Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Rumah Kami Surga Kami

Rumah Kami Surga Kami

Petualangan HOT (Langkah Langkah Jalang)
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Aku dan Mama disambut oleh Tante Fenti yang mengenakan kimono putih polos, tampak sederhana tapi menimbulkan “sesuatu” di hatiku, karena aku sudah tahu acara apa yang akan terjadi sebentar lagi di rumah megah ini.

Rendi sedang berjabatan tangan dengan Mama disambung dengan cipika-cipiki. Dan yang membuatku agak kaget, Tante Fenti mencium pipi kanan dan kiriku, disusul dengan kecupan hangatnya di bibirku…!

Diikuti dengan bisikan pula, “Makin lama kamu makin ganteng aja Sam.” Aku cuma tersenyum canggung. Tapi aku yakin dalam tempo singkat saja aku akan bisa beradaptasi dengan suasana unik ini.

Sementara itu Mama tampak asyik duduk berdampingan dengan Rendi, dengan sikap yang begitu mesra pula. Jelas aku cemburu melihatnya.

Tapi aku menindas perasaan cemburu ini dengan memperlakukan Tante Fenti dengan hal yang sama seperti Rendi kepada Mama. Kulingkarkan lenganku di pinggang Tante Fenti yang duduk di sebelah kiriku, sementara Tante Fenti merapatkan pipinya ke pipiku.

“Ren, suguhkan wine yang baru datang kemaren itu. Biar suasananya lebih mencair,” kata Tante Fenti.

Rendi pun bangkit dan masuk ke dalam.

“Ohya… kamar Rendi di atas,” kata Tante Fenti kepada Mama, “Jadi nanti naik aja ke atas.”

“Dan Sam masuk ke kamarmu?” tanya Mama.

“Ya,” sahut Tante Fenti sambil tersenyum.

Tak lama kemudian Rendi muncul sambil membawa sebotol wine dan empat buah gelas kecil. Kemudian Rendi sendiri yang menuangkan wine itu ke semua gelas yang dibawanya. Dan membagikan gelas-gelas berisi wine itu kepada Mama, kepada Tante Fenti, kepadaku, lalu untuknya sendiri.

Tante Fenti mengacungkan gelasnya ke depan. Lalu kami berempat melakukan toast… triiiing… dan kami minum isi gelas itu sampai habis.

“Wuiiihhh… wine apa neh? Rasanya kok keras gini…” kata Mama setelah menghabiskan winenya.

“Kan biar cepat naik,” sahut Tante Fenti sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Oke… kalau gitu aku mau langsung naik ke atas aja ya Fen,” ucap Mama sambil memegang pergelangan tangan Rendi.

“Silakan. Selamat bergumul yaaaa,” sahut Tante Fenti sambil memegang pergelangan tanganku. Lalu menoleh padaku, “Mau langsung masuk ke kamar tante?”

“Terserah Tante,” sahutku agak nervous. Karena tatapan Tante Fenti itu… sangat menggoda.

“Ayo, kalau gitu di kamar tante aja yuk,” Tante Fenti bangkit dari sofa sambil menarik tanganku.

Aku pun mengikuti langkah Tante Fenti masuk ke dalam kamarnya.

Ternyata kamar Tante Fenti jauh lebih mewah daripada kamar Mama dan Papa. Aku tak mau menjelaskannya secara detail, takut dianggap katro. Yang jelas kamar Tante Fenti ini mewah wah wah… wah…!

Namun yang paling kusukai adalah… senyum Tante Fenti yang kearab-araban itu. Manis dan mengundang gairah.

Dan aku memang menyambut undangan Tante Fenti dengan dekapan di pinggang ramping yang masih tertutup kimono itu, sambil memagut bibirnya ke dalam lumatanku.

Tante Fenti pun menyambut lumatanku dengan lumatan yang lebih hangat. Sehingga kami seolah sepasang kekasih yang sudah lama berpisah, lalu berjumpa lagi dalam suasana yang hangat dan romantis ini.

Dalam pengaruh wine, aku pun tidak canggung lagi. Ketika Tante Fenti melepaskan ikatan tali kimono putihnya, aku seolah ingin membantunya untuk menanggalkan kimono itu.

Lalu sebentuk tubuh indah nyaris telanjang di depan mataku. Tubuh yang berkulit sawomatang namun sangat mulus dan indah. Hanya dua benda yang masih melekat di tubuh Tante Fenti. Penutup payudara dan penutup kemaluan. Keduanya terbuat dari bahan yang sama. Bahan kaus berwarna abu-abu. Yang unik adalah penutup payudara yang tidak bisa disebut beha itu punya dua tonjolan, karena pentil di dalamnya mendorong ke depan.

