Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Rumah Kami Surga Kami

Rumah Kami Surga Kami

Petualangan HOT (Langkah Langkah Jalang)
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di belakang setir sedan Mamie, untuk pulang ke Rumah Cinta.

Pada saat itulah kudengar suara Mamie,” Kata orang, perempuan hamil itu harus sering disetubuhi oleh suaminya. Agar bayinya kuat, gak lemes.”

“Iya Mam. Nanti di Rumah Cinta akan kita lakukan.”

“Tapi mamie pernah baca dari media kesehatan, kalau sedang hamil gak boleh dijilatin memeknya.”

“Itu betul. Aku juga pernah baca itu. Karena dikuatirkan ada bakteri dari air liur yang meresap ke dalam rahim. Bahkan dimainkan dengan jari juga sebaiknya jangan dilakukan. Kecuali kalau jarinya memakai sarung tangan karet yang steril seperti yang biasa dipakai dokter-dokter.”

“Ternyata kamu banyak membaca juga dari internet ya.”

“Iya Mam. Soalnya aku harus siap kalau Mamie hamil seperti sekarang ini.”

“Tapi kontolmu gede lho Sam. Makanya mamie bawa lotion untuk melicinkan dulu, biar gak sakit waktu dimasukin kontol gedemu nanti.”

“Hehehee… iya Mam… iyaaa…”

Setibanya di Rumah Cinta, Mamie langsung melangkah ke lantai atas, aku pun mengikutinya dari belakang.

Kubuka pintu kamarku. Mamie pun masuk ke dalam. Sambil mengeluarkan botol lotion dari tas kecilnya. Lalu Mamie melepaskan celana dalamnya. Dan melompat ke atas meja makan yang berhadapan dengan pintu kamar mandiku.

Mamie menyingkapkan gaun terusannya sampai ke perut, lalu mengoles-oleskan lotion ke permukaan memeknya sampai mengkilap sekali.

“Ayo entot mamie sekarang Sam… !” ucap Mamie sambil duduk mengangkang di pinggiran meja makan, sambil mengelus-elus memeknya sendiri.

“Mau di situ Mam?” tanyaku sambil melepaskan celana jeans dan celana dalamku.

“Iya… kamu ngentotnya sambil berdiri aja, biar perut mamie gak kegencet.”

“SIiiip deh,” ucapku sambil mengusap-usap permukaan kemaluan Mamie yang licin plontos. Lalu menepuk-nepuknya. Kepala penisku pun kutepuk-tepukkan ke atas kelentit mamie, kemudian kuselipkan ke celah memeknya dan… blessss… melesak dengan lancarnya berkat lotion yang sudah Mamie gunakan.

Sepasang kaki Mamie kuangkat dan kuletakkan di sepasang bahuku. Lalu aku mulai mengentotnya.

Gara-gara sepasang paha mamie terangkat dan lipatan lipatan lututnya bertumpu di kedua bahuku, rasanya penisku bisa mengentotnya sedalam mungkin. Membuat Mamie terengah-engah dan berdesah-desah sambil menyebut-nyebut namaku.

“Aaaaa… aaaah… Saaam… aaaah… Saaam… mami sayang kamu Saaam… aaah… aaa… aaaah.. Saaam… ddduuuuuuh… kontolmu… nyundul-nyundul dasarnya terus Saam… ini enak sekali… Saaaam… aaaaahhhhh…”

Aku pun mengentotnya terus, sambil memijat-mijat paha Mamie, terkadang juga mengelus-elus perut Mamie sambil menggelitik pusar perutnya.

Mamie pun menggeliat-geliat dibuatnya.

Terkadang aku mengusap-usap telapak kakinya yang berada di dekat leherku, lalu menggaruknya perlahan. Mamie pun terkejut-kejut, “Saaam… geli Saaam… hihihihii! Geliiiii… jangan digelitik terus Sayang… gak tahan gelinya…”

Sepasang tanganku pun beraksi ke lain sasaran. Kedua tanganku ingin mencapai sepasang payudara Mamie, sehingga kedua pahanya menekuk ke atas, sementara kedua lututnya berada di kanan kiri payudaranya.

Kedua tanganku berhasil menggapai sepasang payudara Mamie. Sementara kedua pahanya yang mencuat ke atas sehingga sepasang olututnya hampir menyentuh payudaranya sendiri, justru membuat penisku bisa menggenjot liang kemaluan Mamie sedalam mungkin. Kedua tanganku pun mulai meremas sepasang payudara mamie yang beberapa bulan lagi akan mengucurkan ASI kalau tiada aral melintang.

Namun Mamie berkata, “Kalau bisa lepasin bareng-bareng lagi ya Sam… jangan terlalu lama… mamie udah dekat-dekat mau orgasme nih…”

Sebenarnya aku masih jauh dari ejakulasi. tapi karena Mamie memintaku untuk mencapai puncak kenikmatannya secara berbarengan, maka aku pun berpura-pura seolah akan ejakulasi (padahal masih jauuuh… !)

