Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Rumah Kami Surga Kami

Rumah Kami Surga Kami

Petualangan HOT (Langkah Langkah Jalang)
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Setelah membaca ulasan pakar itu, aku tidak merasa heran lagi kalau Mama Ken minta toketnya ditampari terus menerus pada saat aku menyetubuhinya dari atas. Tak heran juga kalau Mama Ken minta bokongnya ditampar-tampar sampai merah kehitaman (spanking) manakala kami sedang melakukan persetubuhan dalam posisi doggy.

Kalau hal itu dilakukan kepada wanita lain, mungkin bakal menjerit-jerit.

Tak cuma itu. Mama Ken senang kalau lehernya dijilati sambil digigit-gigit lebih keras daripada kebiasaanku. Dia malah ingin agar aku menggigit lehernya sampai berdarah. Tapi aku tak mau melakukannya, karena aku bukan Dracula.

Memang pernah kulakukan permintaan Mama Ken sekali-kalinya. Yakni menggigit badan toketnya (bukan pentilnya) sampai berdarah. Tapi itu pun hanya menimbulkan baret sebesar benang jahit, panjangnya juga tidak sampai 2 centimeter.

Salah satu hal yang khas pada Mama Ken adalah, liang sanggamanya sangat dalam. Sehingga kalau dientot oleh batang kemaluan yang pendek, dasarnya takkan tersentuh.

Untunglah aku memiliki alat vital yang lumayan panjang. Sehingga waktu aku sedang mengentotnya ini, moncong penisku bisa terus-terusan menyundul dasar liang memeknya.

Ketika kuperhatikan secara seksama, tiap kali moncong penisku menabrak dasar liang memeknya, mata Mama Ken selalu saja terbuka seperti sedang menikmati “tonjokan” moncong penisku ke dasar liang sanggamanya. Sementara kalau penisku sedang ditarik mundur, mata sipit Mama Ken terpejam erat-erat, sambil mencengkram bahuku kuat-kuat pula.

Dan yang jelas ketika aku sedang menyetubuhinya, setelah cukup lama tidak kulakukan, Mama Ken lebih dari dua kali mengejang sambil mengangkat perut tegangnya ke atas… lalu menghela nafas panjang.

Itu berarti bahwa dia sudah lebih dari dua kali mencapai orgasme.

Mungkin inilah salah satu kelebihanku. Bahwa aku sering berhasil membuat pasangan seksualku mencapai apa yang disebut multiple orgasme.

Dalam hal ini, aku bukan seorang otodidak. Aku sering membaca bermacam-macam tulisan para pakar seksual. Antara lain yang seperti ini :

Meski perempuan memiliki kelebihan bisa multiple orgasme, namun pria juga ternyata bisa mengalami hal yang sama. Hanya saja pria harus tahu perbedaan antara ejakulasi dan orgasme.

Seperti disampaikan seorang seksolog dan penulis NeuroLoveology: The Power to Mindful Love & Sex, Ava Cadell, Ph. D, orgasme adalah bagian dari pengalaman seksual yang terjadi antara 2-7 detik sebelum ejakulasi.

_

“Orgasme menggabungkan peningkatan sensitivitas tubuh, mempercepat napas, dan sensasi melalui skrotum dan penis,” kata Cadell, seperti dikutip Foxnews.

“Multi-orgasme berarti kesenangan yang diciptakan oleh Anda berdua. Dan ketika Anda membiarkan diri mencapai puncak akhir, rasanya itu lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya.

Meskipun tidak yakin persis berapa banyak pria yang bisa mengalami multiple orgasme namun studi Masters and Johnson menemukan satu orang bisa mencapai tiga kali orgasme hanya dalam 10 menit.

Lantas bagaimana mendapatkan multiple orgasme? Menurut Cadell, yang perlu Anda lakukan adalah memperkuat otot pubococcygeus (PC). Otot ini terletak di dasar rongga panggul dan membentang dari kemaluan sampai ke bagian bawah tulang belakang. Otot ini digunakan untuk menghentikan aliran urin.

Latihan otot PC secara rutin akan membantu pria mencapai mutiple orgasme. Namun seperti otot lainnya, otot ini bisa menjadi tegang atau lelah. Jika Anda merasa nyeri ketika melakukan latihan otot PC, segera hentikan latihan Anda.

_

Sebenarnya sejak lama aku rajin membaca tulisan-tulisan ilmiah mengenai seks. Sehingga semuanya itu kupraktekkan ketika aku mendapat pasangan seksualku.

Seperti ibu mertuaku yang bentuk tubuhnya mirip biola Stradivarius ini. Tubuh yang berpinggang ramping namun bertoket dan berbokong gede ini.

