Hari ini adalah hari pernikahan Reina dan ardian
Dan 1 jam lalu ardian telah menjabat tangan bapak Reina dan mereka berdua sekarang sudah dah menjadi suami istri
Resepsi pernikahan digelar 2 hari di Solo dan di Semarang pasalnya ardian berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang jenderal dan ibunya anak pejabat.
Ivan, Darren, Dani dan Tasya juga hadir. Mereka begitu kaget saat ardian memberikan kabar akan menikah. Ardian menjelaskan pelan pelan kepada mereka dan Ivan pun hampir membogemnya. Tindakan ardian benar keterlaluan
“Reina maafin gue ya gara gara gue loe jadi berakhir seperti ini” Ucap Tasya
“Udah gapapa. Udah jalan Tuhan seperti ini” Ucap Reina
.
.
.
.
.
.
.
Acara sudah selesai keluarga Reina sudah kembali ke Solo dan kini Reina berada dirumah keluarga ardian
“Denger ya sampai kapanpun saya tidak akan merestui kamu dengan anak saya. Kamu tidak selevel dengan kami” Ucap mama ardian
“Mah apa apaan. Jangan nekan istri ardian” Ucap ardian
“Kamu bentak mama ardian. Kamu lebih belain wanita ini” Ucap mama ardian
“Bukan gitu ma” Ucap ardian
“Sudah kamu bawa wanita ini pergi ardian mama gak sudi liat dia” Ucap mama ardian
Ardian membawa reina ke kamarnya.
“Rein maafin mama” Ucap ardian
“Udahlah semua juga sudah terjadi. Tapi aku minta sama kamu jangan bentak mama kamu seperti tadi” Ucap reina
Reina memang belum bisa memaafkan ardian sepenuhnya. Tapi melihat ardian tadi membelanya membuat rasa benci itu semakin luntur
“Lusa kita pulang ke Jakarta” Ucap ardian
“Iya” Ucap reina
“Kamu tidur di ranjang. Saya akan tidur di sofa” Ucap ardian
“Gak kamu tidur aja di ranjang. Aku yang di sofa” Ucap reina
“Dari pada ribut terus kita tidur diranjang” Ucap ardian
“Hmm” Ucap reina
.
.
.
.
.
Reina tidak bisa tidur dan ardian juga
“Rein kamu belum tidur” Ucap ardian
“Belum” Ucap reina
“Gimana kalau kita deeptalk” Ucap ardian
“Boleh” Ucap reina
“Reina sebelumnya maafin saya. Tapi jujur saya sayang cinta kamu mungkin sekarang kamu belum bisa balas cinta saya. Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu bisa balas cinta saya” Ucap ardian
“Maafin aku. Aku belum bisa” Ucap reina
“Gak masalah. Kamu kenapa merantau ke Jakarta” Ucap ardian
“Demi mengubah nasib. Kamu tau sendiri penghasilan bapak dan ibu belum bisa nyukupin kebutuhan keluarga. Apalagi adek aku masih kecil kecil butuh biaya banyak” Ucap reina
“Saya salut sama kamu” Ucap ardian
“Kamu kerja dimana? ” Ucap reina
“Saya di rumah sakit” Ucap ardian
“Kamu dokter? ” Tanya reina
“Iya” Ucap ardian
“Aneh sekali aku baru tau pekerjaan suamiku” Ucap reina
Ardian tersenyum senang reina memanggilnya suami. Ardia merasa bahagia
“Rein boleh gak kamu manggil saya mas” Ucap ardian
“Kamu mau di panggil mas? ” Ucap reina
“Iya soalnya aneh kalau kamu manggil aku kamu atau hanya ardian” Ucap ardian
“Aku panggil mas ardian ya. Tapi mas manggil diri mas saya ya tapi aku ” Ucap reina
.
