Lembaran Kehidupan Ita
Meski aku punya ayah tiri, namun aku bukan anak brokenhome. Kehidupanku terasa nyaman bersama Mama dan Papa tiriku yang tidak membeda-bedakan terhadap anak kandung dan anak tirinya.
Tapi dalam masalah cinta, aku sudah berkali-kali gagal. Mungkin semuanya itu hanya cinta monyet. Karena semua kegagalan cintaku terjadi pada waktu aku masih duduk di SMA. Namun aku jadi traumatis. Jadi malas punya pacar lagi. Biarlah, aku akan mencurahkan pikiranku buat pendidikan saja. Setelah jadi sarjana, barulah aku akan memikirkan untuk pacaran lagi.
Maka setelah jadi mahasiswa, aku tak mau dijadikan pacar siapa pun. Memang banyak yang PDKT padaku, namun aku selalu memberikan batas pemisah. Aku hanya mau menerima teman kuliahku sebagai teman atau sahabat. Tak mau lebih dari itu.
Tapi entah kenapa, setelah usiaku menginjak 19 tahun, aku jadi sering memikirkan sesuatu yang belum pernah kurasakan. Yang kupikirkan adalah masalah… sex…!
Apakah khayalan yang sering menggelayuti benakku ini sesuatu yang wajar atau tidak? Entahlah.
Ternyata salah seorang sahabatku, Rima, mengalami hal yang sama. Dia juga sering membayangkan betapa indahnya kalau dicumbu dan disetubuhi oleh lawan jenisnya. Tapi Rima sudah punya solusinya. Dia membeli sebuah dildo. Dengan dildo itu Rima bisa memuasi dirinya sendiri, tanpa mengharapkan kehadiran cowok.
“Seperti apa sih dildo itu?” tanyaku pada suatu hari, ketika sedang mengunjungi rumah Rima sepulangnya kuliah.
“Di dalam kamarku aja yok,” kata Rima sambil mengajak masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya, Rima mengeluarkan dildo itu dari lemari pakaiannya. “Ini nih… bentuknya persis sama dengan kontol kan?” kata Rima sambil menyerahkan dildo itu padaku.
Meski belum pernah melihat penis cowok, tapi aku sering nonton bokep. Memang mirip sekali dengan penis cowok. Ada pelernya segala.
“Pakai kabel segala… buat apa?” tanyaku lugu.
“Buat vibratornya.”
“Jadi cara makainya gimana?” tanyaku lagi.
“Kalau tak mau kehilangan keperawanan, tekankan aja kepalanya ke itilmu. Lalu nyalakan vibratornya. Pasti kamu bakal merasakan sensasi ML. Kalau mau merasakan seperti ML beneran, masukin aja dildo ini ke liang meki kamu. Tapi kalau dildo ini dimasukkan ke liang meki, berarti keperawanan kamu bakal robek.
“Kamu sendiri pernah dimasukkan ke dalam liang meki?”
“Tadinya sih gak mau. Tapi belakangan ini selalu kumasukkan ke dalam mekiku.”
“Berarti kamu gak perawan lagi dong.”
“Biarin ajalah. Hari gini masih bicara soal keperawanan… huuh… !”
“Mmm… tolong beliin dong satu buat aku. Nanti duitnya kuganti.”
“Ini aku masih ada cadangan dua lagi. Masih baru semua. Belum pernah kupakai,” kata Rima sambil mengeluarkan dua buah dildo yang masih disegel dalam kotak dusnya masing-masing.
“Nih… pilih aja mau yang mana. Yang satu ukuran king size… yang satu lagi ukuran kecil.”
Setelah kupikirkan sesaat, akhirnya kupilih yang kecil. Hanya sebesar jempol kakiku. Sementara yang gede, aku ngeri melihatnya juga.
Lalu kutanya berapa harganya, Rima malah menjawab, “Ambil aja gak usah dibayar. Hitung-hitung kado ulang tahunmu aja. Hihihiii… !”
“Ulang tahunku udah lewat tiga bulan yang lalu. But… terima kasih ya Rim.”
“Iya… sama-sama. Selamat mencoba kontol-kontolan yaaa…”
Aku tersipu mendengar ucapan sahabatku itu. Tapi lalu kumasukkan dildo itu ke dalam ransel kuliahku.
