Bagaimana Menghadapi Seorang Indi
Hari demi hari berlalu dengan cepat bagai sepotong kayu kering yang melaju di atas sungai deras. Bagai burung elang yang melesat menembus langit biru …
Hidup Kino menjadi rutin dan terpola: bangun pagi, olahraga sedikit, membantu ibu semang di halaman, mandi, berangkat ke kursus atau ke kampus untuk belajar, pulang sore, membantu ibu semang mengerjakan ini atau itu …. Begitu selalu.
Nyaris Kino terlanda bosan, kalau saja ia tidak bertemu beragam corak perilaku orang di tempat kursus di mana ia mengajar. Tingkah laku anak-anak SMA yang bersemangat mengasah keampuhan matematik mereka dalam rangka menembus ujian masuk perguruan tinggi … ah, mengingatkannya pada masa-masa lalu …. anak-anak yang penuh semangat, walau tak punya bayangan sepicing pun tentang seperti apa nantinya kehidupan di perguruan tinggi!
Sudah lebih dari 6 minggu berlalu sejak rangkaian kejadian yang ia alami bersama kelompok Obenk, dan sudah selama itu pula Kino tidak bersua-jumpa dengan satu pun sahabatnya. Ia cuma pernah melambai ke Tigor yang sedang membocengi Lia keluar dari kampus. Ia bahkan tidak sempat mengucap salam ketika Ridwan dan rombongannya lewat di depan perpustakaan. Ia pernah berjumpa Rima, tetapi gadis itu cuma tersenyum dan melangkah cepat entah ke mana.
Semua orang tampak sibuk, atau berusaha terlihat sibuk. Seluruh kampus tampak sibuk, walau Kino yakin tak semua kesibukan itu apa-adanya. Banyak di antara kesibukan itu yang menyembunyikan kebosanan, atau kerutinan yang menjebak mengikat. Percuma Kino berusaha menjenguk kampus untuk menjumpai teman-temannya. Mereka semua seperti kabut tipis di pagi hari: bisa dilihat dengan jelas, tetapi tak bisa dipegang tangan.
Indi … Ya, cuma gadis itu yang tersisa dari masa lampaunya. Itu pun karena tempat tinggal mereka berdekatan; cuma berbatas tembok. Tetapi kalau pun mereka bersua-jumpa dan bertemu-muka, yang muncul adalah rasa kikuk dan rikuh. Setidaknya, itulah yang terjadi pada awal-awal perjumpaan.
“Hai, apa kabar ..,” ucap Kino dan Indi berbarengan pada suatu siang terik di suatu Sabtu yang menjemukan.”Baik-baik ..,” ucap Indi terburu-buru.”Biasa saja ..,” kata Kino berberengan.
Ucapan-ucapan mereka saling bersusulan berbenturan, sekaligus tak bermakna banyak selain sapa basa-basi. Indi tampak risau, dan Kino tampak rikuh. Kalau Indi berusaha memperpanjang perjumpaan, maka yang terjadi adalah kesimpang-siuran perasaan. Kino tak tahu harus bersikap bagaimana, sehingga menambah galau suasana di setiap perjumpaan.Pada perjumpaan ke tiga, di suatu sore yang juga kering dan menjemukan, Indi mencoba ramah.
“Kursus-nya lancar-lancar saja?” tanya gadis itu sambil mencoba menahan ayunan tas sekolahnya, yang sebetulnya adalah cermin dari kerisauan. Ia selalu menggoyang-goyangkan tasnya, atau apa saja yang ada di tangannya, kalau sedang nervous.”Ya … lancar-lancar saja,” sahut Kino,”Sekolah mu bagaimana?””Lancar-lancar juga … Biasa saja,” jawab Indi. Lalu diam. Kino berupaya melanjutkan pembicaraan,”Sudah dekat ujian akhir … Sudah siap?” Indi menunduk,”Ya … begitulah … ”
Kino memang merencanakan yang satu ini: ia ingin bertanya, apakah Indi perlu bantuan dalam matematika. Tetapi, entah kenapa, sulit sekali menyusun kalimat yang bisa dengan jelas mengungkapkan rencana itu.
“Bagus,” kata Kino, tanpa sepenuhnya tahu apa yang ia maksud dengan sepotong kata kering itu. Apanya yang “bagus”?”Yaa … begitulah,” jawab Indi tetap menunduk, tetap menggoyang-goyangkan tasnya.Angin kering berhembus, membuat keduanya gerah. Kino berusaha mengusir panas dengan mengibas-ngibaskan kerah bajunya. Indi berkali-kali membetulkan rambutnya yang, walaupun pendek, terasa masih terlalu panjang untuk suasana kering dan gerah seperti ini.
“Gimana naik gunungnya?” tanya Indi memecah kesunyian. Kino sejenak terperangah, tetapi lalu menyahut cepat,”Biasa-biasa saja … Tidak ada yang istimewa.””Gunungnya masih sama?” tanya Indi, tak tahu harus bertanya apa.”Masih,” jawab Kino, tak tahu harus menjawab apa. Tak kan lari gunung di kejar …. Bukankah, begitu?Indi tertawa kecil, menyadari kekonyolan pertanyaannya. Kino tertawa juga, menyadari bahwa Indi menyadari kekonyolannya sendiri dan mungkin juga kekonyolan dunia ini seluruhnya.
