang namanya mamalia itu ya alamiahnya hanya minum susu pada induknya. Itu sudah cukup. Seperti anak kucing ya minum susu kucing, anak anjing minum susu anjing…” Lanjut Sarina. Tejo dan yang lainnya diam mendengarkan.

“Nah begitu juga mestinya manusia… Anak manusia ya minum susu Ibunya saja itu sudah cukup. Jadi mungkin ga perlu tuh susu sapi, susu kambing, apalagi susu kuda liar segala macam… Hi hi hi…” Jelas Sarina tertawa.

“Yah manusia itu kreatif sih Tante…” Eno dan Beni nyeletuk.

“Iya, karna manusia kreatif jadi ga puas, cari yang lain… Hi hi hi…” Jawab Sarina.

“Tapi kalo udah gede masih pingin minum susu masak minum ASI terus Tante?” Tanya Boim.

“Ya kalau ada ASI kenapa nggak? kalo nggak ada juga ga masalah, karna alamiahnya memang hanya perlu air susu induknya aja.” Jelas Sarina.

“Kalau ada ASI gimana maksudnya Tante?” Eno masih penasaran.

“Ya, maksudnya kalo anak makin dewasa produksi ASI memang akan berkurang. Dan normalnya, seperti binatang juga, kalo anak sudah gede ya nanti berhenti minum susu. Nah, tapi kalau mau minum susu dan ada ASI kenapa nggak? Ada itu kan ga harus dari Ibunya sendiri? Kayak Tejo ini… Dia minum susu Tante…” Sarina menjelaskan panjang lebar, kemudian tertawa kecil melirik Tejo.

“Haah…! Tejo minum susu Tante?” Eno dan lainnya jelas surprise mendengar hal itu. Sementara Tejo sendiri hanya diam sambil mesam-mesem.

“Wiih enak dong Tante… kita-kita juga mau tuh!” Sahut Luki semangat. Yang lainnya spontan mengangguk.

“Ha ha ha… Sayangnya udah habis ya Jo?” Sarina spontan tertawa dan melirik Tejo.

Tejo mengangguk nyengir sambil mengangkat gelasnya yang telah kosong.

“Hah, sudah habis gimana?” Tanya Boim.

“Iya, yang diminum Tejo itu gelas terakhir… Tante belum perah lagi…” Jawab Sarina sambil tertawa kecil. “Besok kesini lagi, nanti Tante perahin spesial buat kalian.” Kerlingnya. Kelima remaja tanggung itu pun mulai blingsatan dan mupeng. Sarina tersenyum tebar pesona. Lagi-lagi naluri eksibisionisnya muncul. Dan melihat teman-teman Tejo mulai mupeng sungguh menyenangkan hatinya.

“Oh, jadi yang di gelas Tejo itu air susu Tante?” Tanya Beni seperti masih tak percaya.

“Kalo yang diperah habis, tapi yang di pabriknya masih banyak kan Tante?” Timpal Luki yang paling berani kalau soal menjurus-menjurus begitu.

“Iya, apa kita ga ngambil jatah Doni Tante?” Celetuk lugu Yadi yang dari tadi hanya diam.

Tejo diam mengamati bagaimana reaksi Tantenya tiap teman-temannya bertanya.

“Maksudnya yang di dalam buah dada Tante? Ya melimpah dong, Tante kan masih dalam periode menyusui…” Jawab Sarina enteng. Mendengar kata-kata ‘buah dada’ dari mulut Sarina membuat Luki cs makin berdebar dan terobsesi.

“Kalau masih dalam periode menyusui memang produksi ASI bisa ga terbatas. Gak tergantung jumlah anak. Meski anak Tante cuma 1, asal disedot terus buah dada Tante bisa tetap mengeluarkan ASI…” Sarina menerangkan lebih lanjut.

“Nah itu Tante, kenapa harus diperah… Kita sedot aja langsung dari sumbernya!” Sahut Luki mesum.

Kali ini Tejo benar-benar kaget. Begitu juga dengan temannya yang lain. Sungguh mereka tidak menyangka Luki akan berbicara senekat dan sevulgar itu pada Sarina. Tejo yang paling khawatir Tantenya akan marah dan mendamprat Luki karena kurang ajar. Tapi ternyata bukannya marah, Sarina malah tertawa melihat wajah Luki yang kelihatan ‘ngarep’ banget itu.

“Idiih, jadi bayi gede dong!” Sahutnya geli.

“Ya bukan dong Tante… Kan tadi Tante sendiri yang bilang, kalo udah gede mau minum ASI kenapa nggak?” Timpal Luki.

“Iya kalo minum dari gelas…! Tapi kalo nenen langsung ke Tante itu bayi gede namanya!” Cibir Sarina.

“He he he…” Luki hanya cengengesan saja mendengarkan Sarina.

Dirinya makin yakin Tante Tejo itu hanya main tarik ulur saja. Kalau Sarina tersinggung dan menolak semestinya sejak awal sudah menolak atau bahkan memarahi Luki. Tapi yang terjadi tidak demikian. Luki pun makin nekat. Diliriknya teman-temannya termasuk Tejo.

Mereka ternyata hanya diam mengkeret. Ya, mereka terutama Tejo tentu saja berdebar-debar hebat. Harap-harap cemas. Tejo sendiri di satu sisi ingin mendamprat kekurangajaran Luki pada Tantenya, tapi di sisi lain dia juga berharap Luki menyelesaikan ‘misinya’ yang mewakili harapan dari mereka semua.

“Jadi… Gimana Tante…?” Walau nekat, agak ngeper juga Luki di hadapan Sarina yang tampak superior. Tapi ternyata dilihatnya muka Sarina mulai memerah. Entah karena malu atau mulai terangsang, tapi yang jelas tidak terlihat marah.

“Udah ah Luk… Jangan macem-macem…! Kamu bikin teman-temanmu malu tau gak tuh?” Ujar Sarina sambil melirik yang lain. Ngocoks.com

“Ah temen-temen juga mau kok Tante… Kita penasaran aja rasanya gimana… Iya nggak? Gimana sih kalian jangan malu-malu gitu sama Tante Sarina…” Luki memprovokasi teman-temannya.

Mereka spontan mengangguk pelan. Tejo dan Sarina saling bertatapan, Sarina seakan-akan minta persetujuan Tejo, sementara Tejo sendiri menatap Sarina dengan tatapan sayu. Sarina tidak mengerti apa maksud tatapan tejo.

“Luk… Dengan Tejo aja Tante khawatir. Dia dan yang lainnya sudah 15 tahun. Apalagi kamu malah udah 17 tahun lebih! Apalagi barusan ketahuan ternyata kamu sendiri udah pernah menghamili pacarmu!” Sarina mencoba bersikap tegas supaya tak terlihat salah tingkah. “Nah, kemarin juga kamu ketahuan bawa-bawa film porno… Kamu yang lebih tua mestinya bisa jadi contoh yang baik dong…?” Lanjutnya.

