Malam itu kukenakan gaun andalan yang kebetulan tersimpan di dalam tas pakaianku. Gaun sutera berwarna hijau tosca mengkilap yang ada belahan di sebelah kirinya, yang memamerkan putih mulusnya paha kiriku. Sepatu high heels yang kukenakan pun berwarna hijau tosca yang mengkilap. Tak lupa kusemprotkan parfum di setiap titik penting pada tubuhku.
“Gak salah kalau bossku jatuh hati pada Tante. Soalnya Tante bukan cuma cantik tapi juga anggun dan seksi,” ucap Mahendra sambil memperhatikanku dengan sorot kagum.
“Tapi tante ini wanita bersuami Hen. Kalau bossmu serius, tante bisa bingung sendiri nanti,” sahutku.
“Gak usah bingung-bingung Tante. Nanti Tante kan bisa memutuskan mana yang terbaik bagi kita semua.”
Kemudian Mahendra mengemudikan mobilku lagi, menuju restoran yang katanya terbaik di kota ini.
Setibanya di restoran itu, Mahendra mengajakku naik ke lantai dua. Di situlah Frederick menunggu di belakang meja yang sudah dipesannya.
Frederick berdiri dengan senyum dan tatapan yang membuatku rikuh. Lalu mempersilakanku duduk di kursi yang sudah ditariknya untukku.
“Maaf Big Boss… saya mau nunggu di bawah saja,” kata Mahendra dengan sikap sangat sopan.
“Oke, “Frederick mengangguk, “Pesan saja makanan yang kamu suka ya.”
“Siap,” sahut Mahendra. Lalu dia melangkah ke arah tangga yang menuju ke lantai dasar.
Sikapku kikuk setelah duduk berhadapan dengan Frederick, terbatas oleh meja makan.
“Apakah Mahendra sudah menyampaikan semuanya kepada Mbak?”
“Sudah Boss. Mmm… panggil saya Mien saja.”
“Oke. Kalau begitu panggil saya Fred aja, jangan pakai istilah Boss, karena Mien bukan pegawai saya. Ohya… kalau boleh saya tau, usia Mien sekarang berapa?”
“Seminggu lagi usia saya genap empatpuluhdua tahun.”
“Wow… usia Mien hampir sama dengan usia saya. Dua bulan lagi usia saya empatpuluhdua juga. Jadi kita bisa dikatakan sebaya ya?”
Aku mencoba menatap mata Frederick yang biru dan rambutnya yang pirang. Lalu kusunggingkan senyum manis di bibirku. Senyum yang selalu meruntuhkan hati beberapa lelaki di masa laluku.
Tak lama kemudian makanan serba wah dihidangkan di atas meja. Membuatku bingung, karena makanan sebegitu banyaknya, bagaimana cara menghabiskannya?
“Mari kita makan malam Mien, “ajak Fred sambil membalikkan piring yang tertelungkup di atas meja makan bertaplak kain wetlook putih bersih ini. Aku pun melakukan hal yang sama, membalikkan piring yang telungkup di depanku.
Aku hanya mengambil steak dan french fries, kemudian mulai menyantapnya.
“Makan malam ini kita anggap saja sebagai awal perkenalan kita ya. Sekaligus saya ingin menyampaikan… bahwa saya sangat mengagumi Mien sejak melihat di kawasan pabrikku tadi pagi.”
“Kok bisa mengagumi saya?” tanyaku sambil menatap mata birunya lagi.
“Jujur aja ya… Mien benar-benar type saya.”
“Sayangnya saya sudah punya suami, Fred.”
“Saya sudah mendengar banyak dari Mahendra tadi. Bahwa suami Mien menikah lagi dengan wanita pengusaha… lalu jarang pulang ke rumah. Betul kan?”
Aku tertunduk sambil mengunyah daging steak yang sangat lunak ini. Rupanya Hen sudah bicara banyak dengan bossnya ini.
“Saya bukan sekadar ingin mengisi kesepian Mien, tapi juga siap untuk menikahi Mien kalau sudah menjadi janda.”
Aku teperangah. Karena tak menyangka akan mendengar pernyataan yang to the point begitu.
“Saya sudah punya dua orang anak cewek yang masih kuliah, Fred.”
“Iya, Mahendra juga sudah menceritakan hal itu. Pokoknya kalau sudah menjadi istri saya, semuanya akan menjadi tanggung jawab saya. Bahkan aku akan menyerahkan perusahaan yang ada di kota Mien, untuk Mien pimpin. Kedua anak Mien juga boleh diaktifkan di perusahaan itu. Sementara Mahendra, akan saya tempatkan pada posisi penting di tempatnya bekerja sekarang.