Seonggok daun kering bergemerisik terbawa angin, melewati ruang di antara Kino dan Indi yang berdiri berhadapan di bawah pohon yang tak bisa menyediakan rindang. Debu ikut terbang, lengket di mana-mana. Juga di seragam putih Indi dan di muka Kino yang berkeringat. Sangat tidak nyaman, berdiri diam dalam kering – kerontang seperti ini.
“Kamu masih marah?” akhirnya Kino berhasil mengeluarkan pertanyaan penting ini. Indi mengangkat muka. Kedua matanya yang bening sejenak menyiratkan sinar, tetapi lalu segera meredup menghilang kembali.”Masih marah?” desak Kino karena Indi tak menjawab. Ngocoks.com
“Masih,” jawab Indi pendek, kedua matanya masih menatap langsung ke Kino.”Maaf,” kata Kino pendek, menantang pandangan gadis di depannya, mencoba menyampaikan pesan bahwa ucapannya itu adalah ungkapan langsung dari lubuk hatinya. Ia memang merasa perlu minta maaf, walaupun tak sepenuhnya pasti apa yang perlu dimaafkan itu.
“Kanapa minta maaf?” kata Indi, jernih bening seperti mata pedang yang barusan terasah. Kino mengernyitkan dahinya.”Kamu marah kepadaku, kan?” Indi menggeleng pelan,”Tidak lagi.”
“Lalu, kenapa masih marah?” tanya Kino semakin heran.”Kenapa Kak Kino peduli, aku marah atau tidak?” Indi balik bertanya.”Karena aku pikir kamu marah kepadaku,” sahut Kino cepat. Apa-apaan ini? sergah hatinya. Indi mendengus pelan, nyaris tak jelas,”Egois!” sergahnya. Kino terpana.”Lho … siapa yang egois?” sergahnya membalas.”Kak Kino,” sahut Indi ketus, “Cuma peduli pada apa yang terjadi pada diri Kak Kino!”
”Aku tidak mengerti …,” kata Kino terputus.
“Kak Kino cuma peduli, karena menyangka aku marah kepada Kak Kino!” potong Indi cepat.
“Tapi …,” ucapan Kino terputus lagi.
“Kak Kino tidak peduli kalau aku marah kepada yang lain … kepada orang lain … kepada semua orang!” kata Indi, menerobos kuat di antara relung-relung kerikuhan.”Lho … apa maksudmu?” ucap Kino sungguh tak mengerti.”Ah … ngga usah peduli, lah! Buat apa Kak Kino peduli kalau memang tidak mengerti!” sergah Indi. Kino menghela nafas panjang dan menghempaskannya kuat-kuat. Gadis di depannya ini selalu menawarkan teka-teki yang merisaukan.
“Bahkan Kak Kino tidak perlu peduli pada perasaan apa pun yang Indi rasakan!” lanjut Indi seperti seseorang yang tiba-tiba menemukan cara terbaik untuk mengungkapkan pendapat dengan baik dan benar.”Aku tak mengerti, Indi!” sergah Kino.
“Tidak pernah mengerti!” sela Indi cepat dan lebih keras dari sebelumnya,
“Kak Kino tidak pernah mengerti perasaan Indi. Tidak mau mengerti. Tidak mau tahu. Tidak peduli!” Kino terpana. Sialan! sergahnya dalam hati. Kenapa gadis ini jadi blingsatan di depanku, padahal sebelumnya ia seperti kucing terguyur seember air dingin?
“Kenapa, sih, Kak Kino tidak sekali-kali berusaha mengerti?” tuntut Indi seperti seorang demonstran menuntut seorang politisi yang sudah terpojok-terdesak. Seperti seorang jaksa menuntut seorang terdakwa yang menghadapi risiko hukuman mati.
“Aku sudah berusaha, tapi ….,” ucapan Kino terhenti sendiri. Indi menunggu sejenak, lalu karena tak ada kelanjutannya gadis itu menyambung,
“Tapi Kak Kino tidak betul-betul berusaha. Kak Kino membiarkan Indi menjelaskan sendiri kepada Kak Kino, apa yang Indi rasakan. Kak Kino tidak pernah sungguh-sungguh ingin mengetahui perasaan Indi!”Kino terdiam. Angin ikut diam. Pohon-pohon ikut diam. Nafas Indi terdengar agak memburu. Gadis itu seperti mengeluarkan energi berlipat ganda untuk mengungkapkan semua yang barusan ia ungkapkan. Sesungguhnyalah Indi merasakan jantungnya berdebur sangat kuat dan emosinya seperti air sungai yang banjir bandang hendak meluap menerjang ke tepian.
“Aku mau pulang,” bisik Indi tiba-tiba. Tanpa menunggu reaksi Kino, gadis itu membalik dan melangkah ke rumahnya yang memang cuma terletak beberapa meter saja dari tempat mereka berdiri.”Aku ikut!” tahu-tahu Kino sudah berkata begitu sambil menyusul Indi.”Aku capek … mau tidur!” sergah Indi ketus sambil terus melangkah.”Indi …,” bujuk Kino,”Aku masih ingin bicara dengan kamu.”
”Capek … bicara dengan Kak Kino, aku selalu capek!” sahut gadis yang memang bisa sekeras cadas dan setajam belati itu.”Kak Kino janji, kali ini akan berusaha mengerti,” bujuk Kino, berusaha mengiringi langkah Indi. Indi menghentikan langkahnya, membalik menghadap Kino yang berada dekat sekali di belakangnya.”Jangan berjanji yang tidak bisa Kak Kino penuhi!” katanya pendek, lalu melangkah pergi.
