Seusai mendapat kenikmatan yang luar biasa itu, barulah aku sadar bahwa di bagian belakang rumah megah ini ada kolam renangnya segala.
Di samping kolam renang itu ada taman kecil yang ditata secara artistik. DI tengah taman kecil itu diletakkan tempat duduk terbuat dari batu pualam yang diukir secara apik. Di atas “sofa” batu pualam itulah aku merebahkan kepalaku di atas pangkuan Papa Fred yang perlakuannya lembut sekali padaku.
“Papa sangat berterimakasih pada Ayu yang telah membantu mewujudkan cita-cita papa untuk mendapatkan keturunan,” ucap Papa Fred sambil membelai rambutku yang terurai di atas pangkuannya.
Dengan wajah tengadah ke arah dagu Papa Fred, masih bisa aku menjawabnya, “Terimakasih juga atas segala kebaikan Papa padaku… yang membuatku speechless, karena tak menyangka bakal mendapat pemberian yang segini banyaknya…”
Saat itu kami sama-sama mengenakan kimono. Yang kupakai adalah kimono pemberian Papa juga setelah selesai bersetubuh tadi. Bedanya, kimono yang kukenakan berwarna merah hati, sementara kimono yang Papa Fred kenakan berwarna deep blue.
“Nanti kalau Ayu sudah mulai hamil, rumah ini harus Ayu tempati ya,” kata Papa Fred sambil mengelus-elus pipiku.
“Iya Pap. Sebenarnya rumah ini terlalu mewah buatku. Tapi tentu saja aku harus menempati rumah ini, sekaligus untuk menikmati kebaikan Papa padaku.”
“Sekarang juga selama seminggu Ayu harus tinggal di sini. Karena di masa subur yang seminggu itu papa harus menggauli Ayu tiap malam. By the way, apakah Ayu merasa puas tadi?”
“Sangat puas Papa Sayang…” sahutku sambil merayapkan tanganku ke balik kimono Papa Fred lewat belahannya. Soalnya aku tahu, tadi Papa Fred tidak mengenakan celana dalam sebelum memakai kimono biru tua itu. Seperti juga aku… tiada celana dalam mau pun bra di balik kimono merah hatiku.
Benar saja… tanganku langsung menyentuh penis Papa Fred yang masih lemas ini. Membuatku ingin “membangunkannya” dengan remasan lembut… bahkan lalu dengan jilatan di moncong dan leher penis panjang gede itu. Semuanya kulakukan dengan sepenuh perasaan.
Meski cuma menjilati tanpa mengulumnya, Papa Fred tampak terkesan dengan perlakuanku pada penis panjang gedenya ini. Sehingga dalam tempo singkat penis putih kemerahan itu sudah tegang kembali… sebagai indikator siap bertarung lagi dengan celah kewanitaanku.
Dan Papa Fred memang melakukannya. Ia merebahkanku di atas tempat duduk yang terbuat dari batu pualam ini. Kemudian kimonoku direntangkan setelah ikatan talinya dilepaskan. Sementara Papa Fred sendiri sudah melemparkan kimono deep blue-nya ke lantai taman kecil ini.
“Di sini Pap? Bagaimana kalau si bibi ngeliat?” tanyaku dengan perasaan kuatir.
“Tadi juga dia sudah pulang. Tugasnya kan dari pagi sampai jam empat sore. Santai aja… takkan ada orang bisa melihat apa pun yang kita lakukan di sini,” sahut Papa Fred sambil meletakkan moncong penisnya di mulut vaginaku.
Dan dengan dorongan kuat penis gagah itu mulai membenam lagi ke dalam liang kemaluanku. Aku pun menyambutnya dengan merengkuh leher Papa Fred ke dalam pelukan eratku.
Usia Papa Fred memang sedikit lebih muda daripada Mama. Tapi memang usianya sudah kepala empat. Walau begitu, aku merasa bahwa persetubuhanku dengan Papa Fred adalah sesuatu yang paling berbobot di antara hubungan-hubungan sex yang pernah kualami.
Mungkin karena aku melakukannya dnegan sepenuh perasaanku, atau karena Papa Fred memperlakukanku dengan lembut dan romantis.
