Ketika tubuh Frida yang putih mulus itu sudah telanjang, kusarankan agar tetap duduk di sofa putih itu, dengan sepasang kaki juga berada di atas sofa. Duduk menyandar dan mengangkang, dengan sepasang lutut menekuk. Aku sendiri yang sudah telanjang juga, duduk di lantai berkarpet, sambil mengusap-usap pangkal paha dan memek Frida yang agak ternganga karena duduknya mengangkang.
Lalu dengan lembut kuciumi belahan indah yang agak membasah itu. Kedua tanganku pun mengangakan belahan indah itu, sehingga bagian dalamnya semakin terkuak lebar. Berwarna pink membara… yang lalu disapu-sapu oleh ujung lidahku.
Frida tetap duduk mengangkang, meski dengan tubuh agak mengejut-ngejut. Sementara tangannya mulai mengusap-usap rambutku, mungkin sebagai tanda perasaan sayangnya padaku.
Kali ini tujuan utamaku ingin membuat celah kemaluan Frida menjadi sebasah mungkin. Karena itu ketika aku semakin intensif menjilati memeknya, dengan sengaja kualirkan air liurku sebanyak mungkin ke bagian yang berwarna pink itu.
Dan Frida mulai menggelinjang-gelinjang.
Terlebih lagi setelah aku semakin intensif menjilati dan menyedot-nyedot kelentitnya, Frida pun mulai menggelepar-gelepar. Sementara celah kemaluannya terasa sudah basah sekali, karena pada waktu aku semakin intensif menjilati memeknya ini, aku pun terus-terusan mengalirkan air liurku sebanyak mungkin.
Akhirnya aku merasa sudah saatnya untuk melakukan penetrasi. Sehingga aku berlutut sambil meletakkan moncong penisku pada arah yang kuanggap tepat.
Namun aku masih sangsi untuk melakukannya, meski penisku sudah ngaceng berat dan siap untuk melakukan penetrasi. Aku malah menatap wajah cantik yang polos itu sambil mengelus rambutnya yang panjang tergerai.
Tak tega rasanya aku merenggut kesuciannya sebelum aku sah menjadi suaminya.
“Sayang… benarkah kamu ingin kesucianmu kurenggut sekarang? tanyaku.
Frida menatapku dengan senyum khas. Senyum cewek pada waktu sedang horny. Lalu berkata lirih, “Benar Bang. Supaya Bang Sam yakin kalau aku ini sangat mencintai Abang. Bukan sekadar ingin mengikuti keinginan Mama dan Tante Yun.”
Aku merasa trenyuh mendengar ucapannya itu. Namun di balik rasa trenyuh ini, nafsuku pun tak terkendalikan lagi. Karena moncong penisku sudah menempel di mulut vagina Frida yang sudah kungangakan.
Lalu… kudorong penisku sekuat tenaga. Berhasil! Membenam sampai lehernya, berkat basahnya ling kemaluan Frida.
“Bang… rasanya seperti su… sudah masuk… “desis Frida sambil menatapku dengan sorot sayu.
Aku tidak menyahut. Melainkan menggerak-gerakkan penisku perlahan-lahan. Memang sempit sekali liang kemaluan Frida ini. Sehingga menggerakkan penisku pun masih sulit.
Aku memang tak mau terburu-buru, mengingat Frida baru pertama kali ini mengalami dipeneterasi oleh penis. Karena itu aku menggerakkan penisku dengan hati-hati. Pada saat penisku didorong, aku berusaha membenamkannya lebih dalam dari semula, kemudian kutarik lagi. Kudorong lagi makin dalam, kutarik lagi.
Aku belum mengayun penis secara normal, diam-diam aku memperhatikan penisku sendiri yang sedang keluar-masuk di liang super sempit memek Frida. Ternyata ada olesan-olesan darah yang menempel di penisku.
Berarti keperawanan Frida sudah terbukti dan sudah dipecahkan oleh batang kemaluanku…!
Perasaan cinta bercampur haru berdesir-desir di dalam batinku. Membuatku ingin mengubah posisi karena bersetubuh sambil berlutut begini kurang nyaman juga bagiku.
