Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Rumah Kami Surga Kami

Rumah Kami Surga Kami

Petualangan HOT (Langkah Langkah Jalang)
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Untuk yang kesekian kalinya aku mendapatkan sosok yang luar biasa.

Ya, setelah kuperhatikan dengan seksama Halina itu cantik sekaligus manis, terutama kalau sedang tersenyum atau tertawa dengan lesung pipitnya itu… dengan dua baris gigi yang rapi dan putih bersih itu.

Tubuhnya pun sangat seksi di mataku. Halina memiliki pinggang yang ramping, namun sepasang gunung kembarnya hampir seukuran dengan toket Mama Ken.

Bokongnya pun menyaingi bokong semok Mama Ken…!

Sehingga aku bertanya pada diriku sendiri. Gadis bule secantik dan seseksi Halina ini siap dijadikan istri olehku yang baru dikenalnya sehari saja? Dijadikan istri ketiga pula, bukan istri tunggal atau pun istri pertama. Siap pula meninggalkan keyakinannya yang dianut sejak kecil, untuk melebur ke dalam agamaku.

Di kamar mandi hotel five star ini aku mulai menyabuni punggung Halina dengan sangat telaten. Seolah-olah sedang memandikan permaisuri raja. Bukan hanya punggung. Bokong gedenya pun mulai kusabuni. Begitu juga paha dan betisnya tak luput dari gosokan telapak tanganku yang berbusa-busa ini.

Kemudian kusabuni bagian depannya juga. Halina diam saja, cuma menatapku sambil tersenyum-senyum. Setelah menyabuni sepasang toket gedenya, tanganku turun ke perutnya, ketiaknya dan lalu “kerasan” berputar-putar di antara selangkangan dan… memek tembemnya…!

“Ini untuk pertama kalinya kemaluanku disentuh tangan cowok,” kata Halina ketika aku masih senang mengelus-eluskan air sabun ke memek tembemnya ini.

Sampai pada suatu saat, Halina merebut botol sabun shower dari tanganku, “Sudah dong. Sekarang giliran aku yang menyabunimu, “katanya sambil menuangkan sabun cair itu ke telapak tangannya. Lalu ia menyabuni punggungku, pantatku dan kakiku dari ujung jari sampai ke pangkal pahaku. Sementara aku mulai memutar kran shower ke spot merah.

Halina mematikan lagi semprotan air hangat shower itu, karena mau menyabuni bagian depan tubuhku. Mulai dari dada, leher dan ketiakku. Lalu turun ke perutku. Dan tiba di batang kemaluanku yang sudah mulai agak ngaceng ini.

Halina memegang batang kemaluanku sambil ketawa kecil, “Hihihihi…! Like an elephant’s trunk… !”

(seperti belalai gajah)

Aku cuma ketawa kecil. Sementara penisku makin lama makin tegang, karena terus-terusan dipegang dan disabuni oleh Halina.

Akhirnya kuputar lagi kran shower. Untuk membilas air sabun di tubuh kami.

Setelah tubuh kami bersih, shower utama tetap kubiarkan memancarkan air hangatnya. Karena aku sudah memeluk leher Halina. Lalu mendekatkan bibirku ke bibirnya. Halina pun menyambutku dengan pagutan mesranya. Lalu kami saling lumat, dengan pelukan hangatku di lehernya, sementara Halina mendekap pinggangku.

Inilah untuk pertama kalinya aku mencium bibir Halina…!

Cukup lama kami saling lumat dengan tubuh sama-sama basah. Sampai akhirnya kami menghanduki tubuh kami masing-masing. Dan kembali ke bedroom dalam keadaan masih sama-sama telanjang.

Aku mengambil kesempatan ini untuk mengeksekusi Halina sekarang juga. Mumpung tubuh kami masih sama-sama telanjang.

Lalu kugumuli Halina di atas bed. Dengan nafsu yang semakin bergejolak di dalam jiwaku. Halina pun menyambut pergumulan ini. Terkadang aku berada di atas, namun di saat lain Halina yang menghimpitku sambil menciumi pipi dan bibirku.

Ketika nafsuku semakin menjadi-jadi, kucelentangkan tubuh Halina. Lalu kucelucupi puting payudaranya yang terasa sudah menegang ini. Lalu kujilati pusar perutnya. Membuatnya menggeliat-geliat, mungkin karena merasa geli. Dan akhirnya wajahku berhadapan dengan kemaluannya yang tembem dan tertutup rapat sehingga bentuknya cuma seperti garis lurus dari atas ke bawah.

