Kembang Semusim 4
Karin melipat pakaiannya dengan rapi di dekat sebuah batu besar, di sebuah lekukan yang menjorok agak ke dalam. Sepi sekali sekelilingnya, dan gadis itu menyukai lingkungan asri yang tenang ini. Hanya dengan celana dalam nilon, ia melangkah masuk ke air dingin segar yang menyambutnya bagai serombongan dayang-dayang menyambut tuan puteri. Brrrr … sejenak tubuh Karin bergetar kedinginan, tetapi setelah itu ia segera menyelam membiarkan seluruh badannya dipeluk sang air yang ramah.
Bening dan transparan sekali sungai di bagian ini, pikir Karin sambil meraih batu-batu kecil di bawah. Beberapa ikan mungil coklat kehitaman tampak terkejut, berenang menjauh dengan cepat, tetapi lalu kembali lagi setelah tahu bahwa mahluk yang barusan menyelam itu ternyata tidak berbahaya.
Iwan tiba di seberang tempat Karin menyelam sesaat setelah gadis itu memunculkan tubuhnya untuk yang ketiga kali. Langkah pemuda itu terhenti … amboi … apa yang dilihatnya sungguh menakjubkan. Karin seperti ikan duyung, agak tersembunyi di balik keteduhan pohon di seberang sana. Sebersit sinar mentari lolos dari kepungan dedaunan, dan biasnya jatuh di tubuh telanjang berwarna kuning langsat menggairahkan itu. Iwan menelan ludah. Payudara Karin yang tegak membusung tampak semakin indah dalam cahaya alami yang agak remang.
Karin menoleh, merasakan kehadiran pemuda itu. Iwan masih berdiri terpaku dengan mata takjub. Karin tersenyum sambil berdiri di dasar sungai, membiarkan permukaan air hanya menyentuh bagian bawah kedua payudaranya. Mata gadis itu bersinar nakal, karena ia tahu Iwan sedang terperangkap oleh pemandangan indah di dadanya. Kedua puting payudaranya mengkilat oleh air sungai. Kedua bukit putih mulus di dadanya menggelembung seperti mengajukan tantangan.
Lalu Iwan berjalan mendekat tanpa berkata apa-apa. Sambil melangkah meniti batuan-batuan, pemuda itu mulai melepaskan kancing bajunya satu per satu. Karin menyelam lagi, membiarkan Iwan menikmati pemandangan indah yang kedua, ketika pantatnya yang kenyal-seksi terbungkus nilon basah itu sejenak menyembul ke permukaan, sebelum akhirnya hilang ditelan air.
Ketika akhirnya Iwan tiba di pinggir sungai dekat tempat Karin berenang, pemuda itu tinggal bercelana dalam juga. Dengan tergesa dilemparkannya celana panjang, sepatu bot, kaos kaki, dan baju dinasnya dekat pakaian Karin. Lalu ia melompat ke air, menimbulkan suara ramai yang mengagetkan beberapa burung di atas pohon. Berterbangan, mahluk-mahluk berbulu hijau dan kuning itu ribut mencicit seperti segerombolan wanita marah-marah karena kegiatan gosip mereka terganggu.
Karin berenang menjauh sambil tertawa kecil. Iwan menyusul dengan cepat. Keduanya semakin menuju tempat yang penuh pepohonan dan tersembunyi. Karin pernah berenang sendirian di sini, dan tahu bahwa tempat ini adalah lokasi yang tepat untuk rencananya!
Iwan berhasil mengejar ikan duyung seksi itu dalam sekejap. Tanpa kata-kata, dipeluknya tubuh yang menggairahkan itu dari belakang. Karin menjerit tertahan, lalu tertawa senang ketika pemuda itu memagut tengkuknya. Ia membiarkan pula tangan pemuda yang kokoh itu merangkul seluruh tubuhnya. Ia tertawa lagi ketika Iwan mendorongnya ke arah pinggiran yang gelap karena ada di sebuah relung yang terbentuk oleh akar-akar pohon besar.
Tetapi tawanya segera hilang ketika kedua telapak tangan Iwan tiba di dadanya, di bawah permukaan air. Tawanya berganti jerit kecil ketika Iwan mulai meremas. Lalu berganti desah panjang ketika remasan itu berubah menjadi gerakan memutar-memilin. Keduanya pun sudah berhenti berenang, berdiri di dasar sungai yang menenggelamkan kedua tubuh mereka setinggi leher.
“Hmmmmm…,” Karin bergumam seksi sambil memejamkan matanya dan meraih pinggang Iwan yang memeluknya dari belakang. Gadis itu bisa merasakan sebuah tonjolan keras menempel erat di bokongnya di bawah air. Pasti itu bukan ular sungai!
“Kamu menggemaskan!” bisik Iwan sambil menciumi bagian belakang telinga Karin, membuat gadis itu menggeliat kegelian. Ngocoks.com
Dengan penuh perasaan Iwan meremas dan menjelajahi dada Karin yang terbuai-buai di dalam air, bergoyang-goyang pelan seirama riak sungai. Gadis itu merasakan kenikmatan ganda dari buaian air dan remasan gemas, membuat kedua putingnya langsung menegang, dan kedua kakinya seperti tak bisa berdiri lagi. Untung saja air dengan segera menyokong berat tubuh mereka, membuat keduanya setengah mengambang.
“Ooooh…,” Karin mengerang ketika Iwan mencubit pelan tetapi gemas salah satu putingnya. Ia menyorongkan tubuhnya lebih ke belakang, menempel erat ke tubuh pemuda itu.
Tak kurang dari 5 menit mereka berdiri dalam posisi yang demikian, Karin menggeliat-geliat manja dan Iwan meremas-remas gemas. Tidak ada suara lain, selain riak air yang agak ramai karena mengalir deras di antara bebatuan, dan sesekali desah samar dari mulut Karin meningkahi.
