Tiba-tiba terdengar bunyi dering handphoneku yang berada di saku baju piyamaku. Untung baju piyamaku tidak jauh dari tanganku. Maka kuhentikan dulu entotanku, untuk mengambil handphoneku.
Ternyata call dari Mamie…!
“Tante… ini dari Mamie… !” ucapku panik.
“Ya udah terima aja. Tapi jangan bilang-bilang lagi ngentot tante,” sahut Tante Ken.
Tanpa pikir panjang lagi kuterima call dari Mamie itu, bahkan sengaja suaranya kukeluarkan dari speaker, supaya tante Ken bisa ikut mendengar. Dan :
“Hallo Mam.”
“Lagi ngapain Sayang?”
“Lagi rebahan Mam…”
“Besok kuliah gak?”
“Besok kuliahnya sore Mam.”
“Bagus kalau gitu. Soalnya besok akan ada kurir dealer mau nganterin mobil ke situ. Semuanya sudah atas nama kamu. Jadi besok tinggal tandatangani aja surat-suratnya ya.”
“Mobil?! Mobil apa Mam?”
“Mobil SUV. Cocoklah buat kamu yang masih muda.”
“Jadi… mobil itu untukku?”
“Iya… itu sebagai tanda sayangnya mamie sama kamu, Sam.”
“Owh… terima kasih Mam.”
“Kembali kasih. Ohya, kamu harus tetap merahasiakan hubungan kita pada tante Ken, ya Sam. “Tapi dia sepertinya sudah tau Mam.”
“Lho… emangnya kamu udah ngomong?”
“Nggak. Cuma dia bilang sikap Mamie padaku tidak seperti ibu kepada anaknya. Kesimpulannya, Tante Ken seperti sudah tahu bahwa Mamie ada hubungan spesial denganku.”
“Nggak apa deh. Dia kan satu-satunya kakak Mamie yang sangat mamie sayangi. Dia pasti bisa menjaga kerahasiaan hubungan kita.”
“Iya Mam,” kataku sambil melirik ke arah Tante Ken yang sedang tersenyum-senyum sambil menatapku. Sementara batang kemaluanku masih menancap di liang memeknya.
“Ada lagi yang mau mamie sampaikan padamu Sam.”
“Tentang apa Mam?”
“Tentang Tante Ken. Jadi begini… mamie izinkan kamu kalau pada suatu saat kamu ada hubungan khusus dengan kakak mamie itu. Soalnya kasihan dia itu… sudah belasan tahun hidup menjanda… tentu saja dia juga menginginkan sentuhan pria. Boleh saja kamu gauli dia, asalkan jangan main paksa. Kalau dia tidak mau ya jangan dipaksa-paksa.
“Memangnya Mamie gak cemburu kalau aku punya hubungan dengan Tante Ken?”
“Nggak. Tante Ken dan Mamie itu saling menyayangi. Dan mamie rela berbagi kalau sama dia sih. Asalkan jangan dengan wanita lain. Tapi sekali lagi ingat… jangan sampai dia hamil. Sarankan aja agar dia mau disuntik KB, supaya aman.”
“Iya Mam.”
“Udah ya… kalau mau bobo silakan aja. Besok kalau bisa jangan ke mana-mana dulu sebelum mobil itu datang, ya Sam.”
“Iya Mam.”
“Mamie cinta kamu, Sam. Emwuaaah…”
“I love you too Mam… emwuaaaah…”
Lalu hubungan seluler dengan Mamie ditutup. Dan aku baru sadar bahwa batang kemaluanku masih menancap di dalam liang memek Tante Ken.
“Kita jadi tenang sekarang Tante,” kataku sambil menjatuhkan diri ke atas dada Tante Ken lagi, “Apa pun yang kita lakukan, Mamie takkan marah kepada kita.”
“Iya, tapi kalau terlalu terang-terangan di depan mamiemu, tante malu juga Sam.”
“Ya iyalah. Aku juga gak mau terang-terangan di depan Mamie. Tapi sedikitnya, perasaan bersalahku jadi hilang. Kalaupun tertangkap basah oleh Mamie, aku tidak takut lagi.”
Tante Ken tidak bicara lagi. Terlebih setelah aku melanjutkan ayunan penisku di dalam liang kewanitaan yang empuk tapi legit menjepit ini, Tante Ken mulai mendesah dan merengek manja lagi.
“Iya Sam… oooh… kontolmu membuat tante lupa segalanya Saaam… oooh… aaaaah… Saaam… uuuuh… aaaah… Saaaam… oooh… Saaam…”
Tante Ken terus-terusan menggeliat dan mengelojot. Sampai akhirnya dia terkejang-kejang lagi sambil menahan nafasnya, sementara perutnya terangkat lagi ke atas. Prediksiku, tadi waktu aku sedang menerima telepon dari Mamie, diam-diam Tante Ken menghayati penisku yang masih menancap di liang memeknya.