Maka sesaat kemudian Frida sudah menelentang di atas sofa putih itu. Sementara aku mulai menelungkupinya, tidak berlutut lagi. Ngocoks.com
Dalam posisi missionaris ini aku tidak langsung mengentotnya. Aku mengawalinya dengan mencium bibir Frida, kemudian membisikinya, “Aku menghaormati dan mengagungkanmu, karena aku sudah membuktikan bahwa kamu masih suci. Kamu layak menjadi bidadariku, Sayang…”
Mendengar bisikan itu Frida langsung merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Lalu bertubi-tubi menciumi pipi dan bibirku.
Lalu Frida menarik kedua tanganku. Yang kanan ditempelkan di permukaan payudara kirinya, sementara tangan kriku ditempelkan di payudara kanannya. Mungkin ini pertanda bahwa aku harus memegang sepasang payudaranya pada waktu aku mengentotnya.
Lalu aku pun mulai mengentotnya, sementara sepasang tanganku meremas sepasang toketnya yang berukuran sedang tapi masih sangat kencang dan kenyal.
Memang seret sekali pergerakan batang kemaluanku, karena liang memek Frida masih sangat sempit.
Namun lama kelamaan entotanku mulai agak lancar, karena liang memek Frida mulai terasa makin basah. Mungkin lendir libidonya turut ”membantu” secara automatis, seperti segala sesuatu di alam ini yang diatur oleh eko system.
Maka ketika entotanku mulai terasa lancar, aku pun mulai melengkapinya dengan emutanku di puting payudaranya yang mancung di puncak dua bukit kencang-kenyal. Terkadang mulutku menjilati lehernya disertai dengan sedotan-sedotan lembut. Dan bahkan ketiaknya pun tidak kulewatkan, kujilati dengan lahap.
Frida tampak sangat menikmati semuanya ini. Matanya sering terpejam. Namun desahan dan rintihannya mengalir terus…
“Baaang… aaaa… aaaah… Baaaang… aku… merasa… seperti… seperti melayang… Bang… aaaah… begini ya rasanya ML… aaaaah… aaaah… entot terus Baaaang… iyaaaa… iyaaaa…”
Sementara aku memang sudah lupa segalanya, saking nikmatnya mengentot memek perawan ini. Yang sangat berbobot bagi santapan batinku.
Namun untuk yang pertama ini aku tak mau gila-gilaan menyetubuhi Frida. Soalnya hymen (selaput dara) yang telah kurobek, tentu akan menimbulkan luka walau kecil sekali. Kalau terlalu berlama-lama aku mengentotnya, luka itu bisa saja jadi lebar dan lama sembuhnya (kering).
Maka aku mengintai saatnya dia mau mencapai orgasme, aku akan buru-buru melepaskan ejakulasiku, takkan ditahan-tahan lagi.
Memang banyak kiat untuk memperlama durasi ML. Dengan cara beristirahat dulu, sambil mengajak bicara dulu. Atau mencabut dulu penis, lalu cunnilingus (jilat memek) dulu dan sebagainya.
Maka ketika gejala-gejala mau orgasme itu kurasakan, aku pun akan berusaha untuk ejakulasi secepatnya.
Memang dahi dan leher Frida tampak sudah keringatan. Tapi gejala-gejala mau orgasme itu belum kelihatan. Maka asyik saja aku mengentot memeknya yang super sempit ini. Sementara Frida menikmatinya dengan mata merem-melek. Kadang terbeliak, kadang terpejam.
Aku pun tak melupakan sisi romantisnya. Maka ketika ia tampak mau merintih, cepat kusergap bibir sensualnya dengan kecupan dan lumatan hangat.
Namun akhirnya ghejala-gejala itu mulai kurasakan. Bahwa nafas Frida tertahan-tahan, sementara tubuhnya berkelojotan… lalu sekujur tubuhnya mengejang, sementara matanya terpejam erat-erat, perutnya pun agak terangkat ke atas. Pada saat itulah aku sudah mendahuluinya, dengan mempercepat entotanku. Kemudian kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, membuat Frida terbeliak dan menyeringai.
Lalu kurasakan liang kemaluannya berdenyut-denyut. Tepat pada saat moncong penisku memuncrat-muncratkan air mani… croooot… croooot… croooottt… crotcrot… crooooootttt…!