Gila… sedemikian dalamnyakah perasaan Frederick padaku, sehingga langsung menjanjikan hal-hal yang tidak terbayangkan olehku?
Aku cuma mampu menatapnya dengan senyum manisku lagi. Tidak berani menanggapinya dengan kata-kata, karena takut ada yang salah ucap.
Setelah selesai makan, Frederick minta nomor hapeku. Dan berjanji akan melanjutkan pembicaraan yang belum tuntas lewat hubungan seluler nanti.
Sebelum meninggalkan lantai dua, masih sempat aku berjabatan tangan dengan Frederick, yang dilanjutkan dengan cipika-cipiki.
Cipika-cipiki yang paling mendebarkan di sepanjang hidupku…!
Apakah aku pun sudah jatuh hati kepada Frederick?
Entahlah. Yang jelas, dalam perjalanan pulang menuju hotel, aku terdiam terus. Mahendra pun seperti mengerti apa yang sedang menguasi benak dan hatiku, sehingga ia tidak berani membuka pembicaraan.
Namun setelah berada di dalam kamar hotel, Mahendra memelukku dari belakang seraya membisikiku, “Besok pagi aku kan mau brangkat kerja. Jadi bagaimana kalau kita main lagi untuk farewell party?”
Aku berusaha untuk tersenyum, meski benakku masih dikuasai oleh sesuatu yang baru terjadi di restoran tadi. Bahwa pada waktu Frederick cipika-cipiki denganku, Fred memelukku dengan eratnya. Hal itu spontan mendesirkan hasrat birahiku yang masih sangat normal ini.
Anehnya, aku lalu membayangkan Mahendra sebagai jelmaan Frederick yang diam-diam mulai meruntuhkan hatiku. Hati yang sedang merasa diterlalukan oleh suamiku.
Maka setelah menanggalkan segala yang melekat di tubuhku, aku memperhatikan Mahendra yang juga sudah menelanjangi dirinya sendiri.
Lalu kudorong Hen sampai terlentang di atas bed. Kupegang batang kemaluannya yang belum sempurna ereksinya.
Kini aku malah membayangkan yang sedang kupegang ini adalah penis Frederick…!
Lalu dengan binal kujilati leher dan kepala penis Mahendra, dengan bayangan tengah menjilati leher dan puncak penis Frederick. Hanya bedanya, penis Frederick pasti tidak disunat seperti penis Mahendra ini.
Lalu kuselomoti penis Mahendra dengan sangat binal… sambil mengurut-urut batangnya, sementara lidah dan bibirku “ngerjain” puncak dan lehernya. Terkadang aku berusaha untuk memasukkan sekujur batang kemaluan Mahendra ke dalam mulutku. Tapi penis Hen terlalu panjang sehingga kalau kukulum semuanya pasti akan menabrak tenggorokanku dan bisa menyebabkanku muntah.
Dalam tempo singkat saja aku berhasil membuat penis Mahendra jadi ngaceng berat. Aku punn tak mau mengulur waktu lagi. Aku merayap ke atas tubuh Hen sambil memegang penisnya yang sudah siap tempur ini.
Lalu kugerakkan memekku yang sudah berada di atas kontol Hen. Blesssssss… masuk separohnya ke dalam liang kenikmatanku yang sudah membasah ini.
Aku memang mau main di atas. Tapi aku ingin agar Mahendra yang mengentotku dari bawah. Karena itu kujatuhkan dadaku ke atas dada Mahendra.
“Ayo kamu yang ngentot dari bawah gini. Bisa nggak?” cetusku sambil memainkan sepasang pentil toketku.
Mahendra mengikuti permintaanku. Dia menggerak-gerakkan penisnya sedemikian rupa. Dan ternyata bisa juga dia mengentot dari bawah. Namun aku pun tak mau berdiam diri. Kugerak-gerakkan memekku untuk menyambut entotan Mahendra.
Tapi semua ini kurang memuaskanku. Karena moncong penis Mahendra tidak mampu menyundul dasar liang memekku.
Maka aku pun bangkit. Berlutut dengan sepasang lutut berada di kanan-kiri pinggul Mahendra, sementara memekku masih mencengkram penis Mahendra.
Kini aku sendiri yang beraksi. Mengayun bokongku naik turun. Dengan sendirinya liang memekku membesot-besot dan memilin-milin penis Mahendra kembali. Sementara kedua tanganku bertumpu di kasur, untuk menahan tubuhku agar tetap berada di tempat.
Mahendra berdengus-dengus, sementara aku sendiri mulai merintih-rintih dalam nikmatnya gesekan demi gesekan antara penis Mahendra dengan dinding lubang sanggamaku.
