Baru beberapa saat aku berpisah dengan Rima dan Mbak Ita, handphoneku berdering. Ternyata Mamie yang nelepon. Mamie yang sudah sangat kurindukan. Lalu :
“Hallo Mamie tercinta… !”
“Lagi di mana Sayang?”
“Lagi di mall Mam.”
“Ngapain di mall?”
“Nyari baju kaus buat olah raga,” sahutku berbohong, “Pasti ada kabar baik nih. Mamie sudah bersih kan?”
“Iya sudah bersih sejak kemaren. Tapi terkadang suka ada flek sesudahnya. Jadi biar aman, mendingan besok aja ketemuannya ya Sayang.”
“Mamie mau datang ke Rumah Cinta?”
“Kayaknya mending di rumah mamie aja Sayang. Besok pagi Papa mau terbang ke Surabaya. Jadi kita bebas selama tiga hari.”
“Siap Mam. Besok siang aku akan merapat ke rumah Mamie.”
“Iya. Mamie udah sangat kangeeeen sama kamu.”
“Sama, aku juga kangen banget sama Mamie.”
“Ya udah. Sampai jumpa besok siang ya.”
“Iya Mam. Paginya aku kuliah dulu. Mungkin sekitar jam dua siang aku tiba di rumah Mamie.”
Dan… baru saja kututup hubungan seluler dengan Mamie, datang WA dari Rima yang mungkin sudah pisah dengan Mbak Ita. Isinya :
-Terima kasih buat keindahan yang sudah terjadi, yang akan kuingat sepanjang masa-
Kubalas*- Sama-sama. Udah pisah sama Mbak Ita?-*
-Udah. Btw kalau aku kangen nanti gimana?-
_
-Kirim WA aja seperti sekarang. Kalau gak sibuk pasti aku datang. Btw Mbak Ita mau diajak lagi nggak?-
-Jangan dulu. Aku ingin konsen berduaan aja denganmu. Ingin merasakan indahnya mendapatkan cowok ganteng dan macho seperti kamu-
-Ya udah. Mudah-mudahan aja aku bisa nyelip di antara kesibukanku nanti-
_
Aku tersenyum sendiri setelah memasukkan hape ke dalam saku jaket kulitku. Ada beberapa sosok yang akan membuatku “sibuk” di hari-hari mendatang. Ada Mamie, ada Tante Ken, ada Mbak Ayu, ada Mama, ada Tante Fenti, ada Mbak Ita dan kini ada pula Rima. Sosok baru yang kelihatannya sudah jatuh hati padaku.
Memang aku mulai kebanjiran perempuan… kebanjiran memek…!
Tapi kalau aku ditanya siapa yang paling wajib kuutamakan, jawabannya pasti Mamie. Karena Mamie bukan sekadar cantik dan kaya raya, tapi juga karena aku “mengemban tugas” dari Papa tercinta dan terhormat!
Karena itu, sekali pun dihampiri oleh bidadari dari kahyangan, aku tetap akan mengutamakan Mamie di atas segalanya.
Esoknya aku membekal tas pakaian di dalam mobilku. Takut kalau Mamie memintaku tidur di rumah utamanya. Lalu aku kuliah dulu sampai jam 13.30. Setelah selesai kuliah, dari kampus aku langsung menuju rumah Mamie.
Di depan pintu gerbang rumah utama Mamie, seorang satpam menghampiri mobilku. Mungkin dia belum kenal dengam mobilku, karena belum pernah dipakai ke rumha utama Mamie. Tapi setelah melihatku di samping jendela mobil yang kubuka, satpam itu terkejut. “Duh maaf Boss, Saya sangka siapa. Silakan…” ucapnya sambil membuka pintu gerbang yang terbuat dari besi.
Aku pun memasukkan mobilku, langsung ke depan garasi yang tertutup. Lalu turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah yang sangat megah tapi sunyi sekali itu. Meski ada beberapa orang pembantu, mereka bicaranya setengah berbisik. Mungkin karena Mamie tidak suka suara-suara yang keras, yang bisa memecahkan konsentrasi pemikiran bisnisnya.
Mamie menyambut kedatanganku dengan kedua tangan terbuka. Membuatku terlongong. Karena siang itu Mamie kelihatan cantik sekali. Andaikan aku harus menikahinya pun aku bersedia. Tapi menurut keterangan para ahli agama, aku takkan pernah bisa menikahi wanita yang pernah jadi istri ayahku. Jadi, seandainya Mamie bercerai dengan Papa pun, aku takkan pernah bisa menikahinya.
Seperti biasa, kucium tangan Mamie. Lalu cipika-cipiki. DIlanjutkan dengan saling peluk erat-erat dan saling lumat bibir dengan hangatnya.
Lalu terdengar suara Mamie di dekat telingaku. “Mamie sudah kangen sekali sama kamu, Sayang…”
“Sama Mam,” sahutku sambil merapatkan pipiku dengan pipi mamie yang hangat dan harum parfum import, “Bahkan di dalam mimpi-mimpi pun wajah Mamie sering hadir.”
Mamie menatapku dengan senyum manisnya yang menggetarkan batinku. Lalu mengajakku naik ke lantai dua.
Di lantai dua ini ada semacam suite room seperti di hotel-hotel five star. Di suite room itu terdapat chat room (ruang obrolan/cengkerama), meeting room ruang rapat), dining room (ruang makan), living room (ruang tamu), bedroom (ruang/kamar tidur) yang lengkap dan sebagainya.
Semuanya itu hanya bisa aktif kalau pemiliknya sudah memasukkan electronic keycard.
Seperti di hotel-hotel berbintang di kotaku, tak ada lagi yang namanya kunci logam. Semuanya sudah menggunakan electronic keycard. Karena itu kita boleh berbangga, karena sejak tahun 2000 hotel-hotel five star di negara kita sudah menggunakan electronic keycard. Sementara di Kamboja, sampai detik ini masih menggunakan kunci putar.
Mamie yang saat itu mengenakan blouse dan spanrok mini serba putih, tampak elegant sekali di mataku. Dan Mamie mengajakku duduk di chat room.
“Tante Ken sudah kamu gauli ya?” tanya Mamie sambil menepuk lututku.
