Kerinduan Indi, Kerinduan Siapa?
Jam tangan Kino menunjukkan pukul 3 seperempat sore ketika bis besar yang ditumpangi pemuda itu memasuki terminal pusat kota B dengan suara berderum-derum seperti raksasa yang terengah keletihan. Hujan lebat rupanya baru saja berhenti, tetapi rintik-rintik sisanya masih turun, dan kabut tipis memenuhi udara.
Terminal bis menjadi lebih berkabut lagi oleh asap mesin-mesin disel berbagai kendaraan. Dengan gesit, bis besar yang ditumpangi Kino segera mengambil tempat di jalur kedatangan luarkota. Supirnya jelas sudah sangat hapal ke mana musti membelok, karena dalam waktu dua menit saja bis itu sudah masuk ke lorong khusus yang disediakan untuknya.
Para penumpang sudah tampak sibuk bersiap-siap turun. Demikian pula Kino, mengenakan jaket ponconya karena di luar terlihat hujan rintik-rintik. Ia menurunkan tas tangan dari kompartemen barang di atas tempat duduk, dan membantu seorang ibu menurunkan keranjang oleh-oleh penuh berisi dodol manis.
Dari jendela, Kino melihat Ridwan dan Tigor berdiri di pelataran terminal. Mereka memperhatikan beberapa bis yang masuk satu per satu. Kino melambai-lambaikan tangan, tetapi rupanya jendela bis agak gelap jika dipandang dari luar. Kedua sahabatnya tak melihat Kino sampai pemuda itu turun dari pintu belakang. “Itu dia!” seru Tigor kepada Ridwan menunjuk ke arah Kino yang melangkah ke arah mereka sambil cengar-cengir..
Keduanya menyambut Kino dengan hangat, bergantian meninju bahu pemuda itu sebagai salam perjumpaan. “Tambah gemuk kau!” seru Tigor sambil meninju sekali lagi. Kino meringis, “Tidak ada kerjaan. Makan tidur saja setiap hari!” katanya. “Sini, kubawakan tas mu. Kau urus sendiri koper besar itu!” kata Ridwan sambil meraih tas dari bahu Kino.
“Aku bawa dus itu saja!” ujar Tigor cepat-cepat sebelum Kino memintanya mengangkat koper.
“Berat, nih!” keluh Kino, karena kopernya memang besar sekali, berisi segala macam oleh-oleh yang dititipkan kedua orangtuanya untuk relasi di B. “Itu urusanmu, lah!” sahut Tigor seenaknya, disambung tawa Ridwan yang sudah melangkah ke luar terminal.
Terpaksalah Kino terhuyung-huyung menyeret kopernya, tertatih-tatih berusaha menyusul dua sahabatnya yang melangkah cepat ke tempat parkir. Hanya ketika harus menaikkan koper ke bagasi, barulah Ridwan dan Tigor membantunya. Lumayan pegal, menyeret sekitar 60 kg beban sejauh 200 meter.
“Sudah sembuh?” tanya Ridwan sambil menstart mesin mobilnya. “Harusnya kau tanya itu sebelum sampai di mobil,” gerutu Kino, “Aku akan menjawab ‘belum’ … dan meminta kau menyeret koper!” Kedua sahabatnya tertawa, dan Tigor berkata, “Kalau dilihat dari nafasmu yang tetap teratur, pasti kau sudah sembuh benar. Mungkin juga sudah sembuh sejak lama, … cuma pura-pura sakit saja kau!”
“Aku sudah ingin kembali ke sini sejak lama,” kata Kino membela diri, “Tetapi dokter mengatakan aku belum sembuh benar.” “Mungkin dokter mu benar,” kata Ridwan sambil membelokkan mobilnya ke luar terminal, “Gegar otak bisa menyebabkan gangguan mental …”
“Ya,” sela Tigor, “Dokter mu belum yakin apakah kau sudah waras atau belum!”
