Setelah mandi, tubuhku terasa segar lagi…
Mengingat hari masih sore, aku mengajak Hen ke mal yang tidak begitu jauh dari hotel. Di mal itu sengaja kubeli celana sport, celana pendek putih dengan lingkaran elastis di bagian pinggangnya. Sekaligus juga membeli baju kaus putih dan sepatu olahraga yang juga putih.
Sementara Hen kubelikan celana jeans dan baju kaus berwarna hitam, sesuai dengan pilihannya sendiri.
Kemudian kami makan di food court mal itu.
Hari sudah mulai malam ketika kami kembali ke hotel.
Setibanya di hotel, kucoba celana sport dan baju kaus serta sepatu yang serba putih ini. Lalu bertolak pinggang di depan Mahendra. “Bagaimana? Pantas kalau tante mengenakan pakaian olah raga seperti ini?” tanyaku.
“Duh… Tante kelihatan seksi sekali,” sahut Hen.
“Masa sih?!”
“Betul Tante. Terutama celana pendeknya itu… memamerkan paha Tante yang putih mulus gitu…”
“Semua ini sengaja tante beli buat jalan-jalan ke hutan besok.”
“Sip Tante. Kalau ketemu orang-orang, pasti banyak yang menelan air liur… ngiler melihat Tante yang seksi gitu.”
“Tapi sebelum jam duabelas, harus sudah berada di hotel ini laghi. Karena waktu cek outnya jam duabelas. Kalau lebih… harus bayar semalam lagi.”
“Iya Tante. Besok jam delapan kita berangkat. Jam sebelas juga pasti sudah tiba di sini lagi. Hutannya gak jauh dari hotel ini kok. Setengah jam juga nyampe.”
“Ya udah,” sahutku. Sementara hatiku berkata, kalau pun terlambat pulang dari hutan itu, apa salahnya kalau besok aku menginap lagi semalam? Bukankah aku ingin menikmati kejantanan Mahendra sepuas mungkin? Lagian bukankah tarif hotel ini murah sekali?
Lalu kulepaskan celana sport dan baju kaus serta sepatu serba putih itu, untuk diganti dengan kimono lagi.
Tapi ketika aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam saja, Mahendra mendekap pinggangku dari belakang, sambil menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. Disertai bisikan, “Aku masih kepengan mengulang yang tadi Tante.”
“Katanya pengen ML di hutan. Kalau sekarang kamu setubuhin tante lagi, besok kamu kehabisan enerji buat ngentot tante lagi, Hen.”
“Dijamin besok masih kuat, Tante. Soalnya Tante ini terlalu menggiurkan buatku.”
Aku membalikkan badan. Meraba-raba celana jeans Hen tepat di bagian yang menyembunyikan penisnya, “Beneran besok kontolmu masih bisa ngaceng?”
“Dijamin masih bisa Tante. Terus terang, kalau aku sedang horny, aku bisa ngocok sampai lima kali sehari Tante. Apalagi kalau dikocoknya sama memek Tante… heheheheee… pasti bisa lebih rakus lagi… “Mahendra melorot dan berjongkok sambil menarik celana dalamku, sampai terlepas dari kakiku.
Sambil duduk di lantai, Mahendra menciumi kemaluanku yang tak bercelana dalam lagi ini, Sehingga aku yang sedang berdiri ini pun spontan merenggangkan jarak kedua kakiku, agar aksi Mahendra lebih leluasa.
Mahendra memang beraksi sesuai dengan dugaanku. Ia tetap duduk sambil menengadah ke arah kemaluanku, sambil memegang sepasang pahaku yang sudah mengangkang ini. Lalu lidahnya terjulur dan mulai menjilati celah kemaluanku, tak ubahnya seekor beruang yang sedang menjilati madu.
Memang enak dijilatin sambil berdiri mengangkang gini. Tapi hanya kuat beberapa menit, lalu kakiku terasa pegal.
Dan akhirnya kudorong dada Hen agar ia menelentang di atas karpet, sementara aku meberlutut sambil menurunkan memekku sampai tepat menempel ke mulut Hen.
