Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Flashback

Flashback

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Kembang Semusim 2

Pagi itu mereka jadi berenang berempat. Susi menolak ikut karena ingin naik sepeda bersama Ayah ke kebun rambutan milik paman di desa sebelah.

Iwan tidak berkata salah tentang Karin dan sepupunya, Dani.

“Lihat dada dan pantat mereka … menggemaskan!,” bisik Iwan kepada Kino ketika kedua gadis itu sedang jauh dari mereka di pantai yang ramai oleh orang-orang berlibur.

Karin dan Dani tampak berbeda sendiri dengan bikini yang cuma menutup tubuh mereka seadanya. Tentu saja banyak orang yang melihat ke arah mereka, ada yang sembunyi-sembunyi tetapi tak jarang yang sambil bersuit-suit menggoda.

Kino tergelak sambil mendorong pundak Iwan, “Pikiranmu cuma berisi itu, Wan. Hati-hati nanti otakmu menjadi terlalu encer dan mengalir keluar dari telinga!” sergahnya.

Iwan tidak meladeni ledekan sobatnya. Ia berseru sambil berlari menyongsong ombak, “Ayo main air bersama mereka!” Ngocoks.com

Kino segera mengejar. Bukannya ingin main air, tetapi ia memang sudah sangat ingin berenang di air biru sejuk yang belum terlalu kotor itu. Bagai si Manusia Ikan, pemuda itu menerjang ombak lalu menggerakkan seluruh kaki-tangannya dengan cergas dan gesit. Tubuhnya bagai harpoon mencari ikan paus, melesat cepat menyusul Iwan yang juga sedang bergegas menuju ke arah Karin dan Dani.

Tak berapa lama terdengar jerit kedua gadis itu karena Iwan menangkap betis mereka di bawah air laut. Lalu ketiganya saling menghambur-hamburkan air, tertawa-tawa riang, lepas-bebas di bawah langit tak bermendung pagi itu.

Matahari memancar berderang bagai menambah guratan keceriaan. Angin tak terlalu keras dan laut lepas bagai hamparan permadani sutra yang bergelombang pelan-damai.

Bagi Karin, gadis ibukota yang lahir dan besar di alam metropolitan, laut seperti ini adalah selingan yang tak ada duanya. Jauh dari keriuhan metropolitan, jauh dari kehidupan jet-set yang terkadang meletihkan.

Di kota kecil yang berpantai indah dan berhawa sejuk ini, Karin menemukan oasis murni yang memuaskan dahaganya pada kehidupan alamiah; yang menjadi alternatif terbaik bagi kehidupan kosmopolit penuh gincu dan topeng kemunafikan. Di sini ia bisa benar-benar mengerti apa sebetulnya arti ‘bebas di alam lepas’.

Apalagi ada Iwan, yang dari ukuran ibukota tentu tidak ada apa-apanya, tetapi di tengah kemurnian alam justru tampak memikat. Mandor itu punya tubuh tegap yang menawan! bisik hati Karin ketika pertama berjumpa Iwan di perkebunan milik Ayahnya. Sejak perjumpaan pertama, Karin sudah terpikat, seperti Jane terpikat Tarzan!

Tetapi tentu saja, bagi Karin ketertarikan itu sama wajarnya dengan kalau ia tertarik pada barang di pajangan toko. Bagi Karin yang biasa hidup bebas, Iwan adalah sebuah objek petualangan yang menjanjikan! Sudah beberapa kali ia berhasil menjerat pemuda itu, mengundangnya menonton (atau mengintip?) ia mandi di sungai. Karin ingin tahu, sejauh mana kenakalan metropolitannya bisa disebandingi oleh anak muda kota kecil ini!

Hanya saja, ia tak pernah memperhitungkan sebelumnya, bahwa Dani -sepupunya yang juga tinggal di ibukota- punya pikiran sama. Terlebih-lebih lagi, Karin juga tidak memperhitungkan adanya kemungkinan Iwan punya sahabat yang tak kalah menariknya!