Malamnya aku mempraktekkan “pelajaran” dari Rima.
Di dalam kamarku yang pintunya sudah kukunci, kukeluarkan dildo itu dari dalam kotak kartonnya. Kuperhatikan sejenak dildo itu dengan perasaan asing menyelinap ke dalam batinku. Lalu kumatikan lampu, sehingga kamarku jadi gelap gulita. Biasanya kalau lampu kumatikan, pertanda aku sudah mau tidur. Tapi saat itu aku punya “kegiatan” di dalam gelapnya kamarku.
Saat itu aku hanya mengenakan kimono, tanpa bra mau pun celana dalam di baliknya. Lalu… sesuai dengan petunjuk dari Rima, kutempelkan puncak dildo itu ke kelentitku. Kemudian kuaktifkan vibratornya.
Maaak… ini geli-geli enak yang luar biasa rasanya. Aku sampai terpejam-pejam merasakan enaknya getaran dildo yang kutekankan ke kelentitku ini.
Aku klepek-klepek sendiri di dalam kamarku yang gelap gulita.
Dan “kelakuan baru” ini kulakukan hampir tiap malam. Bahkan pada waktu datang bulan pun terkadang aku melakukan perbuatan yang kurahasiakan ini.
Namun seperti yang dialami oleh Rima, lama kelamaan aku penasaran dan ingin merasakan seperti apa rasanya kalau dildo itu kumasukkan ke dalam liang memekku?
Ada perasaan takut untuk melakukannya. Takut aku tidak perawan lagi dan sebagainya. Tapi rasa penasaranku makin lama makin kuat.
Sehingga pada suatu malam, diam-diam kulumuri dildoku dengan lotion, seperti petunjuk dari Rima. Lalu kubenamkan dildo yang sudah dilicinkan itu ke dalam liang memekku. Perlahan tapi pasti… sampai masuk semuanya. Ada bagian yang agak sakit di dalam memekku. Tapi tidak seberapa sakit. Lalu kutarik dildo itu tanpa menyalakan vibratornya.
Begitulah… akhirnya dildo itu kumainkan, dibuat maju mundur di dalam jepitan liang memekku.
ternyata memang enak sekali… membuatku terpejam-pejam saking enaknya. Sambil membayangkan sedang disetubuhi oleh seorang cowok. Dan gilanya, aku malah membayangkan seolah-olah sedang disetubuhi oleh… Sam!
Ya… setiap kali kumainkan dildoku, selalu saja aku membayangkan tengah disetubuhi oleh Sam. Karena adik tiriku yang satu itu memenuhi kriteriaku. Ganteng dan macho. Berbeda dengan Yoga yang tampan tapi “lemah gemulai”.
Tapi sayangnya Sam itu adik tiriku. Sehingga kupendam saja perasaan kagumku padanya. Dan bersikap biasa-biasa saja, seolah tak pernah mengkhayalkannya sebagi cowok yang sering menggauliku. Ngocoks.com
Namun… pada suatu saat Sam benar-benar hadir!
Itulah sebabnya aku bersikap “welcome” ketika sedang tidur tanpa mengenakan celana dalam, lalu diam-diam Sam masuk ke dalam kamarku untuk meminjam sisir, tapi lalu asyik memainkan kemaluanku.
Aku memang tidak perawan lagi. Dildolah yang telah membuatku tidak perawan lagi.
Tapi cowok pertama yang menyetubuhiku adalah Sam.
Bahkan pada kesempatan berikutnya, Sam “dikeroyok” oleh aku dan Rima di hotel yang bersatu dengan mall itu.
Seminggu setelah kami bertiga kencan di hotel itu, aku dibuat resah di dalam kamarku. Ingin merasakan lagi nikmatnya disetubuhi oleh adik tiriku itu. Padahal saat itu sudah jam sebelas malam. Sementara nafsu birahiku sudah menagih-nagih. Maka kukirim WA buat Sam yang tadi sudah kelihatan naik ke lantai atas.