Maka dengus-dengus nafas Mahendra pun kuimbangi dengan rontohan-rintihan histerisku, “Oooooh… Heeeeen… oooooh… oooooh… heeeen… Heeeen… Heeeeen…”
Terus-terusan aku menyebut-nyebut nama Hen. Tapi tahukah Mahendra bahwa sebenarnya aku sedang membayangkan sesuatu? Membayangkan penis yang tengah kubesot-besot ini sebagai penis Frederick?
Saking tenggelamnya dalam arus khayalan, aku pun tak kuat menahan datangnya titik puncak kenikmatanku. Ya… akhirnya aku ambruk ke atas dada Mahendra, sambil merasakan nikmatnya memekku yang terasa sedang berkedut-kedut di puncak orgasmeku.
Lalu aku menggulingkan badanku ke samping, sehingga batang kemaluan Mahendra terlepas dari memekku.
“Ayo lanjutkan Hen…” ucapku sambil mengusap-usap memekku yang sudah basah ini.
Tanpa bicara ba-bi-bu lagi Mahendra pun merayap ke atas perutku sambil memegangi kontol ngacengnya yang sudah diarahkan ke mulut vaginaku.
Batang kemaluan Mahendra dengan mudahnya membenam ke dalam liang sanggamaku yang sudah basah licin ini. Blesssskkkk…!
Kusambut dengan pelukan hangat di leher Mahendra, disusul dengan ciuman mesraku… mesra sekali… karena sebenarnya aku mengkhayalkan sedang mencium bibir Frederick…!
Mahendra pun mulai mengentotkan penisnya di dalam liang memekku yang sudah agak becek ini. Yang kusambut dengan geolan pantatku yang sudah sangat terlatih ini. Ngocoks.com
Seandainya… ya seandainya tadi Frederick mengajakku cek in ke hotel pilihannya lalu mengajakku bersetubuh, mungkin aku takkan menolaknya. Karena aku juga ingin merasakan seperti apa nikmatnya dientot oleh kontol bule.
Tapi Frederick bersikap gentle sekali tadi. Sehingga aku pun tak berani bersikap binal. Bahkan waktu dia mencium pipi kanan dan pipi kiriku, aku hanya terdiam seperti patung. Padahal saat itu aku ingin sekali Frederick mencium bibirku. Yang pasti akan kusambut dengan sesuatu yang lebih hangat lagi.
Tapi biarlah… untuk sementara aku hanya akan bersikap wait and see saja. Dan aku akan mengikuti apa yang dikatakan oleh Mahendra tadi. Bahwa aku tahu benar mana jalan terbaik bagiku nanti.
Dan kini… untuk yang kesekian kalinya aku menikmati keras dan perkasanya penis Mahendra. Untuk kesekian kalinya aku menikmati batang kejantanan Mahendra yang benar-benar gagah. Sehingga aku merintih dan merintih terus di dalam kekuasaan dan keperkasaan entotan Mahendra.
“Iyaaaa… entot terus Heeen… entot terus… iyaaaa… iyaaaa… ini luar biasa enaknya Freeed…”
Mahendra melambatkan entotannya. Dan bertanya heran, “Kok nyebut nama Fred? Hehehee… Tante mulai memikirkan dia yaaa?”
Maka sejujurnya saja kujawab, “Iya… memikirkan dia demi masa depanmu, Hen… ayoooo lanjutin… entot terus yang kencang… iyaaaaaa… iyaaaa… iya… aaaaaaah… aaaa… aaaaaah… kontolmu memang perkasa Heeeen… aaaa… aaaaah… tante mau orgasme lagi nih…”
Mahendra pun menjawab dengan aksinya. Dengan mempercepat entotannya. Kusambut dengan goyangan pinggulku yang habis-habisan pula. Sampai akhirnya Mahendra menancapkan kontolnya tanpa digerakkan lagi. Pada saat itulah aku mencapai orgasmeku. Sehingga liang kemaluanku berkedut-kedut nikmat.
Namun ternyata moncong penis Mahendra pun tengah memuntahkan air maninya…!
Crotcrot… croooot… crot… croooottttt… crotcrotttt…!
Untuk yang kesekian kalinya liang memekku dibanjiri oleh air mani Mahendra.
Lalu kami sama-sama terkapar. Dan tertidur dalam keadaan sama-sama telanjang.
Esok paginya, ketika aku terbangun dari tidur nyenyakku, ternyata Mahendra sudah mandi dan berpakaian.
“Lho… kamu udah mau berangkat kerja Hen?” tanyaku.
“Iya Tante. Jam tujuh aku harus sudah ada di pabrik. Kalau terlambat, bisa dikasih SP nanti.”