Tante Ken terkulai lemas sambil berkata, “Kamu memang luar biasa Sam. Gak salah kalau adik Tante punya hubungan istimewa denganmu. Kamu belum ngecrot juga nih?”
“Belum Tante. Kenapa? Tante kecapean? Kalau kecapean, bisa istirahat dulu kok.”
“Iya. Maunya istirahat dulu. Haus juga nih. pengen minum dulu.”
“Oke… santai aja Tante. Kita kan gak dikejar waktu,” sahutku sambil mencabut penisku dari liang kemaluan Tante Ken.
Kakak Mamie itu pun bangun, lalu turun dan melangkah ke luar dalam keadaan telanjang. Aku pun turun dari bed dalam keadaan tetap telanjang. Dan mengikuti langkah Tante Ken menuju kulkas di ruang keluarga.
Kuperhatikan tubuh sexy Tante Ken yang tampak mengkilap oleh keringatnya yang sudah bercampur baur dengan keringatku. Dalam keadaan seperti itu Tante Ken justru tampak semakin menggiurkan. Terutama bokong semoknya itu, membuatku senang menjamah dan menepuk-nepuknya dari belakang.
Tante Ken cuma tersenyum. Lalu mengeluarkan sebotol air mineral dari alam kulkas. Lalu meminum isi botol plastik itu sambil duduk di sofa ruang keluarga. Aku pun melakukan hal yang sama. Mengeluarkan sebotol air mineral dari kulkas, lalu duduk di samping Tante Ken, sambil meneguk isi botol itu.
“Mungkin tante harus mandi dulu,” kata Tante Ken sambil memegang penisku yang masih ngaceng berat, “biar badan tante gak penuh keringet gini.”
“Jangan Tante. Justru dalam keadaan penuh keringat gini Tante tampak semakin menggiurkan,” sahutku sambil mengeluspangkal pahanya yang terasa padat sekali.
“Kamu kok kuat sekali Sam. Rasanya tante seperti disetubuhi berkali-kali olehmu. Padahal kamu belum ejakulasi. Pantesan adik tante jatuh hati padamu. Tapi kalau ketahuan sama papamu nanti gimana?”
“Justru Papa yang nyuruh aku menggauli Mamie.”
“Haaa?! Apa tante gak salah dengar nih?”
“Nggak Tante. Papa kan sudah disterilkan. Jadi Papa takkan bisa membuahi Mamie. Sedangkan Mamie ingin punya anak. Makanya Papa menugaskanku untuk menghamili Mamie.”
“Wow… tugas yang aneh ya? Jadi kamu bisa seenaknya berhubungan sex walau di depan mata papamu sekali pun?”
“Iya Tante. Tapi Mamie gak tega mellakukannya di depan mata Papa. Itulah sebabnya Mamie menempatkanku di sini. Jadi nantinya Mamie akan datang ke sini kalau merasa kangen padaku.”
“Kok sampai sekarang mamiemu gak datang-datang ke sini.”
“Sekarang dia lagi datang bulan Tante. Nanti kalau sudah bersih, pasti datang ke sini.”
“Oooo… jadi begitu ceritanya ya. Jadi kalau mamiemu hamil nanti, berarti kamu bakal punya anak sekaligus adik ya.”
“Iya Tante. Tapi ini rahasia. Jangan sampai orang lain tau. Anak Tante juga jangan dikasih tau.”
“Tentu aja. Itu rahasia besar. Keluarga tante jangan sampai ada yang tau,” ucap Tante Ken sambil membungkuk dan mendekatkan mulutnya ke penisku yang sedang digenggamnya. Tiba-tiba dia mengulum batang kemaluanku…!
“Katanya Tante belum pernah main oral,” kataku dalam kaget tapi menyenangkan.
Tante Ken melepaskan penisku dari mulutnya sambil berkata, “Almarhum suamiku memang suka diselomotin kontolnya. Tapi memek tante belum pernah dijilatin olehnya. Paling juga cuma dimainin pakai tangannya.”
Lalu Tante Ken melanjutkan “pekerjaannya”. Menyelomoti leher dan puncak kontolku sambil mengurut-urut badan penisku.
Dan gilanya… permainan mulut Tante Ken enak sekali. Sehingga aku terkejang-kejang dibuatnya. Bahkan Tante Ken melanjutkan aksinya sambil berjongkok di lantai, di antara kedua lututku. Dan aku duduk saja di sofa, sambil menikmati enaknya dioral oleh kakak ipar Papa itu.
Namun pada suatu saat Tante Ken bangkit, berdiri membelakangiku sambil memegang penisku. Tahu-tahu penisku dibenamkan ke dalam memeknya, sambil menduduki sepasang pahaku. Tak cuma itu. Bokong semoknya mulai naik turun, sehingga kontolku dibesot-besot oleh liang kemaluannya yang legit itu.