Kuayun batang kemaluanku dengan gerakan yang cepat… cepat sekali… dan ketika Mami terkejang-kejang, kubenamkan penisku sedalam mungkin, tanpa kugerakkan lagi. Lalu aku bersandiwara, sebagaimana lazimnya lelaki pada waktu sedang berejakulasi.

Aku mengejut-ngejutkan penis sambil berdengus-dengus… uuuughhhh-uuughhhhh…!

Mamie tampak puas. Aku pun buru-buru mencabut penisku dan bergegas menuju kamar mandi, untuk mencuci penisku yang sebenarnya belum ejakulasi.

Biarlah, demi Mamie aku berpura-pura ejakulasi barusan. Kalau aku belum merasa puas kan ada… Tante Ken.

Setelah Mamie pulang dan nyetir sendiri, yang kuingat cuma satu. Tante Ken.

Karena nafsuku masih terbendung. Belum tersalurkan. Malah seolah belum ngapa-ngapain dengan Mamie tadi.

Maka bergegas aku menuju dapur, karena tadi kelihatan Tante Ken pergi ke dapur setelah mobil Mamie meninggalkan pekarangan.

Memang benar. Tante Ken sedang mencuci gelas dan mangkok-mangkok bekas Mamie dan Tante Ken sendiri tadi.

Dengan tak sabaran, kusergap Tante Ken dari belakang, dengan pelukan erat yang penuh nafsu. Kemudian merayapkan tanganku ke belahan kimono Tante Ken. Dan menyelinapkannya ke balik celana dalamnya. Sampai menyentuh kemaluannya yang tembem dan selalu mendatangkan gairahku.

“Sam… kenapa? Tadi udah dikasih sama Mamie kan?” tanya Tante Ken tanpa menoleh ke belakang.

“Cuma dikasih seupil, banyak aturan pula. Gak boleh gencet perutnya lah, gak boleh jilatin memeknya lah… sama juga bo’ong,” sahutku sambil menyelinapkan jariku ke celah memek Tante Ken yang langsung membasah hangat.

“Sabar dulu Sayang. Tante kan lagi nyuci gelas-gelas dan mangkok-mangkok ini.”

Sebagai jawaban, jemariku malah mencari-cari kelentit Tante Ken. Setelah ketemu, kugesek-gesek kelentit itu dengan jemariku, sambil berkata, “Nanti lagi cuci-cucinya dong Tante. Udah kebelet nih, pengen ngentot memek Tante…”

Akhirnya Tante Ken mengalah. Mencuci tangannya, lalu meninggalkan cuciannya, menuju kamarnya. Aku mengikutinya dari belakang, dengan tangan tetap menggerayangi kemaluannya. Ngocoks.com

Setibanya di kamar, Tante Ken menanggalkan kimono, celana dalam dan behanya, lalu menungging di atas tempat tidurnya. Aku pun menanggalkan segala yang melekat di tubuhku sampai telanjang seperti kakak Mamie yang tinggi montok itu.

“Jangan doggy terus Tante. Celentang aja ah… pantat Tante masih babak belur gitu bekas kemaren, “protesku, “Lagian kalau doggy, aku gak bisa ciumin bibir dan ngemut toket Tante.”

Tante Ken mengalah lagi. Lalu celentang, dengan sepasang paha direntangkan selebar-lebarnya. Sambil tersenyum dan berkata, “Punya calon mantu kok banyak complainnya sama calon mertua…”

“Biar sudah menikah dengan Frida juga, aku tak mau kehilangan Tante,” sahutku sambil mengangakan memek Tante Ken selebar mungkin, sehingga bagian dalamnya yang pink itu seolah menantang untuk segera digasak oleh lidahku.

Lalu… dengan rakusnya kujilati bagian dalam memek Tante Ken itu.

“Tante juga gak mau kehilangan kamu,” sahut Tante Ken sambil mengusap-usap rambutku, “Karena gairah hidup tante jadi bangkit lagi setelah kamu hadir di sini…”

Aku tak bisa menjawab, karena mulutku sedang “terbenam” di memek Tante Ken. Sedang memusatkan jilatanku pada kelentitnya, yang kuyakini akan cepat membuat liang memeknya basah kuyup.

Akhirnya aku merasa sudah tiba waktunya untuk penetrasi. Karena liang memek Tante Ken sudah sangat basah. Maka dengan nafsu menggebu-gebu kudorong batang kemaluanku sekuat tenaga. Dan… bleesssssskkkkk… langsung terbenam seluruhnya! Membuat mata sipit Tante Ken terpejam erat-erat dengan mulut ternganga.

Aku pun menghempaskan dadaku ke atas dada Tante Ken, lalu mulai mengayun penisku sambil mencium bibir sensualnya. Sementara tangan kananku bisa meremas toket kirinya sepuasnya. Bahkan Tante Ken selalu senang kalau aku meremasnya sekuat mungkin.

