Ketika aku sedang enak-enaknya digenjot oleh Edgar dalam posisi doggy ini, tiba-tiba terasa batang kemaluan Edgar dicabut dari liang kewanitaanku.
“Lho… kenapa? Mau tukar posisi? Kamu kan belum ejakulasi,” kataku.
“Itu Zus… kasihan Victor cuma nonton doang. Mungkin dia mau gantikan aku dulu,” sahut Edgar.
Lalu aku menoleh ke arah Victor yang sedang duduk di sofa yang berdekatan dengan bed. Pada saat itu Victor mengenakan fullover abu-abu dan celana jeans. Wajah Victor sangat mirip dengan Edgar. Sama-sama tampan. Yang membedakan mereka adalah bentuk tubuhnya. Edgar bertubuh tinggi semampai, sementara Victor berperawakan atletis, tinggi tegap dan kokoh.
Edgar cenderung imut, sementara Victor bentuknya manly benar.
“Kamu mau ngentot aku juga Vic?” tanyaku sambil menggelitik pinggangnya.
“Mau dong. Zus Ayu udah lama jadi obsesiku,” sahut Victor sambil melingkarkan lengannya di pinggangku.
Aku pun mencium bibir macho dan sensualnya dengan mesra. Lalu berkata, “Sebentar ya… aku mau pipis dulu,” ucapku setelah ciumanku terlepas.
Victor mengangguk. Dan membiarkanku berjalan menuju kamar mandi.
Aku memang ingin pipis. Tapi tujuan utamaku masuk ke kamar mandi, adalah mau mencuci memekku yang sudah “diaduk-aduk” oleh kontol Edgar. Setelah pipis dan membersihkan memekku, aku pun sekalian menyemprotkan air hangat shower ke sekujur tubuhku yang penuh keringat. Lalu menyabuninya sebersih mungkin.
Aku memang ingin “menyuguhi” Victor tubuh yang bersih dan hilang dari bau keringat. Agar tidak meninggalkan kesan amburadul di mata Victor. Lalu kubilas air sabun di tubuhku dengan air hangat shower. Kemudian mengeringkannya dengan handuk. Aku pun sempat menyemprotkan parfum di setiap sela “penting” di tubuhku.
Setelah merasa “fresh” lagi, barulah aku membelitkan handuk di tubuhku, kemudian keluar lagi dari kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi, aku berpapasan dengan Edgar yang mau masuk juga ke kamar mandi.
Sementara Victor tampak sudah duduk di pinggiran tempat tidur, dalam keadaan tinggal bercelana dalam saja. Sehingga untuk pertama kalinya aku bisa menyaksikan tubuh seksinya.
Seperti yang kulakukan kepada Edgar, kulakukan juga kepada Victor. Aku melepaskan lilitan handukku, kemudian mendekatkan perutku ke arah Victor. “Perutku jadi ada noda begini. Apakah hal ini tidak membuatku jadi jelek?” tanyaku sambil menunjuk ke bekas sodetan operasi cesar ini.
“Nggak Zus. Ini bekas operasi cesar kan?” sahut Victor sambil mengusap-usap bekas yang ditinggalkan setelah op[rasi cesar ini.
“Iya. Tapi dampak positifnya, memekku tetap seperti memek gadis. Karena belum pernah dilewati oleh kepala bayi.,” ucapku menghibur diri.
“Heheheee… kan itu yang lebih penting Zus… mmmm…” ucap Victor sambil mengusap-usap memekku yang sudah bersih dan kering ini.
Pandanganku tertumbuk ke arah celana dalam Victor yang mengembung itu. “Lepasin dong celana dalammu. Aku ingin lihat seperti apa bentuk kontolmu,” kataku.
Victor melaksanakan permintaanku dan spontan menurunkan celana dalamnya sampai terlepas dari kedua kakinya. Alat kejantanan Victor pun jadi tampoak jelas di mataku. Alat kejantanan yang tampak begitu gagahnya, mungkin sedikit lebih besar daripada penis Edgar, tapoi mungkin panjangnya kira-kira sama dengan penis Edgar.
“Wow… kontolmu gagah sekali, Vic… !” ucapku sambil menggenggam penis Victor yang sudah ngaceng berat ini.
Tak lama kemudian Edgar keluar lagi dari kamar mandi, dalam kedaan masih telanjang.
“Sekarang kalian punya dua pilihan. Siapa yang mau menjilati memekku dan siapa yang mau ngemut toketku?” tanyaku.