Dan kini, ketika Mama Ken sedang kusetubuhi ini, mungkin untuk kesekian kalinya dia merasakan kelebihanku. Terbukti dari ucapan-ucapan spontan yang berlontaran terus dari mulutnya: “Saaaaam… dientot sama kamu ini rasanya lengkap sekali Saaam… aaaaa… aaaaah… puncak kontolmu terus-terusan menabrak dasar liang memek mama…

Dan aku tidak berbasa-basi ketika menanggapi ucapan Mama Ken itu, “Liang memek Mama juga luar biasa enaknya… empuk dan legit sekali Mam…”

Setelah mendengar tanggapanku, Mama Ken tampak senang. Dan semakin mempergila goyangan pinggulnya… bergeol-geol membentuk angka 8. Membuatku semakin nikmat. Karena batang kemaluanku terombang ambing ke segala penjuru. Ke kanan, ke kiri, ke atas dan ke bawah.

Tubuhku pun mulai bersimbah keringat. Namun kami tidak mau mereguk nikmat dalam posisi tradisional (missionaris) saja. Pada suatu saat aku mencabut batang kemaluanku. Lalu berdiri di lantai, sambil menarik kaki Mama Ken, sehingga bokongnya berada di pinggiran bed. Mama Ken pun mengangkat pahanya, sampai kedua lututnya bersetuhan dengan sepasang toketnya.

Kembali sepasang mata sipit Mama Ken merem melak. Desah-desah nafasnya pun berkumandang lagi di dalam kamar ibu mertuaku ini. “Saaaam… aaaaa… aaaah… Saaaam… Saaaam… aaaaa… aaaaah… Saaaam… ini benar-benar menyundul dasarnya Saaam… ooooh… entot terus Saaaam… remaslah tetek mama sekuatmu…

Sambil menekan kedua betis Mama Ken agar tetap terangkat jauh seperti itu, aku pun mengentotnya semakin garang.

Begitu juga ketika Mama Ken membalikkan badannya dan menungging sambil menepuk-nepuk bokongnya sendiri, aku tahu benar apa yang harus kulakukan.

Kujebloskan penisku ke memek ibu mertuaku yang sedang menungging itu, sambil berlutut dan menghadap ke arah bokongnya.

Seperti biasa, aku pun melakukan spanking lagi. Menampar-nampar bokong ibu mertuaku yang gede dan menggiurkan ini. Tamparan-tamparanku sangat keras, seperti yang selalu diinginkan oleh Mama Ken. Plaaaaak! Plaaaaak! Plaaaak! Plaaaakkk! Plaaaaaakkkk! Plaaaaaak! Plaaaaak… plaaaak… plakkkkkkkkk…

Sehingga dalam tempo singkat saja pantat ibu mertuaku sudah merah menghitam. Sementara kedua telapak tanganku juga terasa agak sakit dan panas. Tapi Mama Ken tampak menyenanginya.

“Ayo tamparin terus Saaaam… ini nikmat sekali Sayang… “seru Mama Ken yang sedang menungging sambil memeluk bantal, sementara batang kemaluanku terus-terusan mengentot liang memek ibu mertuaku yang legit ini.

Sampai akhirnya terdengar rintihan mertuaku, “Saaaam… mama udah mau lepas lagiiii…”

“Iya lepasin aja Mam…” sahutku yang masih asyik mengentot ibu mertuaku.

Sesaat kemudian Mama Ken berkelojotan. Lalu mengejang tegang… dan ambruk telungkup.

Kalau tadi siang aku tidak habis menyetubuhi Eleonora dua kali, mungkin aku pun sudah ejakulasi. Tapi karena persetubuhanku dengan Mama Ken ini adalah untuk yang ketiga kalinya bagiku, maka durasiku jadi sangat lama.

Setelah batang kemaluanku terlepas dari liang sanggama Mama Ken, aku pun turun dari tempat tidur dan melangkah ke dalam kamar mandi ibu mertuaku. Soalnya aku jadi pengen kencing, sekalian ingin mencuci batang kemaluanku yang sudah berlepotan lendir ibu mertuaku.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Mama Ken sudah turun dari bed dan gantian masuk ke dalam kamar mandi. Pasti mau cuci-cuci juga seperti aku tadi.

Tapi aku yang masih telanjang ini, lalu menghentikan langkahku di tengah jalan menuju ke tempat tidur. Lalu kembali lagi menuju kamar mandi. Masuk ke dalam dan melihat Mama Ken sedang mencuci memeknya, lalu mengelapnya dengan handuk.

Kusergap Mama Ken dari belakang. Membuatnya terkejut sedikit. Lalu bertanya, “Ngapain?”

“Pengen nyobain ngentot Mama sambil berdiri.”

Mama Ken membalikkan badannya jadi menghadap padaku. Mencubit bibiku sambil berkata, “Mantu mama ini luar biasa. Kenapa lama sekali sih? Tadi mama sampai empat kali orgasme lho. Tapi kamu belum ngecrot juga.”

“Kan biar tiap kali kita bersetubuh meninggalkan kesan yang indah, Mam.”