Lalu gadis itu membalikkan tubuhnya, dan Iwan mengangkat pinggangnya dengan ringan di bawah air. Segera saja posisi payudara yang sensual itu ada di depan muka pemuda itu. Karin pun menjerit tertahan, ketika mulut Iwan yang panas membara menangkap salah satu putingnya. Rasa dingin air yang tadi melingkupi tubuhnya segera berganti dengan desir panas yang membakar cepat. Tubuh gadis itu seperti padang rumput kering yang terbakar di musim kemarau.
Sambil mengulum puting kenyal yang tak bisa sepenuhnya ia hisap ke dalam mulut itu, Iwan mendorong Karin ke sebuah batu besar di tempat gelap. Kini tubuh gadis itu terjepit tak bisa bergerak, dan selangkangannya terperangkap oleh bagian depan tubuh pemuda yang menonjol keras itu. Karin mengerang merasakan kenikmatan kecil terbersit di antara kedua pahanya. Ia bergerak lemah, tetapi itu pun sudah cukup melipat-gandakan kenikmatan kecil itu menjadi kenikmatan sedang, lalu segera menjadi kenikmatan besar, dan akhirnya kenikmatan maha besar!
Iwan punya pengalaman segudang dalam menciumi payudara gadis. Ia sebetulnya agak kecewa karena payudara Karin tak beda rasanya dengan payudara gadis-gadis desa. Padahal tadinya ia berharap ada perbedaan, mungkin dalam rasa, mungkin dalam bentuk, mungkin dalam warna. Ternyata tidak. Puting Karin tidak manis, atau asin, atau asam …. Memang rasanya lebih kenyal, tetapi tak terlalu istimewa. Warnanya? Mmmm … tak jauh berbeda, walau lebih halus mulus!
Karin punya pengalaman segudang pula dalam percumbuan, walau belum pernah bercumbu di sungai. Berbeda dengan Iwan, gadis ini terpesona oleh situasi yang kini melingkupinya. Bercumbu di sungai, terjepit di batu besar, dan digigit-gigit kecil oleh mulut yang liar itu! …. ini pengalaman baru yang menakjubkan. Tanpa dapat ditahan, Karin tahu-tahu sudah ada di pinggir kaldera birahi. Ia tinggal melangkah sedikit lagi sebelum tercebur ke gelegak orgasme pertamanya!
Maka gadis itu mengerang dan mendesah meminta Iwan melakukan sesuatu yang belum ada dalam rencananya ketika tadi masuk ke air.
“Apa?” bisik Iwan sambil menciumi leher Karin yang basah kuyup.
“Aku ingin dicium di situ …,” bisik Karin sambil membuka celananya di bawah air. Cepat sekali celana itu lolos, dan untung saja tidak segera hanyut karena dengan cekatan gadis itu melemparkannya ke atas batu.
“Dicium di mana?” tanya Iwan, benar-benar kurang paham.
“Ikuti perintahku, okay?” bisik Karin sambil tersenyum nakal. Iwan mengangguk sambil mengernyitkan dahinya.
“Angkat aku lebih ke atas …,” kata Karin, dan Iwan mematuhinya. Tubuh gadis itu kini hanya tenggelam sebatas pinggang.
“Sekarang kamu menyelam …,” kata Karin lagi sambil pelan-pelan membuka pahanya di bawah air.
Iwan menyelam, dan dalam sekejap ia tahu maksud gadis kota ini!
“Sekarang lakukan …,” Karin menarik kepala Iwan di bawah air, lalu gadis itu menjerit pelan “Ooooooh…”
Dan Iwan melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Tidak pernah di atas air, apalagi di bawah permukaan air! Dan Karin mengerang sambil berpengangan erat di kepala pemuda itu di bawah air. Kedua pahanya terkuak melebar ketika lidah pemuda itu melakukan apa yang biasa ia lakukan di mulutnya ketika berciuman. Lidah itu menjelajah nakal. Nakal sekali … dan Karin suka sekali!
Iwan tahan berenang di dalam air cukup lama. Tetapi dengan kegiatan baru ini, ia butuh oksigen lebih banyak. Cepat-cepat ia mengangkat kepalanya ke permukaan air, lalu cepat-cepat pula kembali ke dalam air. Karin juga yang mendorongnya lebih cepat!
Sesaat Iwan melakukan sesuatu dengan kedua bibirnya di bawah sana. Karin mengerang dan merenggangkan lagi kedua pahanya. Ia ingin membuka diri selebar mungkin, karena rasanya ada sesuatu di dalam sana yang memerlukan sentuhan lembut tetapi cepat. Karin menggeliat sambil bertahan agar tidak merosot di batu yang kini semakin licin oleh peluh di bokongnya!
Iwan melakukannya berkali-kali. Mengambil nafas berkali-kali sebelum tenggelam lagi didorong lembut tetapi setengah memaksa oleh ikan duyung yang sedang bertahta di atas batu itu. Gerakannya semakin cepat dan semakin tangkas. Dan Karin merasakan orgasmenya datang secepat kilat. Tubuhnya menegang-meregang, lalu bergeletar kecil dan berkali-kali.
“Oooh!” jeritnya sambil memejamkan mata erat-erat. Ia tidak mau terbangun dari mimpi indah ini!
Tujuh, delapan, atau mungkin sembilan kali sentakan-sentakan nikmat memenuhi sekujur tubuh gadis ini. Dunia seakan sirna…. Langit pecah berantakan…… Pohon-pohon membaur dalam hijau yang pekat…… Air bergelegak tapi tak menenggelamkan…… Batu-batu tertawa riang riuh…….. Ikan-ikan berlompatan menyajikan tarian alam……. Udang-udang keluar dari persembunyiannya di balik batu…….. Burung-burung terbang berputar-putar sambil berkicau ramai.