Edgar menepuk bahu abangnya, “Kamu mau yang mana Broer?” tanyanya.
“Aku mau jilatin memek Zus aja,” sahut Victor dengan nada bersemangat.
“Ya udah… kalau gitu biar aku yang mainkan toketnya,” kata Edgar sambil tersenyum.
Mendengar “keputusan” itu, aku pun langsung menelentang di atas kasur, sambil merentangkan kedua belah pahaku.
Victor langsung berlutut di antara kedua belah kakiku. Lalu menelungkup, dengan wajah berada di atas kemaluanku. Sementara Edgar duduk di samping kiriku, dengan tangan memegang toket kananku dan mulut menyeruduk pentil toket kiriku.
Sesaat kemudian aku mulai merasakan kenikmatan yang “stereo”. Karena dua mulut yang berbeda menggeluti bagian-bagian peka di diriku ini.
Bahwa ketika Edgar mengemut pentil toket kiriku sementara toket kananku diremasnya, mulut Victor pun mulai menggasak kemaluanku.
Ternyata Victor lebih “pandai” menjilati memek. Ketika dia menjilati celah memekku, jempol tangan kirinyha menggesek-gesek kelentitku, sementara jari tengah kanannya maju-mundur di dalam liang memekku…!
Aku pun merem melek dibuatnya. Sementara kedua kakiku mulai terkejang-kejang dalam nikmat yang beraneka ragam…!
Cukup lama mereka lakukan semuanya ini padaku. Sehingga akhirnya aku berdesis dengan suara parau, “Cukup Vic… mainkan aja kontolmu… !”
Victor melakukannya sambil berlutut, sementara kedua pahaku diletakkan di atas kedua paha Victor, sehingga kemaluanku agak tengadah ke atas. Pada saat itulah Victor membenamkan batang kemaluannya yang terasa agak seret. Namun akhirnya bisa juga terbenam lebih dari separuhnya.
Lalu mulailah perjalanan surgawiku yang teramat indah dan nikmat ini. Bahwa Victor mulai mengentot liang memekku yang sudah segar kembali ini.
Edgar pun tetap bisa melakukan “tugas”nya, untuk menyelomoti pentil toket kiriku, sementara toket kananku diremas-remas terus oleh tangan kirinya.
Karuan saja aku mulai merengek, mendesah dan merintih keenakan, “Victor… kontolmu enak sekali Viiictooor… ayo entot terus Viiiic… iyaaaaaaaaa… iyaaaaaaaaa… iyaaaaaaaaa… entot terussss… entoooooootttt… entooooootttttttt… !”
Namun dalam suasana “meriah” ini, aku masih sempat juga merayapkan tanganku ke pangkal paha Edgar. Dan berhasil memegang penisnya yang ngaceng juga, seperti penis abangnya.
Bahkan aku pun sempat memberi isyarat kepada Edgar, agar mendekatkan penisnya ke mulutku. Untungnya Edgar cepat mengerti apa yang harus dilakukannya. Lalu dia berlutut dengan kedua lututnya berasa di kanan kiri bahuku. Sementara penisnya tergantung di atas mulutku. Lalu kutarik penis Edgar itu dan kumasukkan ke dalam mulutku.
Sementara Victor tetap mengentotku dengan lincahnya.
Aku mulai menyelomoti penis Edgar sambil mengurut-urutnya dengan tangan kananku. Sementara Victor mengambil alih “tugas” Edgar tadi, tetap mengentotku sambil agak membungkuk, sementara kedua tangannya mendarati di sepasang toket gedeku.
Aku tak bisa merintih lagi, karena mulutku sedang menyelomoti penis Edgar yang sudah semakin ngaceng ini.
Posisi kedua pahaku yang berada di atas kedua paha Victor, membuat penis Victor bisa masuk sedalam mungkin di dalam liang kemaluanku. Sehingga dasar liang kemaluanku terus-terusan “ditabrak” oleh moncong penis Victor. Dan itu semua membuatku terpejam-pejam terus dalam nikmat yang fantastis.
Bahkan belasan menit kemudian aku mulai terkejang-kejang sambil menikmati indahnya puncak orgasmeku. Namun aku hanya bisa mendenguskan nafas dari hidungku, karena mulutku masih “tersumpal” oleh penis Edgar.