Kino terdiam. Dengan lesu ia membiarkan Indi pergi, memandangnya menghilang di balik gerbang halaman rumah.Setelah sekitar dua menit terdiam, pemuda itu berbalik menuju tempat kost-nya yang memang juga cuma beberapa langkah dari situ. Namun, walaupun secara fisik jarak itu dekat, terasa seperti berkilo-kilo meter dalam pikiran Kino. Letih sekali ia menjalaninya. Dengan kepenatan yang entah datang dari mana, Kino menghempaskan tubuhnya di dipan di kamar kost-nya dan mengeluh dalam-dalam kepada kesunyian di sekelilingnya.
******
Indi tak pernah berhenti membuat Kino terperangah-terpana.Pada suatu Minggu siang, ibu semang meminta Kino naik ke atas pohon mangga untuk membersihkan benalu yang telah meranggas. Pemuda itu menyanggupi, karena ia memang tidak punya rencana apa-apa, dan karena memanjat pohon adalah kegemarannya sejak kecil. Apalagi memanjat pohon mangga!
“Kalau tidak dibersihkan, Ibu kuatir pohon itu mati sebelum berbuah, nak Kino,” kata ibu semang memberi penjelasan yang tak perlu.Anak desa seperti Kino tentu saja tahu seluk-beluk benalu dan pohon mangga. Tetapi penjelasan ibu semang itu tak urung membuatnya jengah. Kalau memang sudah tahu, kenapa dia tidak berinisiatif membersihkannya sebelum diminta?
Berbekal arit yang dengan santai ia sangkutkan ke belakang celana, Kino naik dengan cepat ke atas pohon. Secara cekatan ia memilih dahan yang cukup kokoh untuk dipijak, lalu mulai menebas benalu yang membelit di sana-sini. Ia juga harus hati-hati dengan semut-semut merah yang mampu menebar rasa panas kalau menggigit. Tetapi Kino tak asing dengan semua ini, maka ibu semang yang tadinya menunggu kuatir di bawah akhirnya pergi untuk urusan lain.
Posisi pohon mangga itu sedemikian rupa sehingga Kino bisa melihat ke seberang tembok, ke lokasi rumah Indi.Baru sepuluh menit di atas pohon, Kino mendengar suara gadis itu berseru,”Ngapain di sana?” Kino menghentikan tebasan aritnya, menengok ke bawah dan menemukan si centil berdiri bertolak-pinggang, bercelana pendek dan berkaos kedodoran. Sebuah handuk melingkar di lehernya.”Kak Kino seperti abang-abang tukang kebun!” seru Indi sambil tertawa kecil. Kino ikut tertawa. Hmmm … tiga hari yang lalu si centil itu marah-marah! sergahnya dalam hati.
“Habis itu, bersihkan juga pohon jambu di rumahku, yaaa!?” seru si centil sambil tetap bertolak pinggang.”Ongkosnya mahal!” sahut Kino sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan. Indi mencibir,”Mana ada tukang kebun yang nawar!””Yang ini tukang kebun profesional!” sahut Kino, lalu mulai menebas lagi. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya, dan tidak ingin menimpali si centil di bawah sana. Indi tertawa lalu sambil berjalan ia berkata,
“Aku mau mandi dulu, ah!”
Kino tersenyum dan melanjutkan kegiatannya. Untunglah dia harus mandi, sergahnya dalam hati. Kalau tidak pekerjaanku tak kan selesai karena harus melayani celotehnya. Namun Kino salah besar. Justru peristiwa mandi itulah yang nyaris menghentikan pekerjaannya sama sekali. Ketika baru sekitar lima tebasan, Kino mendengar suara Indi lagi,
“Dari sini keliatan juga, Kak Kino!” Kino menengok ke arah suara, dan sejenak ia melongo. Indi berada di kamar mandi yang jendelanya menghadap ke pohon mangga tempat kini pemuda itu berada. Gadis itu membuka jendela lebar-lebar, sehingga Kino bisa melihat seluruh isi kamar mandi dan penghuninya, yakni si centil itu!
“Aku mau nonton Kak Kino sambil mandi!” seru Indi sambil meletakkan handuk yang tadinya melingkar di leher ke gantungan baju. Kino terkesiap.”Hei! Jangan nakal begitu, Indi!” serunya cepat-cepat karena sudah menduga apa yang akan gadis itu lakukan.
Tetapi Indi tak peduli. Gadis itu dengan santai membuka kaosnya. Ia tidak memakai apa-apa di balik kaos itu, dan Kino melihat apa yang pernah dilihatnya pada diri gadis ranum yang sedang beranjak dewasa itu. Walaupun ia pernah melihatnya, tetapi apa yang dilihatnya kali ini tetap saja membuat pemuda itu tersentak. Dua bukit kenyal itu, ranum dan mulus dan menantang …. Siapa pun pasti terkejut kalau melihatnya, dan kalau orang itu sakit jantung mungkin ia segera jatuh terkapar dan mati detik itu juga! Apalagi kalau orang itu ada di atas pohon!
“Indi!” jerit Kino tertahan. Hampir saja arit di tangannya jatuh ke tanah.Indi kini sudah membuka celananya, dan sekali lagi ia tak memakai apa-apa di balik celana pendeknya. Semuanya kini terpampang jelas dan merupakan pemandangan unik dari atas pohon mangga! Seekor semut merayapi kaki Kino dan pemuda itu bahkan tak merasakan gigitannya!