Aku mengangguk salting, “Aku hanya mengikuti anjuran Mamie,” sahutku.
“Nggak apa-apa. Mamie justru merasa kasian pada satu-satunya kakak mamie itu. Sudah belasan tahun dia hidup menjanda. Pasti di dalam hatinya sih merindukan sentuhan pria. Karena itu mamie izinkan kamu untuk menggauli dia. Yang penting jangan sampai hamil. Bisa kacau di kemudian hari kalau dia hamil.
“Iya Mam,” sahutku, “Sekarang tante Ken sudah disuntik KB. Jadi selama enam bulan ke depan gak bisa hamil.”
“Iya. Dia sudah terbuka mengakui semuanya lewat telepon,” ucap Mamie, “Kamu juga pasti dimanjakan sama dia kan?”
“Iya Mam. Dia selalu masak yang enak-enak buatku.”
“Nah, itu salah satu unsur positifnya buatmu kan? Dia memang jago masak. Makanya selama tinggal di sana, kamu nggak usah nyari makan di luar. Dan mamie selalu mentransfer duit tiap bulan. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari kalian berdua. Sementara anaknya yang tinggal di Jakarta, juga selalu ditransfer duit sama mamie.
“Belum pernah Mam. Hanya dengar namanya saja dari Tante Ken.”
“Frida itu cantik sekali, Sam. Kalau sudah ketemu sama dia, pasti kamu bakal tergoda.”
“Di kampusku juga banyak mahasiswi yang cantik. Tapi hatiku ini udah telanjur Mamie miliki. Tak mungkin bisa beralih ke perempuan lain Mam,” sahutku diikuti dengan ciuman hangatku di leher Mamie yang jenjang dan selalu harum.
“Masa sih?!” cetus Mamie sambil menarik ritsleting celana jeansku. Lalu menyelinapkan tangan hangatnya ke balik celana dalamku. Dan menggenggam batang kemaluanku yang sudah mulai menegang ini.
Tak cuma itu. Mamie menurunkan celana jeans dan celana dalamku sampai lutut. Lalu mendorongku sampai terhempas ke sofa putih yang sandarannya sudah direbahkan sampai rata dengan tempat duduknya.
Tapi aku malas untuk menceritakan apa yang terjadoi selanjutnya. Karena Mamie sudah mendapatkan anjuran dokter supaya begini-begitu agar cepat hamil.
Kata dokter, Mamie boleh bersetubuh sehari atau dua hari sekali, tapi jangan bersetubuh dua kali sehari.
Lalu… banyak sekali syarat lainnya. Termasuk harus mencuci alat kelamin bersetubuh dan sebagainya.
Karena itu aku hanya menyetubuhi Mamie sekali saja dan berjanji akan datang lagi dua hari kemudian.
Tiada kesan indah seperti yang kubayangkan sejak dari kampus tadi.
Namun aku berusaha untuk positive thinking saja. Biar bagaimana, Mamie adalah sumber duitku sekarang. Bahkan sebelum meninggalkan rumah utama Mamie tadi, aku mendengar berita menggembirakan. Bahwa Mamie sudah membeli sebuah hotel yang harganya menggeledek. Sekarang hotel itu sedang direnovasi supaya tampak seperti baru lagi.
Dan kalau renovasinya sudah selesai kelak, aku akan ditempatkannya sebagai general manager di hotel itu. Tentu saja aku gembira sekali mendengar kabar baik itu. Tugasku mulai saat ini adalah mempersiapkan diri uintuk menjadi GM hotel itu, sementara kuliahku harus cepat selesai. Untuk itu aku harus membeli buku-buku tentang managemen hotel, membuka-buka internet dan mencari beberapa pengetahuan dari sana, sementara kuliahku harus kuhadapi dengan sangat serius agar cepat selesai.
Sebelum menuju Rumah Cinta, aku mengarahkan mobilku ke mall dulu. Hari pun sudah mulai malam ketika aku mengambil pesananku di sebuah counter jaket dalam mall langgananku. Pesananku adalah 50 buah jaket kulit asli dalam bermacam-macam warna dan ukuran. Semuanya itu bukan untukku, melainkan untuk dikirimkan ke teman-teman di grup WA yang pada umumnya berada di luar Jawa.
Kemudian pelayan counter mengangkut jaket-jaket itu ke mobilku di tempat parkir.
Pada saat itulah aku tidak menyadari bahwa sepasang mata mengawasiku dari dekat sedan yang terparkir di samping mobilku. Lalu setelah jaket-jaket itu dimasukkan semua ke dalam mobilku, terdengar suara wanita memanggilku, “Saaam… !”
Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Seorang wanita muda berdiri di dekat sedan yang pintunya sudah dibuka tapi wanita itu belum masuk ke dalamnya. Karena lampu di tempat parkir itu kurang terang, aku menghampirinya dan ingin jelas siapa yang memanggilku itu.
Seorang wanita cantik tersenyum padaku, “Sudah lupa?” tanyanya.
“Ya Tuhan… Tante Rae?!” sahutku sambil menghambur ke dalam pelukan wanita itu, yang tak lain dari adik bungsu Papa…!
Tante Rae memeluk dan menciumi pipiku sambil berkata, “Kamu kok sombong sekali Sam. Udah berapa tahun gak main ke rumahku?”
“Duh maaf Tante… memang aku belakangan ini sibuk sekali.”
“Sekarang ke rumahku ya.”
“Mmm… boleh deh, “aku mengangguk, “Tante bawa mobil itu?” tanyaku sambil menunjuk ke sedan merah maroon di samping Tante Rae.
“Iya. Kamu juga bawa mobil?”
“Iya.”
“Ya udah kita konvoi aja yuk.”
“Boleh. Silakan Tante duluan, aku akan ngikutin dari belakang.”
Beberapa saat kemudian sedan merah maroon metalic itu bergerak duluan. Aku pun mengikutinya dari belakang.
Aku jadi teringat masa kecilku. Tante Rae itu sangat baik padaku. Setiap kali aku main ke rumahnya yang agak jauh di luar kota, selalu saja dia ngasih duit buat jajan yang lumayan banyak buatku.
