Apakah aku sudah menjadi seorang petualang yang sejati? Banggakah aku aku telah bertualang dengan sekian banyak perempuan yang nilainya di atas rata-rata semua?
Tidak. Aku tidak bangga karena semua perempuan itu ada kaitannya dengan Papa. Bahkan Tante Fenti pun ada kaitannya dengan Mama. Dan Mama ada kaitannya dengan Papa!
Jadi semuanya ada kaitannya dengan Papa. Lalu perempuan mana yang bisa kudapatkan dari kalangan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Papa? Belum ada seorang pun. Bahkan istriku sendiri ada kaitannya dengan Papa. Karena Frida itu keponakan Mamie. Dan Mamie itu istri muda Papa…!
Hal itulah yang membuatku berpikir mendalam di sebuah café.
Ya, semuanya itu terpikirkan olehku setelah mendapatkan call dari Mama bahwa dia takkan bisa datang hari Minggu lusa, karena Mama mendadak datang bulan.
Aku tidak terlalu mempermasalahkan Mama. Karena tadinya pun aku sedang berusaha untuk melupakan Mama.
Yang kupikirkan sekarang adalah semua perempuan yang jadi pasangan seksualku itu. Kenapa aku tidak bisa mencari perempuan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Papa?
Ketika aku sedang tercenung sendirian sambil menikmati secangkir black coffee, tiba-tiba bahuku ditepuk orang. Berbarengan dengan terdengarnya suara perempuan, “Hallo Sammy… !”
Aku terkejut dan menoleh ke arah orang itu. Ternyata dia cewek bule yang sangat kukenal sebagai Aleksandra (bukan Alexandra). Mahasiswi asal Eropa Timur (maaf, aku tak bisa menyebutkan nama negaranya). Aleksandra teman kuliahku dulu, tapi mungkin sekarang dia masih kuliah, karena aku memang sangat cepat menyelesaikan kuliahku.
“Aleksandra…! “seruku sambil menjabat tangan cewek bule itu, “Apa kabar?”
“Aku baik-baik saja,” sahutnya sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan kursiku terbatas meja café, “Hanya saja… kuliahku masih lama selesainya, tidak bisa cepat seperti kamu, Sam.”
“Mungkin kamu sengaja ingin lambat selesainya, supaya bisa tinggal lebih lama di Indonesia kan?”
“Iya juga sih… hihihiii…” sahutnya diiringi ketawa kecil.
“Sebenarnya aku heran, kenapa kamu betah banget tinggal di Indonesia?”
“Karena aku jatuh cinta pada Indonesia. Jauh lebih nyaman daripada tinggal di negaraku sendiri.”
“Apa sih yang membuatmu nyaman tinggal di sini?”
“Orang-orangnya… ramah sekali. Bahkan mungkin paling ramah di dunia.”
“Terus apa lagi yang membuatmu kerasaan tinggal di sini?”
“Makanannya, pemandangan alamnya dan banyak lagi. Semua itu membuatku kerasan tinggal di negara yang sudah sangat kucintai ini. Bahkan aku ingin jadi warganegara Indonesia, agar tidak perlu lagi mengurus visa tiap tahun. Tapi ternyata tidak mudah untuk mengurus kewarganegaraan di negara ini. Kecuali…
“Kecuali apa?”
“Kecuali kalau aku menikah dengan orang Indonesia asli.”
“Nah… gampang kan? Cari aja cowok Indonesia dan ajak nikah. Beres kan?”
“Itulah masalahnya. Aku tidak pernah menemukan cowok yang kucintai di sini. Semuanya hanya bisa kuanggap teman baik… itu saja.”
“Masa di antara sekian banyak temanmu yang asli Indonesia tak ada seorang pun yang kamu senangi dan bisa kamu cintai?”
“Ada sih seorang… tapi sudah jauh dari jangkauan.”
“Siapa dia? Apakah aku mengenalnya?” tanyaku penasaran. Ingin tahu siapa sebenarnya yang diinginkan oleh cewek bule berambut pirang dan sangat cantik itu.
Tiba-tiba Aleksandra menunjukkan telunjuknya ke dadaku.
