Namun sejak peristiwa yang teramat indah dan sangat mengesankan itu, Sam tak pernah datang lagi dalam waktu yang lama… sangat lama. Sehingga aku laksana layang-layang putus benangnya… melayang-layang tanpa arah… dalam perasaan kehilangan yang teramat memilukan.
Beberapa bulan kemudian kudengar dari Mama bahwa Sam sudah diwisuda, jauh lebih cepat dari teman-teman seangkatannya. Bahkan aku dan Mbak Ayu pun dilewati oleh Sam.
Mungkin tekad Sam demikian kuatnya, sehingga dia mampu mengejar kami semua yang sama-sama sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang berbeda. Tapi aku sangat salut pada prestasi Sam di kampus, sehingga bisa secepat itu mengejar S1, lulus dengan cum laude pula.
Aku juga mendengar dari Mama, bahwa Sam sudah memimpin sebuah hotel. Itu pun prestasi yang membanggakan.
Tapi yang membuatku terpukul adalah berita dari Mama tentang yang satu itu… bahwa Sam telah menikah dengan keponakan istri muda Papa.
Inilah yang membuatku laksana layang-layang putus benangnya. Karena sebenarnya ada sesuatu yang kusembunyikan selama ini.
Bahwa diam-diam aku sudah mencintai Sam…!
Aku tak peduli meski Sam pernah menggauli Mama dan Mbak Ayu serta perempuan mana pun, tapi aku tetap akan mencintainya dengan sepenuh hatiku.
Karena biar bagaimana pun Sam adalah cowok pertama yang pernah menggauliku. Memang sebelum Sam menggauliku, keperawananku telah hilang. Tapi keperawananku “direnggut” oleh dildo. Bukan oleh manusia. Dan manusia pertama yang kubiarkan menikmati sekujur tubuhku adalah Sam…!
Lalu mungkinkah aku masih bisa memilikinya kelak?
Entahlah.
Yang jelas, aku merasa patah hati, meski di zaman now nyaris tak dikenal lagi istilah brokenheart atau patah hati itu.
Lalu kepada siapa aku harus menggantungkan cintaku ini?
Kepada dosen yang nyebelin dan selalu berusaha mendekatiku itu?
Ya… Pak Bas yang nama lengkapnya Baskoro itu memang sering berusaha mendekatiku dengan segala cara. Tapi aku selalu bersikap dingin pada lelaki 30 tahunan itu. Karena hatiku seolah hanya boleh dimiliki oleh Sam seorang.
Lalu setelah Sam membuatku hopeless, apakah aku harus menerima “tembakan” dosenku lewat WA yang kesimpulannya ingin jadi pacarku itu?
Ah, persetan dengan Pak Baskoro. Dia takkan mampu mengobati kepiluanku. Karena “bentuk”nya jauh kalau dibandingkan dengan Sam. Usianya pun jauh lebih tua.
Aku memang jadi pemurung. Jarang bicara dan sering melamun.
Rima sering bertanya padaku, kenapa aku jadi pendiam dan pemurung begini? Tapi aku selalu menjawabnya “Gak ada apa-apa”.
Bahkan pada suatu hari Rima berkata, “Daripada bermurung-murungan, mending cari aktivitas di luar kampus.”
“Aktivitas apa?”
“Kalau lu mau jadi gadis model, gua bisa mempertemukan lu dengan kakak sepupu gua. Dia itu seorang perancang busana terkenal. Gue yakin kalau lu mau, pasti diterima jadi gadis modelnya. Soalnya badan lu tuh cocok sekali buat jadi seorang gadis model. Tinggi semampai. Apalagi kalau melihat wajah lu yang cantik dan kulit lu yang putih mulus…
“Gak ah. Gua mau konsen kuliah aja. Biar cepet selesai. Soalnya gua udah kesalip sama Sam. Dia udah diwisuda delapan bulan yang lalu.”
“Haaa?! Dia kan angkatan di bawah kita.”