-Sam, Miss V sudah kangen sama Mr. P. –
Langsung datang balasan dari Sam,-Iya. Aku ke situ sekarang. Pintunya jangan dikunci ya, biar gak usah ngetuk-ngetuk dulu-
-Iya.-
Beberapa saat kemudian pintu kamarku dibuka dari luar. Lalu tampak Sam masuk, berjalan biasa-biasa saja. Tidak mengendap-ngendap.
“Sekarang ini malam Minggu yang hot buat kita berdua Mbak,” kata Sam sambil menepuk-nepuk bokongku.
“Sttt… pelan-pelan… nanti kedengaran si Yoga di kamar sebelah…!” kataku sambil menyimpan telunjuk di bibirku.
“Hahaaa… tenang aja Mbak. Yoga lagi study tour ke Jogja. Mama dan Mbak Ayu baru berangkat setengah jam yang lalu, mau pada nginap di rumah Tante Mira katanya.”
“Haaa?! Jadi sekarang cuma kita berdua di rumah ini?”
“Iya Mbak. Kita bisa ngewe sepuasnya… emwuaaah… emwuaaah… !” kata Sam sambil memeluk dan menciumi pipiku.
“Emang udah dari tadi siang aku ingin dientot sama kontolmu…” ucapku blak-blakan, sambil menyelinapkan tanganku ke balik celana piyama Sam, “Widiiih… udah ngaceng gini kontolmu, Sam.”
“Iyalah. Kontolku selalu siap untuk bertugas menyodok memek Mbak Ita.”
“Sam,” ucapku sambil menarik tangan Sam ke atas tempat tidurku, “Aku pengen belajar blowjob…”
“Ohya?! Ini aku bawa flashdisk berisi beberapa bokep. Setelin aja di laptop Mbak.”
“Iya sini… ta setelin di laptop,” sahutku sambil menjemput flashdisk punya Sam.
Lalu kuaktifkan laptop. Kupasang flashdisk. Dan kuaktifkan isinya.
“Kalau gak salah video ketiga blowjob semua tuh,” kata Sam yang sedang duduk di pinggiran bedku.
Kuputar video ketiga, sesuai dengan petunjuk Sam.
Memang benar. Video itu berisi adegan blowjob seperti yang kuinginkan. Ceweknya tampak sangat bersemangat mengulum dan mengurut-urut penis cowoknya.
Maka kubawa laptopku ke atas bed. Sam pun melepaskan celana piyamanya dan penisnya langsung nyembul. Karena dia tidak mengenakan celana dalam, seperti aku.
Ketika aku mulai memperhatikan adegan di layar laptop, Sam sudah menelentang sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah kemerah-merahan dan tegang itu.
Hanya memperhatikan sebentar saja, aku sudah mengerti apa yang harus kulakukan. Dan mulai kulakukan. Menjilati moncong dan leher penis Sam, kemudian mengulumnya sambil mengalirkan air liurku ke badan penisnya. Lalu mengurut-urut badan penisnya yang tidak terkulum olehku.
Saat itu aku rebah menelungkupi tubuh Sam secara sungsang, sehingga kemaluanku berada di atas mulut Sam.
“Nah… ini sih bisa sambil main enamsembilan,” kata Sam sambil menyingkapkan kimonoku. Lalu menarik bokongku, sehingga memekku jadi menyentuh mulutnya.
Lalu ketika aku semakin giat menyelomoti penis Sam sambil mengurut-urut badan penisnya yang sudah berlepotan air liurku… Sam pun mulai menjilati memekku.
Oi Maaaak…! Ternyata posisi 69 ini memang nikmat sekali. Karena ketika aku semakin lahap menyelomoti dan mengurut-urut penis Sam, aku pun menikmati enaknya memekku dijilati oleh Sam.
Dalam tempo singkat saja liang kemaluanku sudah membasah, sementara penis Sam semakin ngaceng, semakin keras dan mungkin sudah saatnya untuk dijebloskan ke dalam liang kemaluanku.
Maka kulepaskan penis Sam dari kulumanku. Lalu melepaskan kimonoku dan menelentang sambil berkata, “Cukup Sam… masukin aja kontolmu… aku udah kangen berat sama kontolmu itu…”
Sam mengangguk sambil tersenyum. Lalu melepaskan baju piyamanya dan langsung merayap ke atas poerutku sambil meletakkan penisnya di mulut vaginaku. “Kirain mau nyobain posisi woman on top,” ujarnya.
