Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Rumah Kami Surga Kami

Rumah Kami Surga Kami

Petualangan HOT (Langkah Langkah Jalang)
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Terdengar suara Tante Fenti kepada anak angkatnya, “Ini untuk pertama kalinya kamu melihat bunda telanjang kan?”

“Iii… iya Bunda. Dan untuk pertama kalinya juga aku merasakan enaknya memek Bunda,” sahut Rendi.

Lalu Tante Fenti mulai menggoyang pinggulnya. Tapi tangan kirinya memegang pergelangan tanganku yang berada di samping bahu Mama. Matanya pun berkali-kali menatapku sambil tersenyum-senyum.

Tapi aku seolah tak peduli dengan hal itu, karena diam-diam aku sedang membanding-bandingkan di antara Mama dan Tante Fenti. Siapa di antara mereka yang lebih enak alat vitalnya?

Jujur… aku tak menemukan jawabannya. Karena baik Mama mau pun Tante Fenti punya kelebihan masing-masing, yang sulit menceritakannya. Maka kalau aku memberi nilai 80 kepada Mama, aku pun akan memberi nilai 80 kepada Tante Fenti.

Belum juga sempat aku membanding-bandingkan lebih jauh tentang siapa yang lebih enak, Mama atau Tante Fenti, tiba-tiba terdengar dengus nafas Rendi, “Uuuuugghhhhhh…”

Aku melirik dan melihat Rendi sudah terkapar di atas perut ibu angkatnya.

Lalu terdengar suara Tante Fenti, “Iiih… kamu… kok cepet banget meletusnya, Ren?!”

“Iii… iya Bun,” sahut Rendi yang lalu bergerak turun dari bed dan bergegas menuju kamar mandi. Tante Fenti pun mengikuti langkah Rendi menuju kamar mandi.

Pada saat itulah Mama berbisik ke telingaku, “Emang gitu… si Rendi kayak ayam… hihihihi…”

“Tadi berapa kali dia nyetubuhin Mama?” tanyaku.

“Dua kali. Yang pertama cuma dua menitan… yang kedua gak sampe lima menit. Kayak ayam kan?”

Aku menahan tawaku. Tapi lalu fokus ke memek Mama lagi. Memek yang sedang kuentot ini. Memang sulit menilai mana yang lebih enak, memek Mama atau memek Tante Fenti.

Mama dan Tante Fenti punya kelebihan masing-masing. Jadi kuanggap sebanding alias sama-sama enak.

Dan aku tak peduli lagi dengan Rendi. Aku lebih fokus merasakan nikmatnya mengentot ibu tiriku yang putih mulus dan berbokong semok ini.

Namun tak lama kemudian Tante Fenti sudah muncul lagi dalam keadaan masih telanjang, kemudian merebahkan diri di samping kanan Mama. Sementara Rendi pun muncul, tapi langsung keluar dari kamar Tante Fenti.

“Rendi kok payah gitu ya?” ucap Tante Fenti sambil miring ke arah Mama dan mengusap-usap permukaan payudara Mama.

Mama menyahut, “Barusan itu berarti Rendi sudah ketiga kalinya. Tadi dua kali denganku, lalu sekali denganmu. Kalau Sam main di ronde ketiga, bisa dua jam gak lepas-lepas.”

“Sekarang kan Sam main yang ketiga kalinya, karena tadi udah dua kali main denganku. Berarti dua jam lebih baru ngecrot?” tanya Tante Fenti sambil menepuk pahaku yang sedang bersentuhan dengan pahanya.

“Kenapa? Kamu mau main dengan Sam lagi?” tanya Mama sambil mencolek pipi Tante Fenti.

“Lanjutin aja lah… biar Mbak puas dulu,” sahut Tante Fenti.

“Aku sih gampang, nanti di rumah juga bisa main sekenyangnya dengan Sam,” kata Mama sambil memberi isyarat padaku, agar pindah ke atas perut Tante Fenti.

Aku menurut saja. Mencabut batang kemaluanku dari liang senggama Mama. Lalu kujamah kemaluan Tante Fenti. Dan bertanya, ”Kok jadi kering Tante? Abis dicuci ya?”

“Iya… jilatin lagi dong,” sahut Tante Fenti sambil merentangkan kedua belah pahanya. Sementara Mama turun dari bed, lalu melangkah ke kamar mandi. Mungkin Mama mau pipis atau mencuci kemaluannya.

Aku pun melanjutkan aksiku untuk mengentot Tante Fenti habis-habisan…

Dalam perjalanan pulang, Mama berkata, “Tadinya mama dan Tante Fenti sudah bikin rencana yang seru. Tapi ternyata Rendi tidak memenuhi syarat.”

“Rencana seru gimana Mam?” tanyaku di belakang setir mobil Mama.

“Mau tukar-tukaran posisi. Pada suatu saat, kamu dan Rendi akan mengeroyok Tante Fenti. Di saat lain mengeroyok mama. Gitu.”

“Jadi mama dan Tante Fenti mau gantian dithreesome Mam?”

“Iya. Tapi Rendi kayak ayam gitu, takkan bisa didampingkan dengan kamu Sam.”

“Kalau Mama mau dithreesome sih gak usah mengundang orang luar. Kan Yoga juga bisa kita ajak.”

“Yoga?! Iiih… dia kan maih di bawah umur, Sam.”

“Di bawah umur?! Mama lupa ya… tempo hari dia kan ulang tahun yang kedelapanbelas.”

“Iya ya… tapi mama serasa jadi rakus… masa anak laki-laki mama mau direnggut dua-duanya?”

“Ngggak apa-apa Mam. Buktinya aku… malah senang sekali setelah bisa merasakan enaknya memek Mama. Nanti Yoga juga pasti merasakan seperti yang kurasakan. Lalu Mama akan kami hangati kapan pun Mama mau.”

“Hmmm… kebayang juga sih…”

“Aku pernah baca pengakuan seorang istri yang dithreesome oleh suami dan sahabatnya. Wanita itu bilang, luar biasa nikmatnya.”

“Ya iya lah. Disetubuhi olehmu sendiri aja mama sudah merasa enak sekali, apalagi kalau dithreesome begitu… hmm… terus kapan mau ngajak Yoga gabung sama kita?”