“Tapi Tante… Walaupun kemarin aku yang bawa tapi sebenernya itu permintaan temen-temen semua…” Jawab Luki membela diri.

“Iya, Tante juga ga mau ngungkit-ungkit itu lagi, tapi intinya Tante cuma mau bilang, kalian semua udah dewasa, udah punya nafsu… Ini bukan cuma masalah minum susu aja. Kalau Tante sampe kasih payudara tante buat kalian hisap, salah-salah kalian malah lepas kontrol dan mencabuli Tante!” Sahut Sarina.

“Yaa… Nggak bakalan dong Tante…! Kita nggak mungkin berani, kan ada Tejo juga di sini, kita juga takut masuk penjara… Gak kebayang deh Tante…!” Luki mencoba meyakinkan. “Menyusu sama wanita secantik Tante udah pasti membuat jiwa remaja kami bergolak, Tante juga maklum kan…? Tapi kami janji ga bakal macem-macem selain minum susu Tante aja…” Luki terus membujuk Sarina. Nada bicaranya mulai terdengar ngenes.

Sarina mulai bimbang. Dan lagi Luki kemudian memprovokasi teman-temannya untuk ikut berjanji. Tejo juga ikut-ikutan memintanya. Dia sudah membuktikan dirinya yang kemarin tidak berbuat kurang ajar terhadapnya. Intinya Luki terus meyakinkan bahwa ini adalah keinginan mereka semua, dan mereka terus berjanji tidak akan berbuat tidak senonoh. Lama kelamaan akhirnya Sarina pun mulai luluh.

“Ya udah deh kalo ini memang keinginan kalian semua, Tante akan kasih… Tante gak mau dibilang pelit, tapi Tante harus yakin juga dengan kalian. Tante ga ingin terjadi apa-apa karena memang resikonya besar memberikan buah dada Tante buat kalian… Ngerti ya…?” Ucapnya lembut. Para remaja itu serempak mengangguk senang.

“Kamu juga Jo… Sekarang Tante kasih yang lebih buat kamu di hadapan temen-temen kamu… Tante selama ini percaya dan ga pernah kecewa sama kamu.” Secara khusus Sarina mewanti-wanti Tejo. “Nah, kamu ga bakal mengkhianati kepercayaan Tante dan Oom kamu kan?” Lanjutnya sambil mengelus rambut Tejo.

“Iya Tante, Tejo janji…” Jawab Tejo lirih.

“Nah sekarang…..” Tiba-tiba Sarina bangkit dari duduknya dan beralih hendak duduk di tengah-tengah para remaja tanggung itu. Tepatnya di antara Luki dan Beni. Di sebelah Beni ada Boim dan Eno. Sementara Tejo dan Yadi duduk di kursi yang terpisah.

Luki dan Beni jelas berdebar makin kencang saat Sarina tiba-tiba duduk menyela di antara mereka. Beni spontan bergeser memberi ruang pada Sarina. Wangi parfum Sarina yang tidak terlalu tajam makin membuat jantungnya blingsatan. Kerongkongannya mengering sehingga tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Sarina tersenyum meliriknya dan kemudian beralih ke Luki. “Luki, kamu yang minta pertama jadi kamu yang memulai… Tante mau kamu kasih contoh buat temen-temen kamu. Ok?” Ucapnya lembut.

Luki mengangguk-angguk cepat, “I.. Iya tante!” Jawabnya terbata.

Sarina kemudian memandangi para remaja tanggung itu satu-persatu. Dirinya tersenyum melihat muka-muka mereka yang ngenes penuh harap. Sarina sendiri sebenarnya sangat merasa grogi. Sekali lagi, naluri ekshibisionisnya akan terlampiaskan 1 level lebih tinggi dari yang sudah-sudah.

Tangannya gemetar mulai melolosi kancing bajunya satu persatu. Melihat tangan Sarina yang gemetar, Luki berinisiatif membantunya. Sarina tidak menolak, justru dihadiahinya Luki dengan senyum manis.

“Udah Luk, ga usah dibuka semua…!” Ujarnya mencegah Luki melolosi semua kancing bajunya.

Namun Luki tidak menggubrisnya. “Dibuka semua aja Tante biar lega…” Sahutnya.

Sarina menghela napas namun tidak mencegahnya lebih jauh. Saat semua kancingnya telah terbuka, Sarina menyingkap sebelah payudaranya hingga terlihat penuh. Dirinya memang tidak mengenakan bra sehingga tak ada penghalang lagi antara mata para remaja itu dengan kulit payudaranya yang putih mulus.

Para remaja itu seketika terkesiap melihat pemandangan yang mereka idam-idamkan selama ini. Dada mereka seakan mau pecah seiring dengan makin kencangnya debaran dalam jantungnya. Dengan berani Luki menyingkap payudaranya yang sebelah lagi hingga kedua buah dada Sarina kini terpampang jelas di hadapan mereka. Tejo dan teman-temannya serasa ingin bersorak menyanjung Luki atas inisiatifnya yang berani itu.

“Aah Luki…!” Protes Sarina manja. Namun dirinya tidak menutupkan bajunya kembali melainkan hanya menyilangkan tangannya di dada.

Bagi para remaja itu gerakan itu justru terlihat sangat seksi dan menggairahkan. Luki pun merasa gemas dengan tingkah Sarina.

“Tante telanjang dada saja, biar lega. Kami kan berenam, masak hanya mau disuguhi 1 buah dada…?” Ucapnya nakal.

Gemas melihat Luki yang makin berani, Sarina mencubitnya cukup keras hingga Luki meringis kesakitan. Tejo dan temannya yang lain terkekeh melihat adegan itu.

“Rasain lu…” Ledek Boim dan Eno.

Walaupun begitu Sarina toh tetap melepas juga bajunya. Memang hawanya terasa menjadi sumpek dan gerah dengan dirinya yang dikelilingi 6 remaja seperti itu. Dengan membuka bajunya dan bertelanjang dada, Sarina memang jadi merasa lega. Dunia seakan berhenti bagi para remaja itu saat Sarina membuka bajunya. Andai ada remote control ajaib, ingin rasanya menekan tombol slow motion untuk adegan itu.

“Nah, satu-satu ya antri yang tertib…” Kerling Sarina. “Kalian duduk di kursi lain ya biar Tante lega… Gerah kan kalo berdempetan gini…?” Lanjutnya mengomando Beni, Boim, dan Eno di sebelahnya. “Ba… Baik Tante…” Jawab mereka serempak dengan muka memerah.