Mungkin dahulu almarhum suaminya selalu memperlakukannya dengan keras. Sehingga akhirnya Tante Ken terbiasa dengan perlakuan keras dalam setiap berhubungan sex. Bahkan kemudian dia jadi ketagihan untuk diperlakukan secara keras (hardcore).

Memang meski Tante Ken itu kakak kandung Mamie, lain cara Tante Ken lain pula cara Mamie. Tapi aku tetap bisa menyesuaikan diri. Aku terbiasa memperlakukan Tante Ken secara keras, tapi manakala berhadapan dengan Mamie, aku akan tetap memperlakukannya selembut dan seromantis mungkin.

Dan kini, ketika aku mulai lancar mengentot memek Tante Ken, aku tidak sekadar meremas-remas toketnya dengan remasan kuat. Tapi juga mengigit-gigit toket montok itu dengan kuat. Bahkan Tante Ken ingin agar toketnya digigit sampai berdarah. Tapi aku tak mau sampai mengeluarkan darah segala, karena aku bukan Dracula.

Begitu pula waktu menjilati leher Tante Ken, aku sering diminta agar menggigit lehernya sampai berdarah. Tapi aku tak mau juga melakukan hal itu. Aku hanya menggigitnya agak kuat, sampai menimbulkan baret-baret kecil di lehernya.

Diperlakukan secara keras begini, Tante Ken cepat mencapai orgasmenya. Bahkan menurutku terlalu cepat, karena aku merasa masih jauh dari ejakulasiku. Namun sengaja kubiarkan penisku menancap di liang memeknya, tanpa kugerakkan. Sambil menciumi bibirnya dengan nafsu yang masih bergejolak.

“Kontolmu kegedean Sam. Makanya tante cepat lepas,” ucapnya lirih.

“Kalau perempuan sih cepat meletus juga gak apa-apa Tante. Malah bisa berkali-kali orgasme kan?”

“Iya… jauh beda dengan ayahnya Frida almarhum. Dia sih paling lama seperempat jam udah ngecrot. Makanya tante saelalu berusaha lepas sebelum dia ngecrot. Lagian kontolnya gak segagah kontolmu ini.”

“Tapi Tante selalu puas kan pada waktu kusetubuhi?”

“Iya… sangat-sangat puas, Sayang. Kebayang kalau kamu udah jadi suami Frida nanti. Pasti kita harus sembunyi-sembunyi melakukannya. Jangan sampai Frida tahu.”

“Soal itu sih bisa kita atur nanti Tante,” sahutku sambil mengayun kembali batang kemaluanku. Bermaju mundur di dalam liang memek Tante Ken yang empuk tapi legit ini.

Tante Ken pun tampak bergairah lagi. Bahkan pantat gedenya mulai bergoyang-goyang menanggapi entotan batang kemaluanku.

Aku pun mulai asyik meremas-remas toket gede Tante Ken, sambil menjilati dan menggigit-gigit ketiaknya yang beraroma merangsang. Ketiaknya natural, tidak dikasih deodorant. Tapi harum seperti aroma kayu cendana. Sehingga aku jadi ketagihan untuk menjilati dan menggigiti ketiak Tante Ken ini.

Lama sekali aku menyetubuhi calon mertuaku ini. Sehingga tubuhku mulai bersimbah peluh. Barcampur aduk dengan keringat Tante Ken.

Dan lagi-lagi Tante Ken berkelojotan, lalu mengejang di puncak orgasmenya. Tapi aku sudah tak peduli lagi. Aku sedang menikmati enaknya mengentot memek tembem ini. Dan tak mau menghentikannya sedetik pun.

Bahkan makin lama entotanku makin menggila. Sehingga Tante Ken merintih dan merintih terus. “Saaam… duuuuh Saaaam… kontolmu kok enak banget Saaaaam… ooooh Saaam… Saaaaam… aaaaaa… aaaaah Saaaam… tante udah mau lepas lagi Saaaam…”

Kali ini aku bertekad untuk mencapai puncak kenikmatan secara berbarengan. Karena itu kugenjot kontolku seganas mungkin. Sampai akhirnya… ketika Tante Ken sedang mengejang dengan perut sedikit tgerangkat ke atas… kubenamkan penisku sedalam mungkin…

Lalu kami seperti manusia yang sedang kesurupan. Saling remas dengan kuatnya, seolah ingin saling meremukkan… dan liang memek Tante Ken berkedut-kedut lagi… kali ini ditanggapi dengan kejutan-kejutan batang kemaluanku yang tengah memancarkan sperma di dalam liang memek Tante Ken.

Croooot… crooot… crot… crot… crooooootttttt… croooooottttt…!

Lalu aku terkapar di atas perut tante Ken, dengan tubuh bermandikan keringat.

Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku terperanjat dan mencabut batang kemaluanku dari memek Tante Ken. Lalu mengambil hape dari saku celana jeansku.

Ternyata call dari… Papa!

Lalu :

“Hallo Sam! Mamie masih bersamamu?”

“Barusan aja pulang Pap.”

“Katanya Mamie mau menghadiahkan hotel untukmu. Betul Sam?”

“Betul Pap. Mamie baik banget padaku.”

“Iya… makanya pandai-pandailah kamu membawa diri nanti. Kamu pun harus berjuang untuk mengembangkan hotel itu.”

“Iya Pap. Tapi hotel itu mungkin baru akan dibuka enam bulan lagi.”

“Kenapa?”

“Kan di depannya mau dibangun gedung convention hall dulu. Butuh waktu empat bulanan, kata Mamie. Selain daripada itu, lima bulan lagi kuliahku selesai, kalau lulus Pap. Mohon doanya aja agar aku lulus dengan cumlaude ya Pap.”

“Haaa?! Secepat itu kamu menyelesaikan kuliahmu.”

“Iya Pap. Kan Papa sendiri pernah bilang, kalau bisa dipercepat, kenapa harus diperlambat?”

“Hahahaaa… papa memang tau kamu itu ulet dan cerdas. Semoga kamu berhasil mencapai cita-citamu ya.”

“Amiiin…”

“Tapi kamu sudah sidang belum?”

“Dua minggu lagi Pap. Kalau lulus, lima bulan lagi diwisuda.”

“Owh… ya udah. Papa doakan semoga kamu lulus dengan summa cumlaude ya.”

“Amiiin… !”

“Papa sekalian mau ucapkan terima kasih padamu Sam.”

“Terima kasih untuk apa?!” tanmyaku heran.

“Karena mamie sudah hamil. Berarti rumah tangga papa dengan Mamie bakal langgeng. Biaya untuk kehidupan Mama dan saudara-saudaramu juga bakal mengalir terus.”

Aku terlongong sendiri. Berarti Papa menikahi Mamie itu berdasarkan ekonomi keluarga. Bukan berdasarkan cinta. Sementara Mamie pun menikah dengan Papa berdasarkan keyakinannya bahwa Papa bisa dipercaya dan akan mampu mengembangkan perusahaan, bukan berdasarkan cinta. Tapi biarlah, apa pun latar belakang perkawinan Papa dengan Mamie, bukan urusanku.

Apa pun latar belakang perkawinan Papa dengan Mamie, yang penting aku bisa menikmati tubuh Mamie dengan leluasa kapan dan di mana pun aku mau. Bahkan di depan mata Papa pun takkan jadi masalah. Tapi aku tak mau melakukannya di depan Papa. karena biar bagaimana pun aku harus punya tenggang rasa kepada ayah kandung yang sangat menyayangiku itu…

Hari Minggu yang menegangkan itu pun tiba. Menegangkan, karena aku akan dipertemukan dengan putri Tante Ken yang bernama Frida yang akan dijadikan calon istriku itu. Ngocoks.com

Sehari sebelumnya, Papa memberikan sebentuk cincin permata berlian padaku sambil berkata, “Sebenarnya di dalam agama kita tidak mengenal tukar cincin. Tapi kalau sudah jelas Frida bersedia dijadikan calon istrimu, pasangkanlah cincin ini di jari manis kirinya, sebagai tanda keseriusanmu saja padanya.

Menurut rencana, jam 10.00 pagi Frida akan tiba di rumah Mamie. Dan aku disarankan untuk datang pada jam 11.00. Mungkin karena Mamie dan Tante Ken akan merundingkan segala sesuatunya dulu dengan Frida.

Dan jam 11.00 tepat aku sudah tiba di rumah utama Mamie.

Mamie sendiri yang menyongsong kedatanganku di pintu depan rumah megahnya.

“Sudah datang Mam?” tanyaku.

“Sudah, “Mamie mangangguk dengan senyum yang selalu saja meluluhkan hatiku, “Jam setengah sepuluh juga dia sudah datang.”

Lalu aku diajak masuk ke ruang keluarga, di mana Papa dan Tante Ken sudah menunggu. Kemudian muncullah seorang gadis berkulit putih bersih dan berperawakan tinggi semampai, mengenakan gaun terusan berwarna orange. Aduh maaak… memang benar kata Mamie. Cewek itu pasti Frida. Dan Frida itu… sangat cantik!

Aku disuruh berkenalan dulu dengan anak Tante Ken itu, sambil menyebutkan nama masing-masing.

“Sammy…”

“Frida…”

Kemudian aku diminta untuk duduk berdampingan di sofa.

Dan Papa mulai bicara, “Kita singkatkan saja acaranya ya. Mmm… Frida… Sammy itu anakku yang bermaksud menjadikanmu sebagai calon istrinya. Apakah Frida bersedia menerima keinginannya?”