Entahlah. Yang jelas ketika penis Papa Fred mulai memompa liang kemaluanku lagi, aku merasa seolah sedang berada di surga… surga dunia.
Kami yang sedang berada di tepi kolam renang ini, dengan beratapkan langit senja yang masih menyisakan sinar matahari menjelang tenggelam… benar-benar sesuatu yang indah sekali bagiku.
Dalam tempo seminggu, aku dipingit di rumah megah ini. Dan Papa Fred menggauliku setiap malam dengan “rajin”.
Aku merasakan setiap kali Papa Fred menggauliku, sekujur tubuhku seolah dialiri arus listrik yang membuat batinku berdenyut indah.
Ternyata feelingku tepat. Bulan itu aku tidak mengalami menstruasi. Ketika aku memeriksakan diri ke dokter, ternyata aku sedang hamil. Usia kehamilanku 3 minggu!
Aduhai… betapa “tajam”nya penis ayah tiriku itu. Begitu menggauliku, langsung jadi…!
Mama tampak senang sekali mendengar berita itu.
Apalagi Papa Fred. Dia semakin memanjakanku. Melindungi dan memperlakukanku dengan hati-hati sekali. Seolah memperlakukan kuning telur yang berada di telapak tangannya. Jangan sampai terjatuh dan pecah di lantai. Mungkin semuanya itu semacam indikator dari perasaan bahagianya.
Sembilan kemudian, aku melahirkan lewat operasi cesar. Karena bayi dalam kandunganku sepasang. Satu cowok satu cewek…!
Mungkin inilah yang membuat Papa Fred dan Mama sangat bahagia. Karena hanya dengan satu langkah mereka mendapatkan calon buah hati mereka secara lengkap. Cowoknya ada, ceweknya pun ada.
Semuanya itu tetap dirahasiakan kepada Ita. Kebetulan Ita sedang sibuk membuat skripsi dan siap-siap untuk sidang.
Ita hanya tahu bahwa aku ditugaskan untuk mengurus salah satu perusahaan punya Papa Fred yang letaknya di luar kota.
Nama kecil anak kembar itu memang dimiripkan. Toni dan Tina. Nama lengkapnya sih panjang, tapi aku merasa tak perlu menyebutkannya di sini. Yang jelas Toni dan Tina kususui sampai hampir setahun. Sejak baru lahir, Toni dan Tina kelihatan kebule-bulean, maklum karena ayah biologisnya orang Belanda asli.
Setelah itu bebaslah aku. Karen Toni dan Tina selanjutnya 100% di bawah lindungan dan perawatan Mama. Sementara aku bisa mempersiapkan diri untuk melaksanakan tugasku sebagai direktur utama di perusahaan Mama, sementara Mama sendiri menjadi komisaris utama.
Aku pun tinggal di rumah megah itu secara permanen. Tanpa kedua anak kembarku.
Apakah aku sedih karena kedua anak kembarku diserahkankepada Mama dan Papa Fred?
Tidak. Aku merasa nyaman-nyaman saja. Karena kedua anak kembarku itu berada di tangan Papa Fred dan ibu kandungku sendiri.
Terlebih setelah aku tenggelam di dalam kesibukan untuk mengatur segala kebijakan di perusahaan Mama. Dan aku semakin bersemangat setelah Mama dan Papa Fred mengajakku ke notaris. Di situlah kami membuat perjanjian tertulis. Bahwa perusahaan itu milik kami berdua, milik Mama dan aku. Papa Fred ingin berbuat seadil mungkin.
Sementara itu aku ikut program KB lagi. Karena seandainya pun Papa Fred ingin punya anak lagi dariku, tentu harus menunggu Toni dan Tina besar dulu. Minimal tiga tahun lagi baru boleh punya adik lagi.
Setelah ikut KB lagi, aku malah jadi rajin ngejim. Karena ingin merawat tubuhku jangan gembyar-gembyor di usia yang sudah 25 tahun ini.
Meski kedua anak kembar itu sudah diberikan kepada Mama, Papa Fred tetap “rajin” menengokku di rumah pemberiannya ini. Tentu saja bukan asal nengok, karena meski belum pernah menikah denganku, Papa Fred menganggapku istri mudanya yang selalu dimanjakan dalam segala hal.