“Nggak ah. Posisi biasa gini aja, rasanya lebih lengkap,” sahutku.
Dan… aaaaah… penis Sam mulai membenam ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah ini.
Spontan kutarik kedua bahu Sam, sehingga dadanya merapat ke sepasang toketku.
“Kontolmu lebih gede daripada dildoku yang udah dibuang itu,” bisikku.
“Enak sama dildo atau sama kontolku?”
“Jauh… jauh lebih enak kontolmu, Dek…”
Sam ketawa mendengar sebutan Dek itu, karena tidak seperti itu biasanya. Tapi dia memang lebih muda setahun daripada aku.
Sesaat kemudian penis Sam mulai diayun, maju-mundur seolah sedang memompa liang kenikmatanku.
Aku pun menyambutnya dengan merengkuh leher Sam ke dalam pelukanku. Lalu kupagut bibir machonya dan kulumat dengansepenuh gairahku.
Sam pun semakin garang mengentotku. Sehingga aku mulai merengek-rengek manja, “Saaam… aaaaa… aaaaa… aaaaah… kontolmu ini luar biasa enaknya Saaam… iyaaaaaa… entot terus Saaaam… iyaaa… iyaaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaa… aaaaa… aaaaah… aaaaa… aaaaah… Saaaaam…
Memang gesekan antara penis Sam dengan liang sanggamaku luar biasa enaknya. Sehingga makin lama aku makin lupa segalanya.
Bahkan pada suatu saat aku mengelojot… lalu mengejang tegang… inilah orgasme yang teramat indah dan nikmat… yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Aku menahan nafasku, sementara liang kemaluanku terasa berkedut-kedut… Sam pun membenamkan penisnya sedalam mungkin… lalu membiarkannya tertanam di dalam liang kenikmatanku.
Dan ketika puncak orgasmeku datang, aku merintih histeris, “Saaaaaam… !”
Lalu sekujur tubuhku lemas lunglai. Dalam perasaan puas sedalam lautan.
Namun Sam mulai menggerakkan penisnya kembali. Perlahan tapi pasti. Makin lama makin cepat. Sementara aku pun sudah bergairah lagi untuk meladeni entotan Sam.
Kali ini Sam bukan cuma mengentotku. Mulutnya pun mulai bersarang di leherku yang sudah keringatan ini. Jilatan-jilatannya di leherku membuat mataku terpejam-pejam saking nikmatnya. Terlebih setelah leherku digigit-gigit… semakin kencanglah aku mendekap pinggang Sam.
Aku belum pandai menggoyangkan pinggulku. Maka pinggulku bergerak-gerak secara spontan saja. Semuanya masih natural dan naluriah. Naluri seorang perempuan yang sedang menikmati fantastisnya disetubuhi pria.
Namun Sam mengajakku untuk mempraktekkan posisi doggy.
Aku hanya mengiyakan dan mengikuti petunjuknya. Setelah penis Sam dicabut, aku menelungkup. Lebih tepatnya menungging. Karena bokongku dinaikkan, sementara Sam sudah berhasil membenamkan kembali penisnya ke liang kenikmatanku.
Lalu… ketika aku menungging sambil memeluk bantal guling, Sam mulai mengentotku lagi…
###
Sam mengentotku yang sedang menungging ini, sambil menepuk-nepuk buah pantatku.
Wuiiih… ternyata posisi doggy ini pun mendatangkan sensasi tersendiri. Sensasi yang membuat nafasku tersendat-sendat, bercampur dengan rintihan-rintihan di luar kesadaranku.
“Dudududuuuuh… Sam… Saaaam… ooooooh… ternyata posisi ini pun eee… enak sekali Saaaaam… tepukin pantatku terus Saaaam… iyaaaaa… iyaaaaaa… iyaaaa… enak sekali Saaaaam… !”
Sam mengikuti permintaanku. Dengan gagahnya dia mengentotku dari belakang, sambil menepuk-nepuk pantatku.