Ridwan terbahak dan Kino tersenyum kecut. “Kau banyak kehilangan peristiwa menarik,” kata Ridwan ketika mobil sudah meluncur laju. “Apa itu? Kau dapat pacar baru? Atau Tigor kehilangan motornya?” jawab Kino seenaknya. “Lebih dari itu,” sela Tigor, “Rima jatuh cinta!”
Kino tertawa kecil, tentu saja Rima jatuh cinta adalah peristiwa menarik. Tetapi seberapa menarik, tergantung dari kepada siapa gadis tomboy itu jatuh cinta.
“Dia pacaran sama dosen dari fakultas lain!” sambung Tigor bersemangat.
Wah, ini memang menarik, kata Kino dalam hati. “Dosen?” sergahnya, “Sejak kapan anak itu suka kepada dosen!”
“Pertanyaan menarik,” jawab Ridwan, “Apalagi dosen itu mengajar filsafat!” “Hah!?” Kino terperangah,”Pengajar filsafat? Apa yang terjadi pada Rima?” “Rima bilang, dosen itu juga aktif di politik,” kata Tigor sambil mengeluarkan rokok dari kantong, tapi urung menyalakannya karena Ridwan langsung menunjuk ke tulisan “no smoking” di kaca mobil.
Kino menggeleng-gelengkan kepala. Kalau Rima tertarik pada politik, pastilah ada aspek yang sangat menarik baginya. Salah satu kemungkinannya, pikir pemuda itu, politik si dosen berkaitan dengan kegiatan naik gunung atau lingkungan hidup. “Ada lagi peristiwa menarik,” kata Ridwan, dan sebelum Kino sempat bertanya ia sudah menyambung, “Tigor jatuh cinta!” Ngocoks.com
Tigor tersipu, dan Kino tertawa keras. Tigor jatuh cinta sama dengan Tigor jatuh dari motor. Dua-duanya peristiwa yang cukup langka, dan dua-duanya membuat Tigor meringis kesakitan! Pemuda itu selalu gagal mendapatkan gadis yang disukainya. Entah kenapa, padahal dia cukup ganteng walau agak berangasan.
“Seberapa sakit rasanya jatuh cinta kali ini?” goda Kino sambil menjambak rambut Tigor yang duduk di sebelah Ridwan. “Sialan kau!” sergah Tigor sambil menjauhkan kepalanya dari jangkauan Kino, “Sekarang ini aku sungguh-sungguh jatuh cinta!” “Dia serius, Kino!” ucap Ridwan, “Maksudku … si Tigor yang serius jatuh cinta. Entahlah si gadis yang ia taksir!”
Kino tertawa, dan Tigor bersungut-sungut, “Kalian meremehkan aku. Gadis itu juga jatuh cinta … Tetapi …. ” “Tetapi tidak serius?” sela Kino. “Tetapi orang tuanya tidak setuju!” sahut Tigor.
“Ooo …,” gumam Kino, mencoba tidak tersenyum.
“Dia juga mencintai ku,” ucap Tigor penuh kepastian, “Dia menyatakannya lewat gerak-gerik. Dia selalu mau diajak makan bakso di kantin …”
“Karena kau membayar baksonya!” sela Ridwan.
“Dia selalu minta diantar pulang naik motor,” kata Tigor tidak mempedulikan olok-olok Ridwan.
“Dari pada naik angkot …,” sela Ridwan. “Dia mengerti perasaanku. Bahkan dia bisa menebak pikiranku. Sebelum aku berkata, dia seakan-akan bisa tahu apa yang akan kuucapkan,” lanjut Tigor lancar. “Mmm ..,” gumam Kino, “Tampaknya kau serius!”
“Sayang sekali, kedua orang tuanya mata duitan!” kata Tigor gemas, “Mereka melarang anak gadis mereka berhubungan lagi dengan ku. Katanya, karena aku cuma punya motor.”