Tapi sebagai anak sulung, aku tidak mau menjadi perempuan manja. Apalagi sekarang aku sudah menjadi seorang “young executive” yang harus menentukan arah perusahaan, bukan sekadar menjalankan perintah orang lain.
Di luar kegiatanku dalam perusahaan, aku jadi punya banyak waktu. Dalam waktu senggang inilah aku teringat pertemuanku dengan Sam waktu resepsi pernikahan Mama dengan Papa Fred. Saat itu Sam membisikiku, bahwa dia sudah mengirim email secara berturut-turut. Email berisikan lembaran kehidupannya. Aku sudah membacanya sebagian, tapi belum pernah menuangkannya ke sini.
Barangkali sekarang saatnya untuk menuangkan catatan pribadi Sam itu ke sini :
Sebenarnya aku prihatin karena sudah cukup lama memperistrikan Frida tapi belum berbuah keturunan juga. Aku sudah membawanya ke dokter spesialis kandungan. Dan dokter itu menyatakan bahwa Frida normal-normal saja. Begitu juga dengan diriku, dinyatakan normal. Tentu saja, gak mungkin Mamie hamil kalau akutidak normal.
Yang membuatku terharu adalah ketika aku minta izin kepada Frida, untuk menikahi Aleksandra, supaya gadis bule dari Eropa Timur itu dipermudah untuk menjadi warganegara Indonesia. Ternyata Frida mengijinkanku untuk menikahi gadis bule itu.
Bahkan pada waktu melaksanakan akad nikahku dengan Aleksandra secara sederhana, Frida pun hadir.
Yang membuatku bahagia, Frida tampak kompak dengan Aleksandra pada hari-hari berikutnya. Mereka seolah dua orang sahabat yang seia-sekata. Bahkan sejak dekat dengan Aleksandra, sikap dan perilaku Frida lebih ceria daripada sebelumnya.
Hotel bintang empat dan rumah yang berpunggungan dengan hotel itu sudah dibeli oleh Aleksandra, tapi dalam proses jual-belinya memakai namaku. Sehingga hotel dan rumah itu seolah milikku, padahal sebenarnya punya Frida. Hal itu terpaksa kami lakukan, karena Frida masih warganegara asing, sehingga banyak regulasi yang harus ditempuh untuk membeli hotel itu.
Setelah Aleksandra menjadi istriku, beberapa bulan kemudian surat WNInya pun terbit. Aleksandra senang sekali setelah resmi menjadi WNI itu. Terlebih pada saat itu dia sedang hamil tua…!
Maka dengan sendirinya jika anak di dalam kandungan Aleksandra lahir, dengan sendirinya bayi itu sudah menjadi WNI.
Aku tidak tahu seperti apa perasaan Frida saat itu. Perasaan Frida saat mengetahui bahwa Aleksandra sudah tinggal menunggu harinya saja untuk melahirkan. Sementara Frida masih belum bisa hamil juga. Ngocoks.com
Yang jelas, ketika Aleksandra melahirkan bayi cowok, Frida pun hadir, menemani Aleksandra sejak masuk ke ruang bersalin sampai lahirnya bayi cowok yang lalu kuberi nama Feodor Sammy. Nama Feodor berdasarkan usul dari Aleksandra, yang berarti karunia dari Tuhan (menurut bahasa di negara asal Aleksandra).
Sejak Feodor lahir, Frida jadi sering tidur di rumah Aleksandra. Kelihatannya Frida senang dan sayang sekali kepada Feodor. Tiap mendatangi rumah Aleksandra, yang pertama kali ditanya adalah Feodor. Mana Feodor? Feodor sehat-sehat aja kan?
Lalu setelah melihat Feodor, Frida jadi seperti anak kecil menemukan mainan yang paling menyenangkan. Dan anehnya, Feodor juga sering tertawa-tawa lucu kalau sudah berdekatan dengan Frida.
Menurut laporan Aleksandra, Frida sering bilang, “Semoga aku cepat ketularan kamu ya. Ketularan hamil dan punya anak.”
