Kembang Semusim 3
Mereka tiba di puncak bukit yang ramai oleh anak-anak muda lain menjelang tengah hari. Perut yang lapar memaksa mereka mampir di sebuah warung kecil yang ternyata menyajikan makanan sedap, walau hanya didominasi tempe dan tahu. Karin makan lahap sekali, dan Dani menyantap tak kurang dari 5 potong tempe! Sekali lagi keduanya menemukan keindahan dan kenikmatan di balik kesederhanaan. Mengapa tempe dan tahu di ibukota tidak sesedap ini!? sergah Dani dalam hati sambil meraih tempat sambal.
Warung itu terletak di dekat sebuah tebing, dan dari tempat mereka duduk pada sebuah bangku kayu panjang, Karin dan Dani bisa melihat puncak bukit yang dihiasi sebuah batu. Tepatnya, sebuah tugu peringatan. Menurut catatan mereka, tugu itu ditegakkan oleh para gerilyawan perjuangan untuk mengenang gugurnya salah seorang dari mereka.
“Kalian sering kemari?” tanya Karin di antara suapan.
“Sering,” jawab Iwan karena Kino memang tidak pernah mendahului menjawab, “Terutama malam minggu.”
“Pacaran?” sela Dani sambil tersenyum dan sambil menggigit sepotong cabe rawit. Bibirnya memerah karena kepedasan.
“Ya, pacaran … atau mencari pacar, atau memutuskan pacar, atau memacari pacar orang!” sahut Iwan tak acuh.
Karin tertawa gelak mendengarnya.
“Kamu pasti playboy, Wan!” sergah Dani.
“Mungkin,” kata Iwan masih tak acuh, mulutnya sibuk mengunyah tempe, “Tetapi yang terang aku mandor perkebunan.”
Karin tertawa lagi. Pikirnya: kadang-kadang pemuda di kota kecil ini bicara jauh lebih lugas. Untuk kesekian kalinya gadis itu membuat perbandingan dan menyimpulkan bahwa teman-temannya di ibukota kalah jauh dalam soal kelugasan. Si mandor muda ini tidak pernah ragu mengungkapkan pikirannya, bisik Karin dalam hati, sementara teman-temannya di metropolitan sering berputar-putar jauh sebelum tiba di titik persoalan. Atau menghambur-hamburkan uang dulu sebelum menyatakan keinginan yang sebenarnya, …. mengajak dan mentraktir nonton sebelum mencium, … membelikan segala macam hadiah sebelum mengajak bercinta.
“Apakah kamu juga playboy, Kino?” Dani mengalihkan ‘serangan’-nya ke si pendiam.
Kino menggeleng sambil meneguk teh pait. Tanpa ekspresi dia berkata, “Aku tidak ada bakat menjadi playboy.”
“Tapi kamu ingin jadi playboy?” desak Dani, senang karena akhirnya si pendiam mau buka mulut.
Kino tertawa kecil, “Aku senang kalau banyak gadis menyenangiku,” katanya.
“Apakah banyak gadis yang senang padamu?” Dani terus mencecar, seperti polisi menginterogasi pencuri.
“Banyak,” kata Iwan sebelum Kino sempat menjawab, “Tetapi dia terlalu pemilih … ”
“Aku tidak pemilih,” bantah Kino sambil menelungkupkan sendok-garpu di piringnya, “Aku tidak tahu berapa banyak yang suka, bagaimana aku bisa memilih?”
“Dia selalu bilang begitu,” kata Iwan kepada Dani, “Sebab dia tidak pernah memperhatikan gadis-gadis itu. Tentu saja gadis-gadis itu tidak memasang pengumuman bahwa mereka menyukai Kino, bukan?”
Kino tertawa kecil, “Mungkin sebaiknya mereka melakukan itu, kalau benar-benar suka!”
Karin dan Dani tertawa, senang mendengar perdebatan pendek dan polos antara kedua pemuda di hadapan mereka. Lalu, entah bagaimana, Dani sudah berkata, “Kami berdua suka pada kalian!”
“Hei, jangan seenaknya mewakili pikiranku!” sergah Karin sambil menyikut pinggang temannya. Dani meringis.
“Tetapi kamu suka padaku?” tanya Iwan cepat-cepat kepada Karin, sambil menatap terus-terang.
