Ketika aku melepaskan blouse yang lebih tepat disebut kaus singlet wanita itu, Frida berkata perlahan, “Aku degdegan Bang.”
“Santai aja Beib. Meski belum menikah, kita kan sudah merasa saling memiliki, “aku berjongkok sambil menggenggam blouse youcansee biru tua itu. Lalu kuturunkan ritsleting celana corduroy yang sama-sama berwarna biru tua itu. Dan kupelorotkan celananya sampai terlepas dari kakinya, lalu aku berdiri lagi sambil membawa blouse dan celana corduroy Frida itu.
Kemudian menghampiri Frida lagi. Frida yang membuatku terlongong dalam takjub.
Mungkin sejak berjumpa dengan keponakan Mamie ini, aku terlalu mengagumi wajah cantiknya, sehingga aku tidak terlalu memperhatikan bentuk badannya.
Dalam keadaan tinggal mengenakan celana dalam, bentuk asli Frida mulai jelas di mataku. Bahwa tubuhnya membentuk seperti piramida langsing. Sepasang toketnya berukuran sedang-sedang saja, tidak besar, tapi tidak kecil juga. Namun dari perut ke bawah, sangat mirip bentuk ibunya, Ia memiliki bokong yang gede dan sepasang paha yang gempal.
Frida menyadari bahwa aku sedang mengamati bentuk dirinya dari ujung kaki sampai ke rambutnya. Lalu ia mendekap pinggangku sambil berkata, “Bang… meski kita belum menikah, aku merasa sudah menjadi milikmu. Karena itu jangan pernah sakiti hatiku, ya Bang.”
Dekapan Frida terasa erat sekali. Sehingga sepasang toketnya yang perfect dan kencang itu menempel ketat di dadaku.
“Aku bukan manusia kejam, Beib. Apa pun yang kulakukan padamu, akan kupertanggungjawabkan semua. SIlakan catat di dalam memori otakmu,” sahutku yang diikuti dengan kecupan mesra Frida di bibirku, sementara dekapannya di pinggangku semakin erat saja rasanya.
Akju pun melingkarkan lenganku di lehernya. Dan menyambut kecupannya dengan menjepit bibirnya. Lalu kusedot lidahnya ke dalam mulutku.
Cukup lama aku melakukan ini semua. Sehingga bola mata bundar Frida tertutup kelopaknya. Mungkin dia sedang menghayati sesuatu yang teramat indah ini.
Beberapa saat kemudian aku berlutut sambil memeluk sepasang kaki indah Frida. Sepintas aku seperti sedang menyembahnya. Padahal saat itu aku ingin menurunkan celana dalam yang masih melekat di tubuh Frida. Lalu hal itu kulakukan. kupelorotkan celana dalam putih bersih itu sampai terlepas dari sepasang kaki Frida.
Dan aku dibuat terlongong lagi ketika menyaksikan sebentuk kemaluan yang tampak cantik sekali. Kemaluan yang tidak berjembut sehelai pun. Sehingga yang nampak hanya garis lurus dari atas ke bawah. Sungguh rapat pertemuan sepasang bibir luarnya, seolah tiada lubang di baliknya.
Aku pun menciumi kemaluan Frida dengan sepenuh gairahku. Namun aku tak mau membuat Frida stress. Lalu aku bangkit lagi sambil bertanya, “Memekmu pakai wax?”
“Apa itu wax?” Frida balik bertanya.
“Semacam lem yang cepat mengering, yang bisa mencabut jembut sampai ke akar-akarnya.”
Frida malah ketawa kecil, lalu berkata, “Sejak kecil sampai sekarang memekku gak pernah ditumbuhi rambut sehelai pun. Aneh ya. Jadi aja memekku seperti memek anak kecil.”
“Ohya?! Waaaah… itu suatu kebetulan yang luar biasa.”
“Kenapa? Gak senang memek yang gak ada jembutnya?”
Aku jadi ingat pengakuan seorang pembantu di rumah Mama dahulu. Bahwa dia tidak pernah mengalami apa yang disebut menstruasi alias datang bulan. Menurutku, hal itu sebagai suatu kelainan.
Apa yang dialami oleh Frida juga lain dari yang lain. Tapi kelainan yang satu itu justrui menyenangkanku…!
“Justru aku senang sekali,” sahutku, “senang pada memek yang gak ada jembutnya. Jadi gampang waktu menjilatinya… gak terganggu oleh jembut yang bisa copot dan tertelan.”
“Duh yang udah banyak pengalaman…”
“Banyak sih nggak. Cuma pernah aja,” sahutku berusaha jujur, meski tidak sepenuhnya jujur.