“Terserah Mama… tapi untuk yang pertama mungkin harus di hotel yang bersatu dengan mall itu, ya Mam. Biar Mbak Ayu dan Mbak Ita jangan curiga.”

“Hari Selasa kan tanggal merah tuh,” kata Mama.

“Jangan di hari libur Mam. Nanti Mbak Ayu dan Mbak Ita curiga kalau kita hilang dari rumah.”

“Ya udah… kalau gitu atur aja sama kamu, Sam.”

Aku berpikir sesaat. Akhirnya kuusulkan untuk melaksanakan rencana itu pada hari Rabu. Aku akan mengajak Yoga ketemuan di mall yang ada hotelnya itu. Kemudian kuajak ke hotel dan mengeksekusi Mama…!

Pada hari Rabu yang sudah ditentukan, sepulangnya kuliah aku tidak langsung pulang ke rumah, melainkan menuju mall yang ada hotelnya itu. Kebetulan masih ada kamar yang bednya dua. Lalu aku mandi sebersih mungkin. Setelah mandi, aku menunggu Yoga yang sudah mengiyakan untuk ketemuan di foodcourt mall.

Hanya beberapa menit aku menunggu Yoga pun muncul di foodcourt. Dan memesan juice guava kesenangannya.

“Sebenarnya sekarang ini ada acara apa Mas?” tanya Yoga yang duduk di sampingku.

“Acara istimewa… yang takkan terlupakan di sepanjang kehidupan kita,” sahutku sambil menepuk bahu adikku.

Yoga menatapku, “Ohya?! Jadi penasaran juga… mau ada acara apa sih?”

Kuperhatikan adikku yang kelihatan agak lusuh, “Nanti aja kujelaskan di hotel,” sahutku.

“Pake hotel segala?!”

“Iya. Habisin dulu juicenya.”

Yoga pun menyedot juice guavanya, sampai habis. Lalu kuajak dia ke pintu lift yang menuju ke hotel yang bersatu dengan mall itu.

Di dalam kamar yang sudah kubooking itu (dengan uang pemberian Mama tadi pagi), aku berkata, “Mandi dulu gih. Biar bersih dan harum. Pakaian ganti punyamu sudah kubekal dari rumah, di kantong plastik itu tuh.”

Yoga menatapku dengan sorot heran. Tapi dia menurut saja, mengambil kantong plastik berisi pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.

Pada saat itulah aku mengirim WA ke Mama, *Aku dan Yoga sudah berada di hotel Mam. Di kamar dua-sembilan. *

Tak lama kemudian datang balasan dari Mama, *Iya. Seperempat jam lagi juga mama tiba di situ. *

Memang sengaja aku mengaturnya seperti itu. Bahwa aku dan Yoga menggunakan motor masing-masing. Sementara Mama pun nyetir sendiri mobilnya. Supaya terkesan kami bertiga sedang berada di lokasi yang berbeda, dengan urusan masing-masing.

Tak lama kemudian Yoga muncul dalam pakaian bersihnya. “Sebenarnya kita mau ngapain sekarang Mas? Rasanya kok aneh gini, “gumamnya sambil menyisir rambutnya di depan cermin.

Aku tersenyum sambil menyahut, “Sebentar lagi bakal datang wanita setengah baya yang ingin merasakan dithreesome.”

“Haaa?! Tante-tante?”

“Yang ingin dithreesome itu bukan orang jauh. Kamu juga sudah mengenalnya.”

“Ohya?! Siapa dia?”

“Mama.”

Yoga terperanjat, “Mama?! Aaah… yang bener Mas…”

“Serius. Sejak Papa kawin lagi, Mama kan sering kesepian. Tapi Mama masih tidak mau rumah tangganya dengan Papa retak. Karena itu Mama memilih kita untuk mendapatkan kebutuhan batinnya.”

“Dan sekarang Mama ngajak ketemuan di hotel ini, supaya Mbak Ayu dan Mbak Ita tidak tau?”

“Iya. Kamu sudah punya pengalaman dengan perempuan kan?”

“Punya.”

“Dengan siapa?”

“Dengan wanita yang Mas juga kenal, karena dia keluarga kita.”

“Siapa? Mbak Ita?”

“Iiih… bukan. Aku belum pernah macem-macem dengan Mbak Ita mau pun Mbak Ayu.”

“Terus sama siapa?”

“Off the record. Pokoknya aku sudah cukup berpengalaman dalam masalah perempuan.”

Aku tak sempat bertanya lebih jauh, karena pintu yang tidak terkunci itu terbuka. Dan Mama muncul di ambang pintu, dalam celana panjang dan baju yang sama-sama terbuat dari kain sutera berwarna hitam. Sehingga tampak seksi sekali di mataku.

Yoga malah tampak salting. Karena itu aku yang bangkit dan menyambut Mama dengan ciuman mesra di bibirnya, yang Mama sambut dengan sedotan sesaat.

Sementara itu Yoga masih duduk canggung di pinggiran salah satu bed.

“Yoga sudah tau acaranya?” bisik Mama di dekat telingaku.

“Sudah Mam,” sahutku.

Mama melepaskan pelukannya dari leherku, lalu menghampiri Yoga yang masih duduk canggung di pinggiran bed. Mama pun duduk di samping Yoga, sambil menanggalkan baju sutera hitamnya.

“Sam sudah ngasih tau apa acara kita sekarang kan?” tanya Mama sambil melemparkan baju sutera hitamnya yang mirip baju piyama itu. Ngocoks.com

“Sudah Mam,” sahut Yoga yang tampak semakin salting, sementara Mama sudah menanggalkan behanya pula di samping Yoga.

“Terus… kamu mau gabung sama mama dan Sam gak?” tanya Mama yang sepasang payudaranya sudah tak tertutup apa-apa lagi.

“Mau Mam,” sahut Sam sambil mendekatkan wajahnya ke payudara kiri Mama.

Aku duduk di bed yang satu lagi, sambil, memperhatikan gerak-gerik Yoga dan Mama.

Bahwa Yoga langsung menyerudukkan mulutnya ke payudara kiri Mama, sementara tangan kirinya memegang payudara yang kanan. Dan Mama melirik ke arahku sambil memberi isyarat agar aku melepaskan pakaianku.