Dalam posisi facesitting beginilah aku merasakan nikmatnya jilatan Mahendra.
Dalam tempo singkat saja liang kemaluanku terasa basah. Namun aku ingin melanjutkannya tanpa bergerak jauh-jauh. Aku mundur ke arah paha Hen dan menurunkan ritsleting celana panjangnya, kemudian celana panjang dan celana dalam Hen kupelorotkan, sampai batang kemaluannya yang sudah ngaceng itu tersembul mengacung ke atas.
Kupegang penis ngaceng itu sambil menurunkan memekku ke arah moncongnya. Setelah moncong penis Hen terasa menekan bagian dalam mulut vagina, kubetulkan lagi letaknya, agar tepat menuju ke arah liang memekku.
Lalu kuturunkan lagi pantatku sambil tetap memegang batang kemaluan Hen.
Dan… terasa penis Hen membenam ke dalam liang memekku.
Blesssss…! Terbenam sekujurnya, sampai terasa moncongnya mendesak dasar liang sanggamaku.
Mahendra diam saja, seperti menunggu aksiku selanjutnya.
Aku pun mulai mengayun pantatku naik turun sambil menaruh telapak tanganku di atas karpet, untuk menahan keseimbangan tubuhku. Dengan sendirinya penis Hen terasa jadi maju mundur di dalam jepitan liang memekku yang sudah basah licin ini. Gesekan demi gesekan penis Hen dengan dinding liang sanggamaku mulai membuatku terpejam-pejam saking nikmatnya.
Memang posisi WOT begini paling nikmat buatku. Karena dalam posisi begini, rahimku terasa turun dan sering bersentuhan dengan moncong penis. Saking enaknya, dalam posisi begini aku suka cepat orgasme.
Dalam posisi WOT ini aku bisa langsung “melayang” ke langit ketujuh. Langit yang penuh pesona, yang membuatku lupa daratan. Langit yang seolah ditaburi bunga-bunga surgawi diiringi tembang-tembang kahyangan.
Setiap gesekan antara penis Hen dengan liang sanggamaku membuat sekujur fisikku seolah dialiri denyut-denyut nikmat. Yang membuatku tak lagi mampu menahan rintihan-rintihan histerisku sendiri.
“Heeeen… oooooohhhhhh… Heeeeeen… Heeeen… ooooooo… ooooooh… Heeeen… Heeeen…”
Yang paling menyenangkan Mahendra tidak cuma celentang dan terdiam seperti patung. Meski berada di bawah, dia tetap mampu menggerak-gerakkan batang kemaluannya. Sehingga bisa dikatakan bahwa kali ini kami berdua sedang saling entot.
Sepasang payudaraku yang bergelantungan ini pun mulai ditangkap oleh Mahendra dan dielus-elus pentilnya. Membuatku merem-melek.
Namun semua ini membuatku jadi cepat sekali berada di puncak kenikmatanku.
Apalagi ketika jemariku dipakai untuk mengelus-elus kelentitku sendiri… aaah… akhirnya aku merengek lirih… “Hendraaaaa…! “sambil menghempaskan dadaku ke atas dada keponakanku.
Mahendra tetap mengentotku dari bawah. Tapi aku sudah ambruk di puncak orgasmeku.
Tubuhku terkulai lemas dalam kepuasan sedalam lautan.
Namun inilah salah satu kelebihan wanita. Setelah mencapai orgasme, hanya beberapa detik aku terkulai lesu. Lalu gairahku bangkit lagi.
Kupeluk Mahendra seerat mungkin, sambil menggulingkan badan ke samping, sampai akhirnya aku menelentang dan Mahendra menelungkupiku dengan batang kemaluan tetap berada di dalam liang sanggamaku.
Untungnya Mahendra cukup mengerti waktu sedang bergerak dan mengubah posisi ini. Tanpa kusuruh pun Mahendra mulai mengayun penis ngacengnya sambil memeluk leherku dan menciumi bibirku. Sementara aku sudah pulih kembali. Sudah bisa merasakan lagi nikmatnya entotan keponakanku.