Tentu saja aku kleyengan dibuatnya. Dan dalam pengaruh wine keras itu membuatku jadi lancang. Langsung menyentuh “sesuatu” yang dipertontonkan oleh penutup memek itu…! Ngocoks.com

Dan gilanya, Tante Fenti malah melepaskan celana dalam berlubang itu, lalu duduk ngangkang di atas bed sambil mengelus-elus kemaluannya yang bersih dari jembi dan berkata, “Ayo mau diapain… memang yang ini buat kamu Sam.”

Kutatap mata bundar Tante Fenti yang bergoyang perlahan dan senyum manisnya yang lengkap dengan lesung pipit di kedua pipinya. Dan tanpa ragu lagi aku merangkak, dengan mulut mendekati antara kedua paha yang dikangkangkan itu. Langsung menciumi kemaluan tak berambut itu.

Namun sebelum sempat aku menjilati kemaluan Tante Fenti yang sudah kungangakan itu, tiba-tiba Tante Fenti memberi isyarat agar aku menelentang di atas bednya.

Kuikuti isyarat itu dengan perasaan ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Tante Fenti merayap ke atas dadaku. Mencium bibirku dengan hangatnya. Lalu berlutut, dengan kedua lutut tioletakkan di kanan-kiri kepalaku. Sementara kemaluannya itu… persis berada di atas mulutku…!

Seandainya aku tidak minum wine dulu, mungkin semuanya ini akan terasa begitu cepat terjadi. Namun karena aku sudah minum wine yang jauh lebih keras daripada wine yang pernah kuminum, semuanya jadi terasa wajar saja.

Bahwa sebentuk kemaluan yang indah telah menganga di atas mulutku. Lalu kemaluan itu menurun sendiri meski aku belum menyentuhnya.

Dan… kemaluan Tante Fenti itu sangat jelas di mataku. Bahwa bibir kemaluannya berwarna lebih gelap daripada kulit di dekitarnya. Bahwa selubung yang menyembunyikan kelentitnya pun begitu je;las lipatannya. Kelentitnya pun agak menyembul ke luar. Dan bibir kemaluannya yangh ternganga itu membuat bagian dalamnya yang merah membara itu jelas pula terlihat olehku.

Jam terbangku pun sudah lumayan banyak, berkat seringnya aku menggauli ibu tiriku. Sehingga dalam hitungan detik saja lidahku sudah menancap di liang yang menganga erotis itu.

Gila… fantastis sekali menjilati kemaluan Tante Fenti ini. Hangat dan licin.

sementara kedua tanganku pun berulang-ulang membukakan mulut kemaluan yang berwarna sawomatang itu.

Kemaluan Tante Fenti pun tidak diam saja. Bergerak-gerak maju mundur, membuatku semakin bergairah menjilatinya.

Sambil mengelus-elus rambutku, Tante Fenti berkata setengah merintih, “Duh Sam… kamu sudah pandai menjilati memek ya. Ini enak sekali Sam…”

Aku tidak menyahut, karena sedang asyik-asyiknya menjilati kemaluan Tante Fenti ini. Sementara aku merasakan sesuatu pula, bahwa penisku yang sudah tegang sejak tadi, semakin ngaceng saja rasanya.

Tapi aku berusaha untuk menciptakan kenikmatan buat Tante Fenti. Maka jilatanku pun mulai kuarahkan ke kelentitnya yang sudah tampak menonjol dan mengkilap itu.

Bukan sekadar menjilat lagi. Aku “berjuang” untuk menyedot-nyedot kelentit Tante Fenti, sambil “dibantu” dengan elusan-elusan ujung lidahku secara intensif.

Spontan Tante Fenti mulai mengejang-ngejang, menahan-nahan nafas dan mendesah-desah, “Saaam… ooooh… Saaaam… ooooh… Saaaam… ooooh… Saaaam… ooooh Saaaam…”

Sementara elusan-elusannya di rambutku mulai berubah jadi jambakan-jambakan yang lumayan kuat.

Cukup lama aku melakukan ini semua.

Sampai akhirnya Tante Fenti menjauhkan kemaluannya dari mulutku… lalu bergerak ke bawah. Menarik ritsleting celana jeansku, lalu menarik celana berikut celana dalamku sekaligus.

