Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Rumah Kami Surga Kami

Rumah Kami Surga Kami

Petualangan HOT (Langkah Langkah Jalang)
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Sebenarnya pada waktu mandi bersama Mamie, nafsuku timbul lagi. Tapi sengaja kutahan nafsuku, agar tidak mengacaukan jadwal pulang ke kota kami.

Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di belakang setir mobil Papa lagi.

Rencana Mamie akan menginap di villanya, dibatalkan. Mungkin karena Mamie sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Karena itu kami gunakan jalan tol lagi.

Di salah satu rest area, kami istirahat dan makan dulu di sebuah restoran. Di situlah Mamie berkata, “Sebenarnya mamie punya rumah yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor. Nanti kalau Papa sudah pulang, kamu tinggal di rumah itu aja ya. Supaya kalau mamie kangen sama kamu, tinggal datangin rumah itu aja.

“Kalau Mama nanya nanti harus gimana jawabnya?” tanyaku.

“Bilang aja kamu kerja magang di perusahaan mamie. Mmm… soal itu sih biar Papa yang jelasinnya nanti ke Mama.”

“Rumah Mamie itu kosong?”

“Kosong sekali sih nggak. Ada kakakku yang nungguin.”

“Kakak Mamie laki-laki?”

“Perempuan,” sahut Mamie, “Janda beranak satu.”

“Owh…”

“Jadi nanti ada yang masakin untuk makan Sam sehari-hari.”

“Iya.”

“Tau gak apa sebabnya mamie mau menempatkan Sam di rumah itu?”

Aku menggeleng.

“Meski kita sudah mendapat izin dari Papa, kita tetap harus menjaga perasaannya. Jadi kalau kita mau bercinta, sebaiknya Papa tidak usah menyaksikannya. Karena itu Sam akan mamie tempatkan di rumah yang terpisah dari rumah mamie.”

“Iya Mam. Aku sih mau nurutin apa kata Mamie aja.”

Mamie meeremas-remas tanganku yang terletak di atas meja makan. sambil berkata, “Tepat seperti yang Papa sering bilang, kamu ini easy going, penurut, jujur dan teguh memegang rahasia. Makanya pilihan Papa jatuh kepada kamu, Sayang.”

“Demi Mamie, apa pun akan kulakukan,” sahutku.

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di belakang setir lagi, melajukan mobil dengan kecepatan sedang, karena Mamie minta agar aku jangan ngebut di jalan tol.

Setibanya di kotaku, Mamie mengulangi ucapannya di rest area tadi, “Arah ke kantor dulu ya. Biar kamu tahu rumah yang akan kamu huni setelah Papa pulang dari luar negeri nanti.”

“Iya Mam.”

Rumah itu memang sangat dekat ke kantor Papa. Tidak sebesar rumah yang Mamie tempati. Tapi tetap aja tampak megah.

Ketika mobil kumasukkan ke pekarangan rumah itu, seorang wanita membuka pintu depan.

Sebelum membuka pintu mobil, Mamie berkata, “Nah itulah kakak mamie. Nanti kamu harus manggil Tante Ken sama dia ya.”

“Iya Mam,” sahutku sambil mematikan mesin mobil. Lalu turun dari mobil. Mengikuti langkah Mamie menghampiri wanita itu.

Mamie cipika-cipiki dengan wanita itu, lalu memperkenalkanku padanya.

Aku pun menjabat tangannya dengan sikap sopan. Wanita itu pun bersikap ramah padaku, “Baru sekarang kita ketemu ya?”

“Iya Tante,” sahutku.

Lalu kami masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang peralatannya serba modern dan mahal.

“Di sini ada tiga kamar yang kosong di lantai bawah, satu kamar di lantai atas. Nanti terserah Sam mau pakai kamar yang mana,” kata Mamie sambil duduk di ruang keluarga.

Kemudian Mamie berkata kepada kakaknya. Bahwa setelah Papa pulang dari luar negeri, aku akan ditempatkan di rumah ini.

“Baguslah,” kata Tante Ken, “kalau ada laki-laki di rumah ini, aku takkan takut-takut lagi di malam hari.”

“Iya, maksudku memang gitu,” sahut Mamie, “sementara Sam juga tak usah repot-repot masak sendiri. Karena Ciecie kan jago masak.”

Tante Ken mengangguk, “Kalau soal masak memasak sih bagianku deh.”

Mamie memanggil “Ciecie” kepada kakaknya, menyadarkanku bahwa Mamie ada darah campuran Tionghoanya.

Lalu aku diajak memeriksa kamar-kamar yang kata Mamie bisa dipakai olehku itu. Akhirnya kupilih kamar yang di atas, karena sudah terbiasa menempati kamar di lantai atas rumah Mama.

Mamie setuju. “Memang bagusan di atas, supaya kamu bisa belajar dengan tenang nanti, “katanya.

Dalam perjalanan pulang meuju rumah utama Mamie, aku mendengar penuturannya tentang Tante Ken itu. “Suami kakak mamie itu meninggal pada saat anaknya sedang-sedangnya membutuhkan biaya. Makanya mamie suruh dia menunggu rumah itu, supaya segala kekurangannya tertutupi.”

“Anaknya cowok?” tanyaku

“Cewek,” sahut Mamie.

“Tadi anaknya kok gak muncul Mam?” tanyaku lagi.

“Anaknya kuliah di Jakarta. Mungkin masa liburannya beda dengan masa liburanmu Sam.”