Untungnya Frida tidak mempermasalahkan.
Lalu kulepaskan celana dalamku. Dan kami mulai mandi dengan air hangat yang terpancar dari shower di atas kepala kami. Frida pun tak menolak waktu disabuni olehku. Namun matanya berkali-kali memandang ke arah penisku yang ngaceng berat ini. Tanpa komentar.
Justru aku yang berkata pada waktu sedang menghanduki tubuh perfect Frida, “Sekarang di anrtara kita berdua tiada rahasia lagi ya. Aku sudah tau bentuk tubuhmu dari ujung kaki sampai ke ujung rambutmu, kamu pun sudah tau bentuk tubuhku.”
“Iya. Rasanya seperti dalam mimpi aja. Kita baru dikenalkan tadi pagi, sekarang sudah telanjang berdua.”
Sebagai tanggapan, kupijit hidung mancung meruncing Frida sambil berkata, “Masalahnya, aku harus yakin secepatnya, bahwa kamu benar-benar akan menjadi milikku, Sayang.”
Frida tersenyum. Lalu mengenakan kimono putihnya sambil berkata, “Keputusan Tante Yun menjodohkan kita sangat tepat ya.”
“Iya,” sahutku, “Meski pun aku anak tirinya, aku sangat menghormati dan menyayangi beliau.”
“Bang…”
“Ya?”
“Bang… aku lapar nih.”
“O my God…! Aku yang sedang dimabjuk cinta ini sampai lupa makan! Kita baru makan satu kali ya! Ya udah kita cari rumah makan yang dekat-dekat aja. Tapi pakai baju lagi yang pantas. Masa mau pake kimono?”
“Iya tentu aja. Masa ke luar pake kimono,” sahut Frida sambil duluan melangkah keluar dari kamar mandi.
Tak lama kemudian Frida tampak sudah mengenakan celana jeans dan blouse tangan panjang berwarna hijau pucuk daun polos. Aku pun sudah mengganti celanaku dengan celana denim hitam dan baju kaus berwarna hitam juga.
Kemudian kami mencari rumah makan yang tidak terlalu jauh dari kompleks villa itu.
Sampai akhirnya kami putuskan untuk makan di sebuah rumah makan chinese food halal, yang letaknya tidak sampai 5 kilometer dari kompleks villa itu.
Sementara itu sikap Frida jadi “nempel” terus padaku, seolah-olah sikap pengantin perempuan kepada pengantin pria di masa bulan madunya. Dan aku bersikap biasa-biasa saja, seolah tiada sesuatu yang lain dari biasanya. Tapi tahukah Frida bahwa “sesuatu” mengeras terus di balik celanaku, karena membayangkan bentuk memek Frida yang kulihat jelas di kamar mandi tadi?
Apakah dengan ngacengnya terus penisku ini sesuatu yang brengsek atau memang hal yang normal-normal saja? Entahlah. Yang jelas aku terus-terusan membayangkan betapa nikmatnya kalau penisku ini diteroboskan ke dalam memek Frida yang luar biasa cantiknya itu. Ngocoks.com
Karena itu pada waktu makan pun aku melamun-lamun terus. Membayangkan bagaimana nikmatnya jika aku menyetubuhi Frida. Namun aku berusaha untuk bersikap wajar-wajar saja. Lalu kuhabiskan makanan yang sudah terhidang di atas meja makan restoran chinese food yang memiliki label halal itu (mungkin pemiliknya seorang mualaf).
Namun setelah berada di villa lagi, setelah Frida mengenakan kimono lagi… aku tahu apa yang Frida lakukan. Bahwa bra dan celana dalamnya tidak dikenakan. Ia hanya mengenakan kimono itu. Mungkin ia sudah terbiasa seperti itu. Bahwa pada waktu mau tidur, biasa tidak mengenakan bra maupun CD. Dan aku tahu, banyak wanita yang terbiasa seperti itu, antara lain ingin agar pernafasannya tidak terganggu pada waktu tidur.
Namun ketika Frida merebahkan diri di sampingku yang sudah mengenakan baju dan celana piyama, aku menyambutnya dengan ucapan, “Ini untuk pertama kalinya tidur bersama cowok ya.”
“Iya, “Frida mengangguk. Lalu merebahkan diri di sampingku.
“Ohya… kamu di Jakarta tinggal di rumah saudara ya?”
“Iya. DI rumah anak saudara sepupu Mama.”
“Keponakan Tante Ken?”
“Iya. Suaminya seorang pengusaha sukses. Tapi usianya yah… seperti papamu dengan Tante Yun gitu.”
“Jadi kamu dengan siapa nama anak saudara sepupu mamamu itu?”