Diperlakukan seperti ini, aku tak bisa mempertahankan diri lagi. Setelah lebih dari seperempat jam Tante Ken beraksi, akhirnya aku merasakan sesuatu… merasakan mau berejakulasi…!
Maka kupeluk Tante Ken dari belakang, atau tepatnya aku memegang sepasang payudara montoknya dari belakang, disertai remasan-remasan gemasku.
Dan akhirnya moncong penisku memuntahkan laharnya, crot… crooootttt… crooootttt… crooootttt… croooottttt… croooootttttt… crotcrot… crooooooooottttttttt…!
Tante Ken malah jadi gila-gilaan mengayun bokongnya… sampai akhirnya dia berhasil… berhasil mencapai orgasmenya yang ketiga…!
Untuk pertama kalinya aku mandi bareng dengan Tante Ken. Kemudian kami tidur sambil berpelukan di dalam kamar Tante Ken. Waktu kami tidur ini, Tante Ken sudah mengganti dasternya dengan kimono. Sementara aku tetap mengenakan baju dan celana piyama lagi.
Menjelang subuh, aku terjaga dan merasakan sesuatu yang bangkit di bawah perutku. Ternyata si dede sudah bangun lagi. Ingin mengentot Tante Ken lagi…!
Aku tahu bahwa Tante Ken tidur tanpa mengenakan beha mau pun celena dalam. Kebetulan pula kimononya tersingkap agak tinggi, sehingga aku bisa menggerayangi bokongnya, sampai menyentuh kemaluannya. Ketika kutemukan yang kubutuhkan pagi itu, ternyata liang kemaluannya basah.
Maka diam-diam kupelorotkan celana piyamaku, sehingga penis ngacengku tersembul dan kuarahkan ke arah liang basah itu. Lalu aku berusaha memasukkan penisku ke dalam liang kemaluan Tante Ken.
Berhasil… sedikit demi sedikit penisku bisa kubenamkan ke dalam liang kemaluan Tante Ken. Lalu aku mulai mengentotnya perlahan-lahan.
“Sam?! Udah ngaceng lagi?” tanya Tante Ken tanpa menoleh ke arahku.
“Iya,” sahutku, “Biasanya ngentot menjelang subuh gini suka enak Tante.”
“Daripada begini mendingan doggy aja yuk.”
“Iya Tante,” sahutku sambil mencabut dulu penisku, agar Tante Ken bisa menggerakkan tubuhnya secara leluasa.
Tante Ken melepaskan kimononya. Lalu dalam keadaan telanjang ia menungging sexy. Aku pun melepaskan celana piyamaku. Kemudian mendekatkan moncong penisku ke arah kemaluan Tantre Ken yang sedang menungging itu. Sambil berlutut di depan bokong semok itu, kubenamkan penisku ke dalam liang kewanitaan Tante Ken.
Tante Ken tetap menungging sambil memeluk bantal yang menahan dadanya. Sementara aku mulai mengentotnya dengan gencar.
“Sam…”
“Ya?”
“Kontolmu bakal bikin tante ketagihan nanti…”
“Memek legit Tante juga bakal bikin aku ketagihan…”
“Sambil tempelengin pantat tante sampai merah Sam.”
Meski heran, kujawab juga, “Iya Tante…”
Lalu, sambil berlutut dan mengentot memek Tante Ken, aku pun mulai menampar sepasang buah pantat Tante Ken… plak… plaaak…!
“Kurang keras Sam. Yang kuat dong namparnya… “pinta Tante Ken.
Maka spontan kutampar pantat Tante Ken sekuat tenaga… plaaaaak… plaaaak!
Tante Ken malah berkata, “Naaah… gitu… terus tamparin yang kuat, sampai merah seperti bekas kerokan… tante suka digituin…” Ngocoks.com
Aku sengaja menghentikan dulu entotanku, untuk menampar-nampar pantat Tante Ken seperti yang diinginkannya. Plaaaaakkkk… plaaaaakkkkk… plaaaaaak… plaaaaak… plaaaaakkkkk…
Dalam tempo singkat saja buah pantat Tante Ken mulai merah. Lalu kulanjutkan lagi entotanku sambil menampar-nampar terus plaaaak… plaaaaak… plaaaaak… plaaaak… plaaaak… plaaak… plaaak…!!!
Aku memang sering melihat bokep yang pantat ceweknya ditampari terus menerus oleh cowoknya, sampai merah kehitam-hitaman. Mereka menyebut hal itu sebagai spanking. Mungkin banyak juga perempuan yang ingin diperlakukan seperti Tante Ken ini.