Aku mengangguk. Dan kutanggalkan seluruh pakaianku, kecuali celana dalam yang kubiarkan melekat di tempatnya. Kemudian menghampiri bed Mama dan Yoga.

Kuperhatikan celana sutera hitam Mama, yang ternyata ada lingkaran elastis di bagiahn atasnya. Lalu kutarik celana panjang tipis dan mengkilap itu, sampai terlepas dari kaki Mama.

Tak cuma itu. Kupelorotkan pula celana dalam Mama sebagai satu-satunya benda yang masih melekat di tubuhnya. Yoga pun menyadari bahwa Mama sudah telanjang. Maka tanpa disuruh pun ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Yoga langsung melorot ke bawah perut Mama. Mengusap-usap kemaluan Mama yang berambut jarang tipis itu. Lalu menyerudukkan mulutnya ke bagian terindah di tubuh ibu tiriku itu.

Kubiarkan Yoga beraksi menurut keinginannya. Kubiarkan ia mulai menjilati vagina Mama dengan lahapnya. Sementara aku sendiri bergerak ke samping Mama, untuk mencium bibirnya dengan lahap pula. Yang Mama sambut dengan lumatan hangat.

Tampaknya Mama menikmati apa yang dilakukan oleh kedua anak tirinya. Bahwa ketika aku sedang asyik melumat bibirnya, adikku pun asyik menjilati kemaluan Mama.

Cukup lama semuanya ini kami lakukan. Bahwa akju asyik saling lumat dengan Mama, sementara Yoga pun asyik menjilati kemaluan Mama.

Sampai pada suatu saat, Mama menyuruhku celentang dan menanggalkan celana dalamku. Aku mengerti apa yang akan Mama lakukan. Maka kuikuti saja perintahnya. Menanggalkan celana dalamku, kemudian celentang seperti yang Mama inginkan.

“Lepasin dulu dong pakaianmu semua Yoga, “pinta Mama kepada adikku.

Pada saat Yoga sedang menanggalkan semua pakaiannya, Mama pun merangkak ke arahku. Lalu melipat kedua lututnya dan membungkuk, mendekatkan mulutnya ke arah penisku yang sudah ngaceng berat ini.

“Yoga… masukkan kontolmu ke sini,” ujar Mama sambil menepuk-nepuk selangkangannya yang sedang ditunggingkan.

“Iya Mam,” sahut Yoga.

Pada saat berikutnya, Mama mulai menyelomoti batang kemaluanku sambil menungging. Sementara Yoga mulai memasukkan penisnya dari belakang, sambil memegangi sepasang buah pantat Mama.

Mama bisa menikmati dua penis sekaligus. Mulutnya menikmati penisku, kemaluannya pun menikmati entotan penis adikku.

Aku sendiri mulai terpejam-pejam dalam nikmatnya selomotan mulut dan urutan tangan Mama di badan penisku.

Lalu yang terdengar cuma bunyi keplak-keplok penis Yoga yang sedang menggenjot kemaluan Mama dan bunyi mulut Mama yang sedang menyelomoti penisku.

Tapi semuanya ini hanyha berlangsung belasan menit. Karena pada suatu saat terdengar suara Yoga, “Mam… aku… aku mau lepas… le… lepasin di mana Mam?”

Mama melepaskan penisku dari mulutnya, untuk menyahut, “Lepasin di bokong mama aja Ga.”

Aku terheran-heran juga, karena ternyata Yoga begitu cepat mau ejakulasi. Sementara aku belum apa-apa.

Lalu terdengar bunyi dengusan nafas Yoga, “Uuuuggggghhh… uuuuuughhhh…”

Yoga turun dari bed, lalu bergegas menuju kamar mandi. Sementara Mama sudah menelentang sambil mengelus-elus kemaluannya dan berkata, “Kontol Yoga lebih gede daripada kontolmu Sam. Tapi punyamu lebih panjang. Selain daripada itu, kamu selalu tahan lama… Ayo masukin dan lanjutkan,” kata Mama sambil merentangkan pahanya selebar mungkin, sehingga mulut kemaluannya tampak ternganga.

Aku jadi ingat beberapa selebriti cowok pengagum perempuan yang lebnih tua usianya. Lalu apakah aku pun seperti itu? Entahlah. Yang jelas Mama di mataku termasuk sosok perfect dan erotis, yang senantiasa mampu membangkitkan nafsu birahiku. Dan Mama selalu menyambut kehadiran hasratku kapan pun aku mau.

Dan ketika penisku mulai membenam ke dalam liang kewanitaan Mama yang masih basah dan licin ini, kudengar mama berbisik, “Tadi sengaja mama suruh Yoga lepasin di luar, karena mama kasian sama kamu.”

“Kasian?” tanyaku heran.

“Iya. Kalau Yoga ngelepasin di dalam, memek mama kan pasti becek sekali.”

“Buatku sih mau becek atau nggak, memek Mama tetap paling enak di dunia.”

Mama tersenyum manis sambil melingkarkan lengannya di leherku. Lalu menciumi bibirku dengan hangatnya.

Aku pun mulai mengayun penisku, bermaju-mundur di dalam liang kemaluan ibu tiriku. Dan disambut dengan kehangatannya yang tak pernah mengecewakanku ini.

Ya, kedua tangan Mama menarik kedua lipatan lututnya jauh sekali, sehingga kedua lututnya beradadi samping sepasang payudaranya, sementara aku jadi sangat leluasa menggenjot penisku. Akibatnya, puncak penisku terus-terusan “menabrak” dasar liang senggama Mama. Dan itu membuat Mama merem melek, sementara mulutnya sering ternganga sambil melontarkan desahan-desahan nafasnya.

Dalam detik-detik pelampiasan birahi ini, aku semakin menyadari bahwa pada dasarnya Mama itu gede nafsunya. Bahkan mungkin saja dia sudah mulai tergolong wanita yang hypersex. karena ketika aku sedang meremas payudaranya, Mama meminta agar remasanku lebih kuat dan lebih kuat lagi! Padahal setahuku, Mbak Ayu suka memperingatkan agar aku tidak terlalu keras meremas payudaranya, karena sakit katanya.