“Nora.”
“Nah… jadi kamu dengan Nora itu sepupu dua kali ya.”
“Iya. Dalam bahasa Sunda sih disebut sabrayna mindo. Kalau Mama dengan ibunya Nora disebut sabrayna teges.”
“Wow… kamu ngerti bahasa Sunda segala.”
“Almarhum Papa kan orang Sunda.”
“Ooo… pantesan.”
Jadi yang ditempati oleh Frida di jakarta itu rumah keponakan Tante Ken. Berarti keponakan Mamie juga.
Lalu kami terdiam. Tapi tanganku tidak terdiam. Aku mencoba-coba dulu merayapkan tanganku ke balik kimono Frida bagian dadanya. Sampai menyentuh payudaranya yang masih padat mancung itu.
Frida diam saja. Tapi ketika tanganku mulai mempermainkan puting payudaranya, suhu badan Frida terasa menghangat. Bahkan kemudian Frida mencium bibirku, sementara tanganklu sudah menuruni perutnya, kemudian menjamah kemaluannya. Dan… :
“Frid…”
“Hmm?”
“Aku pengen jilatin memekmu… boleh nggak?”
“Iiiih… dengernya aja merinding.”
“Tapi enak lho. Kamu bakal merasakan orgasme tanpa bersetubuh. Berarti kamu akan tetap perawan.”
“Emang Abang gak jijik jilatin memek segala?”
“Kalau buat cewek yang kucintai sih, taik ayam juga jadi rasa coklat.”
“Emangnya bagi Abang apa enaknya jilatin memek?”
“Mencium bibir dan menjilati lidahmu saja terasa enak sekali. Apalagi menjilati bibir yang di bawah perutmu itu. Boleh ya?”
“Terserah Abang…” sahut Frida hampir tak terdengar.
Ooo senangnya hatiku mendengar ucapan Frida itu. Membuat semangatku bangkit, untuk merayapi paha putih mulusnya, sekaligua menciuminya. Sementara Frida terdiam pasrah.
Dan ketika aku menelungkup di antara sepasang paha Frida yang sudah kudorong supaya lebih terbuka, aku menghadapi memek Frida yang plontos alamiah itu.
“Ini sih memek bidadari, bukan memek anak kecil,” kataku sambil mengusap-usap kemaluan Frida yang agak tembem namun segalanya tersembunyi di balik pertemuan dua bibir vagina yang merapat dan tampak seperti garis lurus dari atas ke bawah itu
“Garis” lurus itu mulai kujilati sambil membukanya dengan kedua tanganku secara hati-hati.
Sedikit demi sedikit bagian yang tersembunyi itu pun mulai kelihatan. Bibir luarnya yang terlipat ke dalam dan bibir kecilnya yang berwarna pink serta bagian yang seperti tumpukan telur ikan arwana itu… wow… luar biasa menggiurkannya. Terlebih lagi setelah melihat kelentitnya yang menonjol dari selubungnya dan berada di bagian paling atas itu…
Begitu ujung lidahku menyentuh bagian yang berwarna pink itu, terasa paha Frida mengejut sekejap. Tapi lalu terdiam, membiarkan lidahku semakin leluasa menjilati bagian dalam memeknya yang terasa masih “serba lengkap” ini.
Kalau diibaratkan rumah, kemaluan Frida ini masih lengkap perabotannya. Ada meja, kursi, lemari, tempat tidur, kulkas, kompor, microwave dan sebagainya. Hihihihiiii…!
Dan kini memek yang “serba lengkap” itu sedang kujilati dengan lahap. Tak peduli lagi apakah semua ini terlalu cepat atau memang zamannya yang sudah serba cepat, sehingga aku tak mau membuang kesempatan selagi ada.
Sementara itu Frida pun mulai menggeliat-geliat sambil menahan-nahan nafas dan berdesah-desah dan merintih-rintih merintih, “Bang Saaam… aaaa… aaaaah… Baaaang… aaaaa… aaaaah… Baaaang… Baaaang… aaaaaa… aaaaaaahhhh…”
Terlebih setelah aku mulai fokus untukmjenjilati kelentitnya yang nyempil di atas celah memeknya… Frida semakin gedebak-gedebuk sambil meremas-remas rambutku…
“Baaaang… dudududuuuuh… ini enak sekali Baaaaang… aaaaaah… Baaaaang… enak banget Baaaaang… aaaah… aaaaa… aaaaaahhhhhh…”
Di antara desahan dan rintihan itu, diam-diam aku mengamati bagian dalam kemaluan Frida itu. Dan aku yakin pengakuan Frida itu benar. Bahwa ia masih perawan. Aku memang bukan dokter. Tapi minimal aku sudah punya pengalaman sebelum dan sesudah mengambil keperawanan Mbak Ayu. Rasanya celah kemaluan Frida ini malah lebih rapat daripada celah memek Mbak Ayu.