Aku pun terkapar di atas perut Frida yang mulai melemas.
Tapi tak lama aku merendam penisku di dalam liang senggamanya. Lalu kucabut batang kemaluanku perlahan-lahan, sampai terlepas dari liang sempit yang sudah merekah itu.
Kucium bibir Frida yang keringatan, kemudian membisikinya, “Tadi terasa sakit?”
“Hanya awalnya saja… tapi hanya sebentar… lalu hilang sakitnya, berganti jadi enak…” sahutnya sambil tersenyum manis.
Dalam keadaan baru mencapai orgasmenya, wajah Frida jadi tampak lebih cantik dari biasanya. Bahkan wajahnya seolah bercahaya, membuatku semakin mengaguminya.
Ketika melihat tetesan-tetesan darah di sofa putih bersih itu, cepat kuambil tissue basah yang disediakan oleh hotel di atas meja kecil. Tapi Frida merebut bungkus tissue basah itu dariku sambil berkata, “Aku aja yang bersihinnya. Masa sama Abang?”
Aku cuma menjawabnya dengan senyum. Lalu membiarkan Frida membersihkan sofa dari tetesan darah perawannya.
“Nanti di rumah kita bisa melakukannya juga Sayang,” kataku sambil membelai rambut Frida yang panjang tergerai.
“Tapi harus nunggu sampai Mama tidur,” sahutnya.
“Iya. Tapi dalam dua-tiga hari ini aku takkan mengganggumu,” kataku, “karena luka di memekmu harus sampai benar-benar sembuh, baru kita bisa melakukannya lagi.”
“Iya, “Frida mengangguk sambil mengenakan kembali kimononya, “Bang Sam tentu tahu apa yang terbaik bagiku.”
Aku pun mengenakan kembali pakaianku. Lalu duduk di sofa. “Kamu nggak nyesel kesucianmu sudah kuambil?” tanyaku.
“Nggak lah. Bang Sam kan beberapa bulan lagi juga bakal jadi suamiku. Kalau bukan calon suamiku sih pasti aku nyesal. Ohya Bang… aku mau mandi dulu ya. Biar segar lagi badanku.”
“Iya, aku juga mau mandi. Kita mandi bareng lagi aja seperti tempo hari.”
Lalu kami masuk ke dalam kamar mandi hotel. Dan mandi sambil saling menyabuni seperti tempo hari.
Menyabuni tubuh Frida dalam suasana yang terasa berubah, karena aku baru saja mengambil kesuciannya, memang berbeda rasanya. Karena aku sedang menyabuni tubuh yang sudah sepenuhnya menjadi milikku, meski belum kunikahi. Tubuh yang harus kujaga, kulindungi dan kurawat dengan sepenuh kasih sayangku.
Frida sendiri bahkan berkata, “Kita belum menikah. Tapi aku merasa seolah sudah menjadi istrimu, Bang.”
“Iya. Aku juga punya perasaan seperti itu,” sahutku.
Lalu sang waktu pun berputar terus dengan cepatnya…
###
Tanpa terasa 4 bulan sudah berlalu.
Tanpa kendala yang berarti, akhirnya aku dan Frida melaksanakan akad nikah. Kemudian resepsinya dilaksanakan di convention hall yang sudah selesai dibangun di depan hotelku itu. Sebagai wali dari fihak Frida, hadir adik kandung ayahnya yang dikenalkan padaku sebagai Oom Wisnu beserta istrinya yang tampak centil, yang kelak kukenal sebagai Tante Rika.
Aku memang merasa ada kekurangan, karena Mama, Yoga, Mbak Ayu dan Mbak Ita sama sekali tidak diberitahu. Kata Papa, “Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pada batin Mama.”
Ya… karena Papa telah membohongi Mama. Papa tetap mengatakan bahwa Mamie itu lebih tua daripada Mama. Padahal yang benar sebaliknya. Bukan saja Mamie jauh lebih muda daripada Mama, juga jauh lebih cantik.
Dalam hal itu aku pun tidak bisa menyalahkan Papa. Karena Papa ingin menjaga perasaan Mama, agar tidak cemburu dan tidak sakit hati.