Frida menoleh padaku dengan senyum. Lalu menjawab jelas, “Bersedia, Oom…”

Papa, Mamie dan Tante Ken spontan bertepuk tangan.

Aku dan Frida pun ikut bertepuk tangan.

Lalu Papa berkata padaku, “Sekarang perlihatkanlah keseriusanmu Sam.”

Aku mengangguk dan berdiri menghadap ke arah Frida yang masih duduk di sofa. Kemudian aku berlutut di depan Frida sambil mengeluarkan kotak cincin permata berlian itu. Memegang tangan kiri Frida dan memasangkan cincin permata berlian itu di jari manisnya, sambil berkata, “Ini sebagai tanda keseriusanku untuk menjadikan Frida sebagai calon istriku.

Frida cuma mengangguk sambil tersenyum manis.

Papa, Mamie dan Tante Ken bertepuk tangan lagi.

Kemudian kami semua makan bersama di ruang makan. Memang tidak ada orang luar yang hadir, karena acaranya juga cuma saling meyakinkan saja buat pihak Frida danb pihakku.

Selesai makan bersama Mamie berkata kepadaku, “Kalau mau saling mengakrabkan, kalian ke lantai dua aja gih. Atau kalau mau, ajak Frida jalan-jalan sana Sam. Biar lebih akrab.”

“Iya Mam. Aku mau ngajak Frida jalan aja. Mumpung masih siang,” sahutku.

“Tapi aku mau ganti pakaian dulu ya. Mau pakai celana panjang aja, biar gak ribet,” kata Frida setengah berbisik padaku.

Aku pun mengangguk. Lalu duduk kembali di sofa ruang keluarga, sambil menunggu Frida ganti pakaian.

Tak lama kemudian Frida muncul kembali. Dengan mengenakan celana corduroy dan baju kaus youcansee yang sama-sama berwarna biru tua. Batinku berdecak kagum lagi. Dalam pakaian casual begitu pun Frida tetap tampak cantik sekali. Tak salah Mamie menjodohkanku dengan keponakannya itu.

Namun diam-diam aku berpikir bahwa Mamie memasang strategi, agar tetap bisa memilikiku. Dengan menyimpanku di Rumah Cinta itu, agar ada yang mengawasiku, yakni Tante Ken. Mamie pun mengizinkanku untuk menggauli Tante Ken, agar kakak Mamie itu lebih ketat mengawasiku. Dan sekarang Mamie menjodohkanku dengan keponakannya sendiri, agar aku tidak “jatuh ke tangan orang luar”.

Tapi aku tidak keberatan untuk “dsiikat” oleh Mamie dengan segala strateginya. Karena aku sudah merasakan effek positif dari strateginya itu, terutama dalam menata masa depanku.

Beberapa saat kemudian Frida sudah duduk di samping kiriku, di dalam mobil yang sedang kukemudikan.

“Aku harus manggil apa ya sama Sam?” tanya Frida pada suatu saat.

“Saling panggil nama aja. Umur kita kan cuma beda setahun. Umurku sekarang hampir duapuluh,” sahutku.

“Umurku menjelang sembilanbelas tahun.”

“Dekat sekali perbedaannya kan? Saling panggil nama aja.”

“Gak enak ah. Nanti kalau kita sudah menikah, masa manggil nama sama suami? Aku akan manggil Bang aja ya.”

“Ya terserah. Terus aku manggil Dek gitu?”

“Nggak usah. Panggil namaku aja.”

“Ohya… tadi Frida langsung menerima sebagai calon istriku. Apa dasarnya?”

“Tadinya aku hanya ingin patuh kepada Tante Yun aja. Soalnya sejak kecil biaya pendidikanku ditanggung oleh beliau. Belum lagi uang jajan yang ditransfernya tiap bulan. Jadi aku merasa berhutang budi padanya.”

“Hanya karena ingin mengikuti keinginan tantemu aja?”

“Jangan potong dulu dong. Aku kan belum selesai ngomong. Barusan aku memulai ucapanku dengan kata TADINYA. Berarti itu awalnya. Mmm… Tante Yun juga pernah mengirimi foto-foto Bang Sam lewat WA. Jujur pada saat itu aku sudah punya ketertarikan setelah melihat foto-foto Abang. Dan setelah berjumpa, ternyata Bang Sam lebih ganteng daripada di foto-foto itu.

“Jadi?”

“Ya gitu deh. Mungkin ini yang orang bilang… fall in love at first sight.”

“Syukurlah kalau gitu. Berarti aku gak salah pilih,” kataku sambil memegang tangan kanan Frida yang berada di sebelah kiriku, “Jadi aku layak manggil beib padamu ya?”

“Iya… seneng dengarnya juga. Percaya nggak? Aku baru sekali ini loh jatuh cinta.”

“Masa sih?!”