Mama Ken berdiri menyandar ke dinding. Di sebelah kirinya ada meja tembok berlapiskan keramik. Meja tembok itu pendek, hanya setengah meteran. Dan Mama Ken menginjakkan kaki kirinya ke meja berlapis keramik itu, sementara kaki kanannya tetap menginjak lantai. Ini membuat memeknya tampak ternganga, menunggu dicoblos oleh batang kemaluanku yang masih ngaceng berat ini.

Dan itu yang kulakukan. Sambil berdiri kubenamkan lagi batang kemaluanku ke dalam liang memek Mama Ken, sementara Mama Ken mendekap pinggangku erat-erat.

Sesaat kemudian aku sudah mulai mengentot ibu mertuaku lagi dengan gencarnya. Sambil menyedot-nyedot pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas-remas toket kanannya dengan remasan yang kencang.

Mama Ken tampak menikmati lagi kejantananku. Terlebih setelah aku menggigit-gigit lehernya sampai meninggalkan bekas, baret-baret merah di leher jenjangnya.

Lama juga aku mengentot Mama Ken sambil berdiri seperti ini. Sampai akhirnya terdengar Mama Ken berbisik terengah, “Mama udah mau lepas lagi Sam…”

“Tunggu Mam… tahan sebentar… aku juga udah hampir ngecrot… kita barengin lepasnya ya Mam,” sahutku sambil mempercepat gerakan entotanku.

Memang aku belum pernah ejakulasi sambil berdiri. Karena itu kuupayakan agar aku bisa ejakulasi secara berbarengan dengan orgasme ibu mertuaku. Ngocoks.com

Akhirnyha aku berhasil menikmatinya. Ketika Mama Ken terpejam sambil menikmati orgasmenya, batang kemaluanku pun membenam di dalam liang memeknya sambil memuntahkan lendir maniku.

Crotttt… croootttt… crooootttttt… croooottttt… crotcrot… crooooooottttt…!

Mama Ken mengagumi keperkasaanku. Tapi aku pun mengagumi fisiknya yang begitu tabah dan selalu enerjik.

Setelah batang kemaluanku terlepas dari memek ibu mertuaku, kami lalu mandi bersama. Kami saling menyabuni dan membilas busa sabun dengan air hangat dari shower.

Mandi bareng yang kedua kalinya untuk hari ini. Tadi sore aku mandi bareng dengan Eleonora di rumahnya. Malamnya aku mandi bareng dengan Mama Ken.

Hmmm… biar bagaimana semuanya ini patut kukenang di seumur hidupku.

Setelah mandi, sebenarnya aku ingin tidur di kamar Mama Ken. Tapi dia tidak mengijinkanku tidur di kamarnya. “Nggak enak Sam. Kalau kamu tidur di kamar mama, pasti mama takkan bisa tidur. Takut tiba-tiba Frida datang, “katanya.

“Frida kan mau tidur di rumah Mamie sampai Papa pulang.”

“Aaah… segala kemungkinan bisa saja terjadi. Siapa tau Frida tiba-tiba pulang karena mau mengambil sesuatu yang tertinggal misalnya. Sedangkan dia kan selalu membawa kunci cadangahn. Bisa saja dia tibas-tiba masuk ke dalam rumah ini, lalu memergoki kita di sini.”

“Lalu…?”

“Kamu tidur di kamarmu aja, ya Sayang. Supaya mama bisa tidur nyenyak. Tanpa rasa takut ini-itu.”

Akhirnya aku mengalah. Setelah mencium bibir Mama Ken, aku pun meninggalkan kamar ibu mertuaku. Menuju kamarku di lantai dua.

Lalu aku menghempaskan diri ke atas bed. Dan tertidur dengan nyenyaknya.

Tapi mungkin produksi spermaku sedang produktif, atau jiwaku sedang aji mumpung. Entahlah. Yang jelas ketika hari masih subuh, aku membuka mataku. Dan memegang penisku yang ngaceng lagi.

Biasanya kalau penisku ngaceng di pagi hari, itu sebagai gejala ingin kencing. Lalu setelah kencing penisku terkulai lagi.

Tapi kali ini tidak. Kali ini aku membayangkan tubuh ibu mertuaku yang sangat menggiurkan itu. Ya… aku ingin menyetubuhinya lagi, mumpung Frida sedang tidur di rumah Mamie.

Maka aku pun turun dari tempat tidurku. Melangkah keluar dari kamarku, menuju kamar ibu mertuaku di lantai dasar.

Pintu Kama Mama Ken tertutup. Tapi untungnya tidak dikunci. Sehingga aku bisa membukanya perlahan-lahan, lalu mengendap-endap masuk ke dalam kamar ibu mertuaku.

