Aku tak bisa menipu pada diriku lagi. Bahwa sejak masih di SMA pun aku sudah merasa mencintai Leonora. Tapi entah kenapa aku harus menunda-nunda pengakuanku. Dan setelah sama-sama tamat SMA, Leonora menghilang begitu saja. Tak pernah menghubungiku lagi, lewat handphone sekali pun. Dan ketika aku yang mencoba memanggilnya, jawaban yang diterima adalah, “Nomor yang anda tuju, salah.
Itu berarti bahwa nomor hape Eleonora sudah hangus. Lalu aku mau menemuinya di rumahnya. Tapi rumah Eleonora sudah kosong. Yang ada cuma papan bertuliskan RUMAH ini akan DIJUAL.
Lalu dari rumor yang kudengar, Eleonora pindah ke Jakarta bersama kedua orang tuanya. Lalu hilanglah Eleonora dari lembaran kehidupanku. Dan aku pun konsen ke kuliahku. Sambil mencoba melupakan Eleonora.
Dan kini… setelah sekian lamanya berpisah, aku langsung melakukan sesuatu yang dahulu tidak berani melakukannya. Menggerayangi kemaluannya sebagai awal dari aksiku.
Eleonora bahkan merenggangkan sepasang pahanya, sehingga jemariku semakin leluasa menjelajahi liang memeknya yang kurasa seimbang dengan liang memek Frida.
Tapi pada suatu saat Eleonora berkata, “Di kamar aja yok… di sini takut si bibi tiba-tiba muncul untuk mengambil sesuatu.”
Kuikuti saja ajakan Eleonora untuk bangkit dari sofa, lalu melangkah ke dalam kamarnya yang serba putih.
Ya benda-benda yang berada di dalam kamar ini putih semua. Termasuk warna sofa, dinding, tempat tidur dan seprainya, putih bersih semua. Sementara asesori dindingnya semua terbuat dari perak (bukan stainless steel), berupa ukiran-ukiran dari Eropa timur yang cantik-cantik.
Mungkin karena serba putih dan berkilauan itu lampu di kamar Eleonora hanya dinyalakan yang kecil-kecil saja, supaya tidak menyilaukan mata siapa pun yang berada di kamar beraroma harum ini.
Namun di bawah penerangan redup itu, pandanganku terpusat ke arah Eleonora yang sedang melepaskan celana dalamnya. Lalu duduk di sofa putih yang lebih keren daripada sofa putih di hotel 4 star itu. Sambil menarik gaunnya ke atas, sehingga dari pusar perut sampai ke ujung kakinya terbuka… sementara kedua pahanya pun direnggangkan jaraknya.
“Kok gak langsung telanjang?” tanyaku sambil berjongkok di antara kedua kaki Eleonora, sambil memperhatikan kemaluannya yang tembem dan rapat, sehingga yang tampak hanya garis lurus dari atas ke bawah. Gila… sangat mirip kemaluan istriku…!
Hanya bedanya, kemaluan Eleonora bersih dari jembut karena dicukur, bukan alamiah seperti memek istri tercintaku.
“Ya kamu harus berjuang dong, telanjangi aku. Supaya aku tidak terkesan bertepuk sebelah tangan,” sahut Eleonora sambil membelai rambutku yang berada di bawah perutnya.
“Nanti deh… step by step aja dulu,” kataku sambil mengusap-usap memek plontos bersih itu, “Aku pengen jilatin memekmu sahabat lamaku ini.”
“Jilatin deh sesukamu. Tapi kamu sambil duduk di lantai gitu, gak enak ah. Di sana aja yok,” ucap Eleonora sambil menunjuk ke atas tempat tidurnya yang lebar dan serba putih itu.
Aku setuju saja. Mau main casual atau formal terserah yang punya rumah.
Lalu Eleonora bangkit dan melangkah ke arah tempat tidur serba putihnya.
Aku pun berinisiatif untuk menanggalkan gaun cokelat mudanya yang terbuat dari bahan elastis itu. Dan begitu gaunnya meninggalkan tubuhnya, tiada sehelai benang pun yang masih melekat di tubuh sexy itu. Karena sejak tadi ia tidak mengenakan bra, sementara celana dalamnya masih tergeletak di atas sofa.
