Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Flashback

Flashback

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Kembang Semusim 1

Percakapan hangat dua sahabat lama itu akhirnya membawa Kino dan Iwan ke waktu makan siang. Seorang pekerja yang tubuhnya penuh peluh mengetuk pintu kantor Iwan, mengingatkan sang mandor bahwa telah waktunya istirahat. Iwan terburu-buru bangkit dan meminta Kino untuk tetap tinggal selama ia keluar mengurus para pekerja.

Kino meng-iyakan, menghirup sirup dingin yang tadi disediakan Iwan untuknya. Hebat betul sobat lamanya ini, walaupun ruang kantornya sederhana tetapi ia punya selera tinggi.

Ada lemari kayu yang agak reyot tetapi bersih, dan di dalamnya ada sebotol sirup, sebuah termos es, setoples kopi, sekaleng gula, dan sebungkus biskuit. Pikir Kino, pastilah temannya ini sering menerima tamu, dan bersikap profesional menyediakan minuman selagi bercakap-cakap. Darimana dia belajar public relation seperti ini?

Di dinding kantor Kino melihat ada sebuah kalendar bergambar gadis-gadis cantik dengan bikini minim, menunjukkan selera pemilik kantor yang membangkitkan senyum Kino.

Sejak dulu Iwan terkenal suka mengejar-ngejar gadis di seantero kota yang tak terlalu besar ini. Ia bahkan senang berkelana ke desa-desa sekitar dengan motor bebek pinjaman berwarna hijau tua itu. Apakah ia masih sering meminjam motor milik kantor ayahnya itu?

Ada juga sebuah sertifikat sederhana yang diberi bingkai tergantung dekat kalendar. Kino membaca tulisannya, menyatakan bahwa Iwandi Putranto telah lulus latihan kepemimpinan yang diselenggarakan Ikatan Pekerja Perkebunan Cengkeh.

Tambah kagum saja Kino kepada sobat lamanya yang tidak menyerah walau tidak bisa meneruskan pendidikan formal. Sejak dulu Iwan memang suka berorganisasi di Pramuka Sekolah, dan selalu ingin jadi pemimpin regu. Dengan sertifikat dari ikatan pekerja, tampaknya ia ingin aktif di dunia buruh. Sebuah pilihan yang barangkali memang cocok untuk latarbelakang keluarga di mana ia dibesarkan.

Kedua orangtua Iwan bukan tergolong orang mampu; cuma punya sepetak sawah yang tak terlalu menghasilkan banyak padi. Ayahnya seorang pegawai rendahan di perusahaan bis yang tak terlalu besar.

Ibunya membuka warung sederhana di depan rumah di sebuah jalan yang tak terlalu banyak dilalui orang. Terlebih lagi, Iwan adalah anak tertua dari tujuh bersaudara. Pastilah sulit sekali mengatur keuangan untuk sekolah tinggi-tinggi.

Tetapi Kino punya keyakinan khusus tentang Iwan. Sobatnya itu pasti punya bakat untuk berhasil dalam hidup ini, karena punya motivasi kuat untuk berjuang melawan nasib. Iwan juga tipe pemuda yang tidak rendah diri dalam kesederhanaannya.

Ia bahkan terlihat punya percaya diri yang berlebihan, selain sangat enteng memandang hidup ini. Tampaknya, bagi Iwan tak ada yang sulit di dunia ini. Dalam hati Kino berdoa agar sobatnya ini punya karir yang bagus, dan siapa tahu nanti jadi salah satu manajer perkebunan.

“Ayo kita ke kantin perkebunan!” seru Iwan membuyarkan lamunan Kino. Sobatnya itu melongok di pintu setelah selesai dengan urusannya. Kino tak menolak, ia memang lapar dan segera mengiringi langkah Iwan menuju kantin yang sudah ramai oleh para pegawai perkebunan.

Mereka duduk dekat sebuah jendela tak berdaun. Udara segar berhembus masuk, menyejukkan muka kedua pria muda yang agak berkeringat karena menyantap masakan ala Padang yang pedas. Ini makanan khas kantin.

Beras yang dipakai untuk nasi memang tidak begitu baik, tetapi suasana dan bumbu pedas membuat makanan mereka sedap. Kino senang berada di tengah pekerja-pekerja keras menyantap hidangan penuh semangat. Orang-orang sederhana dengan selera yang tak macam-macam. Orang-orang yang menikmati apa yang mereka bisa nikmati tanpa banyak mengeluh.

“Jangan langsung menengok,” bisik Iwan tiba-tiba, “Di sebelah kanan ada seorang gadis yang nanti akan kuperkenalkan kepadamu.”

“Siapa?” tanya Kino tanpa mengangkat mukanya dari hidangan di depannya.