“Sumpah. Aku sering dinasehati sama Mama dan Tante Yun. Jangan begini, jangan begitu. Makanya aku bertekad takkan pacaran sebelum pendidikanku tuntas.”

“Wow…! Berarti Frida masih virgin dong.”

“Pasti… dijamin soal itu sih. Boro-boro ngelepasin virgin. Ciuman bibir aja belum pernah. Waktu di SMA ada cowok nyolong-nyolong cium pipi, wah… kukejar dia… kugebukin pake penggaris!”

“Tapi kalau aku sih boleh kan cium bibirmu?”

“Bang Sam tentu beda lah. Tadi kita kan sudah ikrar bakal menjadi suami istri.”

“Jadi aku boleh mencium bibirmu yang sensual itu?” tanyaku pas berhenti di depan lampu merah.

Frida menatapku. Lalu mengangguk perlahan.

“Terima kasih Beib. Nanti akan kucium bibirmu kalau kita sudah berada di dalam suasana yang tepat.”

“Kita kok langsung dekat gini ya?”

“Kan memang sebenarnya kita ini keluarga dekat. Ibumu dan ibu sambungku kan kakak-adik kandung. Jadi gak ada yang aneh kalau kita langsung dekat gini.

“Iya, “Frida mengangguk.

Beberapa saat kemudian mobilku tiba di pelataran parkir hotel yang Mamie hadiahkan untukku.

“Ini hotel? Kok kelihatan sepi sekali?” tanya Frida yang mau turun dari mobilku.

“Tentu saja sepi, karena baru akan dibuka enam bulan lagi.”

“Ooo… pantesan sepi sekali.”

Sesaat kemudian seorang satpam menghampiriku, satpam yang tempo hari menyambut kedatangan Mamie dan aku.

“Oooh… selamat siang Boss. Maaf… kirain bukan Boss yang datang.”

Aku cuma mengangguk dan tersenyum ramah. Lalu melangkah ke arah lobby.

“Kok dia manggil boss ke Bang Sam?”

“Ya wajar aja. Hotel ini kan punyaku.”

“Ohya?! Hebat sekali. Masih kuliah sudah punya hotel segala.”

“Sttt… hadiah dari Mamie, sebagai ungkapan kebahagiaannya pada waktu dokter menyatakan Mamie hamil.”

“Tante Yunita memang baik hati sih. Makanya aku gak berani melanggar aturan yang sudah ditetapkannya. Ohya… lalu kenapa hotel ini baru mau dibuka enam bulan lagi?”

“Karena di depan akan dibangun gedung convention hall, yang bisa disewa untuk resepsi pernikahan, rapat-rapat dan sebagainya. Selain daripada itu, aku masih konsen ke sidang yang akan kuhadapi. Kalau lulus, lima bulan lagi aku akan diwisuda.”

“Wuiiih… gila… cepat banget?!”

“Tiga tahun sih gak termasuk cepat. Ada yang kurang dari tiga tahun. Ohya… bagaimana dengan kuliahmu?”

“Masih jauh Bang. Baru juga semester dua.”

“Katanya kamu kuliah di fakultas ekonomi juga ya. Ambil jurusan apa?”

“Marketing.”

“Wah… bagus tuh. Tapi bagusnya sih kamu pindah kuliah ke sini aja. Ngapain jauh-jauh kuliah di Jakarta? Di sini juga banyak universitas unggulan kok.”

“Dulu kan Tante Yun yang ngatur semuanya itu.”

“Maksudku begini… kalau gedung convention hall-nya sudah selesai dibangun, kita menikah aja. Jadi nanti kita yang akan pertama kali memakai convention hall itu. Lalu kuliahmu pindah ke sini aja. Biar aku punya tangan kanan untuk mengelola hotel ini.”

“Lalu kuliahku gimana?”

“Pindah aja ke sini.”

“Biasanya kalau pindah begitu, harus mengulang dari semester pertama lagi.”

“Biar aja, terbuang dua semester gak apa-apa. Yang penting aku ingin dekat selalu denganmu Beib.”

“Tante Yun gimana? Ngijinin gak nanti?”

“Pasti ngijinin deh. Biar aku yang ngomong sama Mamie nanti,” kataku sambil melingkarkan lenganku di pinggang Frida.

Frida pun merapatkan duduknya ke sisiku. “Ya udah… terserah Abang aja bagaimana baiknya. Yang penting jangan bikin Tante Yun marah.”

“Nanti kalau kita sudah menikah, kamu harus manggil Mamie lho… jangan manggil Tante Yun lagi,” kataku.

“Bang Sam juga harus manggil Mama ke mamaku. Jangan manggil Tante Ken lagi,” sahut Frida.

Pada saat itulah aku bergerak. Mengepit kedua sisi pipinya dengan kedua telapak tanganku. Hmmm… memang cantik sekali Frida ini. Beruntung aku dijodohkan dengan cewek secantik ini.