“Mungkin … mungkin ya, mungkin tidak!” sahut Karin tak kalah cepat. Biar bagaimana pun ia lahir dan besar di ibukota, dengan salah satu adagium: keraguan menunjukkan kemajuan berpikir!
“Aku juga,” sela Dani tak mau kalah, sekaligus menyesal telah membuka kedok mereka, “Aku mungkin suka kamu, mungkin suka Kino…”
“Ah, kalian cuma gengsi saja!” sergah Iwan sambil bangkit untuk mengambil segelas teh lagi.
“Bukan gengsi!” sahut Karin sengit, hampir saja tempe yang digigitnya terpental keluar, “Aku memang belum tahu apakah suka atau tidak kepadamu!”
Iwan tertawa sambil menuangkan isi teko ke gelasnya, “Bagaimana dengan Kino? Apakah kamu suka pada Kino?”
Karin menoleh ke arah Kino, tetapi pemuda itu sedang asyik memandang ke luar seakan-akan tidak ada apa-apa. Dani menatap Karin sambil tersenyum geli melihat sepupunya terjebak.
“Aku tidak tahu!” jawab Karin sambil berhenti mengunyah. Tempe di mulutnya tiba-tiba terasa pahit.
Iwan tergelak, “Kalau begitu sebaiknya kamu tetap ragu-ragu saja!”
Dani ikut tertawa, dan Karin melototkan matanya kesal ke arah sepupunya itu. Sialan anak ini! sergahnya dalam hati. Dia membuka perdebatan, tetapi dia menghindar secepat kilat.
“Tetapi jangan ragu-ragu siang ini,” sambung Iwan sambil kembali ke tempat duduknya dengan gelas penuh berisi teh, “Kita duduk-duduk di puncak bukit, melihat pemandangan. Pasti semua keraguan kalian akan hilang. Relax sajalah!”
“Aku tidak ragu!” sergah Karin tambah sengit, “Aku memang ingin melihat pemandangan indah. Tetapi aku tidak tahu apakah suka atau tidak kepadamu …. atau kepada Kino!”
“Hei, relax …,” sela Dani sambil menepuk punggung sepupunya, “Iwan bilang, kita musti enjoy …”
“Sialan kamu!” sergah Karin membuat Iwan dan Dani tertawa tergelak.
Kino tersenyum kecil mendengar perdebatan mereka. Apa gerangan yang membuat kita tertawa senang? Apakah keraguan adalah semacam lelucon pula? Seberapa banyakkah batas keraguan dalam hidup ini, dan seberapa bolehkah kita merasa pasti tentang segala sesuatunya?
******
Puncak bukit memang tempat yang indah untuk memandang hamparan hutan dan sawah dan jalan antarkota di bawah sana. Pohon-pohon tampak indah dalam miniaturnya, sawah tampak rapi berjajar dari kejauhan, mobil-mobil seperti kotak korekapi bergerak perlahan menyusuri jalan berliku. Ada sedikit awan berarak mengurangi kegarangan mentari.
Mereka duduk berempat di bawah sebuah pohon besar yang meneduhkan. Perut yang kenyang dan badan yang letih sehabis berenang menyebabkan Karin dan Dani mengantuk. Setelah agak kikuk duduk berdekatan, akhirnya kedua gadis itu menyerah ketika Iwan menawarkan diri untuk menjadi sandaran, dan Kino tak menolak usul temannya agar menjadi sandaran juga.
Seperempat jam kemudian Karin sudah terlelap bersandar di dada Iwan, sementara Dani mendengkur halus di bahu Kino. Kedua pemuda itu tenang-tenang bersandar di batang pohon, bercakap-cakap pelan agar tidak membangunkan para putri ibukota yang sedang beristirahat di peraduan alamiah mereka.
“Kamu belum menceritakan kenapa ada di sini pada musim kuliah, Kino …,” kata Iwan pada suatu saat.
“Ceritanya panjang,” jawab Kino sambil menghela nafas panjang dan menghembuskannya dalam hempasan pendek..
“Masalah dengan kuliahmu?” tanya Iwan sambil mengusir seekor semut yang merayap naik di tangan Karin.