Dan dalam hitungan detik, keadaan sudah berbalik. Kini Tante Fenti yang melakukan felatio (mengoral penis). Membuat penis tegangku semakin tegang… semakin menagih-nagih.

Tapi tampaknya Tante Fenti sudah sangat horny. Baru beberapa menit dia menyelomoti dan mengurut-urut penisku, lalu ia berusaha memasukkan penisku ke dalam liang kewanitaannya.

Tidak sulit memasukkan penisku ke dalam liang kemaluan Tante Fenti yang sudah basah kuyup itu. Lalu ia pun mulai beraksi, mengayun pinggulnya sambil berlutut, dengan kedua lutut berada di kanan-kiri pinggulku.

Ternyata hal ini pun hanya bisa dilakukannya selama belasan menit saja. Akhirnya ia ambruk di atas perutku sambil merintih, “Aaaaah… tante udah lepas Sam… kontolmu terlalu enak sih…”

Aku tidak tahu apakah Tante Fenti bicara yang sebenarnya atau tidak. Yang jelas, Mama pun sering mengatakan hal yang sama. Bahwa aku jauh lebih memuaskan daripada Papa. Karena ereksiku sempurna dan bisa bertahan lama di atas perut Mama.

Dan ketika Tante Fenti sudah menelentang, sementara penisku sudah terlepas dari kemaluannya, aku pun tidak banyak basa-basi lagi. Kuletakkan moncong penisku di mulut vagina Tante Fenti.

Lalu dengan sekali dorong penisku sudah membenam lagi ke dalam liang kewanitaan Tante Fenti, diiringi desahan nafas sahabat Mama itu, “Oooooh…”

Tante Fenti pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Dan terdengar suaranya perlahan di dekat telingaku, “Ayo lanjutkan Sam… sekarang giliranmu…”

Ya, sekarang memang giliranku untuk mengayun penisku. Bermaju mundur di dalam liang kemaluan Tante Fenti yang sudah licin tapi terasa sangat legit ini.

Kini aku sudah semakin sadar, bahwa ucapan Mama itu benar. Bawa perempuan yang hitam manis seperti Tante Fenti ini, liang senggamanya legit…!

Aku mulai bisa membedakan mana vagina yang legit dan mana yang sekadar sempit menjepit belaka.

Sehingga ketika aku mulai mengentot memek Tante Fenti, komentarku terlontar begitu saja, “Memek Tante legit sekali…”

“Enak mana dengan memek mamamu?” tanya Tante Fenti sambil tersenyum bangga.

Aku agak kaget, karena poertanyaan itu membuktikan bahwa Tante Fenti sudah tahu kalau aku sudah terbiasa bersetubuh dengahn kibu tiriku. “Mmm… lain-lain rasanya. Ohya… Rendi pernah menyetubuhi Tante?”

“Belum pernah. Tante nggak mau digauli oleh keponakan yang sudah dianggap anak kandung tante sendiri sejak bayi. Makanya tante ngajak mamamu… supaya Rendi tidak sembarangan menyalurkan nafsunya di luar.”

Aku tidak menanggapinya, karena ada bagian yang termasuk ranah pribadi Tante Fenti. Lalu kulanjutkan mengayun penisku yang sempat terhenti beberapa detik barusan.

Tante Fenti yang sudah bergairah kembali itu merangkul leherku kembali. Dan asyik melumat bibirku. Lalu berkata lagi, “Nanti kalau tante pengen lagi… Sam bisa datang sendiri ke sini tanpa Mama kan?”

“Bisa… asal jangan malam aja…” sahutku tersendat, karena sudah mulai mempercepat ayunan penisku. Sambil menikmati legitnya memek Tante Fenti.

Tante Fenti pun tampak menikmati genjotan penisku yang kata Mama sangat tangguh ini.

Dan ketika aku sedamng asyik mengentot Tante Fenti, tiba-tiba aku teringat Mama. Dan membayangkan apa yang sedang terjadi antara Mama dengan Rendi.

Tidak aneh rasanya kalau hal itu membuatku cemburu. Lalu kulampiaskan kecemburuanku dengan menggenjot penisku habis-habisan di dalam jepitan liang kemaluan tante Fenti yang legit menjepit ini.