Waktu pertama kali aku menyetubuhi Mama, aku mendengar permintaannya, agar aku mengentotnya dengan gerakan slow. Supaya lebih terhayati enaknya penisku, kataku. Tapi makin lama Mama makin berubah.

Seperti saat aku sedang mengentotnya ini, Mama berkali-kali merengek, “Yang kencang entotnya Sam… iyaaa… yang kencang… biar terasa serudukan kontolmu di dasar liang memek mama… !”

Aku sih oke-oke saja. Mau dengan gerakan softcore atau pun hardcore, tergantung request aja. Hahahaaaa…!

Maka mulailah aku mengentot Mama dengan gerakan yang sangat kencang dan keras. Penisku seolah gerakan pompa yang maju mundur dengan cepatnya, menciptakan bunyi plak-plok dan plak-plok terus… dasar penisku pun seolah menampar-nampar permukaan kemaluan Mama. Semoga saja Mama tidak kesakitan dibuatnya.

Mama memang menggeliat-geliat seperti ular terinjak kepalanya. Namun dari desahan dan rintihan-rintihan histerisnya, aku yakin Mama sedang sangat menikmati entotanku.

“Saaaam… aaaaaaah… Saaaaam… aaaaah… aaaah… Saaaam… Saaaam… aaaahhhhh… Saaaaaam… aaaahhhhhhh… Saaaaam…”

Aku sendiri memang sedang sangat menikmati enaknya liang kewanitaan ibu tiriku yang terasa bergerinjal-gerinjal empuk di antara goyangan pinggulnya yang sangat erotis dan membuatku terpejam-pejam dalam nikmat yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata belaka. Membuatku berdengus-dengus dan terpejam-pejam, sementara keringatku mulai bercucuran, bercampur aduk dengan keringat ibu tiriku.

Dan aku semakin lupa segalanya. Lupa bahwa yang sedang kusetubuhi ini adalah istri ayahku. Yang harusnya kuhormati sebagai penggamnti ibu kandungku yang telah tiada.

Namun jauh di dalam batinku, seakan ada keluhan dan rintihan… Papa ooooh Papa… maafkan anakmu ini Papa… ini bukan sekadar pelampiasan nafsu birahi, Papa… Aku merasa kasihan juga kepada Mama yang seolah disia-siakan oleh Papa… izinkanlah aku mewakili Papa untuk menghangati Mama, agar aku bisa mewakili Papa untuk menindas kesepian dan sakit hatinya…

Aku memang berhasil membuat Mama berkali-kali orgasme dalam kelojotran-kelojotan dan kejang-kejang sekujur tubuhnya.

Bahkan pada suatu saat aku sendiri tak kuasa menahan ejakulasi di puncak kenikmatanku, sehingga aku membenamkan penisku sedalam mungkin sambil menyemprot-nyemprotkan cairan kental hangatku… membuat liang kewanitaan Mama jadi basah kuyup. Lalu aku terkapar di sisi Mama dengan penis melemas dan berlepotan air maniku sendiri, sementara Mama pun terkapar tepar…

Pada saat itulah kulihat Yoga langsung membenamkan penisnya yang sudah tegang lagi itu… amblas ke dalam liang kewanitaan Mama yang masih basah becek. Lalu kulihat Yoga mengayun penisnya sambil menghimpit perut dan dada Mama.

Aku tak peduli dengan apa yang tengah Yoga lakukan kepada Mama. Aku turun dari bed dan masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan penisku. Untuk menyeka keringat yang masih membasahi tubuhku.

Biarlah Mama benar-benar puas setelah meninggalkan hotel ini nanti.

Bahkan ketika aku kembali ke dekat bed yang tengah dipakai oleh Yoga dan Mama untuk menyalurkan nafsu mereka, aku malah senang menontonnya dari sofa.

Memang aku menyaksikan tontonan yang sangat merangsang. Menyaksikan penis Yoga memompa liang kewanitaan Mama. Menyaksikan pinggul Mama yang sudah bergoyang-goyang erotis kembali. Mendengarkan desahan dan rintihan histeris Mama yang menggila kembali. “Yogaaaa… oooooh… Yogaaaa… aaaaaah… Yogaaaa…

Begitu merangsangnya tontonan yang sedang kusaksikan ini, terasa jauh lebih merangsang daripada nonton bokep. Bahkan diam-diam penisku mulai ngaceng lagi. Ingin menyetubuhi Mama lagi…!

Namun aku berusaha untuk bersabar menunggu sampai Yoga “selesai”.

Kali ini cukup lama Yoga mengentot Mama. Sehingga aku agak susah menahan keinginan penisku yang sedang kupegang dan kuelus-elus ini.

Namun setelah cukup lama aku menunggu Yoga selesai, akhirnya kulihat adikku berkelojotan di atas perut Mama. Lalu terdiam lesu, dengan tubuh mengkilap oleh keringat.

Dan setelah Yoga mencabut penisnya, giliranku untuk membenamkan kembali penisku ke dalam liang senggama ibu tiriku.

Penisku yang sudah ngaceng berat ini menggila lagi. mengantot liang senggama Mama yang sudah sangat becek ini. Sehingga bunyi crak-crek-crak-crek terdengar lagi dari kemaluan Mama.

Namun aku tak peduli lagi dengan beceknya liang kewanitaan Mama. Aku hanya ingin menggenjot penisku sampai ejakulasi lagi nanti.

Dan aku yakin, setelah aku “selesai” nanti, Yoga p;asti akan menyetubuhi Mama lagi untuk ketiga kalinya, disambung dengan aksiku sendiri.

Mungkin inilah salah satu keistimewaan threesome. Ada gairah yang luar biasa di jiwaku dan jiwa adikku.

Semoga saja semua ini akan membuat Mama benar-benar puas dan takkan merasa diterlalukan lagi oleh Papa. Karena dua orang anak Papa sedang memuasi istrinya yang hasrat birahinya masih sangat bergairah ini…

Pernyataanku bahwa kemaluan Mama paling enak di dunia, mungkin kelak harus dikoreksi. Karena pada beberapa minggu kemudian ada serentetan kisah yang kualami, yang membuatku teringat pada pepatah dalam buku silat Tiongkok: Setinggi-tingginya gunung, pasti ada yang lebih tinggi lagi…!