Kali ini sepasang kakiku sengaja kuangkat dan melingkari pinggang Mahendra. Sehingga moncong penisnya terasa terus-terusan menyundul dasar liang memekku.
Aku pun lupa daratan lagi. Tak kuasa mengendalikan rintihan-rintihan nikmatku lagi. “Heeen… kontolmu kok enak sekali Heeen… ayo Heeen… entot terus sepuasmu Heeen… ooooh… iyaaaaaa… entot… entot terus Heeeen… aaaaa… aaaaah… enak sekali Heeeen…”
Makin lama makin nikmat saja rasanya. Sementara Mahendra mulai bersimbah keringat lagi. Maklum kamar hotel ini tidak ada ACnya. Hanya dipasangi kipas angin yang tidak mampu menurunkan temperatur di kamar ini.
Namun dalam keadaan sedang menyalurkan nafsu birahi ini, kami tak peduli apa pun. Yang kami pedulikan hanya pergesekan di antara kontol Hen dengan dinding liang memekku.
Sementara Hen sudah mulai pandai “melengkapi” kenikmatan persetubuhan ini. Sambil mempergencar entotannya, Hen masih sempat menyedot dan menjilati pentil toketku. Masih sempat menjilati leherku yang sudah keringatan ini. Bahkan masih sempat pula menjilati ketiakku yang selalu kuharumkan dengan deodorant dan parfum ini.
Aku pun membalasnya. Dengan menjilati pentil kecil di dada Hen. Terkadang kugigit-gigit juga lehernya, yang membuat Hen semakin gencar mengentotku.
Namun ketika aku mencium dan melumat bibir Hen, tak tertahankan lagi… aku mengelojot dan terkejang-kejang lagi di puncak orgasmeku yang kedua kalinya…!
Ini sangat menyenangkan. Meski aku lunglai setelah mencapai orgasmeku yang kedua, namun kali ini kutemukan sosok yang bisa kuanggap sebagai pengganti Sammy. Ngocoks.com
Ya… tadinya hanya Sammy yang mampu membuatku bisa merasakan multiple orgasme. Yoga hanya keren di ukuran penisnya saja. Namun tak pernah mampu membuatku orgasme berkali-kali. Bahkan terkadang Yoga sudah ngecrot pada saat aku baru “manasin mesin”.
Tapi kini aku telah mendapatkan Mahendra, yang ternyata sangat perkasa. Tak kalah dengan keperkasaan Sammy.
Setelah fisikku pulih kembali, kutawari Hen untuk mengganti posisi menjadi posisi anjing-anjingan alias doggy.
Hen langsung setuju saja. Tapi kuajak pindah ke atas bed, karena bersetubuh di atas karpet membuat punggungku gatel-gatel juga. Lagian persetubuhan yang paling perfect, tetap saja harus di atas kasur empuk.
Tapi terkadang bersetubuh di tempat lain memang perlu juga. Untuk menghilangkan kejenuhan.
Setelah aku menungging di atas tempat tidur, Hen membenamkan batang kemaluannya sambil berlutut di hadapan bokongku.
Dalam keadaan berlutut itulah Hen mengentotku lagi.
Cukup lama Hen bertahan dalam posisi ini. Sampai akhirnya penis Hen memuntahkan air maninya, berbarengan dengan orgasmeku yang ketiga kalinya…!
Crotcrot… croooot… crooooottttt… croooootttttt… crot… croooooooootttt…!
Lalu kami sama-sama terkapar. Sampai akhirnya tertidur dalam keadaan sama-sama telanjang.
Esokpaginya…
Setelah menyantap breakfast yang disediakan oleh hotel, kami pun bersiap-siap untuk jalan-jalan ke hutan seperti yang diceritakan oleh Mahendra kemaren.
Kukenakan celana sport, baju kaus dan sepatu yang serba putih itu.
Selesai berdandan, Mahendra memujiku terus, “Tante cantik dan seksi sekali mengenakan pakaian itu, “katanya sambil memegang kedua pangkal lenganku.