Tapi tampaknya Victor menyadari kalau aku sudah orgasme. Karena pada suatu saat Victor menghentikan entotannya sambil berkata, “Edgar… tukar tempat yok. “
Berarti Victor ingin merasakan felatio (perempuan mengemut penis pria). Sementara Edgar harus mengentot memekku.
Edgar pun menarik batang kemaluannya sampai terlepas dari mulutku. Begitu juga Victor mencabut penisnya dari liang memekku.
“Mendingan posisi doggy lagi Zus, “usul Edgar, yang kusetujui.
Lalu aku pun mengubah posisiku, jadi menungging. Sementara Victor kusuruh menelentang, dengan kedua kaki berada di kanan kiri bahuku.
Aku tersenyum-senyum sambil menepuk-nepuk dada bidang Victor.
Kemudian kupegang penis Victor, sambil menjilati leher dan kepalanya. Sementara Edgar sudah membenamkan penisnya ke dalam liang memekku yang sudah basah karena habis orgasme ini. Penis Edgar pun langsung terbenam seluruhnya. Sementara aku mulai menyelomoti penis Victor.
Aku memang menyelomoti penis Victor selincah mungkin. Karena aku ingin agar Victor ejakulasi secepatnya di dalam mulutku.
Begitu agresifnya aku menyelomoti batang kemaluan Victor, sehingga akhirnya Victor berdengus-dengus dan… moncong penisnya menyemprot-nyemprotkan air maninya di dalam mulutku. Crooootttttt… crooooootttt… croooooootttt… croooootttt… crooooottttt… crootttttt… croooooootttt…!
Gila… orang bule memang terasa beda dengan bangsaku sendiri. Air mani orang bule banyak sekali yang termuntahkan di dalam mulutku. Dan… kutelan semuanya tanpa disisakan setetes pun!
Bairlah… banyak orang yang bilang bahwa menelan air mani pria itu bermanfaat. Bisa menghaluskan kulit wajah, katanya. Dan aku percaya itu, karena di dalam air mani pria terkandung hormon yang dibutuhkan untuk menghaluskan kulit muka.
Sementara itu Edgar tetap asyik mengentotku dari depan pantatku. Namun pada suatu saat Edgar menghentikan entotannya. Lalu bertanya, “Nggak pegal nungging terus gini Zus?”
Aku menyahut, “Iya, rada pegel. Ganti jadi posisi MOT aja yuk. “(MOT= man on top)
Lalu Edgar mencabut penisnya dari liang kemaluanku.
Aku pun menggulingkan badanku, jadi menelentang di samping Victor yang masih tampak lemas.
Edgar pun merayap ke atas perutku sambil memegang penisnya dan meletakkan moncongnya di mulut vaginaku.
Dengan mudahnya Edgar bisa menjebloskan penisnya ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah sekali ini.
Bleeesssskkkkkkhhh!
Lalu Edgar mulai mengentotku dengan garangnya, yang kusambut dengan goyangan pinggulku… memutar-mutar… meliuk-liuk dan menghempas-hempas.
Sebelum Victor datang tadi, Edgar sudah ejakulasi. Karena itu aku tak merasa heran kalau Edgar lebih perkasa daripada abangnya, karena kali ini adalah “ronde kedua” buat Edgar.
Dengan tubuh yang mulai bermandikan keringat lagi, Edgar mengentotku lebih cepat dan lebih massive. Sehingga aku pun bisa merintih-rintih keenakan lagi. Ngocoks.com
“Edgaaar… oooo… oooooh… Edgaaaaar… ooooo… oooooh… Eeeedgaaaar… oooo… ooooooh… oooooh… entot terus Eeeeddd… iya… iyaaaa… entottt… entooootttttttt… iyaaaaa… aaa… aaaaaahh… enak sekali Eeeedddd… ooooooh… oooo… oooooh… entooooooooottttttt…
Aku merintih dan merintih terus tanpa dapat mengendalikannya lagi. Sehingga pada suatu saat aku merasa akan mencapai orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya.
Maka aku membisiki Edgar, “Aku sudah mau orgasme lagi… barengin aja lepasinnya yuk. Biar nikmat… !”
“Iya Zus… ini aku juga udah mau ngecrot… “
Lalu kugoyang lagi pinggulku seedan mungkin, sehingga liang kemaluanku terasa membesot-besot dan memilin-milin kontol Edgar. Sampai akhirnya aku berkelojotan sendiri… kemudian sekujur tubuhku mengejang tegang… sambik merasakan betapa nikmatnya orgasmeku yang kesekian kalinya ini. Sementara Edgar pun membenamkan penisnya sedalam-dalamnya…
Kami seperti sepasang manusia yang sedang kesurupan. Sama-sama melotot sambil saling cengkram dan saling remassssssss…!