Aku jadi semakin terharu, karena Frida sedemikian inginnya punya anak. Bahkan aku pernah berunding dengan Aleksandra, seandainya dia punya anak lagi, serahkan saja Feodor kepada Frida selama belum bisa hamil. Tapi kalau aku berhasil menghamili Frida sampai melahirkan anakku, Feodor akan diserahkan lagi kepada Aleksandra.
Untungnya Aleksandra punya pengertian. Ia siap untuk kuhamili lagi, meski Feodor masih kecil. Dan kalau sudah punya anak lagi, Feodor akan dititipkan pada Frida.
Semua itu kusampaikan kepada Frida. Tentu saja Frida senang sekali, karena ia sudah sangat ingin menimang-nimang anak kecil.
Tapi apa yang terjadi?
Bukan Aleksandra yang mulai hamil lagi. Yang mulai hamil lagi justru… Mama Ken…!
Rupanya dengan sengaja Mama Ken tidak disuntik birth control lagi. Karena Mama Ken ingin mengurangi keresahan anaknya.
Lalu bagaimana dengan sikap Frida? Dia berkata, “Siapa aja yang duluan melahirkan. Kalau Mama lebih cepat melahirkan, aku tak usah minta Feodor lagi. Anak Mama aja yang akan kuanggap sebagai anak kita. Tapi aku yakin, pada suatu saat aku bisa hamil. Aku masih ingat kata-kata dokter itu, bahwa aku haryus bersabar.
“Iya… tapi setelah perut Mama besar, sebaiknya dia jangan keluar rumah dulu,” sahutku.
Sementara itu, Yoga kutugaskan untuk mengawasi pembangunan hotelku di lahan yang di belakang itu, sesuai dengan bakat adik kandungku itu. Yoga adalah mahasiswa fakultas teknik sipil.
Sesuai dengan hasil survey pihak konsultan, tanah di belakang itu bisa dibangun empat lantai. Bisa dibangun 250 kamar baru. Dan layak untuk dijadikan hotel bintang tiga.
Pembangunannya diperkirakan akan selesai dalam waktu setahun.
Jadi selama setahun Yoga harus mengawasi pembangunan kamar-kamar baru itu.
Kebetulan di hotel lama ada kamar yang tidak pernah disewakan. Kamar itu bernomor 33. Biasanya aku menyediakannya untuk tamu pribadiku. Maka kusuruh Yoga menempati kamar itu sampai pembangunan hotel baru selesai.
Yoga kelihatan enjoy dengan tugasnya. Hitung-hitung praktek kerja lapangan saja, mungkin.
Lalu dalam kegiatan yang membuatku sibuk terus ini, apakah aku sudah “pensiun” dari “profesi sampinganku” sebagai seorang petualang?
Hahahaaa… tidak!
Perempuan justru kuanggap sebagai obat mujarab untuk membangkitkan semangat kerja dan semangat hidupku…!
Memang aku harus menggauli Mamie, Mama Ken, Frida dan Aleksandra secara teratur. Tapi kalau aku melihat sosok baru yang belum pernah kucicipi, aku spontan merasa akan mendapat penyegar otakku yang diputar tiap hari.
Memang aku tak mau mencarinya jauh-jauh dan susah-susah. Yang penting ada sosok baru yang menarik dan terjamin kesehatannya.
Otakku memang sering dilanda kejenuhan. Tapi kalau sudah mendapatkan mangsa baru, rasanya fisik dan otakku jadi segar kembali…!
Apakah lelaki lain juga punya pikiran dan perasaan seperti ini?
Entahlah. Yang jelas kalau sedang berada di hotel, aku sering dilanda kejenuhan ini. Terlebih setelah Natasha kutempatkan di hotel Aleksandra, agar bisa mengembangkan diri di hotel yang levelnya memang lebih tinggi daripada hotelku.
Sejak Natasha diangkat sebagai manager operasional di hotel Aleksandra, aku merasa kehilangan tenaga yang handal… kehilangan sosok untuk tempat penyaluran nafsu syahwatku pula…!