Ketika kedua tanganku mengangakan memeknya, sepasang paha Halina pun merenggang spontan. Lalu tampaklah sesuatu yang teramat merangsang di mataku. Bagian dalam vagina Halina yang berwarna pink itu sudah kelihatan dengan jelas di mataku. Mulutku pun langsung menghambur ke bagian yang berwarna pink itu.

Rintihannya pun mulai terdengar perlahan, “Saaaam… oooooh… Saaaam… uuuuh… Saaaammmm… Saaaaam… oooooohhhhhh…”

Namun aku tak sekadar menjilatinya saja. Diam-diam aku terus-terus memperhatikan celah kecil menuju liang sanggamanya itu. Dan feelingku berkata bahwa dia benar-benar masih perawan. Karena aku sering memperhatikan foto-foto virgin pussy

(memek perawan) yang kudapat dari internet. Sehingga aku bisa mengambil kesimpulan, bahwa Halina memang masih perawan.

Sekarang “tugasku” adalah membuat liang kemaluannya basah sebasah-basahnya. Agar nanti penisku dipermudah untuk melakukan penetrasi.

Karena itu aku tak cukup dengan menjilati bagian yang berwarna pink itu saja. Maka aku pun mulai mencari-cari kelentitnya yang agak tersembunyi di balik selubungnya. Akhirnya bagian terpeka di kemaluan perempuan itu kutemukan. Hanya sebesar kacang kedelai, puncaknya mulai kumunculkan dan langsung kujilati secara intensif.

Halina pun mulai klepek-klepek dibuatnya. “Aaaa… aaaaah… Saaaam… that’s my clit… very sensitive Sam… aaa… aaaaah… Saaaam… Saaaam… aaaah… !” rintihnya dengan nafas terengah-engah.

Sambil menjilati kelentit Halina, diam-diam kualirkan terus air liurku ke dalam celah kemaluannya.

Sampai akhirnyaaku merasa sudah tiba saatnya untuk penetrasi. Maka kudorong lipatan kedua lutut bagian bawahnya, sehingga lututnya berada di kanan kiri toketnya. Sambil berlutut kutahan kedua pahanya agar jangan terjatuh ke depan lagi, lalu kuletakkan moncoing penisku di mulut kemaluan Halina.

Dan kudorong penisku sekuat tenaga… mmmmmhhhhh… membenam sampai lehernya. Kudorong lagi sambil tetap menjaga agar kedua lututnya tetap berada di kanan kiri sepasang toketnya.

Yaaaaa… dengan susah payah akhirnya penisku membenam lebih dari separuhnya. Lalu aku mulai mengentotnya perlahan-lahan sampai terlihat ada garis-garis darah di penisku. Itulah salah satu bukti bahwa Halina benar-benar masih perawan sebelum penisku menembus hymennya

(selaput dara).

Setelah melihat bukti nyata itu, kulepaskan penahanan lutut Halina. Sehingga kedua kaki Halina terhempas di atas kasur bertilamkan seprai putih bersih itu.

Aku pun mengubah posisiku. Kuhempaskan dadaku ke atas dada Halina. Tidak berlutut lagi, karena sudah menyaksikan sesuatu yang ingin kubuktikan tadi.

“Inna… kamu benar-benar masih virgin. Aku akan mencintaimu di seumur hidupku, My Love…” kataku dengan perasaan terharu sekali. Karena di negaraku sendiri banyak cewek yang baru 14-15 tahunan sudah pada bolong. Sementara cewek bule ini, usianya sudah di atas 20 tahun, lahir dan besar di Eropa pula, namun ternyata masih perawan sebelum penisku menembus hymennya tadi.

“Aku bahkan sudah mencintaimu sejak pertama kali bertemu di rumah Aleksandra… dan sekarang, cintaku makin mendalam, Sam…”

Sebagai jawaban, kucium bibir Halina dengan mesra sekali. Lalu penisku pun mulai beraksi. Bergerak-gerak maju-mundur di dalam liang sempit tapi hangat dan sudah terlicinkan ini.

“Aku… bahagia sekali bisa memilikimu, Sweetheart…” ucapku pada saat entotanku masih perlahan-lahan.

Halina menatapku dengan senyum manis. Lalu berkata perlahan, “I hope you will be my protector that I love so much.”

(Kuharap kamu akan menjadi pelindungku yang sangat kucintai).