“Apa itu SP?”
“Surat peringatan. Kalau tiga kali mendapat SP, berarti karyawan itu akan di-PHK.”
“Owh gitu ya. Ya udah… berangkat aja. Nanti jam sepuluh juga tante udah mau pulang.”
“Iya Tante. Jadi nanti tante pulang tanpa ketemu lagi denganku ya,” ucap Mahendra sambil mengecup kedua belah pipiku.
“Iya Hen. Yang rajin bekerja ya. Siapa tau nanti tante berhasil mengambil hati bossmu.”
“Amiiin…! Kayaknya sih Tante lebih baik jadi istri Mr. Fred. Aku yakin Tante bakal dimanjain sama dia.”
“Tapi dia harus jadi mualaf dulu.”
“Iya sih.”
Kemudian Mahendra berlalu. Aku pun rebahan lagi, karena badan masih terasa penat.
Tepat jam 10 pagi kutinggalkan hotel itu, dengan kenangan beraneka ragam tersimpan di dalam memori ingatanku. Bahwa aku telah berkali-kali mendapatkan kejantanan Mahendra. Selain daripada itu aku pun “ditembak” oleh Frederick, eksekutif muda yang bule dan ganteng itu.
Semuanya itu akan kukenang sepanjang hidupku. Termasuk kenangan tentang bercinta di puncak bukit diiringi hujan lebat itu.
Setibanya di rumah, kumasukkan mobilku ke garasi. Lalu aku melangkah ke rumah utama. Ternyata ada seseorang sedang menungguku di ruang keluarga. Orang itu… Sam alias Sammy…!
“Sam?! “sapaku kaget bercampur girang.
“Apa kabar Mam?” cetus Sam sambil mencium tanganku, lalu mencium bibirku juga.
“Sehat… ke mana saudara-saudaramu?”
“Tadi waktu aku baru datang, hanya ada Yoga di sini. Sekarang udah berangkat kuliah. Mbak Ayu dan Mbak Ita juga mungkin sedang pada kuliah.”
“Terus kamu sendiri gak kuliah?” tanyaku sambil duduk di sofa ruang keluarga.
Tiba-tiba Sam berlutut di depan kakiku. Lalu menciumi lututku sambil berkata, “Mama… ampuni aku ya Mam… aku merasa sangat bersalah kepada Mama…”
“Bersalah dalam soal apa? Karena lama sekali kamu gak pulang-pulang?”
“Bukan cuma itu Mam. Pertama, aku sudah diwisuda delapan bulan yang lalu. Kemudian aku sudah menikah dengan keponakan istri muda Papa, sekitar tujuh bulan yang lalu.”
“Diwisuda dan menikah tanpa ngasih tau mama sama sekali?” tanyaku bernada protes.
“Iya Mam. Sekali lagi aku mohon ampunan Mama. Aku dan Papa sengaja tidak ngasih tau Mama, karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada saat Mama berjumpa dengan istri muda Papa. Lalu akutenggelam dalam kesibukan, karena aku dikasih hotel oleh istri muda Papa. Hotel yang harus direnovasi di sana-sini, akhirnya bisa dibuka kembali.
“Yahhhh… semuanya sudah terjadi. Mau diapain lagi? Mama cuma bisa ikut mendoakan semoga kamu sukses dan bahagia lahir batin, Sam.”
“Amiiin…”
“Ohya Mam… ini ada oleh-oleh buat Mama, “: kata Sam sambil menyerahkan dua kantong plastik, yang satu besar sekali, yang satu lagi kecil.
“Apa ini?”
“Yang kantong kecil isinya parfum kegemaran Mama. Yang gede beberapa gaun untuk Mama juga. Semuanya dari Singapore Mam.”
“Ooo… kamu ke Singapore segala?”
“Aaah… cuma Singapore doang Mam. Gak ada yang aneh. Sama aja dengan Jakarta, cuma beda di ketertiban dan kebersihannya doang.”
“Terus… kenapa istrimu gak dibawa ke sini?”
“Dia sedang kuliah Mam.”
“Ohya… kamu kok cepat sekali diwisudanya?”
“Iya Mam. Aku ingin secepatnya menyelesaikan kuliah, karena pekerjaan sudah menungguku.”
“Berarti Ayu dan Ita terkejar olehmu Sam. Mereka duluan kuliah dan sekarang masih kuliah, sementara kamu yang baru kuliah setelah Ita duluan kuliah, justru sudah lulus duluan. Berarti kamu memang cerdas,”
“Sebenarnya bukan masalah cerdas atau tidak cerdas Mam. Faktor pendukungku adalah semangat… semangat untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin.”