Akhirnya Edgar terkapar di atas perutku. Sementara aku pun tepar dan terlena… seperti sedang pingsan.
Sehingga aku tidak tahu lagi kapan Edgar melepaskan penisnya dari dalam memekku.
Yang aku tahu, tiba-tiba memekku terasa dientot lagi dengan garangnya. Ketika aku membuka kelopak mataku, ternyata Victor yang tengah mengentotku ini.
Wow… mungkin Victor terangsang sekali waktu melihat Edgar sedang menyetubuhiku tadi, sehingga penisnya ngaceng lagi… dan sekarang penis gagah itu sedang menggenjot liang sanggamaku lagi…!
Lalu aku berniat untuk menyerah?
Tidak. Mungkin di sinilah salah satu kelebihan wanita yang tidak dimiliki oleh pria. Wanita bisa meladeni pria berapa orang pun. Diantri oleh sepuluh pria pun wanita akan mampu menghadapinya. Karena wanita tidak seperti poria, yang penisnya harus ngaceng dulu.
Setelah orgasme pun wanita hanya membutuhkan beberapa detik untuk bergairah kembali. Sementara pria yang baru ejakulasi, membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk “beraksi” kembali. Karena penisnya harus ngaceng dulu sebelum menyetubuhi pasangannya kembali.
Aku jadi teringat buku Mahabharata yang disadur dari bahasa India. DI situ tertulis bahwa Drupadi bersuamikan 5 orang ksatria, yakni Pandawa bersaudara. Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Memang ada alasannya. Bahwa roh Drupadai sudah lima kali menitis (reinkarnasi) dan bercita-cita ingin memiliki suami seorang ksatria utama.
Mungkin isi Mahabharata itu seolah menggambarkan bahwa sebenarnya perempuan bisa bersuamikan 5 orang seperti Drupadi. Dan semua suaminya terpuasi.
Bahkan seorang pakar dari Barat pernah menulis: Sebenarnya fisik wanita lebih kuat. Bisa menghadapi dua pria atau lebih. Dan bisa memuaskan semua pria itu. Jadi kalau mereka melakukan threesome atau gangbang, sebenarnya fisik wanita lebih siap untuk melakukannya. Maka threesome MMF akan mampu memuasi kedua pria ketimbang FFM yang sebenarnya hanya gaya-gayaan prianya saja.
Begitu kata pakar seksuologi itu.
Dan kini aku bisa memnbuiktikan kebenaran tulisan pakar sex itu.
Aku bahkan yakin, seandainya keempat adik Papa Fred mengantri uhntuk menggauliku, aku takkanb kepayahan.
Terbukti ketika Victor sedang mengentotku habis-habisan ini, aku bisa meladeninya dengan gairah yang tetap berkobar di dalam jiwaku. Dengan menggoyang pinggulku secara habis-habisan pula. Sehingga penis Victor seolah sedang bergulat dengan liang memekku, karena sama-sama bergerak garang.
Biji peler Victor yang menepuk-nepuk mulut anusku pun terdengar jelas bunyinya. Plooookkkk… plooookkkk… plooook… ploooook… plokkkkk… plooookkkk!
Celotehanku pun berhamburan begitu saja dari mulutku, tanpa dapat kukendalikan lagi, “Ayo Victor… entot terus Viiic… entot yang kencang Victoooor… entot terussss… kontolmu enak sekali Viiiic… iyaaaa… iyaaaa… enak Vic… enaaaaaaaak… iyaaaaaa… iyaaaa… entot yang kencang Victooooorrr…
Kalau diibaratkan irama music, mungkin sesuai untuk disebut irama jenis Deep House… dengan suara bas berdentum-dentum dan drumer bergedar-gedur…!
Tubuh Victor pun mulai bersimbah keringat. Sementara moncong penis gagahnya terus-terusan menggedor-gedor dasar liang kemaluanku.
Namun aku tetap bergairah untuk menggoyang-goyangkan pinggulku sebinal mungkin, lebih edan dari biduan pantura yang sedang mengeol-geol pinggulnya di atas panggung.