Mereka pun segera beranjak, meninggalkan Sarina dan Luki duduk berdua di sofa panjang itu. Luki tidak mau buang waktu lagi, tangannya meraih payudara Sarina dan mengangkatnya. Dalam sekejap mulutnya hinggap di puting susu Sarina dan menyedotnya dengan rakus bagai orang di padang pasir yang menemukan oase. Sarina spontan melenguh saking kuatnya Luki menghisap putingnya yang sensitif itu.

“Aahhh Luk… pelan aja…” Lenguhan itu terdengar begitu menggairahkan di telinga Luki.

Hisapannya justru menjadi makin kuat, kedua tangannya merangkul tubuh Sarina seakan takut Sarina akan melepaskan diri darinya. Didorongnya punggung Sarina hingga tubuhnya makin merapat padanya. Sarina memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Dia mencoba menguasai dirinya yang juga bergejolak seiring dengan dirasakannya air susunya mengalir deras berpindah dari dalam buah dadanya ke mulut Luki.

Tidak lama Sarina berhasil menguasai dirinya. Jantungnya mulai berdetak normal, nafasnya tak lagi memburu. Begitu juga dengan Luki yang mulai memperlambat hisapannya namun tetap stabil. Luki mengelus lembut punggung Sarina yang mulus. Belum pernah dirasakan oleh tangannya kulit selembut kulit Sarina. Elusan itu membuat Sarina makin rileks sehingga Sarina sama sekali tidak memprotesnya.

Dirinya pun melakukan hal yang sama pada punggung Luki. Tejo dan temannya yang lain terdiam takjub menyaksikan pemandangan itu. Temannya yang paling senior itu kini telah nyaris sempurna menjamah tubuh wanita yang selama ini mereka puja. Tante Sarina yang jelita. Tak sabar mereka menunggu gilirannya masing-masing. Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi mereka. Tejo lah yang perasaannya paling campur aduk di antara mereka.

Ada semacam rasa cemburu pada Luki. Perasaannya tak menentu memandang ekspresi wajah Sarina yang sayu. Sesekali Tantenya itu memandang ke arah mereka, menatap Tejo dan yang lainnya sambil tersenyum manis. Perasaan Tejo menjadi makin tak karuan sementara teman-temannya yang lain malah makin mupeng. Sarina sendiri merasa sangat senang dengan hal itu.

Dirinya benar-benar puas bertelanjang dada ria di hadapan para remaja tanggung itu. Terlebih membiarkan Luki menghisap payudaranya dan yang lain mupeng menunggu giliran benar-benar membuat dirinya melambung. Inilah hakikat diriku yang sebenarnya, seorang eksibisionis… gumamnya dalam hati.

Hisapan Luki pun makin mengendur. Dia sudah merasa kenyang tapi enggan meninggalkan payudara Sarina. Hisapannya mulai putus-putus. Kadang dia melepaskan hisapannya dan memandang puting nan indah itu sebelum kemudian melumatnya lagi. Sarina menyadari hal itu. Mulut Luki masih mengatup di putingnya tapi tidak benar-benar menghisapnya. Dirinya pun mendorong Luki menjauh.

“Udah Luk…? Gantian sama yang lain…” Ujarnya pelan.

Luki hanya menatap nanar seperti tidak terima. Sarina pun tersenyum, dicubitnya hidung Luki gemas, “Hayo kontrol diri… Ingat janji kamu. Tante senang kamu memberi contoh buat teman-teman kamu…”

Luki pun takluk. Dirinya beringsut memberi kesempatan pada temannya yang lain. Tejo tak membuang kesempatan.

“Tejo dulu Tante…” Pintanya.

Sarina tersenyum padanya, dia tahu keponakannya itu tentu yang paling tidak sabar. Bahkan semestinya tadi Tejo mendapat giliran pertama. Tapi Sarina ternyata berniat membuatnya penasaran lebih jauh,

“Kamu terakhir aja ya Jo…?” Ucapnya lembut.

Spontan Tejo kecewa mendengarnya.

“Kamu kan di sini sama Tante, teman-temanmu kan nanti harus pulang Jo…” Lanjut Sarina mencoba memberi pengertian.

Walau kesal, Tejo tak membantah. Sarina kemudian menarik satu teman Tejo karna semuanya berlagak malu-malu. Tak satupun yang berani mengajukan diri. Eno yang beruntung mendapat giliran kedua.

“Kamu siapa…?” Tanya Sarina lembut.

“Eno Tante…” Jawab Eno.

“Nah Eno… Tadi Tante kelamaan kasih Luki, mulai dari kamu gilirannya 2 menit-2 menit saja yaah…?” Ucap Sarina sambil tersenyum dan kemudian menatap yang lain. Luki meringis malu, sementara yang lain mengangguk-angguk pelan tanpa menjawab. Sarina kembali beralih pada Eno yang sudah tidak sabar.

Diraihnya kepala Eno, dibelainya lembut dan diarahkan pada payudaranya. Eno mulai dengan pelan. Tidak seperti Luki yang menyedot seperti kesetanan sebelumnya. Eno menghisap dengan agak ragu, dirinya agak terkejut ketika air susu Sarina berhasil dihisapnya dan dirasakan di mulutnya.

Eno pun membiasakan diri dengan hal itu, kemudian mulai menghisap dengan lancar. Kali ini Sarina menyandarkan tubuhnya di sofa sehingga Eno tak bisa memeluknya seperti Luki tadi. Sebagai gantinya tangan Eno meraih payudara Sarina yang satunya dan membelai-belainya. Sarina merasa hal itu di luar batas, tapi dibiarkannya Eno sejenak. Baru saat Eno mulai meremas-remasnya, Sarina dengan tegas menghentikannya.

“Eno kalau kamu mau hisap yang satunya ga usah diremas-remas gitu…” Ujar Sarina tegas.

Eno pun meringis malu. Tapi tanpa membuang waktu dia segera melanjutkan dengan berpindah payudara. Tangannya masih meremas-remas pelan tapi pada payudara yang sama sehingga seakan membantu dalam memperlancar aliran air susu Sarina masuk ke mulutnya. Sarina pun membiarkannya.

Dibelainya kepala Eno supaya dia merasa rileks dan tak terburu-buru. Namun Sarina tetap tegas pada aturan 2 menit. Saat waktunya tiba, dia segera mendorong Eno supaya berhenti.

“Udah No… Gantian…” Kerlingnya manis.

Eno meringis, sungguh 2 menit serasa bagai 2 detik baginya. Tapi tentu dia tak berani meminta lebih. Dengan berat hati dia mundur mempersilahkan yang lain. Ngocoks.com

Berbeda dengan sebelumnya, kini Beni, Yadi, dan Boim berebut untuk mendapat giliran selanjutnya. Sarina tertawa melihat tingkah mereka yang sudah tidak malu-malu lagi. Dia pun merasa bahwa dirinyalah yang harus menentukan siapa selanjutnya. Diraihnya tangan Boim dan ditarik mendekat. Boim yang merasa terpilih mesam-mesem kegeeran,

“Yesss…” Pekiknya girang.