Sebagai jawaban, kucium lagi bibir cewek bule itu. Lalu entotanku mulai kupercepat sampai batas normal dan berirama. Maju-mundur-maju-mundur… cantik… cantik…!

Maju-mundur-maju-mundur… cantiiik… cantiiik…!

Kemudian… entah berapa puluh kali dia menyebut-nyebut namaku di antara desahan-desahan seksinya itu. “Aaaah… Saaam… aaaaah… aaaah… Saaaaaam… Saaam… Saam… aaaahhhhh… Saaaam… aaaah… !”

Rintihan seksinya baru terhenti kalau aku sudah menyumpal mulutnya dengan ciumanku di bibirnya, lalu menyedot-nyedot lidahnya yang kupancing agar terjulur.

Badannya pun sudah mulai keringatan. Bahkan wajah dan lehernya sudah mulai membasah oleh keringatnya. Tapi hal itu pun tampak semakin seksi di mataku. Sehingga aku pun tak ragu lagi untuk menjilati pipi, telinga dan lehernya. Hal ini membuatnya semakin terlena… matanya pun semakin merem melek. Terkadang ia menatapku dengan sorot pasrah.

Tubuh seksinya pun menggeliat-geliat terus. Bahkan pada suatu saat ia mulai berkelojot-kelojot. Lalu mengejang tegang… hmmm… indikator akan orgasme.

Aku pun tidak mau menyiksanya. Karena ia masih sangat pemula dalam soal seks. Maka kupercepat entotanku… kugenjot liang kemaluannya dengan massive… sampai akhirnya kurasakan gerakan-gerakan reflek yang erotis sekali di liang kewanitaannya. Pada saat itulah aku membenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin.

Batang kemaluanku mengejut-ngejut pada saat Halina sedang terkejang-kejang sambil memelukku. Dan… berlompatanlah sperma dari moncong penisku… crottt… croootttt… crooottttt… crooootttt… crooootttt… croooottttttttt… crotttt…!

Kemudian kami sama-sama terkapar dalam kepuasan.

“Kamu benar-benar masih virgin tadi. Dan sekarang kamu sudah menjadi milikku. Tinggal menunggu saatnya saja untuk maju ke pernikahan.”

“Iya… aku percaya. Sam takkan ingkar janji.”

“Kenapa kamu bisa langsung percaya padaku?” tanyaku sambil mencabut penisku dari liang memeknya.

“Aku sudah membuktikannya pada Aleksandra. Dia sudah nyaman hidupnya, berkat kebaikan budimu.”

Aku merebahkan diri di samping Halina.

“Setelah kita menikah, apakah kamu mau tinggal di rumah Aleksandra kelak?” tanyaku.

“Tidak. Aku ingin punya rumah sendiri. Main ke rumah Aleksandra tiap hari juga gak apa-apa. Tapi aku harus punya rumah sendiri,” jawab Halina. Ngocoks.com

Lalu Halina melanjutkan, “Gajiku semasa jadi volunteer selama tiga tahun, kutabunk di sebuah bank internasional. Aku juga punya safe deposit box di bank itu. Isinya pasti jauh lebih besar daripada harga sebuah rumah berikut sebuah mobil pribadi.”

“Safe deposit itu berisi surat berharga?” tanyaku.

“Bukan. Mendiang Papa pernah bertugas di Afrika Selatan. Pada waktu pulang dari sana, Papa membawa ratusan butir berlian yang tak ternilai harganya. Setelah meninggal, ternyata Papa meninggalkan surat wasiat. Di dalam surat wasiat itu, saudara-saudaraku mendapatkan bagian tanah, peternakan, rumah-rumah yang sangat mahal nilainya.

“Terus?”

“Sebelum ditugaskan di Indonesia, aku dengar-dengar bahwa berlian Afrika Selatan itu sangat mahal harganya di sini, jauh lebih mahal daripada di negaraku. Karena itu diam-diam kubawa berlian peninggalan Papa itu. Dengan maksud, kalau tugasku sudah selesai, aku akan menjual berlian-berlian itu di sini.

“Untung berlian-berlian itu tidak terpantau oleh bea cukai di bandara ya?”

“Memangnya kalau ketahuan kenapa? Berlian-berlian itu bukan dapat mencuri kok. Sertifikatnya juga lengkap.”

“Tapi kalau ketahuan, pasti kena pajak yang sangat besar nominalnya.”