Ya… pada suatu hari aku mendatangi kantor Papa, untuk sesuatu yang sangat penting.

Aku memang baru kedua kali ini mendatangi kantor Papa. Dahulu aku pernah datang ke sini, ketika mau mendaftar ke SMA swasta terbaik di kotaku, yang membutuhkan duit lumayan besar. Berarti sudah lebih dari lima tahun aku tidak mendatangi kantor Papa lagi.

Ternyata keadaannya sudah jauh berbeda. Dahulu kantor Papa hanya dua lantai. Sekarang jadi lima lantai. Dan aku harus menemui Papa di lantai lima, seperti yang dijelaskan oleh satpam kantor yang mengantarkanku sampai di ruang kerja Papa.

Di ruang kerja itu tampak Papa sedang berbicara dengan seorang wanita yang kutaksir usianya 32-33 tahunan dan… cantik sekali!

Tadinya kupikir perempuan itu sekretaris Papa.

Maka alangkah kagetnya ketika Papa mengenalkan perempuan itu sebagai istri Papa sekaligus pemilik perusahaan ini…!

Waktu menjabat tangan perempuan itu aku berusaha bersikap sesopan mungkin. Kucium tangannya sebagaimana layaknya seorang anak mencium tangan ibunya. Lalu ia mencium pipi kanan dan pipi kiriku sambil berkata, “Papa sering menyebut-nyebut namamu Sam. Tapi baru sekali ini kita ketemu ya.”

“Iii… iya,” sahutku bingung, karena harus memanggil apa kepada istri muda Papa itu.

Lalu terdengar Papa berkata, “Supaya tidak tertukar-tukar, kamu panggil Mamie aja Sam. Kan kedudukannya sama aja dengan Mama.”

Aku mengangguk. Ya, baik Mama mau pun wanita yang harus dipanggil Mamie ini kedudukannya sama-sama ibu tiriku.

Aku jadi ingat Mama pernah berkata bahwa Papa menikah lagi dengan wanita yang lebih tua, yakni owner perusahaan tempat Papa bekerja. Tapi Mama sendiri belum tahu seperti apa istri muda Papa itu. Hahahaaa… pasti Mama dikibulin oleh Papa, supaya Mama tidak cemburu dan sakit hati. Padahal ternyata istri muda Papa itu jauh lebih muda daripada Mama.

Tiba-tiba telepon di ruang kerja Papa itu berdering. Lalu terdengar suara lewat speaker di dekat meja kerja Papa: “Selamat Siang Boss. Tamu-tamu dari Thailand sudah datang.”

Papa spontan menjawab, “Persilakan mereka menunggu di meeting room.”

“Siap Boss…”

Lalu Papa bangkit dari kursinya. Mengambil map dari tas kerjanya.

“Aku mau meeting dulu ya,” kata Papa kepada Mamie.

Lalu Papa berkata padaku, “Kalau ada perlu sama papa, tunggu sampai papa selesai meeting ya. Paling juga dua jam meetingnya selesai. Ngobrol sama Mamie dulu ya. Biar kamu makin akrab sama mamiemu itu.”

“Iya Pap,” sahutku.

Setelah Papa turun ke meeting room yang katanya di lantai dua itu, aku mulai merasa salting. Karena baru sekali ini aku berjumpa dengan ibu tiriku yang masih muda itu.

Untungnya wanita yang akan kubiasakan memanggilnya Mamie itu cukup ramah.

“Mau ada perlu apa sama Papa? Butuh duit ya?” tanyanya sambil duduk di sampingku, di sofa yang sedang kududuki.

“Mamie kok tau aja…” sahutku canggung.

“Tebak-tebakan aja sih. Butuh duit untuk apa Sam? Ngomong aja terus terang sama mamie. Kan sekarang Sam sudah tau kalau mamie ini ibu keduamu.”

Melihat sorot wajah Mamie yang begitu cerah, aku jadi berusaha untuk bersikap terbuka. Maka kataku, “Kemaren aku nabrak orang yang sedang nyebrang Mam.”

“Haaa?! Terus orang yang ditabraknya nggak apa-apa?”

“Justru babak belur Mam. Tangan kirinya patah.”

“Keluarganya bagaimana?”

“Ya itulah Mam. Orang tuanya minta duit untuk biaya rumah sakit. Kalau sudah dikasih duit, mereka sedia berdamai denganku. Dan takkan memperpanjang urusanku dengan polisi.”

“Mereka minta berapa?”

Aku tertunduk, “Banyak Mam. Makanya Mama menyuruhku ke sini, karena Mama tidak punya uang sebanyak itu.”

“Iya banyaknya itu berapa?” tanya Mamie, “Kan papamu juga pasti minta ke mamie kalau mau memberikannya padamu nanti.”

“Tigapuluh juta,” sahutku sambil menunduk.

“Owh… kirain minta ratusan juta,” kata Mamie sambil tersenyum. Lalu ia melangkah ke meja tulisnya. Mengeluarkan buku panjang kecil dari laci meja tulisnya. Ternyata itu buku cek. Kemudian ia menulis di selembar cek.

“Nih Sam,” kata Mamie sambil menyerahkan selembar cek itu.

Ketika kubaca, aku kaget. Karena nominal yang tercantum di cek itu limapuluh juta…!

“Mam… apa Mamie nggak salah tulis? Aku hanya membutuhkan tigapuluh juta. Tapi yang tertulis di sini limapuluh juta.”

“Iya, sisanya untuk keperluan Sam.”

Wah… ternyata istri muda Papa ini baik sekali…!

“Terima kasih Mam,” kataku dengan sikap sopan.

“Nanti lagi kalau butuh uang, minta ke mamie aja ya. Kalau Papa kan jarang megang duit. Kecuali kalau mau bepergian jauh aja. Seperti bulan depan, Papa mau ke Bangkok tuh.”

“Mau ke Bangkok? Tanggal berapa Mam?”

“Bulan depan tanggal tiga.”

“Wah kebetulan aku sedang libur panjang tuh Mam.”

“Bagus dong. Selama Papa di luar negeri, tidur rumah mamie aja ya. Biar mamie nggak kesepian.”