Kulihat Mama Ken masih tidur nyenyak sambil memeluk bantal guling, membelakangi arah aku datang. Gaun tidurnya tersingkap sampai ke pinggangnya. Sehingga aku tahu bahwa ibu mertuaku tidak mengenakan celana dalam. Kebiasaan itu sama dengan Frida. Istriku itu selalu melepaskan beha dan celana dalamnya setiap mau tidur, karena bisa mengganggu pernafasan, katanya.

Tanpa banyak basa basi lagi, kulepaskan celana piyamaku. Lalu kupegang batang kemaluanku. Dan kuelus-eluskan moncongnya ke memek ibu mertuaku yang tampak nyempil dari belakang.

Terasa mulut memek mertuaku mulai membasah. Tapi dia masih tetap tidur.

Akhirnya kudorong penis ngacengku sambil memegangi pinggul mertuaku. Dengan susah payah, akhirnyaaku berhasil membenamkan penisku ke dalam liang memek Mama Ken yang empuk dan sangat legit itu.

Pada saat itulah kudengar suara ibu mertuaku, “Saaam…?!”

“Iya Mam… aku sudah kangen lagi… udah cukup lama sih gak bisa beginian sama Mama,” sahutku sambil mendorong terus penisku sampai terbenam lebih dari separuhnya.

“Tapi kalau dalam posisi begini, kontolmu takkan bisa menyentuh dasar liang memek mama, Sam…”

“Lalu mau gimana Mam?”

“Posisi biasa aja deh. Mama celentang, kamu telungkup.”

Aku setuju. Kucabut batang kemaluanku sampai terlepas dari liang memek mertuaku.

Mama Ken pun menanggalkan gaun tidurnya. Lalu celentang sambil merentangkan sepasang pahanya selebar mungkin.

Aku pun menanggalkan baju piyamaku. Lalu bergerak untuk menempelkan moncong penisku di mulut memek mertuaku yang sudah ternganga dan berwarna pink itu. dan kudorong penisku sekuat tgenaga, sampai amblas total ke dalam liang memek mertuaku.

Kemudian aku menghempaskan dadaku ke atas dada mertuaku. Dan mulai mengayun penisku di dalam jepitan liang memek Mama Ken.

Mama Ken menyambut entotanku dengan gigitan kecil di leherku. Tapi ketika aku mau mencium bibirnya, Mama Ken menghindar, “Jangan ciuman bibir ah. Kita kan belum pada sikat gigi. Nanti bau jigong pula… hihihiii…”

Sebagai gantinya, kualihkan mulutku ke arah leher Mama Ken, untuk menjilatinya disertai gigitan-gigitan kecil.

Mama Ken pun mulai mendesah dan merintih lagi, “Saaam… aaaaaah… Saaaaam… aaaaaaah… kamu selalu berhasil bikin mama edan eling gini Saaaam… mama memang tergila-gila pada kontolmu yang luar biasa enaknya ini Saaaaam… aaaaaah… Saaaam… Saaaam… aaaaaah…”

“Aku juga tergila-gila oleh memek Mama yang empuk-empuk legit ini Maaam,” sahutku dalam keadaan lupa daratan lagi.

Namun kali ini aku tak mau terlalu lama menyetubuhi mertuaku. Karena sebentar lagi matahari terbit. Karena itu ketika Mama Ken mulai menggeliat-geliat lalu berkelojotan, aku pun bersiap-siap untuk konsentrasi agar aku bisa ejakulasi pada saat mertuaku sedang mencapai orgasmenya.

Berhasil!

Ketika Mama Ken mengejang tegang sambil menahan nafasnya, aku pun membenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sampai bertempelan dengan dasar liang sanggama mertuaku.

Lalu kami saling cengkram seperti orang kesurupan. Seolah ingin saling meremukkan…!

Pada detik-detik itulah, ketika liang memek mertuaku terasa berkedut-kedut, moncong penisku pun menyambutnya dengan lompatan-lompatan spermaku… sroooot… srot… sroooottttttt… srooot… srooottttt… craaaatttt…!

Tubuhku terkejut-kejut spontan. Lalu terkulai di dalam pelukan hangat mertuaku.

Dan terdengar suara mertuaku lirih, “Dibarengin terus memang nikmat. Tapi kalau mama gak disuntik KB sih pasti hamil…”

“Kalau Mama mau hamil lagi, hentikan aja KBnya.”

“Nggak ah. Mama sudah cukup punya anak satu aja.”

Dari kejauhan terngar ayam berkokok, menyambut datangnya sang Fajar.

Tapi kami masih saling berpelukan. Seolah tak mau berpisah lagi.

###

Tiga hari Frida tidur di rumah Mamie. Dan sepulangnya ke rumah, hal yang pertama kalinya dia tanyakan padaku adalah… masalah Mamanya.

“Bagaimana Bang? Sudah berhasilkah Abang merayu Mama?” tanyanya setelah berada di kamarku yang sudah dijadikan kamar Frida juga.

Aku menatap wajah istriku yang sedang tersenyum manis. Lalu mengangguk perlahan.