“Siapa itu, Yin (nama kecil Karin adalah ‘kayin’ atau kemudian menjadi ‘Yin’ saja)?” tanya Dani ketika mereka tadi tiba di pantai dan sedang melepas pakaian. Karin memang tidak mengatakan sebelumnya kepada Dani bahwa ada seorang pemuda lain yang akan ikut berenang.

“Kino,” jawab Karin sambil membenarkan tali beha bikininya yang merosot, “Teman si Iwan. Aku belum tahu banyak tentang dia.”

“Boleh juga …,” bisik Dani sambil tertawa genit.

“Dibandingkan Iwan?” goda Karin, walau dalam hati ia juga sedang sibuk membuat perbandingan.

“Mmmm …,” Dani memicingkan mata menimbang-nimbang, membuat Karin tertawa geli, “Keduanya sama ganteng … tetapi Iwan lebih ….. apa, ya …. lebih ….,” Dani berpikir keras mencari kata-kata yang tepat.

“Lebih liar!” potong Karin, menahan suaranya agar tak terdengar kedua pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka.

Dani tertawa gelak. Dadanya yang subur berguncang seksi. Betul, pikir Dani dalam hati, pemuda yang satu lagi itu tampak terlalu kalem dan dingin bagai gunung es. Beda sekali dibanding Iwan yang matanya selalu nakal. Ah, Dani suka mata yang nakal!

***********

Setelah berenang di pantai pada hari Sabtu, pertemuan antar “anak kota” dan “anak desa” berlanjut terus dengan berenang di sungai pada hari Minggu.

Bagi Karin dan Dani, berenang di alam yang asri-apalagi di sungai yang masih bening ini!!- merupakan sensasi luar biasa. Bukan saja karena airnya yang dingin menyegarkan, tetapi juga suasananya yang lepas bebas. Berenang di metropolitan seringkali berkesan bebas, tetapi itu cuma kesan.

Cuma ilusi tentang kebebasan, padahal kenyataannya mereka dikurung oleh berbagai peraturan, berbagai “jangan ini jangan itu”, termasuk peraturan-peraturan semu tentang sopan-santun dan cara menampilkan diri dengan sempurna. Pada akhirnya, berenang di metropolitan seperti kehidupan di atas panggung dibandingkan berenang di alam bebas kota kecil yang jauh dari keramaian ini.

“Aku minum air sungai sewaktu menyelam tadi!” jerit Karin seperti anak kecil, antara senang dan khawatir. Apakah ia tidak akan kena disentri dan kolera jika minum air mentah?

“Sehat!” sahut Iwan sambil terus berenang dekat-dekat gadis seksi itu.

“Betulkah?” tanya Karin sambil membuka matanya yang indah itu lebar-lebar, dan sambil pura-pura berenang menjauh. Tapi tak urung berkali-kali betisnya bersinggungan dengan ujung kaki Iwan.

“Asal kamu tidak menyelam dekat aku atau Kino sewaktu minum tadi,” kata Iwan dengan senyum nakal.

Karin tertawa terbahak, sudah tahu kemana arah pembicaraan. Dani yang berada tidak jauh dari Karin juga ikut tertawa mendengar percakapan mereka. Cuma Kino saja yang tidak berkomentar karena berada jauh di depan, berenang dengan kecepatan penuh.

“Teman kamu itu pendiam sekali,” kata Dani kepada Iwan setelah selesai tertawa.

“Si Kino?” tanya Iwan, lalu melanjutkan tanpa menunggu jawaban, “Dia bisa banyak omong juga, kalau sudah kenal baik.”

“Kenapa dia ada di sini, padahal kata kamu dia kuliah di B,” kata Karin menyela.

“Entahlah,” jawab Iwan, “Aku baru bertemu dengannya satu kali, dan kami belum sempat bicara banyak. Dia cuma bilang sedang beristirahat di sini.”

“Istirahat?” giliran Dani yang kini menyela, “Sekarang, kan, musim kuliah. Kalau tidak sedang penelitian, kami berdua harus ada di kelas saat ini.”