“Aku?!” aku kaget juga dibuatnya.
“Iya, “Aleksandra mengangguk sambil tersenyum, “Tapi kamu kan sudah meninggalkan kampus, sehingga aku gak bisa pedekate lagi padamu. Selain daripada itu, aku juga dengar berita bahwa kamu sudah menikah dengan gadis pilihanmu. Karena itu aku menganggapmu sudah jauh dari jangkauan.”
Kupegang kedua tgangan Aleksandra yang tergeletak di atas meja, “Kamu serius?” tanyaku.
Aleksandra mengangguk sambil tersenyum. O, betapa manisnya senyum bule pirang itu.
“Kenapa tidak dari dulu mengatakannya padaku?”
“Aku sudah ketularan adat wanita di negara ini. Mereka seolah tabu untuk duluan menyampaikan perasaan cintanya kepada pria. Jadi… aku juga gak berani mengatakannya padamu. Tapi sekarang… aku nekad menyampaikannya, meski pintu hatimu pasti sudah tertutup.” Ngocoks.com
Aku menghela napas panjang. Menatap wajah cantik Aleksandra sesaat. Lalu tertunduk dengan perasaan terhanyut atas pengakuan cewek bule itu.
Aku berpikir beberapa saat. Sementara Aleksandra sedang menikmati minuman yang dipesannya.
Tak lama kemudian aku memegang kedua tangannya lagi sambil berkata, “Kalau memang seperti itu, aku siap untuk menikah denganmu.”
“Haaa?! Serius?” Aleksandra menatapku dengan sorot sungguh-sungguh.
Aku menjawabnya dengan anggukan.
“Kalau nggak salah, kamu sudah menjadi mualaf kan?” tanyaku.
“Iya,” sahut Aleksandra sambil tersenyum.
“Bagaimana kalau kamu pulang nanti, apakah kedua orang tuamu takkan marah?”
“Kedua orang tua sudah meninggal dalam suatu kecelakaan. Jadi aku sekarang ini hidup sebatangkaya…”
“Sebatangkara. Bukan sebatangkaya.”
“Hehee… iya. Sebatangkara.”
“Mungkin ada beberapa tahap untuk perkawinan kita. Kamu harus mengurus surat-surat dari negaramu dulu, sementara aku pun harus mengurusnya di sini. Hal itu membutuhkan waktu yang cukup lama.”
“Tapi kamu kan sudah punya istri. Bisakah kamu mengurus surat-suratnya di sini?”
“Di dalam agama kita, laki-laki kan boleh punya istri lebih dari seorang. Tapi maksimal hanya empat orang.”
“Oh iya ya…”
“Setelah kita resmi menikah, kita urus masalah kewarganegaraanmu. Dan itu membutuhkan waktu lebih lama lagi.”
“Iya. Nggak apa-apa. Yang penting aku ingin menjadi WNI. Ingin hidup di negara ini sampai mati. Karena aku sudah terlalu mencintai negara ini.”
“Ohya… kecelakaan apa yang dialami oleh kedua orang tuamu?”
“Kecelakaan di kapal pesiar,” sahutnya. Kemudian ia menuturkan bahwa beberapa tahun yang silam, kedua orangtuanya berada di dalam kapal pesiar yang mengalami kebakaran di bagian restorannya. Api berhasil dipadamkan, tapi kedua orang tuanya kebetulan sedang berada di restoran itu bersama beberapa penumpang lain.
Asuransi membayar Aleksandra dengan santunan yang besar sekali. Namun apalah arti uang sebanyak itu pada saat Aleksandra masih membutuhkan kedua orang tua yang sangat menyayanginya sebagai putri tunggalnya?
Hal itulah yang membuat Aleksandra ingin meninggalkan negaranya, karena merasa benar-benar sedih dan kesepian di negaranya sendiri. Sementara di Indonesia ia merasa banyak teman yang bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Padahal di negaranya sendiri Aleksandra merasa sulit mencari teman, karena orang-orang di sekitarnya terbiasa hidup dengan suasana individualis semua.
Sementara di Indonesia Aleksandra merasa pergaulannya sangat hangat. Jauh sekali perbedaannya kalau dibandingkan dengan pergaulan di negaranya yang hanya mementingkan pribadi masing-masing.