“Kamu siapa namanya…?” Tanya Sarina lembut begitu Boim duduk di sampingnya.

“Bo… Boim tante…!” Jawab Boim gagap karena grogi.

Sarina tertawa, “Ga usah grogi begitu, ayo dimulai, 2 menit yaah…?” Kerlingnya memberi isyarat pada Boim untuk memulai.

Tanpa menjawab lagi Boim langsung memeluk tubuh Sarina menciumi kedua buah dadanya dengan rakus. Dikecupinya seluruh permukaan kulit buah dada Sarina dengan cepat secara bergantian. Agaknya dia dari tadi sudah sangat gemas dengan buah dada Sarina sehingga lupa diri. Sarina spontan tertawa dengan perilaku Boim itu.

“Aduh Boim… Boim…! Stop…!” Ujar Sarina di sela tawanya, didorongnya kepala Boim menjauh dari buah dadanya. Boim yang sadar dirinya melanggar aturan seketika mengkeret. Buah dada Sarina yang ranum dengan kulitnya yang mulus dan seputih salju begitu menggodanya sehingga lupa diri. Tapi Sarina tidak marah.

“Kamu mau minum susu atau mencabuli Tante hayoo…? Belum-belum sudah lupa diri ya…!” Dengan gemas Sarina mencubit pipi Boim. Tentu cubitannya sama sekali tidak sakit. Boim meringis.

“Mau minum susu Tante…” Jawabnya lirih.

“Nah kalo mau minum susu yang tertib dong! Kalo ga bisa tertib Tante batalin acara minum susunya sampai di sini…!” Ujar Sarina tegas.

“Waduh… Jangan dong Tante…!” Beni dan Yadi serempak nyeletuk dengan wajah memelas. Boim sendiri malah terdiam merasa bersalah.

“Pokoknya kalo ada salah satu aja dari kalian yang menunjukkan sikap ga bisa kontrol diri, Tante batalin acara minum susunya buat kalian semua!” Merasa di atas angin Sarina pura-pura mengancam untuk mempermainkan perasaan para remaja itu.

Semua pun terlihat merengut kesal pada Boim. Sarina tertawa melihatnya.

“Sudah… Sudah… Tante maklum kok.” Ucap Sarina sambil mengelus kepala Boim.

“Tante kasih kesempatan lagi, tapi sebagai hukumannya jatah kamu Tante potong ya…? Semenit aja buat kamu…!” Ujar Sarina memberi sanksi.

Boim tersenyum kecut mendengarnya. Teman-temannya tertawa,

“Rasain luh…!” Ledek mereka.

Setelah itu Boim menyusu tanpa banyak tingkah pada Sarina. Bahkan sekedar mengelus kulit Sarina pun dia tidak berani. Semenit berlalu terasa begitu cepat. Setelah itu Sarina memberi giliran pada Yadi dan terakhir Beni. Dia selalu menanyakan nama masing-masing dari mereka dan berniat menghafalnya. Sebelumnya memang hanya Luki yang dia ingat.

Baik Yadi dan Beni yang menyusu kemudian tidak ada yang berani macam-macam lagi. Semua benar-benar murni hanya menyusu dari payudara Sarina tanpa embel-embel kenakalan yang lain. Malang nian Tejo yang sudah menunggu sedari awal.

Ketika gilirannya tiba, Doni terbangun dan menangis sejadi-jadinya. Wajah Tejo langsung manyun menunjukkan rasa kecewa yang dalam. Gilirannya bakal tertunda lagi. Terlebih Sarina malah menyuruh dirinya untuk mengecek Doni dan menanganinya.

Baru kali ini rasanya Tejo berberat hati dalam melaksanakan permintaan Tantenya. Tapi karena senyum Tantenya yang begitu maut, hatinya luluh juga. Tejo beranjak ke kamar untuk mengecek keadaan Doni. Terang saja Doni menangis keras, ternyata bayi Sarina itu buang air besar di dalam popoknya. Dengan cekatan Tejo menanganinya, dari menceboki, mencuci dan mengganti popok, dan membedakinya.

Seperti babysitter profesional saja Tejo itu. Dia memang terbiasa melihat dan membantu Tantenya saat mengurusi Doni. Setelah semua selesai, Tejo menimang-nimang Doni sebentar dalam gendongannya. Berharap dia akan segera tidur lagi. Sayang harapannya tak terkabul, Doni tak kunjung terlelap. Dia bahkan rewel tak mau lepas dari gendongan Tejo. Saat Tejo hendak menaruhnya kembali ke dalam box, dia rewel dan nyaris menangis kembali.

Terpaksa Tejo pun menggendongnya kembali. Tejo menghela nafas. Pupus sudah harapannya untuk mencicipi payudara Tantenya siang ini. Dengan Doni di gendongannya, Tejo melangkah keluar kamar. Sungguh ngenes Tejo melihat apa yang dijumpainya sekembali ke ruang tengah. Yadi, Eno, Boim, dan Beni tak ada di tempat, sementara Luki sibuk mengenyot buah dada Tantenya lagi.

Luki memeluk rapat Sarina dengan rapat, kedua tangannya terlihat bergerilya mengelus-elus punggung dan pinggul Sarina, sementara tangan Sarina membelai-belai kepalanya. Agaknya setelah semua mendapat giliran, antrian kembali ke Luki lagi. Entah Luki yang memintanya kembali atau Tantenya itu yang memberinya kesempatan ulang.

Yang jelas di mata Tejo, Luki sama sekali tidak terlihat seperti sedang menyusu melainkan lebih seperti sedang mencumbu Tantenya. Mulut Luki melumat-lumat puting mungil Sarina dengan rakus hingga payudara Sarina tertarik kencang. Keduanya terpejam tidak menyadari kehadiran Tejo.

Perasaan Tejo begitu campur aduk menyaksikan wajah Tantenya yang ayu itu merah padam dan begitu sayu dengan mata terpejam tampak sangat meresapi sekali kenikmatan yang diberikan Luki dengan mencumbu buah dadanya. Saat tangan Luki beralih meremas-remas buah dadanya yang satu lagi barulah Sarina merasa terusik dan menghentikan kegiatan Luki.

“Luki… Luk… Stop stop… Udah..!” Hardiknya tegas.

Luki segera berhenti sambil cengengesan tanpa merasa bersalah. Terlihat air susu Sarina mengalir keluar dari sela bibirnya. Luki mengusapnya hingga bersih.

“Kamu itu dikasih hati minta jantung ya…?” Ujar Sarina ketus.

Tejo berdehem hingga Sarina dan Luki menyadari kehadirannya. Luki hanya mesam mesem mesum sementara Tantenya kelihatan salah tingkah.

“Kok lama Jo…? Doni buang air ya?” Tanyanya.

“Yang lain kemana Tante?” Tejo tidak menjawab malah balik bertanya.