Iwan mengangkat bahunya di bawah air, lalu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak begitu suka kalau kedua gadis mempesona ini mengajaknya bicara tentang Kino; satu-satunya pria yang bisa menyaingi kepopulerannya di mata mereka!

“Ayo kita balapan sampai ke batas desa di sana!” seru Iwan sambil menunjuk ke arah utara. Tanpa menunggu jawaban, pemuda itu sudah meluncur di air. Karin dan Dani segera menyusul, berenang mengapit Iwan, mengejar Kino yang kini tampak menepi dekat tugu batas desa.

Beberapa saat setelah itu, mereka semua bersama-sama berenang kembali ke arah jembatan, melawan arus sungai. Karin dan Dani mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk mengejar Iwan dan Kino, tetapi tentu saja kedua pemuda itu jauh lebih cepat meluncur di atas air. Sampai habis rasanya seluruh tenaga kedua gadis itu, tetapi tetap saja mereka tiba di bawah jembatan 5 menit lebih lambat.

“Lihat mereka megap-megap kehabisan nafas!” ujar Iwan kepada Kino ketika keduanya sudah menepi menunggu Karin dan Dani tiba.

“Tenaga mereka boleh juga, ya!?” komentar Kino sambil mengusap mukanya, membuang sisa-sisa air.

“Menurutku, body mereka yang ‘boleh juga’ … bahkan sangat ‘boleh juga’!” kata Iwan sambil tertawa.

Kino bersungut sambil menahan senyum. Mandor ini punya perbendaharaan kata asing juga rupanya! sergahnya dalam hati.

“Lihat, dada si Karin! … Kencang dan padat …,” desis Iwan sambil menatap lekat ke gadis yang sedang berjuang melawan arus untuk menepi.

“Ah, kamu seperti tidak pernah lihat dada gadis saja!” sergah Kino sambil menaiki tebing menuju tempat mereka meletakkan baju dan sepatu, dekat pilar besar di bawah naungan jembatan.

Iwan berdecak sambil menyusul sahabatnya. Kenapa si Kino ini tidak mau diajak diskusi soal body Karin atau Dani yang seksi itu, keluhnya dalam hati. Padahal banyak sekali yang bisa dibicarakan dalam soal itu!

Tak lama kemudian mereka berempat sudah duduk diam-diam melepas lelah bersama. Karin dan Dani memeluk lutut mereka, agak menggigil karena angin berhembus cukup keras dan karena tempat mereka duduk agak teduh terlindung oleh badan jembatan di atas. Iwan dan Kino duduk bersila di hadapan kedua gadis itu sambil melap rambut dengan handuk masing-masing.

“Sejak kapan kalian bersahabat?” tanya Karin memecah keheningan.

“Kami tidak pernah bersahabat,” jawab Iwan sambil tertawa dan meninju bahu Kino yang diam saja seperti tak peduli.

“Kalian saling bermusuhan?” tanya Dani sambil memandang ke arah Kino yang sedang asyik mengeringkan rambutnya.

“Dia saingan beratku!” jawab Iwan karena Kino tidak mengucapkan sepatah kata. Cuma tersenyum-senyum saja.

“Saingan dalam berenang!” seru Karin riang karena berharap bisa menonton sebuah pertandingan renang, “Siapa yang lebih cepat di antara kalian?”

Iwan tersipu. Dia tidak bisa berbohong. Kino lebih cepat dan lebih cekatan dalam berenang. Tetapi dia lebih pintar dalam hal lain …

“Ah, dia lebih pintar berenang. Dia lahir di air!,” kata Iwan, lalu cepat mengalihkan topik, “Tetapi kalau balapan motor, dia selalu kalah!”

“Betul begitu, Kino?” tanya Karin, berharap mendengar suara Kino yang cuma keluar sekali-sekali itu.

“Aku tidak pernah balapan motor dengannya,” sahut Kino kalem.