Aku pun tak mau buang-buang waktu. Kulepaskan sepatu dan kaus kakiku, kemudian busanaku sehelai demi sehelai. Hanya celana dalam yang masih kubiarkan melekat di tubuhku.
Lalu aku merayap ke atas tubuh Eleonora yang sedang menelentang sambil menatap dan tersenyum padaku. Targetku pun jadi berubah. Tidak seperti waktu duduk di lantai tadi.
Ketika aku sudah menghimpit tubuh telanjang yang sangat menggiurkan ini, ketika wajahku sudah berada di atas wajah manis Eleonora, dengan sepasang bibibr sensualnya yang agak terbuka… aku pun menyergap bibir itu dengan lumatan hangat. Yang Eleonora tanggapi dengan dekapan hangat di pinggangku, sementara lenganku sudah melingkari lehernya.
Agak lama kami saling lumat dan gantian saling sedot lidah… sehingga air liur kami berpindah-pindah tempat tanpa kami pedulikan.
Dan ketika ciuman kami terlepas, Eleonora menatapku sambil berkata lirih, “Ciuman sambil telanjang gini aja rasanya sudah melebihi mimpi-mimpi masa remajaku, Sam.”
Kusahut dengan bisikan, “Apalagi kalau memekmu sudah kuentot nanti yaaa…”
“Iya… tapi aku ingin terhanyut dalam kemesraan dulu… kemesraan yang sudah lama kuimpikan.”
“Sebenarnya aku juga sering mimpikan kamu dahulu, Nor. Jadi pertemuan ini kuanggap untuk mewujudkan mimpi-mimpi indah itu.”
“Iya. Dalam status yang sudah berubah. Dahulu kamu sahabat dekatku. Sekarang sudah menjadi saudara iparku.”
“Tak usah lagi mempermasalahkan status kita. Yang jelas, saat ini kita sedang menjadi sepasang manusia yang saling membutuhkan.”
Sebagai jawaban, Eleonora memagut bibirku. Lalu kami saling lumat lagi.
Kali ini aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan, untuk meremas toket gede Eleonora sambil saling lumat bibir dan lidah.
Bahkan akhirnya mulutku juga ikut menikmati tegangnya puting payudara Eleonora yang mulai kucelucupi, kujilati dan kusedot-sedot. Sementara tanganku meremas payudara yang satunya lagi. Dengan nafsu yang semakin bergejolak di dalam jiwaku.
Tubuh Eleonora pun mulai menghangat. Sehingga aku merasa harus segera melorot turun. Menjilati pusar perutnya… lalu turun ke bawah… ke bagian yang paling indah itu…!
Kutepuk-tepuk memek plontos tembemnya sejenak, lalu kedua tanganku mengangakan bibir luarnya yang terkatup itu, sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink dan basah itu terbuka lebar.
Mulutku seolah membenam ke bagian yang berwarna pink itu. Lalu kujilati bagian yang sangat erotis itu, sementara hidungku berkali-kali menyentuh kelentitnya yang terasa sudah menegang ini.
Mulailah Eleonora menggeliat-geliat sambil mengusap-usap rambutku, sementara batang kemaluanku sudah tegang dan siap tempur. Tapi aku ingin membuat memek Eleonora sebasah mungkin, agar nanti penetrasinya tidak sulit. Karena dalam tempo sebentar pun aku sudah bisa tahu bahwa liang memek Eleonora sama sempitnya dengan liang memek istriku.
Pada saat itulah, tiba-tiba suara musik indah berkumandang perlahan di dalam kamar serba putih ini. Aku tahu bahwa itu seri dari album Beautiful Vocal Chillout Compilation. Tapi aku tidak tahu dari mana Eleonora mengaktifkan sound systemnya. Yang jelas, suara musik yang perlahan dan erotis itu justru membuatku semakin bergairah untuk menjilati memek Eleonora.
Tak cuma bagian dalam memeknya yang berwarna pink itu. Lidahku pun mulai massive menggasak kelentitnya. Sehingga Eleonora mulai menggeliat-geliat sambil meremas-remas bahuku, dengan nafas terengah-engah. Sementara celah kemaluannya terasa sudah basah sekali.
Sepasang paha Eleonora pun semakin terbuka lebar. Sehingga aku bisa memegang selangkangannya, sambil mengintensifkan jilatanku terutama di clitorisnya.