Karin menggeliat untuk yang kesekian kalinya, sebelum membiarkan tubuhnya merosot masuk ke air lagi. Iwan memeluknya erat. Gila! pikir pemuda ini dalam hati, gadis ini cepat sekali mencapai puncak asmara. Dan apa yang barusan dia lakukan benar-benar gila. Benar-benar tak ternyana. Kegilaan yang tak ternyana. Betapa gilanya! Betapa tak ternyana!
Mereka berdua tak tahu, sepasang mata sempat melihat adegan itu. Cuma sebentar saja, karena pemilik mata itu kemudian memutar tubuh sambil menghela nafas panjang, meninggalkan tempat dengan kepala tertunduk lesu.
Kino tadinya ingin berenang juga. Ia tidak tahu Iwan dan Karin ada di sana. Tadi malam Iwan tak berkata apa-apa, cuma tersenyum-senyum seperti orang gila. Kino tak menyangka keduanya punya rahasia yang begitu mencekam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan dalam hati berucap: semoga tak ada hantu air yang merasuki kedua temannya itu.
Ada saat-saat di mana Karin seperti sedang meluncur di arung jeram yang bergelora, terbawa arus entah ke mana, cepat sekali menggelandang di antara lika-liku kenikmatan yang ditimbulkan oleh mulut-tangan-jari Iwan. Ada saat-saat lain di mana gadis itu bagai melambung-lambung di atas gelembung raksasa, jauh melayang di atas batas angannya tentang bercinta di sungai dengan pria yang makan dan hidup dari kebun besar milik ayahnya.
Tetapi yang lebih sering adalah saat-saat nyata ketika seluruh pori-pori tubuhnya bagai berkembang-kempis karena kegatalan-kegelian yang muncul bertubi-tubi ketika kulitnya tersentuh, tertelusur, terjilat, tergigit, tersedot …. Oh! … Karin sungguh tak pernah menyangka bahwa kendali dirinya bisa begitu cepat lepas. Semua rencananya tentang sais yang akan mengekang tali kuda liar, sirna sudah. Ia membiarkan saja Iwan menciumi belahan sensual di antara dua bukit seksi di dadanya, membiarkan tangannya meremas di sana-sini, terkadang tanpa sungkan menelusup masuk dan berputar mengaduk-aduk.
Dan Iwan pun tambah tak tertahankan. Ia mendorong tubuh mereka berdua semakin ke pinggir, ke sebuah lokasi yang agak lapang. Di situ, beralas pasir hitam halus yang di ibukota jadi bahan baku pencakar-pencakar langit … ditemani batu-batu diam yang terkadang menjadi tempat bersembunyi rajungan kecil … di situ Iwan mencoba melanjutkan dan menyempurnakan persebadanan mereka.
Karin mendesah gelisah, menggeliat resah. Terlentang pasrah, ia biarkan pria yang kini juga sudah telanjang bulat itu mengangkat kedua lututnya, merentang-bukakan kedua pahanya. Ia biarkan dirinya terkuak sempurna dalam denyut basah memerah-muda, ketika ujung keras membola yang panas membara itu mendekat, menggelincir sebentar, lalu mulai menelusup cepat …. Oh! … Karin hanya bisa merasakan dirinya terbelah dua dari ujung ke ujung.
“Teruskan ….,” bisiknya parau ketika terasa Iwan berhenti sejenak di tengah jalan.
Iwan mendorong masuk lebih dalam. Karin menjerit kecil dan menggigit pundak pria yang menindihinya. Terasa lah sudah seluruh panjang lantang batang kenyal itu di dalam sana, bergetar menimbulkan lecutan-lecutan nikmat di sepanjang dinding-dinding lembut kewanitaannya. Sebentar lagi …. bisik hatinya tidak karuan … sebentar lagi sempurna sudah …. Ahhhhh!
“Teruskan ….,” desah Karin karena Iwan cuma bergerak satu-dua kali. Karin mendambakan gerakan-gerakan cepat mengagetkan. Hujaman dalam sampai membentur-bentur apa saja yang ada di dalam sana. Ia ingin kekuatan mentah-mentah, tikaman tak kenal ampun. Kesempurnaan puncak ….
“Iwan …,” nama itu terlompat dari mulutnya yang terbuka terengah-engah. Karin sampailah sudah pada awal untaian kematian-kecil yang nikmat itu. Ia pejamkan mata erat-erat, berkonsentrasi pada rasa-hulu-rasa-hilir yang terpancar kuat dari episentrum kewanitaannya.
Iwan mempercepat gerakannya. Menambah akselerasi. Meningkatkan kekasaran. Semuanya demi gadis kota yang sedang menggelepar-gelepar mencari pelepasan itu. Demi sebuah penundukan dan juga penyerahan. Iwan menggenjot sekuat tenaga.
Karin menjerit. Karin mengeluh. Karin menggeliat. Ia seperti ikan kecil yang menemui ajal di pasir kering tak berair. Amboi, betapa terkadang mengerikannya kenyataan tentang kenikmatan!
Sore menjelang malam.
Kino duduk di beranda menikmati teh dan sepotong ubi goreng. Ayah baru saja tiba dari kantor dan sedang membaca ulang berita-berita di koran daerah. Ibu dan Susi ada di dapur. Rumah terasa sepi. Terlalu sepi bagi Kino.
“Aku ingin kembali ke kampus, Ayah,” ucap Kino seusai menghirup seteguk teh hangat yang terasa membelai kerongkongannya.
Ayah menurunkan koran yang dibacanya, memandang sejenak ke Kino, lalu sambil melanjutkan bacaannya ia berkata, “Boleh. Tetapi kita kunjungi dulu dokter Hastini di rumahsakit kabupaten. Mungkin dia bisa memberi penjelasan tentang kondisi tubuhmu.”