Yang dimaksud hutan tanaman obat-obatan itu adalah sebuah bukit yang terletak di belakang pabrik tempatnya Hen bekerja. Sekeliling bukit itu dipagar dengan pagar kawat berduri. Untuk memasuki hutan itu harus melewati pintu yang dijaga oleh dua orang satpam.
Tampaknya Hen cukup dikenal oleh kedua orang satpam itu. Mereka mempersilakan kami masuk dan langsung mendaki bukit itu lewat trap tembok cor yang sudah disediakan. Pasti pabrik itu yang membuat trap rembok agar bukitnya mudah untuk didaki.
Kalau dilihat dari jauh, bukit itu hanya tampak ditumbuhi oleh pohon-pohon pinus dan mahoni yang tinggi-tinggi menjulang. Tapi kalau dilihat dari dekat, di antara pohon-pohon tinggi dan kokoh itu banyak tanaman obat-obatan yang pendek-pendek. Dan aku tidak tahu apa saja nama pohon obat-obatan itu.
“Jadi obat-obatan yang diproduksi oleh pabrik itu berasal dari tanaman di bukit ini semua Hen?” tanyaku lugu.
“Owh nggak Tante. Tanaman obat-obatan di sini hanya untuk bahan penelitian. Untuk bahan produksi sih dikirim oleh perusahaan-perusahaan lain.”
“Ogitu ya. Hmm… memang indah pemandangan di sekitar bukit ini Hen,” ucapku sambil menggandeng pinggang Hen. Sambil merasakan suasana romantis di hutan yang tampak teratur rapi ini.
“Kita baru separuh jalan. Nanti di puncaknya lebih indah lagi Tante,” sahut Hen.
Aku tidak menyahut karena sedang merasakan suasana tenang… sunyi… lengang dan romantis. Memang ada bunyi kicau burung di kejauhan, seolah musik alam yang menentramkan perasaan.
“Hen…” ucapku setengah berbisik, “kita mau main di mana?”
“Nanti di puncaknya Tante. Ada gubuk di situ…”
“Kalau ada orang lain nanti gimana?”
“Nggak mungkin Tante. Sekarang kan sedang libur. Penelitian hanya dilakukan di hari kerja. Sedangkan orang luar tidak boleh memasuki hutan ini. Karyawan juga hanya beberapa orang yang diperkenankan memasuki hutan ini.”
“Suasananya memang romantis Hen.”
“Iya… kontolku udah ngaceng ni Tante,” sahut Mahendra sambil memijat celana training yang dipakainya, tepat di bagian anunya.
“Masa sih?!” aku jadi penasaran. Tangan kananku menyelinap ke balik celana training hitam yang Mahendra kenakan. Dan… kontol Mahendra benar-benar sudah ngaceng…!
Aku memaklumi hal itu. Karena Hen masih ABD (anak baru dewasa). Tentu saja fisiknya masih serba tokcer.
Itu pula yang membuatku senang dengan daun muda. Karena untuk menikmati kejantanan anak muda, tak usah payah-payah membangunkan nafsunya. Lewat percakapan saja penisnya bisa ereksi secara perfect.
###
Setibanya di puncak bukit itu, pemandangan di sekelilingku terasa lebih indah lagi. Bukit-bukit menghijau dan rumpun-rumpun bambu tampak jelas di pelupuk mataku. Dan yang paling menyenangkan, ada dangau (gubuk) yang terbuat dari besi. Atap dan dindingnya terbuat dari seng yang sudah dicat warna biru dikombinasikan dengan warna hijau.
Dindingnya hanya 75 centimeter. Tidak menutupi pemandangan di sekitarnya, meski aku sudah duduk di dalam dangau itu.
Satu-satunya “perabot” yang ada di dalam gubuk itu hanya sebuah dipan kayu jati. Membuatku langsung berimajinasi, bahwa Mahendra pasti akan menyetubuhiku di atas dipan kayu jati yang sudah dipelitur sampai mengkilap itu.
“Tante,” kata Mahendra setelah duduk berdampingan denganku di atas dipan jati itu, “Setiap kali duduk di sini, aku selalu membayangkan, seandainya Tante bisa kumiliki, akan kubawa ke puncak bukit ini. Dan ternyata khayalan itu menjadi kenyataan.”