“Iya. Tapi dia udah duluan selesai. Lulus dengan cum laude pula.”
“Hebat juga Sam ya? Terus sekarang kerja di mana dia?”
“Katanya sih udah mimpin sebuah hotel. Dan tau gak? Dia udah kawin sebulan setelah diwisuda.”
“Ohya?! Terus dia tinggal di mana sekarang?”
“Gak tau. Udah lama gua gak komunikasi sama dia. Padahal gua merasa kehilangan sekali Rim.”
“Jadi gara-gara Sam kawin dan menghilang itu yang membuat lu murung terus?” Rima menatapku dengan sorot mata menyelidik.
Aku mengangguk. Karena sudah bosan ditanya kenapa aku jadi pemurung terus.
“Mau lu gimana? Ingin Sam nikah sama lu?”
“Nggak juga. Cuma jangan menghilang tanpa jejak begitu.”
“Kalau Sam belum kawin, lu boleh punya keinginan seperti itu. Tapi kalau dia sudah punya istri, ikhlaskan dong. Jangan lantas jadi penyakit di hati lu.”
“Iya sih. Mendingan kita cari mangsa baru kan?” ucapku dengan senyum dingin.
“Nah mending juga gitu. Jangan semangat lu seperti mati, sementara adik tiri lu sedang happy-happy. Nanti diketawain sama rumput-rumput yang bergoyang.”
Aku cuma tersenyum dingin lagi.
“Orang bilang, kalau lelaki sakit sama perempuan, harus perempuan lagi obatnya. Nah, kenapa lu juga gak bisa kayak gitu? Kalau lu sakit sama cowok, harus cowok lagi obatnya,” kata Rima sambil menepuk bahuku, “Kan banyak yang naksir lu. Sampai Ricky juga sering nanyain lu ke gua.”
“Ricky? Ricky mana?”
“Ricky yang anak teknik industri itu.”
“Yang sering bawa sedan sport itu?”
“Iya. Dia itu anak orang tajir, pasti.”
“Hihihiii… gak ah.”
“Kenapa?”
“Kalau raybannya dibuka kelihatan kan matanya.”
“Emang ada apa dengan matanya?”
“Juling. Amit-amit gua gak berani menghina ciptaan Tuhan. Tapi kalau berhadapan di kantin, gua suka bingung sendiri. Mata yang satu memandang ke mana, yang satu lagi memandang ke arah lain.”
“Cuma karena itu?”
“Jerawatnya juga, segede-gede kacang kedelai! Memang dia kaya, tapi bentuknya… ah sudahlah. Gue gak mau menghina orang lain. Pokoknya sangat jauh kalau dibandingin sama Sam sih.”
Rima tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil.
Lalu dia tidak membahas masalah cowok lagi.
Rima memang salah seorang sahabat yang baik bagiku. Tapi sahabtku bukan cuma seorang. Sonya dan Anton juga sahabatku.
Ya, di antara cewek-cewek yang menjadi sahabatku, ada seorang cowok yang menjadi sahabatku juga., ya Anton itu.
Yang kusukai pada diri Anton adalah sifat penyabar dan tidak banyak bicara itu.
Setelah Papa tiriku bercerai dengan Mama, aku dan Mbak Ayu mendapat hadiah yang sama. Masing-masing mendapatkan sebuah mobil SUV yang sama, hanya warnanya yang berbeda. Aku memilih mobil yang berwarna orange, sementara Mbak Ayu memilih yang putih solid.
Setelah aku punya mobil itu, Antonlah yang sering nyetirin mobilku untuk urusan kuliah dan urusan pribadiku juga.
Anton memang lebih bagus nyetirnya daripada aku. Dan dia selalu siap kalau aku minta disetirin olehnya.
Bahkan aku pernah bertanya padanya, “Apa yang lu sukai pada mobil gua ini Ton?”