Akibatnya, tante Fenti gedebak-gedebuk, menggeliat dan mengepak-ngepakkan sepasang tangannya di atas kasur. Sembil menyebut namaku berulang-ulang, “Saaam… ooooh… Saaaam… Saaaam… oooooh… Saaaam… ooooh…”

Bahkan pada suatu saat Tante Fenti membisiki telingaku, “Tante mau orgasme lagi Saaam…”

“Iiiyaaa… lepasin aja Tante. Aku ma… masih lama…” sahutku tersendat-sendat.

“Iiii… iiiniii lepasss… aaaa… aaaahhhhh… “Tante Fenti berkelojotan lalu mengejang tegang. Dan akhirnya tergolek lemas.

Ini sesuatu yang sangat nikmat bagiku. Karena dengan Mama pun aku merasa nikmat sekali pada saat beliau orgasme.

Maka seperti yang biasa kulakukan kepada Mama paska orgasmenya, kucium bibir Tante Fenti yang tampak lebih cantik. Karena aura kewanitaannya seolah terpancar dari wajahnya.

Aku memang belum ejakulasi. Tapi kuistirahatkan dulu entotanku. Menunggu Tante Fenti segar kembali.

Hanya lima menit aku beristirahat. Lalu kulanjutkan genjotanku. Memompakan penisku di dalam liang kemaluan Tante Fenti yang basah dan hangat ini.

Tak cuma itu. Tangan dan mulutku pun ikut “melengkapi” perjalanan birahi yang indah dan sangat menyentuh ini.

Bahwa ketika penisku bermaju-mundur di dalam jepitan liang kewanitaan Tante Fenti, tanganku mulai asyik meremas payudaranya dengan lembut, sementara lidahku menjilati lehernya yang sudah berkeringat, disertai dengan gigitan-gigitan kecil.

Aksiku ini membuat Tante Fenti semakin terpejam-pejam, dengan mulut tiada hentinya memanggil-manggil namaku, “Saaam… ooooh… Saaaam… ooo… oooh Saaam… oooh… Saaam… ini luar biasa enaknya Saaaam…”

Pergumulan birahi dengan Tante Fenti itu berlangsung dalam durasi yang cukup lama. Ketika penisku bertejakulasi di dalam liang kewanitaannya, ia sudah berkali-kali orgasme dalam genjotan penisku. Kemudian kuhamburkan spermaku di dalam liang senggamanya. Diakhiri dengan kecupan mesranya di bibirku. Lalu kami sama-sama terkapar di pantai kepuasan yang benar-benar indah buat dikenang di hari-hari berikutnya.

Dan itu bukan akhir dari persetubuhan kami. Karena selanjutnya, setelah gairah kami bangkit lagi, kami lakukan kembali persetubuhan dalam putaran yang kedua. Tentu saja dalam durasi yang jauh lama daripada putaran pertama tadi.

Maka wajarlah kalau kami baru bisa keluar dari kamar setelah matahari condong ke barat. Dengan sekujur tubuh serasa dilolosi. Ngocoks.com

Kami memang sudah mandi bersama di kamar mandi Tante Fenti. Sehingga kami tampak segar ketika keluar dari kamar Tante Fenti. Padahal lututku terasa lemas sekali. Dan perut sudah menagih-nagih, minta diisi.

Setibanya di ruang tamu, aku baru nyadar bahwa Mama sedang keluar, karena mobil Tante Fenti tidak ada. Berarti Mama bersama Rendi keluar, memakai mobil Tante Fenti. Karena kunci mobil Mama ada padaku.

Tante Fenti melangkah ke lantai atas, untuk membuktikan bahwa Mama benar-benar keluar bersama Rendi.

Tak lama kemudian Tante Fenti turun lagi sambil berkata, “Benar… mereka keluar. Mungkin mereka juga lapar, seperti kita.”

“Iya Tante.”

“Hari Minggu si bibi libur. Jadi gak ada yang masak. Kita makan di luar aja yuk.”

“Siap Tante.”

Beberapa saat kemudian aku dan Tante Fenti sudah berada di dalam mobil Mama, menuju sebuah rumah makan yang kata Tante Fenti enak-enak makanannya.

Di rumah makan itulah kami makan siang, meski waktunya sudah menuju ke sore hari.

Setelah perut diisi, Tante Fenti berkata, “Kamu bisa bertahan lama begitu, apa pakai obat kuat?”

“Iiih, nggak Tante. Malah yang kubaca di internet, makan obat apa pun pasti ada dampak negatifnya di kemudian hari.”

“Iya, itu betul. Yang penting harus olah raga saja tiap hari.”

“Iya, kalau olah raga memang suka.”