Dan setelah merasa sudah waktunya untuk penetrasi, aku pun berlutut sambil menurunkan celana dalamku.
Eleonora melotot sambil bangkit dan memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini. “Edan… ternyata kontolmu panjang dan gede banget, “gumamnya.
“Emangnya punya suamimu segede apa?” tanyaku sambil mendorong dada Eleonora agar dia rebah celentang lagi.
“Suamiku… badannya doang yang tinggi gendut. Tapi kontolnya kecil… gak bisa ereksi sekeras kontolmu itu pula… maklum usianya sudah tua… sebaya dengan papamu.”
Aku tidak mau membahas masalah suami Eleonora. Takut dia tersinggung. Karena aku yakin, pasti ada sesuatu yang memotivasi dia untuk menerima lelaki tua itu sebagai suaminya. Mungkin soal harta atau balas budi.
Aku lebih peduli untuk meletakkan moncong penisku di mulut memek Eleonora yang sudah ternganga itu (dingangakan oleh sepasang tangan Eleonora sendiri).
Dan ketika aku siap untuk melakukan penetrasi, Eleonora turut memegangi batang kemaluanku, mungkin agar arahnya tepat dan jangan sampai meleset.
Akhirnya kudorong penis ngacengku sekuat mungkin. Dan mulai membenam ke dalam liang memek Eleonora yang super sempit ini… hampir sama sempitnya dengan liang senggama istriku.
“Aaaah… masuuuk… edan… kontolmu gede banget Sam… Frida pasti merem-melek terus… pantesan dia cinta setengah mati padamu…” ucap Eleonora ketika batang kemaluanku sudah terbenam setengahnya.
“Emangnya begitu kenal langsung pamerin kontol?” sahutku sambil menjatuhkan dadaku ke sepasang toket gede saudara sepupu istriku ini. Lalu mendesakkan lagi batang kemaluanku lebih dalam.
Dan mulailah aku menggerak-gerakkan penisku dalam jepitan liang senggama yang super sempit ini.
Eleonora pun melingkarkan lengannya di leherku. Lalu menciumi pipi dan bibirku bertubi-tubi, sementara aku mulai mengentotnya dengan gerakan dipercepat. Tapi belum lancar benar, karena liang memeknya membuat batang kemaluanku masih sulit bergerak.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa menit aku mengentotnya, liang memek Eleonora pun makin lama makin licin, karena banyak lendir libidonya yang “membantu dan melicinkan” entotanku.
Detik-detik penuh aroma nafsu birahi pun semakin merajalela di dalam kamar serba putih ini. Eleonora pun mulai menggoyang pinggulnya, memutar-mutar, meliuk-liuk dan menghempas-hempas. Membuat batang kemaluanku seperti diperas dan dibesot-besot.
Wow… betapa nikmatnya mengentot sahabat seSMA dahulu ini. Sahabat yang kini menjadi saudara iparku, sekaligus menjadi kekasih gelapku. Ngocoks.com
Dan kini batang kemaluanku tengah bermaju mundur di dalam jepitan liang memeknya, sementara mulutku tengah menggeluti lehernya yang mulai keringatan, namun harum parfumnya mengalahkan aroma keringatnya. Tak cuma itu. Aku pun mulai asyik menjilati ketiaknya yang juga harum, disertai gigitan-gigitan kecil yang membuat Eleonora semakin berdesah dan merintih histeris.
“Saaaam… aaaaah… kontolmu luar biasa Saaaam… terasa sekali memenuhi rongga liang memekku… terasa sekali gesekannya… luar biasa Saaaam… entot terus Saaaam… iyaaaaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaa… entot terus Saaam… aaaaaah… gak nyangka kamu punya kontol sepanjang dan segede ini Saaaam…
Rengekan dan rintihan itu baru terhenti setelah aku menyumpal mulutnya dengan ciuman dan lumatanku.
Maka sunyi kembali di dalam kamar serba putih itu. Hanya bunyi unik dari memek Eleonara yang sedang dientot oleh batang kemaluanku. “Creppp… sertttt… creppp… sretttt… crepppp… sretttt…”
Lama… lama sekali aku menyetubuhi sahabat lamaku yang sebenarnya sudah lama saling mencintai ini. Hanya bedanya, dia secara terbuka nembak aku dahulu, sementara aku dahulu hanya memendamnya saja di dalam hati.