“Oh, iya… iya. Tapi saat itu rombongan kami datang dengan membawa bendera UNO. Jadi pemeriksaan di bandara tidak terlalu bertele-tele. Makanya warisan dari Papa itu tidak ketahuan.”

“Terus rencananya berlian-berlian itu mau dijual di Indonesia?”

“Iya. Tapi tentu aku harus minta bantuan Sam untuk menjualkannya.”

“Kalau terlalu banyak berliannya, lebih baik jangan dijual semuanya sekaligus. Step by step aja.”

“Itu sih terserah Sam. Karena Sam akan menjadi suamiku kan? Makanya aku akan mempercayakan harta warisan itu kepada Sam.”

“Baiklah. Aku akan mengelola setiap harta yang kamu titipkan padaku kelak, supaya berkembang secara positif seperti harta Aleksandra. Lalu apakah kamu punya cita-cita untuk punya bisnis seperti Aleksandra?”

“Iya. Tapi cita-citaku tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin punya usaha kuliner.”

”Ingin menbuka restoran?”

“Iya.”

“Dengan jenis masakan khas bangsamu?”

“Jangan. Aku ingin menghidangkan masakan tradisional Indonesia. Supaya aku bisa ikut menikmati lezatnya makanan Indonesia asli. Tentu juru masaknya harus orang sini. Sam bisa mencarikannya untukku kan?”

“Mudah itu sih. Tinggal pasang iklan di surat kabar. Nanti pasti banyak yang melamar untuk dijadikan chef, waiter dan sebagainya.”

“Iya… aku percayakan semuanya itu kepadamu,” sahutnya dengan senyum manis berhiaskan lesung pipitnya lagi, “Aaah… aku harus mandi lagi Sam. Badanku penuh keringat gini.”

Lalu Halina turun dari bed. Membuat pandanganku tertumbuk ke kain seprai putih yang terciprati darah perawan Halina itu.

Maka ketika Halina sedang berada di kamar mandi, kutarik dan kugulung kain seprai itu. Kemudian gulungan kain seprai itu kulemparkan ke sudut kamar. Dan kutelepon nomor room service: “Hallo… bisa ganti kain seprai?”

“Baik. DI kamar nomor berapa Boss?”

“Lima-sepuluh.”

“Siap. Kami akan segera mengganti kain seprainya Boss. Ada lagi yang bisa kami bantu?”

“Cukup. Itu saja.”

Kemudian kukenakan pakaian, sambil menunggu karyawan hotel datang…

Setelah kain seprai itu diganti dengan yang baru, kuberikan uang tip kepada karyawan hotel itu. Setelah mengucapkan terima kasih. dia pun berlalu.

Aku pun melangkah ke dalam kamar mandi. Menyaksikan Halina yang sedang telanjang di bawah semburan air hangat shower.

Aku pun menelanjangi diriku sendiri. Lalu mendekap Halina dari belakang. Sambil berkata, “Kamu ini gadis yang lengkap bagiku.”

“Lengkap?”

“Iya. Wajahmu cantik, senyummu manis, tubuhmu seksi pula. Makanya aku bahagia sekali sudah merasa memilikimu, Sweety…”

“Aku juga bahagia sekali Sam. Karena di negara yang sangat jauh dari tempat asalku, ternyata aku mendapatkan seorang lelaki yang siap untuk melindungiku dan sangat kucintai…”

Lalu kami pun sama-sama mandi. Saling menyabuni lagi seperti tadi. Dengan perasaan sudah saling memiliki.

Di dalam hati, aku bertekad untuk memanjakan Halina. Dan tak boleh menyakitinya seujung jari pun…!

Halina layak kumanjakan. Karena sepintas pun kelihatan bahwa dia itu sangat menurut pada apa pun yang kuinginkan. Sementara talentanya masih akan kugali kelak…

###

Selesai mandi kami menuju bedroom kembali. Halina mengenakan kimono putih yang disediakan oleh hotel, sementara aku mengenakan baju dan celana piyama yang kubekal dari rumah.

Ketika melihat ke arah bed, Halina tercengang. “”Kain seprainya diganti?” tanyanya.

“Iya,” sahutku, “Kain seprainya kecipratan darah perawanmu. Makanya kusuruh ganti. Sekarang jadi bersih dan rapi kembali kan?”

“Iya… Sam selalu tahu apa yang kuinginkan. Thanks Honey,” ucap Halina sambil mengecup pipiku.