“Maafin mas ya Rein. Udah bikin kamu seperti ini” Ucap ardian
“Aku dari kemarin sebel banget sama kamu mas. Cuma sekarang aku udah berusaha menerima takdir ini” Ucap reina
“Kita harus terus bersama ya Rein apapun yang terjadi mas akan selalu jaga kamu” Ucap ardian mengecup kening reina
Ardian ingin mencium reina namun reina menghindar
“Maaf ya mas aku belum bisa aku masih trauma” Ucap ardian
“Maafin mas ya sayang kita tidur aja” Ucap ardian
Tidur memeluk reina dengan nyenyak.
Jam menunjukan pukul 3 reina bangun untuk menunaikan sholat tahajud. Suaminya masih nyenyak tidur
Ardian melihat samping tidak ada reina. Ardian mencari cari dan menemukan seseorang wanita yang sedang sholat.
“Istriku sangat sholehah” Batin ardian
.
.
.
.
.
Reina yang sudah selesai sholat. Melihat suaminya terbangun
“Mas kamu udah bangun” Ucap reina
“Iya” Ucap ardian
“Sebentar lagi sholat subuh. Kita sholat berjamaah ya” Ucap reina
“Iya mas ambil air wudhu dulu” Ucap ardian
.
.
.
.
.
.
.
Setelah sholat subuh ardian tidur lagi berbeda dengan reina yang turun kebawah untuk masak
“Pagi bi reina bantuin ya” Ucap reina
“Pagi non. Aduh jangan non nanti saya dimarahin den ardian” Ucap bibi
“Tidak bi. Mas ardian aman nanti saya yang bilang. Please bi” Ucap reina
“Iya deh non” Ucap bibi
“Masak apa ini bi” Ucap reina
“Masak udang pedas” Ucap bibi
“Sayurnya belum ada ya bi sama sambalnya” Ucap reina
“Belum non” Ucap bibi
“Rein buatin ya bi” Ucapan reina
Setelah setengah jam berkutik di dapur. Reina menata makanan di meja. Dan naik ke lantai atas untuk membangunkan suaminya
“Mas bangun” Ucap reina
“5 menit lagi Rein” Ucap ardian
“Yaudah aku turun kebawah sendiri” Ucap reina
“Iya mas bangun Rein” Ucap ardian
.
.
.
.
.
Pagi hari keluarga syailendra berkumpul untuk makan pagi lengkap ada Papa, Mama, adik mas ardian Nabilla dan Aldo
“Sambalnya enak bik. Sayurnya juga” Ucap mama
“Non reina yang masak nyonya” Ucap bibi
“Mama gak selera makan” Ucap mama dan pergi
“Semua lanjutkan makan aja” Ucap papa
.
.
.
.
.
.
Saat ini reina sedang bersantai di ruang tamu. Namun tiba tiba adik iparnya menghampirinya
“Kak lagi ngapain” Ucap Nabilla
“Ini lagi baca buku” Ucap reina
“Kak temenin aku ke mall yuk” Ucap Nabilla
“Kakak ijin abang kamu dulu ya” Tanya reina
“Aku ikut ya kak” Ucap aldo
“Oke” Ucap reina
“Aku tunggu ya kak” Ucap Nabilla
.
.
.
.
Reina memasuki kamar dan meminta ijin suaminya
“Mas aku ijin pergi sama Nabilla dan Aldo ya” Ucap reina
“Kemana? ” Ucap ardian
“Mall kata Nabilla mas. Boleh ya kan ini hari terakhir sebelum besok kita pulang” Ucap reina
“Oke hati hati. Ini untuk beli beli Nabilla dan Aldo kamu juga” Ucap ardian
“Mas aku ada kok” Ucap reina
“Gak ada penolakan. Pinnya tanggal pernikahan kita” Ucap ardian
“Oke mas pamit ya. Assalamu’alaikum” Ucap reina
“Waalaikumsalam” Ucap ardian.
Bersambung…