Lalu apakah aku akan memecahkan keperawanan Frida ini?
Kalau menuruti nafsu sih mau aja langsung kueksekusi putri Tante Ken ini. Tapi aku belum mau melakukannya malam ini. Entahlah di hari-hari berikutnya, mungkin saja aku akan melakukannya.
Karena itu, setelah Frida berkelojotan dan terkejang-kejang, aku merasa sudah cukup waktunya untuk “pengenalan” ini. Meski nafsu birahiku belum terpuaskan.
Setelah mencuci kemaluannya, Frida yang sudah berkimono lagi, menghampiriku kembali dan langsung menghimpitku dengan gaya manja.
“Gimana? Enak kan?” tanyaku sambil mendekap pinggangnya.
“Luar biasa. Gak nyangka… baru dijilatin aja sudah kayak gitu rasanya. Apalagi kalau bersetubuh beneran kali ya…”
“Semuanya akan kamu rasakan nanti, Sayang,” sahutku sambil mencium pipinya.
Biarlah, untuk sementara segitu juga sudah cukup jauh bagi Frida.
Tapi sampai kapan aku bisa bertahan terus tanpa melakukan penetrasi? Bukankah pernikahanku dengan Frida masih berbulan-bulan lagi?
Apakah aku akan mampu bertahan sampai Frida resmi menjadi istriku?
Entahlah…
###
Atas petunjuk Frida, kubelokkan mobilku ke pekarangan rumah yang nyaris tak kalah megah kalau dibandingkan dengan rumah utama Mamie.
Lalu muncul seorang wanita muda dari ambang pintu depan dan berdiri di teras.
“Nah, itu Nora,” kata Frida sebelum turun dari mobilku.
Sedangkan aku malah menggesek-gesek mataku sendiri setelah memperhatikan wanita muda bergaun batik itu. Apakah aku tak salah lihat?
Akhirnya aku turun dari mobil dan menghampiri Frida yang sedang berhadapan dengan wanita yang kata Frida saudara sepupunya itu.
Dan… wanita muda itu terkejut setelah melihatku datang. Menunjukku sambil berseru, “Sammy?!”
“Iya… kamu Eleonora kan?”
“Iyaaa… !” wanita yang tak lain mantan teman sekelasku di SMA itu memburu dan memelukku. Sementara Frida tampak kebingungan.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Frida.
“Iya. Dia ini Sammy, teman sekelasku di SMA, Frid,” sahut Eleonora yang cuma disebut Nora saja oleh Frida.
Lalu kami dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu.
“Jadi Bang Sammy ini calon suamiku Nor,” ucap Frida membuka pembicaraan.
“Iya. Tadi aku sudah menerima telepon dari mamamu, Frid. Dan pernikahan kalian akan dilaksanakan sekitar empat bulan lagi kan?”
“Iya,” sahut Frida, “Nora hadir nanti di resepsi pernikahan kami ya. “
“Tentu saja aku akan hadir,” sahut Eleonora, “Tapi suamiku mungkin gak bisa hadir. Dia baru saja tadi pagi terbang ke London. Mungkin sekitar setahunan dia akan berada di sana. “
“Ohya?! Urusan bisnis?”
“Iya. Apalagi kalau bukan urusan bisnis. Dia kan orang swasta. Bukan pejabat negara. “
Aku hanya jadi pendengar yang baik di tengah percakapan Eleonora dengan Frida itu.
Sebenarnya diam-diam aku sedang menerawang masa laluku, tepatnya masa SMAku. Masa ketika Leonora sering traktir aku makan di kantin, makan di warung bakso dan bahkan sering juga traktir makan di restoran yang tergolong mahal di kotaku.
Tak cuma itu. Leonora pernah nembak aku. Terang-terangan menyatakan suka padaku. Tapi secara halus kujawab, “Kita masih di SMA, Nor. Mendingan kita konsen ke sekolah aja dulu. Nanti kalau kita sudah sukses dalam pendidikan, barulah mikirin masalah itu. “
Mungkin Eleonora kecewa. Tapi dia tetap menjadi teman baikku.
Dan setelah ujian, Eleonora menghilang dari pantauanku. Bahkan waktu pesta perpisahan pun dia tidak hadir. Lalu aku bertanya ke sana-sini. Tapi tidak ada yang tahu di mana Eleonora berada, karena rumahnya pun jadi kosong dan ada papan bertuliskan Rumah dan Tanah ini akan Dijual. Aku hanya mendengar kabar selentingan bahwa Eleonora dan orang tuanya sudah pindah ke Jakarta.