“Karena mobil lu ini sudah keyless. Switch ACnya gak seperti knop kompor gas, bahkan diatur dari setir juga bisa. Ada sensor rain juga. Audionya tajam dan bersih. Pokoknya seneng deh gua nyetir mobil ini,” sahut Anton.
Tentu aja aku senang mendengar ucapannya itu.
Dan yang paling menyenangkan, pandangan Anton lurus-lurus saja. Tidak pernah bersikap yang lain daripada sikap seorang sahabat. Bahkan ketika aku curhat padanya, tentang dosen bernama Baskoro itu, Anton menanggapi, “Sebenarnya gak salah kalau lu terima aja tembakannya itu. Biar nilai lu bisa bagus terus.
Itulah Anton. Sikapnya yang selalu lurus, membuatnya tak mau menjelek-jelekkan Pak Bas. Bahkan seolah mendukungku untuk menyambut hasrat Pak Bas yang menginginkanku jadi pacarnya.
“Pacaran kan nggak selalu berlanjut ke pelaminan. Apa salahnya kalau lu jadi pacar Pak Bas? Setelah lu diwisuda, tinggalin aja dia. Jadi… lu pakai azas manfaat aja.”
Aku cuma ketawa kecil mendengar celotehan Anton itu.
Memang setiap kali bersama Anton, ada saja hal yang membuatku ketawa, lalu membuatku nyaman. Tak lagi memikirkan Sam yang telah beristri dan menghilang dari pandanganku.
Sementara Anton tetap lurus-lurus saja. Tetap bersikap sebagaimana layaknya sikap seorang sahabat sejati.
Tapi kenapa pada hari-hari berikutnya justru aku yang punya perasaan lain pada Anton? Kenapa aku mulai memikirkannya sebagai tempat penyaluran hasrat birahiku yang tak terpuasi ini? Ya… aku mulai menginginkan Anton sebagai tempat penyaluran belaka. Bukan untuk saling mencintai.
Maka pada suatu sore, ketika aku sedang berada di dalam mobilku yang dikemudikan oleh Anton, aku mulai keceplosan bertanya, “Ton… elu udah punya pengalaman ML sama cewek?”
“Belum pernah tuh.”
“Masa sih?! Hari gini masih ada cowok dewasa yang belum merasakan ML… “ “Disumpah apa pun gua mau. Gua bener-bener belum pernah gituan.”
“Nonton bokep sih pernah kan?”
“Nonton bokep sih sering.”
“Elu suka nafsu gak kalau nonton bokep?”
“Ya jelaslah. Gua kan cowok normal.”
“Terus disalurkan ke mana nafsu lu itu?”
“Manual aja… heheheee…”
“Ngocok maksud lu?”
“Iya. Daripada ketularan penyakit kotor, mendingan ngocok.”
“Bener juga sih. Mmm… dengan cewek sama sekali gak punya pengalaman?”
“Gak pernah. Sumpah mati juga gua mau,” ucap Anton sambil mengacungkan dua jari tangan kirinya.
“Gua ajarin mau gak?”
“Haaa?! Diajarin apa?”
“ML… !”
“Sama siapa?”
“Sama gua lah.”
“Lu becanda kali ya?”
“Kagak. Gua bener-bener serius.”
“Kapan?”
“Sekarang juga gua mau ajarin lu. Mumpung gua lagi horny neh.”
“Di mana?”
“Cari hotel aja, tapi yang rada di luar kota gitu.”
“Oke. Gua tau hotel yang terletak di luar kota. Tapi lu yang bayarin ya. Gua kan transfer dari ortu terbatas.”
“Ya iyalah. Emang kapan gua minta dibayarin sama lu?”
“Hihihiii… emang begitulah keadaan gua yang sebenarnya Ta. Gak pernah punya sisa duit. Gak seperti lu yang banyak duit terus.”