Aku memang ingin membuktikan bahwa fisik wanita dalam hubungan sex cukup tangguh. Entahlah kalau wanita lemah yang penyakitan…
###
Malam itu memang malam yang sangat memuaskan desir dan hasrat birahiku. Karena setelah Victor ejakulasi, Edgar pun maju lagi. Lalu setelah Edgar ejakulasi, Victor maju lagi untuk yang ketiga kalinya.
Lalu aku tidur berama mereka. Dalam keadaan telanjang semua.
Inilah untuk pertama kalinya aku bisa tidur sambil memegang dua batang penis yang berbeda.
Dan gilanya, menjelang fajar menyingsing, mereka menyetubuhiku lagi secara bergiliran.
Kesan indahnya tertinggal di batinku sampai berhari-hari beikutnya.
Beberapa hari kemudian…
Ketika aku sedang berada di ruang kerjaku, pas pada jam makan siang… Karel mendatangiku. Seingatku, adik bungsu Papa Fred itu baru delapanbelas tahun umurnya, tapi sudah jadi mahasiswa entah semester berapa.
Kalau aku menilai-nilai, Karel itu paling tampan di antara adik-adik Papa Fred. Tampangnya agak mirip artis bule yang sudah menjadi WNI dan inisialnya ML itu. Tapi Karel jelas jauh lebih muda daripada artis bule itu.
“Tumben kamu mau datang ke sini. Ada yang penting padaku Karel?” tanyaku sambil berpikir, pasti dia sudah mendengar “jatah” untuk adik-adik Papa Fred.
“Kebetulan gak ada kuliah aja Zus. Makanya iseng maen ke sini.”
“Kekurangan duit buat jajan?” tanyaku.
“Nggak,” sahut Karel sambil menatapku dengan senyum di bibirnya.
“Terus… nggak ada hal penting lainnya? Ngomong dong terus terang.”
“Aku… aku dikasih tau sama Victor… katanya ada jatah buatku juga. Bener Zus?”
“Ooo… soal itu?!” cetusku sambil menoleh ke sekitarku, takut ada yang ikut dengar. Lalu aku bangkit dari kursi kerjaku dan mendekatkan mulutku ke telinga Karel. Dan membisikinya, “Kamu mau nyobain ML denganku?”
“Iya Zus. Heheheee…”
Aku berpikir sejenak. Akhirnya kukeluarkan kunci kamarku dari tas kecil yang biasa kubawa tiap hari.
“Tadi waktu datang ke sini, ketemu sama Edgar?” tanyaku.
“Nggak tuh. Edgar entah di mana. Mungkin sedang makan siang.”
“Kamu ke sini pake apa?”
“Pake taksi Zus. Motorku lagi di bengkel.”
“Mmm… kalau begitu kamu duluan aja ke rumahku ya. Kamu langsung aja naik ke lantai dua, ke dalam kamarku. Ini kunci kamarku bawa aja. Sekarang baru setengah satu. Nanti jam tiga juga aku sudah tiba di rumah.”
“Jadi aku harus nunggu di kamar Zus Ayu?”
“Iya. Sengaja kuatur begitu, supaya Edgar nggak mengganggu kita nanti.”
“Iya, iya… aku ngerti Zus.”
Aku bergerak ke pintu untuk menguncinya. Lalu menghampiri Karel lagi. “Coba lihat dulu kontolmu segede apa?” cetusku sambil mengusap-usap rambut Karel.
Karel tenang saja berdiri sambil menurunkan ritsleting celana jeansnya. Lalu menyembulkan penisnya sambil berkata, “Dibandingkan sama kontol Edgar dan Victor sih masih gedean kontolku Zus…! Ini matinya aja segede gini. Kalau udah ngaceng sih jauh lebih gede lagi.”
Aku tersentak kaget menyaksikan sesuatu yang luar biasa itu. Dan spontan kupegang penis Karel sambil berkata, “Edaaan… kontolmu gede banget Karel. Ya udah. Nanti malam aku kasih sepuasmu ya.”
“Iya Zus.”
“Kamu ingin lihat memekku juga?” tanyaku.
“Mau dong kalau boleh sih.”
Sebagai jawaban, kupelorotkan celana dalamku sampai di lutut, lalu kusingkapkan spanrokku sampai perut. Dan mendekatkan memekku ke depan mata Karel yang sudah duduk di kursi tamu lagi. “Nih… memekku bagus nggak?”
“Wow… memek Zus Ayu merangsang sekali… pengen jilatin sampai basah kuyup… !” ucap Karel sambil mengusap-usap kemaluanku.”