“Tapi kalau mau main di sini sih jangan telanjang ya. Tante akan pelorotkan celana sport ini, kamu juga cukup dengan menurunkan celana trainingmu. Kamu tau gak? Tante hanya mengenakan celana sport ini, tanpa celana dalam di baliknya.”
“Ohya?! Berarti kita kompak Tante. Aku juga gak pakai celana dalam sekarang. Biar gampang… heheheee…”
Tanpa banyak basa-basi lagi aku menelentang di atas dipan jati ini, sambil menurunkan celana sportku sampai di lutut. “Tapi jilatin dulu memek tante ya. Biar gak sakit waktu dimasukin kontolmu yang gede itu,” kataku.
“Iya Tante. Aku senang sekali menjilati memek Tante yang harum ini,” sahut Mahendra sambil menelungkup di antara kedua kakiku yang kurentangkan sebisanya.
Lalu mulut Mahendra menyeruduk memekku, dengan lidah “menancap” di celah kewanitaanku. Dan lidah itu mulai beraksi, menjilati setiap bagian yang terjangkau. Membuatku mulai menggeliat-geliat saking enaknya.
Terdengar bunyi gemerisik dedaunan ditiup angin sepoi-sepoi. Menambah indahnya perasaanku yang sedang dimanjakan oleh birahi ini. Ditingkah oleh kicau burung-burung liar bersahut-sahutan di atas pohon mahoni yang tak jauh dari dangau berwarna hijau dan biru ini.
Baru sebentar Mahendra menjilati kemaluanku, terasa liang kewanitaanku mulai membasah. Makin lama makin basah. Sampai akhirnya aku berkata setengah berbisik, “Cukup Hen… masukin aja kontolmu…”
Mahendra pun menjauhkan mulutnya dari kemaluanku. “Iya Tante,” sahutnya sambil menurunkan celana trainingnya. Batang kemaluannya pun langsung menyembul di bawah perutnya. Tampak sudah benar-benar siap tempur.
Tadinya aku tak mau melepaskan celana sportku. Tapi “digantung” di sekitar lututku ini terasa mengganggu juga, karena aku kurang leluasa menggerakkan kakiku. Maka sebelum Hen menyodokkan penisnya, kulepaskan celana sportku dan kubiarkan tergeletak di lantai.
Sesaat kemudian, Hen sudah menjebloskan batang kemaluannya ke dalam liang sensitif-ku. Membuat mulutku ternganga namun mataku terpejam. Karena baru dibenamkan saja batang kemaluan Hen itu membuat geseran yang seolah menyetrum sekujur batinku.
Terlebih setelah penis brondong itu mulai memompa liang kewanitaanku. Ooooh… untuk yang kesekian kalinya Mahendra membuatku tergeliat-geliat dalam nikmat. Sementara angin pun mulai terasa kencang dan menerpa wajah serta rambutku.
Aku tak peduli lagi. Bahkan seandainya pohon-pohon mahoni itu tumbang pun, aku tak peduli lagi.
Aku hanya peduli pada gesekan demi gesekan kontol Mahendra ini. Yang benar-benar membuatku seolah dialiri tenaga listrik tegangan rendah. Membuat syaraf-syarafku berdenyut di sana-sini.
Aduhai… adakah nikmat melebihi yang sedang kurasakan ini?
Aku pun merintih dan merengek manja, seolah anak kecil yang sedang sedang digelitik. Namun aku tetap mengontrol diriku sendiri. Aku hanya berani merintih perlahan sekali… karena takut ada orang lain di luar gubuk yang akan kukenang di seumur hidupku ini.
“Heeen… aaaaa… aaaaah… kontolmu memang perkasa Heeen… ayo entot terus Heeeen… entot terus… aaaaa… aaaaah… ini enak banget Heeeen… iyaaaaa… iyaaaa… iyaaaaaaaaa… entot terus Heeen… entot… iyaaaa… entot terus Heeen… selomotin juga pentil tetek tante Heeen… iyaaa…
Aku memang sudah lupa daratan. Seolah sedang berada di alam lain. Alam pemanjaan birahi yang luar biasa indahnya. Setiap sentuhan Mahendra selalu saja membuat nikmat tersendiri. Bahkan ketika ia menjilati ketiakku, membuatku merinding dari bulu-bulu halus di betis sampai ke tengkukku.