Tante Rae itu adik bungsu Papa, tapi ibunya berbeda dengan ibu Papa. Ayah Papa kawin lagi dengan wanita lain setelah isterinya meninggal. Lalu dari wanita itu lahirlah Tante Rae. Begitu penjelasan yang kudengar dari Papa.
Itulah sebabnya usia Papa jauh lebih tua daripada Tante Rae. Perbedaan usia mereka 26 tahun. Sekarang usia Papa sudah 53 tahun. Berarti usia Tante Rae 27 tahun.
Adik Papa bukan hanya Tante Rae. Ada lagi tiga orang adik Papa yang seayah dan seibu, yakni Tante Rose, Tante Salma dan Tante Mariah. Tapi mereka tinggal di luar Jawa semua. Ada yang di Makasar, di Samarinda dan di Ambon. Sehingga aku pun sudah lupa seperti apa bentuk mereka semua.
Lebih dari sejam aku mengikuti sedan Tante Rae dan sudah berada di luar kota. Dan akhirnya sedan itu berbelok ke pekarangan sebuah rumah jadul tapi besar sekali. Pekarangannya pun lumayan luas.
Menurut keterangan Papa, rumah itu adalah milik ibunya Tante rae (ibu tiri Papa). Waktu masih kecil aku sering main ke rumah ini. Dan bentuknya tetap sama seperti dahulu. Hanya catnya saja yang sudah berubah. Jadi serba biru langit.
Seingatku, terakhir aku main ke rumah Tante Rae ini waktu masih duduk di kelas tiga SMP. Berarti sudah lima tahunan aku baru menginjak rumah ini lagi.
Seorang wanita setengah baya menghampiri mobil Tante Rae. Lalu mengangkut belanjaan Tante Rae ke dalam rumah. Pasti wanita itu pembantu Tante Rae.
Aku duduk di kursi jati dengan jok yang menggunakan per. Kursi ini sering kududuki dahulu. Sehingga aku berkata, “Semuanya masih tetap seperti dahulu, Tante. Termasuk kursi yang kududuki ini, masih kursi yang dahulu. Hanya joknya saja yang diganti ya.”
“Iya. Perabotan di sini hampir semuanya terbuat dari kayu jati. Jadi tidak ada yang perlu diganti. Paling juga diganti pliturnya saja,” jawab Tante Rae.
“Iya… semuanya tetap seperti dahulu Tante.”
“Tapi kamu sudah berubah sekali Sam. Sekarang kamu jadi ganteng sekali sih?! “puji Tante Rae sambil duduk merapat ke sampingku, “Kamu ini jadi artis juga pantes Sam.”
“Mmm… Tante bisa aja. Justru Tante yang makin cantik aja. Tapi… itu foto siapa Tante?” tanyaku sambil menunjuk ke foto besar yang dilapisi kaca dan diberi bingkai ukir kayu jati. Di foto itu tampak Tante Rae berdampingan dengan lelaki yang usianya kira-kira sebaya dengan Papa.
“Itu aku dan suamiku Sam.”
“Haaa?! Kapan Tante menikah? Kok aku gak tau?!”
“Pernikahannya tiga tahun yang lalu. Memang acaranya diem-diem saja, gak ada yang diundang. Tapi papamu hadir, sebagai walinya.”
“Ohya? Kenapa pernikahannya diem-diem?”
“Aku cuma jadi istri muda Sam. Nikahnya juga cuma nikah siri. Karena kalau minta izin pada istri pertama, pasti tak akan diizinkan.”
“Asyik dong jadi istri muda. Pasti Tante dimanjain.”
“Kamu tau aja, “Tante rae menepuk lututku, “Tapi memang aku sangat dimanjakan oleh suamiku. Hanya saja.. tiap malam aku kesepian terus Sam.”
“Emangnya suami Tante jarang nginap di sini?”
“Dia hanya datang seminggu sekali. Itu pun hanya di jam kerjanya. Karena kalau malam dia harus pulang ke rumahnya.” Ngocoks.com
Aku terdiam. Membayangkan kesepiannya Tante Rae. Seperti kesepiannya Mama yang semakin jarang “ditengok” oleh Papa, namun duit Papa jadi mengalir ke tangan Mama sebagai kompensasinya.
“Kamu sudah kuliah sekarang ya?”
“Iya Tante.”
“Sudah semester berapa?”
“Semester empat.”
“Tapi sekarang kamu udah punya mobil segala Sam.”
“Mobil inventaris perusahaan Tante. Sekarang aku kan kuliah sambil magang di kantor Papa.”
“Ohya?!”
“Iya. Sekarang Papa kan udah jadi decision maker di perusahaan. Karena ownernya dijadikan istri muda Papa.”
“Ohya?! Papamu menikah lagi?!”
“Iya Tante.”
“Owh… owner perusahaan itu perempuan?”
“Betul.”
“Gadis apa janda?”
“Masih gadis tapi waktu menikah dengan Papa sudah tigapuluhdua tahun umurnya.”
“Hihihiii… pandai juga papamu menggaet hati gadis kaya raya ya? Tapi… papamu memang ganteng kok. Dan kegantengannya menurun padamu.”
“Kalau Tante bisa cantik begini menurun dari siapa?” tanyaku.
“Mmm… sebenarnya keluarga kita cantik-cantik dan ganteng-ganteng kok. Mungkin karena dari atasnya juga begitu. Kok kamu bisa bilang aku cantik sih?” Tante Rae menepuk lututku lagi.
Kutatap wajah Tante Rae yang memang cantik itu. Lalu menyahut, “Orang buta aja yang gak bilang Tante cantik sih.”
Tante Rae tersenyuim manis. Manis sekali. Lalu mencium pipi kiriku, disusul dengan bisikan, “Terus kamu suka melihat kecantikanku?”
“Sa… sangat suka Tante…”
“Apalagi kalau melihatku sudah telanjang, pasti kamu tergiur olehku.”
Aku terkejut mendengar ucapan tanteku itu. Dan langsung membuat batinku berdesir-desir.
“Mau dong lihat Tante telanjang,” sahutku nyeplos begitu saja.
Tante Rae tersenyum. Mencium pipi kiriku lagi. Lalu berkata, “Kalau mau lihat aku telanjang, kamu harus nginap di sini sekarang. Mau?”