“Duuuu… Saaaam… ini makin enak aja Saaaam… entot terus sambil tepuk-tepuk pantatku Saaaaam… iya… iyaaaaaa… iyaaaaaaaaa… iyaaaaaa… iyaaaaa… !”
Memang enak sekali. Tapi… saking enaknya, aku tak kuasa menahannya… aku memejamkan mata sambil meremas-remas bantal guling yang sedang kupeluk. Dan… aku merasa seolah tengah melesat ke langit… lalu… orgasme lagi…!
Akhirnya aku ambruk, sehingga batang kemaluan Sam terlepas. Kemudian aku menggulingkan badanku, menelentang kembali tanpa daya.
Untungnya Sam cukup sabar. Meski belum ngecrot, ia seolah menunggu sampai fisikku pulih kembali. Ia merebahkan diri di sampingku, sambil mengusap-usap toketku.
“Harusnya sih ngajak Rima lagi ya. Biar seru. Soalnya kamu kuat sekali sih. Diladeni sama seorang sih bisa kepayahan gini,” ucapku sambil menyeka keringat di wajah dan leherku dengan kertas tissue basah.
“Santai aja Mbak…” sahut Sam sambil mengelus-elus memekku yang baru mencapai orgasme ini.
“Rima gak pernah ngajak kamu ke rumahnya?” tanyaku.
“Pernah. Tapi aku belum sempat ke rumahnya, karena sibuk terus.”
“Nanti kalau kamu punya waktu senggang, kita main bertiga lagi di rumah Rima aja.”
“Iya Mbak.”
“Ayo masukin lagi kontolmu Sam. Aku udah seger lagi nih.”
Sam tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan. Merayap ke atas perutku lagi, kemudian membenamkan kontolnya kembali ke dalam liang memekku yang masih basah ini.
Blessss… penis Sam membenam lagi ke dalam liang memekku.
“Memekku jadi becek ya?”
“Gak apa-apa. Becek karena orgasme sih aku suka,” sahut Sam yang sudah membenamkan sekujur batang kemaluannya. Lalu ia mulai mengayun kembali alat kejantanannya di dalam liang kemaluanku.
Malam itu memang malam Minggu gila habis. Malam yang kami nikmati semalam suntuk… all night long…!
Aku tak bisa menghitung lagi berapa kali aku mencapai orgasme dan berapa kali kontol Sam ngecrot di dalam liang memekku.
Ketika fajar sudah menyingsing, barulah Sam meninggalkan kamarku, sementara aku pun tepar dan tertidur sampai matahari sudah condong di ufuk barat.
Aku merasa Sam sudah menguasai hatiku sepenuhnya.
Namun esok harinya dan di hari-hari berikutnya, Sam menghilang dari rumah kami. Kata Mama, Sam sudah dapat tempat tinggal di mess karyawan perusahaan tempatnya Papa bekerja. Karena Sam sudah bisa dipastikan akan dijadikan karyawan di kantor Papa. Sam akan diangkat jadi karyawan tetap kalau kuliahnya sudah selesai.
Hanya itu berita yang kudengar dari Mama.
Dan aku jadi merasa kehilangan. Karena Sam seolah sudah menjadi bagian penting di dalam diriku.
Namun ternyata bukan hanya aku yang merasa kehilangan. Mbak Ayu juga sama. Merasakan ada sesuatu yang hilang dari rumah kami.
Hal itu kuketahui ketika Mbak Ayu mengajakku berbicara di dalam kamarku.
“Ita… sebaiknya jujur saja kamu akui. Kamu pernah atau sering digauli oleh Sam kan?”
Aku tersentak mendengar pertanyaan itu. Tapi lalu kujawab singkat sambil menunduk, “Iya Mbak.”
Mbak Ayu memegang bahuku sambilk berkata, “Berarti nasib kita sama. Aku bahkan telah menyerahkan keperawananku padanya. Lalu terjadi dan terjadi lagi pada malam-malam berikutnya, tanpa dapat direm lagi.”
“Berarti kita berdua sudah jadi milik Sam, ya Mbak.”
“Bukan hanya kita berdua. Seisi rumah ini sudah digauli oleh Sam.”
“Siapa lagi ceweknya selain kita berdua?”
“Mama juga sudah sering digauli oleh Sam.”