Terlebih lagi setelah menjadi mualaf, temannya makin banyak saja.
“Begitulah,” ucap Aleksandra di akhir penuturannya, “Banyak hal positif yang membuatku ingin tinggal di negara ini seumur hidupku. Bahkan aku ingin menikah dengan orang Indonesia. Selain terbayang bakal menyenangkan, aku pun sudah telanjur mencintai negara ini.”
“Tapi, “lanjutnya, “mencari calon pasangan yang benar-benar sesuai dengan kriteriaku memang masih sulit. Lalu… diam-diam aku merasa kagum padamu. Tapi aku belum berani mengucapkan kekaguman dan perasaan suka ini. Dan… tiba-tiba kamu meninggalkan kampus kita. Bahkan kudengar pula kabar bahwa kamu sudah menikah.
Aiu terdiam lagi.
Sebenarnya dahulu aku pernah naksir juga pada Aleksandra yang bule dan cantik pula. Tapi saat itu aku bertekad ingin cepat menyelsaikan kuliahku. Sehingga pikiran tentang cewek ingin kubuang jauh-jauh. Apalagi cewek bule secantik Aleksandra, pasti sulit mendapatkannya, pikirku saat itu.
Terawanganku buyar ketika handphoneku berdering. Ternyata dari Papa.
“Sebentar ya… call dari Papa,” kataku sambil berdiri dan menjauh dari Aleksandra, untuk membuka hubungan selulerku dengan Papa. Lalu… :
“Hallo Pap…”
“Sam… lagi di mana sekarang?”
“Di café. Ada apa Pap?”
“Mamie baru saja melahirkan Sam. Bayinya laki-laki. Sehat dan sangat mirip kamu.”
“Alhamdulillah… melahirkannya di mana Pap?”
Papa mengatakan nama sebuah klinik bersalin yang termahal di kotaku.
“Baik Pap… aku segera menuju ke sana,” kataku sebelum menutup hubungan seluler dengan Papa.
Kemudian aku bergegas menghampiri Aleksandra.
“Sandra… aku harus menemui Papa, karena ada sesuatu yang sangat penting. Masalah rencana kita nanti kita lanjutkan by phone aja ya.”
Sandra memegang kedua tanganku dengan sorot wajah yang tampak berharap. “Iya Sam. Kalau bisa sih ketemuan lagi aja di sini. Kapan ada waktu?”
“Nanti kalau aku sudah merasa sedang santai, aku akan call dan ketemuan di mana saja yang terasa nyaman,” ucapku yang kuikuti dengan cipika-cipiki. Membuat pegangan Aleksandra makin erat.
“Janji ya Sam.”
“Yap… be patient please…” sahutku sambil menepuk pipinya perlahan.
Sebenarnya aku ingin sekali mencium bibirnya yang tampak agak terbuka dan bergetar itu. Tapi suasana di dalam café tidak memungkinkanku untuk melakukan hal itu.
Beberapa saat kemudian…
Hanya butuh waktu setengah jam saja untuk mencapai rumah bersalin itu. Setelah tanya ke bagian penerangan, aku pun bergegas menuju lift. Memijat angka 3. Lalu tiba di lantai 3. Bertanya lagi pada zuster yang bertugas di lantai 3, karena tadi aku lupa bertanya kepada Papa di ruang nomor berapa Mamie dirawat.
Ternyata Mamie dirawat di salah satu ruang VVIP. Lalu aku menuju ke salah satu pintu yang ada di lantai 3 itu.
Ketika kubuka pintu itu, ternyata Papa sedang berdiri di dekat bed Mamie.
“Nah… itu Sam,” kata Papa.
Mamie menoleh ke arahku sambil tersenyum.
Aku pun melangkah mendekati bed Mamie. Dengan perasaan terharu bercampur bahagia.
“Papa mau keluar dulu ya,” kata Papa sambil menepuk bahuku dari belakang, “Dari tadi pengen merokok.”
“Iya Pap,” sahutku.
Setelah Papa berlalu, kutatap wajah cantik Mamie. Lalu kukecup bibirnya dengan mesra dan hangat.