Iwan biasa bicara tentang gadis-gadis seperti ia membicarakan bunga-bunga cengkeh. Untuk ukuran kota kecil, Iwan termasuk play boy dengan koleksi gadis yang tak boleh dipandang sebelah mata. Ngocoks.com

“Anak salah seorang pemilik perkebunan ini,” kata Iwan sambil sesekali melirik ke arah gadis itu, “Ayahnya di ibukota berkongsi dengan pemilik tanah di sini. Gadis itu anak kampus seperti kamu, datang ke sini untuk sebuah penelitian … ”

Mendengar keterangan Iwan yang terakhir, Kino mengangkat muka tetapi tidak juga menengok ke arah gadis yang sedang mereka bicarakan, bertanya, “Penelitian sejarah?”

“Dari mana kamu tahu?” sergah Iwan.

Sialan, gerutunya dalam hati, si Kino ternyata termasuk ‘pasukan gerak cepat’ dalam soal gadis. Dulu waktu di SMA dia tidak begitu!

Kino tertawa kecil, “Jangan takut, Wan..,” katanya, “Aku tidak bermaksud menyaingi reputasimu. Aku kebetulan bertemu dengannya tadi, sebelum bertemu kamu.”

“Ya, dia tadi diantar Pak Rustandi,” kata Iwan dengan nada lega, “Kamu pasti bertemu di tengah kebun.”

“Lumayan,” ucap Kino bermaksud mengomentari Karin sambil mengunyah rendang yang agak liat, “Tinggi dan lincah seperti burung kenari.”

Iwan tertawa mendengar istilah yang dipakai Kino, “Ya…. Burung kenari itu sudah dua minggu di sini, tetapi baru sekarang ke perkebunan karena katanya mau melihat gua Jepang. Menurutku dia tidak cuma tinggi dan lincah. Dia seksi dan menggairahkan!”

Kino ikut tertawa memaklumi cara Iwan berkomentar. Kalau Iwan sudah menyebut-nyebut seorang gadis dalam percakapannya, pastilah ada kata-kata ‘seksi’ atau ‘sensual’ atau ‘menggairahkan’. Kadang Kino heran, apakah cuma itu perbendaharaan katanya kalau sudah menyangkut wanita?

Lalu Iwan berbisik, “Aku pernah lihat dia telanjang…”

Kino tersedak. Iwan tertawa melihat sobatnya kaget, “Lebih dari dua kali aku melihatnya mandi di sungai di belakang kantor perkebunan, dan sepertinya gadis itu sengaja membiarkan aku menontonnya!” katanya.

Kino menghentikan suapannya, “Gila kau, Wan!” sergahnya, “Suka mengintip orang mandi!”

“Aku tidak suka mengintip,” bantah Iwan, “Dia secara tidak langsung mengundangku menonton. Dia selalu mengatakan akan mandi ke sungai dan lewat di depan kantorku, sambil tersenyum genit!”

“Kamu yang mata keranjang!” sergah Kino sambil tertawa, “Gadis itu cuma tersenyum, kamu bilang genit.”

Iwan mengibaskan tangannya, “Ah, dari dulu kamu begitu Kino. Kamu anggap semua gadis innocent seperti Alma!”

“Tetapi darimana kamu tahu bahwa dia mengundangmu menontonnya mandi di sungai,” sahut Kino tak mau kalah, “Jangan-jangan itu cuma hayalanmu … untuk alasan mengintip!”

“Sinar matanya, Kino …. sinar matanya!” kata Iwan sambil menunjuk ke matanya sendiri seakan ingin memastikan bahwa lawan bicaranya tahu apa yang dimaksud dengan ‘mata’.

“Tadi kau bilang senyumnya, sekarang sinar matanya,” kata Kino sambil tertawa, “Sebentar lagi kau akan bilang goyang pinggulnya!”

Iwan kembali mengibaskan tangannya tak sabar, “Kamu harus bisa membedakan sinar mata seorang gadis kalau memandang kita, Kino!”

Kino baru saja hendak membuka mulut menyahuti ajakan Iwan berdebat tentang gadis-gadis, ketika suara nyaring terdengar dari ujung sana. Karin memanggil Iwan dengan suaranya yang berkicau itu.

Iwan mengedipkan sebelah matanya ke Kino sambil berkata lirih, “Apa kataku … dia suka padaku!”, lalu pemuda itu bangkit menuju meja Karin yang sedang makan bersama Pak Rustandi. Kino menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. Bagi Iwan, semua gadis suka padanya.