Apa yang Anton katakan itu memang betul. Sejak Mama pacaran sama lelaki bule itu, Mama selalu mentransfer duit ke rekening tabunganku, dalam jumlah yang cukup besar. Alasannya, untuk beli pertamax dan perawatan mobil.
Mbak Ayu juga begitu. Rekening tabungannya selalu ditransfer duit dalam jumlah yang sama dengan transfer ke rekening tabunganku.
Hari mulai remang-remang menjelang malam ketika mobilku sudah dihentikan di parkiran sebuah hotel yang terletak di luar kotaku. Aku tidak langsung turun. Menunggu Anton booking kamar dulu di hotel itu.
Setelah Anton muncul kembali, dengan jempol diacungkan, barulah aku turun dari mobilku. Udara terasa lebih dingin dari AC di dalam mobilku, karena berada di ketinggian yang temperaturnya lebih dingin dari kotaku.
Meski di luar kota, hotel itu berbintang empat, karena berdekatan dengan beberapa titik daerah wisata.
Kami tidak langsung masuk ke kamar yang sudah dibooking, karena perutku terasa lapar. Kami makan dulu di resto hotel itu. Lalu menurunkan dulu isi perut belasan menit di resto. Barulah kemudian kami masuk ke dalam lift menuju lantai empat. Dan masuk ke dalam kamar bernomor 408.
“Elu udah pengalaman ya?” cetus Anton setelah berada di dalam kamar itu.
Aku mengangguk jujur, “Udah… tapi baru dengan satu orang… dengan mantanku yang sekarang udah kawin dengan orang lain. Elu sekarang jadi orang kedua.”
“Untuk lu nggak hamil ya?”
“Nggak dong. Udah gua protect dengan suntikan anti hamil. Kalau hamil sebelum nikah kan gak lucu. Ayo lepasin celana lu. Pengen liat kontol sahabat gua… hihihiii…” ucapku sambil melepaskan blouse dan rokku.
Anton melepaskan celana panjang dan celana dalamnya sambil memperhatikan tubuhku yang tinggal mengenakan bra dan CD saja.
“Wow… tubuh lu putih mulus gitu… seksi banget Ta,” ucap Anton sambil menutupi penisnya. Masih malu-malu di depanku.
“Kenapa kontol lu ditutupin?” tanyaku sambil menepiskan kedua tangan Anton yang menutupi penisnya. Ternyata penis Anton tidak segagah penis Sam. Tapi lumayan lah. Tak ada rotan akar pun jadi.
Kuremas-remas penis Anton yang mulai menegang ini.
“Kita akan tetap bersahabat kan?” ucap Anton canggung.
“Ya iyalah. Mungkin istilahnya TTM. Teman tapi ML. Hihihiii…” sahutku sambil melepaskan bra dan celana dalamku. Kemudian meraih tangan Anton ke atas bed.
“Mmm… kita udah sahabatan bertahun-tahun… tapi baru sekali ini gua bisa lihat memek elu Ta…” ucap Anton sambil mengelus-elus memekku yang selalu dicukur plontos.
“Sebentar… gua mau pipis dulu,” kataku sambil turun dari bed dan melangkah ke dalam kamar mandi. Di situ aku berjongkok sambil kencing. Lalu kubasuh memekku sebersih mungkin. Jangan sampai ada aroma yang kurang enak di penciuman Anton nanti.
Ketika keluar dari kamar mandi, ternyata Anton sudah mau masuk ke kamar mandi juga. “Gua juga pengen pipis Ta… dingin banget sih udaranya, “katanya sambil menyerbu masuk ke dalam kamar mandi.
Aku cuma tersenyum. Lalu meneguk air mineral yang tersedia di atas meja kecil.
Tak lama kemudian Anton muncul lagi dalam keadaan yang sudah telanjang bulat. Lalu menghampiriku yang baru naik ke atas bed lagi.
“Kalau langsung dimasukin, memek gua bisa kesakitan nanti. Jilatin dulu ya memek gua,” ucapku sambil menelentang dan mengelus-elus memekku.