“Kata siapa?” sela Kino.
“Kata orangtuanya!” sergah Tigor. “Kau dengar sendiri dari mereka?” desak Kino.
“Tidak,” jawab Tigor, “Aku dengar dari Lia, pacarku itu.” “Mmmm,” gumam Kino.
“Tetapi kami tidak peduli, lah! Kami tetap berhubungan, dan aku selalu mengantarnya pulang” seru Tigor sambil membuka kaca jendela lebar-lebar, membuat rambutnya yang agak gondrong berkibar-kibar seru.
“Good boy!” kata Ridwan sambil menepuk bahu Tigor.
“Mmm,” gumam Kino lagi, tanpa komentar karena pikirannya agak terganggu oleh kenyataan bahwa masih ada orang tua yang terus terang melarang anaknya berpacaran dengan alasan material.
Mobil sudah semakin dekat ke tempat kost Kino, dan pembicaraan beralih ke hal-hal lain dengan cepat. Ridwan dan Tigor dengan semangat mensuplai informasi-informasi terbaru tentang kampus, tentang kuliah, dan tetek-bengek lainnya. Mereka bilang, pastilah Kino akan ‘turun kelas’ karena tidak mengikuti satu semester penuh. Kino bilang, tidak apa-apa karena ia akan berusaha keras mengejar ketertinggalannya.
Menjelang masuk ke jalan menuju tempat kost, Ridwan memberi informasi pendek tentang Indi.
“Hati-hati dengan Indi,” katanya, “Dia sudah rindu sekali kepadamu!”
“Mengapa musti hati-hati?” tanya Kino.
“Lihat sendiri saja, lah, nanti!” sahut Ridwan, membuat Kino menggerutu kesal.
*****
Ketika akhirnya mereka tiba di tempat kost Kino, dan ketika pemuda itu sedang sibuk mengangkat koper ke kamarnya sambil menjawab rentetan pertanyaan dari Ibu Kost, barulah ia mengerti apa yang diucapkan Ridwan tentang Indi.
Gadis itu muncul entah dari mana, dan memandang Kino tanpa berkata apa-apa. Bercelana pendek dan berkaos tanpa lengan, ia tampak cantik sekaligus kekanak-kanakan. Apalagi tampaknya ia juga baru selesai mandi. Segar dan semarak di sore bermega-mendung ini.
“Hai, centil!” seru Kino terhuyung-huyung mengangkat koper ke kamarnya, “Apa kabar?”
Indi diam saja, tersenyum tipis dan Kino tambah mengerti apa yang diucapkan Ridwan. Ada sebersit sinar tajam yang cuma bisa diterjemahkan sebagai kerinduan dan kerinduan semata di kedua mata gadis itu. Ngocoks.com
Setelah meletakkan kopernya, Kino menegakkan badan sambil meringis merasakan pegal di pinggangnya. Indi berdiri kira-kira dua meter darinya, dengan kedua tangan di belakang punggungnya, dengan wajah penuh senyum. Ia tambah manis, gumam Kino dalam hati. Tambah menggemaskan dengan senyumnya yang nakal, dan tambah dewasa saja. Begitu cepat rasanya ia berubah, walau baru tiga bulan berpisah.
“Malu sama kita-kita, ya!?” goda Ridwan sambil menyinggung lengan Indi dengan sikunya ketika pemuda itu lewat untuk meletakkan tas Kino di dalam kamar.
“Ayo, jangan malu-malu. Kalau mau peluk, yaaa …peluk saja!” goda Tigor sambil meletakkan kardus di atas meja.
Indi mencoba cemberut, tetapi gagal total. Wajahnya terlalu penuh tumpah-ruah oleh kerinduan dan kebahagian berjumpa lagi dengan ‘kakak’ tersayangnya. Dadanya terlalu sesak oleh letupan-letupan kangen yang menyeruak keluar ke seluruh sinar matanya.