###
Pagi itu aku tiba di hotel lebih cepat daripada biasanya. Karena pada hari itu aku harus membayar gaji mingguan buruh bangunan yang sedang menggarap pembangunan hotel baruku itu.
Tapi ketika aku baru sampai lobby, terdengar suara wanita memanggilku, “Sam !”
Aku terkejut dan menoleh ke arah datangnya suara itu. Tampak seorang wanita muda berperawakan tinggi semampai dengan wajah keindia-indiaan tersenyum padaku dengan sepasang mata bundar beningnya melayangkan tatapan menggoda.
“Pia?!” sahutku.
“Iya. Kalau nggak ditegur duluan, pasti lupa ya sama aku,” ucapnya sambil memelukku disertai dengan cipika-cipiki.
“Muingkin aku bisa lupa, soalnya kamu jadi berubah… jadi sangat cantik gini sih…” sahutku sambil menjawil dagu anak tanteku dari pihak ibu kandungku itu.
“Masa sih?! Emangnya aku cantik sekarang?” tanya Pia sambil duduk di sofa yang melingkari dinding lobby.
“Dari dulu juga kamu kan cantik. Cuma waktu itu kamu sedang pacaran sama tentarta, makanya aku tak berani mengganggumu. Lagian kamu kan saudara sepupuku,” sahutku sambil mengenang kembali segala yang pernah terjadi. Memang selama ini aku hanya mendekat ke keluarga besar Papa. Sementara keluarga besar ibuku almarhumah seolah terabaikan.
Sedangkan Pia itu anak Tante Reki. Dan Tante Reki itu adik mama kandungku.
“Pacarannya sama tentara, tapi nikahnya dengan crew kapal pesiar,” ucap Pia sambil tersenyum.
“Ohya?! Enak dong. Crew kapal pesiar kan gede gajinya tuh.”
“Iya sih. Tapi perkawinan kami hanya mampu bertahan dua tahun. Lalu cerai setahun yang lalu.”
“Ohya?! Kenapa bisa bercerai?”
“Jadi istri crew kapal pesiar itu makan hati. Dia sembilan bulan di laut, tiga bulan di darat. Mana tahan hidup seperti itu terus-terusan?!”
“Terus kamu tinggal di mana sekarang?”
“Di Surabaya.”
“Pasti ada bisnis yang dijalani di Surabaya, makanya kamu kerasan tinggal di sana ya.”
“Ada lah bisnis kecil-kecilan.”
“Bisnis apa tuh?”
“Punya beberapa counter pakaian di beberapa mall. Makanya aku ke sini juga buat belanja. Di sini modelnya kan selalu ngetrend. Harganya murah-murah pula. Ohya, kamu lagi nginep di hotel ini juga? Aku nginap di kamar tujuh-lima. Mau nemenin aku tidur nanti malam? Suka agak takut sih tidur sendirian di hotel gini.
“Mmm… kita ngobrolnya di sana aja yuk,” kataku sambil berdiri dan meraih pergelangan tangan Pia. Mengajaknya ke ruang kerjaku yang letaknya di belakang.
Setelah berada di dalam ruang kerjaku, Pia berkata, “Kok ini seperti ruang kerja? Kamu karyawan hotel ini?”
Aku tersenyum dan mengajak Pia duduk berdampingan di sofa ruang tamu. “Hotel ini milikku, Pia…”
Pia terbelalak, “Haaa?! Kamu kan setahun lebih muda dariku. Berarti sekarang usiamu duapuluhtiga kan?”
“Iya. Aku sudah duapuluhtiga tahun sekarang.”
“Usia duapuluhtiga sudah memiliki hotel segini luasnya?! Hebat kamu Sam.”
“Yah… faktor keberuntungan manusia kan tidak sama. Ada yang cepat meraih mimpi dan cita-citanya, ada juga yang lamban… bahkan ada juga yantg sama sekali tidak berhasil.”
Pia bangkit dari sofa, lalu melihat-lihat kantorku yang tadinya suite room ini. “Gila… kantor owner hotel segini kerennya… ada meeting room, ada ruang tamu, ada bedroomnya juga… tau gini sih aku takkan booking kamar. Tidur di sini aja biar gratis. Bisa kan?”