“Bo… boleh…”

“Nanti alamatnya mamie kasih. Tapi jangan bilang-bilang sama Mama ya.”

“Iya Mam.”

“Itu dikasih cek juga gak usah bilang-bilang. Takut Mama marah sama kamu nanti.”

“Iya Mam. Aku akan bilang gak ketemu sama Mamie aja nanti, biar gak panjang lebar pertanyaannya.”

“Nah… itu lebih baik.”

Lalu aku ngobrol panjang lebar dengan wanita yang sudah mulai kubiasakan memanggilnya Mamie itu. Sampai pada suatu kesimpulan, bahwa beliau orang baik. Dan aku siap untuk menjadikannya setingkat dengan ibu kandungku yang telah tiada.

Dua jam kemudian Papa pun muncul kembali di ruang kerjanya ini. Lalu Papa menceritakan hasil meetingnya kepada Mamie. Antara lain bahwa rencana Papa untuk terbang ke Bangkok itu jadi. Pada tanggal tiga bulan depan.

Pada saat itulah Mamie berkata, bahwa aku akan tidur di rumah Mamie selama Papa berada di luar negeri, karena aku sedang libur panjang selama Papa berada di luar negeri itu.

Papa tersenyum dan menyambut rencana itu dengan senang.

Ketika Papa menanyakan apa kebutuhanku sehingga datang ke kantor Papa tidak seperti biasanya, Mamie yang menjawab dan mengulang pengakuanku tadi. Bahwa aku harus membayar uang damai pada orang yang kutabrak itu. Dan semua itu sudah diselesaikan oleh Mamie. Papa tampak senang mendengar penuturan Mamie itu.

Papa juga malah menguatkan keinginan Mamie agar aku tidur di rumahnya, selama Papa di luar negeri, agar ada laki-laki di rumah Mamie, katanya. Ngocoks.com

Pada waktu aku pamitan mau pulang, Papa mewanti-wantiku agar merahasiakan pertemuanku dengan Mamie, terutama dalam hal usia Mamie yang memang jauh lebih muda daripada Mama. Bahkan Papa membisikiku, “Kalau ketahuan, bilang aja Mamie lebih tua daripada Mama gitu. Biar hatinya gak sakit. Tapi sebaiknya jangan sampai bocor.

Papa juga mengarahkan bahwa waktu aku mau tidur di rumah Mamie nanti, tak usah mengatakan yang sebenarnya pada Mama. Bilang saja mau study tour, katanya.

“Siap Pap,” sahutku sambil memegang tangan Papa erat-erat.

Mamie pun seperti berat melepaskan kepergianku. Setelah kucium tangannya, Mamie mencium pipi kanan dan pipi kiriku dengan penuh kehangatan, sehingga harum parfumnya tersiar ke penciumanku. Lalu terdengar suaranya yang setengah berbisik, “Mamie siap untuk menyayangimu, Sam.”

“Terima kasih Mam. Aku juga siap untuk menyayangi Mamie,” sahutku.

Entah kenapa, pada waktu aku meninggalkan kantor Papa, rasanya hatiku tertinggal di ruang kerja Papa dan istri mudanya itu. Karena aku sudah menerima keramahan dan kemurahan hati wanita yang sudah kubiasakan menyebutnya Mamie itu.

Memang aku kagum pada Papa yang pandai mencari istri. Mama, misalnya, bukan hanya cantik tapi juga menyayangi anak-anak tirinya.

Kini aku semakin kagum kepada Papa, karena telah berhasil menikahi bossnya sendiri. Boss yang masih sangat muda untuk usia Papa, sangat cantik pula.

Di kartu nama yang kuterima dari Mamie, ternyata dia bernama Yun xxxxxxx.

Dan yang jelas, sekarang aku punya ibu tiri dua orang. Mama Mien dan Mamie Yun.

Setelah berada di rumah Mama, aku terus-terusan memikirkan Papa dan Mamie Yun itu.

Aku mengerti kalau Papa menikahi wanita yang jauh lebih muda daripada Mama itu. Bahwa Papa jatuh cinta pada Mamie Yun, karena wanita itu cantik sekali. Kaya raya pula. Maka wajarlah kalau Papa menikahinya sebagai istri muda. Sehingga Papa bisa “sambil menyelam minum air”. Dengan kata lain, mendapatkan istri cantik, sekaligus mendapatkan kucuran hartanya juga.

Papa memang ganteng dan awet muda. Sehingga meski usianya sudah kepala lima, Papa tetap bisa menarik perhatian wanita yang usianya masih sangat muda sekali pun.

Satu-satunya masalah yang membuat Mama merana setelah Papa menikah lagi, adalah Papa jadi jarang pulang ke rumah. Sehingga Mama sering membutuhkanku untuk menghangatinya, sebagai pengganti Papa. Tapi di sudut lain, Papa jadi banyak mengalirkan duit ke tangan Mama. Untuk biaya kami berlima (Mama, Mbak Ayu, Mbak Ita, aku dan Yoga).

Esoknya aku pergi ke bank, untuk mencairkan cek dari Mamie itu. Yang tigapuluh juta kujadikan uang cash, sementara yang duapuluh juta kusimpan di rekening tabunganku.

Kemudian aku mendatangi rumah yang anaknya tertabrak oleh motorku itu. Kuserahkan uang yang tigapuluh juta itu, sesuai dengan permintaan mereka. Dan masalah dengan mereka dianggap selesai, dengan pernyataan di atas meterai.

Legalah dadaku setelah berjabatan tangan dengan mereka sambil sama-sama minta maaf, seperti lebaran saja ya.

Sementara motorku hanya membutuhkan duaratus ribu untuk memperbaiki kerusakan akibat kecelakaan itu.

Sehari sebelum keberangkatan Papa, aku naik taksi menuju rumah Mamie Yun.

Seperti yang sudah diarahkan oleh Papa, aku berkata kepada Mama bahwa aku akan ikut study tour ke Surabaya selama sepuluh hari. Mama mengiyakan dan membekali aku dua juta, untuk “bekal selama di Surabaya”.

Padahal sejam kemudian aku sudah berada di rumah Mamie, yang ternyata megah sekali. Dijaga oleh tiga orang satpam pula. Maklum rumah owner perusahaan besar.