Keringat pun mulai berjatuhan dari tubuhku, bercampur baur dengan keringat Eleonora. Sementara Eleonora tampak sudah semakin lupa daratan. Ia menggoyang pinggulnya dengan edan-edanan. Mungkin sekalian ingin agar kelentitnya terus-terusan bergesekan dengan batang kemaluanku dengan gerakan hempasannya.
Bahkan pada suatu saat aku berkata terengah, “”Ughhh… lepasin di mana nih Nor?”
“Di dalem aja… biar ngerasain indahnya disembur spermamu… tapi tunggu sebentar… aku juga sudah mau lepas… kita barengin yaaa… aaaaaah… aaaaah… aaaah…”
sahut Eleonora dengan “geolan” pinggul yang semakin menggila.
Sampai pada suatu saat Eleonora berdesis, “Ayo… lepasin Saaaam…”
Aku pun mempercepat entotanku… cepat sekali… sampai akhirnya kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin di puncak kenikmatanku yang luar biasa indahnya ini… lalu terasa liang memek Eleonora berkedut-kedut halus, beriringan dengan kejutan-kejutan batang kemaluanku yang sedang memuntah-muntahkan sperma…
Aku terkapar di atas perut Eleonora. Sementara Eleonora pun melemah, dengan sorot wajah yang tampak puas. Aku pun berusaha menciptakan akhir yang romantis. Kucium bibibr sensual Eleonora… lalu terdengar suaranya lirih, “Terima kasih Sam… ini untuk pertama kalinya aku selingkuh dari suami… tapi aku takkan menyesalinya.
Aku tidak menyahut. Sementara penisku terasa melemas dan mengecil… lalu seolah terusir dari liang memek Eleonora… terlepas sendiri… plok…!
Lalu terdengar lagi suara Eleonora, “Tau nggak? Barusan itu orgasmeku yang ketiga kalinya Sam.”
“Masa?! Kok gak bilang-bilang tadi?” sahutku bangga karena telah berhasil membuat Eleonora orgasme sampai tiga kali. Sambil menggulingkan badan ke samping Eleonora.
“Malu sih… soalnya baru dua-tiga menit juga aku udah orgasme…” ucap Eleonora sambil menggenggam penisku yang sudah terkulai lemas. Lalu meremasnya dengan lembut. “Dengan suamiku, bisa orgasme satu kali juga udah untung. Seringnya sih nggak sampai orgasme.”
“Terus kalau sudah begitu, apa yang kamu lakukan?” tanyaku heran.
“Cepetan masuk ke kamar mandi. Lalu masturbasi…”
Aku prihatin juga mendengar pengakuan Eleonora itu.
“Hai… kontolmu udah ngaceng lagi?!” ucap Eleonora setengah berbisik.
Lalu dia seperti yang ingin meyakinkannya. Duduk sambil mendekatkan wajahnya ke penisku yang tengah digenggamnya.
Lalu… dengan binalnya Eleonora menjilati leher dan moncong penisku.
Memang sejak digenggam dan diremas-remas oleh Eleonora, penisku diam-diam jadi ngaceng lagi. Apalagi setelah dijilati dan akhirnya diselomoti ini, batang kemaluanku jadi mengeras kembali. Dan siap tarung lagi…!
Tapi kali ini Eleonora yang beraksi di atas. Sambil berlutut dengan melebarkan jarak kedua lututnya di kanan kiriku, ia menurunkan memeknya, sambil mengarahkan moncong penisku ke mulut vaginanya.
Lalu memek Eleonora menurun dan… bleessss… batang kemaluanku amblas lagi ke dalam memeknya…!
Maka mulailah Eleonora beraksi dalam posisi WOT.
Aku yang sedang menelentang ini bisa memperhatikan bentuk kemaluan Eleonora yang sedang membesot-besot penis ngacengku dengan jelas… jelas sekali. Dan jelas sekali betapa menggiurkannya memek Eleonora yang sedang naik turun di atas selangkanganku itu.
Hmmm… aku yakin benar bahwa pada dasarnya Eleonora mempunyai hasrat seksual yang menggebu-gebu alias gede nafsunya. Tapi mungkin suaminya yang sudah tua itu takkan mampu memuasi hasrat seksual Eleonora.