“Tidak,” jawab Kino sambil memandang jauh ke depan, “Aku sedang dalam proses penyembuhan.”
Iwan menengok, menatap tajam ke arah sahabatnya, “Kau sedang sakit?”
“Aku sedang sembuh, bukan sedang sakit!” jawab Kino meluruskan persoalan. Iwan tersenyum mendengar gaya sahabatnya yang selalu ingin perfect.
“Aku mendapat kecelakaan, gegar otak, lalu dirawat di rumah sakit, lalu sekarang beristirahat agar pulih seperti sedia kala,” sambung Kino.
“Astaga!” sergah Iwan, “Kenapa tidak kau katakan sebelumnya. Kami mengajakmu berenang dan naik motor. Bagaimana kalau …… ” ucapannya menggantung.
Kino tersenyum, “Jangan kuatir. Aku sudah sehat. Cuma mungkin belum pulih sekali. Itu pun sudah bisa mengalahkan kamu berenang!”
“Ya, tetapi setidaknya kamu harus mengatakan sebelumnya!” sahut Iwan tak mempedulikan ejekan di akhir kalimat Kino.
“Sudahlah. Aku tahu keadaanku sendiri,” sela Kino, “Aku cukup sehat untuk semua kegiatan ini, asal tidak setiap hari!”
“Kenapa bisa kecelakaan?” tanya Iwan sambil kembali mengusir seekor semut nekad yang mungkin penasaran ingin naik ke leher jenjang Karin.
Lalu Kino bercerita ringkas tentang semua kejadian yang dialaminya. Ia juga berterus-terang tentang Trista, walau tentunya tidak menggambarkan detil hubungan mereka. Iwan melongo mendengar cerita dramatis itu.
“Wah, kamu memang sebaiknya menghindari janda!” begitu komentar Iwan ketika sahabatnya selesai bercerita.
Kino tertawa pelan, tidak tersinggung oleh kelugasan bicara si mandor belia di sebelahnya, “Dia bukan janda, Wan … kamu tidak pernah menyimak ucapanku dengan baik. Pantas di sekolah dulu kamu tidak pernah mendapat nilai baik!”
Iwan tertawa juga, “Ya, memang bakatku menjadi mandor. Dan sekarang orang lain yang harus menyimak ucapanku!”
Keduanya tertawa, tetapi berusaha tidak keras-keras. Karin tampak semakin terlelap. Iwan memeluk pingang gadis itu dari belakang. Dani bergeming sedikit, lalu kembali terlelap setelah Kino merangkul bahunya. Angin segar berhembus membawa keharuman bunga-bunga rumput, bercampur wangi sabun mandi kedua gadis.
“Harum sekali mereka,” bisik Iwan disambut senyum Kino.
“Jangan mengambil keuntungan di tengah kesempitan!” desis Kino memberi peringatan.
“Tidak akan,” jawab Iwan tegas, “Aku akan tunggu sampai Karin bangun, sebelum ….. ”
“Sebelum apa?” kata Kino mendengar sahabatnya tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Sebelum mencium bibirnya,” bisik Iwan, “Menggemaskan sekali, bukan?”
“Asal kamu tidak keburu ditampar …,” jawab Kino sambil menahan tawa.
Iwan juga menahan tawanya, membuat tubuhnya berguncang. Karin menggeliat kecil, tetapi justru tampak tambah lelap karena guncangan itu bagai buaian lembut!
Karin menggeliat bangun dan sejenak tersentak karena sadar bahwa tubuhnya terlelap di dada Iwan yang bidang itu. Walau bagaimana, ia malu juga membiarkan dirinya tertidur dipelukan pemuda yang tampan dalam kesederhanaannya ini. Malu sekaligus senang. Sekaligus penasaran, kenapa dirinya begitu mudah tertarik pada seorang mandor perkebunan milik Ayahnya. Bukankah hubungan mereka adalah hubungan majikan dan buruh?
“Selamat sore,” kata Iwan sambil membiarkan Karin melepaskan diri dari pelukannya.
“Hmmm…,” gadis itu menggumam sambil menguap dan menggeliat, membuat gerakan sensual dengan tangan terentang di atas kepala.