“Harusnya Papa ngasih tau sebelum Mamie masuk ke sini. Biar aku bisa ikut nungguin bayinya lahir. Ohya… mana bayinya Mam?”
“Masih diurus di ruang bayi dulu. Mungkin sebentar lagi juga diantarkan ke sini. Kata Papa, bayinya mirip kamu, Sayang.”
“Ogitu ya. Mmm… Mamie melahirkannya dicesar atau lahiran normal?”
“Secara normal. Mamie gak mau dicesar… takut bekas operasinya tertinggal di perut mamie,” sahut Mamie sambil memegang tanganku dengan tangan kiri, karena lengan kanannya sedang diinfus.
“Setelah anak kita lahir… apakah tugasku dianggap selesai?”
“Nggak,” sahut Mamie sambil meremas tanganku, “Sampai kapan pun kamu harus jadi kekasih Mamie.”
“Nanti kalau hamil lagi gimana?”
“Biarin aja. Mamie malah seneng punya anak banyak. Mau punya anak sepuluh juga gak apa-apa.”
“Hahahaaa… jangan dong Mam. Emangnya mau bikin kesebelasan sepakbola?! Lagian kalau terus-terusan hamil, mana waktu buat kita pacaran di atas ranjang?”
“Sekarang harus puasa dulu, ya Sayang. Kata orang-orang sih empatpuluh hari setelah melahirkan, baru boleh digauli lagi.”
Aku mengangguk-angguk. Lalu berbisik ke dekat telinga Mamie,” Kata orang-orang juga, empatpuluh hari setelah melahirkan, memek perempuan sedang enak-enaknya ya Mam.”
Mamie mencubit pipiku sambil tersenyum manis.
“Sekarang Mamie kelihatannya lebih cantik daripada biasanya, “pujiku.
“Masa sih?! Padahal mamie gak sempat pakai make up.”
“Tanpa make up pun Mamie tetap cantik. Bahkan aku paling suka melihat Mamie waktu baru bangun tidur.”
“Masa?! Syukurlah kalau gitu sih. Ohya… Frida udah mulai hamil belum?”
“Belum Mam. Gak tau kenapa.”
“Sabar aja ya.”
“Iya Mam. Sekarang sih aku sudah bahagia, karena Mamie sudah melahirkan anakku.”
“Mau dikasih nama apa anaknya?”
“Ah… sebaiknya kita serahkan kepada Papa aja untuk memberikan namanya. Untuk menjaga perasaan Papa.”
Sesaat kemudian dua orang zuster datang. Salah seorang di antara mereka membopong bayi… anakku yang baru lahir. Kemudian mereka meletakkannya di ranjang bayi yang berdampingan dengan ranjang Mamie.
Dengan penuh penasaran kuperhatikan bayi yang belum diberi nama itu dari jarak dekat. Memang asda kemiripan denganku, tapi mirip Papa juga. Karena aku sering disebut sangat mirip Papa. Ngocoks.com
“Nanti kalau infusnya sudah dicabut, baru bayinya boleh disusui, ya Bu,” ucap salah seorang zuster kepada Mamie.
Suasana perasaanku jadi bercampur aduk. Antara terharu, bahagia dan terawangan masa depan anakku itu.
Tapi kenapa wajah Aleksandra terbayang-bayang terus di dalam terawanganku?
Apa yang harus kulakukan seandainya rencana itu diwujudkan kelak?
Aaah… biarlah semuanya mengalir sendiri, seperti air yang mengalir dari hulu ke muara.
Semua yang harus terjadi, terjadilah.
Bukankah perempuan bisa kujadikan penyemangat yang positif bagiku?
Bukankah tujuan utamaku ingin menolong Aleksandra juga supaya dipermudah untuk menjadi warganegara Indonesia?
Aku tidak mau munafik. Memang tujuan utamaku ingin menolong Aleksandra. Tapi tujuan lainnya tentu saja yang satu itu. Ingin tau seperti apa rasanya memek bule…!
Hahahaaaaa…!