Lalu putuslah komunikasiku dengan mantan sahabatku yang bernama Eleonora itu.
Lalu… tahu-tahu kini berjumpa dalam suasana yang sudah berubah. Bahwa Eleonora sudah menjadi istri seorang pengusaha, sementara aku pun sudah dipersiapkan untuk menikah dengan Frida.
Tiba-tiba Leonora menoleh padaku dan membuyarkan terawanganku mengenai dirinya, “Jadi Tante Yun itu ibu sambungmu, Sam?”
“Iya,” sahutku.
“Tau gitu, aku bakal main ke rumah Tante Yun,” kata Leonora lagi.
“Tapi aku tinggal di rumah Tante Ken,” sahutku.
Frida menyambung ucapanku, “Rumah itu disediakan oleh Tante Yun buat Bang Sam. Mama cuma menunggui aja di sana. “
Aku tidak terlalu kaget mendengar ucapan Frida itu. Karena secara tersamar Mamie sudah mengucapkan hal itu.
“Kalau kalian sudah menikah kan jadi rumah bersama,” kata Leonora sambil menoleh ke arah Frida, “Sam ini sahabat paling dekat denganku semasa masih di SMA dahulu, Frid. “
“Tapi tadi di jalan aku sempat nyebut-nyebut nama Nora. Kok Bang Sam gak bilang kalau Nora itu sahabat waktu di SMA?” Frida menatapku.
“Lho… tadi yang disebut cuma Nora aja. Yang namanya Nora kan banyak. Tapi kalau nyebut nama Leonora, pasti aku tanya seperti apa saudara sepupumu itu,” sahutku.
“Hihihihiii… aku malah baru ngeh sekarang ka;lau nama lengkap Nora itu Leonora,” sahut Frida.
“Ya udah, “sela Leonora, “yang jelas sekarang aku tahu bahwa Frida bakal nikah dengan sahabat seSMAku. Aku senang sekali mendengarnya. Semoga acara pernikahannya berjalan lancar ya. “
“Amiiin…” sahutku berbarengan dengan Frida.
Sejam kemudian, barang-barang Frida sudah diangkut semua ke dalam mobilku. Lalu kami pun pamitan kepada Eleonora, setelah disuguhi makan dulu di rumah megah itu.
“Nggak nyangka Eleonora itu masih saudara sepupumu,” kataku waktu mobilku sudah berada di jalan aspal, “Sekarangf sudah menikah pula dengan pengusaha tajir. “
“Iya, tapi usia suaminya itu kira-kira sebaya dengan papamu,” sahut Frida.
“Waktu menikah dengan Frida, apakah suaminya bawa anak?”
“Ada anaknya seorang. Cewek dan usianya lebih tua daripada Nora. Sudah menikah pula. Sementara Nora sampai saat ini belum punya anak. Ohya… Nora itu usianya lebih tua apa lebih muda dari Abang?”
“Tua dia setahun. Jadi sekarang usianya hampir duapuluhsatu tahun. “
Lalu hening. Hanya bunyi mesin mobilku yang terdengar sayup-sayup. Lalu iseng kuhidupkan musik. Lagu-lagu campuran Martin Garrix, Ed Sheeran, Avicil, Sia, Bruno Mars dan sebagainya.
Frida pun mulai tampak ketiduran. Sementara aku teringat “kejadian kecil” di rumah Eleonora tadi. Bahwa ketika Frida berada di dalam kamarnya yang akan ditinggalkan, Eleonora sempat berkata setengah berbisik, “Ternyata kita bakal jadi saudaraan ya. “
“Yah, namanya kelahiran, jodoh dan kematian kan rahasia Allah,” sahutku.
“Tapi aku gak bisa melupakanmu, tau?” cetus Eleonora sambil mencubit perutku.
Aku agak kaget. Takut ketahuan Frida yang sedang berada di kamarnya di lantai atas.
Lalu dengan serius Eleonora meminta tukaran nomor hape. Kukabulkan saja permintaannya itu.
Tak lama kemudian Frida tampak menuruni tangga menuju ruang tamu. Eleonora pun bersikap seperti tidak ada apa-apa.
Eleonora memang cantik. Tapi kalau dibandingkan dengan Frida, mesih cantikan Frida. Namun masalahnya Eleonora membangkitkan kenangan masa laluku. Dan kebaikan-kebaikannya akan tetap kuingat di sepanjang hidupku.