“Haaa? Wanita semuda itu punya anak yang sudah kuliah?”

“Kakak mamie itu menikah di usia muda sekali. Umur tujuhbelas sudah melahirkan. Maka sekarang anaknya sudah delapanbelas tahun… mungkin seumuran denganmu Sam.”

“Aku sudah sembilanbelas tahun Mam.”

“Ya, beda setahun lah. Tapi kira-kira anaknya itu sebaya denganmu.”

Aku terdiam. Tadinya kupikir anak Tante Ken itu masih balita. Ternyata sudah mahasiswi. Hmm… wanita berusia 35 tahun punya anak yang sudah menjadi mahasiswi.

“Dalam masalah mencari harta, mamie menang. Tapi dalam masalah anak, mamie sangat ketinggalan,” kata Mamie dengan suara lirih.

“Mudah-mudahan aku bisa membuahi Mamie secepatnya,” sahutku.

Mamie menyandarkan kepalanya di bahuku sambil berkata, “Iya Sayang. Mamie sudah ingin sekali punya anak darimu. Kalau anaknya cowok, pasti seganteng ayah biologisnya.”

“Kalau cewek, pasti secantik ibunya.”

“Emangnya aku cantik di matamu?”

“Sangat… sangat cantik Mam.”

“Emwuaaah…! “Mamie mengecup pipi kiriku, “Kamu juga ganteng dan macho Sam. Beruntung mamie bisa memilikimu.”

“Maaf Mam… kalau boleh aku mau nanya…”

“Nanya apa?”

“Waktu Mamie menikah dengan Papa, apakah Mamie memang mencintainya?”

“Ini rahasia ya. Jangan sampai papamu tau. Mmm… sebenarnya mamie menerima cinta papamu berdasarkan pikiran untuk menyelamatkan dan mengembangkan perusahaan. Dan mamie tau bahwa satu-satunya orang yang bisa mamie percayai, adalah Papa. Dia itu rajin, jujur dan cerdas. Atas dasar itulah mamie menerimanya sebagai suami.

“Lalu… apakah mamie pernah mencintai lelaki lain sebelum mengenal Papa?”

“Nggak pernah. Waktu masih gadis mamie sangat jutek. Kalau ada cowok mendekat, mamie malah curiga. Takut cowok itu hanya mau mengincar harta mamie.”

“Jadi lelaki yang Mami cintai itu Papa?”

“Mamie hanya sayang pasa Papa. Dan masalah cinta pertama… kamulah cinta pertama mamie. Sungguh Sam. Mamie nggak main-main. Sekarang ini hati mamie sudah sepenuhnya milik kamu. Tapi rahasiakan ini ya. Jangan sampai Papa tau. Kasian dia nanti.”

“Mam… kalau boleh bicara jujur… aku juga baru sekali ini merasakan cinta… ya kepada Mamie…”

“Terus… perempuan-perempuan yang pernah kamu gauli di masa lalumu, gak ada yang kamu cintai?”

“Semuanya kulakukan tanpa perasaan cinta, Mam. Percayalah, baru dengan Mamie ini aku melakukannya dengan perasaan cinta… Jadi… hatiku sekarang sudah menjadi milik Mamie…”

“Terima kasih Sam. Tapi sebelum Sam mencintai mamie, hati mamie ini sudah duluan menjadi milikmu.”

“Duh Mam… ucapan Mamie barusan, membuat dadaku berdenyut… aku… aku bahagia sekali saat ini Maaam…”

Sebagai jawaban, Mamie mencium pipi kiriku lagi. Disusul dengan bisikan di dekat telingaku, Mamie juga sedang merasa bahagia… sangat bahagia, Sam.” Ngocoks.com

Setibanya di rumah utama Mamie, aku diajak langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan settelah berada di dalam kamarnya, Mamie memelukku sambil berkata, “Selama Papa belum pulang, Sam harus tidur sama mamie di sini ya.”

“Iya Mam. Whatever you ask for, I will do…” sahutku terputus di tengah jalan, karena Mamie mencium bibirku.

Disusul dengan ucapan mesranya, “My heart is yours, honey…”

Aku memberanikan bicara dalam bahasa Inggris, karena kulihat ada ijazah yang diberi kaca dan pigura tertempel di kamarnya. Ijazah dari salah satu universitas di Amerika Serikat. Sudah pastilah Mamie pandai berbahasa Inggris. Tak mungkin kuliah di Amerika kalau tidak pandai berbahasa Inggris.

“Nanti kita tidur telanjang ya,” bisik Mamie.

“Kalau aku kepengen lagi gimana?”

“Gampang lah… tinggal masukin aja… kan udah hafal jalannya… hihihii…” sahut Mamie sambil ketawa kecil.

Begitulah… malam itu kami tidur telanjang, di balik selimut tebal.

Tapi tidur sambil memeluk tubuh Mamie dalam telanjang begini, malah membuatku tidak bisa tidur. Malah “sibuk” meraba ke sana-sini, sampai akhirnya… bersetubuh lagi…!

Peristiwa seperti itu berulang-ulang terjadi tiap malam. Selama Papa belum pulang, tiada malam yang kulewatkan tanpa hubungan sex dengan Mamie.

Setelah Papa datang, aku pun mendapat briefing dari beliau. Bahwa aku harus merahasiakan hubunganku dengan Mamie, jangan sampai Mama dan saudara-saudaraku tahu. Karena Papa hanya memberikan “privilege” itu untukku sendiri.