“Aku sudah merasa sehat, Ayah,” kata Kino sambil menegakkan duduknya, seakan ingin membuktikan sendiri bahwa tubuhnya telah sebugar sediakala.
Ayah tersenyum bijak, “Bagus, nak! …Untuk benar-benar sehat, yang pertama adalah berpikir sehat. Kalau kamu sudah merasa sehat, itu artinya 80 persen sehat. Nanti, dokter akan membantu kita memastikan apakah secara fisik kamu 100 persen sehat.”
“Aku juga sudah bosan di sini,” ucap Kino sejujurnya.
Ayah meletakkan koran di pangkuannya, melepas kacamata bacanya, dan berkata, “Nah … sekarang kamu mengatakan yang sesungguhnya .. ”
Kino tersipu, mencoba menyembunyikannya dengan menggigit sepotong ubi goreng yang gurih.
“Sekarang Ayah tahu kenapa kamu ingin segera ke B,” lanjut Ayah.
“Aku harus kuliah, Ayah,” kata Kino membela diri, tetapi ia sendiri tahu pembelaannya itu tidak terlalu ampuh di depan lelaki tua yang telah membesarkannya ini.
Ayah tersenyum sambil meraih cangkir kopinya, “Kamu ingin bertemu teman-temanmu. Juga pacar mu.”
Kino tersipu lagi, “Ayah tahu siapa pacar saya?”
“Kadang-kadang aku terlalu tua untuk itu, Kino,” kata Ayah sambil menghirup kopinya, “Aku hanya tahu kamu tidak lagi pacaran dengan Alma, dan aku tahu Trista pergi jauh, entah kenapa.”
Kino menunduk, memainkan ujung taplak meja. Haruskah aku berdiskusi terus terang dengan Ayah? bisiknya dalam hati. Ia belum pernah membicarakan kisah kasihnya dengan orangtua. Tidak dengan Ayah, tidak pula dengan Ibu. Ia tidak pernah berani menguraikan cerita hidupnya di hadapan orang-orang yang melahirkan dan membesarkannya ini.
Betapa ironisnya itu: kau dilahirkan dan dibesarkan oleh mereka, tetapi tak pernah bisa berterus-terang tentang segalanya. Ngocoks.com
Ayah terdengar menghela nafas dalam-dalam. Pria tua ini juga tahu apa yang menggayut di pikiran anak laki-lakinya yang kini sudah pemuda gagah itu. Terkadang pria ini juga mengeluh dalam hati, mengapa ia tak pernah berani mendesak putranya untuk berterus-terang. Ia dulu memutuskan untuk membiarkan Kino menemukan sendiri hidupnya, tak perlu dituntun seperti anak cengeng yang kemana-mana memerlukan petunjuk-pengarahan. Tetapi kini ia sendiri tidak begitu yakin, apakah keputusannya dulu sudah benar.
Ia teringat dirinya sendiri. Teringat masa mudanya, nun jauh di “jaman Republik”. Ketika itu semua pemuda sibuk dengan pergulatan tentang makna kemerdekaan, dan negeri ini masih sangat belia untuk sebuah proses yang begitu tiba-tiba.
Energi para pemuda habis untuk membangun segalanya dari puing-puing sisa perang. Setiap harinya habis untuk ikut pertemuan antar pemuda yang kerap diisi wejangan dari para tokoh lokal. Terkadang mereka pergi berjalan kaki sampai ke kota M untuk mendengar pidato Bung Karno. Pernah juga mereka naik truk berjam-jam hanya untuk melihat dari dekat, seperti apa wajah intelek Bung Hatta itu.
Namun di tengah galau riuh rendah itu pun ia sempat berpetualang asmara. Ia sempat bercinta-kasih dengan seorang gadis, sebelum bertemu wanita yang kini menjadi ibu dari dua anaknya. Ia sempat terlibat cukup jauh untuk ukuran jaman itu.
Bahkan, keterlibatan yang terlampau jauh itu pula yang menyebabkan hubungan mereka tak berlanjut. Seseorang memergoki mereka berduaan di tempat sunyi, dan melaporkannya ke orangtua wanita itu. Lalu dengan getir ia ingat betapa ayah wanita itu mengancam akan melaporkan perbuatannya ke polisi, kalau ia tidak berhenti berhubungan dengan putrinya.
Apakah anakku kini mengalami cerita serupa? Seberapa jauh kah perbedaan antar generasi dalam soal cinta-mencintai ini?
“Lho, sedang apa kalian!” suara Ibu yang cemerlang membuat Kino dan Ayahnya tersentak kaget.
“Sedang berpikir, Bu ..,” sahut Ayah disambung tawa Ibu dan Susi yang muncul dengan sepiring kue.
Kino tersenyum simpul, bangkit untuk menyilahkan Ibu duduk. Katanya, “Saya mengatakan kepada Ayah, bahwa saya ingin kembali kuliah.”
“Dan Ayahmu bilang, kamu harus ke dokter dulu, bukan?” tebak Ibu dengan jitu.
Ayah tertawa, lalu menambahkan, “Ya, … dan ternyata putra kita ini juga sudah merindukan teman-temanya.”
“Mungkin juga merindukan pacarnya,” sela Susi membuat semua orang tertawa.
“Kenapa kamu selalu mempersoalkan pacar, Sus!” sergah Kino setelah selesai tertawa.
“Mungkin dia juga sudah punya pacar!” goda Ibu sambil menghindari cubitan putrinya.
“Aha!” seru Kino, “Siapa dia Susi? Apakah teman sekolahmu?”
“Ibu ini, …. mengarang saja!” sahut Susi sambil mencubit gemas lengan Ibu.