“Bisa. Kalau butuh teman, aku juga bisa menemanimu,” ucapku sambil memeluk Pia dari belakang.
“Sam… dulu kamu sering melukin aku kayak gini. Tapi sekarang sih beda rasanya ya?”
“Dulu kan kita masih sama-sama kecil. Sekarang tentu beda. Kamu udah tau enaknya titit, aku udah tau enaknya memek…”
“Ohya… kamu udah punya istri kan?”
“Udah.”
“Pantesan cara meluknya kayak yang udah sangat berpengalaman.”
“Iya kali… by the way, kamu udah punya anak?”
“Belum.”
“Wah kebayang memekmu pasti masih enak dong,” ucapku sambil menurunkan tanganku dari dada ke bawah perut Pia.
“Ya iyalah. Memekku kan belum pernah ngeluarin bayi.”
“Aku jadi gemes,” ucapku sambil meremas-remas gaun di bawah perut Pia, “Kita saling bagi rasa aja yuk. Mumpung kamu belum kawin lagi.”
“Kita kan saudara Sam.”
“Saudara sepupu. Bukan saudara kandung.”
“Sebenarnya aku di Surabaya udah punya pacar.”
“Punya suami juga biarin. Aku sendiri juga udah punya istri. Kenapa kita nggak mutual taste aja?”
“Hihihiii… mutual taste… !”
Lalu kami duduk berdampingan di sofa ruang tamu lagi.
“Dulu waktu masih kecil, tititmu kecil. Setelah dewasa seperti apa ya bentuknya,” kata Pia sambil menarik ritsleting celana corduroy biru tuaku. Kubiarkan saja dia menyembulkan penisku yang sudah mulai menegang ini.
Dan… Pia benar-benar menyelinapkan tangannya ke dalam, ke balik CDku. Dan memekik tertahan setelah berhasil memegang batang kemaluanku, “Waaaw…! Sepanjang dan segede ini?”
“Padahal kontolku belum ngaceng benar nih,” sahutku sambil menyembulkan penisku, “baru tegak-tegak tali.”
Pandangan Pia terpusat ke batang kemaluanku yang belum sepenuhnya ngaceng ini. Dengan mata hampir tak berkedip.
Dan tiba-tiba saja Pia membungkuk sambil memegang pangkal penisku, lalu dikulumnya penisku ini dengan binalnya.
Bukan cuma dikulum, tapi lalu diselomotinya dengan lincahnya.
Pada saat itulah aku pun bisa menyelinapkan tanganku ke balik gaunnya. Merayapi pahanya yang sudah menghangat, kemudian menyelinap ke balik celana dalamnya. Dan tak sulit untuk menjamah kemaluannya yang masih bercelana dalam itu.
Meski pada waktu masih sama-sama kecil aku sering bermain dan peluk-pelukan dengan Pia, namun baru sekali inilah aku memegang kemaluannya yang tembem dan bersih dari jembut ini. Baru sekali ini pula aku menyelinapkan jemariku ke dalam celah kewanitaannya yang hangat dan agak basah ini.
Sementara mulut Pia semakin bersemangat menyelomoti batang kemaluanku sementara tangannya pun mulai mengurut-urut badan penisku. Sehingga aku pun semakin bersemangat untuk mengentotkan jari tengahku di liang kemaluan Pia yang terasa sempit ini. Lalu… liang kemaluan Pia terasa makin membasah. Terlebih setelah jemariku menemukankelentitnya, lalu menggesek-geseknya dengan telunjukku.
Suasana di ruang tamu ini semakin menghangat. sehingga akhirnya kubisiki telinga saudara sepupuku yang cantik itu. “Pindah ke bedroom yok… biar lebih leluasa…”
Kami lalu melangkah ke bedroom dengan saling bergandengan lengan, seolah sepasang kekasih yang sudah lama saling merindukan.
Di dalam bedroom itulah Pia menanggalkan gaunnya ketika aku sedang menutupkan sekaligus mengunci pintu. Klik.
Lalu aku menghampiri Pia yang sedang berdiri di dekat bed dalam keadaan tinggal berbeha dan bercelana dalam saja.