“Siaaap! Gua malah paling seneng nonton bokep yang ada jilat memeknya,” sahut Anton sambil mengelus paha putih mulusku.
Lalu ia menelungkup di antara sepasang pahaku yang sudah direnggangkan, dengan wajah sudah berhadapan dengan kemaluanku.
Diam-diam aku mulai degdegan…
###
Bagaimana aku takkan degdegan. Karena aku akan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kunikmati.
Ketika mulut Anton sudah menyentuh kemaluanku, desir birahiku mulai menjadi-jadi. Tapi sayang Anton belum berpengalaman tentang bagaimana caranya menjilati kemaluan perempuan. Karena itu terpaksa kuarahkan dulu mana saja yang harus dijilati olehnya, sambil menunjuk setiap bagian yang harus dijilatinya.
Hanya beberapa detik aku memberikan pengarahan, akhirnya Anton mulai menjilati kemaluanku secara benar dan terarah.
Aku memang paling suka memekku dijilati sebelum penetrasi.
“Itilnya juga jilatin Ton… ini nih yang ini,” ucapku sambil menekankan ujung telunjukku ke kelentitku.
Anton mengikuti permintaanku. Lalu terasa kelentitku mulai dijilatinya dengan lahap.
“Iya Tooon… iyaaaaa… jilatin terus itilnya Tooon… ini enak sekali Tooon… oooooh… “rengekku sambil menggeliat-geliat, karena jilatan Anton mulai benar.
Cukup lama Anton menjilati kelentitku, sehingga terasa liang memekku mulai basah.
“Ton… kontol lu udah ngaceng bener kan?” tanyaku.
“Iya,” sahut Anton setelah menjauhkan mulutnya dari kemaluanku…
“Ayo masukin aja kontol lu ke memek gua,” kataku sambil mengelus kemaluanku yang sudah
Anton merayap ke atas perutku sambil memegangi batang kemaluannya. Langsung kutangkap penis ngaceng itu, sambil kucolek-colekkan ke mulut kemaluanku agar tidak salah jalan. Lalu kutusukkan moncong kontol Anton ke arah yang tepat menuju liang sanggamaku.
Lalu aku ngomong sendiri, karena Anton cuma hah-hoh-hah-hoh terus :
“Ayo dorong Ton… !”
“Iya… udah mulai masuk nih… dorong terus Ton… iyaaa… dorong… dorong… iyaaa…”
“Nah sekarang entotin sedikit demi sedikit. Pelan aja dulu, usahakan jangan sampai terlepas dari memek gua ya.”
“Nah… gitu Ton… iyaaaaa… entot terus pelan-pelan dulu… yang penting jangan sampai lepas, biar gak sulit masukinnya lagi.”
“Nah… begitu… iyaaaa… boleh dicepatin dikit… iyaaaa… iyaaaa… aaaah Toooon… gua juga mulai keenakan niiiih… iyaaaaaa… entot terusssss… entot terussssss… iyaaaaa… enak Tooon… dududuuuuh… kontol lu enak banget Tooon… entot terusssss… iyaaaa… iyaaaaaaaa… iyaaaaaa…
Akhirnya Anton bersuara juga, “Memek lu luar biasa enaknya Taaaa… tau gini dari dulu ajakin gua ngentot gini Taaa… memek lu enak Taaaa…”
Aku tahu bahwa sebagai pemula, Anton jangan diajak yang aneh-aneh dulu. Nanti kalau jam terbangnya sudah agak tinggi, barulah akan kuajak bersetubuh dalam aneka posisi.
Tadinya kupikir Anton bakal cepat ejakulasi karena masih pemula. Tapi ternyata cukup lama dia bisa bertahan di atas perutku. Mungkin karena dia sering ngocok, sehingga membuatnya jadi tabah. Dan tetap mantap mengentotku.