“Yang lain pada coli tuh di kamar mandi!” Celetuk Luki vulgar. Sarina mencubitnya gemas, “Kamu juga coli sana!” Ujarnya.

Luki meringis namun tidak juga beranjak meski adik kecilnya sudah cenat cenut sejak tadi.

“Udah… Ga ada lagi acara sama buah dada Tante lagi hari ini. Ini udah tinggal buat Tejo aja…” Ucap Sarina lagi sambil melirik Tejo.

“Duh yang keponakan tersayang… Beruntung banget kamu Jo punya Tante seksi begini!” Ucap Luki nakal.

Sarina bersiap mencubitnya lagi, tapi Luki keburu bangkit menghindar. Dia pun beranjak ke kamar mandi sambil masih cengengesan. Tinggalah Tejo dan Sarina sendiri di ruang tengah. Keduanya saling curi-curi pandang canggung. Tak satupun yang memulai bicara. Mustinya kali ini Tejo mendapat giliran menyusu namun hal itu tidak memungkinkan dengan keberadaan Doni.

Tak lama kemudian Beni Boim, Eno dan yadi kembali di tengah-tengah mereka. Sulit melukiskan apa yang terpancar dari wajah mereka. Yang jelas mereka baru saja mendapatkan pengalaman istimewa yang tak terlupakan. Sarina tersenyum manis menatapi mereka satu persatu.

“Sudah…?” Tanyanya lembut sambil tersenyum menggoda.

“Sudah Tante…” Jawab mereka serempak.

“Disiram bersih kan…?” Kerling Sarina.

“Iya pasti Tante…” Sahut mereka meyakinkan.

Tak lama kemudian Luki kembali dengan masih cengar cengir. Sarina gemas sekali melihatnya. Kalo yang satu ini sih ga tau malu, muka mesum abis… Pikirnya gemas.

“Kalian ga akan bilang siapa-siapa kan tentang pengalaman hari ini?” Tanya Sarina kepada semua.

Kelima remaja tanggung itu mengiyakan serempak. Sarina tersenyum percaya.

“Bagus, memang tidak lazim remaja seusia kalian masih mau minum ASI. Kalo orang tahu pasti akan menganggap kalian mencabuli Tante… Lagian emang bener kan kalian pada terangsang dengan buah dada Tante?” Ucap Sarina panjang lebar.

Semua terdiam manggut manggut mendengarnya. “Hal itu tak terelakkan, Tante maklum dan nggak marah…” Lanjut Sarina. “Kalau kalian bisa kontrol diri seperti tadi, besok-besok kalau kalian mau lagi Tante nggak keberatan…” Kerlingnya.

Para remaja itu jelas girang mendengarnya. Mereka masih saja terpesona dengan keayuan Sarina yang saat itu sama sekali tidak merasa perlu mengenakan pakaiannya kembali.

Walau ‘beban muatan’ para remaja itu sudah dibuang, tetap saja payudara Sarina yang menggantung indah itu menyilaukan mata mereka. Sarina tersenyum menyadari hal itu. Justru karena itulah dia tidak ambil pusing untuk buru-buru mengenakan pakaiannya. Dia juga masih menikmati kegiatan eksibisionisnya itu.

“Udah sana kalian segera pulang, sudah hampir sore loh!” Ujar Sarina membuyarkan fantasi mereka.

“Iya Tante… Kami sudah harus pulang…” Jawab mereka.

“Bilang apa sama Tante…?” Goda Sarina.

“Te… Terima kasih Tante!” Sahut mereka tergagap karena malu lupa mengucap itu sebelumnya.

Sarina tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. “Dasar ABG…” Gumamnya. Dia dan Tejo melepas kepulangan mereka dari teras rumah. Sungguh berani Sarina yang masih telanjang dada itu keluar hingga ke teras. Padahal halamannya sama sekali tidak luas.

Posisinya begitu dekat dengan jalan, pun pagar rumahnya juga tidak tinggi atau rapat. Jika ada orang lewat dengan jelas dia dapat melirik ketelanjangan Sarina. Teman-teman Tejo pamit dengan menyalami dan mencium tangan Sarina seperti biasa.

“Pamit Tante…”,

“Makasih Tante…” Ucap mereka.

Sarina menyalami mereka dengan tidak konsentrasi. Dirinya berdebar mengamati jalan, takut-takut ada orang lewat dan melihatnya. Ya, hal ini adalah bagian dari pelampiasan eksibisionisnya. Sementara Tejo sendiri terdiam dengan perasaan menggantung.

Sarina agak kecewa jalanan begitu sepi siang itu tanpa ada yang lewat walau seekor kucing pun. Padahal kalaupun ada yang lewat tentu Sarina akan merunduk ngumpet atau malah lari masuk ke dalam rumah. Tapi, yah itu adalah bagian dari sensasi eksibisionisme yang bisa memberinya kepuasan lebih.

“Ee… Jo…?” Gumamnya lirih setelah tinggal mereka berdua.

“Ya Tante…?” Jawab Tejo.

“Belikan Tante jagung doong…?” Pinta Sarina mengerling.

Muka Tejo langsung memerah mendengarnya.

“B… Baik Tante…”

Malamnya Tejo berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Sarina. Hatinya bimbang, sudah hampir setengah jam dia mondar-mandir di situ tanpa mengetuk pintu. Tejo menghela napas. Akhirnya dia menghempaskan diri di kursi. Sambil celingak celinguk dia mengeluarkan batang penisnya dari celana kolor yang dipakainya.

Batang itu telah mengeras sejak tadi. Dielus dan diurutnya pelan kejantanannya itu. Tejo tak tahu ukuran normal kejantanan pria pada umumnya. Dikiranya batangnya itu normal-normal saja. Padahal untuk anak seusia dia, ukurannya bisa dibilang super. Sarina pun menganggapnya begitu. Kalau saja Tejo tahu, tentu dirinya akan bangga dan percaya diri sekali dibuatnya.

Tejo terus mengurut kejantanannya itu namun tidak kebablasan menjadi onani. Batangnya itu begitu merindukan sentuhan dan kenikmatan. Sebenarnya itu adalah gejolak yang tidak terlalu dia mengerti. Usianya yang beranjak dewasa merupakan masa peralihan, organ-organ seksualnya baru saja mematang dan itu merupakan masa yang tidak nyaman baginya.

Sejak kepulangan teman-temannya menjelang sore tadi, Tantenya langsung pergi mandi (dengan membawa jagung yang dibelikannya). Hati Tejo galau sekali saat itu. Setelah mandi (yang sangat lama) Sarina mengambil alih Doni darinya. Dia pun harus memulai mengerjakan kebersihan rumah yang merupakan tugasnya. Sepanjang sore mereka pun sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Setelah senja menyingsing, Sarina kemudian sibuk di dapur menyiapkan makan malam, dan Tejo disuruhnya belajar lagi di kamar. Memang tadi siang teman-temannya menyampaikan PR dari gurunya. Sarina mengatakan bahwa besok Tejo sudah harus berangkat sekolah lagi. Jadi PR-nya musti diselesaikan.