Sejenak darah Iwan berdesir melihat dada gadis itu membusung penuh. Memang begitulah rumusan alam: wanita tampak sangat cantik dan menawan sesaat setelah bangun dari tidurnya. Karin menjadi bukti nyata dari rumus itu. Dengan latar belakang langit yang mulai menyejuk, dan pohon-pohon di kejauhan mulai menyamar, Karin adalah pemandangan indah bagai lukisan-lukisan Basuki Abdullah!
“Enak tidurnya?” tanya Iwan sambil bangkit untuk meluruskan pinggangnya yang mulai terasa kaku akibat duduk diam tak kurang dari setengah jam.
Karin tidak menjawab, melihat sekeliling dan mengernyitkan dahinya, “Kemana Kino dan Dani?”
“Dani minta diantar ke toilet,” sahut Iwan sambil menawarkan tangannya untuk menarik Karin berdiri. Gadis itu membiarkan tubuhnya ditarik ke atas. Kedua matanya masih mengantuk, dan berdirinya pun masih terhuyung. Dia membiarkan Iwan merangkul pundaknya, mengajaknya menjauh dari pohon tempat mereka tadi beristirahat.
Langit menyemburatkan warna lembayung yang indah. Angin semakin sejuk membelai rambut Karin yang pendek, membuat gadis itu merasakan kesegaran baru yang luar biasa. Berdua, bergandengan tangan, mereka menuruni puncak bukit menuju sebuah lembah lapang yang di sana-sini dihiasi semak dan perdu. Bunga-bunga bermekaran dengan warna yang menuju keseragaman akibat cahaya langit yang mendominasi alam.
“Kamu ingin lihat matahari terbenam dari atas sana?” tanya Iwan sambil menunjuk ke sebuah gundukan yang agak menjulang di seberang lembah.
Karin merasa tidak punya pilihan. Dipandangnya Iwan yang juga sedang memandangnya. Tangan keduanya masih bergandengan. Kedua mata pemuda itu menatap polos, dan Karin tak menemukan apa-apa di sana selain sebuah ajakan tak berprasangka. Lalu juga ada senyum yang mengembang samar mengungkapkan keramahan. Sebetulnya Karin ingin melihat kenakalan di wajah pemuda itu, sebagaimana biasanya kalau Iwan memandang dirinya …. sebagaimana jika pemuda itu memandang dari seberang sungai ketika ia sedang mandi. Tetapi, kemana kenakalan itu?
“Baik,” kata Karin pelan, “Tetapi janji … ”
Iwan mengernyitkan dahinya, “Janji apa?”
“Janji tidak akan macam-macam di sana,” kata Karin. Sekali lagi tabiat metropolitannya menampakkan wujud secara otomatis. Ia terbiasa menjaga jarak, walau dalam hati sudah ingin merapat. Ia terbiasa berkata A walau sebenarnya bisa langsung ke T atau Z sekalipun.
Iwan tersenyum lebar, “Aku tidak mengerti …, apa yang kamu maksud dengan ‘macam-macam’?”
Mereka mulai melangkah berjalan berdampingan, bergandengan menuju lokasi menonton matahari terbenam.
“Jangan pura-pura tidak mengerti, lah!” sergah Karin sambil menyentak tangan Iwan.
“Aku memang mau memperlihatkan keindahan matahari terbenam,” kata Iwan sambil mengiringi langkah Karin yang masil lunglai karena baru bangun tidur, “Setelah itu soal lain.”
“Setelah itu apa?” desak Karin, membiarkan tangannya diayun-ayun seperti anak kecil digandeng orangtuanya.
“Kamu cantik kalau baru bangun,” sahut Iwan seperti tak peduli pertanyaan Karin.
“Setelah itu apa?” desak Karin, sama tak pedulinya.
“Aku senang menjadi sandaran tidurmu,” kata Iwan.
“Setelah matahari terbenam, apa yang akan kamu lakukan?” suara Karin meninggi.
“Apakah kamu mimpi indah?” tanya Iwan. Langkah mereka berdua tak terganggu oleh percakapan yang simpang siur ini.
“Kamu mengajak saya melihat matahari terbenam,” kata Karin berubah normal lagi, “Setelah itu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Biasanya mimpi di hari terang selalu indah,” kata Iwan sambil memetik bunga semak-semak yang mereka lintasi.