Indi lalu mulai mengguyur, dan seperti tidak ada apa-apa sekali-sekali menengok ke atas, tersenyum melihat Kino salah tingkah. Ia bahkan berseru,”Ayo terusin kerjanya Kak Kino! Jangan liat ke sini!” Kino menggerutu dengan keras. Mengumpat dengan kuat sambil memijat semut sial yang tadi menggigit kakinya. Ia memalingkan muka untuk mulai bekerja lagi. Tetapi tentu saja ia juga sekali-sekali menengok ke bawah!
Indi menyabuni tubuhnya dengan seksama, melakukannya pelan-pelan seperti sengaja memberi sebanyak mungkin kesempatan untuk Kino. Kino menggerutu dan mengumpat lagi. Tebasannya jadi tambah kuat, tetapi juga sering salah sasaran. Ia bahkan hampir saja menebas dahan tempatnya berdiri!”Siksaan” yang dilakukan oleh Indi berlangsung cukup lama, dan sangat beruntunglah Kino karena pemuda itu tidak tergelincir dan jatuh dari ketinggian sekitar 3 meter.
Sepanjang mandi, sesekali gadis itu memberi komentar, membuat Kino salah tingkah karena ia harus menahan niatnya untuk menengok ke arah si centil yang sedang berbalut busa sabun itu. Sambil menahan geram, pemuda itu memutuskan untuk tidak melayani godaan Indi, dan melanjutkan kegiatannya menebas benalu.
Terdengar suara air diguyurkan ke badan, berkali-kali dan seakan-akan bertalu-talu di gendang telinga Kino. Muka pemuda itu sudah merah, baik oleh letih akibat menebas dengan kekuatan penuh, maupun oleh jengah dan geram akibat perbuatan Indi. Tetapi, apa yang bisa ia lakukan di saat seperti ini? Ia tidak bisa menyalahkan Indi, karena gadis itu memang tidak pernah memintanya menengok. Kenakalan-kebandelan yang seperti ini tak pernah bisa ditimpali dengan kemarahan. Bahkan mungkin tak ada reaksi normal apa pun yang bisa diberikan terhadap tingkah seperti itu!
Untunglah akhirnya gadis itu selesai mandi. Terdengar ia menggumamkan lagu sambil melap tubuhnya yang mulus dengan handuk. Semuanya ia lakukan dengan santai dan perlahan. Kino bersikeras untuk tidak menengok, dan itu adalah upaya yang paling sulit-pelik yang pernah ia jumpai seumur hidupnya!”Yang bersih yaaaa …!” akhirnya pula Indi berteriak begitu, lalu Kino mendengarnya keluar dari kamar mandi. Lalu sepi. Nafas pemuda itu kini jelas terdengar. Tersengal dan memburu.
Sepuluh menit kemudian, pemuda itu turun. Keringat memenuhi tubuhnya. Beberapa bercak merah terlihat di betisnya, bekas gigitan semut yang tak sempat ia usir. Goresan-goresan getah memenuhi lengannya. Potongan-potongan daun hinggap di rambutnya. Ia seperti seorang gerilyawan yang barusan turun dari tempat persembunyian. Atau lebih tepatnya, ia bagai seorang gerilyawan yang kecewa karena tak berhasil menembak musuhnya dari atas pohon.
******
Sehabis peristiwa “pohon mangga” itu, Kino dan Indi tak pernah bersua lagi selama seminggu.
Sepucuk surat dari kampung halaman muncul di kamar kost pemuda itu, ibu semang yang membawanya.
Dalam keremangan senja, sambil duduk di dipan, Kino membaca kabar dari kampung. Surat itu dibuka dengan kabar tentang ayah yang sempat ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Ah, ayah kini sudah tua … desah Kino … ada saja penyakit yang menjenguknya. Untung ibu adalah seorang yang terdidik dalam perawatan kesehatan. Kata ibu di surat itu, ayah terlalu banyak gula dan harus mengurangi konsumsi makanan atau minuman yang manis-manis. Susi, adiknya, kini punya tugas baru, yaitu mengawasi ayah agar tidak “lupa” mengurangi gula untuk kopinya.
Ibu juga menulis di surat, mengingatkan Kino agar datang ke pesta perkawinan Alma dan Devan yang akan berlangsung sebentar lagi. Oh, yaa … bisik Kino sendirian, aku musti segera membeli kado perkawinan untuknya. Apa yang musti aku beli? Mungkin sebuah souvenir buatan lokal …. atau sebuah pigura dari kayu …. atau satu set piring-cangkir … Ah, yang terakhir ini norak!
Tercenung, Kino kini juga sadar bahwa ia belum pernah pergi ke ibukota. Ayah dan ibu memang pernah menuliskan alamat seorang famili di sana, tetapi bagaimana harus mencari alamat itu? Kino pernah mendengar dari Tigor, bahwa mencari alamat di ibukota tidaklah semudah mencari alamat di B. Katanya, ia harus tahu persis wilayah mana tempat alamat itu berada, lengkap dengan RT dan RW.