“Beneran Bang?” tanya Frida dengan nada ceria dan bersemangat.

“Bener. Tapi untuk sementara kamu pura-pura tidak tau aja. Soalnya Mama merasa malu padamu. Merasa telah menghianatimu sebagai anak semata wayangnya.”

“Hihihiiii… aku yakin Abang pasti berhasil menjinakkan Mama. Terima kasih Bang. Sekarang aku jadi lega, karena aku yakin gairah hidup Mama akan berkobar lagi,” ucap Frida sambil menciumi pipiku.

“Tapi kamu mendingan pura-pura nggak tau aja ya.”

“Iya Bang. Aku mau pura-pura tidak tau aja. Yang penting Abang harus menggaulinya secara rutin. Anggap aja Abang punya istri dua orang di rumah ini.”

Aku cuma mengangguk-angguk canggung. Dan berpikir, seandainya Frida tahu semuanya… tentang Mamie, tentang Eleonora dan lainnya… apakah dia masih tetap akan menerimanya sebagai suatu hal yang wajar dan tetap akan tersenyum semanis itu?

Hari demi hari pun berputar terus tanpa terasa…

Sebenarnya banyak yang sudah terjadi selama ini. Tentang kehamilan Mamie yang semakin tua. Tentang Frida yang sudah mulai kuliah lagi, mengulang dari semester pertama, tapi belum hamil juga. Padahal Frida sudah tidak menggunakan pil kontrasepsi lagi, karena aku berubah pikiran, Ingin agar Frida hamil dulu, dengan niat untuk “sabotase” supaya dia tidak kuliah lagi.

Jujur… aku takut terjadi “sesuatu” dengan Frida di kampusnya. Takut terjadi hukum karma, mrengingat langkah petualanganku sudah cukup banyak yang Frida tidak tahu.

Perkembangan bisnis yang sudah kurintis sejak lama semakin berkembang. Bahkan aku sudah membeli sebuah villa di luar kota, sebagai sekian persen dari hasil bisnis lamaku. Bisnis yang kugeluti sebelum aku dihadiahi hotel oleh Mamie.

Hotel itu pun memperoleh hasil yang besar sejak aku mengangkat Natasha sebagai manager. Ya, Natasha adalah satu-satunya manager di hotelku. Karena aku tak mau memakai system hotel five star, presiden komisaris, direktur utama, general manager, manager operasional, manager personalia, manager marketing dan sebagainya.

Aku tahu diri saja. Menyadari bahwa hotelku bukan hotel berbintang. Karena itu hotelku hanya memiliki satu manager, yang dipegang oleh Natasha itu. Di bawah dia hanya ada beberapa kepala bagian. Kepala bagian keuangan, kepala personalia, kepala bagian operasional, kepala bagian pemasaran dan sebagainya.

Aku sendiri menjadi komisaris. Sementara Frida kuangkat sebagai direktur. Namun Frida tidak bisa aktif setelah mulai kuliah lagi.

Semuanya kuatur secara simple, karena jumlah kamar di hotelku juga cuma 100 kamar. Bangunannya pun hanya deretan kamar berbentuk lingkaran seperti hurup O. Belum jadi hotel bertingkat.

Itulah ringkasan yang sudah terjadi di dalam kehidupanku. Tapi aku tak mau bertele-tele menceritakan kegiatan bisnisku. Karena aku ingin fokus pada masalah… s e x! Ngocoks.com

Pada suatu hari, aku sedang sibuk di hotel ketika datang call dari… Mama…!

Entah kenapa aku takut-takut menerima call dari ibu tiriku yang sudah lama kutinggalkan itu. Karena aku merasa bersalah, sudah sekian lamanyha aku meninggalkan Mama.

Tapi akhirnya kuterima juga call dari Mama itu. Lalu :

“Hallo Mama Sayang… apa kabar Mam? Sehat-sehat aja kan?”

“Sehat Sayang. Kok lama sekali tidak pulang ke rumah? Kabarnya pun sama sekali nggak ada. Bahkan nelepon pun gak pernah.”

“Iya Mam. AMpuni aku ya Mam. Belakangan ini aku sibuk sekali, sampai merasa kepala dijadikan kaki dan kaki dijadikan kepala. Kalau sudah ada waktu senggang, pasti aku datang ke rumah kok.”

“Tapi sesibuk-sibuknya manusia, masa gak ada waktu sama sekali untuk datang atau nelepon ke mama? Sebenarnya mama udah berkali-kali mau nelepon kamu. Tapi mama takut mengganggu. Makanya mama batalin terus tiap kali mau nelepon itu. Baru sekarang mama bulatkan hati untuk menghubungimu, Sayang. Mama sudah kangen…

“”Nggak mungkinlah aku melupakan Mama yang sudah meraatku dengan penuh kasih sayang sejak kecil. Aku anak durhaka kalau melupakan Mama. Masalahnya belum waktunya saja Mam. Aku sedang berjuang habis-habisan demi masa depan Mam. Tapi kalau Mama mau berjumpa denganku bisa. Hari Minggu yang akan datang kita bisa habis-habisan saling mencurahkan rasa kangen kita Mam.