Seandainya Mama dan saudara-saudaraku diundang, pasti Mama akan sakit hati. Karena Mama pasti bertemu dengan Mamie. Sementara aku ini menikah dengan keponakan Mamie pula. Ngocoks.com
Pada waktu resepsi pernikahanku dengan Frida, ada pula yang membuatku salah tingkah. Karena pada waktu aku berjabatan tangan dengan Eleonora, jari telunjuknya menggelitik telapak tanganku. Pada waktu cipika-cipiki pun Eleonora sempat membisiki tleingaku, “Setelah santai… kita ketemuan ya.”
Dan aku hanya mengangguk canggung. Untung Frida sedang berjabatan tangan dengan tamu lain, sehingga dia tidak sempat memperhatikan gerak-gerik Eleonora.
Setelah resepsi pernikahan selesai, Mama berkata kepada Frida, “Mulai saat ini, kamu harus memanggil Mamie padaku ya. Jangan pakai sebutan tante lagi.”
“Iya Mam, “Frida mengangguk sambil tersenyum kepada Mamie yang perutnya mulai agak membuncit.
Tante Ken juga berkata padaku, “Mulai saat ini kamu harus memanggil Mama padaku, ya Sam.”
“Iya Mam,” sahutku. Berarti aku punya dua sosok yang harus kupanggil Mama kini. Ibu tiriku dan ibu mertuaku. Hanya sekadar untuk membedakan di dalam catatan pribadi ini, aku akan menyebut Mama Ken kepada ibu mertuaku. Kemudian aku akan menyebut Mama Mien untuk istri pertama Papa itu.
Mamie kelihatan sangat mendukung perkawinanku dengan keponakannya ini. Bukan sekadar mendukung penuh pada biayanya, tapi dalam hal lainnya pula. Seperti yang dikatakannya poada saat resepsi pernikah sudah selesai, “Mau pada bulan madu ke mana? Ke Singapore, ke Bangkok, ke Hongkong atau mau ke mana?
“Nggak Mam. Kami mau berbulan madu di kota ini saja. Soalnya aku harus siap-siap untuk diwisuda belasan hari lagi. Lagian aku gak mau buang-buang duit untuk hal yang kurang penting,” sahutku. Yang disambung dengan ucapan Frida, “Iya Mam. Main ke luar negeri sih nanti aja kalau sudah punya anak. Biar lebih hangat suasananya.
“Ogitu. Ya udah… mamie doakan semoga kalian cepat dikaruniai keturunan yaaa…”
“Amiiin…”
“Selain daripada itu,” kata Mamie lagi, “sekarang mamie ikrarkan, rumah yang kalian tempati sekarang itu, menjadi milik kalian berdua. Nanti penyerahannya kita lakukan di notaris saja.”
“Iya Mam. Terima kasih,” sahutku, tanpa ragu kucium tangan Mamie, lalu kucium pula pipi kanan dan pipi kirinya, meski Frida menyaksikan semuanya ini.
Belasan hari kemudian aku diwisuda. Lagi-lagi Mama dan saudara-saudaraku tidak diberitahu. Masalahnya Papa, Mamie dan Frida mau hadir. Kalau Mama dan saudara-saudaraku diundang pasti menghadirkan masalah di kemudian hari.
Papa, Mamie dan Fridsa tampak bangga karena aku lulus cum laude, walau pun nilai IPK-ku hanya 3.85… Bukan 4.00… Hahahaaa… dapet segitu juga sudah untung. Karena otak dan energiku dibikin pontang-panting ke sana-sini. Bukan cuma pendidikan yang sedang kugeluti, tapi juga bisnis kecil-kecilanku, persiapan untuk membuka hotel dan perempuan-perempuan yang harus kugeluti memeknya…
Namun harus kuakui bahwa pergelutan di samping kuliahku itu memacu motivasiku juga untuk menyelesaikan kuliahku secepat mungkin. Bukan sekadar ngabisin waktu di atas perut mereka.
Seperti yang sudah direncanakan semula, grand opening hotelku dilaksanakan dua minggu setelah aku diwisuda.
Untuk itu pun aku sudah mempersiapkan sejak awal. Bahwa para mantan karyawan-karyawati di hotel lama, kurekrut untuk bekerja kembali di hotelku yang oleh Mamie sudah direnovasi seolah menjadi hotel baru itu.