Dalam perjalanan pulang ke rumah Tante Fenti, percakapan itu dilanjutkan :

“Nanti kalau tante kangen, kamu bisa datang kan ke rumah tante?”

“Siap Tante. Tapi kalau aku yang kangen, apa bisa aku ke rumah Tante?”

“Iya, datang aja. Mau siang atau malam pintu rumah tante terbuka untukmu Sam.”

Ketika kami tiba di rumah Tante Fenti kembali, ternyata Mama dan Rendi belum pulang juga. Sehingga aku bertanya-tanya di dalam hati, ke mana mereka itu? Kalau cuma mau makan di luar, kenapa begitu lama belum pulang juga?

Tapi, karena Tante Fenti mengajakku masuk ke dalam kamarnya lagi, aku pun tak mempedulikan Mama lagi. Biarlah Mama pergi sesuka hatinya. Mendingan fokus pada Tante Fenti saja dulu.

Kami duduk di sofa yang agak jauh dari bed. Pada saat itulah Tante Fenti memegang kedua tanganku sambil berkata, “Terus terang aja, tante belum pernah mendapatkan kepuasan seksual sehebat tadi. Dan tante pasti ketagihan…”

Aku merayapkan tanganku ke balik gaun Tante Fenti, menyelundupkan tanganku ke balik celana dalamnya, sampai menemukan kemaluannya, “Aku juga sama. Pasti bakal ketagihan menikmati memek Tante yang sangat legit ini,” sahutku sambil mengelus-elus kemaluan Tante Fenti.

Sahabat Mama itu membalas dengan menarik ritsleting celana jeansku, lalu menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. Menggenggam penisku yang sudah mulai menegang lagi ini. “Kamu udah mau lagi?” tanyanya sambil meremas-remas penisku perlahan.

Aku menyahut, “Kayaknya sih iya, Tante.”

“Hebat… tante akan semakin tak bisa melupakanmu Sam,” ucap Tante Fenti sambil menanggalkan segala yang melekat di tubuhnya.

Aku pun mengikutinya. Menanggalkan semua benda yang melekat di tubuhku, sampai akhirnya kami sama-sama telanjang bulat.

Dalam keadaan sama-sama bergairah, kami bergumul lagi di atas bed. Saling celucup, saling peluk, saling lumat dan saling remas. Tak ubahnya sepasang ular yang sedang bergumul di masa birahinya.

Terkadang aku berada di atas, terkadang juga berada di bawah. Dan pada suatu saat, ketika Tante Fenti sedang berada di atas, batang kemaluanku digenggamnya, lalu dibenamkan ke dalam liang kewanitaannya. Lalu ia beraksi, mengayun pinggulnya naik turun, sehingga liang kemaluannya yang licin itu mengocok penisku.

Aku pun terpejam-pejam dalam nikmat. Sementara kedua tanganku ikut merasakan nikmatnya meremas-remas sepasang payudara Tante Fenti yang bergelantungan di atas dadaku.

Cukup lama Tante Fenti beraksi dalam posisi WOT ini. Sehingga aku pun mulai keringatan. Sampai akhirnya Tante Fenti menggulingkan badan ke sampingku, jadi menelentang sambil merentangkan sepasang pahanya lebar-lebar… dan berkata, “Ayo lanjutkan… lagi enak-enaknya nih…”

Tanpa buang-buang waktu aku pun membenamkan penisku ke dalam liang kemaluan Tante Fenti. Lalu mulai mengentotnya sambil merapatkan dadaku ke dadanya. Sambil mencium bibir sensualnya dan meremas sepasang payudaranya yang terasa masih kenyal dan padat.

Tante Fenti pun menanggapi entotanku dengan goyangan pinggulnya yang meliuk-liuk dan menghempas-hempas. Rintihan dan desahannya pun berlontaran terus dari mulutnya, “Saaam… duuuuh… Saaaam… kamu benar-benar perkasa… tante pasti ketagihan nanti… Saaaam… ooooh… iyaaaaaa… iyaaaaa…

Semuanya ini membuatku semakin bergairah untuk menggenjot penisku yang tengah bermaju-mundur di dalam liang kemaluan Tante Fenti.

Namun tiba-tiba terdengar suara Mama, “Waduuuh asyiknya… sampai pada lupa makan ya?”

Aku kaget dan menoleh ke arah Mama yang ternyata suidah berada di dalam kamar Tante Fenti, bersama Rendi di sampingnya.