“Sebenarnya aku harus ngepak barang-barang yang mau dipaketin malam ini. Tapi demi Tante… mau deh…!” sahutku.
“Demi tante apa demi ingin melihat sesuatu pada diriku?”
“Demi dua-duanya. Pertama, aku memang sudah lima tahun lebih gak ketemu sama Tante. Kedua… hehehe…”
“Kedua apa?” tanya Tante Rae sambil merapatkan pipinya ke pipiku.
Kujawab dengan bisikan, “Ingin melihat Tante telanjang…”
Tante Rae pun menyahutnya dengan bisikan, “Terus… kalau sudah melihatku telanjang, mau ngapain?”
“Aku mau ikutin aja apa maunya Tante,” sahutku sambil memegang tangan Tante Rae yang sedang mengusap-usap lututku.
“Cowok itu harus tegas Sam. Jelaskan aja apa yang akan kamu lakukan.”
“Takut salah ngomong. Soalnya aku berhadapan dengan tanteku sendiri sih.”
“Siapa pun dirimu dan diriku, kamu harus tetap tegas menyatakannya.”
“Takut Tante marah.”
“Nggak. Aku takkan marah.”
“Oke, “aku mengangguk sambil membulatkan hatiku, “kalau aku melihat Tante telanjang, aku akan menciumi Tante dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.”
“Emwuaaah… “Tante Rae mencium pipiku, “Berarti aku harus telanjang sambil rebahan dong. Terus apa lagi yang akan kamu lakukan?”
“Mau ngemut mmm… toket Tante…”
“Hihihiii… emangnya kamu masih bayi? Tapi oke deh. Terus mau ngapain lagi?”
Aku membulatkan hatiku lagi. Dan menyahut, “Kalau boleh sih pengen jilatin yang di bawah perut Tante.”
Di luar dugaan, Tante Rae merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Lalu mencium bibirku. Ini adalah untuk yang pertama kalinya Tante Rae mencium bibirku. “Kamu memang sudah gede dan sangat berubah kalau dibandingkan dengan waktu masih kecil dahulu.”
Semua ini di luar dugaanku. Semua ini membuat si dede bangun di balik celana dalam dan celana jeansku…!
Maka batinku bergejolak ketika Tante Rae meraih tanganku sambil berdiri dan melangkah ke arah pintu kamarnya. Dan aku yakin bahwa di dalam kamar adik bungsu Papa itu pasti akan terjadi sesuatu.
Setibanya di dalam kamar yang serba antik itu, Tante Rae meletakkan kedua tangannya di sepasang bahuku, sambil berkata, “Aku memang sedang membutuhkan sentuhan lelaki Sam. Jadi lupakanlah kalau aku ini adik papamu. Pikirkan saja bahwa aku dan kamu ini adalah dua orang yang berlainan jenis kelamin. Kamu lelaki dan aku perempuan.
Kutatap wajah cantik Tante Rae dengan matanya yang sayu seolah baru bangun tidur, dengan hidungnya yang mancung meruncing dan bibirnya yang tipis merekah. Lalu kataku, “Memang sejak melihat Tante di parkiran mall tadi, ada perasaan yang berbeda di dalam hatiku. Perasaan kagum pada Tante yang tampak lebih cantik daripada biasanya dan lebih…
“Kalau begitu… kamu yang harus melepaskan semua yang melekat di tubuhku sekarang,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum manis di bibir tipisnya.
Aku tak langsung melaksanakan permintaannya. Karena bibir tipis yang agak merekah itu seolah menantangku untuk memagutnya ke dalam lumatanku.
Tante Rae menyambut lumatanku dengan hal yang serupa. Melumat bibirku, lalu menjulurkan lidahnya yang lalu kusedot sampai tertarik ke dalam mulutku.
Lalu… diam-diam aku menurunkan ritsleting yang berada di bagian punggung gaun terusan Tante Rae. Gaun itu pun terjatuh di kaki Tante Rae.
Dan aku terpukau menyaksikan keindahan di depan mataku. Sebentuk tubuh yang mempesona. Tubuh yang tinggal dilekati bra dengan kancing rekat di depan dan celana dalam yang tipis transparan, sehingga bagian yang ditutupinya tampak jelas…!
Pada waktu masih kecil, aku sering dimandikan oleh Tante Rae. Terkadang dia juga ikutan mandi. Jadi ini bukan yang pertama aku melihatnya dalam keadaan seperti ini. Tapi pada waktu itu aku belum mengerti apa “fungsi” kedua bagian yang masih ditutupi bra dan CD itu. Sehingga berusaha menyentuhnya pun tidak.
Tapi kini setelah usiaku sembilanbelas tahun lebih ini, suasana perasaanku sudah jauh berbeda. Bahwa sekujur tubuh adik bungsu Papa itu luar biasa menggiurkannya… membuat nafasku mulai sulit diatur… membuat si dede mengeras di balik CD dan celana jeansku.
Ketika aku mau menyentuh kancing rekat yang berada di bagian depan bra putih bersih itu, Tante Rae mendorong dadaku sambil berkata, “Sebelum aku telanjang, kamu sendiri harus telanjang dong. Biar seperti waktu masih kecil dahulu. Masih ingat kan? Kamu sering kumandikan toh?”
“Iya Tante, “aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu kutanggalkan baju kaus, celana jeansku dan celana dalamku. Sementara Tante Rae sudah duduk di pinggiran tempat tidurnya yang terbuat dari kayu jati berukir, sambil melepaskan bra dan celana dalamnya.
Sambil menutupi kemaluan dengan kedua tangan, aku melangkah ke dekat Tante Rae yang sudah telanjang bulat.
“Kenapa kontolmu ditutupi? Waktu masih kecil kamu kan sering kumandiin. Coba lihat seperti apa kontolmu sekarang?” ucap Tante Rae sambil menyingkirkan tanganku dari yang sedang kututupi.
“Waaaw! Sammy… !” pekik Tante Rae tertahan. Lalu memegang batang kemaluanku dengan mata tak berkedip, “Kontolmu… panjang dan gede banget…! Ini diapain bisa sepanjang dan segede ini?”