Walau begitu aku menggebrak batinku sendiri. Tidak! Mungkin pertemuanku kembali dengan Eleonora itu cuma godaan belaka! Kali ini aku harus teguh dan tahan banting menghadapi godaan, minimal sampai rencana pernikahan itu terwujud.
Kali ini jalanan lumayan lancar. Menjelang malam kami sudah tiba di Rumah Cinta.
Tante Ken tampak senang melihat kami berdua sudah pulang. Bahkan setelah makan bersama di ruang makan, Tante Ken berkata, “Mulai sekarang Sam jangan manggil tante lagi. Panggil mama aja ya, biar kompak dengan Frida. “
“Iya Tan.. eh Mam…” sahutku sambil tersenyum.
Dan ketika Frida masuk ke dalam kamarnya dulu, aku berbisik ke dekat telinga Mama Ken, “Di belakang Frida Mama Ken juga harus manggil papa padaku ya. “ Ngocoks.com
“Nggak ah. Jangan cari masalah. Sam kan mau nikah dengan Frida. Biasanya kalau mau nikah gitu suka banyak godaan. Makanya istirahat dulu yang aneh-anehnya Sam,” sahut Mama Ken setengah berbisik.
Aku terdiam.
Mama Ken berkata lagi, “Sekarang fokuslah kepada Frida seorang, ya Sam. Kita malah harus sama-sama berdoa agar perkawinan kalian berjalan lancar. Doakan juga Mamie, agar usahanya semakin sukses, karena pesta pernikahan kalian nanti seratus persen dibiayai oleh Mamie. “
“Amiiin…” sahutku datar.
Lalu aku bangkit menuju ke washtafel. Cuci tangan sebentar, lalu melangkah ke lantai atas, ke dalam kamarku.
Aku melepaskan sepatu dan kaus kaki, lalu merebahkan diri di atas bed tanpa mengganti pakaian bekas perjalanan dari Jakarta tadi. Sementara pintu kamarku dibiarkan tidak terkunci. Tapi AC tetap kuhidupkan.
Letih dan pegal-pegal juga rasanya nyetir dari Jakarta tadi. Mungkin aku harus cepat tidur supaya pegal-pegal ini bisa hilang sendiri nanti.
Dan aku benar-benar tertidur nyenyak sekali, meski hari belum terlalu malam.
Aku baru terbangun keesokan paginya, ketika terasa ada yang memelukku dari belakang. Ternyata Frida.
“Aaah… ternyata ada bidadariku di sini…” ucapku sambil duduk dan menggeliat.
“Ini aku udah ketiga kalinya lho masuk ke sini. Tapi Abang tampak nyenyak sekali tidurnya. Gak tega aku banguninnya. Capek abis nyetir ke Jakarta PP ya Bang. “
“Iya sih,” sahutku, “Ini udah jam berapa? Waaah… jam dinding abis batrenya tuh. Dari kemaren jam sebelas terus. “
“Jam dindingnya gak mati Bang. Sekarang memang udah jam sebelas,” kata Frida sambil tersenyum.
Aku terkejut, “Haaaa?! Berarti aku tidur sampai belasan jam… !”
“Iya. Emang Bang Sam biasa tidur sampai belasan jam gitu?”
“Nggak. Baru sekali ini. Biasanya paling lama delapan jam. Aku mau mandi dulu ya. “
“Iya Bang. Perlu kusabunin? “
“Nggak usah. Kalau gak keberatan sih siapin makan aja. Terus siap-siap keluar. Pengen ngajak kamu ke mall. “
“Emang gak ada kuliah lagi Bang?”
“Nggak. Kuliahku udah selesai. Tinggal nunggu sidang skripsi aja. “
“Abang hebat. Belum duapuluh tahun udah mau jadi sarjana. “
“Anak teman Papa jauh lebih cepat lagi. Usia delapanbelas sudah S3. “
“Aaah, masa sih? “
“Serius. Ayahnya kerja di Inggris. Anaknya sekolah di Amerika, karena di Inggris tidak ada program untuk anak-anak jenius begitu. Setelah S3, dia langsung direkurt oleh NASA. “
“Hebat. Waktu diwisuda, mungkin dia yang paling muda ya Bang. “
“Nggak. Dia bilang ada yang usianya baru enambelas, diwisuda bareng dengan dia. Anak dari Jepang. “
“Yang anak teman papa Abang itu asli orang Indonesia?”