Lalu mereka tertawa-tawa lagi. Riang dan jenaka sekali keluarga kecil ini. Dengan demikian, tersembunyi sudah lah lagi, cerita-cerita yang lain tentang hidup ini. Selalu begitu. Kita menyembunyikan kenyataan-kenyataan lain, demi hidup yang riang dan jenaka.
******
Sementara itu, di sebuah rumah lain yang jauh lebih besar dan mewah …
“Dari mana kamu seharian, Yin!?” sergah Dani kepada Karin yang tergeletak di dipan, tampak letih seperti seorang olahragawan usai latihan untuk ikut olimpiade.
Karin cuma menggumam, dan tersenyum samar-samar.
Dani duduk di sebelahnya, mengguncang-guncang bahu sepupunya dengan gemas dan penasaran, “Kenapa rambutmu basah, padahal kemarin kamu baru keramas!”
Karin menggulingkan tubuhnya, menelungkup menyembunyikan mukanya di bantal. Dani mengejarnya, naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah Karin.
“Kamu berenang di sungai lagi, ya!” sergah Dani sambil mengusap rambut sepupunya yang masih agak basah.
Karin menggumam meng-iya-kan.
“Dengan Kino?” desak Dani dengan suara penuh kecemburuan. Ia kesal sekali karena hari ini harus belanja ke kota M.
Karin tertawa. Ia senang mempermainkan Dani.
“Dengan Kino?” ulang Dani sambil menarik bahu Karin, memaksa sepupunya itu menghadap kepadanya. Tetapi Karin menolak dan mereka bergulat seperti anak-anak.
“Tidak dengan dia!” sergah Karin sambil terus bergulingan menjauh.
“Dengan Iwan?” kejar Dani sambil menggelitiki pinggang sepupunya yang tertawa kegelian.
“Stop, Dani!” teriak Karin, “Aku tidak mau cerita kalau kamu tidak berhenti!”
Dani menghentikan serangannya. “Okay!” katanya, “Sekarang ceritakan sampai tamat, semuanya … sedetil mungkin!”
Karin tertawa tergelak, “Tapi kamu janji tidak akan menyela sedikit pun!”
“Okay. Aku berjanji!” kata Dani.
Lalu Karin menceritakan semuanya dengan lancar. Tentu saja tidak dengan sangat terinci, tetapi cukup jelas dan gamblang buat Dani.
“Astaga!” seru Dani di akhir cerita, “Kamu gila, Yin! Bagaimana kalau kamu hamil!”
Karin tertawa ringan, tak kuatir sama sekali. “Dia mengeluarkannya di atas perutku. Bukan di dalam,” katanya tenang.
Dani melongo. Ia tidak berkata apa-apa, walau dalam hati tetap bersikeras bahwa Karin berisiko hamil.
“Jangan pura-pura bego, Dani!” sergah Karin, “Kamu sendiri pernah melakukannya, dan tidak hamil.”
“Ya,” sahut Dani menurunkan volume suaranya, “Tetapi aku ketakutan setengah mati!”
Karin tertawa lagi, “Okay … lain kali aku akan minta dia pakai kondom!”
“Yin!” sergah Dani dalam bisik. Ia takut terdengar Pamannya. “Kamu merencanakan yang kedua?”
“Mengapa tidak?” sahut Karin sambil tertawa terbahak-bahak.
Dani menggeleng-gelengkan kepalanya. Segila-gilanya dia, tak akan berani berhubungan dengan pria yang baru dikenal seminggu. Tetapi Karin memang gila. Dani cuma heran, kenapa sepupunya ini bisa segila itu. Apa, sih, kehebatan Iwan?
Setelah peristiwa sensasional di sungai itu, pertemuan menggebu antara dua tubuh yang terdahaga birahi itu terjadi lagi di tempat-tempat lain. Selalu terjadi di kala Iwan istirahat makan siang, dan selalu berlangsung di tempat-tempat terpencil di sekitar perkebunan. Ada banyak tempat seperti ini, tidak saja di dekat sungai, tetapi juga di ujung selatan perkebunan yang berbatasan dengan sebuah tebing terjal. Juga di hutan kenari yang tersisa di sisi timur, di sebuah rumah jaga yang telah lama ditinggal orang.
Karin menjalani pertautan-pertautan badani yang liar ini dengan antusiasme seseorang yang menemukan berlian tersembunyi di belantara. Iwan menggauli gadis seksi ibukota ini dengan semangat pemburu yang tak kenal menyerah. Berdua mereka mendaki dan mencapai puncak-puncak tertinggi birahi mereka disaksikan serangga hutan, burung liar, dan pohon-pohon yang seakan bersekutu melindungi keduanya dari pandangan dunia.
Adalah Kino yang memberi peringatan awal tentang sepak-terjang kedua jiwa muda ini, di satu sore ketika Iwan dengan wajah berbinar menceritakan petualangannya. Mereka duduk mengangkat kaki di sebuah warung kopi yang sepi. Pemilik warung bahkan meninggalkan mereka berdua karena hendak pulang sejenak mengambil beberapa kue tambahan untuk jualan malam hari.
“Kalian benar-benar nekad!” desis Kino sambil berkali-kali menggelengkan kepalanya, dan kadang-kadang menggaruk rambutnya yang kian terasa gatal. Ngocoks.com
“Aku menyukai spontanitasnya, Kino. Aku menyukai keliaran dan kebebasannya!” sergah Iwan tak peduli pada kekuatiran yang terpancar dari ucapan Kino.
“Tetapi kalian belum saling mengenal,” sela Kino geram, “Bagaimana kalau terjadi apa-apa … kalau dia hamil!”
Iwan tertawa, membuat Kino semakin jengkel. “Aku memakai kondom sekarang. Dia memberikan satu bungkus berisi selusin!” katanya riang. Seakan-akan segala yang disampaikan Kino bertolak-belakang dengan kenyataan. Kekuatiran Kino adalah keriangan Iwan.