“Gak diapa-apain Tante. Sudah dari sononya aja begini. Kenapa? Tante takut?”
“Bukan takut… justru aku ngebayangin enaknya disodok-sodok sama kontol sepanjang dan segede gini Sam… !” ujar Tante Ken sambil menarik tanganku, sehingga aku terjerembab ke atas tubuhnya yang hangat.
“Sekarang ganti aja acaranya Sam. Kamu tak usah menciumiku dari kaki sampai ke kepala. Langsung aja jilatin memekku ya. Soalnya aku sudah gak sabar, ingin merasakan enaknya dientot sama kontolmu yang gagah itu. Tapi kalau memekku gak dijilatin dulu, pasti sakit. Soalnya liang memekku sempit Sam…”
“Iya. Kan tadi juga aku sudah bilang, mau mengikuti apa kata Tante aja,” sahutku sambil melorot turun, sampai memek Tante Rae berada di depan wajahku.
Memang kemaluan Tante Rae tampak mungil mulutnya. Dan bersih dari jembut di sekitar vaginanya. Tapi di atas kelentitnya ada jembut yang dicukur rapi sampai membentuk segitiga, salah satu sudutnya berada di atas kelentitnya itu. Jadi aku takkan merasa terganggu waktu menjilati memek Tante Rae, karena jembutnya berada di atas, sementara mulut vagina dan clitorisnya bersih dari jembut.
Tante Rae merentangkan kedua belah pahanya, mungkin untuk memberiku keleluasaan untuk “ngerjain” memeknya.
Aku pun tak mau buang-buang waktu lagi. Kuciumi mulut memek mungilnya dengan nafsu yang mulai membara. Lalu kedua tanganku mengangakan mulut vagina Tante Rae, sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu mulai tampak jelas.
Dan bagian yang berwarna itulah sasaran jilatanku pada awalnya.
Ketika jilatanku mulai intensif, Tante Rae mulai menggeliat-geliat sambil merintih perlahan, “Sam… ooooh… Saaam… kamu kok sudah pandai jilatin memek sih… ooooh… iya Sam… jilatanmu enak bangeeet… Saaam… ooooh…”
Terlebih lagi setelah aku mulai menjilati dan sesekali menyedot kelentitnya. Tante rae semakin menggeliat-geliat dibuatnya.
Sementara itu jari tengahku pun kuselundupkan ke dalam liang memeknya, dengan maksud menyelidik apakah benar liang memek Tante Rae ini sempit?
Ternyata benar. Jari tanganku sudah membuktikannya. Bahwa liang memek Tante Rae ini sempit sekali. Sehingga aku harus menjilatinya terus sampai liang sempitnya basah kuyup, supaya penisku bisa lancar menerobos dan mengentotnya.
Maka cukup lama aku menjilati memek dan clitoris Tante Rae ini.
Sampai akhirnya terdengar suara adik Papa itu, “Sudah cukup basah Sam. Masukkan aja kontolmu… !”
Kuikuti permintaan tanteku. Merayap ke atas perutnya sambil memegang penisku. Tante Rae membantuku, memegang penisku dan mengarah-arahkan moncongnya agar tepat sasaran.
Setelah ada “lampu hijau” aku pun mendorong penisku sekuatnya…
“Aaaaa… aaaahhhhh masuk Saaam… “lenguh Tante Rae sambil merengkuh leherku ke dalam pelukannya.
Memang penisku sudah membenam sedikit demi sedikit ke dalam liang memek Tante Rae yang super sempit ini. Kalau tidak dijilati dulu sampai basah, pasti aku akan menemui kesulitan membenamkan penisku, seperti waktu pertama kalinya aku meneroboskan penisku ke liang memek Mbak Ayu yang masih perawan.
“Ughhhh… gila… kontolmu luar biasa gedenya Sam…” ucap Tante Rae sambil merapatkan pipinya ke pipiku.
“Dibandingkan dengan kontol negro di dalam bokep sih gak ada apa-apanya Tante.”
“Kontol negro kan mainnya dengan memek yang sudah compang camping… yang lubangnya sudah gede banget…”
“Iyaaa… memek perempuan barat sampai berjengger-jengger gitu ya. Bentuknya sudah amburadul. Maka prianya juga jadi seneng ke lubang anus yang tampak masih bundar… hihihiiii…”
Setelah penisku membenam lebih dari separohnya, aku pun mulai mengayunnya perlahan-lahan. Bermaju-mundur di dalam liang memek yang sangat sempit ini.
Dan tiap kali aku mendorongnya aku berusaha agar penisku makin dalam membenamnya. Lama kelamaan aku berhasil mengayun penisku secara normal.
Tante Rae pun semakin kerap berceloteh histeris, “Saaam… dududuuuuh… kalau diibaratkan masakan, kontolmu ini terasa asam garamnya Saaam…”
“Emangnya punya suami Tante seperti apa?”
“Kecil punya dia sih. Kalau lemes cuma segede jempol tangan. Setelah ngaceng jadi segede jempol kaki.”
“Aku juga gak nyangka kalau liang memek Tante sempit gini. Terasa sekali enaknya,” sahutku sambil mempermainkan puting payudara tanteku, kemudian mencelucupinya. Sementara payudara satunya lagi kuremas dengan lembut.
Tante Rae tampak sangat menikmati semuanya ini. Berkali-kali ia mencium pipi dan bibirku sambil membelai rambutku yang agak gondrong ini. Pinggulnya pun bergoyang-goyang memutar dan menghempas-hempas. Sehingga penisku serasa dipelintir dan dibesot-besot oleh liang memek super sempitnya.
O, aku sangat beruntung menikmati semuanya ini. Padahal tadi, waktu meninggalkan rumah utama Mamie, aku agak bete. Karena tidak bisa menyetubuhi Mamie yang kedua kalinya. Padahal aku merasa belum “kenyang”.
Tapi aku bertemu dengan Tante Rae yang sudah lima tahun lebih tak berjumpa ini. Lalu aku bisa “mengenyangkan” apa yang belum kudapatkan di rumah Mamie tadi.
Jadi kalau dihitung, kali ini aku bersetubuh untuk kedua kalinya. Dengan sendirinya aku lebih lama bertahan di atas perut Tante Rae. Ngocoks.com
Padahal Tante Rae sudah klepek-klepek dua kali di puncak-puncak orgasmenya. Tapi aku masih tetap tangguh mengentotnya.