Pada grand opening itu mereka diberi seragam baru, seragam tradisional. Karyawannya harus mengenakan baju tradisional Sunda termasuk menggunakan “bendo” di kepala mereka. Sementara karyawatinya diberi seragam kebaya dan kain batik. Kelak mereka harus mengenakan pakaian itu juga tiap hari, kecuali para staf yang bertugas di kantor.
Musik live-nya juga sengaja menyuguhkan gamelan degung yang suaranya mendayu-dayu, seolah sedang beraksi di dalam resepsi pernikahan. Kelak musik tradisional itu akan tetap dikumandangkan, tapi mungkin live-nya tidak setiap hari. Pada hari-hari biasa, cukup dengan musik dari fasilitas audio system saja.
Sementara itu Frida belum mau mendaftarkan diri untuk kuliah di tahun ajaran ini. Dia lebih suka untuk aktif di hotel, terutama di kitchen-nya.
Frida memang punya alasan tersendiri kenapa ingin aktif bersama chef di dapur. “Pada umumnya masakan di resto hotel kurang enak, sehingga banyak tamu yang lebih suka makan di luar,” kata Frida, “Lalu apa salahnya kalau kita hidangkan masakan yang enak-enak untuk para tamu, sebagai salah satu nilai plus hotel kita?
Aku setuju dengan pendapat dan keinginan Frida itu. Karena menurut pengalamanku juga begitu. Menginap di hotel five star yang nyaman, tapi makanan di restonya hampir selalu mengecewakan. Dan “kebiasaan” itu ingin di-improved oleh Frida. Kebetulan pula hotelku jauh dari restoran-restoran.
Lalu dengan punya istri yang cantik dan kesibukan yang meletihkan itu, apakah aku tidak tergerak untuk bertualang lagi dari bawah perut perempuan yang satu ke bawah perut perempuan yang lain?
Tidak. Aku justru menganggap petualanganku laksana “bahan bakar” yang sangat mujarab untuk menyalakan api semangat hidupku. Sangat ampuh untuk mengusir kemalasanku dalam menghadapi aktivitas yang mulai beragam ini.
Apakah aku tidak puas dengan memiliki istri yang begitu cantik dan sangtat mencintaiku? Inilah anehnya. Menggauli istri kuanggap biasa-biasa saja. Meski Frida mau diapakan juga, rasanya tidak ada greget seperti yang sering kudapatkan pada waktu bertualang.
Pengalamanku dengan Frida tidak ada yang layak diekspose. Meski pun Frida secantik bidadari, kuanggap hubungan sex dengannya merupakan hal yang wajar. Sekadar menunaikan kewajiban untuk memuasi batinnya. Mungkin Frida juga begitu. Bahwa setiap kali meladeniku, dia hanya merasa wajib untuk meladeni kebutuhan batin suami.
Seperti anak yang sedang makan buah jambu hasil mencuri dari pohon milik tetangganya, mungkin rasanya lebih nikmat daripada jambu yang dibelinya dari tukang buah.
Itulah sebabnya, aku langsung tergerak ketika kuterima WA dari Eleonora, sebulan setelah pembukaan hotelku. WA itu berisi :
-Aku sedang berada di rumah yang dulu suka dipakai belajar bareng itu. Maunya sih kamu datang ke sini-
Lalu kubalas*, -Lho… bukankah rumah itu sudah dijual?-*
-Gak jadi. Saat itu Papa sedang butuh duit untuk membeli rumah di Jakarta. Tapi keburu ada lelaki yang menolongnya. Lelaki itulah yang sekarang menjadi suamiku. Dia yang menghadiahkan uang yang Papa butuhkan untuk membeli rumah di Jakarta itu. Jadi rumah lama itu tidak jadi dijual-
_
-Sekarang kamu ada di rumah yang suka dipakai belajar bersama itu?-
-Iya-
-Ada urusan apa kamu berada di kota ini?-
-Urusanku cuma satu. Ingin ketemu denganmu-
-Ohya?! Sebegitu pentingkah diriku bagimu?-
-Sangat penting. Ke sini dong sekarang-
-Oke. Dua jam lagi aku merapat ke rumahmu-
-Sip! Kutunggu ya-
_
Kurampungkan dulu pekerjaanku di hotel. membuat program di komputer. Sejam kemudian aku siap untuk menuju rumah Eleonora. Dengan benak penuh tanda tanya. Kenapa sebegitu pentingnya diriku ini sehingga Eleonora jauh-jauh dari Jakarta menuju kotaku ini, hanya karena ingin berjumpa dengan diriku?