Selain daripada itu, aku pun harus “laporan” kepada Mama, bahwa aku akan kerja magang di perusahaan Papa dan harus tinggal di mess karyawan.

Banyak lagi yang Papa katakan. Antara lain harapan Papa agar Mamie bisa hamil olehku. Karena kalau aku “sukses” menghamili Mamie, berarti aku telah berhasil untuk melanggengkan rumah tangga Papa dengan Mamie.

Dan aku melaksanakan semua arahan dari Papa itu.

Kebetulan kedatangan Papa itu tepat dengan habisnya masa liburanku. Maka pada hari itu juga aku pulang ke rumah Mama dan mengatakan semua yang diarahkan oleh Papa. Bahwa aku akan kerja magang di perusahaan Papa. Bahwa aku harus tinggal di “mess karyawan perusahaan” dan sebagainya.

Mama kelihatan sedih mendengarkan penuturanku.

“Nanti kalau mama kangen sama kamu gimana?” tanya Mama dengan suara lirih.

Kujawab, “Gampang Mam. Telepon aja aku. Dan aku akan segera datang ke sini. Kalau aku sedang sibuk, kan ada Yoga yang bisa menggantikanku.”

Sebenarnya aku tidak tega juga meninggalkan Mama. Tapi aku pun harus memikirkan masa depanku. Kalau aku mengikuti keinginan Mamie, masa depanku akan lebih terjamin. Selain daripada itu, aku memang sudah mencintai Mamie. Sehingga aku pun akan merasa berat kalau harus jauh dari Mamie.

Esoknya aku mulai tinggal di rumah yang telah disediakan itu oleh Mamie itu, bersama kakak Mamie yang telah kubiasakan memanggilnya Tante Ken itu.

Memang menyenangkan tinggal di rumah sebesar ini, meski jauh dari Mama dan saudara-saudaraku. Tapi aku juga harus bisa menempatkan diri, dengan mengerjakan apa yang bisa kukerjakan.

Pagi-pagi, setelah bangun aku beres-beres kamar dulu sampai benar-benar bersih dan rapi. Karena aku teringat nasehat Papa dahulu. Bahwa jangan dulu keluar dari kamar sebelum keadaan kamar benar-benar rapi. Kain seprai dirapikan, selimut dilipat dan diletakkan di atas bantal yang sudah kususun rapi.

Beberapa kertas yang tak dipakai lagi, kumasukkan ke tempat sampah. Lalu aku menyapu di kamarku, dilanjutkan dengan mengepelnya.

Pokoknya seluruh lantai dua kubbersihkan dan kurapikan. Pulang kuliah pun aku tidak malas-malasan. Kusirami setiap tanaman hias di pekarangan depan dan di sekitar kolam renang yang terletak di pekarangan belakang.

Bukan cuma itu. Keseluruhan rumah yang terdiri dari 7 kamar di lantai bawah dan 2 kamar di lantai atas, hampir tiap hari kuperiksa. Kalau ada yang kurang bagus letaknya, aku tidak ragu-ragu untuk mengubahnya.

Mamie memang sudah mengijinkanku untuk merapikan dan mengubah sesuatu yang kuanggap tidak pada tempatnya atau harus diganti oleh sesuatu yang baru.

Masalah biayanya, aku tidak sayang-sayang mengeluarkan duit dari kocekku, karena Mamie mentransfer dana yang jumlahnya luar biasa bagiku.

Pada hari ketiga aku tinggal di rumah yang disediakan oleh Mamie itu, aku mendapat call dari Mamie :

“Sudah tinggal di rumah yang dekat dengan kantor itu?”

“Sudah tiga hari aku tinggal di rumah ini Mam. Kapan Mamie mau ke sini?”

“Sekarang sih belum bisa. Usaha kita belum berhasil Sam.”

“Maksud Mamie?”

“Ini baru saja mamie datang bulan. Berarti Mamie belum hamil.”

“Mungkin tempo hari kita melakukannya bukan di masa subur.”

“Memang waktu kita ke Jakarta juga masa suburnya sudah terlewat Sam. Makanya nanti kalau mamie ke situ, berarti mamie sedang dalam masa subur. Mudah-mudahan bisa langsung jadi nanti.”

“Masa subur Mamie kira-kira kapan?”

“Mungkin dua atau tiga hari setelah mamie bersih. Jadi kira-kira dua minggu lagi mamie akan datang ke situ. Ohya… meski tidak ada nama yang ditulis di depan rumah yang kamu tempati itu, kita namakan rumah itu Rumah Cinta ya.”

“Iya Mam. Setuju seratus persen… !”

“By the way, tadi mamie udah transfer duit lagi. Kalau ada bagian rumah yang harus diperbaiki, pakai aja duit itu ya Sam.”

“Iya Mam. Terima kasih. I love you Mam…”

“I love you too, Honey. Emwuaaaah…”

Setelah hubungan seluler dengan Mamie ditutup, aku tersenyum sendiri. Karena membayangkan segala yang pernah terjadi antara aku dan ibu sambung keduaku itu.

Tapi kudengar Tante Ken memanggilku dari lantai bawah, “Saaam… !”

“Yaaa!” sahutku sambil keluar dari kamarku dan melangkah ke dekat tangga.

“Makan malam yuk,” kata Tante Ken di bawah.

“Iya,” sahutku sambil melangkah menuruni tangga menuju ruang makan.