Terlebih dengan tiupan angin yang masuk ke dalam gubuk ini. Gubuk yang dindingnya hanya beberapa sentimeterdi atas dipan jati ini.
Dan langit tampak mulai mendung. Sepertinya bakal turun hujan. Angin pun semakin terasa berkesiuran.
Anehnya aku malah mengharapkan semoga hujan turun secepatnya. Supaya aku merasa leluasa menikmati semuanya ini. Tanpa perasaan waswas pada kemungkinan munculnya orang lain.
Harapanku terkabul. Hujan pun turun dengan derasnya. Membuatku jauh lebih nyaman. Karena dalam hujan selebat ini, tak mungkin ada orang lain yang muncul di sekitar gubuk ini.
Bahkan kami seperti adegan-adegan romantis di dalam film-film India. Bercinta di bawah curahan air hujan. Karena angin meniup agak kencang, membuat air hujan tertiup juga ke dalam gubuk bersejarah ini. Wajahku pun mulai terciprati air hujan, yang mungkin berbaur dengan cipratan keringat Mahendra. Karena keponakanku sudah lebih dari setengah jam mengentotku.
Sudah dua kali aku mencapai orgasme. Namun tidak kuperlihatkan kepada Mahendra. Aku tetap menggoyang pinggulku dengan binalnya. Sehingga liang kewanitaanku seolah ingin mencabut batang kemaluan Mahendra dari pangkalnya. Karena aku terus-terusan berupaya untuk memilin-milin dan membesot-besot batang kejantanan keponakanku.
Sementara mulutku semakin kerap melontarkan rintihan dan rengekan yang nyaris tidak terdengar karena disaingi oleh gemuruhnya hujan deras ini.
“Heeen… ini makin lama makin enak Heeen… ooooh… oooo… ohhhh… entot terus Heeen… entot yang kencang… iyaaaaaa… iyaaaaaa… iyaaaaa… ooooooh ini luar biasa enaknya Heeeen… iyaaa… iyaaaaaa… entot teruuuussssssss… kontolmu luar biasa enaknya Heeeen… iyaaaaaa… entot terussss…
Mahendra memang makin makin kencang mengentotku. Sehingga bunyi pelernya yang menepuk-nepuk anusku mpun terdengar sayup-sayup di tengah gemuruhnya bunyi hujan.
Ledakan-ledakan petir pun terdengar menggelegar-gelegar. Namun aku tidak takut sedikit pun. Segala perasaan takut seolah terusir oleh nikmatnya disetubuhi oleh keponakanku ini.
Sampai akhirnya Mahendra mengelojot dan berdengus di atas dadaku. Sementara moncong penisnya pun memuntah-muntahkan airan kental hangatnya di dalam liang senggamaku.
Crrrrrttttt… crrrrrtttt… crrrtttttt… crrrt… crtttt… crttttttt… crooooooootttttttt…!
Kubiarkan penis Mahendra tetap berada di dalam liang kewanitaanku. Sampai akhirnya lepas sendiri karena sudah mengkerut. Ngocoks.com
Mahendra turun dari dipan, dengan celana training tetap berada di lututnya. Kemudian tangannya ditengadahkan untuk menampung air hujan. Lalu air hujan itu dipakai untuk membasuh batang kemaluannya yang berlepotan air mani.
Aku pun ikut-ikutan. Melepaskan baju kaus putihku, lalu dalam keadaan telanjang berdiri di pinggir dangau, sambil membasuh kemaluanku dengan air hujan.
“Indah sekali ya Tante…” ucap Mahendra ketika aku sedang mengenakan kembali pakaianku.
“Iya, “aku mengangguk sambil tersenyum, “awalnya rada degdegan. Tapi setelah hujan turun, terasa bebas sekali melakukannya. Hmmm… memang romantis sekali. Tante suka, Hen.”