“Jilatin deh sekarang… tapi cuma boleh tiga jilatan aja. Soalnya ini kan di kantor. Nanti di rumah aku kasih sepuasnya.”
Karel benar-benar memanfaatkan kesempatan yang kuberikan itu. Spontan ia mengulurkan lidahnya untuk menjilati kemaluanku. Benar-benar cuma tiga jilatan. Berarti dia berjiwa disiplin. Tidak minta lebih daripada yang sudah diizinkan.
Aku pun cepat menarik celana dalamku kembali, kemudian menurunkan spanrokku dan merapikannya sesaat.
“Udah, sekarang ke rumahku aja dulu ya. Punya duit buat taksinya?”
“Punya Zus,” sahut karel sambil berdiri. Lalu kucium kedua belah pipinya, yang kulanjutkan dengan ciuman hangat di bibirnya.
Karel tampak senang sekalimendapatkan kejutabn-kejutan itu. Kemudian pamitan padaku.
“Hati-hati di jalan, Karel. Ohya… kalau ketemu Edgar di depan, jangan bilang apa-apa. Bilang aja abis ngasihin bingkisan dari Broer Frederick.”
“Iya Zus. Daag… !”
“Daag… !”
Setelah Karel berlalu, aku tercenung sendiri di depan meja kerjaku. Kenapa aku seakan ingin merahasiakan pertamuanku dengan Karel nanti malam?
Karena Karel itu sangat tampan, paling muda pula di antara saudara-saudaranya. Jadi aku ingin menikmatinya tanpa gangguan dari siapa pun. Cukup Karel saja sendirian buat menghangati jiwaku nanti malam.
Maka terbayang olehku, betapa segarnya daun muda seperti Karel itu nanti. Bayangan itu diam-diam membuat kemaluanku terasa berkedut-kedut.
Tapi aku masih menyempatkan diri untuk mengadakan briefing pada jajaran staf perusahaan.
Jam setengah tiga sore aku pun pulang, sambil membawa dua botol madu Sumbawa pesanan Papa Frederick. Kedua botol madu Sumbawa itu kuserahkan kepada Frederick sambil berkata, “Kasihkan kedua botol madu Sumbawa in kepada Broer Federick. Pakai aja mobil SUV. Supaya yang sedan tetap bisa kupakai kalau ada urusan mendadak nanti.
“Iya Zus,” sahut Edgar, “Besok kan libur, apa aku harus tiba pagi-pagi di sini?”
“Nggak usah. Besok kan hari libur. Pulang sore menjelang malam juga gak apa-apa.”
“Baik Zus.”
Begitulah aku sudah mengatur semuanya itu. Yang penting aku ingin menikmati kesegaran Karel tanpa diganggu siapa pun nanti.
Setibanya di rumah, Edgar memasukkan sedanku ke garasi. Kemudian ia mengeluarkan mobil SUVku. Dengan SUV itu pula Edgar meninggalkan rumahku, menuju rumah Papa Fred di kota yang jaraknya 50 kilometeran dari kotaku.
Setelah Edgar berlalu, aku langsung naik ke atas yang lantainya sedang dipel oleh salah seorang PRTku.
Pintu kamarku tidak dikunci. Berarti Karel sudah menungguku di dalam.
Benar saja. Karel sudah mengenakan celana pendek dan baju kaus serba putih, sambil nonton acara musik MTV di televisiku.
Begitu menyadari kedatanganku, Karel langsung berdiri.
“Sudah makan?”
“Sudah,” sahutnya, “Tadi sebelum ke sini makan dulu di rumah makan di ujung jalan itu.”
“Mandi sudah?”
“Mandi pagi sudah. Mandi sore belum. Soalnya biasa mandi jam lima sore.”
“Sekarang kan kita punya acara istimewa. Kalau mau ML, harus mandi dulu sebersih mungkin. Supaya waktu ML benar-benar nyaman.”
“Oh, begitu ya.”
“Mau mandi bareng sama aku?”
“Mauuu… kalau mandi bareng Zus Ayu, mandi lima kali sehari juga mauuu…” sahut Karel dengan nada bersemangat.
“Tadi selama menunggu di sini, kamu membayangkan apa?” tanyaku sambil memegang sepasang bahu Karel.
“Jujur aja… aku membayangkan memek Zus Ayu terus…” sahut Karel tersipu.
“Hihihihi… berarti memekku sangat merangsang bagimu, gitu?” ucapku sambil menarik tangan Karel dan menuntunnya ke kamar mandi.