Sebagai sambutan, aku pun merengkuh leher Anton ke dalam pelukanku, kemudian kucium bibirnya dengan lidah terjulur, yang lalu disedot-sedot oleh Anton.
Ini yang pertama kalinya aku berciuman dengan Anton. Seiring dengan maju mundurnya penis Anton di dalam liang sanggamaku.
Di tengah kenikmatan genjotan Anton yang sudah lancar, masih sempat aku mengingatkan, “Sambil remas toket gua… tapi… jangan terlalu keras Ton, oooo… ooo… oooooh…”
Anton mengikuti permintaanku. Meremas toketku yang masih super kencang ini. Membuatku semakin merem melek menikmati enaknya entotan kontol Anton yang semakin mantap. Terlebih lagi setelah tangan kirinya meremas toket kananku sementara mulutnya mengemut pentil toket kiriku. Semakin melayang-layang batinku dibuatnya.
Aku pun mulai merintih-rintih histeris tanpa bisa dikendalikan lagi, “Makin lama entotan lu makin enak… oooo… oooooh Tooon… entot terus Tooon… iyaaaaaaa… kontol lu memang enak Tooon… iyaaaa… iyaaaa… iyaaaa… aaaa… aaaaahhhhh… Tooon…
Sementara Anton cuma mendengus-dengus seperti dengus kerbau. Terkadang dengusannya berada di leherku ketika ia mulai menjilati keringatku yang sudah keringatan ini.
Dan akhirnya aku berkelojot-kelojot… lalu mengejang tegang di puncak orgasmeku. Aaaaah… liang sanggamaku terasa berkedut-kedut di puncak kenikmatanku. Ngocoks.com
Aku terkulai lemas. Untungnya tak lama kemudian Anton pun mengelojot di atas perutku. Membenamkan penisnya sedalam mungkin. Lalu terasa penisnya mengejut-ngejut sambil memberondongkan “tambakan” air maninya di dalam liang kemaluanku.
Crooot… crooot… crooot… croooot… croooot… croooot… crooootttt…!
Lalu Anton terkapar di dalam dekapanku.
Badai nafsu pun mulai reda. Tapi keringat Anton masih membasahi tubuhnya, sebagian berjatuhan padaku dan ke kain seprai…
“Lain kali gua mau ngajak Rima. Kalau ada ajak teman lu seorang, tapi jangan teman sekampus,” kataku setelah Anton mencabut kontolnya dari liang memekku.
“Maksud lu mau bikin foursome seperti di bokep?”
“Iya. Ada teman yang sebanding dengan lu gak?”
“Sebanding apanya?”
“Tampangnya. Jangan ngajak yang jelek.”
“Ada… gua punya temen… orang Chinese… Yong namanya. Duitnya banyak. Bisa andalin dia yang bayar hotel dan makan-makan.”
“Ya udah… lu ajak aja dia. Gua juga pengen nyobain kontol Chinese. Biar nambah pengalaman gua.”
“Kalau perlu, sekarang juga bisa gua panggil ke sini.”
“Haaa? Boleh juga tuh. Biar kalian bisa giliran ngentot gua. Lu juga masih kepengen ngentot gua kan?”
“Iya… tapi kalau si Yong joint sama kita bisa lebih seru lagi kayaknya.”
“Ya udah, call aja dia sekarang.”
Lalu Anton mengambil hape dari saku celana jeansnya. Dan :
“Hallo Yong! Lagi di mana lu?… gua lagi sama cewek cantik neh… ha? Bukan… ini teman kuliah gua… kalau mau joint ke sini aja… iya di hotel… emtar gua kirim alamat hotelnya lewat WA ya… iya… tapi jangan kelamaan… aaah gak ada limit waktu… santai aja…
Lalu Anton mengirim nama dan alamat hotel ini lewat WAnya, lengkap dengan nomor kamar yang sedang kami pakai.
“Gak salah kan gua? Bahwa kita bisa nginap di sini dan pulang besok?” tanya Anton padaku.