Di meja makan sudah terhidang beberapa macam makanan chinese food. Ada capcay, fuyunghay, soup sayap ayam dan lainnya.

“Makanan sebanyak ini, hasil masakan Tante sendiri?” tanyaku sambil menarik kursi makan dan duduk di situ.

“Iya. Tante jarang beli makanan dari luar, kecuali kalau kepepet.”

“Pantesan Mamie bilang Tante ini jago masak.”

“Wanita kan sebaiknya membiasakan giat di dapur.”

“Tapi Mamie sih kelihatannya gak pernah masak sendiri ya.”

“Dia kan orang kaya Sam. Segalanya bisa main suruh.”

Lalu kami mulai makan.

“Sebelum ada aku, Tante gak takut tinggal sendirian di sini?” tanyaku.

“Takut juga sih. Terutama di malam hari. Maklum zaman sekarang kan banyak kejadian yang menyeramkan.”

“Anak Tante di Jakarta tinggal di rumah kos?”

“Frida sih tinggal di keluarga ayahnya. Tante gak bakal ngijinin kalau tinggal di rumah kos sih. Dia kan cewek. Kalau bukan tinggal di rumah famili, gak ada yang ngawasin.”

“Iya Tante. Tapi kenapa Tante gak kawin lagi?”

“Nggak ada yang mau. Hihihiii…”

“Ah masa sih? Tante kan cantik… masih muda pula.”

“Masih muda apa? Umur tante sekarang sudah tigapuluhlima. Tiga tahun lebih tua daripada mamie sambungmu Sam.”

Lalu entah kenapa aku jadi ngomong agak menjurus ke arah “sana”.

“Tapi Tante masih punya hasrat kan?” tanyaku memancing.

“Hasrat apa?”

“Hasrat untuk… untuk disentuh oleh laki-laki.”

“Ya tentu aja. Tante kan perempuan normal.”

“Lantas kenapa gak menikah lagi?”

“Orang bilang, perempuan itu hanya bisa dipilih, tidak bisa memilih. Makanya, selama tidak ada laki-laki yang memilih tante, ya tante jalani aja hidup dalam kesendirian seperti sekarang ini.”

Aku terdiam. Dan teringat riwayat penyanyi dari Filipina yang sudah lama bermukim di Indonesia. Menurutku artis berdarah Filipina itu cantik, tapi sampai sekarang belum punya suami. Padahal usianya sudah 45 tahun.

Mungkin seperti itu pula takdir yang tersurat di kehidupan Tante Ken itu.

Padahal di mataku Tante Ken (yang sebenarnya bernama Niken) itu sangat sexy. Wajahnya mirip Mamie. Kulitnya putih mulus (maklum ada darah Tionghoanya). Pinggangnya ramping, tapi bokongnya semok.

Aaah… kenapa aku jadi punya pikiran sejauh itu? Bukankah aku bertekad untuk mencintai Mamie seorang saja? Mamie yang mencintaiku dan sudah berharap untuk kuhamili itu?

Entahlah. Aku sendiri tak mengerti, kenapa aku mulai memperhatikan wajah Tante Ken yang sedang duduk di depanku dibatasi oleh meja makan. Wajahnya memang sangat mirip Mamie. Kulitnya juga sama putihnya dengan Mamie. Cuma bentuk tubuhnya yang berbeda.

Mamie bertubuh tinggi semampai, sementara Tante Ken bertubuh tinggi montok. Sama dengan Mbak Ayu dan Mbak Ita. Tubuh Mbak Ayu tinggi montok, sementara tubuh Mbak Ita tinggi semampai.

“Tidur sendirian apa gak takut dan kesepian, Tante?” tanyaku, memancing lagi.

“Emang kenapa? Mau nemenin tante tidur?” dia balik bertanya dengan senyum yang mengundang hasratku.

“Mau… asal jangan laporan sama Mamie aja,” sahutku.

“Ya jangan sampai dia tau dong. Dia kan ada hubungan istimewa denganmu ya?”

Aku tersentak, “Haaa?! Emangnya Mamie ngomong gitu sama Tante?”

“Dia nggak ngomong apa-apa. Tapi tante melihat sikapnya padamu tidak seperti sikap seorang ibu kepada anaknya. Iya kan?”

Aku terdiam. Tidak berani membicarakan masalah Mamie lagi. Takut salah ngomong.

Namun kenapa penisku diam-diam terbangun di balik celana dalam dan celana jeansku?

Apakah ini yang disebut tuntutan biologis?

Entahlah. Yang jelas, ketika tanganku berada di atas meja makan, Tante Ken meremasnya. Sementara matanya pun menatapku dengan senyum yang sangat menggodaku…!

Tante Ken mengulangi pertanyaannya seperti belum percaya pada jawabanku tadi, “Beneran mau nemenin tante tidur malam ini?”

“Beneran Tante,” sahutku, “Kalau Tante mau, tiap malam juga aku mau kok nemenin tidur.”

“Nemenin tidur doang?”

“Nidurin juga mau,” sahutku keceplosan. Karena pernah mendapatkan pertanyaan yang sama dari sosok lain.

“Mmmm… kebayang indahnya… bakal dapet sesuatu yang sudah belasan tahun tidak tante dapatkan,” kata Tante Ken sambil tersenyum.

“Sekarang tunggu dulu di sana ya., “katanya lagi sambil menunjuk ke sofa ruang keluarga, “Tante mau beresin piring-piring ini dulu.”