“Ck.. ckk… ckkk… tubuhmu indah sekali Pia, “pujiku sambil melepaskan kemeja putihku. Kemudian kulepaskan juga celana corduroy biru tuaku. Hanya celana dalam yang kubiarkan tetap melekat di tubuhku.
Pia hanya tersenyum, sambil menanggalkan behanya. Lalu tampaklah sepasang payudara berukuran medium, yang masih mengacung ke depan. Membuatku penasaran. Lalu kupegang payudara berukuran sedang itu. Hmm… masih lumayan kencang.
Lalu Pia membelakangiku sambil membungkuk dan melepaskan celana dalamnya. Maaak… bokong Pia itu gede banget…! Mengingatkanku kepada Mama Ken yang selalu “kutengok” secara rutin.
Memang indah sekali tubuh saudara sepupuku itu. Kulitnya tidak terlalu putih, tetapi mulus sekali. Mengkilap pula, seolah habis dilumuri lotion.
Tubuh mulus yang indah itu mulai menelentang di atas bed. Aku pun melepaskan celana dalamku. Lalu menerkam tubuh yang sudah siap untuk kugumuli itu.
Ya… aku mulai menggumulinya. Menciumi bibirnya yang agak tebal dan sensual itu. Mengemut puting payudaranya yang terasa tegang, pertanda horny.
Lalu aku melorot turun, karena tak sabar lagi, ingin menjilati memeknya yang tembem itu. Pia pun merenggangkan jarak kedua paha mulusnya, seolah ingin memberiku keleluasaan untuk menggasak memeknya.
Ketika kemaluan Pia kuamati dari jarak yang sangat dekat, buntuknya mulus dan sangat merangsang. Maka dengan penuh gairah kujilati kemaluan yang agak ternganga itu.
Sementara jemariku pun ikut campur tangan, kuselinapkan jari tengahku ke dalam liang kecil yang sudah membasah itu. Lalu kugerak-gerakkan maju mundur di dalam celah kewanitaan Pia.
Karuan saja Pia mulai klepek-klepek seperti hewan sekarat. Terlebih setelah lidah dan bibirku menggasak kelentitnya, Pia pun mulai merintih-rintih histeris. “Saaaam… dududuuuuh Saaam… aaaaa… aaaaah… Saaaam… Saaaam…”
Bahkan tak lama kemudian Pia bergumam lirih, “Sudah Saam… masukin aja kontolmu Saaam… memekku jangan dibikin becek Sam… !”
Aku mengerti apa maksud Pia. Karena menurut pengalamanku, menjilati memek sebagai foreplay boleh-boleh saja. Tapi jangan dibuat terlalu becek. Karena kalau terlalu becek, rasa enaknya liang memek jadi berkurang.
Lalu kuikuti permintaan Pia itu. Sambil berlutut di antara kedua belah paha yang direntangkan lebar-lebar itu kubenamkan batang kemaluanku ke dalam memek tembem itu.
Batang kejantananku mulai terbenam sampai lehernya. Spontan Pia menarik kedua tanganku, sehingga dadaku terhempas ke atas kedua toket kencang indah itu.
“Gila… kontolmu gede banget Sam…” bisik Pia ketika pipiku sudah merapat ke pipinya.
Kemudian kudorong lagi batang zakarku sekuat tenaga. Dan melesak lagi lagi sedikit demi sedikit sampai membenam lebih dari separohnya. Ngocoks.com
Tanpa menunggu sampai terbenam seluruhnya, batang kemaluanku mulai kugerakkan mundur… maju… mundur… maju… perlahan-lahan dulu, sampai liang memek Pia beradaptasi dengan ukuran kontolku.
Akhirnya penisku bisa mengentot dengan lancar di dalam liang memek yang sangat sempit ini. Diikuti dengan desahan dan rintihan histeris saudara sepupuku, “Saaam… aaaa… aaaaah… Saaam… gila… dientot sama kontol segede dan sepanjang ini sih… perempuan mana pun pasti ketagihan Saaam… aaaaah…
Aku tak sekadar mengentotnya. Sambil mencium bibirnya, agar rintihannya tersumpal oleh mulutku, aku pun meremas toketnya yang berukuran sedang tapi masih kencang itu.