“Iya sih. Kamu memang selalu bersemangat menghadapi pendidikan sejak SMP dan SMA juga. Kamu satu-satunya anak mama yang gak pernah sakit atau izin di raportmu. Saudara-saudaramu kan sakit sedikit juga gak mau sekolah.”
“Iya Mam.”
“Terus… kalau udah punya istri sih kamu gak kangen lagi sama mama ya?”
Sam mendekatkan mulutnya ke telingaku. Lalu berbisik, “Sttt… Mam… justru aku ke sini karena udah kangen berat sama memek Mama…”
###
Aku tidak kaget mendengar bisikan anak tiriku yang paling kusukai itu. Anak titi yang senantiasa menghadiahkan kepuasan sejati padaku.
Beruntung tadi subuh Hen tidak menggauliku, sehingga hari ini aku berada dalam kondisi yang benar-benar fits untuk menghadapi terjangan Sam.
Kalau bukan Sam yang memancingku untuk melakukan persetubuhan, pasti aku akan menolaknya. Karena pikiranku sedang galau, memikirkan “tembakan” Frederick yang membingungkanku itu.
Tapi yang memancingku ini adalah Sam. Sam yang selalu memberiku kepuasan sejati dalam urusan hasrat birahi.
Maka kuajak Sam masuk ke pavilyun, takut kalau anak-anakku pada pulang pada saat aku sedang membutuhkan kebebasan dan keleluasaan nanti.
Saat itu Sam hanya mengenakan celana training impor. Terbuat dari bahan wool sintetis berwarna hijau army. Aku yakin yang dikenakan itu bukan celana training buatan lokal, yang sering bagian selangkangannya cepat jebol (jahitannya lepas dan amburadul). Baju kausnya pun pasti barang impor. Bukan baju kaus merek terkenal tapi setelah diproduksi di sini jadi luar biasa jeleknya (printingnya cepat pudar, lalu jadi barang rongsokan, memalukan untuk dipakai).
Begitu berada di pavilyun, kukunci semua pintu keluar. Kemudian menghampiri Sam yang sudah duduk di sofa, dengan senyum machonya yang selalu menghanyutkan itu.
Begitu duduk di sampingnya, aku langsung memasukkan tanganku ke lingkaran elastis di bagian perut celana trainingnya. Aku hanya ingin memperlihatkan betapa kangennya diriku pada penis Sam.
Tiba-tiba kusentuh penis yang “lain dari biasanya”. Membuatku memekik tertahan, “Sam…! Diapain kontolmu ini…?”
“Gak diapa-apain. Emangnya kenapa Mam?”
“Kok jadi gede sekali?!” sahutku sambil menurunkan celana training Sam sekaligus dengan celana dalamnya.
Dan penis yang sudah ngaceng itu tersembul… menunjuk ke arah langit-langit pavilyunku.
Benar-benar beda dengan dahulu. Penis Sam jadi jauh lebih gede dan panjang. Dahulu penis Sam kalah gede kalau dibandingkan dengan penis Yoga. Tapi kini aku yakin, bahwa penis Sam lebih gede dan lebih panjang daripada penis Yoga…!
“Apakah kamu gak sadar kalau kontolmu ini jadi ngegedein dan manjangin?” tanyaku sambil memegang penis Sam yang sudah ngaceng sempurna itu.
“Mam… mungkin perkembangan fisikku terlambat. Seperti cewek juga begitu. Ada yang sudah tumbuh toketnya meski masih duduk di SD. Tapi ada juga cewek yang toketnya baru tumbuh setelah di SMA. Seperti Yoga misalnya, kontol Yoga sudah gede sejak dia masih duduk di SMA. Tapi kontolku… baru membesar setelah usiaku sembilanbelas tahun Mam.
Aku mengangguk-angguk. Lalu berdiri dan melangkah ke arah meja rias. Mengambil lotion yang bisa disemprotkan. Dan kembali lagi menghampiri Sam, “Coba lepasin celana training dan celana dalammu Sam. Hari ini gak usah main jilat-jilatan memek. Mama ingin merasakan dahsyatnya kontolmu tanpa main jilat-jilatan dulu.
Sam manut saja pada perintahku. Ia berdiri sambil melepaskan celana training woolnya. Kemudian duduk lagi di sofa dengan hanya baju kaus yang masih melekat di tubuhnya.
Aku pun melepaskan gaun terusan, beha dan celana dalamku. Lalu menyemprotkan lotion ke sekujur batang kemaluan Sam, sampai benar-benar licin dan mengkilap. Celah vaginaku juga kusemprot dengan lotion sedikit. Kemudian aku “menduduki” puncak penis Sam yang kupegang dan kuarahkan ke celah kewanitaanku.