“Betul… sangat merangsang.”
“Memek itu bahasa Belandanya apa?” tanyaku.
“Kut,” sahutnya.
“Kalau kontol apa bahasa Belandanya?
“Penis. Sama dengan bahasa Inggris.”
“Kalau fuck apa bahasa Belandanya?”
“Neuken.”
“Kapan-kapan aku ajarin bahasa Belanda ya.”
“Boleh Zus.”
Kemudian kulepaskan spanrok dan blazer-ku. Kemudian kugantungkan di kapstok kamar mandi. Begitu pula blouse putihku dilepaskan dan digantungkan di kapstok.
“Kamu udah banyak pengalaman ngentot cewek?” tanyaku yang tinggal mengenakan bra dan celana dalam saja.
“Pengalaman sih ada tapi gak sering. Masih bisa dihitung sama jari,” sahutnya lugu.
“Sama siapa?”
“Sama buruh pabrik Broer Frederick. Dia deketin aku terus. Sampai akhirnya ngajak bersetubuh,” sahutnya sambil melepaskan baju kaus dan celana pendeknya. Sehingga Karel langsung telanjang bulat. Rupanya dia tidak mengenakan celana dalam di balik celana pendek putihnya itu.
“Di mana bersetubuhnya?” tanyaku sambil memegang penisnya yang sudah mulai menegang, tapi belum ngaceng benar.
“Di pabrik. Di kamar satpam,” sahutnya pada saat aku mulai meremas-remas penisnya dengan lembut.
Pengakuan Karel itu jadi bahan pertimbanganku. Bahwa di pabrik Mama jangan sampai terjadi hal seperti itu.
“Kamu bisa ngentot seenaknya di pabrik ya. Karena kamu kan adik ownernya.”
“Hehehee… iya sih… satpam malah sengaja ngasihin kamarnya untuk dipakai gituan.”
“Terus sampai sekarang kamu masih suka begituan sama buruh pabrik itu?”
“Nggak Sekarang dia sudah kawin lagi.”
“Owh, jadi waktu terjadi hubungan gelap sama kamu, perempuan itu janda?”
“Iya Zus. Setelah dia kawin lagi, aku gak berani deket-deket lagi.”
“Cantik orangnya?”
“Biasa-biasa aja Zus.”
“Dibandingkan sama aku cantikan siapa?”
“Jauh dong. Zus Ayu sangat-sangat cantik. Dibandingkan sama Zus Ayu sih dia nggak ada apa-apanya.”
“Masa sih?!” sahutku sambil menanggalkan behaku, lalu menggantungkannya di kapstok.
“Serius. Zus Ayu memang sangat cantik. Makanya Broer Frederick sangat menyayangi Zus.”
Aku menyangga sepasang toket gedeku dengan kedua telapak tanganku, lalu mendekatkannya ke depan mata Karel, sambil bertanya, “Toketku bagus nggak?”
“Indah dan merangsang Zus. Gede -gede tapi kelihatannya tidak kendor.”
“Memangbelum kendor. Coba aja pegang,” kataku sambil menarik tangan kiri Karel, lalu menempelkan telapaknya ke toket kiriku.
Karel memegang toket kiriku. Memijat-mijatnya sedikit, seolah tengah menguji kepadatan dan kekencangan payudaraku. “Benar… masih kencang Zus,” ucapnya.
Aku tersenyum sambil melepaskan celana dalamku, lalu melemparkannya ke keranjang pakaian kotor.
Setelah sama-sama telanjang, aku berhadapan dengan Karel di bawah shower utama. Lalu kupijat tombol merah dan memutar krannya. Air hangat pun memancar dariu shower di atas kepala kami. Ngocoks.com
Pada saat itulah aku memeluk leher Karel sambil mencium dan melumat bibirnya, dengan desir birahi yang terasa indah sekali. Karena karel memang tampan sekali.
Kemudian tanganku menggenggam batang kemaluannya yang terasa semakin menegang ini, lalu kucolek-colekkan moncongnya ke mulut memekku.
Karel cuma diam sambil memperhatikan penisnya yang sedang dicolek-colekkan ke memekku.
“Kontolmu biar kenalan dulu dengan memekku. Hihihihiii, “aku ketawa kecil sambil mencolek-colekkan terus moncong penis Karel ke celah memekku. Akibatnya, penis Karel jadi ngaceng sekali, sementara liang memekku pun mulai membasah.