Kudengar juga dari teman-teman, bahwa perempuan banyak yang ingin dicupang pada waktu disetubuhi. Bahkan ada yang lehernya ingin digigit sampai berdarah pada waktu menikmati enaknya dientot lelaki.
Apa yang menyebabkan hal seperti itu? Entahlah, karena aku bukan psikolog.
Yang jelas, pantat Tante Ken sudah merah kehitaman, sehingga aku tak tega untuk menamparnya lagi. Lalu melanjutkan entotanku yang makin lama makin massive.
Namun tak lama kemudian Tante Ken memekik tertahan, “Aaaaa… aaaaaahhhhhh… !”
Lalu Tante Ken ambruk. Dan aku tau bahwa Tante Ken sudah orgasme. Maka kucabut penisku dari dalam liang kemaluan Tante Ken.
Lalu Tante Kenpun memutar tubuhnya, jadi menelentang. Dengan leher basah oleh keringat.
Tanpa ragu-ragu kudekatkan penisku ke memek Tante Ken. Lalu kupukul-pukulkan penisku ke permukaan memek tembem yang sudah ternganga merah itu.
Tante Ken malah tersenyum sambil menatapku. Dan… blessss… penisku membenam kembali ke dalam liang vagina Tante Ken.
“Kamu memang luar biasa Sam,” ucap Tante Ken sambil meraih leherku ke dalam pelukannya, “belum pernah tante merasakan disetubuhi sepuas ini.”
Lalu Tante Ken mencium bibirku dengan hangatnya. Hangatnya wanita yang sudah mencapai orgasmenya.
Dan penisku bergerak-gerak terus… maju mundur seperti gerakan pompa manual.
Memang rumah ini lebih leluasa untuk melakukan apa pun. Karena di rumah ini hanya berpenghuni dua orang. Hanya ada aku dan Tante Ken.
Namun di rumah Mama pun aku bisa melakukannya, meski harus sembunyi-sembunyi.
Karena itu tak salah kalau aku berkata di dalam hatiku, “Rumah kami surga kami.”
Hampir sejam aku mengentot Tante Ken, sehingga keringatku bercucuran. Padahal melakukan semua ini pada waktu hari masih gelap menjelang subuh, pada waktu udara di luar masih dingin.
Sebenarnya aku bisa melakukannya lebih lama lagi. Tapi aku sudah letih. Sehingga aku tak mau menahan-nahan lagi ketika aku sudah merasakan ejakulasiku sudah doi ambang pintu, aku pun mempercepat gerakan batang kemaluanku. Makin lama makin cepat… sampai akhirnya kutancapkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sambil meremas toge Tante Ken sekuatnya.
Lalu aku merasakan air mani berlepasan dari moncong penisku. Croooot… croooottt… crotcrot… crooooooootttttt…!
Aku terkapar di atas perut Tante Ken, yang disambut dengan ciuman hangat kakak Mamie itu.
Beberapa saat kemudian aku dan Tante Ken mandi bersama di kamar mandi. Menyenangkan juga karena bisa salingmenyabuni. Aku bisa menyabuni toket tante dan kemaluan Tante Ken sampai benar-benar bersih. Sementara tante Ken pun menyabuni sekujur tubuhku, lalu menyabuni batang kemaluanku sambil bertanya, “Sebenarnya kontolmu diapain Sam?
“Nggak diapa-apain Tante,” sahutku, “memang tadinya gak segede ini. Tapi dalam beberapa bulan belakangan ini berkembang dan jadi segede ini. Mungkin setelah dewasa nanti takkan ngegedein lagi.”
Setelah menghanduki tubuh sampai kering, Tante Ken memelukku dari belakang, “Tante benar-benar ketagihan sama kontolmu Sam. Dientot tiap malam juga tante mau…” Ngocoks.com
Mobil itu datang sebelum jam sembilan pagi. Sebuah mobil SUV berwarna hitam yang maskulin. Aku langsung suka pada mobil hadiah dari Mamie itu. Sudah terbayang, di kampus nanti aku bakal sejajar dengan anak-anak orang kaya. Memang mobil itu tidak semahal mobil Papa, apalagi kalau dibandingkan dengan mobil mewah Mamie yang jarang dipakai ke luar kota itu.
Aku merasa bangga dan berterima kasih kepada Mamie, karena telah mendapatkan hadiah yang jauh lebih berharga daripada harapanku.
Tante Ken menganjurkan agar mobil baru itu dimandi-kembangkan dulu sebelum dipakai. Karena menurut tradisi, hal itu semacam doa, agar mobilku membawa selamat dan mendatangkan rejeki.
Tante Ken bahkan pergi sendiri ke pasar, untuk membeli 7 jenis bunga dan sebuah kendi. Ketujuh jenis bunga itu dimasukkan ke dalam kendi yang sudah diisi air bersih.