###
Papa memberi nama pada bayi itu, Satria Pratama. Dan Papa kelihatan sangat menyayangi “anaknya” itu, meski sebenarnya akulah anak biologisnya. Mungkin Papa menganggapnya anak kandung sekaligus cucunya sendiri.
Sementara itu, aku mulai membuka komunikasi dengan Aleksandra lewat WA. Banyak yang kami bahas. Sementara hubunganku dengannya sengaja kumatangkan di WA, supaya pada waktunya bisa langsung akrab nanti.
Bahkan pada suatu saat, lewat WA itu pula aku memberanikan membahas sesuatu yang sangat penting bagiku :
-Maaf Sandra. Boleh aku bertanya sesuatu yang sangat pribadi?-
-Mau tanya masalah apa?-
_
-Sekali lagi maaf ya… kamu masih virgin?-
-Masih lah. Aku kan belum pernah pacaran satu kali pun. Pokoknya soal yang satu itu sih dijamin. Aku ini masih 100% virgin-
-Syukurlah. Karena masalah itu salah satu kriteria untuk calon istriku-
-Aku memang cewek bule. Tapi aku ini bule yang gak gaul di negaraku. Setelah di Indonesia aja aku mau bergaul dengan teman-teman baruku. Tapi teman-temanku di Indonesia ini cewek semua-
_
Banyak… banyak lagi yang kami bahas di WA itu.
Terkadang komunikasi lewat dunia maya membuat kita bergerak lebih cepat daripada komunikasi empat mata. Cepat sekali, karena berkomunikasi di dunia maya membuatku leluasa untuk mengatakan apa saja.
Bahkan lewat WA aku pernah menanyakan seperti apa warna jembutnya? Dan Aleksandra menjawab*,-Tentu aja pirang seperti rambutku. Kalau ada cewek yang rambutnya pirang tapi jembutnya berwarna hitam, berarti rambutnya itu diwarnai oleh cat rambut. Tapi pubic hair-ku selalu kucukur sampai bersih. “*
-Justru aku suka sekali pada vagina yang bersih dari rambut. Supaya menjilatinya enak-
_
-Iiih… kamu… bikin aku horny… –
-Mmm… kebayang indahnya tubuhmu, sweetheart-
-Jangan cuma dibayangin dong-
-Ya udah. Sabtu pagi ada kuliah gak-
-Gak lah. Kampus kita kan libur tiap Sabtu. Emang mau ngajak ketemuan di mana?-
-Di café aja. Jangan pakai motor. Karena aku mau ngajak ke villaku. Oke?-
-Oke. Hari Sabtu jam berapa?-
-Jam 10 pagi-
-Yes honey-
-Sampai jumpa Sabtu lusa ya-
-Yes Sir-
_
Begitulah. Komunikasi lewat WA demikian cepatnya berkembang. Sehingga dalam tempo beberapa hari saja aku merasa seolah sudah berhubungan bertahun-tahun dengan Aleksandra.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, tepat jam sepuluh pagi mobilku sudah merapat ke café itu. Tampak Aleksandra mengenakan gaun putih dengan garis-garis yang melenggak-lenggok dari atas ke bawah. Rambut pirangnya pun dibalut dengan kain berwarna biru tua pula.
O… maaak! Betapa cantiknya Aleksandra pagi ini. Mungkin karena kesehariannya selalu mengenakan celana panjang, sehingga aku terlongong ketika menyaksikan bentuk aslinya yang tinggi semampai itu.
“Kenapa melotot gitu?” tanyanya sambil tersenyum.
“Dalam gaun itu, kamu berubah jadi cewek yang sangat-sangat dan sangat cantik… !” sahutku setengah berbisik.
“Masa sih?! Tapi… kamu juga tampak ganteng sekali, Honey.”
“Sudah dibayar minumannya?” tanyaku.
“Sudah.”
“Kalau begitu kita langsung berangkat aja yuk. Mumpung belum siang benar.”
Lalu kugandeng lengan Aleksandra menuju mobilku yang terparkir di depan café itu.
Agar terkesan memperhatikan etiket, kubuka pintu kiri depan mobilku untuk Aleksandra.
“Thanks,” ucapnya setelah duduk di dalam mobilku.