“Mau ketemuan di mana? Kamu mau pulang atau ketemuan di hotel langganan kita itu?”

“Di villa aja Mam.”

“Di villa?”

“Iya Mam. Agak diluar kota, tapi gak jauh kok. Hanya duapuluh kilometer dari kota. Nanti kukirim alamat lengkapnya lewat WA ya.”

“Hari Minggu mendatang jam berapa Mama harus berangkat dari rumah?”

“Pokoknya jam sepuluh pagi kita harus sudah tiba di villa itu Mam. Kalau Mama malas nyetir sendiri, pakai taksi aja. Nanti pulangnya aku anterin.”

“Iya. Nanti kalau sudah ketemu, akan mama ceritakan semua yang telah terjadi pada diri mama. Tapi yang jelas, mama kangen sekali padamu, Sayang…”

“Sama Mam… aku juga kangen sekali…”

Setelah hubungan seluler dengan Mama ditutup, aku tercenung sendiri di ruang kerjaku, yang dahulu merupakan satu-satunya suite room di hotel ini, yang letaknya paling belakang, namun ukurannya jauh lebih luas, fasilitasnya pun lengkap. Ada ruang tamu, ruang rapat dan kamar yang lebih besar daripada kamar-kamar lainnya.

Menurut keterangan karyawan yang lama bekerja di hotel ini semasa masih dimiliki oleh owner lama, suite room ini sangat jarang dipakai oleh tamu hotel. Dengan kata lain, suite room ini tidak laku. Karena itu aku memutuskan untuk mengubah fungsi suite room ini sebagai ruanjg kerjaku. Ruang tamu dijadikan ruang tunggu, sementara ruang rapat kujadikan ruang kerjaku.

Ketika aku masih tercenung sambil menerawang ke arah masa laluku bersama Mama, tiba-tiba pintu terdengar diketuk.

“Masuk! “seruku.

Ternyata Natasha yang muncul. Seperti biasa dia memberikan laporan perkembangan yang telah dicapai dan meminta saran-saran dariku.

Natasha cuma berijazah D3 dari sebuah akademi parawisata dan perhotelan. Tapi Natasha kurekrut karena pernah mendapat pendidikan perhotelan di Perancis selama dua tahun.

Aku tahu hotel-hotel bintang lima banyak yang merekrut orang Eropa atau Amerika sebagai general manager. Tapi hotelku bukan hotel berbintang. Karena itu kurekrut Natasha yang baru berumur 23 tahun itu. Hasil kerjanya pun cukup memuaskan. Kamar-kamar di hotelku nyaris selalu fully booked. Apalagi di hari-hari weekend, banyak tamu yang kehabisan kamar, sehingga aku mulai memikirkan untuk mengembangkan hotel ini.

Convention hall yang berada di bagian depan hotel pun cukup “laris”. Dipakai untuk resepsi pernikahan, seminar, workshop dan sebagainya. Sebenarnya kalau convention hall itu dipakai untuk seminar atau workshop, keuntungan berlipat-lipat bisa diraih. Karena peserta dari luar kota bisa menginap di hotelku, sementara konsumsi untuk para peserta pun bisa dilayani oleh dapur hotelku.

Setelah laporan Natasha selesai, aku bertanya, “Bagaimana perasaanmu setelah menjadi manager di hotel ini? Apakah kamu merasa nyaman bekerja di sini?”

“Nyaman sekali Boss,” sahutnya sambil tersenyum. Gila… manis sekali senyum Natasha itu.

Sebenarnya aku sadar bahwa Natasha seperti yang caper padaku. Entah untuk tujuan apa. Apakah dia ingin agar gajinya dinaikkan atau memang punya perasaan khusus padaku? Entahlah.

“Kamu kan orang baru di hotel ini. Lalu… apa kesan karyawan lama? Apakah mereka juga merasa nyaman setelah hotel ini ganti pemilik?”

“Semuanya merasa nyaman Boss. Mereka bilang, owner baru selalu ramah, tidak arogan seperti pemilik lama. Selain daripada itu, mereka menyukai pada Boss karena… “Natasha tidak melanjutkan kata-katanya.

“Karena apa?” tanyaku.

“Karena Boss masih sangat muda dan… ganteng sekali…”

“Hahahaaa… ada-ada aja. Terus kamu juga punya pandangan seperti itu padaku?”

Natasha menunduk sambil menyahut, “Sama aja Boss…”

Aku tahu Natasha itu cantik. Bentuk tubuhnya pun menggiurkan. Tapi tadinya aku ingin bersikap profesional saja. Aku tak ingin menggoda karyawatiku sendiri. Apalagi Natasha yang seolah sudah menjadi tangan kananku.