“Kalian benar-benar gila!” sergah Kino kehilangan kata-kata. Ia tidak bisa lagi membantah ucapan Iwan, karena sahabatnya itu memang tidak peduli pada semua tanggapan Kino.
“Hei … relax man!” sergah Iwan. Wah, gerutu Kino dalam hati, kini dia pakai bahasa asing segala. Pasti meniru gaya si Karin juga!
“Dia bukan gadis pertama yang aku tiduri,” lanjut Iwan kalem sambil mengeluarkan sebungkus rokok filter. Bahkan rokoknya pun kini berganti! gerutu Kino dalam hati sambil menolak tawaran Iwan.
“Tapi harus kuakui, Karin termasuk istimewa dalam bercumbu,” kata Iwan sambil menyalakan sigaretnya.
Kino diam saja sambil bersungut-sungut. Tetapi ia juga tidak beranjak ketika Iwan menceritakan dengan penuh semangat pengalaman-pengalaman seksualnya. Tak ada yang disembunyikan pemuda itu, semuanya ia ceritakan, sehingga Kino seperti sedang mendengar sahabatnya itu membacakan cerita porno.
“Kalian melakukannya tanpa perasaan?” akhirnya Kino menyela di antara cerita-cerita rinci tentang percumbuan Iwan.
“Tentu saja kami memakai perasaan! Perasaan nikmat! Nikmat luarbiasa!” sahut Iwan sambil tertawa berderai.
“Maksudku tanpa rasa cinta, dungu!” sergah Kino kesal, tetapi justru membuat Iwan tambah terbahak.
“Cinta?” sahut Iwan di antara tawanya, “Aku baru kenal dia seminggu, mana mungkin jatuh cinta!”
“Itulah maksudku!” sergah Kino, “Kalian melakukan itu semua tanpa cinta, tanpa perasaan sayang!”
“Kami tidak memerlukannya!” sahut Iwan tak kalah sengit, tetapi dengan wajah riang tidak seperti Kino yang berwajah geram. “Kami tidak perlu sayang-sayangan. Kami menikmati sensasinya. Kenikmatannya, kawan! Itu yang kami kejar ….. ”
“Apa yang kalian kejar?” potong Kino setengah berteriak.
“Kenikmatan! Orgasme! Ejakulasi!” sahut Iwan cepat sambil mengambil sebatang rokok lagi dan langsung menyulutnya. Padahal rokok pertama masih ada seperempat batang.
“Kenikmatan seperti itu cuma sebentar, setelah itu apa?!” desak Kino tak mau menyerah.
“Setelah itu?” tanya Iwan sambil menghisap asap rokoknya dalam-dalam, lalu ia menjawab sendiri, “Setelah itu ulangi lagi! Ha … ha … ha … ha!”
“Gila!” desis Kino sambil meraih cangkir kopi di depannya. Sekali teguk, isinya pun tandas.
“Mau tambah kopi lagi?” Iwan langsung bertanya, seakan-akan pembicaraan mereka remeh belaka. Tak penting. Tak perlu dikuatirkan.
Kino menggeleng, “Kalian benar-benar gila. Aku tak menyangka kamu cuma mengejar kenikmatan seperti itu, tak mempedulikan risiko.”
“Ah … kamu selalu sok suci!” sergah Iwan sambil mengibaskan tangannya, “Katakan padaku, apakah kamu belum pernah meniduri seorang wanita. Hayo, katakan sejujurnya!”
Kino terdiam. Ucapan sahabatnya ini datang tak terduga.
“Selama kuliah di B, tidakkah pernah kamu meniduri seorang wanita?” kejar Iwan melihat sahabatnya terdiam. Sebetulnya, pemuda ini tak bermaksud berdebat dengan Kino, tetapi kini tampaknya perlu juga sesekali mendebat!
Kino menghela nafas. Ia merasa terpojok, tetapi juga sekaligus melihat peluang untuk membicarakan persoalannya dengan seseorang yang bersahabat.
“Berapa wanita, eh?” desak Iwan sambil tertawa dan sambil meninju lengan Kino.
“Cuma satu!” sahut Kino cepat. Iwan tertawa lagi lebih keras.
“Aku tidak percaya!” katanya di tengah derai tawa. Kino sampai kuatir kalau-kalau pembicaraan mereka terdengar orang lain.
“Aku bukan seperti kamu, Wan!” sahut Kino, “Aku tak bisa meniduri wanita kalau tidak sayang kepadanya.”
“Tetapi kamu menidurinya, bukan!?” kata Iwan dengan semangat berlipat ganda karena kini merasa tidak lagi menjadi obyek pembicaraan. Kini obyeknya ada dua. Kini kasusnya bisa diperbandingkan!
“Kami saling mencintai!” sergah Kino, mencoba membuat garis yang jelas antara perbuatannya dengan perbuatan Iwan.
“Aku tidak peduli,” sahut Iwan, “Yang penting kamu meniduri-nya. Kamu bercinta dengannya!”
“Tetapi aku tidak mengejar ejakulasi semata!” Kino membela diri mati-matian.
“Jangan katakan bahwa kamu tidak ejakulasi, kawan!” sahut Iwan cepat sambil tersenyum lebar.
“Ya, aku menikmatinya,” kata Kino, “Tetapi itu bukan satu-satunya yang aku cari!”
“Lalu apa bedanya dengan aku?” balas Iwan, “Aku juga menikmatinya. Kamu juga menikmatinya. Cuma kamu mencari yang lain selain kenikmatan. Yah …, itu cuma soal pilihan saja, bukan?”
“Aku mencintainya,” sergah Kino, “Mencintai bukan ‘cuma soal’ saja, Wan. Mencintai berarti lebih dari ‘cuma soal’. Jauh lebih dari itu!”