“Iya. Orang dari Tapanuli. “
“Gila ya. Gak kebayang… sembilanbelas tahun udah S3. “
“Kalau di negara kita sekolahnya, gak mungkin bisa begitu. Masuk SD aja harus tujuh tahun sekarang. Dulu aku dari kelas tiga naik ke kelas lima. Lalu kelas lima ikut ujian. Lulus. Tapi sama Papa dilarang mendaftar ke SMP dulu. Harus duduk di kelas enam dulu, lalu ikut ujian lagi. Kalau terlalu muda masuk SMP nanti bisa rusak otakmu, kata Papa.
“Terus Abang mulai kuliah umur berapa?”
“Enambelas. “
“Kalau masuk SMP mengikuti hasil ujian waktu kelas lima itu, mungkin Abang udah kuliah sejak umur limabelas ya. “
“Iya. Mungkin harusnya setahun yang lalu aku udah S1. Tapi mungkin semuanya sudah tertulis begitu dalam takdirku. Sehingga aku bisa berjumpa dengan cewek cantik bernama Frida ini…” ucapku sambil mengecup pipi Frida, “Oke… aku mau mandi dulu ya. “
“Iya Bang. Aku mau nyiapin makan buat Abang. “
Sesaat setelah selesai makan, aku dan Frida sudah berada di dalam mobilku. Saat itu aku hanya mengenakan pakaian seperti mau berolahraga, celana pendek dan baju kaus serba putih, yang kata Frida “kelihatan sexy”. Sepatu yang kukenakan pun putih bersih. Sementara Frida mengenakan gaun terusan mini berwarna hijau tosca.
“Pernah mempelajari mitologi Yunani?” tanyaku di belakang setir mobilku.
“Cuma sebagian kecil,” sahutnya.
“Pernah membaca kisah dewa cinta dan dewi nafsu?”
“Cupido dan Psyche maksudnya?”
“Iya. Kata psikologi yang kita gunakan sekarang berasal dari nama dewi Psyche itu. Tapi aku bukan mau membahas masalah psikologi. Aku hanya mau bilang, cinta itu selalu diiringi oleh nafsu. “
“Iya. Terus?”
“Di antara kita sudah gak ada rahasia lagi. Aku sudah hafal bentuk sekujur tubuhmu. Bahkan vaginamu sudah kuhafal dengan jelas sekali. “
“Iya. Cuma aku masih takut-takut megangin penis Abang. “
“Nantinya kan bakal dimasukkan ke dalam vaginamu Beib. “
“Iya Bang… aku mau bicara jujur ya… “
“Iya, jujurlah. Kenapa?”
“Waktu abang jilatin vaginaku… itu luar biasa nikmatnya Bang. “
“Iya. Apalagi ML… jauh lebih nikmat lagi. “
“Justru itu Bang. Hatiku jadi sering berdesir-desir… ingin merasakan seperti apa enaknya kalau kita melakukan ML yang sebenarnya. “
“Ya udah… kita ML sekarang. “
“Di mana? Di mobil ini? Jangan ah…”
“Ya nggak lah. Masa di mobil. Aku kan punya hotel. “
“Jangan di hotel Abang. Hotel itu kan belum dibuka. Takut mengakibatkan dampak buruk pada hotelnya kelak. “
“Ya udah. Kita pakai hotel yang bersatu dengan mall itu saja. “
“Terserah Abang. Yang penting aman. “
“Tapi nanti keperawananmu hilang. “
“Nggak apa. Abang kan mau mengawiniku. Tapi jangan hamil dulu. Kalau udah nikah sih silakan aja hamili aku juga gak apa-apa. “
“Santai aja Beib. Coba buka laci dashboard itu… ada dua strip pil di situ,” kataku.
Frida membuka laci dashboard di depannya itu. Lalu mencari-cari sesaat. Dan menemukan tablet yang kumaksudkan. “Yang ini Bang?” tanyanya sambil menunjukkan kedua strip pil kontrasepsi itu.
“Iya. Itu pil kontrasepsi. Baca saja petunjuknya di aturan pakainya. “
“Ini pil anti hamil?”
“Iya. Aku sengaja menyediakannya, karena aku tak ingin kamu langsung hamil setelah kita menikah sekali pun. Supaya kamu bisa tetap kuliah, jangan dulu dipusingin dengan urusaan bayi. “ Ngocoks.com
“Baguslah kalau Abang sudah menyiapkan pil anti hamil segala. Kayak Nora juga udah tiga tahun leboih menikah, sampai sekarang belum hamil. Jadi dia bisa leluasa berbisnis. Tidak mau menengadahkan tangan pasa suami terus walaupun suaminya tajir melintir juga. “
“Iya. Dengan adanya program KB, kita bisa mengatur sendiri, supaya jangan hamil dulu sebelum kita siap. Kalau sudah merindukan kehadiran anak, barulah kita stop dulu KBnya. “
“Iya Bang. Aku setuju pada pendapat Abang itu. “
Aku terdiam. Aku sedang berpikir di hotel mana mau cek in nanti. Yang aku tahu, di kotaku bukan hanya mall langgananku yang punya hotel terpadu dengan mall itu. Masih ada mall lain yang punya hotel juga, yang levelnya lebih bagus. Aku akan memilih hotel di mall lain. Karena hotel yang bersatu dengan mall langgananku itu pasti akan membuatku teringat pada segala yang pernah kulakukan bersama Mama.