Aku mengangguk. Tapi diam-diam aku bertanya kepada diriku sendiri, benarkah langkahku ini? Bahwa aku akan menyerahkan memekku kepada cowok yang sama sekali belum pernah kukenal? Aku kan bukan perek, bukan cewek bispak. Kenapa kubiarkan saja Anton memanggil temannya yang belum kukenal itu?.
“Kalau begitu Rima juga kita panggil aja sekarang, biar lebih seru,” kataku.
“Emangnya Rima bisa dibegituin?” tanya Anton dengan sorot ragu.
“Bisa lah. Gua sama Rima itu kan sealiran,” sahutku sambil mengeluarkan hape dari transel kuliahku. Lalu kupijat nomor Rima.
Dan :
“Hallo Rim! Lagi di mana?”
“Di rumah. Emang kenapa?”
“Gua lagi di hotel nih. Mau gabung gak?”
“Ada cowok?”
“Ada… si Anton. Tapi sebentar lagi temen Anton mau datang. Ayo gabung Rim, biar seru.”
“Hotel mana?”
Lalu kusebutkan nama dan alamat hotel ini, sekaligus dengan nomor kamarnya.
“Oke, gua segera meluncur ke situ,” kata Rima sebelum menutup hubungan seluler kami.
Lalu aku menoleh kepada Anton. “Tolong ambilin tas pakaian gua dong di mobil.”
Anton yang sudah berpakaian lengkap itu pun langsung menyambar remote control mobilku dari atas meja kecil yang dikitari sofa. Lalu keluar dari kamarku.
Ketika Anton masih di luar, tiba-tiba Rima muncul di ambang pintu yang tidak dikunci.
“Rima?! Kok cepet banget lu nyampe di sini?” tanyaku heran.
“Ini cuma roh Rima yang meluncur duluan ke sini Non Ita… !” sahut Rima sambil berlagak hantu di film-film horror.
“Aaah… gak lucu ah. Kenapa lu bisa secepat itu tiba di sini?”
“Waktu lu nelepon tadi, gua emang gak jauh dari hotel ini. Abis nyari buah alpukat yang bagus-bagus. Persediaan di rumah udah habis. Makanya tadi gua ketawa sendiri waktu lu ngajak ke sini. Ohya… mana si Anton dan temannya itu?”
“Lagi disuruh ngambil tas pakaian gua di mobil.”
“Lu udah dientot sama si Anton?”
“Udah, “aku mengangguk jujur, “Baru satu kali.”
“Nggak nyangka si Anton yang culun itu bisa juga dijadikan penyaluran ya?”
“Iya, gua juga gak tau kenapa, tiba-tiba aja gua pengen ML sama si Anton. Kebetulan dia belum pernah nyobain ngentot cewek, tadinya cuma ngocok doang yang sering dia lakuin.”
“Kayak kita aja dulu kale. Awalnya cuma mainin dildo, lama-lama si Sam dijadiin sasaran. Hihihiii…”
Pembicaraan kami terputus, karena Anton sudah datang lagi, membawakan tas pakaianku.
Belakangan ini aku memang suka membekal tas berisi beberapa helai pakaian untuk ganti. Bukan meniru artis-artis yang suka membawa pakaian dan alat make up di dalam mobilnya. Aku cuma menyiapkan untuk keadaan darurat saja. Seperti kehujanan, baju ketumpahan sesuatu yang kotor atau keadaan “darurat” seperti sekarang ini.
Kusambut tas pakaianku dari tangan Anton. Kukeluarkan kimono, alat mandi dan parfum dari tas pakaianku, kemudian melangkah ke kamar mandi.
Aku memang ingin membersihkan keringat yang sudah membasahi tubuhku di sana-sini pada waktu bersetubuh dengan Anton tadi.
Prediksiku, nanti Anton akan menyetubuhi Rima yang belum pernah dirasakannya. Sementara aku akan meladeni teman Anton yang Chinese bernama Yong itu.