“Iwan!” sergah Karin sambil berhenti melangkah. Terpaksa Iwan ikut berhenti melangkah, memutar tubuhnya menghadap gadis itu yang sedang menatap tajam kepadanya. Pemuda itu tersenyum. Nah, seru Karin dalam hati, sekarang terlihat sinar nakal di matanya!
“Apa yang akan kamu lakukan setelah kita melihat matahari terbenam?” tanya Karin sambil terus menatap tajam. Tangannya masih terayun-ayun perlahan dalam genggaman tangan pemuda itu.
“Aku akan menciummu,” sahut Iwan tenang, dengan senyum samar, dan dengan mata yang tidak menyembunyikan kenakalannya. Juga sedikit keliaran yang berkerejap cepat, berganti-ganti dengan semburat kecil birahi. Semua terbuka terpampang di kedua mata yang tak berkedip itu.
Karin membuka mulutnya. Tetapi ia menutupnya lagi, karena tak ada yang bisa ia ucapkan.
Lalu Iwan melangkah mendekat. Karin mundur selangkah, lalu berhenti karena punggungnya membentur batang besar sebuah pohon. Mereka berada di sebuah jalan setapak yang menikung. Lenggang, tak ada orang di sekeliling. Tak juga ada langkah-langkah terdengar mendekat. Sepi, kecuali oleh suara burung yang pulang kandang dari mencari nafkah sepanjang hari.
Lalu Iwan melangkah lebih dekat lagi. Karin sejenak ragu, tetapi lalu tersenyum. Berani sekali mandor muda yang tegap ini! ucapnya dalam hati. Biar sajalah, aku ingin tahu seberapa pandai ia merayu gadis. Ngocoks.com
Lalu Iwan mendekatkan wajahnya. Mulutnya membuka sebentar, lalu segera menempel lembut di mulut Karin yang kini memincingkan matanya. Dengan sepenuh hati pemuda itu mengulum bibir Karin yang memang menggairahkan, merah merona seperti langit senja, basah mengundang seperti semangka matang di musim kemarau. Iwan menikmati bibir itu, seperti seorang petualang menikmati temuan barunya. Bibir gadis kota! Bukan main! sergahnya dalam hati.
Berbeda sekali dengan bibir-bibir gadis desa yang ia cium. Bibir gadis ini seperti punya jiwa sendiri, memberi jawaban pasti kepada setiap penjelajahannya. Tidak pasif seperti bibir-bibir gadis yang ia cium, kecuali mungkin mirip si Ratih yang sering dibawa anak-anak kota M itu.
Ciuman mereka berlangsung cukup lama, dan baru berhenti setelah dikejauhan terdengar langkah kaki mendekat.
“Kamu belum menunjukkan matahari terbenam,” kata Karin sambil menyeka bibirnya yang basah dengan punggung tangan. Suaranya tenang, seperti tak ada apa-apa.
Iwan masih sibuk mengatur nafasnya yang tiba-tiba menderu.
“Janjimu palsu,” kata Karin sambil tersenyum penuh kemenangan, karena ia merasa jauh lebih berpengalaman dalam hal-hal tak terduga seperti ini. Dalam hati ia berkata: ternyata pemuda ini juga sama saja dengan pemuda lainnya: tak bisa menjaga janji, selalu tergesa-gesa ingin menaklukkan buruannya.
“Ada sedikit perubahan dalam rencana,” kata Iwan sambil tersenyum dan sambil terus mengatur nafasnya.
Mereka berdua mulai melangkah lagi. Tetapi kini sudah tidak bergandengan. Langkah-langkah orang terdengar mendekat. Serombongan anak-anak muda muncul dari balik tikungan; salah satu di antara mereka mengenal Iwan dan menyapanya. Setelah itu ada gurauan. Ada canda sedikit menyelidik: siapa gadis baru bersama mu itu, Wan! .. dan Iwan cuma tersenyum. Karin juga acuh tak acuh. Langit pun acuh tak acuh. Angin terus bertiup tak terganggu. Segalanya berjalan seperti biasa.
Rombongan itu berjalan cepat menyusul, meninggalkan Karin dan Iwan kembali berdua.
“Aku suka mencium kamu,” kata Iwan setelah mereka tinggal sendirian lagi, melangkah pelan seperti sengaja membuat jarak dengan rombongan di depan.