Tanpa menyelesaikan membaca surat, Kino bangkit menuju meja belajarnya. Setelah mengobrak-abrik laci demi laci, pemuda itu mengeluarkan sebuah brosur yang sudah agak lusuh termakan usia.Hmmm …, Kino tersenyum sambil membuka-buka brosur itu. Mungkin lebih mudah mencari alamat yang ditinggalkan Mba Rien sebelum ia meninggalkan kota kelahirannya dulu! Tercantum di brosur itu, nama dan alamat sebuah sanggar tari, lengkap dengan peta sederhana yang menunjukkan lokasi secara jelas.
Kino kembali ke tempat tidurnya, melanjutkan membaca surat. Dalam hati ia memutuskan untuk mulai besok mencari tahu cara terbaik pergi ke ibukota, menghitung-hitung ongkos keretaapi atau bis antarkota. Ia juga harus mulai menghitung berapa uang yang bisa ia belanjakan untuk kado.
Bagaimana Menghadapi Diri Sendiri?
Kalau Kino bertanya-tanya tentang bagaimana seharusnya ia bersikap jika menghadapi Indi, maka gadis itu pun punya pertanyaan yang sama. Tentu saja, kini ia berhadapan dengan dirinya sendiri. Itu bukanlah sesuatu yang mudah, bagi seseorang yang sedang menanjak dewasa dan punya kecenderungan untuk menentang segala yang bisa dia tentang.
Ketika pikiran nakal mendorongnya untuk menggoda Kino yang sedang ada di atas pohon, sesungguhnya Indi sedang dalam kegelisahan yang memuncak. Persoalannya cuma satu: ia tidak bisa menghindar dari pemuda itu, sekali pun secara fisik ia betah berpisah sepanjang-panjang waktu. Ia tak terlalu gundah mempersoalkan di mana Kino berada, tetapi selalu gelisah mengenai bagaimana Kino bisa ada di mana-mana sementara bayangannya terus menempel di benak!
Indi sudah mencoba berpacaran dengan beberapa cowok yang sudah jelas bertekuk-lutut di hadapannya. Tetapi, justru itu lah persoalannya: para pecundang itu tidak menarik buatnya. Cepat sekali Indi bosan pada permainan-permainan satu arah yang ditawarkan oleh para pecundang itu. Tidak ada yang baru dalam diri Hara, Eming, atau Randi ….semuanya adalah para pemuja dan pemanja yang sangat penurut. Indi mungkin bisa menyuruh mereka berenang di kubangan kerbau sebelum mengijinkan mereka mencium atau memeluknya.
Terkadang Indi berpikir, betapa gobloknya cowok-cowok itu, mau melakukan apa saja demi sebuah ciuman atau pelukan. Sering pula Indi bergidik sendiri membayangkan betapa ia punya kekuasaan begitu besar atas para pemujanya. Bagaimana kalau aku berubah menjadi maniak dan menyuruh mereka menembak seseorang sebelum bisa mendapat ciumanku? Pikirnya pada suatu hari.
Dengan Kino,segalanya berubah total. Indi benci sekali pada kenyataan ini. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mengajarkan kemandirian dan ketegaran. Ayahnya seorang yang pernah hidup sangat miskin tetapi lalu berhasil bangkit dan kini bahkan menjadi salah seorang tokoh di bidangnya. Ibunya seorang pekerja keras yang menolak bergantung kepada keluarga besar, dan memilih membanting tulang untuk mendukung suami tercinta. Kedua orang tuanya mengajarkan kepada Indi secara tidak langsung, bahwa menjadi diri sendiri jauh lebih penting daripada menjadi kaya raya.
Kini kehadiran Kino membantah semua aksioma itu. Dengan gundah Indi menemukan kenyataan, bahwa jika berhadapan dengan Kino, ia kehilangan dirinya sendiri!
Ketika ia melihat Kino ada di atas pohon mangga, menebas benalu dengan cekatan, tiba-tiba saja pikiran nakal itu muncul. Tiba-tiba saja ia ingin menyampaikan kepada pemuda keras kepala itu, betapa ia bisa sangat ekstrim dalam merayu dan menggoda. Itu lah sebabnya ia menelanjangi dirinya di depan pemuda itu.
Ada perasaan aneh ketika Indi melakukan semua kenakalan itu …. perasaan yang sekaligus menakjubkan dan mengerikan!Aku suka bertelanjang di depannya! seru Indi takjub dalam hati, ketika dengan tenang ia menyabuni tubuhnya dan tahu bahwa sepasang mata Kino terpaku padanya. Ngocoks.com
Ia menyaputkan busa-busa mewah sabun mandinya dengan lambat dan penuh perasaan, membayangkan betapa pemuda yang di atas pohon itu sedang menikmati pemandangan gratis yang disajikannya. Ia bahkan menggelinjang kecil sendirian, ketika salah satu jarinya secara nyaris tak sengaja menyentuh putingnya yang segera melenting memberikan reaksi alamiah. Sepanjang gerakan menyabun itu, Indi menikmati getar-getar indah yang selalu ia rasakan ketika dulu Kino pernah menjamahnya!
Kalau saja Indi lebih gila dari dirinya saat itu, ia mau melakukan sesuatu yang lebih. Ketika menyabuni wilayah-wilayah di bawah pusarnya, Indi tergoda untuk menelusuri lepit-lekuk di bawah sana yang sedang bergejolak ramai. Tetapi, segila apa pun, Indi masih punya rasa malu dan barangkali juga sedikit sisa dari harga dirinya. Ia menolak sekuat tenaga, dorongan untuk mengelus-elus selangkangannya sendiri. Ia menyanyi-nyanyi untuk menghilangkan pikiran gila itu!