Dan aku menyadari suatu hal penting. Bahwa penis Karel lebih gede daripada penis Edgar dan Victor.
Sehingga aku pun mulai tak sabar lagi. Ingin segera merasakan nikmatnya dientot oleh kontol gede Karel ini.
Maka kuambil sabun cair dari dekat kran shower dan mulai menyabuni sekujur tubuhku sampai ke sela-selanya. Botol sabun cair itu diserahkan kepada Karel. maka ia pun mulai menyabuni tubuhnya sendiri.
Tadinya aku mengajak Karel mandi bareng karena ingin “macem-macem” di kamar mandi. Tapi niat itu kubatalkan. Karena pikirku lebih baik kami cepat menuntaskan mandi, kemudian bersetubuh di atas tempat tidurku saja.
Maka setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuh dengan handuk, kukenakan kimonoku yang kuambil dari lemari kaca berisi pakaian dan handuk bersih itu. Tanpa mengenakan celana dalam mau pun beha di dalamnya.
Sementara Karel mengenakan celana pendek dan baju kaus serba putih itu. Kemudian mengikuti langkahku menuju bedroom.
Aku mengajak Karel duduk dulu di atas sofa yang berdekatan dengan bed.
“Kontolmu gede banget Karel. Jadi sebelum dimasukkan ke dalam memekku, harus dijilatin dulu memeknya sampai benar-benar basah.”
“Iya Zus. Justru dari tadi aku ngebayangin terus memek Zus Ayu… ingin menjilatinya sepuas mungkin seperti janji Zus Ayu tadi di kantor.”
Aku melepaskan ikatan tali kimonoku. Lalu kimonoku direntangkan. Sehingga memekku terbuka sepenuhnya di atas sofa yang kami duduki.
“Ayo… jilatin deh memekku sepuasmu sekarang,” ucapku sambil mengusap-usap memekku.
Karel tampak girang. Lalu duduk di atas lantai bertilamkan karpet abu-abu ini, di antara kedua kakiku dan wajahnya menghadap ke arah kemaluanku.
“Udah jagoan kamu jilatin memek kali ya?”
“Jagoan sih nggak. Tapi aku sering nonton bokepnya Zus.”
“Ya udah, jilatin deh…” ucapku sambil menggeser bokongku maju ke depan. Supaya Karel dipermudah menjilati memekku.
Karel pun mulai menciumi celah kemaluanku. Kemudian ia menjulurkan lidahnya sambil mendorong kedua belah pahaku, mungkin agar aku semakin ngangkang sehingga ia makin mudah melakukan aksinya.
Wow… ternyata Karel sudah punya teknik sendiri dalam hal cunnilingus. Pada waktu lidahnya mulai menjilati celah kemaluanku yang sudah dingangakan, jempol tagan kirinya mulai menggesek-gesek kelentitku, sementara jari tengah kanannya mulai diselundupkan ke dlam liang memekku… kemudian jari tengahnya itu bergerak maju mundur seolah penis tengah mengentot liang memek.
Begitu massivenya aksi Karel itu, sehingga dalam tempo singkat saja liang memekku mulai basah… makin lama makin basah.
Sehingga akhirnya aku berkata, “Pindah ke atas tempat tidur yuk.”
Karel mengiyakan. Lalu mengikuti langkahku menuju tempat tidur.
Di atas tempat tidur aku menelentang sambil merentangkan kedua belah pahaku. Kasrel pun menelungkup, seperti mau menjilati memekku lagi.
Tapi kucegah, “Jilat memeknya cukup dulu. Sekarang mainkan aja kontolmu. Kalau terlalu becek, gak enak nanti.”
Karel tidak membantah. Ia melepaskan baju kaus dan celana pendeknya. Lalu memegang penisnya, dengan moncong diletakkan di mulut vaginaku.
Aku pun membantunya. Memegang leher penisnya, lalu kumasukkan kepala penisnya. Dan berkata, “Ayo dorong…”
Karel pun mengikuti perintahku. Mendorong penis gedenya dengan mata terpejam.
Blesssssss… masuk hampir setengahnya…
Kemudian ia mulai mengayun penisnya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya penis gagah itu mulai bisa mengentotku secara normal.
Aku pun menarik kedua tangan Karen, sehingga dadanya terhempas ke atas sepasang toketku.
Kemudian bibir Karel kupagut ke dalam ciuman hangatku…
Bersambung…