“Nanti tiap hari libur kita bisa ke sini lagi.”
“Ah, jangan keseringan juga sih. Takut ketemu batunya nanti. Cari tempat lain aja yang romantis seperti di sini.”
Tak lama kemudian hujan mulai reda. Sampai akhirnya kami meninggalkan dangau itu.
“Untung ada trap tembok ya. Kalau gak ada trap ini pasti licin tanahnya,” ucapku sambil melangkah di atas trap tembok yang menurun.
“Iya Tante. Big Boss sangat memperhatikan lingkungan. Kalau tidak ada trap, pasti bukit ini sudah rusak di sana-sini.”
Tak lama kemudian kami tiba di pintu gerbang besi yang dijaga oleh dua orang satpam itu. Kuberikan kunci mobilku kepada Mahendra. Karena waktu berangkat dari hotel pun Mahendra yang nyetir mobilku, sementara aku belum tahu jalan yang harus ditempuh.
Mobilku diparkir di depan pintu masuk ke hutan itu. Tadi mobilku satu-satunya kendaraan yang diparkir di situ. Tapi sekarang tampak sebuah jip mahal berwarna hijau army terparkir di samping mobilku.
Tampak pula seorang lelaki bule berjas dan berdasi, melangkah ke arah jip berharga milyaran itu.
Mahendra tampak kaget berpapasan dengan lelaki bule itu. “Selamat pagi Big Boss, “katanya dengan sikap sopan sekali.
“Pagi, “lelaki bule itu mengangguk, “kamu Mahendra kan?”
“Betul Boss.”
“Dari mana hari libur ngeluyur ke sini?”
“Habis jalan-jalan di hutan sama adik mama saya Boss,” kata Mahendra sambil menunjuk padaku yang berada di belakang lelaki bule itu.
Si lelaki bule menengok padaku. Sementara Mahendra berkata, “Tante… kenalin ini big boss. Owner perusahaan tempatku bekerja.”
Aku pun mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan dengan lelaki bule yang katanya owner perusahaan tempat Mahendra bekerja.
“Frederick,” ucap lelaki bule itu sambil menatapku dengan sorot menyelidik.
“Minati,” sahutku mengenalkan namaku.
Tanganku masih digenggam oleh lelaki bernama Frederick itu. “Anda tantenya Mahendra?”
“Betul Boss. Ibunya Mahendra adalah kakak kandung saya.”
“Tinggal di kota ini juga?”
“Bukan. Saya tinggal di…” sahutku sambil menyebutkan nama kotaku.
“Owh… saya sering ke sana,” kata Frederick tetap menggenggam tanganku, membuatku jadi rikuh. Apalagi melihat tatapannya yang seolah tembus sampai ke dalam jantungku.
Dalam perjalanan pulang ke hotel, aku bertanya, “Lelaki bule itu kok bisa bahasa Indonesia?”
“Dia memang orang Belanda. Tapi orang tuanya sudah lama jadi warganegara Indonesia. Maka Mr. Fred juga sejak lahir jadi WNI.”
“Usianya kayak yang sebaya sama tante ya?”
“Mungkin. Kalau nggak salah usianya empatpuluh tahunan gitu.”
Ketika mobilku baru saja diparkir di depan hotel melati tiga itu, terdengar hape Mahendra berdering.
“Wah… manager personalia ada apa nih nelepon di hari libur gini?” gumam Mahendra sambil memijat hapenya untuk menerima call itu. Lalu :
“Selamat pagi menuju siang Bu… mmm sekarang Bu? iya… siap Bu… iya… siap.”
Setelah Mahendra memasukkan kembali hapenya ke saku celananya, aku bertanya, “Ada apa Hen?”
“Nggak tahu nih ada apa. Yang barusan itu ibu manager personalia. Menyuruhku secepatnya menghadap ke kantornya. Padahal sekarang sedang libur. Ada-ada aja.”
“Ya udah, pakai aja mobil tante goih. Tante mau nginap semalam lagi di sini.”
“Iya Tante. Aku pinjam dulu mobilnya ya.”