Lalu apakah aku senantiasa akan selalu siap untuk memuasi Eleonora?
Entahlah…
Yang jelas ayunan bokong Eleonora makin lama makin menggila, sementara toket gedenya terombang-ambing ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah. Keringatnya pun mulai berjatuhan ke atas perutku.
Sampai akhirnya ia ambruk ke dalam dekapanku. Pasti dia sudah orgasme lagi.
Tapi penisku yang masih berada di dalam liang memek Eleonora masih ngaceng dan belum ejaklulasi untuk kedua kalinya.
Lalu kami lakukan posisi lain. Awalnya dengan posisi missionaris. Lalu posisi doggy. Posisi miring dan lainnya.
Entah berapa kali Eleonora mencapai orgasmenya. Yang jelas durasi set kedua ini jelas lebih lama dari yang pertama. Mungkin lelaki mana pun seperti itu. Bahwa yang kedua pasti lebih lama daripada yang pertama.
###
Hari mulai gelap ketika aku tiba di Rumah Cinta yang sudah Mamie hadiahkan untukku itu.
Tapi setelah mencari-cari, Frida tidak kutemukan.
Sehingga aku membuka pintu kamar Mama Ken yang tampaknya baru selesai mandi. Hanya membelitkan handuk ke badannya.
“Frida ke mana Mam?” tanyaku.
“Ke rumah Mamie. Tadi dipanggil oleh Mamie, entah ada urusan apa.”
“Ohya?! Kok Frida gak ngasih tau aku dulu?”
“Handphonemu gak bisa dihubungi. Terus Frida pergi ke hotel. Di sana juga kamu gak ada,” sahut Mama Ken.
Aku baru teringat bahwa sejak berada dui rumah Eleonora tadi handphoneku sengaja kumatikan.
“Iya… tadi hapeku abis batrenya. Kebetulan nggak bawa charger pula,” sahutku berbohong, “Bisa pinjam hapenya Mam? Mau nelepon Frida.”
Mama Ken mengambil hapenya dari laci meja rias, lalu menyerahkan hape itu padaku.
Tentu saja nomor Frida ada di hape ibunya ini. Lalu kupijat nomor itu. Dan :
“Hallo Mam…”
“Ini aku, bukan Mama.”
“Bang Sam?! Tadi aku call Abang berkali-kali, tapi selalu dibilang hapenya nggak aktif. Terus aku pergi ke hotel. Ternyata di hotel juga nggak ada.”
“Iya. Batre hapeku ngedrop. Gak bawa charger pula. Padahal aku nggak jauh, cuma lagi berunding dengan kontraktor di kantornya,” kataku berbohong, “Sekarang kamu di rumah Mamie, Beib?”
“Iya Bang. Mamie bilang aku harus kuliah. Gimana ya?”
“Ya kalau Mamie bilang begitu, turuti aja. Biar hatinya senang. Jangan pernah membantahnya.”
“Iya Bang. terus, ini aku disuruh nginap di rumah Mamie. Ingin ditemani, karena Papa sedang di laur Jawa. Boleh kan aku nginap di rumah Mamie?”
“Iya, boleh. Mamie kan sedang hamil. Menurut kepercayaan, orang hamil sih nggak boleh dibiarin tidur sendirian.”
“Iya Bang. Jadi aku tidur di rumah Mamie aja yaaa…”
“Iya. Sebelum Papa pulang tidur di rumah Mamie aja dulu.”
“Iya Bang. Lagian pulang juga mau ngapain… aku kan lagi menstruasi. Hihihihiiii…”
Setelah hubungan seluler ditutup, kuserahkan kembali hape itu ke pemiliknya yang masih cuma berbalutkan handuk.
“Frida mau nginap di rumah Mamie,” kataku sambil memeluk tubuh gempal Mama Ken, “Asyiiik… jadi kita bisa main ya Mam.”
“Mmm… kamu udah kangen padaku ya?” tanya Mama Ken sambil tersenyum.
“Iya Mama sayang… rasanya belakangan ini Mama seperti jual mahal terus padaku. Kenapa Mam?” ucapku disusul dengan kecupan hangat di pipi dan bibirnya.