Saat Tejo tengah mengerjakan PR, Sarina masuk ke kamarnya dan berdiri di belakangnya. Tangan Sarina memijit-mijit pundaknya dari belakang dan terkadang membelai lembut kepala Tejo. Sarina menanyakan apakah dia mengalami kesulitan dalam mengerjakan PR-nya. Tejo mengatakan sejujurnya bahwa dia sulit konsentrasi. Sarina tersenyum mendengarnya. Dibelai-belainya terus kepala Tejo dengan penuh perasaan sayang seperti Ibu kepada anaknya.

Seperti biasa Sarina memberikan wejangan-wejangan berkaitan masa pubernya. Sarina meminta Tejo supaya tetap fokus dan tidak terbebani dengan pikiran-pikiran negatif. Sarinapun tidak meminta Tejo melupakan peristiwa tadi siang. Bahkan meyakinkan bahwa dia tidak lupa terhadapnya dan jatahnya pasti akan diberikannya.

Tapi Sarina kemudian meminta Tejo bisa mengontrol perasaan dan membagi waktu. Bahwa saat itu Tejo musti konsentrasi dulu terhadap PR dan pelajaran sekolahnya. Sarina kemudian membawakan Tejo makan malam yang masih mengepul hangat. Keramahan Sarina itu membuat perasaan Tejo sedikit rileks. Dia-diam hatinya tidak tega juga jika terus memikirkan hal-hal yang kotor mengenai Tantenya itu.

Akan tetapi dasar binal, sebelum meninggalkan Tejo, Sarina malah berbisik, “Kalo PR-nya udah selesai, Tante tunggu di kamar…” Tejo terkesiap mendengarnya. Perasaannya mulai melambung lagi. Tapi dia pun kemudian bertekad konsentrasi penuh menyelesaikan PR-nya demi ‘hadiah’ yang Sarina janjikan.

Sampailah kini Tejo dalam posisinya yang sekarang. Duduk di luar kamar Sarina sambil mengelus penisnya yang terus menegang. Walau tadi dia sudah begitu tak sabar, kini dia malah grogi dan takut untuk mengetuk pintu kamar Tantenya itu. Akhirnya, Tejo meyakinkan diri bahwa Tantenya pun sedang menunggunya di dalam kamar. Dia mengumpulkan keberanian dan beranjak. Diketuknya pintu kamar Sarina pelan.

“T… Tante…?” Panggilnya tercekat.

“Masuk Jo…” Sahut Sarina dari dalam.

Tejo pun membuka pintu kamar Sarina dan melangkah masuk. Dia terkesiap melihat Sarina sudah dalam keadaan telanjang dada duduk di atas ranjang. Dari pusar hingga kakinya tertutup selimut sehingga memunculkan kesan Sarina sudah telanjang bulat di balik selimut itu. Jantung Tejo berdebar keras melihat pemandangan itu. Sarina mengerling dan tersenyum manis padanya.

“Sini Jo…” Panggilnya.

Dengan berbinar Tejo duduk di atas ranjang menghadap Tantenya.

“Udah selesai PR-nya?” Tanya Sarina lembut. Tejo menjawabnya dengan anggukan. Sarina meraih kedua tangan Tejo dan diletakkan di atas dadanya. “Kok masih aja grogi-grogi begitu sama Tante…?” Goda Sarina.

Tejo jelas gelagepan, tapi tak urung diremasnya juga kedua buah dada Sarina dengan gemas. Sarina melenguh pelan. Dibelainya pipi Tejo dengan lembut. “Kamu minum susu dulu ya sebelum tidur, tapi janji nanti langsung tidur… Besok kamu musti sekolah loh…” Ucapnya.

“Iya Tante…” Tejo mengiyakan.

Perlahan kepalanya didekatkan ke dada Sarina. Puting Sarina yang mungil itu mengacung menantang. Dengan gemas Tejo mencaploknya dan mulai menyedot. Saking gemasnya Tejo tak mau tahu masalah peraturan tadi siang. Dia menyedot buah dada Sarina sambil meremas-remas sejadi-jadinya. Sarina menggelinjang-gelinjang tapi sama sekali tidak memprotesnya. Tejo juga memeluk tubuh Sarina dengan erat.

Tangannya mulai mengelus seluruh punggung hingga pinggul Sarina. Rasanya tangannya tak ingin lepas dari kulit Sarina yang halus itu. Bahkan baru sebentar saja Tejo sudah menghentikan sedotannya. Hanya sedikit air susu Sarina yang diminumnya dia merasa sudah kenyang. Tapi tak ingin dilepasnya begitu saja buah dada tantenya itu. Kini dikecupinya seluruh permukaan kulit buah dada Sarina yang seputih salju.

Lidahnya mulai berani menyapu, dan bibirnya terkadang mencucupi puting susu Sarina, menggigit dan menariknya. Dirinya kini mencumbu Tantenya dalam arti yang sebenarnya. Persetan dengan minum susu, pikirnya. Sarina menyadari ponakannya itu mulai ngaco dan liar.

Namun dia membiarkannya untuk beberapa saat. Barulah dia menghentikan Tejo saat dia mulai tak bisa menahan desahan dan gelinjang tubuhnya. Dia takut Tejo akan berani berbuat lebih jauh lagi kalo tahu dirinya juga terangsang dan menikmatinya.

“Udahan Jo minum susunya…?” Tanya Sarina sambil mendorong Tejo pelan.

Tejo mengambil napas panjang dan menghelanya. Matanya yang menatap Sarina dengan sayu berbicara bahwa dirinya masih belum puas. Tangannya juga enggan melepas pelukannya pada tubuh telanjang Sarina.

“Ya udah kamu lanjutin tapi minum susu bener ya…?” Seolah mengerti isi hati Tejo, Sarina mengijinkannya meneruskan.

Tapi Tejo tak kunjung memulai kembali. Tangannya kini beralih mengelus-elus buah dada Sarina. Dirinya sudah tak ingin minum susu lagi, tapi juga belum puas menikmati tubuh Sarina. Tejo memang tidak pernah suka minum susu. Sarina kembali membelai-belai pipi keponakannya yang mulai ngelunjak itu. Sejenak mereka bertatapan. Sarina menghela napas pelan,

“Tejo… kamu udah ga mau minum susu ya…?” Tanyanya.

Tejo mengangguk pelan. “Tante, Tejo tidur sama Tante malam ini ya…? Plisss…” Pintanya sebelum Sarina sempat berkata kembali.

Sarina agak terkejut mendengar permintaan Tejo yang berani itu.