Setelah menutupkan kembali pintu depan kiri, cepat aku menuju pintu depan kanan. Membukanya dan masuk ke dalamnya.
Setelah menyalakan mesin mobil, aku langsung menggerakkan mobilku ke jalan aspal sambil berkata, “Aku sudah gak sabar ingin mencium bibirmu…”
“Lalu?”
“Lalu menciumi perutmu.”
“Lalu?”
“Lalu menciumi bibir yang di bawah perutmu… !”
“Sam… merinding aku mendengarnya…”
“Ohya… boleh aku tau berapa tahun usiamu saat ini?”
“Pasti lebih tua darimu lah. Aku kan kuliah di Jogja dulu selama tiga setengah tahun. Kuliah di kampus kita sudah tiga tahun. Jadi umurku sekarang sudah duapuluhtiga tahun.”
“Jadi kamu sudah merantau ke Indonesia sejak usia enambelas?”
“Iya… kira-kira begitulah. Pokoknya setahun setelah orangtuaku meninggal, aku memutuskan untuk terbang ke Indonesia. Kebetulan uang asuransi dari kapal pesiar itu cukup besar. Sehingga aku tidak takut kehabisan duit di mana pun aku berada. Dan yang kupakai selama ini hanya bunga depositonya saja. Belum pernah memakai uang asuransinya.
“Bunganya saja? Memangnya berapa jumlah asuransi yang kamu terima?” tanyaku.
Aleksandra menyebutkan nominal uang asuransi itu. Uang santunan untuk dua nyawa yang melayang. Dan aku terkejut. Sangat terkejut mendengar nominalnya yang begitu besarnya. Cukup untuk membangun hotel lima atau enam lantai!
“Kenapa kamu tidak memutar uang asuransi itu untuk bisnis di Indonesia?”
“Gak berani usaha di sini. Takut kena sanksi, lalu aku diusir dari Indonesia kan gawat nanti.”
“Nanti setelah kamu jadi warganegara Indonesia, kamu bisa bangun hotel five star di sini.”
“Setelah jadi WNI sih kamu atur aja uangku. Yang penting jangan dipakai untuk foya-foya.”
“Soal itu sih percaya deh sama aku.”
“Ohya… kita mau menuju ke villamu?”
“Iya. Villa kecil, tapi tanahnya luas sekali. Sejak kubeli belum direnovasi. Hanya dibersihkan dan dirapikan saja di sana-sini.”
“Kamu hebat ya. Masih sangat muda tapi sudah punya villa segala.”
“Hotel juga aku punya. Tapi cuma hotel sederhana.”
“Wow! Luar biasa. Di umur sembilanbelas sudah punya villa dan hotel?! Kamu memang orang sukses dalam segala bidang Sam.”
“Umurku sudah duapuluh tahun, Sweety.”
“Ohya?! Tapi bentuknya kayak masih belasan tahun. Tapi aku tetap lebih tua darimu.”
“Aaah, hanya beda tiga tahun. No problem.”
“Hmm… gak sangka aku bisa begini dekatnya denganmu…” ucap Aleksandra sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kiriku. Harum parfumnya pun tersiar ke penciumanku. “Aku merasa sudah menjadi milikmu sekarang Sam.”
“Aku juga sama. Sejak ketemu lagi di café itu, siang malam wajahmu membayangiku terus, Sandra.”
“Aku juga begitu. Aku malah pernah mimpikan kamu. Dalam mimpi itu kamu mengajakku menaiki bukit yang sangat indah. Di puncak bukit itulah kamu mencium bibirku.”
“If you believe, itu pertanda yang baik. Pertanda akan sukses di kemudian hari.”
“Amiiin.”
Lalu hening sesaat. Hanya suara mesin mobilku yang sayup-sayup masih terdengar.
“Sam…”
“Hmm?”
“Aku akan menyerahkan diriku padamu. Jadi… tolong jangan sakiti aku nanti ya.”
“Tentu saja. Sejak kecil sampai saat ini, aku belum pernah berkelahi. Bahkan menyembelih ayam pun aku tidak berani, karena tidak tega. Apalagi menyakiti orang, semoga tak pernah terjadi di dalam kehidupanku.”