Bahkan ketika kuilihat leher Tante Rae mulai dibasahi oleh keringatnya, aku pun menjilati leher jenjang itu. Seperti biasa, kuiringi dengan gigitan-gigitan kecil, yang membuat Tante Rae merem melek.
Tubuhku sendiri mulai bersimbah keringat. Namun aku masih asyik mengentot liang memek yang super sempit tapi sudah basah kuyup ini.
Sampai pada suatu saat, aku bertanya setengah berbisik, “Lepasin di mana Tan?”
“Di dalam aja. Aku ingin merasakan enaknya disemprot sama air mani keponakanku yang ganteng ini,” sahut Tante Rae sambil menepuk-nepuk pipiku.
Begitulah. Setelah lebih dari sejam menyetubuhi Tante Rae, akhirnya aku membenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin. Pada saat itulah aku mendengus-dengus, sementara moncong penisku menyemprot-nyemprotkan air maniku.
Crottt… crooottt… croooottttt… crotcrotttttt… croooootttt…!
Lalu tubuhku melemas di dalam dekapan tanteku yang cantik dan memiliki memek yang luar biasa sempitnya ini…
Suratan takdirku sudah tertulis seperti ini. Bahwa ada masanya aku jadi jablay, ada pula saatnya aku kebanjiran perempuan dari sana-sini. Seperti yang sedang kualami sekarang ini.
Tapi setelah pertemuan yang tidak diduga sebelumnya dengan Tante Rae itu, aku berusaha untuk konsentrasi pada 3 sosok saja. Mamie, Tante Rae dan Tante Niken alias Tante Ken.
Sementara Mama, Tante Fenti, Mbak Ayu dan Mbak Ita, biarlah mereka dijadikan wilayah kekuasaan Yoga saja.
Karena itu aku hanya mengintensifkan hubungan sex dengan Mamie, Tante Ken dan Tante Rae saja.
Dua hari sekali aku menggauli Mamie. Tiga hari sekali aku menggauli Tante Ken. Sementara hubungan sex dengan Tante Rae hanya pada saat waktuku senggang saja.
Namun berita yang diharapkan belum juga datang. Berita tentang kehamilan Mamie belum terdengar juga. Sampai tiga bulan berlalu, Mamie belum hamil juga. Padahal aku selalu menggaulinya secara periodik, sesuai dengan anjuran dokter.
Jangan-jangan salah seorang di antara aku dan Mamie ada yang kurang. Bisa saja Mamie mandul atau spermaku kurang kuat, sehingga aku tidak mampu membuahi Mamie.
Tentu saja hal itu membuatku resah juga.
Sampai pada suatu hari…
Waktu aku pulang kuliah, ternyata di Rumah Cinta ada Mamie sedang menungguku.
“Mamie?! “sapaku sambil mencium tangannya di depan Tante Ken, lalu kami cipika-cipiki. “Sudah lama Mam?”
“Mmm… kira-kira sejam. Kamu kok pakai motor lagi? Kenapa? Gak suka dengan mobil itu?” tanya Mamie.
“Musim hujan begini sayang pakai mobil Mam. Banyak lumpur yang harus dibersihkan, terutama bagian bawahnya.”
“Lho… orang yang pakai motor biasanya ngeluh kalau hujan turun, karena badan bisa basah kuyup. Kamu malah lebih suka pake motor.”
“Motor lebih lincah, bisa selap-selip kalau sedang macet. Kalau hujan, kan aku selalu bawa jas hujan Mam. Dan yang jelas, motor lebih hemat. Beli pertamax seratusribu cukup untuk seminggu.”
“Waduuh… mahasiswa fakultas ekonomi berhitungnya sampai ke situ ya? Tapi ya udah kamu laksanakan aja mana yang terbaik bagimu. Sekarang kamu masih capek nggak? Mamie mau mengajakmu ke suatu tempat.”
“Ke luar kota Mam?”
“Nggak.”
“Oke deh.”
“Kalau mau makan dulu, silakan aja. Tante Ken udah nyiapin makan untukmu tuh.”
“Belum lapar. Nanti aja pulangnya. Aku cuma mau mandi dan ganti baju dulu, ya Mam.”
“Iya, “Mamie mengangguk. Sementara Tante Ken cuma tersenyum-senyum.
Lalu bergegas aku naik ke atas, ke dalam kamarku. Langsung melepaskan pakaian kuliahku. Dan masuk ke kamar mandi.
Tidak sampai seperempat jam kemudian, aku sudah turun lagi. Dalam pakaian casual, celana corduroy biru tua dan baju kaus putih. Hanya mengenakan sandal kulit, tidak memakai sepatu.
Mamie masih duduk di ruang tamu, sementara Tante Ken sedang di belakang.
Mamie memandangku dengan sorot serius, namun bibirnya menyunggingkan senyum.
“Kenapa tersenyum-senyum gitu Mam?” tanyaku heran.
“Kamu itu… dalam pakaian apa pun selalu saja pantas. Apalagi kalau sudah mengenakan pakaian resmi nanti. Ayo kita berangkat. Kamu yang nyetir ya,” sahut Mamie sambil memberikan kunci mobil mahalnya.
“Ciecie… kami berangkat dulu ya !” seru Mamie setelah berdiri.
“Iya! Ati-ati di jalan yaaa… !” sahut Tante Ken dari dapur.
Mobil Mamie ini tergolong dalam deretan mobil mahal di dunia. Sehingga aku hati-hati benar mengemudikannya.
“Tumben mobil ini dikeluarkan dari garasi Mam,” kataku ketika sedan 3000cc itu sudah berada di jalan raya.
“Sesekali kan harus dibawa jalan juga. Jangan cuma dipanasin mesinnya di garasi,” sahut Mamie.
“Mobil secantik ini seharusnya tiap hari Mamie pake.”
“Nggak ah. Mamie gak mau terkesan pamer-pameran. Numpang di mobil Papa juga nyaman kok.”
“Mobil Papa juga kan berasal dari Mamie.”