“Ohya?! Mbak Ayu kok bisa tau? Seangkan aku baru tau sekarang.”
“Aku membaca catatan pribadi Mama dan catatan pribadi Sam sendiri. Mereka bahkan sudah melakukannya sebelum kita merasakannya.”
“Ohya?! Tapi… Mama pasti sering merasa kesepian belakangan ini, setelah Papa jarang pulang. Jadi wajar juga kalau Mama mengisi kesepiannya bersama Sam.”
“Sam itu cowok yang sangat tangguh. Perempuan mana pun pasti puas kalau sudah digauli oleh Sam.”
“Iya Mbak. Aku juga sering merasa kepayahan meladeninya. Tapi jujur aja… aku pernah ngajak sahabatku untuk mengeroyok Sam.”
“Threesome maksudmu?”
“Iya Mbak. Dihadapi sama dua cewek aja Sam masih perkasa Mbak.”
“Haaa…! Aku jadi dapat ilham. Nanti kalau Sam pulang, kita ajak threesome yuk.”
“Jadi Mbak dengan aku dan Sam gitu?”
“Iya.”
“Ajak Mama aja sekalian Mbak.”
“Jangan ah. Kalau Mama diajak, kita bakal pada salting nanti.”
“Iya. Tapi kapan Sam pulang ke sini ya? Masa dia sudah melupakan kita?”
“Nanti kucoba hubungi dia via WA. Kalau dia mau pulang, kita siap-siap aja untuk dihangati olehnya.”
“Iya Mbak. Melakukannya di mana ya?”
“Di kamar Sam aja. Kita masuk ke kamarnya, lalu ajak untuk menggauli kita.”
“Siap Mbak. Hihihihiiii… kebayang…”
Lalu entah bagaimana caranya untuk “mengundang” Sam, tahu-tahu pada suatu sore Mbak Ayu berkata padaku, “Nanti malam Sam mau pulang. SIap-siap aja ya.”
“Iya Mbak. Nanti aku ke kamar Mbak dulu, baru kemudian kita sama-sama masuk ke kamar Sam. Begitu?”
“Iya. Nanti kita kompak sama-sama pake kimono. Dan tidak mengenakan beha mau pun celana dalam ya.”
“Iya Mbak. Biar gampang telanjangnya. Tinggal lepasin kimono lalu bugil deh. Hihihiii !”
Begitu hari mulai gelap, aku mandi sebersih mungkin. Setiap sela-sela di tubuhku dibersihkan. Juga kusabuni dan kubersihkan kemaluanku, jangan sampai ada aroma yang kurang sedap pada waktunya nanti. Lalu kukenakan kimono tanpa mengenakan pakaian dalam di baliknya.
Jam tujuh malam lebih terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan, lalu masuk ke dalam garasi. Aku yakin itu Sam dengan mobil inventaris kantornya (belakangan aku tahu bahwa mobil itu milik Sam sendiri).
Aku bergegas meninggalkan kamarku, naik ke lantai dua, masuk ke kamar Mbak Ayu sebelum terdengar langkah Sam menaiki tangga ke lantai dua. Mungkin dia menutupkan dulu pintu garasi.
“Stttt… Sam udah datang Mbak,” kataku setengah berbisik.
“Iya,” sahut Mbak Ayu perlahan juga, “barusan kudengar mobilnya masuk ke dalam garasi. Kita tunggu dulu, jangan langsung menyerbu masuk ke dalam kamarnya.”
Tak lama kemudian terdengar bunyi langkah Sam. Lalu terdengar juga bunyi kunci diputar… klik… kemudian terdengar bunyi pintu dibuka dan ditutupkan kembali.
Kami menunggu sesaat. Lalu Mbak Ayu mengedipkan mata, mengajakku keluar dengan langkah mengendap-endap.
Di depan kamar Sam kudengar bunyi pancaran air shower. “Sttt… dia lagi mandi,” bisikku di dekat telinga Mbak Ayu.
“Iya,” sahut Mbak Ayu perlahan, sambil membuka handle pintu kamar Sam.
Dengan langkah mengendap kami masuk ke dalam kamar Sam.
Memang benar, Sam sedang mandi. Sementara kami sudah menelentang di atas tempat tidurnya.