Tapi kini perasaanku jadi lain dari biasanya. Maka kubuka image di laptopku. Image seorang cowok sedang mencium seorang cewek. Lalu kataku, “Coba ke sini… lihat ini…”

Natasha pun bangkit dari kursi yang di depan meja kerjaku. Dan melangkah ke sampingku.

Setelah dekat dengan kursi putar yang sedang kududuki, kupegang tangan kirinya sambil menunjuk ke image kissing itu, sambil berkata, “Kamu mau dibegituin sama aku?”

Natasha memandang ke layar laptopku, lalu menatapku dengan sorot ragu. Dan menyahut lirih, “Semua karyawati di hotel ini pasti punya keinginan seperti itu Boss.”

Sebagai tanggapan, kutarik tangan dan pinggang Natasha sampai terduduk di atas sepasang pahaku.

“Boss… saya jadi merasa lancang nih… masa duduk di atas pangkuan Boss…” ucap Natasha sambil menatapku dengan sorot bimbang.

aku merengkuh pinggangnya ke dalam dekapanku sambil berkata, “Saat ini kita bersikap secara pribadi, aku sebagai Sammy dan dirimu sebagai Natasha. Lupakan dulu istilah owner dan manager. Karena sebenarnya aku pun sudah lama suka pada kecantikan wajahmu dan keseksian tubuhmu.“

“Masa sih?!” Natasha mengerling manja, meski usianya tiga tahun lebih tua dariku.

“Kalau prestasi kerjamu makin bagus, aku akan menjadikanmu kekasih rahasiaku. Mau?”

Natasha menatapku dengan sorot bimbang lagi. Tapi lalu mengangguk sambil berkata, “Iya. Tapi saya mohon gaji saya disesuaikan dengan keadaan harga kebutuhan sehari-hari Boss.”

“Gampang soal itu sih. Tapi kamu pernah punya pengalaman khusus dengan cowok?”

“Pengalaman gimana Boss?”

“Mmm… mungkin dalam suatu hubungan dengan cowok lantas kebablasan gitu…”

“Oo.. soal itu sih dijamin saya masih original.”

“Masa sih?!”

“Buktikan aja sama Boss.”

“Aku dengan merabanya saja bisa tau kalau kamu masih virgin atau tidak,” kataku sambil mengelus pahanya yang putih mulus dan terasa hangat

“Silakan aja…” sahutnya.

Aku merasa diberi lampu hijau. Sehingga tanganku langsung merayap ke balik spanrok pinknya… sampai menyentuh celana dalamnya. Sementara bibirku merapat ke pipinya yang juga hangat.

Akhirnya aku berhasil menyelinapkan tanganku ke balik celana dalam Natasha dan langsung menyentuh kemaluannya yang tercukur bersih. Sehingga dengan, mudah aku bisa menyentuh kelentitnya. Aku memang tak berani menyelinapkan jemariku ke dalam celah vaginanya, karena takut dia benar-benar masih perawan lalu dirusak oleh jariku.

Ujung jari tengahku hanya mengelus-elus kelentitnya dengan gerakan diputar-putar sambil menekannya.

Natasha spontan merangkul leherku. Lalu memagut bibirku sambil memejamkan matanya. Aku menyambutnya dengan lumatan penuh nafsu, karena jemariku tengah asyik memainkan kemaluannya.

Lebih dari lima menit aku melakukan semuanya ini. Sementara nafas Natasha tertahan-tahan terus. Sampai akhirnya aku membisiki telinganya dnegan nada lembut, “Tasha… kalau virginitasmu kuambil, mau?”

Tasha yang tampaknya sudah horny itu mengangguk, “Iya… tapi kalau saya hamil nanti gimana?”

“Soal itu sih jangan takut. Kebetulan aku membawa pil anti hamil di tasku. Jadi kamu dijamin takkan hamil, kecuali kalau kamu sendiri yang menginginkannya,” kataku sambil berdiri sambil membopong tubuh Natasha… lalu melangkah ke arah kamar pribadiku.

“Baru sekarang kamu diajak masuk ke kamar pribadiku ini ya?” tanyaku sambil meletakkan Natasha di atas sofa yang berdekatan dengan tempat tidur. Ngocoks.com

“Iya,” sahut Natasha sambil memperhatikan keadaan di sekeliling kamar pribadiku, “Ini yang dahulunya suite room Boss?”

“Betul. Sekarang kamar ini jadi ada fungsinya selain kujadikan tempat istirahat juga akan kujadikan tempat pacaran sama kamu,” sahutku sambil memijit hidung Natasha yang mancung meruncing (bukan mancung seperti jambu mete).

“Saya merasa seperti sedang bermimpi Boss.”

“Jangan manggil boss terus. Kalau sedang melakukan sesuatu yang pribadi sifatnya.”