“Iya, aku percaya itu. Sepintas pun aku bisa menilaimu. Kelihatannya sabar, penyayang dan tak mau menyakiti hati orang lain.”
“Aku memang punya prinsip, kalau tidak mau disakiti, jangan pernah menyakiti orang lain. “
Sebagai tanggapan, Aleksandra mencium pipi kiriku lalu berkata, “Aku juga seperti itu. Aku tak mau disakiti dan menyakiti orang. “
Tanpa terasa mobilku sudah mencapai jalan kecil menuju puncak bukit itu, di mana villaku berdiri dengan santai.
Villa itu memang tidak besar-besar amat. Hanya ada dua kamar tidur, ruang makan, ruang cengkerama dan dapur. Itu saja.
Bangunan aslinya dibuat dengan adukan semen dan pasir biasa. Tapi yang menarik, dinding-dindingnya dilapisi bambu tua yang dilapisi vernis yang sangat mengkilap. Begitu pula pintu-pintunya dilapisi bambu semua. Sehingga villa ini tidak tersentuh cat sama sekali. Sementara alam di sekitarnya masih asli, karena belum dijangkau oleh wisatawan.
Sebelah utara tampak rumpun-rumpun bambu menghijau di bawah sana. Di sebelah timur, kebun buah-buahan. Sementara di sebelah barat dan selatan tampak hamparan sawah yang sedang menghijau pula.
Begitu turun dari mobil, Aleksandra tampak sangat mengagumi pemandangan asli yang belum terjamah manusia kota itu. Pemandangan yang tidak akan ditemukan di negaranya…
Udara di puncak bukit ini pun sangat sejuk, karena berada di ketinggian.
Lalu terdengar suara Aleksandra, “Wow… kalau aku punya rumah di daerah ini, pasti bakal nyaman sekali, Sam. Pemandangannya indah sekali, jauh dari kebisingan kota pula. “ Ngocoks.com
“Villa ini kan punyaku,” sahutku, “Seluruh bukitnya pun sudah menjadi milikku. Nanti kalau kita sudah menikah, aku akan membangun beberapa bagian dari bukit ini secara teratur tapi artistik. Tentu saja aku harus meminta bantuan arsitek untuk membangunnya. “
“Tapi itu berarti istrimu juga ikut memiliki villa dan bukit ini kan?”
“Tidak. Istriku belum pernah kukasih tau. Papaku juga belum tau. Pokoknya belum ada yang tau, kecuali kamu aja seorang. “
“Ohya?! Kalau begitu, nanti aku mau tanam investasi aja di sini. Mau dibikin apa, terserah kamu. ”
“Jangan di sini kalau mau berinvestasi sih. “
“Kenapa?”
“Duitmu kan harus berkembang. Kalau di sini takkan bisa berkembang duitnya. Mending untuk hotel aja di dalam kota. Ada hotel bintang empat yang mau dijual. Kapan-kapan kita survey ke sana ya. “
“Hotelnya pasti harus direnovasi ya?”
“Iya. Tapi tidak terlalu parah. Cuma kerusakan-kerusakan kecil aja. “
“Tapi aku kan belum jadi warganegara di sini. “
“Itu sih bisa diakalin. Nanti transaksinya atas namaku. Kemudian kita buat perjanjian di notaris, bahwa hotel itu sebenarnya milikmu tapi dipercayakan padaku untuk mengelolanya. Sementara kamu sendiri bisa jadi general manager di hotel itu. “
“Lantas Sam sebagai apa?”
“Aku bisa sebagai Komisaris Utama. “
“Ah… otakmu cerdas sekali Honey, “Aleksandra merangkulku sambil mendekatkan bibirnya ke bibibrku. Tentu saja kusambut dengan pagutan lembut, sambil menyedot lidahnya yang agak terjulur.
Beberapa saat kami tenggelam dalam saling lumat yang teramat mesra ini.
Namun jujur saja. Aku memang tenggelam dalam ciuman mesra yang menghanyutkan. Tapi otakku tetap saja ngeres. Aku malah bertanya-tanya di dalam hati, seperti apa ya bentuk cewek bule blonde ini kalau sudah kutelanjangi? Seperti apa bentuk toketnya ya? Seperti apa bentuk memeknya ya?