Kino tentu tidak tahu, bahwa perilaku Indi di kamar mandi waktu itu sebetulnya tidak berlaku satu arah. Sebetulnya, “siksaan” yang gadis itu lakukan terhadap Kino, berlaku juga padanya. Sepanjang mandi yang kontroversial itu, getar jantung Indi sama cepatnya dengan degup jantung Kino. Tentu saja, Kino menghadapi risiko lebih besar, yakni jatuh dari pohon. Tetapi sebenarnya Indi juga menghadapi risiko besar, misalnya kepergok oleh ayah atau ibunya, atau adik dan kakaknya.
Indi bernyanyi-nyanyi sepanjang mandi untuk mengusir kegalauan, sekaligus mempertahankan perbuatan yang membuat dirinya ikut terangsang itu!Setelah selesai mandi, Indi menenangkan diri, menghanduki tubuhnya yang telanjang sambil mengatur nafasnya yang memburu. Ia sebenarnya keluar dari kamar mandi dengan langkah goyah, merasakan dirinya seperti astronot yang melangkah di bulan, melayang-layang.
Indi sengaja berteriak menggoda untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan kamar mandi, semata-mata untuk menyatakan semacam kemenangan atas segala peristiwa itu. Tetapi Indi tak pernah yakin, apakah betul ia “menang” dalam permainan gila ini, ataukah itu semata-mata menghibur diri sendiri. Indi lebih yakin bahwa dalam permainan kali ini, dirinya maupun Kino ada di pihak yang kalah.
Setelah mandi, Indi pergi ke luar untuk memenuhi permintaan tolong ibunya berbelanja bulanan. Gadis itu merasa beruntung punya kegiatan fisik yang bisa membantunya melepaskan diri dari galau perasaan sejak keluar dari kamar mandi. Bersama Mutia, sahabatnya, Indi menghabiskan tak kurang dari 3 jam berbelanja. Sebenarnya, kegiatan belanja itu sendiri cuma setengah jam. Dua setengah jam sisanya adalah untuk ngoceh dan window shopping.
*******
Sepulang belanja, dengan tubuh penat Indi merebahkan diri dan segera tertidur.Tetapi tidurnya tak sempurna, karena sebuah mimpi menyeruak dan kemudian membangunkannya. Di mimpi itu, Indi merasa sedang berenang di sebuah danau yang jernih, begitu jernihnya sehingga ia benar-benar bisa merasakan bagaimana berenang bersebelahan dengan ikan-ikan aneka warna. Penuh semangat, gadis itu menyelam dan tinggal di dalam air selama mungkin bersama ikan dan bebatuan dan ganggang dan lumut. Aneh juga, ia bisa berlama-lama di dalam air. Tetapi, tentu saja ini adalah mimpi.
Tentu saja pula, hanya dalam mimpi lah Indi bisa berenang telanjang bulat di sebuah danau. Tanpa sehelai benang pun di tubuhnya yang mulus, gadis itu bagai seekor ikan duyung yang sedang bercanda bersama alam sekitar. Air bening tak mampu menyembunyikan kesegaran yang indah dari tubuh seorang belia penuh jiwa muda bergetar-bergejolak. Gerakan tangan dan kaki yang gemulai bagai seorang penari khayangan, menambah keindahan menjadi nyata belaka. Bahkan ikan-ikan pun tampak senang berenang dekat-dekat kulit langsat mulus yang berkilauan terterpa cahaya mentari.
Lalu Indi menyeruak keluar dari air, rambutnya yang pendek telah kuyup sempurna, membentuk sebuah topi legam di sekujur kepalanya. Air memenuhi mukanya, mengalir turun ke lehernya yang jenjang, meluncur cepat di atas bukit-bukit kenyal dadanya. Beberapa butiran sisanya bertahan di mana-mana; di kelopak matanya yang berkerejap, di ujung hidungnya yang bangir, di sudut-sudut bibirnya yang memerah-muda …
Indi tersenyum manis kepada seorang pemuda yang duduk menjuntai kaki di sebuah batu di pinggir danau. Pemuda itu membalas senyum Indi tanpa melepaskan pandangannya ke tubuh indah yang kini muncul perlahan-lahan dari dalam air. Mula-mula hanya senyum dan wajah manis itu lah yang tampak. Lalu leher jenjangnya keluar dari permukaan air, membawa serta pemandangan menakjubkan dari dada ranum yang basah di sana-sini. Lalu perut berhias pusar yang menyerupai noktah manikam di lapangan lembut. Lalu kedua paha sintal membulat, menjadi pilar-pilar bagi sebuah segitiga gelap yang menyembunyikan lebih banyak lagi rahasia keindahan ….
Indi mengangkat tangannya untuk mengibaskan air dari dahi, dan itulah gerakan gemulai yang menyebabkan dadanya menantang berani, mengajukan diri untuk lahapan mata pemuda yang terus tersenyum sepanjang kejadian-keindahan ini.Lalu pemuda itu menjulurkan tangannya, menawarkan sehelai kain batik sutra bermotif bunga merah muda. Tetapi Indi menggeleng, karena ia ingin tetap telanjang di hadapan sepasang mata yang tak hentinya menyemburatkan panah-panah gairah ke sekujur badannya yang basah.