Dan ketika mulutku bersarang di lehernya, untuk menjilati sambil mendaratkan gigitan-gigitan kecil, rintihan Pia pun berlontaran lagi dari mulutnya, “Aaaaah… aaaa… aaah… Saaam… duuuuu… duuuuuhhhhh… ini luar biasa enaknya Saaam… ba… baru sekali ini aku me… merasakan dientot se…
Sambil mengentot saudara sepupuku ini, aku iseng membisikinya, “Memangnya kita ini lagi ngapain Pia?”
“Lagi eweaaaan…” sahutnya spontan.
Membuatku tertawa kecil dan semakin gencar mengentotnya.
“Ewean dalam bahasa indonesianya apa?”
“Ewean… !“
“Dalam bahasa inggrisnya apa?”
“Eweaaaannnnn… !“
“Hihihiii… memekmu enak banget Pia… aku juga bakal ketagihan…”
“Iyaaa… kapan pun kamu mau, atur aja mau ketemuan di mana… walaupun aku udah punya suami lagi, aku bakal kasih memekku buat kamu entot sepuasnya…”
Namun belasan menit kemudian, Pia mulai berkelojotan… lalu sekujur tubuhnya mengejang tegang…
Aku mengerti bahwa Pia akan mencapai orgasme pertamanya. Karena itu entotanku semakin kupercepat. Semakin kupercepat… lalu ketika perut Pia agak terangkat, kubenamkan kontolku sedalam mungkin, tanpa kugerakkan lagi. Aku bukan mau ejakulasi, melainkan ingin menikmati indahnya gerakan reflex liang memek Pia pada waktu mencapai puncak orgasmenya.
Hal itu benar-benar terjadi. Liang memek Pia terasa laksana ular yang tengah melilit dan mencengkram kontolku… lalu terasa berkedut-kedut indah… membuatku terpejam saking nikmatnya.
Lalu sekujur tubuh Pia melemah… kelopak matanya pun terbuka dan menatapku dengan sorot jinak.
“Kok cepat sekali orgasmenya?” bisikku.
“Abisnya… terlalu enak Sam…! Kamu belum ngecrot kan?”
“Belum. Masih jauh,” sahutku.
“Kamu hebat sekali. Aku bakal sering datang ke kota ini nanti. Cuma ingin dientot lagi sama kamu…”
“Nanti boleh dilepasin di dalam?”
“Boleh aja. Sejak punya suami pun aku ikut KB. Soalnya aku baru mau punya anak setelah usiaku tigapuluh tahun.”
“Kalau gitu, aku juga bakal sering ke Surabaya… khusus untuk menikmati memekmu.”
“Boleh. Asal ngasih tau aja dulu sebelumnya… soalnya aku punya counter di mall-mall di kota lain… bukan cuma di Surabaya. Ayo entot lagi Sam… aku udah horny lagi nih…” kata Pia sambil mendekap pinggangku erat-erat.
Spontan kutanggapi ucapan Pia itu dengan ayunan penisku yang maju-mundur kembali di dalam liang memek saudara sepupuku.
“Duuuuh… kontolmu memang luar biasa enaknya Saaam… “rengek Pia sambil mempererat dekapannya.
Aku pun semakin giat melengkapi entotanku dengan jilatan dan gigitan kecil di pentil toket Pia, di leher Pia dan di ketiaknya juga. Hal ini membuat Pia semakin klepek-klepek dan merem melek. Sementara aku pun semakin garang melancarkan entotanku.
Hari memang masih pagi. Tapi aku sudah merasakan “breakfast” yang sangat indah dan takkan terlupakan.
Keringat pun mulai membasahi tubuhku. Sebagian bercampur aduk dengan keringat Pia. Keringat Pia itu tampakj jelas di leher dan ketiaknya. Namun tanpa rasa jijik sedikit pun kujilati keringat di leher dan ketiaknya itu, sementara batang kemaluanku semakin ganas menggenjot liang memek saudara sepupuku…
Pia sudah terkulai lemas lagi. Namun aku sedang enak-enaknya menggenjot liang memeknya yang terasa sudah becek ini…
Bersambung…