Di kampusku juga banyak mahasiswi yang cantik. Tapi menurutku, tiada yang secantik Frida ini.

Dan ketika bibirku memagut bibir Frida, terasa ia agak mengejut. Tapi lalu terdiam pasrah ketika aku mulai melumat bibirnya yang sensual itu. Bahkan sesaat kemudian ia merengkuh leherku ke dalam pelukannya.

Sebenarnya diam-diam birahiku memuncak, mungkin karena sudah terbiasa main ekse dengan perempuan-perempuan yang sudah berpengalaman. Tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, agar jangan timbul kesan kalau aku ini cowok brengsek.

Namun tak urung setelah ciuman dan lumatan kulepaskan, aku berbisik ke telinga Frida. “Kalau sudah jadi istriku sih bukan cuma bibir atas yang akan kulumat. Bibir bawah juga akan kujilati dan kuisep-isep.”

Frida terhenyak. Menatapku dengan bola mata bergoyang. Lalu menyahut perlahan, “Kalau sudah menikah sih aku kan jadi milik Abang. Apa pun yang mau Abang lakukan, aku takkan pernah menolaknya. Tapi sekarang ini… aku berani bersumpah… baru pertama tadi aku merasakan bibirku dicium cowok, Bang.”

Aku tersenyum. Dan berusaha untuk bersikap sebagai cowok yang “bijak”. Padahal si dede sudah ngaceng berat di balik celanaku.

Nanti harus kusalurkan. Entah ke memek siapa. yang jelas bukan ke memek Frida yang aku belum tahu bentuknya seperti apa.

Biarlah Frida tetap perawan sampai dia sah menjadi istriku.

Lalu Frida kuajak berkeliling hotel, agar dia bersemangat untuk membantuku mengelola hotel ini nanti.

Tampaknya Frida senang sekali melihat beberapa keistimewaan hotelku. Terlebih setelah melihat kolam renang yang dikelilingi oleh taman itu.

“Kolam renang ini memang masih kering, karena untuk membeningkan airnya juga perlu biaya. Tapi nanti setelah hotel ini dibuka kembali, pasti kolam renangnya akan diisi air lagi.”

“Iya, “Frida mengangguk-angguk, “Hotel ini tergolong hotel bnerbintang bukan?”

“Mungkin bisa disebut hotel melati tiga, tapi fasilitasnya bintang satu atau dua.”

“Kan banyak juga hotel yang tidak bertingkat tapi tarifnya sama dengan hotel bintang lima.”

“Untuk promosi, aku akan menetapkan tarif yang murah-murah saja. Yang penting kamarnya selalu full, terutama di hari-hari weekend.”

“Kalau sudah ada modalnya, dibikin jadi hotel five star juga bisa ya.”

“Iya. Tapi aku belum mikir ke arah sana. Hotel bintang lima itu banyak aturan mainnya. Belum lagi pajaknya, gede sekali. Mending melati tiga aja dulu. Yang penting rame terus.”

Beberapa saat kemudian, Frida sudah berada di dalam mobilku lagi. Tidak sempat ke mana-mana lagi. Karena sore nanti Frida mau pulang ke Jakarta. Besok ada ujian, katanya. Ngocoks.com

Kepada Mamie, aku menyampaikan rencanaku, untuk memindahkan kuliah Frida ke kota kami, sekaligus untuk membantuku mengelola hotel itu. Aku juga menyampaikan hasrat untuk menikahi Frida sebelum aku diwisuda nanti. Itu pun jika Mamie setuju. Aku takkan berani memaksa kalau Mamie tidak setuju.

Untungnya Mamie menyambut keinginanku dengan sorot senang. Bahkan Mamie berkata padaku, “Kalau mau pindah kuliah ke sini, Frida tinggal bersamamu aja di rumahmu. Gak usah ngurus apa-apa lagi di Jakarta. Kan biar bagaimana juga pasti harus mengulang dari semester pertama lagi di sini.”

Mamie menyebut Rumah Cinta itu sebagai “rumahmu”. Apakah rumah itu pun akan dihadiahkan padaku?

Frida setuju saja pada keinginan Mamie untuk langsung pindah ke Rumah Cinta. Dia hanya minta izin untuk mengambil barang-barangnya dulu yang masih tertinggal di Jakarta.

Mamie menjawab, “Kalau begitu, Sam aja yang antarkan Frida ke Jakarta. Pakaian dan barang-barang Frida kan banyak. Kasihan kalau dia harus pakai kendaraan umum. “Siap Mam,” sahutku yang tak pernah menolak perintah Mamie.

Beberapa saat berikutnya, Frida sudah berada di dalam mobilku lagi. Tanpa mengganti pakaiannya. Karena malas buka-buka lagi tasnya yang sudah dirapikan, katanya.

“Minggu sore gini, biasanya jalan menuju Jakarta macet,” kataku.