“Ya iyalah. Papa kan sudah lama kerja di perusahaan mamie. Wajar saja kalau mamie ngasih sesuatu yang berharga baginya. Awas Sam… di depan ada perempatan, nanti belok ke kiri.”
“Iya Mam.”
Setelah belok ke kiri, jalanan lurus terus ke utara. Sampai akhirnya Mamie menyuruhku berbelok ke kanan, ke halaman sebuah hotel yang tampak baru selesai diupgrade.
“Nah… inilah hotel yang mamie beli beberapa bulan yang lalu itu,” kata Mamie setelah turun dari mobil di depan hotel yang tampak sepi-sepi saja itu.
Hotel itu tidak bertingkat. Tapi kelihatannya besar sekali. Semuanya dibangun dengan gaya rumah tradisional Sunda.
Seorang satpam menghampiri kami sambil membungkuk sopan kepada Mamie, “Selamat sore Bu Boss…” ucapnya.
“Sore,” sahut Mamie, “Kontraktornya sudah pulang?”
“Sudah Bu Boss. Baru saja.”
Kemudian Mamie mengajakku masuk ke lobby hotel yang belum ada orangnya.
Mamie memang pernah menjelaskan bahwa pemilik hotel itu meninggal. Anak-anaknya sudah menetap di luar negeri, sehingga hotel itu ditutup dan mau dijual.
Mamie membeli hotel itu karena tanahnya lumayan luas. Sampai 3 hektar. Padahal seingatku ada rumah sakit yang bangunannya kelihatan megah, tapi luas tanahnya hanya setengah hektar.
Di lobby Mamie mulai bersikap serius padaku. Lalu berkata, “Tadinya mamie mau mengangkatmu sebagai general manager hotel ini. Tapi karena sekarang mamie sedang sangat bahagia, maka hotel ini kuhadiahkan padamu Sam.”
“Dihadiahkan padaku?!” aku terheran-heran.
“Iya. Mulai hari ini hotel ini jadi milikmu. Jadi terserah kamu mau diapakan hotel ini. Mamie percaya, kamu pasti mampu mengelolanya.”
“Mam… apakah aku gak salah dengar? Mamie memberikan hotel sebesar ini padaku?”
Mamie mencium pipiku, kemudian berbisik, “Iya hotel ini kuhadiahkan padamu, karena kamu berhasil membuat mamie bahagia. Mamie sudah mulai hamil, Sayang.”
“Akhirnya… “hanya itu yang mampu kuucapkan. Lalu aku berlutut sambil memeluk kaki Mamie. “Semoga kehamilannya sehat dan lancar pada waktu melahirkan nanti.”
“Amiin…” sahut Mami sambil membelai rambutku.
Lalu aku berdiri lagi. Menggandeng lengan Mamie untuk duduk di sofa yang mengitari pinggiran lobby hotel.
“Aku juga bahagia Mam. Berarti beberapa bulan lagi aku akan punya anak ya.”
“Iya. Janin yang berada di dalam perut mamie ini adalah anakmu. Tapi publik hanya boleh tahu bahwa janin ini anak Papa.”
“Iya Mam. Aku mengerti soal itu sih. Ohya, jadi sekarang kandungan Mamie sudah berapa bulan?”
“Kurang dari sebulan. Tepatnya baru empat minggu.”
“Bagaimana tanggapan Papa? Apakah beliau kelihatan senang?”
“Senang sekali,” sahut Mamie sambil meremas-remas tanganku dengan lembut.
Kemudian kami membahas masalah hotel yang telah menjadi milikku ini.
Mamie menganjurkan agar karyawan dan karyawati yang dahulu bekerja di hotel ini direkrut kembali. Agar aku tak perlu mengajari pegawai lagi.
Hotel ini bukan hotel bertingkat. Hanya hotel satu lantai, yang berbentuk seperti huruf O. Kamar-kamarnya mengitari taman dan kolam renang yang ada di tengahnya.
Mamie pun tak lupa memberi nasihat. Agar kelak aku menjaga sikap dan perilaku sebagai owner hotel ini.
Mengenai manajemen, Mamie percaya padaku, karena kebetulan aku kuliah di fakultas ekonomi jurusan manajemen.
“Ohya… mamie cuma titip satu orang, anak Tante Ken itu. Kalau dia sudah menyelesaikan kuliahnya dan kesulitan mencari kerja, rekrut saja ke hotel ini. Mungkin dia bisa dijadikan wakilmu di sini nanti. Apakah kamu belum bertemu juga dengan Frida?”
“Belum Mam. Sepertinya dia memanfaatkan masa liburan untuk mengambil semester pendek, untuk mempercepat kelulusannya. Ohya… pernah dia pulang, tapi tidak nginep. Sorenya pulang lagi ke Jakarta. Jadi gak ketemu sama aku, karena aku sedang sibuk-sibuknya di kampus. Hanya beritanya aja yang nyampai, dari Tante Ken.
“Mmm… begini Sam… sebenarnya Frida itu cantik sekali. Mamie takut dia jatuh ke tangan yang salah. Karena selama ini mamie yang membiayai pendidikannya. Jadi… mamie setuju sekali kalau Frida jadi calon istrimu.”
“Haaa?! Mamie mau menjodohkanku sama anak Tante Ken?” tanyaku kaget bercampur bingung.
“Menjodohkan sih nggak. Cuma alangkah baiknya kalau Frida itu dijadikan calon istrimu. Dia anak baik dan penurut kok. Cerdas dan sangat cantik pula. Takkan memalukan deh kalau dia dijadikan calonmu.”
“Aku hanya bisa mencintai Mamie seorang,” sahutku sambil menunduk.
“Tapi biar bagaimana pun mamie tidak bisa menjadi istrimu secara sah Sam. Walaupun Papa sudah meninggal, kita tetap tidak bisa menjadi suami-istri. Mamie sudah tanya ke beberapa pakar hukum agama. Semuanya menjawab seperti itu.
“Iya Mam. Aku juga pernah dengar bahwa wanita yang pernah dinikahi oleh ayah, tidak boleh dinikahi oleh anaknya.”