Agak lama juga Sam mandi.
Namun akhirnya dia muncul dengan hanya membelitkan handuk putih di badannya, dari perut sampai ke lututnya.
Sam tercengang melihat kami berdua yang sudah rebahan di tempat tidurnya. Tapi lalu melompat ke antara aku dan Mbak Ayu sambil cekikikan, “Hihihihiii… mimpi apa nih… tiba-tiba ada dua bidadari turun ke kamarku?”
“Kami kan sudah kompak, untuk ngeroyok sang pangeran…” sahut Mbak Ayu sambil menarik handuk di tubuh adik tiri kami sampai terlepas.
Sam jadi langsung telanjang, dengan tubuh terasa dingin karena baru habis mandi. “Kami kan udah kompak Sam,” sahut Mbak Ayu yang kemudian memagut bibir Sam dan melumatnya dengan mesra, sementara aku langsung menggenggam batang kemaluan Sam yang masih terkulai lemas.
Aku memang tak mau kalah oleh Mbak Ayu. Tanpa disuruh siapa pun aku menelungkup di antara kedua kaki Sam sambil mengulum penisnya yang masih sangat lemas ini. Tanganku juga bekerja, untuk mengurut-urut alat kejantanan adik tiriku.
Sementara itu Mbak Ayu sudah menanggalkan kimononya, sehingga jadi sama-sama telanjang seperti Sam.
Mbak Ayu pun bergerak dan berlutut, dengan kedua lututnya berada di kanan-kiri leher Sam, sementara memeknya langsung dijilati oleh Sam.
Aku pun semakin giat menyelomoti batang kemaluan Sam, sambil mengelus-elus memekku sendiri dengan tangan kiri… sampai mulai basah, sementara penis Sam sudah ngaceng berat.
Mbak Ayu tetap asyik menikmati jilatan Sam di memeknya dalam posisi facesitting. Sementara aku pun mulai berlutut, dengan kedua lututku berada di kanan kiri pinggul Sam, sambil memegang batang kemaluan adik tiriku yang sudah ngaceng berat ini. Dan ketika Mbak Ayu masih asyik menikmati facesitting, aku pun mulai menurunkan memekku di belakang kakakku.
Batang kemaluan Sam terasa mulai membenam ke dalam liang memekku. Kuturunkan terus bokongku, sehingga makin membenam jugalah penis Sam ke dalam liang kenikmatanku.
Lalu, sambil berpegangan ke sepasang bahu Mbak Ayu yang sama-sama sedang berlutut membelakangiku, aku pun mulai mengayun pantatku… naik-turun dan naik turun terussss…!
Jadilah kami seimbang. Mbak Ayu sedang berlutut sambil menikmati jilatan Sam yang sedang celentang, aku pun menikmati geli-geli enaknya memekku yang sedang mengocok penis Sam.
Mbak Ayu sudah mulai merengek-rengek keenakan, aku pun mulai merintih dan mendesahakibat gesekan penis Sam dengan liang vaginaku.
Semua ini cukup lama berlangsung. Mbak Ayu makin asyik menikmati bibir dan lidah Sam, sementara aku makin asyik menikmati penis Sam yang kukocok terus dengan liang sanggamaku.
Pasti Sam pun sedang menikmati enaknya gesekan antara dinding liang memekku dengan kontolnya. Sementara aku sendiri makin lama makin melayang ke langit birahi yang ranum dengan 1001 kenikmatan. Sampai akhirnya aku ambruk dalam orgasme, dengan memek tertusuk oleh tongkat kejantanan Sam.
Dalam keadaan lemah lunglai, aku menghempaskan diri ke samping Sam.
Sementara Mbak Ayu menggantikanku, mengayun pantatnya dengan memek sudah mencengkram penis Sam.
Namun hal itu tak lama terjadi. Karena selanjutnya Mbak Ayu ingin ganti posisi, ingin celentang, sementara Sam mengentot sambil menelungkupi dada dan perut Mbak Ayu.
Aku pun duduk sambil memperhatikan naik turunnya penis Sam di dalam liang memek Mbak Ayu. Dan kuperhatikan peler Sam yang terombang-ambing seiring dengan gerakan penisnya.