Kuturunkan pantatku dan batang kemaluan Sam melesak masuk ke dalam liang sanggamaku dengan sedikit seret, tapi kupaksakan agar masuk semuanya.
Kuletakkan botol lotion di sofa. Kemudian kurengkuh leher Sam sambil mengayun bokongku naik turun perlahan.
Sam pun melingkari pinggangku dengan kedua lengannya yang berpegangan di punggungku.
Maka mulailah aku mengayun bokongku dalam tempo yang normal, sehingga liang sanggamaku pun naik turun, membuat liang memekku membesot-besot penis Sam secara berirama.
Tanpa harus membayangkan Sam sebagai siapa-siapa, gairahku spontan berkobar sendiri. Karena sesungguhnyalah Sam ini satu-satunya sosok yang selalu mendatangkan kepuasan bagi hasrat birahiku.
Meski aku sedang memeluk lehernya, Sam masih bisa melepaskan pelukanku, lalu menyerudukkan mulutnya untuk mengemut pentil toketku. Inilah salah satu gerakan Sam yang kusukai. Bahkan ia tak pernah cukup hanya dengan mengemut pentil tetekku, ia juga selalu asyik menjilati leherku disertai dengan gigitan-gigitan kecilnya.
Sampai pada suatu saat, kami bertukar posisi. Aku duduk dengan kaki mengangkang dan bersandar ke sofa, sementara Sam menjebloskan kembali penisnya yang sempat terlepas dalam perubahan posisi ini.
Sam pun berdiri di lantai, sambil menahan tubuh dengan kedua tangannya yang diletakkan di sofa.
Kaki kiri kuletakkan di tangan sofa, karena aku duduk di sudut kiri sofaku. Sedangkan kaki kananku mengangkang jauh dan kuinjakkan ke pinggiran sofa. Dengan cara seperti ini Sam bisa membenamkan penisnya sedalam mungkin.
Lalu Sam mulai beraksi. Mengentotku sambil berdiri agak membungkuk, dengan telapak tangan diletakkan di sofa, di kanan-kiri pinggangku, untuk menahan tubuhnya yang membungkuk tanpa menyentuh dadaku.
Aku pun mulai mendesah-desah dengan perasaan seolah kembali ke masa laluku. Masa ketika aku baru merasakan berdesirnya sekujur tubuhku waktu Sam pertama kali menyetubuhiku.
Sampai akhirnya kami pindah ke atas bed, karena aku ingin menikmati kejantanan Sam sepuas mungkin. Dalam posisi missionaris, Sam mulai gencar mengentotku. Terkadang sambil meremas toketku, terkadang sambil menjilati dan menggigit-gigit leherku. Bahkan terkadang sambil menjilati ketiakku, yang selalu saja membuatku merinding-rinding dalam nikmat tak terperikan.
Maka rintihan-rintihan histerisku pun berlontaran tanpa bisa dikendalikan lagi. “Saaam… duuuuh Saaaam… sekarang kontolmu semakin meyakinkan… semakin perkasa… ooooh Saaaam… ini luar biasa enaknya Saaaam… entot terus Saaam… iyaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaaa… iyaaaaaaaa… iyaaaa…
Bahkan pada suatu saat aku mulai berkelojotan. Lalu menggeliat dan mengejang, sambil merasakan nikmatnya orgasmeku… gila… nikmat sekali…!
Aku merasa ngilu-ngilu selama beberapa detik. Namun lalu bangkit lagi semangatku, untuk menggeolkan pantatku, dengan gerakan memutar-mutar dan meliuk-liuk… membuat kelentitku berkali-kali saling gesek dengan penis anak tiriku.
Meski kamarku ada ACnya, namun tubuh Sam mulai bersimbah keringat, bercampur aduk dengan keringatku.
Namun masih sempat aku membisiki anak tiriku, “Sam… kali ini jangan dilepaskan di dalam memek mama ya. Mama ingin menelan air manimu… supaya darah mama mengandung unsur darahmu juga…”
“Iya Mam,” sahut Sam tanpa menghentikan entotannya.
Dan tiba-tiba saja Sam mencabut batang kemaluannya dari liang memekku. Kemudian ia tergesa-gesa mengangsurkan penisnya ke dekat mulutku.
Meski heran, kutangkap penis Sam dan kumasukkan ke dalam mulutku. Sedetik kemudian terasa penis Sam mengejut-ngejut di dalam mulutku, sambil memuntahkan air maninya. Crooot… croooot… crotcrot… croooooottttt… crooooootttt…!