“Wah … wah,” seru Iwan sambil mengangkat kedua tangannya seakan-akan seorang penjahat menyerah kepada polisi, “Jangan terlalu rumit, Kino. Aku cuma tahu bahwa kita berdua sama-sama menikmati percumbuan dengan wanita!”
“Tidak, tidak rumit!” sergah Kino, walau sedetik kemudian ia sendiri ragu: betulkah cinta itu tidak rumit?
“Rumit buat aku,” sahut Iwan enteng, “Dengan Karin atau yang lainnya, aku menikmati saja percumbuan itu. Aku tidak usah pusing memikirkan tetek-bengek perasaan.”
“Kamu belum pernah jatuh cinta?” tanya Kino, kini jengkelnya berganti dengan perasaan ingin tahu. Betulkah orang bisa tidak jatuh cinta?
Iwan menggeleng, “Aku tidak tahu apa itu cinta, Kino. Yang kutahu dadanya sintal, pinggulnya padat …. goyangnya …. ”
“Ah, sudahlah!” potong Kino disambut tawa Iwan yang berderai, “Susah juga berdebat dengan kamu, Wan. Kita berdua hidup di dunia yang berbeda!”
Iwan menepuk-nepuk pundak sahabatnya, “Hei … relax man … tidak usah terlalu dipusingkan. Aku cuma mau berbagi cerita denganmu. Kebetulan, cerita itu tentang hubungan seks. Kenapa musti risau?”
Kino menghela nafas panjang dan menghempaskannya sekaligus. Iwan tertawa melihat tingkahnya. Dalam hati ia merasa kasihan melihat Kino penuh kerisauan. Ia juga heran, mengapa pemuda ini tidak berubah dari dulu, padahal sudah sekolah di kota besar. Dirinya tetap tinggal di kota kecil, dan tetap tenang-tenang saja tanpa kerisauan. Mungkinkah karena aku tidak sekolah maka aku tidak risau? tanya hati kecil Iwan.
******
Sementara itu, di tempat lain, dua orang gadis berbicara setengah berbisik sambil tertawa-tawa kecil.
“Berapa kali kamu orgasme, Yin?” bisik Dani dengan mata berbinar.
“Wah, tak pernah aku menghitungnya!” sahut Karin sambil tertawa.
“Hati-hati, kamu bisa ketagihan, dan akhirnya tak ingin pulang ke ibukota!” sergah Dani sambil mencubit gemas pinggang sepupunya.
Karin mencibirkan bibirnya, “Ketagihan?” tanyanya enteng, “Dia bukan lelaki satu-satunya buat aku. Walaupun memang dia agak lain ….. ” ucapannya mengambang.
“Lain bagaimana, Yin?” desak Dani tidak sabar, bergeser mendekatkan duduknya ke Karin seakan ingin memastikan agar tak satu pun kata yang terlewatkan.
Karin tertawa melihat kepenasaran Dani, “Dia betul-betul liar …. you know what I mean?” katanya sambil mencuil hidung sepupunya.
Dani menggeleng, menopang dagu di tangannya, bertekad untuk mendengarkan kata-demi-kata dari Karin. …. Liar, ya liar. Betul-betul liar itu seperti apa? tanyanya dalam hati.
“Tanpa basa-basi …. tanpa sopan-santun!” jelas Karin sambil mengibaskan anak rambut yang menutupi dahinya, “Dia menyukai tubuhku, dia ingin bercumbu, dan dia melakukannya dengan bersemangat, tanpa ragu-ragu!”
Dani tersenyum samar. Sepengetahuan gadis ini, ada beberapa pemuda di ibukota yang bisa digolongkan “betul-betul liar” seperti kategori si Karin. Tetapi pada umumnya mereka menghiasi keliaran itu dengan gincu sopan-santun. Setidaknya, setahu Dani, cowok ibukota siap berdandan habis-habisan sebelum mengajak bercumbu. Ada semacam kesantunan, atau mungkin juga ketertiban.
“Aku suka lelaki seperti itu!” kata Karin lagi, “Aku suka kebebasannya dalam melakukan apa yang dia suka … tanpa berpikir panjang …. nekad …. berani mati!”
Dani membayangkan Andi, bekas pacarnya setahun silam. Dia juga nekad dan berpikiran pendek …. sayangnya juga bernafsu pendek, bisik hatinya sambil tersenyum.
“Kadang-kadang aku ingin diperlakukan seperti itu, Dani,” ucap Karin sambil memeluk lututnya, “Aku bosan pada kepura-puraan cowok-cowok di sekelilingku …. pura-pura tidak berminat pada seks, padahal kalau kita tidak melihat, mata mereka jelalatan.”
Dani tertawa kecil. Memang Karin benar …. 100 persen benar …. tetapi apakah dia juga menganggap Mardi (pacar “resmi” Karin di ibukota) seperti cowok lainnya? Apakah Karin cuma bersedia menjadi pacar Mardi karena Mercedes sport warna merahnya? Mengapa gadis ini bersedia ditiduri mandor perkebunan, padahal pacarnya itu punya segala yang tidak dimiliki Iwan?
“Aku tak peduli dia cuma mandor!” sergah Karin seperti bisa membaca pikiran Dani, “Lagipula, aku memang tak berminat pada pekerjaannya …. aku berminat pada energinya yang menggebu.” Ngocoks.com
Dani tertawa lagi. Pilihan-pilihan kata Karin terkadang menakjubkan. Dia membandingkan ‘pekerjaan’ dengan ‘energi’, dan mengatakan lebih suka pada yang kedua. Dalam percumbuan persebedanan, profesi seseorang tampaknya kehilangan makna. Apalagi Karin memang mengejar kenikmatan yang selama ini tak pernah bisa dimonopoli oleh profesi manapun. Boleh saja para penerbang punya motto pilots do it better, tetapi siapa yang bisa menjamin seorang pilot lebih jago dalam bercumbu katimbang seorang kondektur bis kota? Siapa yang bisa menjamin seorang tukang sayur kalah kemampuan bersebedannya dibanding seorang manajer bank?