Dan aku tak mau Yong mencium bau keringatku, sehingga kelihatan sekali kalau aku ini bekas “dipakai” oleh Anton.
Karena itu aku ingin tubuhku benar-benar bersih dan “fresh”.
Setelah menyemprotkan parfum ke bagian-bagian “penting” di tubuhku, aku pun keluar dari kamar mandi.
Lalu apa yang kulihat? Anton dan Rima sudah sama-sama telanjang. Bahkan Anton sudah menelungkup di antara sepasang kaki Rima yang direntangkan. Sudah siap untuk menjilati memek Rima…!
“Waduuuh… kalian sudah siap tempur nih?” cetusku sambil tersenyum.
“Iya,” sahut Rima, “aku udah kebelet nih… !”
Aku cuma tersenyum, lalu menyisir rambutku di depan cermin rias.
Kemudian terdengar rengekan-rengekan manja Rima, “Iya Ton… jilatannya fokus ke itil aja… biar memek gua cepet basah… !”
Pada saat yang nyaris berbarengan, terdengar ketukan di pintu. Yang disambut oleh suara Anton, “Masuk aja! Gak dikunci !”
Aku cepat duduk di sofa sambil bertopang kaki. Sementara itu pintu terbuka dan seorang cowok putih bermata sipit masuk ke dalam. “Wow… udah maen nih filmnya?!” ucap cowok itu sambil berdiri sejenak di dekat bed yang dipakai oleh Anton dan Rima. Sementara aku tetap duduk di sofa yang berdekatan dengan bed kosong, karena kamar hotel ini menyediakan dua bed yang lumayan besar ukurannya.
Kemudian lelaki muda itu menghampiriku. Aku pun berdiri dan menyambut jabatan tangannya sambil menyuebutkan namaku, “Ita…”
“Yong,” kata cowok Chinese itu sambil tersenyum.
“Pakaian kita seragam ya. Sama-sama putih,” kata Yong lagi setelah jabatan tangan kami dilepaskan. Memang tak salah, Yong mengenakan baju kaus, celana panjang dan sepatu yang serba putih. Sementara aku sendiri mengenakan kimono dari bahan handuk yang putih pula.
Kemudian Yong duduk di sampingku.
“Lu kuliah di mana Yong?” tanyaku.
Yong menyebutkan nama sebuah iniversitas swasta termahal di kotaku.
“Fakultas apa?” tanyaku lagi.
“Ekonomi. Ita sendiri kuliah di fakultas yang sama dengan Anton?
“Iya. Aku, Anton dan Rima itu sefakultas dan seangkatan.”
“Asyik dong,” ucap Anton sambil merapatkan pipinya ke pipiku, “Kapan-kapan kita bisa ketemuan berdua aja di sini kan?!”
“Bisa, “aku mengangguk sambil tersenyum, “Asal mau bayarin aja kamarnya. Kalau gak mau pakai hotel, di rumah gua juga bisa.”
“Emangnya di rumah lu ada siapa aja?”
“Cuma ada gua sama kakak gua.”
“Kakaknya cewek apa cowok?”
“Tentu cewek lah. Kalau cowok nyebutnya abang dong, bukan kakak.”
“Owh gitu… berarti Ita ada darah Medannya dong.”
“Almarhum bokap orang Melayu Medan. Kalau nyokap sih orang Jawa.”
“Hmmm… kamu cantik dan putih gini…” kata Yong sambil memegang pahaku yang tersembul lewat belahan kimonoku. Membuatku dagdigdug lagi. Karena tangan Yong itu adalah tangan manusia yang baru beberapa menit ini kukenal.
Terlebih lagi setelah tangan putih dan halus itu menyelinap ke balik kimonoku dan langsung menyentuh kemaluanku, karena aku tidak mengenakan celana dalam mau pun bra di balik kimono putih ini.
Terawanganku pun mulai melayang-layang…
Bersambung…