Aku sudah bergairah lagi. Maka tanganku mulai ikut menyemarakkan suasana, dengan mengelus-elus peler Sam. Bahkan terkadang kudekatkan wajahku ke peler Sam dan mulai menjilatinya. Ngocoks.com
Tapi kemudian aku lebih bergairah untuk memainkan toket Mbak Ayu yang gede itu. Memang tubuh Mbak Ayu jauh beda dengan tubuhkju. Mbak Ayu tinggi montok, sementara aku tinggi langsing. Toket dan bokongku pun tidak segede toket dan bokong Mbak Ayu.
Memang kebiasaanku pun berbeda dengan kebiasaan Mbak Ayu. Kalau Mbak Ayu doyan makan, terkadang sampai empat-lima kali sehari, sementara aku cenderung membatasi diri, karena ingin menjaga bentuk tubuhku yang sudah ideal ini.
Akhirnya terdengar Mbak Ayu merintih lirih, “Oooo… ooooooh… Saaaaam… aku udah mau lepassss…”
Aku memperhatikan gerak-gerik kakakku yang sedang berkelojotan, lalu mengejang tegang, dengan mata terpejam erat. Lalu ia mengelojot lagi dan kemudian seperti lemah lunglai.
Pada saat berikutnya Sam pindah ke atas perutku yang sedang celentang di samping Mbak Ayu. Lalu terasa batang kemaluan Sam menyelusup ke dalam liang memekku. Yang kusambut dengan rangkulan di lehernya. Lalu kulumat bibir macho dan sensualnya dengan sepenuh gairahku yang sudah bangkit lagi.
Mbak Ayu pun hanya sebentar terkapar di sisiku. Lalu ia duduk sambil meremas-remas toketku. Sementara Sam mengentotku sambil meremas-remas toket Mbak Ayu.
Main bertiga ini memang banyak yang bisa dilakukan, yang agak sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Yang jelas Sam bisa menggilir aku dan Mbak Ayu secara bergantian. Terkadang penisnya pindah ke dalam memek Mbak Ayu, lalu balik lagi mengentot memekku.
Ketika Sam sudah beraksi lagi di atas perutku, rintihan-rintihan histerisku pun tak terkendalikan lagi. “Iya Saaam… entot terus Saaaam… edaaaan… kontolmu enak sekali Saaaam… aaaaah… aaaaah… Saaaaaam… Saaaam…”
Dan ketika Sam sedang asyik mengentot Mbak Ayu, giliran Mbak Ayu yang sedanmg merintih-rintih dnegan sjuara sengaunya, “Saaaam… oooo… oooooh… Saaaam… Saaaam…!”
Entah sudah berapa kali aku dan Mbak Ayu mencapai orgasme. Entahlah. semuanya terjadi dalam suasana lupa segalanya.
Yang jelas pada suatu saat Sam mencabuit kontolnya dari liang memekku. Lalu mengarahkan moncongnya ke mukaku. Dan crooot… crooootttt… croooot… Air maninya “menembaki” pipi dan kelopak mataku. Tapi secepat kilat Sam mengalihkan moncong penisnya ke muka Mbak Ayu dan menghabiskan “pelurunya” di pipi Mbak Ayu.
Aku tidak mmerasa jijik dengan air mani Sam yang membasahi pipiku. Malah kucolek dan kujilati, lalu menelannya laksana menelan vitamin birahiku.
Mbak Ayu juga ikut-ikutan mencolek air mani yang membasahi pipinya, lalu menjilat dan menelannya…!
Tapi semuanya itu baru awalnya. Awal dari pesta sex kami bertiga di kamar Sam.
Pada saat itulah aku merasa rumah kami ini laksana surga buat kami…!
Karena beberapa saat kemudian Sam bergairah kembali. Batang kemaluannya pun sudah ngaceng lagi.
Kemudian Sam menggilir kami lagi, dalam posisi-posisi beraneka ragam.
Dan semuanya itu sangat mengesankan dan takkan mungkin dilupakan.
Apakah keindahan seperti ini masih akan kami nikmati di hari-hari berikutnya?
Sang Waktu yang akan menjawabnya kelak.
Bersambung…