“Tejo udah kenyang minum susunya tapi Tejo masih pingin sama Tante…” Ucap Tejo lagi polos. Matanya terus menatap dengan nanar. Sarina pun luluh dibuatnya.

“Ya udah, tapi kamu janji ga bakal macam-macam sama Tante ya…?” Sarina mewanti-wanti.

Tejo mengiyakan saja, wajahnya terlihat girang. Seketika dipeluknya lagi tubuh Tantenya itu. Pipinyanya dibenamkan pada buah dada yang kenyal dan empuk. Dengan gemas dikecupnya buah dada menggemaskan itu.

Sarina tertawa, “Nah lo, baru aja janji ga macem-macem…” Ujarnya.

Tejo meringis, “Masa meluk aja dibilang macem-macem Tante…” Sahutnya nakal.

“Meluk sih meluk, bibirnya itu loh kemana-mana…” Ujar Sarina.

Walau pura-pura protes tapi wajahnya sama sekali tidak menampakkan kekesalan. Dirinya pun rebah, tangannya mengisyaratkan pada Tejo untuk merebahkan diri di pelukannya. Tejo menurut. Direbahkan kepalanya di dada Sarina. Tangannya mulai membelai-belai lagi dada Sarina. Sarina tidak protes, dibelai-belainya rambut Tejo dengan lembut. Benar-benar seperti sepasang kekasih saja mereka itu.

“Udah Jo, ga usah diliatin terus buah dada Tante, ga bakal ilang kok…!” Sarina menggoda Tejo yang terus terpaku pada buah dadanya.

Dengan gemas Tejo malah makin merapatkan kepalanya pada buah dada Sarina. Tangannya juga mulai meremas-remasnya. Sarina meraih tangannya yang nakal itu dan mengalihkan untuk memeluk pinggulnya.

“Udah sayang… Bobo’…” Bisiknya.

Sarina mulai memejamkan mata. Dibiarkan Tejo yang masih melek melampiaskan rasa penasarannya pada tubuhnya. Dirasakannya Tejo masih saja menciumi buah dadanya. Tangannya yang tadi sudah disingikirkan mulai naik lagi dan mengelus-elus buah dadanya. Jarinya malah kadang memijit-mijit puting susunya.

Sarina membiarkan saja semua itu, sentuhan-sentuhan Tejo pada kulitnya justru membuatnya nyaman dan rileks hingga tertidur. Tejo yang masih jauh dari ngantuk terus mengeksplorasi tubuh Sarina.

I don’t wanna close my eyes

I don’t wanna fall asleep

Cause i miss you babe

And i don’t wanna miss a thing…

Mungkin lagu Aerosmith itu paling cocok untuk mewakili perasaan Tejo saat itu. Tejo memejamkan matanya tanpa bermaksud untuk tidur sama sekali. Dia memejamkan matanya untuk meresapi keindahan yang sedang dia alami saat ini. Harumnya tubuh Sarina, lembut kulitnya, dan semuanya.

Tangannya mulai berani meraba di bawah pinggul Sarina, menyelinap ke balik selimutnya. Betapa terkejutnya mendapati bahwa ternyata Tantenya itu memang telanjang bulat di balik selimutnya. Dengan gemetar tangan Tejo mengarah ke bawah pusar. Dirasakannya telapak tangannya menyentuh bulu-bulu halus di sana. Benar-benar sensasi yang luar biasa bagi dirinya. Ingin sekali dia menyibakkan selimut Sarina dan mengeksplorasi lebih jauh bagian itu.

“Ooh Tante…” gumamnya dalam hati.

Tejo tak tahan lagi, makin hidung, bibir, dan tangannya menggerayang kemana-mana bukannya kepuasan yang didapat melainkan malah makin tersiksa dan kerontang dia dibuatnya. Puncak pelampiasan nafsu seksual tentu hanya dengan stimulus di kelaminnya hingga orgasme. Itulah yang dia rasakan sedari tadi berontak dari dalam dadanya.

Dengan hati-hati Tejo memelorotkan celana kolornya dan mulai mengocok batang penisnya. Dia melakukan dengan perlahan supaya Sarina tak terbangun. Namun sepelan-pelannya onani, tetap saja mengusik Sarina dan membuatnya terjaga.

“Ya ampun Tejo nekat banget onani di sebelah Tante…” Gumam Sarina dalam hati.

Dia berpura-pura masih tidur sehingga Tejo meneruskan onaninya. Gemas juga Sarina dibuatnya. Ingin rasanya dia bangun dan memergokinya. Tapi hal itu urung dilakukannya. Dia tak tega. Atau bagaimana kalau bangun lalu membantu Tejo mengocokkan batangnya…? Pikirnya nakal.

Sarina merasa geli dengan pikiran-pikirannya itu. Tapi hal itu juga urung dilakukannya. Dia malu. Akhirnya Sarina terus berlagak tidur sementara Tejo makin hampir mencapai puncak. Tiba-tiba Tejo bangkit.

Dia perlu mengocok batangnya dengan cepat. Kalau dia tetap melakukannya sambil tiduran pasti ranjang Sarina yang empuk akan tergoncang karenanya dan Tantenya itu pasti bakal terbangun. Begitu pikir Tejo. Sambil berdiri di samping ranjang Sarina Tejo pun makin menggencarkan onaninya sambil mengagumi keindahan dada telanjang Sarina.

“Oooohhh Tante…” Desahnya lirih. Ingin rasanya dia menyingkap selimut yang menutupi bagian bawah tubuh Sarina. Tapi lagi-lagi dia khawatir Sarina akan terbangun karenanya.

Sarina membuka mata sedikit-sedikit berusaha mengintip apa yang dilakukan Tejo. Dirinya ikut berdebar-debar menyaksikan Tejo beronani dengan dirinya sebagai obyek pemandangan seksualnya.

Parahnya lagi, Tejo beronani tepat menghadap dirinya. Batang penisnya yang besar dikocok-kocoknya tepat di atas tubuhnya seakan dia hendak melakukan bukkake terhadap dirinya. Sarina makin berdebar dibuatnya. Dia bertekad akan berpura-pura terbangun sebelum tejo mencapai orgasmenya.

“Ouuughhhh…………” Tiba-tiba Tejo melenguh panjang.

Takut terlambat, Sarina segera membuka matanya.

“Tejooo….?” Ujarnya pura-pura terkejut.

Tapi jelas Tejolah yang benar-benar terkejut saat itu. Apa daya laharnya sudah di pucuk senjatanya tak mungkin dihambat lagi. Craaatzzzz…! Lahar Tejo menyembur dengan dahsyat dan tak ayal lagi mengenai seluruh dada Sarina.