Beberapa menit sebelum waktu yang dijanjikan, mobilku sudah berada di depan rumah Eleonora. Rumah yang sudah sangat berubah. Karena seingatku, dahulu rumah Eleonora tergolong rumah jadul, namun tampak kokoh. Sedangkan sekarang rumah jadul itu sudah berubah menjadi rumah minimalis yang terdiri dari tiga lantai…
Ini membuatku ragu untuk membelokkan mobilku ke pekarangan rumah itu. Takut salah masuk. Karena itu aku mengeluarkan handphoneku. Dan memanggil nomor Eleonora. Lalu :
“Nor! Aku udah di depan rumahmu nih. Tapi mau ragu belokin mobilku ke pekarangan rumah yang sudah jauh berubah gini. Takut salah masuk.”
“Haa?! Ya udah… aku mau keluar nih.”
Tak lama kemudian, pintu depan rumah mentereng itu terbuka. Seorang perempuan muda… berdiri di teras sambil melambaikan tangannya padaku. Perempuan bergaun ketat dan berwarna coklat muda itu memang Eleonora. Sehingga aku pun tak ragu lagi untuk memasukkan mobilku ke pekarangan rumah yang pintu gerbangnya dibukakan oleh seorang satpam.
“Aku sudah lama nggak lewat jalan ini. Makanya gak ngeh kalau rumahmu ini sudah dirombak jadi keren gini,” kataku setelah turun dari mobilku.
Eleonora cuma tersenyum sambil meraih tanganku masuk ke dalam rumahnya. Begitu kami masuk ke ruang tamu, Eleonora menutupkan kembali pintu depan dan langsung menyergapku dengan pelukan hangat sambil menciumi sepasang pipiku, yang dilanjutkan dengan ciuman hot di bibirku…!
Kebiasaanku pun langsung menanggapi secara rahasia. Bahwa begitu aku mendapatkan ciuman sehangat ini, si dede di balik celana jeans dan celana dalamku, langsung bangun…! Ngocoks.com
Memang begitu kebiasaanku. Nafsuku suka spontan bangkit kalau suasananya sudah seperti ini. Terlebih lagi gaun coklat muda yang Eleonora kenakan saat itu sangat ketat. Bagian dadanya terbuka lebar, sehingga pertemuan dua bukit indahnya tampak jelas. Lebih montok dari waktu kami masih sama-sama di SMA dahulu, meski aku belum pernah melihat bentuk toketnya.
Kemudian Eleonora mempersilakanku duduk di sofa ruang tamu. Lalu bertanya, mau minum apa? Dia pun menyebutkan beberapa jenis minuman yang dia miliki. Akhirnya aku memilih red wine saja.
Eleonora masuk ke dalam sebentar. Lalu muncul lagi dengan sebotol wine import dengan dua buah slpoki yang berukuran sedang, mungkin sama isinya dengan gelas belimbing.
Eleonora menuangkan wine ke dua sloki yang sudah diletakkan di meja kaca depan sofa yang kududuki. Lalu ia duduk di sampingku sambil memegang tangkai slokinya dan didekatkan ke sloki yang sedang kupegang. Lalu ia berkata, “Untuk cinta kita yang belum kesampaian… !”
Aku agak tersentak mendengar kalimat yang diucapkannya itu. Karena sejauh ini aku dan Eleonora belum pernah punya hubungan cinta. Tapi kuikuti saja kalimat yang diucapkannya, kemudian sloki kami disentuhkan… triiiing…!
Lalu kami teguk isi sloki kami, sampai habis. Hawa hangat pun menjalar dari tenggorokanku ke sekjujur badanku.
Lalu Eleonora membuka pembicaraan dengan nada serius, “Masih ingat gak waktu aku nembak kamu dahulu?”
Kutatap wajah manis Eleonora sesaat. Lalu mengangguk perlahan.