Aku gak enak juga kalau Tante Ken merapikan meja sendirian. Karena biar bagaimana pun dia itu kakak ipar Papa. Lalu aku berdiri dan ikut mengangkut piring dan mangkok ke bak cucian.

“Biar tante aja sendirian yang beresin piring-piring segini sih,” ucap Tante Ken yang melangkah duluan menuju dapur.

“Nggak apa-apa Tante,” sahutku sambil memperhatikan bentuk tubuh Tante Ken dari belakangnya. Tubuh yang malam itu mengenakan daster dari kain yang bergoyang dan mengkilap, berwarna abu-abu polos. Gerakan langkah Tante Ken membuat bentuk tubuhnya membayang. Bentuk yang tinggi montok dengan bokong gedenya yang menggemaskan.

Maka setelah aku sudah menyimpan piring-piring itu, tak kuasa lagi aku menahan nafsuku yang sudah beberapa hari tidak tersalurkan ini. Dan… kupeluk erat-erat Tante Ken dari belakang…!

Terasa tubuh Tante Ken agak mengejut. Dan berkata, “Tadinya tante mau nyuci piring dulu Sam.”

“Besok pagi aja nyucinya Tante,” sahutku sambil meremas daster pada bagian perutnya, sambil berusaha agar daster itu tertarik ke atas sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya aku menyentuh perutnya yang terasa kencang padat. Lalu kuturunkan tanganku sampai menyentuh lingkaran elastis celana dalamnya. Dan kuselundupkan tanganku ke balik celana dalamnya.

Diam-diam jemariku mencari celah di balik rimbunan jembut itu. Sampai akhirnya kutemukan, rasanya aku langsung menemukan kelentit Tante Ken. Maka langsung bagian terpeka itu kutekan dengan ujung jariku, dengan gerakan mendesak dan berputar-putar.

“Sam… oooh… kalau dibeginiin… tante langsung horny Saaam… “rintih Tante Ken sambil meletakkan kedua tangannya di bak cuci piring, sementara pantatnya dimundurkan. Mungkin agar aku lebih leluasa menggerayangi kemaluannya.

Melihat Tante Ken dalam posisi seperti itu, aku pun langsung berjongkok di dekat kakinya, untuk menurunkan celana dalamnya sampai terlepas dari kakinya. Kemudian aku berdiri lagi sambil menyingkapkan daster itu sampai bokong Tante Ken terbuka total. Hmmm… sungguh indah bokong kakak ipar Papa ini.

Kuelus dan kupijat-pijat bokong semok yang putih mulus itu. Lalu tanganku berada di antara kedua pangkal paha Tante Ken. Kuelus lagi jembut yang agak lebat itu sambil mencari-cari celahnya. Setelah kutemukan, jemari tangan kananku mulai menyodok-nyodok ke dalam liang yang mulai membasah itu.

“Sam… oooh… sudah belasan tahun memek tante gak pernah disentuh lelaki Sam. Ini untuk pertama kalinya disentuh lelaki lagi…” ucap tante Ken nyaris tak terdengar olehku.

“Heheeehee… rambutnya lebat sekali Tante…”

“Iya. Anak muda zaman sekarang seneng yang botak ya? Nanti Sam aja yang cukurin. Mau?”

“Iya Tante. Nyukurin memek sih lima menit juga selesai,” ucapku sambil menyelusupkan dua jari tangan kananku ke dalam celah kewanitaan Tante Ken.

Dalam tempo singkat saja liang kemaluan Tante Ken sudah basah. Mungkin libidonya langsung memuncak, karena sudah terlalu lama tidak disentuh oleh lelaki.

Pada saat itu aku mengenakan baju dan celana piyama, tanpa mengenakan celana dalam. Memang kalau sudah malam, aku suka bercelana piyama tanpa celana dalam.

Dan pada saat aku menggesek-gesekkan dua jari tanganku ke liang kemaluan yang sudah basah ini, diam-diam kupelorotkan celana piyamaku. Dan penisku yang sudah ngaceng berat ini tersembul di atas lingkaran karet celana piyamaku, tanpa disadari oleh Tante Ken. Karena aku berada di belakangnya, menghadap ke bokong semoknya.

Lalu ketika jari tangan kananku masih asyik menyodok-nyodok liang kemaluan Tante Ken, tangan kiriku sudah menggenggam batang kemaluanku yang sudah full erection ini.

Dan diam-diam kuangsurkan moncong penisku ke arah celah yang sedang kusodok-sodok dengan dua jari tangan kanan ini. Ngocoks.com

Dengan gerakan cepat kuganti “tugas” jari tanganku dengan penisku yang langsung kuselusupkan ke dalam liang yang sudah basah licin ini. Lepppp… masuk lebih dari setengahnya.

Aku pun mulai mengentotkan penisku, bermundur maju di dalam jepitan liang kewanitaan Tante Ken.

Awalnya Tante Ken seperti tidak menyadari bahwa yang sedang mengentotnya ini adalah batang kemaluanku. Tapi setelah kedua tanganku mulai mencengkram sepasang buah pantatnya yang gede dan padat ini, Tante Ken memegang tangan kananku, lalu juga memegang tangan kiriku, dengan pandangan tetap lurus ke arah bak cuci piring.

“Sam… ini apa yang di dalam memek tante?” tanyanya sambil berusaha menoleh ke belakang, “Ooooh… yang di dalam memek mtante ini kontolmu?”