Indi kini berdiri cuma sejangkauan tangan saja di hadapan pemuda itu. Ia bertolak pinggang sambil tetap menyungging senyum manis-madu. Ia seakan berucap syahdu .. mari rengkuh kalau kau mau … come and get me..
Tetapi lalu Indi terbangun ….
*******
Terbangun dengan senyum masih melekat di wajahnya yang mengantuk. Mimpi aneh! sergahnya dalam hati. Tetapi begitu indah, lanjut kata hatinya. Aku bertelanjang di depannya, dan aku menyukainya …. Bukankah itu sebuah keanehan yang menakjubkan, dan sebuah ketidakwajaran yang menggairahkan!
Aku merindukan rengkuhan tangannya, keluh Indi dalam hati sambil menguap lebar-lebar, merentangkan kedua tangannya di atas kepala, membuat dadanya yang ranum tambah kuat mendesak kaos tipis yang tak berdaya. Nikmat sekali meregangkan tubuh setelah mimpi yang begitu indah, membuat kedua puncak di dadanya berubah menjadi pucuk gairah yang sangat sensitif. Bahkan gesekan kaos akibat gerakan meregang itu saja telah mampu menebarkan rasa hangat ke sekujur tubuhnya, meningkatkan getar jantungnya satu-setengah kali lebih cepat.
Indi meregang lagi, lalu berguling ke kiri untuk memeluk bantal.Entah dari mana, gairah tahu-tahu telah ada di sekujur tubuhnya. Indi ingin memelihara gairah itu, bahkan ingin terus membangkitkannya. Seantero rumah terdengar senyap, dan pintu kamar selalu ia kunci. Ini lah saat yang nikmat untuk bergulingan sendirian di tempat tidur, ditemani sepasang tangan yang tahu ke mana harus meremas dan meraba. Juga sebuah bantal yang rela direngkuh dilumat dijepit sesuka hati.
Telapak tangan kiri Indi merayap pelan di atas dadanya, seakan ingin menyama-ratakan kehangatan yang tertebar di sana. Dengan mata terpejam, gadis itu menikmati perjalanan tangannya sendiri. Kaos tipis yang ia kenakan tak mampu menghalangi jemari lentik yang meremas pelan. Indi mengerang …sesekali memperkuat remasan … sesekali lainnya mengusap lemah. Sesekali lainnya, dengan ujung jari tengah ia membuat lingkaran-lingkaran di sekitar puting kirinya. Setiap putaran membuatnya gemetar. Setiap gemetar membuatnya menggelinjang. Setiap gelinjang memaksanya mendesah. Oh ….
Adalah ujung-ujung syaraf di puncak payudara ranum itu yang kini menebarkan sensasi luar biasa ke segala penjuru. Indi menggeliat, memaksa jarinya melanjutkan gerakan memutar walau pada saat yang sama ia ingin merentangkan kedua tangannya di atas kepala agar dadanya membusung sempurna. Pertentangan antara melanjutkan gelitikan atau meregangkan otot yang terasa nyaman, membuat gerakan gadis itu tersendat-sendat. Sejalan dengan nafasnya yang kini tersengal, dan gerakan kakinya yang tak karuan membuat seprai berantakan.
Semakin menggeliat, semakin kuat rasa geli-nikmat menyeruak di dadanya. Bahkan kegelian itu lalu merayap turun ke perutnya yang bergetar dan naik-turun dengan ramai untuk memompa udara ke dalam paru-paru.Tangan kanan Indi ikut merayap turun, seakan mencoba menelusuri ke mana gerangan kenikmatan itu mengalir. Dari muaranya di puncak-puncak payudara, tangan kanan Indi merayap pelan ke bawah …. Mengusap-usap perutnya yang seperti kaldera penuh magma panas …. Turun sedikit, mengusap lembut dan penuh perasaan bagian bawah perutnya … pada sebuah daerah yang adalah perbatasan terakhir sebelum wilayah sensual yang berikutnya.
Sejenak Indi ragu-ragu, apakah akan membiarkan telapak tangannya yang hangat itu terus meluncur ke bawah, atau menghentikan saja permainan solitair ini ….Tetapi keputusan dalam saat seperti ini seakan-akan bukan ditetapkan di kepala. Lagipula, kepala gadis itu sedang penuh oleh buaian lembut yang memudarkan segala logikanya; seperti kabut yang menghalangi pandangan. Bibir merah mudahnya merekah melepaskan desah …..
Indi menyerah pada keputusan yang diambil oleh tangan kanannya, yang kini merayap turun, menyelinap di balik rok bagian atasnya, menuju lembah indah kewanitaannya. Pelan tapi pasti, kedua paha gadis yang ranum dan mulus itu meregangkan diri, seakan sedang malu-malu memberikan kesempatan lebih luas kepada sang tangan.
Adalah sang jari tengah yang mengambil inisiatif pertama …. menelusuri dengan seksama sebuah lepitan khusus yang adalah muara dari kenikmatan kewanitaan. Indi tak bisa menahan erangan pelan keluar dari lehernya yang kini agak basah oleh keringat tipis … Ahhh … ujung jari itu melakukan gerakan menelusur yang amat perlahan, semili-demi-semili … membuat seluruh tubuh gadis itu gemetar bahna terlanda geli-nikmat yang bukan-main.