Dalam mall itu kupersilakan Frida untuk mengambil barang yang dibutuhkannya. Tapi Frida hanya mengambil sehelai kimono saja. Untuk di hotel nanti, katanya. Aku pun membeli handuk dan alat mandi lainnya. Karena aku suka takut-takut memakai handuk hotel. Siapa tahu pernah dipakai oleh orang yang sudah terkontaminasi virus, yang bisa menular lewat handuk dan sisir.
Namun di dalam mall itu ada sesuatu yang membuatku cemburu. Banyak sekali cowok yang memandang Frida dengan sorot kagum. Bahkan sayup-sayup aku mendengar ada yang berkata kepada temannya, “Cewek yang baju hijau itu cantik sekali ya?”
Lalu terdengar sahutan, juga sayup-sayup sampai ke telingaku, “Mungkin artis brow. “
Kalau Frida tidak sedang bersamaku, mungkin banyak yang berani menggodanya. Jujur, aku jadi cemburu. Namun dari cemburu itu si dede mendadak bangun di balik celana pendekku.
Karena itu aku buru-buru mengajak Frida ke hotel.
Tak sulit mendapatkan kamar di hari Senin begini. Tidak seperti di hari-hari weekend.
Ternyata kamar di hotel ini lebih berkualitas jika dibandingkan dengan hotel yang sering kupakai dengan Mama. Maklum hotel ini berbintang empat.
Meski tarifnya lebih mahal, aku senang melihat keadaan di dalam kamarnya. Serba nyaman dan serba keren. Kebersihannya pun tampak sangat terjaga.
Frida langsung masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa kimono yang baru dibeli tadi. Pasti dia akan ganti pakaian dulu. Sementara aku hanya melepaskan sepatu dan kaus kaki putihku.
Tak lama kemudian Frida muncul kembali dari kamar mandi, mengenakan kimono berwarna orange yang baru dibelinya tadi.
Untuk kesekian kalinya aku dibuat terlongong oleh Frida. Karena di dalam pakaian apa pun dia tetap cantik dan menawan. Memang tak salah kalau di mall tadi banyak sorot mata lelaki yang memandang Frida dengan sorot kagum. Dan pesona Frida itu pula yang membuatku berdesir cemburu. Bahkan ada perasaan takut ada yang mencuri dariku.
Dan untuk meyakinkan hatiku bahwa Frida benar-benar akan menjadi milikku, mungkin aku harus segera mengesekusinya. Agar aku tenang dan yakin bahwa Frida benar-benar sudah menjadi milikku, meski aku belum menikah dengannya.
Maka kusambut kemunculan Frida dengan memasukkan tanganku ke belahan kimononya. Langsung ingin membuktikan apakah dia mengenakan celana dalam atau tidak.
Ternyata Frida tidak mengenakan celana dalam, seperti dugaanku sebelum menyentuh kemaluannya yang tembem dan bersih licin ini.
Tiba-tiba Frida memelukku erat-erat. Dan berkata setengah berbisik, “Aku degdegan lagi Bang. “
“Kenapa? Memangnya ada perasaan takut?” tanyaku.
“Gentar… bukan takut. “
“Santai aja Beib. Kamu akan kuperlakukan laksana bidadariku. Kalau aku ini seorang raja, kamu akan kuperlakukan seperti permaisuriku.”
Kemudian lepaskan ikatan tali komononya, “Aku akan menjilati vaginamu dulu, seperti kemaren. Supaya penisku terlicinkan oleh lendirmu dan air liurku. Lalu kalau masih ada juga perasaan gentar, aku takkan melanjutkannya ke ML yang sebenarnya. Setuju?”
“Iya Bang. “
“Pokoknya aku takkan memaksakan kehendakku. Kalau kita sama-sama menginginkannya, aku akan melanjutkannya. Tapi kalau kamu masih merasa gentar, ngomong aja terus terang. Supaya aku tidak melanjutkannya. “
“Iya Bang. Aku mau semuanya mengalir saja seperti air dari hulu sampai ke muara. Aku percayakan semuanya kepada Abang. “
Bersambung…