Semuanya kutelan sampai habis. Tanpa kusisakan setetes pun. Mudah-mudahan benar kata orang-orang. Bahwa menelan air mani itu bermanfaat bagi kehalusan kulit muka.
“Tumben cepat ngecrot gitu Sam?” tanyaku.
“Iya Mam. Aku lupa bahwa sejam lagi aku harus menghadiri meeting bisnis,” sahut Sam sambil bergegas menuju kamar mandi. Dan muncul lagi dalam keadaan berpakaian lengkap lagi.
Sam memang tmpak terburu-buru. Namun sebelum pulang, Sam masih sempat memberikan amplop tebal berisi seikat uang merah. Sambil berkata, “Buat nambah-nambah kebutuhan Mama, “katanya sambil mencium bibirku.
Aku terharu menerima amplop berwarna coklat muda itu. Karena Sam yang tadinya cuma mengandalkan uang jajan dariku, kini malah sudah bisa membagi rejekinya denganku.
“Terima kasih Sam. Semoga terganti dengan rejeki yang berlipat ganda ya Sayang,” ucapku sambil mengelus rambut Sam yang agak gondrong.
“Amiiin…” sahut Sam.
Kemudian Sam meninggalkanku sendirian.
Dalam kesendirian ini perasaan kesepianku menjalar lagi. Membuatku tercenung sambil menerawang jauh… jauh sekali.
Tiba-tiba handphoneku berdenting… kling klang…!
Ada WA masuk. Kubuka… ternyata dari Frederick…!
Isinya :
-Sudah tiba di rumah?-
Kujawab -Sudah. Sejam yang lalu-
-Syukurlah. Tadi malam aku susah tidur. Ingat Mien terus-
_
-Masa sih?! Sama dong-
-Mien juga ingat aku?-
-Iya-
-Kapan ya aku bisa memiliki Mien secara resmi?-
-Emangnya Fred udah bulat tekadnya untuk memilikiku secara sah? –
-Sudah sangat bulat. Karena Mien benar-benar type yang kucari selama ini-
-Berarti Fred harus jadi mualaf dulu dong-
-Aku sudah belasan tahun menjadi mualaf-
-Masa?-
-Betul. Kan almarhum istriku juga beragama Islam. Maka sebelum menikahinya aku jadi mualaf dulu. Tapi hal ini kurahasiakan di kalangan keluarga besarku. Karena pada umumnya mereka masih non-muslim-
-Syukurlah kalau begitu. Jadi tinggal satu hal yang Fred harus sabar menunggu-
-Menunggu untuk apa?-
-Aku harus bercerai dulu dengan suamiku. Dan itu membutuhkan waktu, Fred-
-Aku akan sabar menunggu. Yang penting ada kepastian, bahwa Mien akan menjadi milikku-
-Seandainya aku sudah menjadi istri Fred, apakah aku takkan disia-siakan kelak?-
-Aku takkan pernah menyia-nyiakanmu, Mien. Ini janjiku… janji seorang lelaki. Aku malah akan menempatkanmu sebagai wanita terhormat. Bukan wanita yang disia-siakan-
-Tuhan menyaksikan janjimu itu Fred-
-Iya. Makanya cepatlah urus perceraiannya-
-Setelah bercerai pun tidak bisa langsung kawin Fred-
-Iya. Aku faham soal itu. Harus menunggu masa iddah selesai dulu kan-
-Betul. Gak nyangka Fred sudah banyak tahu soal hukum agama ya-
-Tentu saja. Setelah menganut suatu agama, kita kan harus tahu apa yang diwajibkan dan apa yang dilarang-
-Aku senang sekali mengetahui hal ini Fred-
_
Setelah berkomunikasi lewat WA itu, aku merasa dadaku mulai agak lapang.
Sepertinya aku harus bercerai dengan Bang Darda. Tapi tegakah aku melakukan hal itu kepada suami yang sudah belasan tahun hidup bersamaku? Ngocoks.com
Tiba-tiba terdengar bunyi mesin motor memasuki pekarangan. Dan aku tahu benar bahwa motor yang memasuki pekarangan itu punya Ayu. Karena bunyi mesin motor Ayu berbeda dengan motor adik-adiknya. Mesin motor Ayu ada desingannya, seperti bunyi peluit perlahan.
Aku pun menengok ke garasi. Memang benar. Ayu tampak sedang menyimpan motornya di garasi.
“Pulang kuliah, Yu?” tanyaku.
“Iya Mam,” sahut Ayu sambil mencium tanganku.
“Kamu belum makan siang kan?”
“Belum Mam.”
“Kita makan di luar aja yok. Barusan mama dikasih duit lumayan banyak.”
“Duit dari Papa?”
“Bukan. Dari Sam.”