“Iwan memang don yuan asli, khas pria liar di tempat yang juga liar!” kata Karin menyimpulkan deskripsinya tentang pria kekar yang telah memberikannya selusin lebih orgasme itu.
“Kamu sedang tergila-gila, Yin!” sergah Dani, akhirnya bersuara juga setelah sejak tadi jadi pendengar yang baik.
“Memang,” jawab Karin enteng sambil turun dari sofa untuk meraih gelas minumannya, “Aku masih mau lagi bercumbu dengannya …. sekali lagi!”
“Satu kali?” tanya Dani memastikan.
“Ya! Satu kali!” tegas Karin sambil meneguk minumannya, “Setelah itu …. goodbye!”
Dani mengernyitkan dahi. Entah kenapa, sekali ini dia meragukan ketegasan sepupunya. Entah kenapa, sekali ini dia menduga akan ada kelanjutan yang tak terencana dari semua petualangan gila-gilaan ini. Sesuatu yang mungkin agak mengejutkan ….. Tetapi apa?
Pada suatu pagi di Kantor Administrasi Perkebunan …
Ferry duduk terhenyak di kursi empuk kantornya; senyum tipis mengembang tersembunyi di wajahnya. Pak Rustandi berdiri tegak dan sopan di depannya. Tenggorokan lelaki tua yang telah bekerja sejak awal pembukaan perkebunan ini terasa kering setelah berbicara 10 menit. Mungkin kalau yang disampaikannya tidak terlalu penting, tenggorokannya tidak akan terasa terlalu kering. Tetapi apa yang dilaporkannya kepada Ferry, manajer muda perkebunan ini, memang penting.
Tak hanya itu, tidak hanya penting, tetapi juga kontroversial. Sangat kontroversial.
“Apakah Pak Rustandi pernah memergoki mereka?” tanya Ferry sambil mencakupkan tangan di depan mulutnya, berpikir cepat tentang kemungkinan-kemungkinan. Juga tentang kesempatan-kesempatan. Bahkan juga tentang ambisi-ambisi pribadi!
“Tidak secara langsung, Tuan Ferry,” jawab Pak Rustandi setelah berdehem, “Tetapi saya melihat mereka berjalan bersama dari arah sungai.”
“Banyak orang jalan bersama dari arah sungai,” kata Ferry, menguji seberapa jauh kebenaran cerita kontroversial kepala penjaga di depannya ini.
“Mereka … mereka …. bergandengan …. eeee …. bergandengan tangan …,” kata Pak Rustandi terbata-bata.
“Banyak orang bergandengan tangan dan berjalan dari arah sungai …,” sela Ferry.
“Tapi, Tuan …. saya …. saya rasa ada sesuatu di antara mereka,” kata Pak Rustandi bersikeras.
“Kenapa bapak memiliki perasaan seperti itu? Apakah ada tanda-tanda tertentu?” desak Ferry.
“Saya tidak …. saya belum … punya bukti kuat…. Tetapi perasaan saya mengatakan bahwa ada sesuatu di antara mereka. Lagipula, saya sering melihat cara mereka berpandangan, dan saya menemukan sesuatu di pinggir sungai,” kata Pak Rustandi sambil menyeka peluh di mukanya.
Ferry mengernyitkan dahi. “Menemukan apa?”
Pak Rustandi mengambil sesuatu dari kantongnya dan menyerahkan kepada Ferry.
Ferry memeriksa apa yang kini ada di telapak tangannya: sebuah kotak kosong dari karton, berwarna-warni mewah, dan bergambar sepasang manusia bercinta. Sebuah tulisan kecil menyatakan apa yang terbungkus oleh karton itu. Ferry membaca pelan …. lubricated condoms.
Ferry menghela nafas, “Ini mungkin saja ditinggalkan oleh orang lain, bukan mereka.”
“Seumur hidup di kota ini, saya belum pernah menemukan yang seperti itu, Tuan Ferry,” kata Pak Rustandi sambil menyeka lagi mukanya.
Ferry bergumam sambil membolak-balik benda di tangannya. Pikirannya dengan cepat menyimpulkan, jika memang “ada apa-apa” di antara kedua orang itu, maka Ferry punya sebuah rencana yang akan membawanya setingkat lebih tinggi daripada sekedar manajer perkebunan. Ia telah lama mengimpikan kedudukan di kantor pusat, di metropolitan!
“Pak Rustandi mau menolong saya?” ucap Ferry sambil menatap tajam.
“Ya, Tuan, saya mau membantu,” jawab Pak Rustandi cepat. Terbayang di kepala lelaki tua ini, imbalan besar atas jasanya.
“Jangan katakan kepada siapa-siapa tentang yang kita bicarakan sekarang,” ucap Ferry pelan dan tegas, “Awasi mereka diam-diam, dan beritahu saya jika ada tanda-tanda mereka akan berjumpa kembali.”
“Mereka biasanya berjumpa pada jam makan siang, Tuan,” kata Pak Rustandi bersemangat. Pegawai ini juga membayangkan kenaikan pangkat!
“Setiap hari?” tanya Ferry.
“Ya.”
“Mungkin besok juga?”
“Mungkin sekali, Tuan.”
“Pak Rustandi awasi yang pria, saya akan mengawasi yang wanita.”
“Baik, Tuan.”
“Bagus! Nah, sekarang bapak boleh keluar.”
“Terimakasih, Tuan. Permisi …,” pak Rustandi membungkuk dalam-dalam dan membalikkan diri meninggalkan kantor.
Bersambung…