“Bukan jual mahal,” sahut Mama Ken, “Mama sih merasa seperti menghianati anak mama sendiri. Makanya mama suka takut kalau kamu mendekati mama… takut ketahuan pula. Kalau Frida sampai tahu, wah, mama nggak bisa ngebayangin seperti apa marahnya Frida nanti.”
Ucapan Mama Ken itu membuatku teringat pada percakapanku dengan Frida beberapa hari yang lalu. Saat itu aku baru saja selesai menyetubuhinya. Dan Frida membuka pembicaraan yang lain dari biasanya. Ngocoks.com
“Kalau dipikir-pikir Mama itu kasihan. Sudah belasan tahun dia hidup menjanda. Dan menutup hatinya untuk lelaki mana pun. Alasannya, takut kalau aku punya ayah tiri… takut tidak bisa menyayangiku. Selalu itu alasannya,” kata Frida.
“Terus?”
“Mama kan belum tua-tua benar. Masih kelihatan sexy gitu kan? Aku yakin Mama masih membutuhkan sentuhan lelaki. Tapi setelah kita kawin pun, Mama selalu mengatakan alasan yang sama seperti dahulu. Takut aku punya ayah tiri yang tidak bisa menyayangiku. Padahal sekarang kan aku sudah punya suami yang akan selalu melindungi dan menyayangiku.
“Iya Beib.”
“Mmm… Bang… ini seandainya aja… mmm… Abang jangan marah ya… aku mau mengatakan sesuatu yang rahasia sifatnya… mmm…”
“Mau ngomong apa? Omongin dong. Apa pun yang kamu omongkan, aku takkan marah.”
“Begini Bang… kalau dengan Mama aku rela berbagi… termasuk membagi dirimu Bang…”
“Haaa?! Maksudmu apa? Belum jelas.”
“Aku sangat menyayangi dan merasa kasihan sama Mama. Jadi kalau Mama masih buat Abang, silakan aja gauli Mama.”
“Hahahaaa… kamu ini ada-ada aja Beib. Emangnya kamu gak cemburu kalau aku menggauli wanita lain?”
“Mama kan bukan orang lain. Mama itu ibu kandungku, yang melahirkanku. Masa aku bisa cemburu sama ibu kandungku sendiri?”
“Meski pun Mama masih menarik, Mama kan belum tentu mau sama aku,” kataku mencoba mengelak dari percakapan mendebarkan ini. Karena sebenarnya aku sudah melangkah jauh dengan Mama Ken.
“Masa aku mau tapi Mama gak mau?”
“Mungkin gak maunya karena aku ini menantunya.”
“Rayunya pelan-pelan dong. Lama-lama juga pasti mau. Asalkan pandai-pandai aja PDKTnya.”
“Heheheee… kamu kok mendadak aneh gini sih…” ucapku dengan nada heran. Karena sebenarnya aku takut juga kalau semua ucapannya merupakan pancingan atas dasar kecurigaannya. Ya… siapa tahu dia mencium gelagat yang mencurigakan di rumah ini. Dengan kata lain, siapa tahu dia sudah mencurigaiku ada hubungan rahasia dengan ibunya?!
“Aku serius Bang,” ucap Frida sambil memegang kedua pergelangan tanganku, “Aku kasihan pada Mama. Saking sayangnya dia padaku, sampai merelakan dirinya sendiri kesepian selama belasan tahun. Karena itu aku akan sangat berterimakasih jika Abang mau meluluhkan hati untuk membangkitkan semangat hidup Mama.
Mendengar ucapan serius itu, aku pun masih hati-hati menjawabnya, “Ya… akan kupikirkan dulu, ya Sayang…”
Ya… percakapanku dengan Frida beberapa hari yang lalu itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Karena itu aku memeluk Mama Ken sambil berkata setengah berbisik, “Mama tau nggak? Frida malah menyuruhku untuk menggauli Mama.”
“Ah.. masa?! Mama gak percaya. Mana mungkin Frida seperti itu.”
“Begini Mam…” kataku, yang kulanjutkan dengan menuturkan apa yang pernah Frida ucapkan beberapa hari yang lalu itu. Semuanya kuceritakan.
Mama Ken mendengarkan penuturanku dengan seksama. Dengan sorot wajah tampak heran.
“Kalau Mama gak percaya, nanti tanya aja sendiri ke Fridanya,” kataku di akhir penuturanku.