Kuikuti saja saran Tante Ken itu. Kusiramkan air dan bunga-bungaan itu ke mobil baruku. Kemudian kendinya kupecahkan pada ban depan kanan.
Mudah-mudahan saja ritual kecil ini membawa keselamatan dan mendatangkan rejeki bagiku. Amiiin…!
“Mau test drive dulu ah. Tante mau ikut?” tanyaku.
“Tante lagi masak. Sendirian aja dulu. Gampang nanti pas hari Minggu sekalian piknik aja sambil membekal makanan hasil tante yang masak buat Sam tersayang.”
Akhirnya aku sendirian untuk test drive mobil baruku.
Mau test ke mana ya? Ah, mendingan ke rumah Mama. Kalau Mama nanya itu mobil siapa, mau dibilang inventaris perusahaan saja. Biar Mama tidak jealous kepada Mamie yang belum pernah tahu bentuknya itu.
Dengan batin bersemangat kukemudikan mobil hitamku menuju rumah Mama. Sambil membayangkan Mama yang sudah lumayan lama tidak kugauli itu.
Namanya juga mobil baru. Tentu saja enak sekali mengemudikannya.
Tapi setibanya di rumah Mama, kelihatannya sepi sekali. Pintu depan terkunci. Lalu aku masuk ke dalam garasi, karena dari garasi ada lorong menuju ruang keluarga. Mobil Mama tidak ada di garasi. berarti Mama sedang keluar.
Kulihat pintu kamar Mbak Ita tidak dikunci, karena kalau terkunci ada lampu merah menyala di atas pintunya. Lalu kubuka pintu itu. Tampak Mbak Ita sedang tidur. Jam segini masih tidur? Apakah Mbak Ita tidak ada kuliah hari ini?
Entahlah. Yang jelas aku teringat bahwa aku ingin melihat keadaan di dalam kamarku yang sudah agak lama kutinggalkan. Maka bergegas aku menaiki tangga menuju kamarku. Kulihat kamar Mbak Ayu terkunci, karena lampu merah di atas pintunya menyala. Begitu juga pintu kamarku.
Aku biasa menyimpan kunci kamarku di tempat rahasia. Di lubang ventilasi. Ternyata kunci kamarku masih tersimpan di tempatnya. Lalu kunci itu kuambil dan kupakai untuk membuka pintu kamarku.
Kamarku masih tetap seperti waktu aku mau meninggalkannya. Tidak ada sesuatu yang berubah atau dipindahkan.
Tapi ketika aku berkaca di depan cermin besar dekat meja tulisku, tampak rambutku yang agak gondrong ini acak-acakan sekali. Aku baru teringat bahwa sejak selesai mandi bersama Tante Ken tadi, aku belum menyisir rambutku sama sekali.
Lalu kucari sisirku. Tapi aku pun teringat bahwa sisir itu kubawa ke rumah Cinta.
Maka dengan niat mau meminjam sisir, aku keluar dari kamarku. Menuruni tangga dan menuju pintu kamar Mbak Ita, hanya karena mau meminjam sisir kepada kakak tiriku itu.
Kubuka pintu kamar Mbak Ita perlahan. Lalu masuk ke dalam kamar adik Mbak Ayu itu. Dengan mengendap-endap (supaya tidak mengganggu Mbak Ita yang sedang nyenyak tidur) aku mencari sisir punya Mbak Ita di meja riasnya. Tapi tidak ada, entah di mana meletakkan sisirnya.
Lalu aku menghampiri Mbak Ita yang sedang tertidur sambil memeluk bantal guling menghadap ke dinding. Berarti aku berada di belakangnya. Dan… apa yang kulihat? Saat itu Mbak Ita mengenakan daster putih bersih. Dan dasternya itu tersingkap sampai mataku menyaksikan sesuatu yang membuatku degdegan.
Ya… meski pun aku berada di belakangnya, aku bisa menyaksikan kemaluannya yang nyempil di antara sepasang paha putih mulusnya…!
Meski tadi malam dan tadi subuh habis menggasak Tante Ken, aku tetap sangat tergiur setelah menyaksikan kemaluan Mbak Ita itu. Maka perlahan-lahan sekali aku naik ke atas tempat tidur Mbak itu, untuk mendekati kemaluan yang bagaikan sepasang bibir yang sedang tersenyum padaku itu.
Dan aku tak kuasa untuk menahan diri lagi. Tanganku terjulur ke arah bibir kemaluan Mbak Ita yang tampak seperti sedang tersenyum manis itu… duuuh… terasa hangat…!
Tapi tiba-tiba Mbak Ita bergerak, membuatku kaget dan menjauhkan tanganku dari kemaluan kakak tiriku itu. Aku sudah siap untuk meminta maaf kalau Mbak Ita menyadari perbuatanku dan marah padaku.