“Iya Tante… aku tak sabaran lagi ingin merasakan liang memek Tante. Ternyata enak sekali Tante…”

“Tapi jangan dilepasin di dalam ya Sam.”

“Kenapa? Takut hamil?”

“Iya. Mana sekarang tante sedang berada di masa subur pula.”

“Tenang aja Tante… aku punya pil kontrasepsi kok. Dilepasin di dalam juga gak apa-apa,” sahutku sambil mempergencar entotanku.

“Haaa?! Cowok kok punya pil kontrasepsi segala?”

“Iya, takut kelepasan dan bikin hamil anak orang kan berabe tante.”

“Ooooh… Saaam… ooooh… tante udah lama banget gak diginiin… enak sekali Sam… tapi… ambil dulu pilnya gih. Kita lanjutin di kamar tante aja ya. Biar lebih enak.”

Meski agak kecewa, kucabut penisku dari liang kemaluan Tante Ken. “Mmmm… iya deh,” kataku sambil menaikkan lagi celana piyamaku. Lalu setengah berlari aku menuju lantai dua. Menuju kamarku.

Kuambil satu strip pil kontrasepsi dari ransel kuliahku. Tiba-tiba pandanganku tertumbuk ke pisau cukur yang masih baru. Sambil tersenyum sendiri kuambil pisau cukur itu, sekalian dengan shave cream-nya.

Lalu aku bergegas menuju kamar Tante Ken yang terletak paling belakang, berhadapan dengan ruang keluarga. Sementara kamar yang di sampingnya (kedua dari belakang) adalah kamar puterinya yang aku belum tahu seperti apa bentuknya.

Tante Ken tampak sudah duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidurnya. “Ini pil kontrasepsinya, Tante.”

“Luar biasa. Anak cowok nyimpan pil kontrasepsi segala,” kata Tante Ken sambil tersenyum.

“Nyimpan doang Tante. Tapi sampai sekarang belum pernah dipakai. Itu buktinya, masih utuh sepuluh pil kan?”

“Terus, itu apa?” tanyanya sambil menunjuk ke botol shave cream yang masih kupegang.

“Ini cream cukur,” sahutku, “Tante kan mau kucukurin memeknya. Nah ini pisau cukurnya juga masih baru.”

“Hihihi… kamu nanggapi serius ya? Ya udah kalau gitu lampu yang sangat terang harus dinyalain dulu,” kata Tante Ken sambil bangkit dari sofa lalu melangkah dan memijat sakelar untuk menghidupkan bola lampu watt tinggi. Sehingga keadaan di dalam kamar Tante Ken ini jadi terang benderang.

“Emang penting benar ya memek tante dicukur dulu?” tanya Tante Ken sambil duduk lagi di sofa.

“Sangat penting Tante. Biar gampang menjilatinya. Kalau gondrong kan nyusahin, bisa ada yang tertelan rambutnya nanti.”

“Emang kamu mau jilatin memek Tante?”

“Mau Tante.”

“Di sini aja cukurinnya ya.”

“Iya. Tapi sambil rebahan aja Tantenya. Biar gak kehalangin bayangan.”

Tante Ken mengangguk. Lalu menelentang di atas sofa sambil menyingkapkan dasternya tinggi-tinggi, sehingga dari perut ke bawah tak tertutup apa-apa lagi. Rupanya celana dalamnya tak dilenakn lagi sejak di dapur tadi.

Di bawah sorot lampu yang sangat terang itu, aku bisa melihat dengan jelas sampai ke pori-pori di permukaan kulit Tante Ken. Tapi pandanganku lalu terpusat ke jembut yang menyelimuti kemaluannya itu. Maka tanpa banyak bicara lagi kusemprotkan shave cream ke permukaan jembut Tante Ken. Lalu kuratakan dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku sudah memegang pisau cukur Gillette.

Dalam tempo singkat aku berhasil mencukur jembut Tante Ken sampai benar-benar bersih. Bahkan jembut di seputar pangkal pahanya yang hanya 2-3 lembar pun sudah kubersihkan. Begitu pula rambut yang tumbuh beberapa lembar di dekat anusnya, sudah kubersihkan semua.

Lalu tampillah sebentuk kemaluan yang tembem dan bersih plontos di depan mataku. Kemaluan yang sangat merangsang. Tapi aku masih berusaha menahan diri. Sambil menepuk-nepuk kemaluan Tante Ken yang sudah bersih dari rambut itu, aku berkata, “Silakan kalau mau dicuci dulu, Tante.”

Tante Ken bangkit sambil tersenyum. Lalu melangkah ke kamar mandi yang bersatu dengan kamar itu.

Beberapa saat kemudian Tante Ken muncul kembali, dalam keadaan telanjang bulat…!

Wow… tak salah kalau aku tergiur oleh kakak Mamie ini. Karena tubuh kakak ipar Papa ini benar-benar sexy… benar-benar menggiurkan. Kulitnya yang putih mulus, tiada noda setitik pun. Sepasang payudaranya yang gede dan bokongnya yang semok, sementara pinggangnya yang ramping… ooo… benar-benar ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya…

Maka aku pun melepaskan baju dan celana piyamaku, lalu menyambut Tante Ken dengan pelukan di lehernya, dalam keadaan sama-sama telanjang bulat.

Tante Ken pun mendekap pinggangku sambil mendaratkan ciuman hangatnya di bibirku. Yang kusambut dengan lumatan hangat, dibalas dengan lumatan pula.