“Nah… seandainya kamu menjawab secara jelas saat itu, pasti aku takkan menikah dengan orang lain. Tapi saat itu kamu tidak menjawabnya secara pasti. Kamu hanya bilang ingin menyelesaikan pendidikan dulu sampai tuntas.”
“Yah… kamu kan sudah tau latar belakangku. Hidup bersama ibu tiri, membuatku harus serius menghadapi pendidikanku. Dan sekarang aku sudah diwisuda. Berarti pendidikanku sudah selesai. Bahkan sudah diwisuda. Tapi kita sudah sama-sama memiliki pasangan.”
“Ntar dulu… kamu sudah diwisuda?”
“Sudah.”
“Gila… begitu cepat kamu menyelesaikan kuliahmu!”
“Kalau bisa dipercepat kenapa harus diperlambat?” ucapku sambil tersenyum.
“Otakmu memang encer. Sejak di SMA juga aku sudah menilai kamu anak terpandai di kelas kita. Makanya heran mendengar kamu melanjutkan ke fakultas ekonomi. Bukannya ke kedokteran, teknik industri dan sebagainya.”
“Mayoritas orang-orang yang populer di negara kita ini adalah orang-orang IPS. Bukan orang-orang IPA. Para penasehat hukum yang kaya raya, pengusaha yang sukses dan sebagainya, bukan orang-orang IPA. Sementara orang-orang IPA cuma sibuk, di belakang layar. Dan hanya menjadi bawahan. Ada sih satu-dua yang menjadi pemimpin.
“Iya sih. Dirut yang diangkat oleh suamiku juga S2-nya dari managemen.”
Aku terdiam sambil memperhatikan sosok Eleonora yang sekarang, yang agak berbeda dengan masa remajanya dahulu. Kalau dibandingkan dengan Frida, ada dua hal yang menyolok sebagai perbedaannya. Bahwa mata Frida bundar, sementara mata Eleonora sangat mirip mata amoy. Karena dia memang ada campuran darah Chinesenya.
Selain daripada itu, sepasang toket Eleonora jauh lebih gede daripada toket istriku. Meski belum melihat bentuk toket Eleonora, namun gaun yang dikenakannya itu sudah menggambarkan “isi” bagian dadanya. Terlebih lagi setelah kuperhatikan secara cermat, bisa kupastikan Eleonora tidak memakai beha di balik gaunnya.
“Terus sekarang kita harus bagaimana?” tanyaku.
“Begini,” ujar Leonara sambil menarik nafas sejenak, “Kita sudah telanjur punya pasangan masing-masing. Terlebih lagi kamu menikah dengan saudara sepupuku sendiri. Jadi… kita harus merahasiakan pertemuan kita seperti sekarang ini.”
“Kalau sekadar bertemu sebagai taman atau sahabat lama, di depan mata Frida juga gak apa-apa.”
“Justru aku ingin pertemuan kita ini laksana dua orang kekasih yang tidak bisa melanjutkan cintanya ke jenjang perkawinan, lalu berjumpa lagi setelah sekian lamanya berpisah.”
“Karena kita sudah sama-sama dewasa, berarti setiap kali ketemuan harus ML, gitu?” tanyaku sambil merayapkan tanganku ke paha Eleonora di bawah gaunnya yang terbuat dari kain lentur.
Leonora malah merenggangkan jarak sepasang pahanya. Seolah “welcome” untuk dirayapi lebih jauh… ke balik gaun ketat elastisnya.
“Pacaran orang dewasa gak kayak anak ABG kan?” ucapku sambil mengamati wajahnya yang semakin mendekati wajahku, sementara tanganku sudah tiba di celana dalamnya…!
Sebagai jawaban, Eleonara memagut bibirku ke dalam lumatannya. Tanpa mencegah tanganku yang sudah menyelinap ke balik celana dalamnya.
Kubalas lumatan itu dengan lumatan lagi, sementara jemariku sudah mulai menggerayangi kemaluan Eleonora, sampai menemukan celahnya… lalu kuselusupkan jari tengahku ke dalamnya yang hangat dan basah licin.
Setelah ciuman kami terlepas, jemariku masih bermain di antara permukaan dan liang memek Eleonara yang bersih dari jembut.
Bersambung…