Mamie menyambut kedatanganku dengan ciuman di pipi kanan dan pipi kiriku, seperti yang dilakukannya di kantornya.

“Tadi ngomong apa waktu pamitan sama Mama?” tanya Mamie setelah duduk di sampingku dalam ruang keluarga.

“Bilang mau study tour di Surabaya… hehehee…”

“Iya, “Mamie mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Untuk kerukunan kita semua, bohong sedikit kan nggak apa-apa.”

“Iya Mam. Ohya… Papa mana?” tanyaku.

“Lagi meeting di kantor. Mamie sengaja nggak ke kantor, karena tau kamu mau datang.”

“Sebenarnya Papa mau berapa hari di luar negerinya Mam?”

“Mungkin dua mingguan. Karena dari Bangkok akan menuju Hongkong dan Shanghai. Ohya… bagaimana keluarga yang ditabrak itu sudah selesai urusannya?”

“Sudah Mam. Hatikju sudah lapang sekarang.”

“Lain kali hati-hati dong kalau naik motor.”

“Sebenarnya kejadian itu bukan salahku Mam. Anak itu tiba-tiba aja nyebrang, sehingga aku tak bisa mengelak lagi. Itu kejadian pertama dan semoga terakhir dalam hidupku.”

“Tapi kata Papa, kalau nyetir mobil kamu sangat halus mengemudikannya.”

“Iya Mam. Makanya aku sering disuruh nyetir sama Papa.”

“Iya. Papa bilang nanti malam juga kamu yang bakal nyetir ke Jakarta.”

“Siap Mam. Papa mau terbang malam nanti?”

“Besok subuh. Tapi kan harus cek in dua jam sebelumnya. Jadi sebelum jam tiga pagi harus sudah ada di bandara.”

“Berarti jam duabelas malam harus berangkat ke Jakarta, ya Mam.”

“Iya. Mamie juga mau ikut nganter ke bandara, Sam.”

“Owh… baguslah. Jadi pulangnya aku gak kesepian.”

“Hmmm… sekalian mau nengok rumah yang di Jakarta.”

“Mamie punya rumah di Jakarta?”

“Punya. Di Semarang, di Surabaya, di Jogja, di Denpasar dan di Medan juga punya.”

“Waduuuh… rumah Mamie banyak bener.”

“Kan terkadang harus lama tinggal di kota-kota yang ada cabang perusahaan. Daripada tinggal di hotel, mendingan di rumah sendiri kan?”

“Iya Mam.”

“Setelah menikah dengan papamu, mamie jarang ke luar kota lagi. Semua cabang perusahaan mamie diurus oleh papamu. Mamie jadi bisa duduk manis aja di rumah atau di kantor yang ada di kota ini.”

Aku cuma mengangguk-angguk kecil.

Lalu Mamie eberkata lagi, “Kalau kuliahmu sudah selesai, mamie bisa menempatkanmu di salah satu cabang perusahaan mamie.”

“Wow. Terima kasih Mam. Jadi setelah kuliahku selesai, aku tak usah nyari-nyari kerja lagi.”

“Nanti bisa kerja sambil kuliah S2 juga.”

“Siap Mam.”

Mamie tersenyum. Lalu menepuk lututku sambil berkata, “Yang rajin kuliahnya ya. Biar cepat selesai.”

“Iya Mam,” sahutku, “By the way… Mamie belum punya anak?”

“Belum, “Mamie tersenyum getir, “makanya sekarang kamulah anak mamie.”

“Iya Mam.”

Sebelum jam duabelas malam, aku sudah duduk di belakang setir mobil, sementara Papa duduk di sampingku dan Mama duduk di belakang.

Di sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Papa mengajak ngobrol terus. Mungkin agar aku tidak ngantuk. Sementara Mama tampak dari kaca spion sedang rebahan di seat belakang

Di tengah malam begini suasananya lumayan lengang. Sehingga hanya dalam waktu dua jam kami sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta.

Sebelum masuk ke gerbang keberangkatan, Papa berkata kepada Mamie, “Nanti gak usah nunggu pesawatnya take off. Langsung pulang aja. Takut Sam keburu ngantuk nanti di jalan.”

“Lho… aku kan mau istirahat di rumah Jakarta dulu,” sahut Mama.

“Owh… itu lebih baik. Biar Sam bisa tidur dulu sekenyangnya.”

Lalu Papa cipika-cipiki dulu dengan Mamie. Kemudian giliran aku mencium tangan Papa sambil berkata, “Semoga penerbangannya lancar dan aman, ya Pap.”

“Amiin,” sahut Papa, “Kamu mau dikirim oleh-oleh apa nanti?”

“Terserah Papa aja deh. Yang penting Papa lancar penerbangan dan urusan bisnisnya,” sahutku.

Papa mengusap rambutku sambil berkata, “Oke deh. Jaga Mamie baik-baik selama papa di luar negeri ya Sam.”

“Siap Pap.”

“Ya udah… kalian langsung pulang aja,” kata Papa sambil menyeret kopernya ke dalam pintu gerbang.

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam mobil Papa lagi. Sementara Mamie jadi duduk di depan, di samping kiriku. Ngocoks.com

Ternyata rumah Mamie yang di Jakarta itu dekat sekali dengan bandara Soekarno-Hatta. Tinggal keluar menuju Tangerang, karena rumah Mamie tepatnya berada di Tangerang. Bukan di Jakartanya benar.

Tapi setibanya di rumah megah itu, Mamie menjelaskan bahwa semua rumahnya yang di kota-kota lain berada di dekat bandara. Supaya gampang kalau mau menggunakan pesawat terbang ke kota tujuannya.

Ketika kami tiba di rumah megah itu, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul jam 01.15 pagi.

Rumah yang hanya beberapa kilometer saja dari bandara Soetta itu dijaga oleh seorang satpam di dekat pintu gerbangnya. Sementara di dalamnya ada seorang pembantu wanita, yang bertugas untuk selalu merapikan dan membersihkan rumah megah itu. Ternyata wanita itu istri satpam yang sedang menjaga di dekat pintu gerbang itu.

“Sudah ngantuk, Sam?” tanya Mamie sambil membuka salah satu pintu kamar.