Tapi ternyata Mbak Ita hanya mengubah posisi tidurnya, jadi menelentang dengan kedua kaki merenggang. Sementara daster putihnya tersingkap juga, sehingga separuh dari bagian bawah kemaluannya tampak jelas di mataku. Dan aku tak tahan lagi untuk menyingkapkan ujung bawah dasternya ke atas. Karena ingin melihat bentuk memek Mbak Ita sepenuhnya.
Kemaluan Mbak Ita sangat bersih. Putih mulus dan tak diganggu oleh sehelai rambut pun. Sangat menantang untuk dijilati. Tapi… kalau dia terbangun dan mengetahui perbuatanku, apakah dia takkan marah?
Aaah… bagaimana nanti saja. Kalau dia marah, aku akan minta maaf saja, selesai.
Maka perlahan-lahan aku mene;lungkup di antara kedua kaki Mbak Ita. Dan mulutku mulai mendekati memek Mbak Ita yang seolah menantangku itu.
Lidahku terjulur dan mendekati kemaluan kakak tiriku yang usianya hanya setahun lebih tua dariku itu.
Dan aku mulai menjilati memek Mbak Ita yang bentuknya sangat menggiurkan ini. Perlahan-lahan dulu jilatannya. Namun makin lama makin lahap. Sehingga kedua kaki Mbak Ita mulai mengejut-ngejut. Mungkin sedang bermimpi disetubuhi cowok atau… entahlah… yang jelas dia tetap tertidur dengan nyenyaknya.
Namun tiba-tiba Mbak Ita terbangun. Memegang kepalaku yang sedang berada di bawah perutnya. “Siapa ini? Ooooh… Sam?!”
Aku kaget dan menjauhkan mulutku dari memek kakak tiriku, “Iiii… iya Mbak… maafkan aku Mbak… soalnya memek Mbak gak pake celana dalam… membuatku tak kuat lagi untuk menjilatinya. Jangan marah ya Mbak… aku… aku terusap setan barusan…”
Di luar dugaanku, Mbak Ita malah memegang pergelangan tanganku sambil berkata, “Siapa yang marah? Lanjutkan aja… enak kok… tapi tutup dan kuncikan dulu pintunya. Takut kepergok Mbak Ayu.”
“Iya Mbak… iya, pintunya akan kututup dan kukuncikan,” sahutku sambil turun dari bed Mbak Ita dan menutupkan pintu keluar, sekaligus menguncikannya. :Lalu kembali lagi menghampiri Mbak Ita yang tampak sedang tersenyum padaku.
“Mama, Yoga dan Mbak Ayu pada ke mana Mbak?” tanyaku sambil duduk di pinggiran tempat tidur kakak tiriku.
“Mama lagi pergi sama Yoga. Entah ke mana. Hampir tiap hari mereka pergi. Kalau Mbak Ayu ya sedang kuliah,” sahut Mbak Ita sambil merebahkan diri, celentang lagi seperti tadi.
Lalu Mbak Ita menyingkapkan daster putihnya sampai di perutnya, sambil berkata, “Ayo lanjutin lagi yang tadi itu.”
Aku termangu menyaksikan betapa indahnya bagian yang sudah terbuka itu… dari perut sampai ke ujung kaki Mbak Ita itu. Indah sekali. Terutama bagian yang di bawah perutnya itu… lebih indah daripada patung dewi Venus…!
Bagian terindah itulah yang mulai kuusap-usap dengan lembut dan kuciumi dengan sepenuh gairahku. Pada saat itu pula Mbak Ita merenggangkan sepasang paha putih mulusnya.
Lalu kungangakan kemaluan yang sangat merangsang nafsu birahiku ini, sehingga bagian yang berwarna pink itu tampak jelas di mataku.
O, betapa beruntungnya diriku mendapatkan kesempatan sebagus ini.
Tanpa buang-buang waktu lagi kujulurkan lidahku, untuk menjilati bagian yang berwarna pink ini selahap mungkin. Dan Mbak Ita terdiam pasrah. Bahkan terasa rambutku dibelainya dengan lembut.
Terlebih setelah aku menjilati kelentitnya yang tampak menonjol dan mengkilap itu. Mbak Ita mulai menggeliat-geliat sambil meremas-remas rambutku yang berada di bawah perutnya.
Mbak Ita pun mulai berdesah-desah perlahan sambil menyebut-nyebut namaku, “Saaaam… aaaaah… Saaaam… Saaaaam… aaaaah… aaah… Saaaaam… Saaaam… enak sekali Saaaam… aaaaah…”
Hal itu membuatku semakin bergairah untuk menjilati kelentit dan celah memek kakak tiriku.
Cukup lama aku melakukan semuanya ini, sampai terasa celah kemaluannya sudah basah kuyup.