Normalkah pikiran ngeresku ini? Ataukah semua petualang sex selalu berpikir seperti aku?
Entahlah. Yang jelas setelah duduk berdampingan di sofa pun Aleksandra nempel terus padaku, seperti yang takut ditinggalkan sendirian. Bahkan kemudian ia merebahkan kepalanya di atas pangkuanku.
Pada sat itulah aku bertanya setengah berbisik, “Kalau kamu gak keberatan, aku ingin menjilati vaginamu. “
“Berarti aku harus telanjang dong,” sahutnya.
“Gak telanjang juga gak apa-apa. Bahkan tetap mengenakan celana dalam juga gak apa-apa. Kan bisa ditarik celana dalamnya ke samping. Tapi kalau mau normal, memang mendingan telanjang. Supaya jangan jual kucing dalam karung. Sebelum aku menikahimu, wajar kalau aku ingin melihat bentuk tubuhmu dalam keadaan telanjang kan?
“Di kamar aja yuk. Aku mau telanjang demi kamu,” ucap Aleksandra sambil bangkit dan berdiri di depanku. Maka aku pun berdiri, lalu menggandeng lengannya untuk masuk ke dalam kamar yang paling depan.
Aku memang sudah menyuruh untuk membersihkan villa ini. Tadinya untuk menyiapkan tempat pertemuanku dengan Mama. Tak tahunya Mama malah datang bulan. Jadi peremuan itu terpaksa dibatalkan.
Sebagai gantinya aku memakai villa ini untuk bidadariku yang berasal dari Eropa Timur itu.
Bidadari putih bersih yang kini sudah berada di dalam kamar yang sudah ada beberapa vas bunga mawar merah di tiap sudutnya. Menciptakan suasana romantis di dada kami berdua.
Aleksandra menyempatkan diri menciumi bunga mawar di vas bunga itu. Lalu memunggungiku sambil berkata, “Lepaskan kancing dan turunkan zipper-nya, please. “
Dengan senang hati kulepaskan kancing kait di bagian punggung Aleksandra. Lalu kuturunkan zippernya (ritsleting).
Kemudian gaun itu dijatuhkan dan beronggok di sekitar kaki Aleksandra. Kujemput onggokan gaun itu, lalu kugantungkan di kapstok.
Ketika menghadap ke arah Aleksandra lagi, aku jadi terkesima menyaksikan betapa putih mulusnya tubuh tinggi semampai yang tinggal mengenakan bra dan CD itu. Luar biasa mulusnya, seolah patung porselen yang ditatah secara sempurna sekali.
Beruntung aku ditakdirkan berperawakan tinggi. Sehingga aku tidak merasa minder waktu berhadapan dengan Aleksandra yang tingginya hampir menyamaiku. Seandainya tubuhku pendek, pasti aku merasa minder berhadapan dengan cewek bule yang berperawakan tinggi langsing itu.
Dengan nafsu yang mulai menggeliat kudekap Pinggang Aleksandra sambil mengecup bibir dan sepasang pipinya. Namun dekapanku bergerak ke arah kancing bra yang berada di punggungnya. Meski pun tidak terlihat, aku berhasil melepaskan kancing yang berada di bagian punggungnya itu. Maka terlepaslah kancing bra itu.
Maka terbukalah sepasang payudara berukuran sedang di depan mataku. Tidak besar, namun kecil pun tidak. Yang jelas sepasang payudara itu mancung ke depan, seperti bunga kuncup dikelilingi oleh embun pagi.
Aleksandra diam pasrah ketika aku menciumi sepasang payudaranya secara bergantian.
Kemudian aku berlutut di depnnya, sambil memeluk sepasang pahanya yang mulus dan menyiarkan hawa hangat ini. Namun pada saat itu aku sedang berusaha menurunkan celana dalamnya yang putih bersih seperti branya.
Lalu pandanganku terpusat ke memek cewek bule itu. Begitu bersihnya, sehingga lipatan-lipatannya tampak jelas. Membuatku harus menahan nafas. Dalam nafsu yang semakin menggebu-gebu.
Bersambung…