Waktu slaing lumat ini kudesakkan Tante Ken ke pinggir tempat tidurnya. Sampai akhirnya ia terhempas celentang ke atas kasur, bersamaan denganku yang menghempas pula ke atas perutnya. Lalu kami bergumul di atas kasur, dengan nafsu yang semakin bergejolak.

Namun aku bukan pemula dalam aksi seksual. Aku sudah mengerti bahwa penetrasi hanya boleh dilakukan kalau pasangan seksualku benar-benar sudah siap untuk diterobos oleh tongkat kejantananku.

Karena itu aku mulai dengan menikmati wilayah dadanya dulu. Karena sepasang bukit kembar milik Tante Ken itu tergolong dahsyat. Gede dan sudah agak menurun, karena memang seperti itulah payudara berukuran besar yang natural (bukan fake breast yang menggunakan silicon). Ketika aku mengemut puting payudara kanannya, tangan kananku meremas payudara kirinya.

Namun aku sudah tak sabaran, ingin segera menjilati kemaluannya yang tembem dan sudah bersih dari rambut itu. Karena itu aku pun melorot turun. Untuk menjilati pusar perutnya sesaat. Lalu turun lagi, sehingga wajahku berhadapan dengan kemaluan tembem di antara sepasang paha gempalnya.

Tante Ken menyadari apa yang akan kulakukan. Maka ia pun merentangkan kedua pahanya, sehingga kemaluannya semakin nyata di mataku.

Kutepuk-tepuk kemaluan tembem itu sebentar. Lalu kuusap-usap dengan lembut sambil mendekatkan mulutku ke arah garis lipatan bibir luarnya yang tampak seolah tertutup rapat itu.

Sebelum bibir dan lidahku mendarat di bagian yang sangat erotis itu, kedua tanganku mengangakan bibir luarnya (labia mayora) selebar mungkin. Sampai tampak bagian dalamnya yang berwarna pink dan kelihatan basah itu.

Ujung lidahku mulai menyapu-nyapu bagian yang berwarna pink itu. Sehingga tubuh Tante Ken terasa agak mengejut. Lalu terdiam ketika mulutku seakan terbenam di kemaluan tembem itu.

Aku pun menjilati memek yang tembem dan bersih itu dengan lahapnya. Terlebih setelah kusadari bahwa kemaluan Tante Ken memancarkan aroma yang mewangi, membuatku semakin lahap menjilatinya.

Rintihan dan rengekan Tante Ken pun mulai terdengar, “Saaam… oooh… baru sekali ini memek tante dijilatin seperti ini… ternyata enak sekali Saaam… ooooh… Saaam… enak Saaam…”

Rasanya sulit dipercaya. Bahwa di zaman sekarang masih ada wanita yang belum pernah merasakan enaknya cunnilingus (jilat memek). Ngocoks.com

Tapi pengakuan Tante Ken itu membuatku semakin bersemangat untuk menjilati memeknya habis-habisan. Dan Tante Ken semakin menggeliat-geliat disertai desahan dan rengekan manjanya.

Terlebih setelah aku fokus menjilati kelentitnya, sementara jari tengahku diselundupkan ke dalam liang kemaluannya yang sudah mulai basah dan licin sekali. Semakin berkelojotanlah kakak ipar ayahku itu dibuatnya.

Aku menganggap liang kemaluan Tante Ken sudah basah sekali dan tiba waktunya untuk dieksekusi. Lagian penisku sudah menagih-nagih, ingin segera dijebloskan ke dalam liang kewanitaan Tante Ken.

Dan ketika puncak dan leher penisku sudah mulai menyelusup ke dalam liang memek Tante Ken, terdengar suara kakak Mamie itu terengah, “Kontolmu kok gede sekali Sam? Sampai susah gini masuknya…”

“Mungkin karena memek Tante sudah lama tidak dientot… jadi liangnya mengecil…” sahutku.

“Nggak ah… kontolmu memang gede banget Sam…”

Aku tidak menyahutnya lagi, karena sedang berusaha membenamkan penisku lebih dalam lagi.

Tapi diam-diam aku memikirkan ucapan Tante Ken itu. Karena Mamie pun pernah mengatakan hal yang sama. Sementara aku pun merasa bahwa ada perkembangan pada penisku dalam beberapa bulan terakhir ini. Bahwa penisku terasa makin gede dan makin panjang. Apakah ini karena seiring dengan bertambahnya umurku?

Yang jelas aku pernah membaca bahwa perkembangan fisik manusia itu tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Ada cewek yang baru kelas 6 SD, tapi payudaranya sudah mulai membesar. Ada pula cewek yang sudah duduk di SMA tapi payudaranya belum tumbuh secara maksimal.

Lalu apakah aku mengalami keterlambatan dalam perkembangan fisikku, sementara Yoga sudah duluan “maksimal” sehingga penisnya lebih gede daripada penisku?

Entah juga. Hanya saja aku merasa sekarang ini penisku tidak lebih kecil daripada penis Yoga. Bahkan aku yakin kalau penisku lebih panjang daripada penis adikku itu.

Rasanya kalau ketemu dengan Yoga, aku ingin membandingkan ukuran penisku dengan penis adikku itu. Dan aku yakin, sekarang penisku lebih “gagah” daripada penis adikku. Aku pun punya kelebihan lain. Bahwa aku bisa bersetubuh dalam durasi yang lama, sementara Yoga hanya mampu bersetubuh dalam durasi biasa-biasa saja.