“Sampai segitunya ya rasa sayang Frida ke mama,” sahut Mama Ken serius.
“Pokoknya Mama gak usah merasa takut ketahuan sama Frida segala. Bahkan kalau Frida sedang datang bulan, bisa aja aku tidur sama Mama di sini. Hehehee…”
“Jangan ah… jangan kayak orang Barat di film-film gituan, mereka pada hilang rasa malunya. Mama sih gak mau dientot di depan Frida juga.”
“Iya. Hanya mau ngasihtau aja, Mama jangan punya perasaan takut ketahuan Frida lagi. Karena Frida sendiri menginginkan aku menggauli Mama, supaya semangat hidup Mama bangkit kembali katanya.”
“Iya sih, sejak Sam sering menggauli mama memang terasa mama ini jadi perempuan normal lagi. Semangat hidup mama pun memang bangkit lagi,” kata Mama Ken sambil melepaskan handuk yang membelit di tubuhnya, Sehingga Mama Ken jadi langsung telanjang bulat. Telanjang yang selalu saja mendebarkan dan menyalakan api gairahku.
Yang menyenangkan, Mama Ken selalu ingin diperlakukan keras. Ingin toket gedenya diremas sekuatnya, ingin buah pantatnya ditampari sampai merah kehitaman dan lainnya. Bahkan memeknya juga ingin dientot dengan keras dan kencang, seperti video-video hardcore.
Setelah sama-sama telanjang, aku melompat ke atas perut Mama Ken yang sudah kurindukan berminggu-minggu.
Aku tak mau langsung menerjang memeknya. Aku mencium bibirnya dulu sambil meremas sepasang toket gedenya yang selalu saja menerbitkan gairahku. Namun Mama Ken sepertinya tak sabar lagi. Ketika aku asyik berciuman sambil meremas toketnya, Mama Ken memegang batang kemaluanku yang bertempelan dengan memeknya.
Mungkin Mama Ken sedang horny berat, karena terasa moncong penisku dicolek-colekkan ke mulut memeknya yang sudah basah. Bahkan pada suatu saat ia membisiki telingaku, “Ayo dorong Sayang…”
Aku baru sadar bahwa ternyata kepala penisku sudah berada di dalam liang memek Mama Ken…!
“Mau langsung Mam?”
“Iya… mama udah nafsu sekali… soalnya udah lama gak digauli olehmu, Sayang.”
Maka kudesakkan batang kemaluanku sekuat mungkin… uuuugh… dan terasa melesak masuk ke dalam liang memek ibu mertuaku sampai lebih dari separuhnya. Pantasan dia minta langsung dimasukkan… ternyata liang memeknya sudah basah sekali.
Mama Ken menyambutku dengan dekapan eratnya di pinggangku. Sambil berkata, “Jangan disamakan dengan Frida ya. Memek mama tentu tidak seenak memek Frida.”
“Nggak Mam. Memek Mama dan memek Frida lain-lain enaknya. Tidak bisa dibanding-bandingkan,” sahutku sambil melingkarkan lenganku di leher ibu mertuaku. Lalu kulumat bibibrnya dengan mesra, sementara batang kemaluanku mulai memompa liang memeknya yang empuk tapi legit ini.
Meski sudah mulai kuentot, Mama Ken masih bisa berkata, “Sebenarnya dientot sama kamu ini luar biasa enaknya Sam. Tapi demi anak tersayang, mama mengalah…”
“Mama juga, bukan cuma punya tubuh yang sangat menggiurkan, tapi juga punya memek yang empuk-empuk legit… seperti kue lapis…”
“O, gitu ya? Mmm… Frida belum hamil ya? Apa ikut KB?”
“Nggak ikut KB Mam. Tapi memang belum hamil-hamil juga. Malah sekarang dia sedang mens Mam.”
“Mama sih dulu begitu nikah sebulan langsung hamil.”
“Makanya Mama masih muda, sementara Frida sudah sembilanbelas tahun, ya Mam.”
“Nggak muda lah. Umur mama sekarang sudah tigapuluhtujuh. Kan mama lima tahun lebih tua dari Mamie. Ayo dong entot yang bener… jangan mandeg-mandeg gitu Sayang… !”