Kedua pahanya semakin membuka …Tangan kirinya semakin kuat meremas-remas salah satu bukit sintal di dadanya …Indi berada dalam pendakian yang menggetarkan kalbu maupun tubuh, membinarkan fantasi liar maupun indah, mengundang erangan basah maupun kering … Ahhhh .. Ngocoks.com
Jari itu semakin nakal. Menelusup lebih ke bawah seperti ingin menduga ada apa di sana, dan Indi menemukan kebasahan yang samar-samar terbit di sana, di liang liat yang berdenyut pelan. Jari itu melakukan gerakan memutar, memutari pinggiran yang kini ramai berkecamuk seperti mulut kecil yang mendecap-decap.
Indi tak bisa menahannya lagi. Tak bisa mengendalikannya lagi. Jari, telapak tangan, liang kewanitaan, puting payudara, perut, paha ….. semuanya kini tak bisa ia kendalikan lagi. Semua gerakannya adalah pengejawantahan insting birahi belaka, yang meledak-ledak tak kenal pembatas. Ia menggeliat-geliat, menggosok-gosok, mengusap-meremas, mengerang dan mendesah, meregangkan kakinya dan menggelengkan kepalanya … melakukan semua itu dalam chaos ….
Kalau lah adegan ini ditempatkan pada konteks yang berbeda, Indi pasti terlihat seperti seseorang yang sedang mengalami siksaan luar biasa. Tetapi, memang sulit memisahkan antara siksaan dan orgasme. Keduanya memiliki intensitas yang sama ….
*******
Keesokan paginya, tak sengaja Indi berpapasan dengan Kino. Sejenak rona merah muda menyeruak di wajah gadis itu. Untung mentari pagi itu masih terhalang beberapa dedaunan, dan Indi berhasil menyembunyikan perasaannya, menutupinya sekuat tenaga.Kino tersenyum kepadanya, tetapi tak bisa memutuskan sapa apa yang perlu disampaikan. Masih terbayang di benaknya kejadian kemarin. Terbayang tubuh gadis itu bermandi busa …. Indi pun tersenyum tanpa berkata apa-apa. Ia tak menyangka akan berjumpa segera setelah kejadian kamar mandi dan mimpinya yang basah itu!
Kedua mahluk yang sama-sama bingung itu berjalan berendengan menuju jalan raya, tak berkata apa-apa sampai di tempat menunggu angkot.Angin pagi bertiup basah. Kendaraan sudah ramai sepagi ini. Anak-anak sekolah tampak segar. Tukang sayur memasuki gang perkampungan untuk memulai dagangannya. Angkot berkeliaran dengan penumpang berjejal.
Kino berdehem. Indi juga.Seseorang melambai dari sebuah angkot. Kino membalas lambaiannya setelah tahu itu adalah salah seorang teman kuliahnya. Indi menggoyang-goyangkan tasnya, memandang ke sekeliling tetapi tak melihat apa-apa.
Sebuah angkot berhenti, tetapi itu bukan angkot yang diperlukan Kino. Juga bukan angkot yang diperlukan Indi. Kondekturnya bertanya kepada keduanya, hendak kemana. Kino menyebut suatu tempat, Indi menyebut tempat yang lain. Kondektur tak lagi bertanya, dan berteriak parau,”Tariiiiik!” Sejenak sepi. Kino tak bisa berlama-lama diam, maka ia menyapa,
“Kapan ujian akhir?” Indi menoleh, seakan kaget mendengar seseorang berada di sebelahnya.
“Dua bulan lagi,” jawabnya cepat.”Sudah siap?” tanya Kino, lebih untuk basa-basi daripada untuk mengetahui keadaan sesungguhnya.”Belum,” jawab Indi jujur.”Sudah belajar?” kejar Kino. Indi tertawa kecil,”Mancing, nih?” Kino tertawa, merasa konyol karena terjebak oleh pertanyaannya sendiri.”Kenapa ngga langsung menawarkan bantuan?” kata Indi pelan.
“Aku tidak yakin kamu perlu bantuan,” jawab Kino jujur.”Indi perlu bantuan,” sahut Indi masih pelan,”Terutama untuk matematika.””Boleh,” kata Kino pendek.”Apanya yang boleh?” sergah Indi tertawa renyai. Kino tersipu,”Boleh, nanti Kak Kino bantu.””Ngga minta bayaran kursus, kan?” goda Indi.
“Kalau ada kopi dan pisang goreng, boleh juga,” sahut Kino cepat. Indi tertawa. Sebuah angkot mendekat, dan itu adalah angkot yang ditunggunya.”Indi duluan, yaaa ..,” kata gadis itu sambil mendekat ke angkot,”Nanti Indi panggil Kak Kino kalau mau belajar.”Kino mengangguk, lalu melambaikan tangan ke angkot yang membawa Indi pergi. Pemuda itu menghela nafas dalam-dalam dan menghempaskannya dalam sekali dorongan. Dadanya terasa lega sekali, entah kenapa.
Di atas angkot, Indi berusaha sekuat tenaga menahan keinginan untuk tersenyum lebar atau tertawa kuat-kuat. Seorang pemuda di seberang tempat Indi duduk memandang muka gadis itu, dan terkagum melihat kesegaran-kecantikan menyemburat dari wajah Indi. Kondektur yang berdiri menggelantung di pintu pun sempat melirik, dan berkata dalam hati,”Cakep betul anak ini!”. Kecantikan memang bisa diperkuat oleh rasa gemilang di dada
Bersambung…