Tak akan pernah ia sanggup menyembunyikan semua itu, walau sekarang ini –saat ini juga– ada kebakaran di dapur, atau ada tembakan meriam di sebelah rumah, atau ada gempa bumi berskala 9 sekalipun. Percuma saja ia memberengut.
Ia tetap tampak cantik, dan tetap tampak kangen. Seorang gadis yang sedang rindu akan selalu tampak berbinar kecantikan-kelembutan. Bahkan kalau pun seluruhnya dibalut kain, sinar kerinduan selalu bisa tembus keluar dan bertebaran ke segala penjuru.
Kino tersenyum lebar, dan mengembangkan kedua tangannya. Ibu Kost sudah letih bertanya dan sudah puas mendapat jawaban, sehingga ia pun sudah kembali ke rumah utama. Indi kini tak lagi ragu-ragu. Ia menubruk Kino, memeluknya erat-erat dan membenamkan kepalanya ke dada pemuda itu.
“Wow .. wow!” seru Ridwan sambil menghenyakkan tubuhnya di kursi, “Jangan terlalu keras, rusuk Kino masih belum sembuh benar!” Indi tidak peduli, dan malah memeluk lebih keras.
“Perlu bantuan, Kino?” goda Tigor sambil pura-pura ingin memisahkan pasangan itu.
Kino tertawa sambil mengusap-usap rambut Indi yang kini dipotong pendek. Harum sabun mandi menyeruak naik ke hidung pemuda itu. Tubuh mereka sejenak bergoyang terhuyung seperti dua pohon kembar yang dilanda angin topan.
“Aduh!” jerit Kino tiba-tiba.
Rupanya Indi menggigit pangkal leher pemuda itu, tetapi cuma sebentar dan ia buru-buru melepaskan pelukannya. Biar bagaimana pun, tak baik menunjukkan semua perasaanmu di depan pemuda-pemuda ini. Namun, tetap harus ada gigitan itu. Kecil saja. Sebentar saja. Yang penting, gigit!
“Mustinya kamu sediakan kopi untuk kami, bukan menggigit seperti itu!” seru Ridwan sambil mengangkat kaki ke meja di depannya.
“Air panasnya sudah ada,” sahut Indi sambil menendang kaki Ridwan, “Tinggal siram saja ke kalian berdua!” “Oh, apa salah hamba?!” seru Tigor sambil mengangkat kedua bahunya dengan gerakan dramatis. “Sudahlah!” sela Kino, “Kalian terlalu cemburu padaku!”
“Wow … wow!” seru Ridwan, “Sang Pangeran membela Sang Puteri!”
“Kalian mau kopi pakai susu?” tanya Indi yang sudah bersiap-siap menuju dapur di rumah utama.
“Susunya untuk Kino saja,” komentar Tigor, tetapi tidak cukup keras untuk didengar Indi.
Kino memelototkan matanya ke Tigor, sementara Ridwan menahan tawanya.
“Hei! Pakai susu atau tidak?” jerit Indi. Ketiga pemuda itu menggeleng berbarengan seperti mengikuti sebuah komando, dan Indi pun melangkah cepat, ringan dan riang menuju dapur. Ketiga pemuda itu memandangnya pergi. Tigor mendecak halus — Ridwan kemudian melirik Kino, yang membalas lirikan dan menghentak, “Apa?” — Ridwan cuma menggeleng-geleng — Tigor mendecak halus lagi. Hujan rintik-rintik lagi.
Lalu mereka sama-sama kembali memandang Indi yang sedang melesat cepat ke dapur. Gadis itu seperti peri yang penuh gemerlap kasih, yang terbang ringan seperti kupu-kupu menembus gerimis senja. Baginya, menyiapkan tiga kopi di sore yang sejuk dan basah untuk tiga pemuda yang salah satunya ia rindukan sepenuh hati, bukan pekerjaan berat. Sama sekali tidak berat!
Bersambung…