“Belum terlalu Mam,” sahutku, “tadi di bandara kan sempet minum kopi juga.”

Ternyata pintu kamar yang Mamie buka itu menuju tiga ruangan. Tepatnya dua kamar tidur yang dibatasi oleh ruang cengkrama. Di ruang cengkrama itulah Mamie mengajakku duduk di sofa dan menunjuk ke pintu kamar yang di sebelah kiri, “Nanti kamu tidur di kamar itu, mamie tidur di kamar yang satunya lagi itu.

“Iya Mam. Tapi aku belum ngantuk,” sahutku sambil berdiri, “boleh nyetelin tivi?”

“Setel deh. Itu remote controlnya, “Mamie menunjuk ke remote control yang tergeletak di dekat televisi.

Aku bangkit dari sofa dan melangkah untuk mengambil remote control televisi. Lalu kuaktifkan televisi layar lebar itu. Tapi setelah dipilih-pilih tak ada acara yang menarik. Akhirnya kupilih channel musik saja, dengan volume perlahan. Lalu kembali ke arah sofa yang kududuki tadi. Tapi Mamie malah menelungkup di sofa itu, sambil berkata, “Sam…

“Iya Mam,” sahutku canggung. Sambil memperhatikan Mamie yang sedang menelungkup di sofa. Mamie belum ganti baju. Masih mengenakan gaun terusan yang terbuat dari bahan beludru hitam. Gaun terusan itu lumayan pendek, sehingga ketika Mamie menelungkup, betis dan sebagian pahanya yang begitu putih dan mulus itu tampak jelas di mataku.

“Mau dipijitin di sini aja Mam?” tanyaku di dekat sofa yang sedang Mamie pakai menelungkup.

“Iya,” sahut Mamie, “kamu duduk aja sambil nonton tivi. Gak usah terlalu serius mijitnya. Yang penting pijit-pijit sembarangan aja. Pegel-pegel banget betisnya Sam.”

“Iya Mam,” sahutku sambil duduk nyempil di sofa. Di dekat lutut Mamie.

Lalu aku mulai memijati betis Mamie seperti yang diinginkan oleh ibu tiri keduaku itu. Dengan perasaan mulai tak menentu. Bahkan ada pikiran, apakah aku akan mengalami hal yang sama sreperti dengan Mama? Aaah, sebaiknya kusingkirkan pikiran yang bukan-bukan itu. Mamie ini ibu tiri yang menjanjikan.

“Kamu pernah mijitin Mama, Sam?” tanya Mamie ketika aku mulai sungguh-sungguh memijati betisnya yang putih mulus dan terasa padat sekali ini.

“Belum pernah Mam. Kalau Papa suka nyuruh mijitin. Tapi itu pun dahulu, waktu aku masih di SMP.”

“Kalau ada Papa, mamie selalu tidur dalam pelukan dia Sam. Sekarang Papa nggak ada. Kamu mau tidur sama mamie dan melukin mamie?” tanya Mamie membuatku sulit menjawabnya.

“Memangnya boleh Mam?” aku balik bertanya.

“Why not?! Ayolah… kamu tidur di kamar mamie aja,” ucap Mamie sambil bangkit dan berdiri. Lalu menarik pergelangan tanganku menuju kamarnya yang di sebelah kanan itu.

Kuikuti saja langkah Mamie masuk ke dalam kamarnya. Meski sambil bergumam, “Kalau Papa tau aku tidur sama Mamie, pasti Papa marah Mam.”

“No no no…! “Mamie menggoyangkan telapak tangannya, “Papa malah nyuruh mamie tidur sama Sam selama dia di luar negeri.”

“Ohya?! “aku nyaris tidak percaya pada ucapan Mamie itu.

Tapi kata Mamie, “Kalau nggak percaya, tanyain sendiri kalau Papa nelepon besok.”

Aku cuma bengong. Lalu duduk di sofa putih yang agak jauh dari bed Mamie.

“Kamu bawa pakaian ganti Sam?” tanya Mamie.

“Bawa,” sahutku, “tapi cuma satu stel Mam. Buat pulang nanti.”

“Kalau gitu, pakai aja kimono Papa di lemari itu… ambil aja sendiri. Banyak yang masih baru dan belum pernah dipakai oleh Papa tuh.”

“Iya Mam,” sahutku sambil bangkit dari sofa dan melangkah ke lemari yang Mamie tunjukkan itu. Sementara Mamie sendiri membuka lemari yang satunya lagi, lalu tmapak mengeluarkan sehelai kimono sutera berwarna orange dengan corak yang belum jelas di mataku.

Kukeluarkan sehelai kimono putih yang masih terlipat dan tampak seperti belum pernah dipakai oleh Papa. Kimono itu terbuat dari bahan handuk, Dan langsung kubawa ke dalam kamar mandi Mamie. Di situlah aku menanggalkan segala yang melekat di tubuhku, lalu kukenakan kimono baru itu. Terasa ngepas juga di badanku.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Mamie sudah mengenakan kimono, rebahan di bednya yang lebar sekali. Mungkin dalam keadaan darurat, dipakai tidur oleh lima orang juga bisa muat.

Dengan canggung aku duduk di pinggiran bed itu. Tapi Mamie menarik tanganku agak kuat, sehingga aku terhempas ke sampingnya. Pada saat berikutnya, aku dan Mamie jadi sama-sama rebah miring dan berhadapan…

Bersambung…

1 2 3 4 5 6
Berlanjut Bersambung Cantik Ibu Kandung Ibu Muda Keluarga Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Petualangan Sedarah Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKeluarga Pak Trisno
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.6

    Keluarga Pak Trisno

    9.6

    Tragedi Malam Pengantin

    9.7

    Flashback

    9.6

    Ayahku Ingin Nyusu

    9.5

    Menguntai Masa Lalu

    9.7

    Obsesi Nakal Ibu Kandung

    Follow Facebook

    Recent Post

    Rumah Kami Surga Kami

    Keluarga Pak Trisno

    Tragedi Malam Pengantin

    Flashback

    Ayahku Ingin Nyusu

    Menguntai Masa Lalu

    Obsesi Nakal Ibu Kandung

    Kakakku yang Liar

    Siswi SMP

    Tidak Sengaja

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.