“Iya, “aku mengangguk, lalu turun dari mobilku dan melangkah ke arah lobby hotel. Sementara Mahendra menjalankan lagi mobilku, keluar dari pintu gerbang hotel.
Setelah memperpanjang masa inapku di front office, aku pun masuk ke dalam kamarku. Dan langsung mandi sebersih mungkin. Sehingga tubuhku terasa segar kembali.
Setelah mandi kukenakan kimono yang masih bersih. Kimono berwarna biru ultramarine.
Belakangan ini ke mana pun aku pergi, aku selalu menyimpan tas berisi pakaianku di bagasi mobilku. Karena takut ada acara mendadak yang mengharuskanku menginap. Seperti sekarang ini.
Hari baru jam 11.30 pagi menjelang siang. Tapi perutku terasa lapar sekali. Tapi aku malas nyari makanan di luar. Karena itu aku memesan nasi goreng dari dapur hotel saja. Yang penting perutku terisi nasi.
Mungkin saking laparnya, nasi goreng buatan dapur hotel itu habis kusantap. Padahal nasi gorengnya cuma pakai telur dan irisan baso. Lumayanlah, daripada perut keroncongan.
Tak lama kemudian Mahendra pun datang kembali.
Begitu muncul dia tersenyum-senyum seperti menggodaku.
“Ada apa dipanggil tadi Hen?” tanyaku.
“Tante… ternyata yang memanggilku itu Mr. Fred.”
“Terus, ngapain dia manggil kamu di hari libur gini?”
“Dia terang-terangan menyatakan… naksir sama Tante.”
“Haaa?! Kamu gak bilang kalau tante punya suami?”
“Diceritain kalau Tante punya suami dan dua orang anak. Tapi dia tetap berkeras, ingin mengajak Tante dinner nanti malam di restoran termahal di kota ini.”
Aku tercenung dengan perasaan bercampur aduk.
Memang waktu berjabatan tangan dengan Frederick tadi, aku dibuat rikuh olehnya. Karena tatapannya itu… seperti mengandung sesuatu. Tangan yang sedang menggenggam tanganku juga tyerasa lembut dan hangat. last but not least, aku harus mengakui bahwa lelaki bule bernama Frederick itu ganteng sekali…
“Tantye,” kata Mahendra lagi, “kalau Tante bisa mengambil hati Big Boss, pasti aku bisa ditempatkan pada jabatan yang bagus di perusahaannya. Jadi kalau Tante gak keberatan, rebutlah hati Big Boss… demi masa depanku Tante.”
“Dia sudah berkeluarga kan?”
“DIa itu duda Tante. Istrinya tidak hamil-hamil setelah menikah belasan tahun dengan Big Boss. Lalu istrinya ikut program bayi tabung. Nggak taunya malah muncul kanker di rahimnya. Sebelum bayi tabung itu mendatangkan hasil, istrinya meninggal dunia dua tahun yang lalu. Begitu berita yang kudengar, Tante.
“Terus… kamu ngomong mengenai hubungan rahasia kita?”
“Nggak lah. Soal itu sih akan tetap kurahasiakan sampai kapan pun.”
“Jadi bossmu itu ingin tante dijadikan partner seksualnya gitu?”
“Kayaknya sih bukan sekadar ingin menjadikan Tante sebagai pasangan seksualnya.”
“Lantas mau dijadikan apa tante nanti?”
“Kelihatannya dia serius Tante. Dia terang-terangan menyatakan kagum kepada Tante secara serius. Tadi dia bicara seperti dengan perasaan.”
Aku terdiam lagi. Dengan terawangan tak menentu.
“Tante bersedia dinner dengannya nanti malam kan? Aku mau ngabarin dia soalnya.”
Akhirnya aku mengangguk, meski dengan perasaan bimbang.
Feelingku berkata, sepertinya aku menghadapi sesuatu yang serius. Bukan sekadar mengumbar nafsu birahi belaka.
Tapi kenapa aku harus takut menghadapinya? Bukankah belakangan ini aku merasa hanya sebagai istri yang disia-siakan oleh Bang Dardano?
Entahlah… apa yang harus terjadi, terjadilah…
Bersambung…