“Nah… baguslah kalau kamu sudah tahu. Kamu tidak akan bisa menikahi mamie. Tapi mamie tidak mau kamu jatuh ke tangan wanita lain, kecuali wanita yang masih berada di dalam lingkaran mamie. Makanya mamie sangat mendukung kalau Frida dijadikan calon istrimu.”
“Terus hubungan kita bagaimana?”
“Tetap jalan. Tapi secara rahasia. Seperti sekarang, hanya Papa dan Tante Ken yang boleh tau.”
Aku terdiam sesaat. Aku merasa apa pun yang Mamie inginkan, selalu positif bagiku. Karena itu, akhirnya aku berkata, “Aku akan mengikuti apa pun yang Mamie inginkan.”
“Nah… kalau begitu hari Minggu yang akan datang, mamie akan memanggil Frida. Kalau mamie yang memanggil, pasti Frida datang.” Ngocoks.com
Aku cuma mengangguk-angguk sambil berusaha untuk tersenyum. Semuanya ini terlalu mengejutkan bagiku. Bahwa Mamie mulai mengandung benih dariku. Bahwa aku dihadiahi hotel yang masa depannya pasti cemerlang. Bahwa aku akan dijodohkan dengan Frida yang belum pernah kulihat seperti apa bentuknya itu.
Namun aku berusaha untuk mengikuti jalan pikiran Mamie. Karena sejauh ini Mamie selalu memberikan sesuatu yang menyegarkan jiwaku.
“Apakah Papa sudah diberitahu tentang masalah Frida itu Mam?” tanya sesaat kemudian.
“Tentu sudah,” sahut Mamie, “Jangankan Papa, Tante Ken juga sudah dikasih tahu. Dan mereka semua mendukung masalah ini. Tinggal menunggu keputusan darimu aja.”
“Fridanya gimana?” tanyaku.
“Frida sudah bilang mau mengikuti keputusan Mamie dan Tante Ken saja.”
“Wow… jadi sudah sejauh itu ya…”
“Iya Sayang. Kamu kan gak mungkin bujangan terus. Pada suatu saat kamu harus punya istri. Dan mamie tidak mau kalau kamu menikah dengan cewek di luar lingkaran Mamie. Karena Mamie takut kehilangan kamu.”
Dengan lembut kukecup pipi Mamie yang hangat, lalu berbisik di dekat telinganya, “Sampai kapan pun Mamie takkan kehilangan aku.”
“Terima kasih sayang,” sahut Mamie yang lalu diikuti dengan kecupan hangatnya di bibirku.
Lalu Mamie berdiri sambil memegang pergelangan tanganku, “Ayo sekarang kamu lihat keadaan di dalam kamar-kamar hotel ini, “ajaknya.
Ternyata kamar-kamar di hotel ini sudah disulap seperti baru semua. Furniture dan peralatan lainnya pun sudah diganti dengan yang baru semua.
Kata Mamie, waktu hotel ini baru dibeli, tidak ada AC satu pun. Lalu Mamie menyuruh kontraktor agar semua ruangan dipasangi AC. Furniturenya pun diganti semua, karena yang lama sudah kelihatan usang.
“Kamarnya ada berapa Mam?” tanyaku waktu sedang memeriksa kamar-kamar hotel itu.
“Hanya seratus kamar. Tapi tanah kosong di belakang kan masih luas. Kalau masih kurang, kan bisa dibangun kamar-kamar baru di situ. Nah… rencanamu bagaimana untuk promosinya nanti?”
“Mungkin harus nyebar brosur ke instansi-instansi yang biasa mengadakan rapat di hotel-hotel.”
“Bagus, “Mamie menepuk bahuku, “Kamu kok langsung punya ide bagus gitu.”
“Tapi belum ada ruangan luas untuk rapatnya ya Mam.”
“Bangun aja di depan, karena pelataran parkir terlalu luas, bisa diambil separuhnya untuk ruang rapat itu. Untuk parkir kan bisa di belakang, yang jauh lebih luas.”
“Sekalian bikin convention hall aja Mam. Kan bisa disewakan juga untuk acara pesta pernikahan, khitanan dan sebagainya. Kita kasih harga sewanya lebih murah dari gedung-gedung lain, tapi cateringnya harus dari hotel. Gimana?”
“Iya… iya… iya…! Idemu bagus. Kalau gedungnya dipakai untuk resepsi pernikahan, tamu-tamu dari luar kota bisa nginep di hotel juga. Bagus itu. Besok kontraktornya akan mamie panggil, untuk membangun convention hall itu.”
“Kira-kira membangun convention hall itu makan waktu berapa lama Mam?”
“Kalau pakai konstruksi baja, tiga-empat bulan juga selesai.”
“Mmm… kuliahku kayaknya lima bulan lagi juga selesai Mam.”
“Haaa? Secepat itu?!”
“Iya Mam. Aku memang ingin cepat menyelesaikan kuliahku. Biar bisa belajar bisnis sama Mamie dan Papa.”
“Owh iya… kata Tante Ken, kamu sekarang bisnis juga ya?”
“Ah, itu cuma bisnis kecil-kecilan Mam. Tapi hasilnya lumayan juga.”
“Bisnis apa pun sebaiknya dimulai dari dasar dulu. Jangan langsung gede-gedean.”
“Iya Mam.”
“Ohya… mamie mau telepon Frida sekarang. Nanti kamu dengarin aja jawabannya ya,” kata Mamie sambil mengeluarkan handphone dari tas kecilnya. Lalu ia memijat nomor di hapenya. Dan terdengar suara cewek yang dikeluarkan dari speaker hape Mamie :
“Hallo Tante Yun…”
“Frid, hari Sabtu atau Minggu kamu pulang dan langsung aja ke rumah tante. Bisa?”
“Iya Tante. Kalau boleh tau ada acara apa neh?”
“Nanti aja dikasih tau setelah bertemu sama tante.”
“Siap Tante. Hari Minggu pagi aja aku berangkat ke sana ya. Mungkin siangnya baru nyampe di rumah Tante. Soalnya hari Sabtu masih ada kuliah.”
“Iya. Tapi kamu sehat-sehat aja kan?”
“Sehat Tante. Gimana Tante sendiri? Sehat juga kah?”
“Sehat. Tante tunggu hari Minggu ya.”
“Siap Tante.”
Bersambung…