Kino menengok ke arah mereka, melihat Iwan bercakap-cakap sambil memegang ringan bahu Karin. Dari tingkahnya itu, Kino tahu Iwan sudah memasang jerat play boy-nya. Cuma, melihat cara Karin meladeni sobatnya itu, Kino juga punya kesan justru gadis itu yang sedang memasang jerat. Ah, siapa yang jadi apa dalam permainan the spider and the fly ini? terawang Kino sambil tersenyum dalam hati.

Lalu tampak Karin sejenak melihat ke arahnya, dan Kino membalas lambaian tangan gadis itu. Perlu diakui, wajah gadis itu menarik walau tak cantik. Sedangkan tentang tubuhnya, terus terang Kino tidak bisa memberi penilaian. Siang itu Karin memakai celana baggy dan kaos longgar. Lagipula ia duduk agak jauh, dan Kino tidak pernah melihatnya mandi di sungai!

Tak berapa lama, Iwan kembali ke kursinya, melanjutkan santapan. Ia bercerita dengan bangga bahwa Karin mengajaknya berenang hari Sabtu.

“Aku akan mengajaknya ke tempat rahasia kita,” kata Iwan, “Kau masih ingat?”

Tentu saja Kino masih ingat sebuah wilayah agak terpencil di belokan sungai yang tertutup pohon-pohon perdu. Anak-anak muda sering berenang di sana sambil pacaran. Kino sendiri tak terlalu suka wilayah itu karena tidak ada cukup ruang untuk balapan berenang.

Dia lebih suka bagian sungai yang lurus dekat jembatan desa. Di sana, mereka bisa menggunakan jembatan sebagai tempat melompat dan starting point. Lalu tugu pembatas kecamatan di ujung yang lain bisa menjadi garis finish. Tetapi Iwan tampaknya tidak bermaksud mengajak Karin balapan berenang, dan Kino sudah bisa menebak apa yang akan dikerjakannya dengan gadis kota itu.

“Dia akan mengajak sepupunya,” kata Iwan dengan sinar muka berbinar sambil mengacungkan jempol, “Sama cantiknya dengan si Karin.” Ngocoks.com

“Aku janji mengajak Susi berenang di pantai,” potong Kino sebelum Iwan mengatakan bahwa kedua gadis itu juga mengundangnya berenang bersama.

Iwan terlihat kecewa, “Ah, Kino …. jangan begitu, lah!” sergahnya sambil memasang muka serius, “Kita berenang bersama dengan mereka, pasti kamu suka.”

Kino tertawa, “Kalau mau berenang, ajaklah mereka ke jembatan desa. Di sana kita bisa balapan renang. Sudah lama juga aku tak mengalahkan kamu, Wan!”

Iwan tambah kecewa, “Ayolah, Kino. Sekali-sekali main air tanpa balapan …,” katanya penuh harap, walaupun ia tahu Kino keras hati dan tak terlalu suka diatur.

“Bawa mereka ke pantai, kita berenang di sana,” kata Kino tegas karena ia jelas berada di atas angin. Ia tahu, Iwan harus memilih: bersenang-senang bersama Karin dan sepupunya, atau berkumpul bersama sobat lamanya. Ia tahu pula, Iwan pasti akan memilih yang terakhir karena jelas baginya Karin adalah salah satu saja dari gadis-gadis di kamus kehidupannya. Cuma kembang semusim.

Iwan menghela nafas panjang, menyerah pada keteguhan Kino, dan akhirnya berkata, “Baiklah, jam delapan pagi di pantai.”

Lalu sambil menggerutu, pemuda itu berkata, “Untung saja belum aku katakan kepada Karin kemana aku akan mengajaknya!”

Kino tertawa tergelak. Sejak awal ia tahu, Iwan belum punya rencana apa-apa. Sejak dulu Kino lah yang selalu banyak ide, dan sobatnya itu cuma tahu tempat tersembunyi untuk pacaran. Kalau soal bersenang-senang di air dan di laut, Kino tak ada pesaingnya.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39
ABG Berlanjut Bersambung Cantik Guru Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pelajar Pengalaman Petualangan Selingkuh Tante Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleAyahku Ingin Nyusu
Next Article Tragedi Malam Pengantin
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.7

    Petualangan Rikku

    9.9

    Rumah Kami Surga Kami

    9.6

    Keluarga Pak Trisno

    9.6

    Tragedi Malam Pengantin

    9.6

    Ayahku Ingin Nyusu

    9.5

    Menguntai Masa Lalu

    Follow Facebook

    Recent Post

    Petualangan Rikku

    Rumah Kami Surga Kami

    Keluarga Pak Trisno

    Tragedi Malam Pengantin

    Flashback

    Ayahku Ingin Nyusu

    Menguntai Masa Lalu

    Obsesi Nakal Ibu Kandung

    Kakakku yang Liar

    Siswi SMP

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.