“Santai aja Bang. Aku gak dikejar waktu lagi. Besok gak akan ikut ujian. Kan kata Tante Yun juga tinggalin aja kampusku yang di Jakarta, karena kalau pindah ke kampus lain pasti harus mengulang dari awal lagi,” sahutnya.

“Gak ada penyesalan waktumu dibuang setahun?” tanyaku.

“Nggak. Kan ada tujuan yang lebih penting.”

“Apa tuh yang penting?”

“Karena kita bakal saling memiliki,” sahutnya yang disusul dengan ciuman di pipi kiriku.

Jujur, ada getaran kuat di batinku. Apakah aku mulai mencintainya? Bukankah aku sudah menyatakan bahwa cintaku hanya untuk Mamie seorang?

Ah, entahlah. Mungkin aku akan mengikuti aliran batinku saja. Karena semuanya ini Mamie yang mengaturnya. Lagian, bukankah kodrat lelaki bisa mencintai perempuan lebih dari seorang?

“Kenapa gak pakai tol?” tanya Frida pada suatu saat.

“Tol macet sekali. Lihat aja di waze tuh… merahnya panjang…” sahutku sambil menyerahkan hapeku.

“Oooh iya ya. Kalau jalan biasa ini macet juga istirahat aja dulu.”

“Kalau macet, kita rehat di hotel atau villa aja ya.”

“Terserah gimana baiknya aja menurut Bang Sam.”

Memang di jalan biasa pun makin lama makin padat dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Bahkan akhirnya macet. Hanya bisa bergerak sedikit demi sedikit.

Sehingga akhirnya kubelokkan mobilku ke kompleks villa yang suka disewakan.

“Mau istirahat di villa?” tanya Frida.

“Iya. Besok pagi aja kita lanjutkan. Gak apa-apa kan?”

“Gak apa-apa. Waaah… banyak orang arab di sini ya?”

“Iya. Mereka kalau sudah jauh dari negaranya, kayak kuda lepas dari istal.”

“Istal itu apa?”

“Kandang kuda.”

Lalu mobil kubelokkan ke depan villa yang ditunjuk oleh seorang lelaki berpakaian serba hitam seperti seragam security. Villa itu memang direntalkan seperti hotel. Tarifnya pun tidak seberapa mahal.

Villa itu tidak besar. Kamarnya pun hanya satu. Tapi yang lainnya lengkap semua. Ada ruang tamu, ruang makan dan dapur. Kamar mandinya pun dilengkapi dengan water heater. Semuanya tampak bersih dan terawat. Pakai AC pula, meski udara di sekitar kompleks villa itu dingin sekali.

Setelah menerima uang dariku, lelaki berpakaian serba hitam itu mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan kami berdua.

Begitu pintu villa ditutup dan dikunci, aku menghampiri frida yang tengah membuka tas pakaiannya. Kupeluk badannya dari belakang, “Mandi yuk,” bisikku.

“Mandi bareng?” tanyanya tanpa menoleh ke belakang.

“Iya. Kenapa memangnya?”

“Nggak. Cum… aku belum pernah mandi sama cowok.”

“Aku kan calon suamimu Beib.”

“Hihihii… malu ah… kalau mandi kan harus telanjang di depan Abang.”

“Kan nantinya juga pasti harus sering telanjang di depanku. Kenapa malu? Banyak bekas kudis dan panu di badannya?”

“Amit-amit…! Tubuhku sih mulus Bang. Gak ada noda setitik pun.”

“Iya… nanti kita buktikan di kamar mandi. Ayooo…” kataku sambil meraih pergelangan tangan Frida menuju kamar mandi.

“Kita kan belum mandi sore. Makanya sebelum tidur harus mandi dulu, biar nyenyak tidurnya nanti,” kataku sambil mengamati Frida yang masih mengenakan celana corduroy dan blouse youcansee yang sama-sama berwarna biru tua itu, “Perlu kubantu bukain pakaiannya?”

Frida tertunduk sambil menyahut, “Silakan aja kalau mau sih.”

Aku tersenyum dalam kemenangan…!

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Berlanjut Bersambung Cantik Ibu Kandung Ibu Muda Keluarga Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Petualangan Sedarah Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKeluarga Pak Trisno
Next Article Petualangan Rikku
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Siasat Paras Elok

    9.7

    Manajer Perusahaan Multinasional

    9.6

    Derita Miranda

    9.7

    Pelacurku Bekas Penyanyi

    9.7

    Terapi Akupuntur

    9.6

    Rumah Kontrakan

    Follow Facebook

    Recent Post

    Siasat Paras Elok

    Manajer Perusahaan Multinasional

    Derita Miranda

    Pelacurku Bekas Penyanyi

    Terapi Akupuntur

    Rumah Kontrakan

    Petualangan Rikku

    Rumah Kami Surga Kami

    Keluarga Pak Trisno

    Tragedi Malam Pengantin

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.