“Haaa?! Sam datang ke sini tadi?”
“Iya. Ternyata Sam sudah diwisuda delapan bulan yang lalu.”
“Ohya?! Berarti aku dan Ita terkejar oleh Sam ya?”
“Iya. Bukan hanya itu… tujuh bulan yang lalu Sam sudah menikah dengan keponakan istri mudanya Papa.”
“Wow! Pantasan dia menghilang… ternyata sudah punya istri sekarang…!”
“Sam juga sudah punya hotel sekarang. Hadiah dari istri muda Papa.”
“Waduuuh… baguslah. Berarti salah seorang dari anak-anak Mama sudah ada yang sukses.”
Pembicaraan dengan Ayu dilanjutkan di dalam mobil yang kutujukan ke salah satu restoran yang lumayan ngetop di kotaku.
“Ayu… kalau mama bercerai dengan Papa, setuju gak?” tanyaku di belakang setir mobilku.
“Bercerai?! Kenapa Mam?”
“Masa kamu nggak nyadar kalau mama ini sudah menjadi istri yang disia-siakan.”
“Tapi duit Papa kan mengalir terus ke tangan Mama.”
“Yang mengalir itu duit istri muda Papa. Dengan kata lain, mama seolah menjadi budak yang tunduk kepada madu mama sendiri. Mama merasa seperti tak berharga lagi hidup sebagai seorang istri. Karena itu mama memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.”
“Lalu dari mana kita punya sumber duit untuk kebutuhan kita nanti Mam?”
“Tenang aja. Mama sudah ada solusinya. Ada seorang pengusaha akan menikahi mama. Usianya sebaya dengan mama… bahkan beberapa bulan lebih muda daripada mama. Dia menjanjikan untuk memberikan salah satu pabriknya untuk mama pimpin. Jadi nanti kamu dan Ita juga bisa bekerja di pabrik itu.”
“Pengusahanya punya istri kan? Jadi Mama mau dijadikan istri muda?”
“Dia duda tanpa anak. Istrinya meninggal tiga tahun yang lalu, tanpa meninggalkan anak seorang pun. Dia itu orang Belanda asli Yu.”
“Haaa?! Orang bule?! Emangnya dia bersedia jadi mualaf atau Mama mau mengikuti agamanya?”
“Sebelum menikah dengan almarhum istrinya, dia sudah jadi mualaf, Sayang.”
“Owh… kalau begitu baguslah… tapi… memangnya Papa bakal mau menceraikan Mama yang sudah belasan tahun berumahtangga dengan mama?”
“Mudah-mudahan saja Papa bersedia menceraikan mama. Tentu saja mama inginkan perceraian yang damai. Jangan ada perselisihan sekecil apa pun.”
“Iya Mam. Papa itu laksana ayah kandung bagiku. Dan… aku sangat menyayangi Papa. Karena Papa juga sangat menyayangiku tak ubahnya menyayangi anak kandungnya sendiri.”
“Nanti kamu akan punya ayah baru yang tak kalah baiknya daripada Papa.”
Ayu terdiam.
Lalu tanyaku, “Bagaimana? Kamu setuju kalau mama bercerai dengan Papa?”
“Aku sih abstain Mam. Tidak mau melarang atau pun menyetujui perceraian itu. Terserah Mama aja. Aku percaya Mama tau mana jalan terbaik bagi kita semua.”
“Justru mama ingin menata masa depan kamu dan Ita dengan sebaik mungkin. Makanya mama sudah bertekad untuk bercerai dengan Papa lalu menikah dengan bule mualaf itu. Dia malah minta agar kedua anak mama diberi jabatan bagus di pabrik yang akan diserahkan kepada mama itu. Calon suami mama itu orang baik kok.
“Tapi Mam… kalau Mama sudah bercerai dengan Papa, berarti kita akan berpisah dengan Sam dan Yoga? Lalu rumah kita itu bagaimana nasibnya nanti? Apakah akan dijual dan uangnya dibagi dua dengan Papa?”
“Yang jelas, mama ingin agar perceraian itu berjalan secara damai. Soal rumah dan kedua anak Papa, bisa saja tetap tinggal bersama kita. Tapi kalau Sam pasti sudah punya tempat tinggal yang bagus. Paling juga Yoga yang akan tetap tinggal bersama kita. Tapi mungkin saja mama dikasih rumah oleh calon suami mama itu.
Mobilku sudah memasuki tempat parkir restoran itu.
Aku dan Ayu pun turun dari mobil. Sementara terawanganku tetap saja menggelayuti benakku… tentang Frederick dan tentang rencana gugatan cerai itu…
Bersambung…