Tapi biarlah semuanya itu tak usah terlalu kupikirkan. Nanti sang waktu yang akan menjawabnya.

Dan kini aku sudah mulai mengayun penisku, bermaju-mundur di dalam liang kemaluan kakak Mamie yang memeknya terasa empuk tapi sangat legit dan menjepit ini…!

Tubuh Tante Ken mulai menggeliat-geliat lagi. Sementara memeknya mulai bergerak-gerak seiring dengan gerakan pinggulnya. Bukan goyang Karawang, melainkan gerakan melawan gerakan penisku. Pada waktu penisku maju, memek Tante Ken pun maju. Sementara kalau penisku ditarik mundur, memek Tante Ken pun menjauh.

Dekapan Tante Ken di pinggangku pun makin erat saja rasanya. Sementara aku mulai “melengkapi” aksiku dengan melumat bibirnya, menjilati lehernya yang mulai berkeringat dan menjilati ketiaknya disertai gigitan-gigitan kecil.

Sepasang tanganku pun ikut melengkapi, dengan remasan-remasan di payudara montoknya. Sementara tangan Tante Ken pun mulai meremas-remas bahuku dan terkadang meremas-remas rambutku yang agak gondrong ini.

Aku sadar bahwa liang kemaluan Tante Ken cukup dalam. Tapi puncak penisku selalu berhasil menyundul dasar liang kemaluan kakak Mamie ini. Dan ketika hal itu terjadi, kulihat mata Tante Ken terbelalak, lalu terpejam erat-erat ketika penisku ditarik kembali.

Tentu saja rengekan-rengekan manjanya berkumandang terus di dalam kamar ini, “Saaam… dudududuuuh… Saaaam… kontolmu enak sekali Saaaaam… iyaaaaa… entot terus Saaaam… enak sekali Saaaam… oooooooh… Saaaaam… Saaaam… Saaaam… oooooh…”

Terkadang aku pun membalasnya dengan bisikan, “Memek Tante legit sekali… enak sekali Tanteee…”

Di saat lain, aku mengentot Tante Ken sambil menepuk-nepuk toket gedenya yang terombang ambing ke kanan dan ke kiri. Plok… plok… plokkkk… plaaak… plooook…

Terkadang pentil toket itu kusedot kuat-kuat, seolah bayi yang sedang menyusu, sementara toket satunya lagi kuremas kuat-kuat… dan tante ken malah tampak menikmatinya. Bahkan sesekali ia berkata terengah, “Remas aja toketnya sekuat mungkin Sam… enak kok…”

Hal itu membuatku mengerti. Bahwa perempuan yang satu tidak sama dengan perempuan lainnya. Karena ada yang ingin agar remasan ke toketnya harus dilakukan secara lembut, namun ada juga yang ingin diremas sekuat mungkin seperti Tante Ken ini.

Keringatku mulai membasahi sekujur tubuhku. Bercampur aduk dengan keringat Tante Ken.

Sampai pada suatu saat, Tante Ken berkelojotan. Lalu terkejang-kejang dengan perut agak terangkat ke atas…

Aku menyadari hal itu sebagai pertanda bahwa Tante Ken akan mencapai orgasmenya. Dan aku tahu bagaimana cara untuk menanggapinya. Keugenjot penisku dengan gerakan cepat… cepat sekali… sampai pada suatu saat, kudorong penisku sedalam mungkin, lalu kudiamkan dan tidak kugerakkan sama sekali.

Pada saat itulah aku merasakan detik-detik indahnya pada waktu menghayati perempuan yang sedang menikmati orgasmenya. Tante Ken meremas bahuku kuat-kuat sambil menahan nafasnya. Lalu terdengar suaranya lirih, “Saaaaaam…”

Disusul dengan kedutan-kedutan erotis di liang kemaluannya.

Setelah Tante Ken melemas, aku mencium bibirnya. Dan berbisik di dekat telinganya, “Tante udah lepas?”

“Iya Sam… duuuuh nikmat sekali Sam… terima kasih yaaaa…” sahut tante Ken yang dilanjutkan dengan ciuman hangatnya di bibirku.

“Kamu belum ngecrot Sam?” tanyanya kemudian.

“Belum Tante,” sahutku sambil menggerakkan penisku perlahan-lahan tapi pasti. Sambil menikmati indahnya liang senggama yang baru mengalami orgasme.

Beberapa saat kemudian Tante Ken sudah bergairah kembali, untuk menikmati dan menanggapi entotanku…

Dan suasana di dalam kamar kakak Mamie itu terasa hangat kembali…

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Berlanjut Bersambung Cantik Ibu Kandung Ibu Muda Keluarga Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Petualangan Sedarah Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKeluarga Pak Trisno
Next Article Petualangan Rikku
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Siasat Paras Elok

    9.7

    Manajer Perusahaan Multinasional

    9.6

    Derita Miranda

    9.7

    Pelacurku Bekas Penyanyi

    9.7

    Terapi Akupuntur

    9.6

    Rumah Kontrakan

    Follow Facebook

    Recent Post

    Siasat Paras Elok

    Manajer Perusahaan Multinasional

    Derita Miranda

    Pelacurku Bekas Penyanyi

    Terapi Akupuntur

    Rumah Kontrakan

    Petualangan Rikku

    Rumah Kami Surga Kami

    Keluarga Pak Trisno

    Tragedi Malam Pengantin

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.