“Abisnya manggil Mas atau Bang kan Boss lebih muda dari saya.”

“Ya udah… terserah kamu aja deh,” kataku sambil duduk merapat ke sisi kanannya. “By the way… kamu benar-benar siap akan kuambil virginitasmu?”

“Demi Boss yang sudah lama kukagumi… silakan aja Boss. Yang penting jangan sampai saya hamil nantinya.”

“Tadi aku sudah merabanya. Mungkin pengakuanmu benar, bahwa kamu masih perawan. Tapi untuk membuktikannya secara akurat, aku harus memakai ini,” kataku sambil menepuk-nepuk celana denimku tepat pada letak tersembunyinya penisku.

“Hihihiiii… saya degdegan dan merinding nih Boss,” ucap Natasha sambil mengusap-usap tengkuknya.

“Itu wajar. Tapi kalau kamu benar-benar masih perawan, nanti kamu akan mendapatkan privilege dariku nanti. Bukan cuma kenaikan gaji.”

“Amiin…! Terima kasih sebelumnya Boss.”

“Sekarang bukalah pakaianmu, “pintaku.

Natasha tampak tidak ragu untuk menanggalkan baler putihnya, lalu juga spanrok pink-nya (seragam manager dan kepala-kepala bagian). Kemudian blouse putihnya pun dilepaskan. Sehingga tingga bra dan CD yang masih melekat di tubuh mulusnya itu.

Supaya Natasha tida ragu-ragu untuk menelanjangi dirinya, aku pun menanggalkan segala yang melekat di tubuhku. Hanya celana dalam yang kubiarkan masih berada di tempatnya.

Pada saat itulah Natasha melepaskan branya. Sehingga tampak sepasang payudaranya yang mungil tapi tampak sangat kencang itu.

Dan aku mengamati sekujur tubuh yang tinggal mengenakan celana dalam saja itu.

Betapa indahnya tubuh tinggi yang agak montok gempal tapi berpayudara mungil itu. Memang aku sudah sering menikmati toket gede, sementara yang payudaranya mungil, baru sekali ini kutemukan.

Dalam keadaan sama-sama tinggal bercelana dalam, aku menggandeng pinggang Natasha sambil menunjuk ke arah tepat tidur, “Di sana aja yok. Biar lebih nyaman.”

Kenapa tadi aku meminta Natasha melepaskan sendiri pakaiannya? Karena di zaman sekarang para boss juga harus waspada. Kalau sedang apes, bisa aja seorang boss diadukan ke pihak yang berwajib sebagai pelaku pencabulan atau melakukan pelecehan seksual. Bisa aja ada mafia di balik seorang wanita yang dijadikan target bossnya.

Semoga saja Natasha bukan wanita yang punya konspirasi jahat. Kalau pun punya konspirasi, aku sudah mempersiapkan diri, antara lain dengan mengaktifkan cctv yang hanya bisa dimonitor di laptop kerjaku.

Karena itu aku berakting dengan keyakinan bahwa cctv akan merekam semuanya ini. “Sekarang kamu tidak merasa terpaksa kan?” tanyaku sambil mengelus pipinya.

“Tidak,” sahut Natasha sambil memegang pergelangan tanganku, “Saya memang salah seorang pengagum Boss di hotel ini.”

Tenanglah aku… semuanya ini akan kujadikan barang bukti jika pada suatu saat Natasha terpengaruh oleh pihak ketiga yang berniat menjerumuskanku.

“Kalau tidak merasa terpaksa, kenapa celana dalamnya belum dilepasin?” tanyaku sambil merebahkan diri di samping Natasha.

“Malu Boss. Jangan diketawain ya,” sahut Natasha sambil menurunkan celana dalamnya sampai lepas dari sepasang kaki berbetis indahnya.

Feelingku berkata, Natasha ini orang jujur, ulet, cerdas dan setia. Meski belum lama aku mengenalnya, tapi diam-diam aku sering mengujinya. Dan ia selalu lulus dalam ujian yang kurahasiakan itu.

Tinggal memeknya itu. Benarkah dia masih perawan?

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Berlanjut Bersambung Cantik Ibu Kandung Ibu Muda Keluarga Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Petualangan Sedarah Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKeluarga Pak Trisno
Next Article Petualangan Rikku
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Siasat Paras Elok

    9.7

    Manajer Perusahaan Multinasional

    9.6

    Derita Miranda

    9.7

    Pelacurku Bekas Penyanyi

    9.7

    Terapi Akupuntur

    9.6

    Rumah Kontrakan

    Follow Facebook

    Recent Post

    Siasat Paras Elok

    Manajer Perusahaan Multinasional

    Derita Miranda

    Pelacurku Bekas Penyanyi

    Terapi Akupuntur

    Rumah Kontrakan

    Petualangan Rikku

    Rumah Kami Surga Kami

    Keluarga Pak Trisno

    Tragedi Malam Pengantin

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.