“Hei, kamu selalu menolaknya. Itu berarti kamu kalah sebelum bertanding!” sergah Iwan sambil meninju lagi bahu sahabatnya. Kino tidak bergeming, cuma tersenyum saja. Ngocoks.com

Karin dan Dani saling memandang. Lalu Dani memberikan usul mengagetkan, “Bagaimana kalau kita berempat naik motor ke bukit siang ini!”

“Aku tidak punya motor,” sahut Iwan sejujurnya. Pemuda ini biasa jujur, kadang-kadang terlalu jujur.

“Lho, tadi kamu bilang lebih pandai naik motor!” sergah Karin heran. Jangan-jangan Iwan cuma membual.

“Motor pinjaman. Milik kantor ayahku,” jawab Iwan kalem, “Tetapi kalau perlu, aku bisa pinjam sekarang.”

“Tidak usah,” sela Dani, “Kita pakai motor trail milik perkebunan. Kamu bisa naik motor, Kino?”

Kino mengangguk. Dia suka naik motor, tetapi tidak suka balapan. Dan naik motor ke puncak bukit adalah sesuatu yang dia sukai, walaupun bukan favorit. Lagipula, menurut dokter dia boleh saja naik motor asal tidak terlalu lama. Jarak ke bukit bisa dicapai dengan berkendaraan santai kurang dari setengah jam.

“Good!” seru Dani dengan gaya boss. Dia suka jadi boss. Setidaknya boss pura-pura, “Aku naik Yamaha dibonceng Kino, dan Karin naik Honda dengan Iwan.”

Mendengar ucapan gadis bossy itu, Iwan berseru dalam hati: Impianku terwujud! …. Karin akan memeluk erat pinggangku dan kedua bukit suburnya menempel erat di punggung. Wow!

“Hei, kenapa harus seperti itu?” protes Karin, “Sebaiknya kita undi, siapa yang naik apa dengan siapa!”

Nahlo! seru Kino dalam hati. Kini dua gadis itu akan bertengkar tentang siapa yang naik apa dengan siapa. Dan benar saja … Dani segera menyahuti protes Karin dengan protes pula. Lalu cepat sekali keduanya terlibat perdebatan tentang “siapa naik apa dengan siapa”. Iwan dan Kino tersenyum geli melihat tingkah mereka.

Iwan tersenyum karena merasa bangga menjadi rebutan kedua gadis itu, walau dalam hati ia curiga bahwa keduanya justru sedang memperebutkan Kino! Sedangkan Kino tersenyum karena kedua gadis itu mengingatkannya pada tingkah teman-temannya di kampus. Selalu berdebat tentang segala hal, sepertinya mereka lahir untuk berdebat!

Ketika akhirnya perdebatan tak berakhir walau sudah berlangsung 10 menit, Iwan dan Kino diam-diam bersepakat untuk bangkit dan mengenakan pakaian mereka. Sebuah ultimatum.

Kedua gadis itu panik melihat mereka sudah siap pergi, dan entah bagaimana akhirnya muncul kesepakatan yang tak berubah dari keputusan Dani sebelumnya: Iwan membonceng Karin, Kino membonceng Dani. Keputusan itu membuat Iwan berbinar riang, sementara Kino tak menunjukkan reaksi apa-apa.

Setengah jam setelah itu tampak dua motor meraung menuju bukit di arah timur.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39
ABG Berlanjut Bersambung Cantik Guru Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pelajar Pengalaman Petualangan Selingkuh Tante Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleAyahku Ingin Nyusu
Next Article Tragedi Malam Pengantin
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.7

    Petualangan Rikku

    9.9

    Rumah Kami Surga Kami

    9.6

    Keluarga Pak Trisno

    9.6

    Tragedi Malam Pengantin

    9.6

    Ayahku Ingin Nyusu

    9.5

    Menguntai Masa Lalu

    Follow Facebook

    Recent Post

    Petualangan Rikku

    Rumah Kami Surga Kami

    Keluarga Pak Trisno

    Tragedi Malam Pengantin

    Flashback

    Ayahku Ingin Nyusu

    Menguntai Masa Lalu

    Obsesi Nakal Ibu Kandung

    Kakakku yang Liar

    Siswi SMP

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.