Bahkan pada suatu saat terdengar suara lirihnya, “Saaam… ka… kalau kamu mau… masukkan aja kontolmu Saaam…”
“Iya Mbak,” sahutku spontan. Dalam perasaan girang.
Lalu kutanggalkan celana jeans dan celana dalamku. Juga t-shirtku. Pada saat yang sama, Mbak Ita pun melepaskan daster putihnya. Sehingga tubuh putih mulusnya tak tertutup apa-apa lagi.
Dalam keadaan sama-sama telanjang, aku mendekatkan penisku ke memek Mbak Ita yang cemerlang dan merangsang itu.
Dan terdengar suara Mbak Ita, “Kamu boleh setubuhi aku. Tapi jangan dilepasin di dalam, ya Sam.”
“Kenapa? Takut hamil? Jangan takut Mbak. Aku punya pil anti hamil kok,” sahutku.
“Ya udah kalau gitu, terserah kamu,” sahutnya dengan nada pasrah.
Rasanya aku sudah meletakkan moncong penisku pada arah yang tepat. Maka aku pun mulai mendesakkannya sekuat mungkin. Dan… blessss… langsung masuk separuhnya…?!
Mbak Ita memelukku sambil berbisik, “Udah masuk Sam… !”
Feelingku berkata bahwa Mbak Ita sudah bukan perawan lagi. Tapi hal itu justru membuatku semakin bersemangat untuk menggerakkan penisku. Perlahan-lahan dulu. Makin lama makin cepat, sampai pada kecepatan normal dan berirama.
Rintihan-rintihan histeris Mbak Ita pun mulai berlontaran dari mulutnya, “Sam… duuuuh… Saaam… ini… ini enak sekali Saaam… ooooh… Saaaam… Saaaam… entot terus Saaaam… iyaaaa… iyaaaaa… iyaaaa… oooooooh…”
Sebagai jawaban, kuremas payudara kakak tiriku yang tidak begitu kencang, membuatku semakin yakin bahwa dia sudah sering disetubuhi cowok. Mungkin payudaranya ini sudah sering diremas tangan cowok.
Tapi persetan dengan semuanya itu. Yang penting aku bisa mengentot Mbak Ita sepuasnya…!
Di tengah nikmatnya menyetubuhi Mbak Ita, masih sempat aku membanding-bandingkan. Mana yang lebih enak, Mbak Ita atau Mbak Ayu?
Jujur, aku tak bisa membanding-bandingkan seperti itu. Karena lain perempuan lain lagi enaknya. Karena setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan.
Kalau membandingkan Mbak Ita dengan Mbak Ayu, tak ubahnya membandingkan Tante Ken dengan Mamie. Yang satu berperawakan tinggi semampai, yang satu lagi tinggi montok.
Mbak Ayu itu seperti Tante Ken, sementara Mbak Ita ini seperti Mamie perawakannya. Sementara perawakan Mbak Ayu tinggi montok, seperti Tante Ken. Ngocoks.com
Dan yang jelas, Mbak Ita sudah kuanggap sebagai koleksi baruku, yang kelak bisa kujadikan penyaluran nafsu birahiku.
Memang aku merasa terlambat memiliki Mbak Ita, karena pada waktu masih tinggal di rumah Mama ini, aku seolah “disita” oleh Mama. Sehingga Mbak Ayu pun seolah terabaikan.
Barangkali di waktu mendatang aku harus punya jadwal untuk menggilir mereka semua secara adil.
Tapi… bukankah aku harus memusatkan perhatianku kepada Mamie yang ingin segera hamil? Lagipula bukankah aku benar-benar mencintai Mamie sebagai seorang kekasih?
Ya… biar bagaimana pun juga prioritas utamaku adalah Mamie. Karena Mamie punya segalanya, termasuk jaminan masa depanku.
Maka aku pun membulatkan hatiku, bahwa aku hanya akan mencintai Mamie, sementara perempuan lain hanya akan kujadikan penyhaluran nafsu biologisku semata.
Beberapa jam yang lalu aku sudah bersetubuh dengan Tante Ken. Dan kini aku tengah menyetubuhi Mbak Ita pula. Maka tentu saja aku jadi lama sekali menyetubuhi kakak tiriku ini. Karena seperti lirik lagu Jawa yang dipelesetkan, “Suwe ora ngono, ngono ora suwe” (lama tidak begituan, begituan tidak lama).
Aku tahu bahwa Mbak Ita sudah tiga kali orgasme. Tapi aku masih jauh dari ejakulasi. Padahal tubuhku sudah bermandikan keringat. Tubuh Mbak Ita juga sama, leher dan ketiaknya sudah dibasahi keringat.