Karin tertawa, mengeluarkan taktik ‘apa-peduliku?’ dengan muka yang sengaja memiaskan ketenangan. Ia ingin menyampaikan, bahwa ciuman tadi itu biasa-biasa saja. Seperti ia biasa minum air dingin jika haus, atau seperti menoleh ke luar jendela dari mobil yang berjalan, atau seperti menguap dan menggeliat sehabis tidur panjang. Biasa saja. Tidak istimewa.
“Kamu tidak menikmatinya,” kata Iwan menyimpulkan sendiri makna tawa yang terdengar remeh itu. Tadinya Karin menyangka akan mendengar nada kecewa. Ternyata tidak. Iwan mengucapkan kalimat itu seperti menyampaikan warta berita di radio. Walaupun yang diberitakan sebetulnya mengerikan, warta berita radio selalu bernada datar. Seperti itulah nada suara Iwan.
“Nanti, lah, kita bisa ulangi lagi,” ucap Karin dengan nada datar pula.
Iwan tersenyum sambil meraih tangan Karin, mengajaknya bergandengan. Tetapi Karin menolak dengan halus. Lalu ia tiba-tiba berlari ke depan dan berseru, “Ayo! Kita kejar matahari terbenam itu!”
Terpaksalah Iwan ikut berlari mengejar si burung centil yang ternyata kuat berlari juga!
*****
Dani dan Kino sudah ada di lokasi menonton matahari terbenam terlebih dahulu. Karin curiga, kedua pemuda itu, dibantu Dani, sengaja mengatur rencana untuk berpisah jalan sebelum bertemu di sana. Tetapi Dani kelihatan tenang-tenang saja, dan dalam hati Karin bertanya: apakah dia juga dicium Kino? Betapa beruntungnya!
Ketika mereka duduk-duduk menunggu bola merah besar itu merosot turun ke garis langit, Iwan berbisik menyampaikan ‘insiden’ ciuman itu kepada Kino. Tentu saja ada sedikit bumbu-bumbu tambahan dalam bisikan itu. Tetapi Kino cuma tersenyum samar, tidak mengalihkan pandangannya dari semburat merah jingga di langit di depannya. Percuma Iwan mencoba mengusiknya, Kino tampaknya bersungguh-sungguh untuk tidak peduli.
Lalu bola raksasa yang maha merah dan bulat sempurna itu menampakkan dirinya dari balik awan. Atau lebih tepat dikatakan, awan-awan yang tampak tak berdaya itu menyingkir patuh, memberikan panggung besar alam semesta kepada sang mentari. Betapa berwibawanya, bola merah itu bergerak perlahan ke bawah menuju kaki langit. Seperti seorang maharaja melangkah tegap namun setapak demi setapak, memastikan agar semua kawulanya memperhatikan dengan seksama.
Lalu langit menggelap. Semua jadi kelabu. Kemudian hitam sama sekali.
Sepasang anak muda itu sudah sampai di batas kota ketika hari telah benar-benar gelap.
******
Setelah mengembalikan motor ke garasinya, Iwan dan Kino mengantar kedua teman wanita mereka pulang. Di gerbang rumah besar milik Pimpinan Perkebunan yang juga adalah tempat menginap Karin dan Dani, kedua pemuda mengucap salam perpisahan. Lalu Karin menyuruh Dani berjalan masuk lebih dulu, dan Iwan menyikut pinggang Kino untuk segera menyingkir.
Ketika mereka tinggal berdua, Karin menengadahkan mukanya dan berbisik, “Ayo, cium lagi.”
“Baik, Tuan Puteri!” sahut Iwan sambil menahan senyum. Tak peduli apakah ‘perintah’ itu patut atau tidak, Iwan menarik leher Karin lebih dekat lagi. Dengan gerakan perlahan tetapi penuh kepastian, pemuda itu mengulum bibir gadis kota yang tinggi hati tetapi penuh sensasi ini. Ciumannya kali ini agak lebih bernafsu dibanding sebelumnya. Iwan tidak hanya mengulum, tetapi juga menjelajahi ruang dalam yang penuh harum nafas Karin itu dengan lidahnya.