“Kami udah makan Mbak,” sahut Tante Fenti sambil mengelus-elus punggungku, “Justru Mbak Mien yang lama banget hilangnya tadi.”

“Aku juga makan sambil ngobrol sama Rendi. Tapi tempat makannya lumayan jauh, makanya lama pulangnya,“sahut Mama sambil duduk di dekat Tante Fenti yang sedang kusetubuhi. Sementara Rendi berdiri canggung di dekat bed Tante Fenti.

Tiba-tiba Mama menanggalkan semua yang melekat di tubuhnya sambil berkata kepada Rendi, “Ayo Ren… kita ramaikan suasananya…! Kamu masih mau kan?”

Rendi cuma mengangguk sambil tersenyum. Lalu menanggalkan segala yang melekat di tubuhnya. Dan merayap ke atas tubuh Mama yang sedang celentang di samping Tante Fenti. Ngocoks.com

Sebenarnya aku sendiri merasa kikuk karena sedang mengentot Tante Fenti di depan mata Mama. Tapi ketika Rendi sudah membenamkan penisnya ke dalam kemaluan Mama, aku jadi garang kembali. Mengentot tante Fenti habis-habisan…!

Mama tampak seperti bergairah disetubuhi oleh anak angkat Tante Fenti itu. Tapi sesekali Mama masih bisa memegang payudara Tante Fenti dengan sikap menggoda. Sementara Rendi semakin massive mengentot Mama.

Jujur, aku cemburu melihat Mama dientot oleh anak angkat Tante Fenti itu. Dan kecemburuan ini kulampiaskan ke tubuh Tante Fenti. Dengan garang kuentot liang senggama Tante Fenti dengan gerakan “hardcore” seperti yang sering kulihat di video-video dewasa.

Maka kami berempat seolah sedang memamerkan gairah dan kehebatan kami masing-masing.

Namun pada suatu saat terdengar suara Mama, “Rendi… apa kamu nggak pengen nyobain main sama bundamu?”

“Haa…? Em… emangnya boleh?” sahut Rendi tersendat.

“Boleh kan Fen?” tanya Mama sambil mengusap-usap pipi Tante Fenti.

Tante Fenti tampak kikuk.

“Rendi kan bukan anak kandungmu. Jadi biar ramai, kita bisa tukar pasangan sekarang. Nanti boleh juga tukar lagi ke posisi sekarang.”

“Mmm… sebenarnya Rendi melihatku telanjang saja baru sekarang. Gimana ya? Memangnya Rendi mau bersetubuh dengan bunda?” tanya Tante Fenti kepada anak angkatnya.

“Kalau diizinkan mau, Bun.”

Mendengar percakapan itu aku jadi terdiam. Membiarkan penisku di dalam liang kemaluan Tante Fenti, tanpa kugerakkan lagi.

“Ayo deh,” kata Mama, “Sam sama Mama, biarkan dulu Rendi bersama Tante Fenti.”

“Iya Mam,” sahutku patuh, sambil mencabut penisku dari dalam liang kewanitaan Tante Fenti.

Rendi pun melakukan hal yang sama. Mencabut penisnya dari kemaluan Mama. Lalu kami bertukar tempat. Rendi naik ke atas perut ibu angkatnya, sementara aku naik ke atas perut Mama.

Yang menarik adalah ketika Rendi mau memasukkan penisnya ke dalam memek ibu angkatnya. Kelihatan sekali canggungnya cowok yang sebaya denganku itu.

Tapi sesaat kemudian semuanya jadi cair. Rendi mulai asyik mengentot Tante Fenti, sementara aku pun mulai asyik mengentot memek Mama…

Bersambung…

1 2 3 4 5 6
Berlanjut Bersambung Cantik Ibu Kandung Ibu Muda Keluarga Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Petualangan Sedarah Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKeluarga Pak Trisno
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.6

    Keluarga Pak Trisno

    9.6

    Tragedi Malam Pengantin

    9.7

    Flashback

    9.6

    Ayahku Ingin Nyusu

    9.5

    Menguntai Masa Lalu

    9.7

    Obsesi Nakal Ibu Kandung

    Follow Facebook

    Recent Post

    Rumah Kami Surga Kami

    Keluarga Pak Trisno

    Tragedi Malam Pengantin

    Flashback

    Ayahku Ingin Nyusu

    Menguntai Masa Lalu

    Obsesi Nakal Ibu Kandung

    Kakakku yang Liar

    Siswi SMP

    Tidak Sengaja

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.