Aku tersenyum. Lalu mulai memperlancar entotanku. Batang kemaluanku bermaju mundur secara berirama di dalam liang memek Mama Ken yang empuk-empuk legit ini.
Seperti biasa, aku selalu melengkapi entotanku dengan jilatan dan gigitan kecil di leher ibu mertuaku. Seperti biasa pula jilatan dan gigitan ini kulanjutkan dengan celucupan dan isapanku di pentil toket gedenya. Bahkan ketiaknya pun kujilati disertai gigitan-gigitan kecil yang membuat Mama Ken semakin klepek-klepek.
Rintihan histerisnya pun menjadi-jadi lagi, “Aaaa… aaaa… aaaaahhhh… Saaam… dientot sama kamu ini selalu aja bikin mama kayak melayang-layang gini saking enaknya… ayo entot terus Saaam… entooot… iyaaa… iyaaaaaaa… iyaaaa… enak banget Saaam…”
Tidak seperti waktu menggauli Mamie, menyetubuhi Mama Ken ini aku bisa berbuat semaunya. Maka sambnil mempergencar entotanku, tak kubiarkan sepasang toket gede itu nganggur. Kuremas dan kuremas terus… bahkan remasanku makin lama makin kencang, sesuai dengan permintaan ibu mertuaku.
Mama Ken pun mu;lai menggeolkan pantatnya. Bergerak memutar dan meliuk-liuk. Terkadang bergerak ke atas, lalu menghempas bergedebuk-gedebuk. Ngocoks.com
Aku pun tak mau kalah. Kugenjot penisku dalam gerakan yang keras dan cepat. Sehingga selangkanganku terus-terusan bertabrakan dengan selangkanan Mama Ken, menimbulkan bunyi unik yang berirama… bleeeekkk… sretttt… blekkkk… sretttttt… blekkkk… sretttt… bleeeekkkk… srettt… blekkkkk…
Aku pun tak ragu lagi menampar-nampar sepasang toket gede Mama Ken. Tangan kiriku digunakan untuk menampar toket kanannya, sementara tangan kananku dipakai untuk menampar-nampar toket kirinya. Plakkkk… plok… plakkk… plokkkk… plakkk… plokkk… plakkkk… plokkkk…!
Mungkin inilah uniknya Mama Ken. Dalam keseharian dia tampak lemah lembut. Tapi pada waktu dientot, dia selalu minta dikasari. Bahkan aku pernah disuruh menampar-nampar buah pantatnya sampai merah kehitam-hitaman.
Aku pernah membaca tulisan ilmiah seorang pakar sex yang menjelaskan kenapa sebagian wanita menyenangi bokongnya ditampar – tampar pada saat bersetubuh, sebagai berikut :
1. Lebih Bergairah
Perlakuan tersebut juga seringkali membuat wanita lebih bergairah. Apalagi bagi kaum wanita yang memang menyukai bagian bokongnya ditampar pasangan. Hal ini memberikan sensasi tersendiri bagi mereka, khusunya bagi wanita yang menyukai jenis bercinta hardcore sex.
_
2. Ingin Mendapatkan Perhatian
Tak sedikit pula wanita yang ingin ditampar bokongnya karena ingin mendapatkan perhatian dari pasangan mereka. Itu karena ketika sedang bercinta, mudah bagi wanita untuk terlalu fokus berkonsentrasi agar mereka bisa mencapai klimaks. Hal tersebut seringkali membuat mereka lupa terhadap pasangan.
3. Ingin Dikendalikan
Terkadang, wanita ingin dikendalikan dalam hubungannya dengan pasangannya saat bercinta. Ditampar bokong oleh pasangan saat bercinta akan memberikan perasaan dominan dan in control dalam diri mereka.
4. Terinspirasi dari Film
Meledaknya novel trilogi Fifty Shade disebut-sebut memicu makin banyak wanita yang secara terbuka mengakui mereka menyukai gaya bercinta yang kasar, seperti spanking alias menampar bokong. Selain itu referensi dari film porno juga membuat wanita jadi penasaran.
5. Menyukai Respon Si Pria
Ada juga wanita yang ingin mendapatkan perlakuan tersebut lantaran mereka menyukai bagaimana respons atau reaksi pasangan mereka. Apalagi jika pasangan mereka menyukainya, tentu gairah wanita akan semakin meluap!
Bersambung…