Dan Karin juga meladeninya dengan tak kalah bernafsu. Ia bahkan membiarkan dirinya terbawa arus kencang yang membuat jantungnya berdegup lebih keras. Ia membuka mulutnya lebih lebar, ikut menerima lidah Iwan yang meronta-ronta liar di dalam. Seperti tuan rumah yang ramah, menyambut tamu yang memang diundang.
Karin bahkan memeluk leher pemuda itu, menempelkan dadanya yang busung ke dada Iwan yang bidang dan kekar. Ia membiarkan puting-puting payudaranya bergeletar samar ketika bergesekan dengan tubuh tegap itu di bawah behanya yang ketat. Seratus atau seribu desir-berdesir rasa geli serentak menyebar dari puncak-puncak sensitif itu ke seluruh tubuhnya. Karin pun terpaksa mendesahkan apa yang dirasakannya. Ia merasa lebih baik menyerah.
Dan Iwan menjadi lebih berani. Ia meraih tubuh gadis yang semampai hampir menyamai tingginya itu lebih dekat lagi. Ia menelusuri punggung gadis itu, membawa kedua tangannya yang nakal ke bagian belakang yang sintal padat terbalut celana panjang katun itu. Ia juga meremas-remas, menyampaikan dimensi kegemasan dari kenakalannya.
Dan Karin mendesah lagi, karena kini ia seperti ingin melumatkan saja seluruh tubuhnya ke tubuh tegap itu; tubuh mandor perkebunan yang bekerja dengan gaji yang ditetapkan di ibukota oleh ayahnya! Ngocoks.com
Di kejauhan, Kino berhenti melangkah dan menengok ke arah mereka berdua. Hanya ada silhuet tidak jelas, tetapi Kino tahu apa yang Iwan dan Karin lakukan. Ia menghela nafas panjang, karena tiba-tiba pikirannya terusik: tidakkah pasangan itu menyadari keanehan di antara mereka? Yang satu datang dari metropolitan dengan tingkahlaku serba tertata. Yang lain lahir dan besar di kota kecil, dan tak pernah pergi lebih jauh dari 50 kilometer. Tidakkah pula mereka pernah mempertanyakan hubungan majikan-buruh yang secara tak sengaja ada di antara mereka?
Kino meneruskan langkah dengan menunduk. Ataukah aku yang terlalu banyak berpikir, setelah semua kejadian yang kualami di kota B bersama Trista? Tidakkah pengalamanku dengan Trista itu juga aneh dan tak wajar?! sergahnya dalam hati.
Tiba-tiba Kino melihat persamaan itu. Ya, ia kini berspekulasi tentang sahabatnya, yang mungkin akan menjalani lika-liku hubungan tak wajar antar dua manusia. Ia kini mulai membuat perbandingan, dan setelah itu membuat kesimpulan yang merisaukan. Bagaimana kalau Iwan terluka dalam pacuan gairah di gelanggang berliku dan terjal itu? Bagaimana kalau ia terjatuh seperti aku dulu terpuruk?
Tetapi bagaimana aku bisa tahu bahwa Iwan akan menjalaninya seperti aku menjalani keberlikuan dan keterjalan itu? Kino menggeleng-gelengkan kepalanya dalam sepi. Ia jadi pusing sendiri.
Sementara itu, di ujung lain Dani berteriak memanggil, “Yiiiiin! Ka-yiiiiin!… Paman bilang kita sudah ditunggu makan malam!”
Karin mencoba melepaskan diri. Iwan menahannya ….. dan Karin membiarkan lagi Iwan memagut bibirnya. Rasanya tubuh Iwan adalah magnit raksasa yang terus menarik tubuhnya menempel erat. Gerakan meronta yang ia coba lakukan tadi, justru menambah gesekan-gesekan tak sengaja yang penuh sensasi. Karin justru merasa ingin lebih kuat dipeluk dan diremas.
Dani berteriak lagi memanggil.Gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas apa yang Iwan dan Karin lakukan di kegelapan. Sinar terang dari ruang tamu melingkupi seluruh beranda di mana ia berdiri sambil memicingkan mata mencoba mengintip. Tetapi sinar itu tak cukup kuat untuk menjangkau wilayah gelap di dekat pagar, tempat sepupunya mereguk gairah yang sejak tadi menggelegak itu.