“Aahh…!” Sarina menjerit pelan. Akan tetapi, Tejo bukannya memalingkan diri, Kepalang tanggung, Tejo malah meraih tengkuk Sarina dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya masih tetap mengocok. Seakan-akan dia tak mau Tantenya menghindari muntahan spermanya. Craattzzz….! Craattzzz! Semburan kedua dan seterusnya dengan mulus mendarat di wajah Sarina. Walau sudah terbiasa dengan Anton, Sarina kini spontan menutup matanya.

“Mmhhhh…. Joo…!” Desahnya gelagapan.

Benar-benar di luar dugaan dirinya, Tejo akan nekat meng-cum shot wajahnya. Melihat wajah cantik Sarina berlumuran spermanya membuat perasaan tejo melambung. Sensasi orgasmenya makin bertambah dahsyat. Inilah orgasme terhebat yang pernah dia alami sepanjang hidupnya!

Yeaahh….! Ingin rasanya dia berteriak girang saat itu. Setelah orgasmenya reda Tejo melepas genggamannya pada tengkuk Sarina. Dia pun terduduk lemas. Sarina menjatuhkan kepalanya di atas bantalnya lagi, dia terdiam, pandangannya menerawang ke langit-langit. Dirasakannya hangat sperma Tejo melelehi pipinya namun dia enggan buru-buru menyekanya.

“Ah Tejo… Tejo… Apa yang udah kamu lakukan pada Tantemu ini…?” Desahnya dalam hati.

Perasaannya benar-benar campur aduk saat itu. Dia bingung bagaimana meski bersikap. Haruskah dia meledak dan mendamprat Tejo? Bagaimana reaksi Tejo nanti? Ah, dia benar-benar bingung. Ngocoks.com

Sementara Tejo sendiri juga diam terpaku. Ada sedikit penyesalan di dalam dadanya atas apa yang baru saja dia lakukan. Dia seperti tak percaya dirinya bakal bertindak senekat itu. Sebenarnya dia tadi sama sekali tak berniat menghujani Sarina dengan spermanya.

Tadinya dia berniat berpaling saat mencapai orgasme, atau paling tidak menadahi spermanya dengan tangan kirinya. Tapi Sarina yang tiba-tiba terbangun membuatnya panik dan… Ah, yang terjadi biarlah terjadi… Pikirnya. Kini dia siap didamprat habis-habisan oleh Tantenya. Akan tetapi Tantenya yang tidak kunjung mengucap sepatah kata pun membuat dirinya juga galau.

“Jo…” Akhirnya Sarina bersuara.

“Y… Yaa Tannte…” Jawab Tejo gagap.

Sarina bangkit dan duduk bersandar. “Ambilkan tisunya Jo…” Pintanya.

Tejo segera menurutinya. Diulurkannya kotak tisu pada Sarina. Sarina mengambil beberapa lembar dan mulai menyeka wajahnya. Tejo tidak tinggal diam. Dia juga mengambil beberapa lembar dan membantu membersihkan sperma yang membasahi dada Sarina. Ditatapnya wajah Tantenya. Entah apa yang tercermin dari raut mukanya yang sayu itu. Apakah sedih? Merasa dilecehkan? Marahkah? Entahlah. Perasaan Tejo makin galau.

“T… Tante, maaf Tejo tadi nggak sengaja… H… Habisnya Tejo kaget Tante tau-tau bangun…” Dengan gagap Tejo berusaha menjelaskan.

Sarina tidak menjawab. Mukanya merengut. Dicubitnya Tejo dengan gemas.

“Aduduu…h!” Tejo mengaduh.

Cubitan Sarina agak serius dan terasa sedikit sakit. Terang saja Sarina kesal, bagaimana bisa dibilang tidak sengaja sedangkan Tejo tadi terang-terangan memegangi tengkuknya dan menembakkan sperma ke wajahnya.

“Dasar kamuu…” Ujar Sarina gemas. “Udah… Bobo’…!” Lanjutnya sambil mengacak-acak rambut Tejo.

Sarina memilih untuk tidak membicarakan peristiwa barusan karna dia sendiri pun tak tahu harus berkata apa. Dia segera rebah setelah semua sperma Tejo diseka hingga kering tak bersisa. Ditariknya selimut sebatas bahu hingga menutupi tubuhnya. Dilihatnya Tejo masih saja duduk terdiam. Gemas dia dibuatnya.

“Jo… Jangan nakal ya… Udah malam, tidur, besok sekolah…!” Ujarnya tegas.

“Ta… Tante, Tejo masih boleh tidur sama Tante kan…?” Jawab Tejo terbata.

Sarina menghela napas. Dia sama sekali tak berniat mengusir Tejo. Dibukanya selimutnya, mengisyaratkan Tejo untuk masuk berbaring di sampingnya. Tejo pun meringis senang. Serta merta dia berbaring memeluk Sarina.

“Makasih Tante…” Gumamnya.

Sarina tersenyum melihat polah Tejo. Ditutupkan lagi selimutnya menutupi mereka berdua. Betapa senangnya tejo tidur satu selimut bersama Tantenya yang selama ini dipuja-pujanya. Terlebih lagi Tantenya itu dalam keadaan telanjang.

Dipeluknya tubuh Sarina rapat. Sarina juga melingkarkan tangannya di atas kepala Tejo dan membelai-belai rambutnya. Tejo sempat merasa kecewa, harusnya tadi dia bertelanjang dada supaya kini kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan kemulusan kulit Sarina. Dia jelas tak mungkin melepas bajunya sekarang, bisa-bisa Sarina mendampratnya.

“Tante…” bisik Tejo lirih.

“Ada apa lagi Jo…?” Jawab Sarina lembut.

“Tejo sayang sama Tante…” Ucap Tejo polos.

Sarina terdiam tanpa menjawab. Tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apakah keponakannya itu baru saja menyatakan perasaan cinta kepadanya…? Ah gila. Pertanyaan itu mengusik batinnya. Tapi dia tak mau ambil pusing lebih jauh. Dia sudah sangat mengantuk. Tejo sendiri tampaknya langsung terlelap kelelahan.

Sarina menghela napas. Baru 2 hari Heru pergi. Masih 4 hari lagi sebelum suaminya itu pulang. Entah apa lagi yang akan terjadi nanti… Sarina pun terlelap.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6
Berlanjut Bersambung Cantik Gangbang Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Petualangan Rame Rame Selingkuh Tergila Ternikmat Tetangga Threesome Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleAnak Lurah
Next Article Embun Birahi
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.8

    Janda Muda

    9.6

    Dampak Suami Loyo

    9.6

    Embun Birahi

    9.7

    Anak Lurah

    9.8

    Ustadzah Alisha

    9.7

    Kopi Ginseng

    Follow Facebook

    Recent Post

    Janda Muda

    Dampak Suami Loyo

    Embun Birahi

    Istri Muda Binal

    Anak Lurah

    Ustadzah Alisha

    Kopi Ginseng

    Hasrat yang Tak Tertahankan

    Siasat Paras Elok

    Manajer Perusahaan Multinasional

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.