Namun waktu aku sudah lupa segalanya ini, memandang semuanya itu sebagai hal yang erotis. Aku mulai menjilati leher Mbak Ita disertai gigitan-gigitan kecil. Membuat Mbak Ita semakin merem melek. Bahkan ketiaknya pun kujilati dan kugigit-gigit.
Maka rintihan-rintihan histeris Mbak Ita pun semakin menjadi-jadi, “Saaam… aaaaah… Saaaam… aaaah… Saaaam… aaaaaah… aaaah…”
Aku tidak tahu lagi berapa lama terjadinya persetubuhan dengan Mbak Ita ini.
Yang jelas, ketika Mbak Ita tampak sudah kepayahan, barulah aku merasa bahwa ejakulasiku sudah di ambang pintu. Dan aku tidak berusaha untuk menahannya lagi. Kuayun penisku lebih cepat daripada biasanya. Kemudian kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, tanpa menggerakkannya lagi. Dan berlompatanlah sperma dari moncong penisku.
Creettttt… crotttt… croooottttt… crotcrot… crooootttt… croooooootttt…!
“Mana pil kontrasepsinya?” tanya Mbak Ita waktu aku sudah mengenakan pakaianku.
“Ada. Di mobil. Sebentar… kuambil dulu ya,” sahutku.
“Kamu pake mobil ke sini?”
“Iya Mbak…” sahutku sambil bergegas keluar dari kamar Mbak Ita. Melangkah ke arah mobilku yang kuparkir di pekarangan depan. Lalu kukeluarkan pil kontrasepsi itu dari dalam kotak dashboardku.
Ternyata Mbak Ita mengikutiku dan membuka pintu kiri depan mobilku. “Wow… ini mobil baru Sam. Joknya juga masih dibungkus plastik. Kamu dibelikan mobil sama Papa?” tanya Mbak Ita.
“Ini mobil inventaris perusahaan Mbak. Kan aku mulai dipekerjakan di kantor Papa.”
“Owh… kirain punya kamu pribadi.”
Setelah memberikan pil kontrasepsi itu aku pun keluar lagi dari mobil. Masuk lagi ke dalam rumah bersama Mbak Ita.
Mbak Ita menelan pil kontrasepsi itu sesuai petunjuk yang tertulis di kertas dari dalam kotaknya. Lalu duduk di sampingku di sofa ruang keluarga.
“Mbak… maaf ya… aku mau nanya sesuatu yang sangat pribadi. Boleh nggak?” tanyaku.
“Boleh aja. Mau nanya masalah apa?”
“Siapa cowok pertama yang mengambil virginitas Mbak?”
Mbak Ita malah menarik tanganku sambil berdiri,” Jawabnya di dalam kamarku aja yok.”
Kuikuti langkah kakak tiriku, masuk lagi ke dalam kamarnya.
Mbak Ita melangkah ke arah lemari pakaiannya. Lalu mengeluarkan sebuah kotak dari bawah tumpukan pakaiannya. Dia membuka kotak itu. Ternyata isinya… sebuah dildo! Sebuah kontol-kontolan yang sangat mirip dengan aslinya. Ada vibratornya segala…!
Mbak Ita mengacungkan dildo itu sambil berkata, “Inilah yang telah mengambil keperawananku. Benda ini selalu kupakai kalau aku sedang horny.”
Aku cuma terlongong.
Lalu kata Mbak Ita lagi, “Kalau kamu bertanya siapa manusia pertama yang menyetubuhiku, kamulah orangnya Sam.”
“Kirain ada orang lain, teman kuliah Mbak atau Yoga, misalnya.”
“Iiih… aku gak mungkin tertarik kepada cowok melambai seperti Yoga.”
“Lalu kenapa Mbak mau denganku?”
Mbak Ita mendekap pinggangku sambil berkata, “Karena kamu ganteng dan macho.”
“Pada waktu Mbak menggunakan dildo itu, Mbak suka sambil meremas-remas toket juga?”
“Iya. Emangnya kenapa? Toketku sudah agak lembek ya?”
“Kalau Mbak rajin olahraga atau senam, nanti juga toket Mbak bisa kencang lagi.”
“Yang penting kamu bisa menerimaku apa adanya kan?”
“Maksud Mbak?”
“Kamu akan tetap mau menggauliku kalau aku sedang horny.”
“Mau, “aku mengangguk, “tapi ada syaratnya. Mbak jangan memakai dildo itu lagi.”
“Yap. Sekarang juga akan kubuang benda ini, karena sudah mendapatkan gantinya yang benar-benar hidup. Nih buanglah sama kamu, biar kamu yakin kalau aku takkan menggunakannya lagi,” kata Mbak Ita sambil menyerahkan dildo itu padaku.
Kumasukkan dildo itu ke dalam saku celana jeansku.
Lalu kurengkuh leher Mbak Ita dan kudaratkan ciuman hangat di bibirnya.
Bersambung…