“Hmmmmm…,” Karin menggumam, mencoba mendorong dada Iwan tetapi dengan setengah hati. Setelah memagut bibir gadis itu dan meremas pinggulnya sekali lagi, akhirnya Iwan melepaskan ciumannya.
“Besok aku tunggu di sungai, jam makan siang …,” desah Karin sambil melangkah mundur. Nafasnya terdengar jelas terengah-engah. Wajahnya tak nampak dengan jelas, tetapi Iwan bisa melihat sinar matanya yang berbinar menggairahkan.
“Aku akan ada di sana …,” jawab Iwan sambil melangkah mundur pula.
Sejenak kemudian, kegelapan melengkapi perpisahan mereka. Iwan berbalik cepat, lalu setengah berlari mengejar Kino yang sudah jauh di depan. Dalam hati pemuda ini berteriak: akhirnya aku bisa menikmati seorang gadis kota!
Sementara Karin juga cepat berlari ke dalam rumah, tak mempedulikan ledekan Dani yang bersungut-sungut. Dalam hati Karin juga ada teriakan: akhirnya aku bisa menjerat macan liar itu!
*****
Keesokan harinya, ketika jam makan siang hampir tiba, Iwan memerintahkan anak buahnya untuk tidak usah menunggu dia. Kepada salah seorang pegawainya yang paling senior, Iwan mengatakan agar para pekerja segera beristirahat begitu jam menunjukkan pukul 12. Tak perlu menunggu persetujuannya.
“Saya ada urusan penting,” kata Iwan menambahkan. Suaranya berwibawa dan menegaskan bahwa ‘urusan’ itu memang benar-benar penting. Pegawainya mengangguk patuh, dan segera pergi untuk menyampaikan perintah boss.
Dua menit sebelum waktu makan siang, Iwan sudah meninggalkan ruang kantornya. Langkahnya cepat tetapi tenang, seperti layaknya seseorang yang akan menjalankan suatu tugas penting dan menentukan. Ia mengambil jalan memutar, keluar dari gerbang wilayah perkebunan di depan, lalu membelok ke kiri menyusuri sebuah jalan setapak yang tak pernah ramai. Hatinya berbunga, dan mulutnya bersiul menyanyikan sebuah lagu yang tak pernah ia ingat syairnya.
Jalan setepak itu menembus segerombolan kecil pohon kenari yang masih tersisa, lalu tiba di pinggir sungai yang biasa dipakai untuk mencuci pakaian-pakaian para buruh perkebunan. Iwan melangkah terus menuju ke arah hulu dengan melewati beberapa jalan sempit berbatu. Ia menuju tempat mandi yang agak tersembunyi; tempat yang sebetulnya bukan rahasia, tetapi jarang dikunjungi di siang hari. Penduduk di sekitar perkebunan pada umumnya mandi di sore hari. Sedangkan para ‘pegawai tinggi’ mandi di kamar mandi moderen yang ada di kompleks perkebunan. Siang hari, tempat mandi ini selalu sepi.
Sementara itu, Karin berhasil membujuk Dani untuk meninggalkannya sendirian. Paman menyuruh mereka berdua pergi ke kota M untuk membeli makanan, tetapi Karin bersikeras agar Dani saja yang pergi karena ia harus melengkapi data tentang penelitiannya. Dani sempat memprotes, tetapi Paman tampaknya lebih percaya kepada Karin. Maka pagi itu Dani pergi ke kota M, dan Karin ke kebun untuk menyelidiki dua gua lain bekas peninggalan Jepang. Ia memang sedang meneliti, tetapi tidak pernah mengatakan kepada pamannya, atau kepada Pak Rustandi yang menemaninya, bahwa ia juga punya ‘urusan lain’.
Pak Rustandi mengangguk patuh ketika pada pukul 11.30 anak “tuan besar” membebaskannya dari tugas mengawal. Lelaki tua itu segera menuju kantin karena perutnya keroncongan. Tak ada dugaannya sama sekali, bahwa siang itu Karin menuju tempat mandi di sungai. Lagipula, ia tak pernah tahu tempat itu. Ia biasa mandi di kamar mandi perkebunan, karena ia merasa sudah tergolong ‘pegawai tinggi’. Bukan buruh!
Bersambung…