“Sekarang baru jam duabelas. Meetingku delapan jam lagi. Apa kamu gak ingin jalan-jalan?”

“Nggak, “Halina menggeleng, “Jalan-jalan di Jakarta bisa mandi keringat lagi nanti. Mendingan istirahat di sini saja. Di sini kan dingin karena ada ACnya. Tapi kalau turun ke tempat parkir saja, wow, seperti masuk ke tengah kobaran api.”

Aku pun lalu merebahkan diri di samping Halina. “Nanti malam aku mau meeting di lantai dasar. Kamu istirahat aja di sini ya.”

“Iya,” sahut Halina sambil meletakkan lengannya di atas dadaku, “Rasanya aku nyaman sekali berdekatan denganmu Sam.”

“Sama aku juga begitu,” sahutku, “apalagi sekarang… aku telah membuktikan your virginity. Sehingga aku semakin cinta padamu…”

“Padahal kita baru ketemu kemaren ya. Tapi perjalanan cinta kita cepat sekali. Laksana penerbangan dengan pesawat supersonic.”

Aku cuma mengiyakan tanpa menanggapi. Karena kantukku datang. Akhirnya aku tertidur dalam pelukan Halina.

Jam tujuh malam aku makan malam dulu di resto hotel bersama Halina. Selesai makan malam kuantarkan dulu Halina ke kamar di lantai lima, kemudian aku kembali lagi ke lantai dasar. Tepatnya ke meeting room, untuk melakukan meeting dengan beberapa tokoh dari instansi-instansi yang akan mengadakan seminar dan workshop di hotelku.

Hasilnya lumayan. Sebelum meeting itu ditutup, ada 5 pihak yang bermaksud mengadakan seminar dan 2 pihak yang bermaksud mengadakan workshop. Tentu saja aku harus memberikan fee kepada pihak moderator kalau seminar-seminar dan workshop-workshop itu sudah dilaksanakan.

Jam sepuluh malam aku sudah kembali ke kamar 510. Halina menyambutku dengan kecupan mesra di bibirku, diikuti dengan ucapan, “Ditinggal dua jam saja terasa sekali kesepiannya… apalagi kalau ditinggal berhari-hari.”

“Aku kan gak jauh. Masih di hotel ini juga,” sahutku sambil menepuk-nepuk pipinya.

“Sam… dulu aku sering dengar cerita di antara teman-temanku. Mereka bilang pengantin baru bisa ML sampai tujuh-delapan kali pada malam pertamanya. Apa itu betul?” tanyanya.

Kupegang kedua bahu Halina sambil balik bertanya, “Jadi kamu sudah kepengen disetubuhi lagi?”

Halina mengangguk sambil tersenyum manis.

Aku memperhatikan Halina yang masih memakai kimono yang tadi siang.

Tadinya aku ingin menjaga agar luka bekas hymennya yang sobek sembuh dulu. Tapi fisik orang bule memang lebih kuat daripada bangsaku sendiri. Karena itu akhirnya kupenuhi keinginan Halina, dengan mengangkat tubuhnya ke atas meja makan. Setelah menanggalkan kimono dan celana dalamnya, kusuruh dia duduk di atas meja makan itu, dengan kedua kaki menginjak pinggiran meja.

“Kita mau bersetubuh di atas meja ini?” tanya Halina lugu.

“Ya… biar sekalian belajar, bahwa bersetubuh itu bisa dilakukan di mana saja dalam posisi apa saja,” sahutku sambil menanggalkan celana panjang sekaligus celana dalamku.

Penisku belum tegang benar. Tapi setelah kucolek-colekkan ke mulut kemaluan Halina yang sudah ternganga karena duduknya mengangkang itu, akhirnya penisku mengeras juga. Maka kulepaskan kemejaku, lalu aku berjuang agar aku bisa memasukkan penisku ke dalam liang memek Halina, sambil berdiri di samping piunggiran meja itu.

Akhirnya aku berhasil membenamkannya meski dengan susah payah. Sementara Halina sudah merebahkan diri, celentang di atas meja makan, dengan sepasang kaki mengangkang seperti “yuyu kangkang”.

Ketika aku mulai mengentotnya, Halina merintih perlahan, “Sam… begini juga enak Sam…”

“Iiii… iyaaa…” sahutku terengah.

“Tapi aku tak bisa memeluk dan menciumimu, Honey…”

“Jadi ingin seperti yang pertama tadi?”

“Iya Sam. Kan main seperti tadi belum membosankan. Jangan dulu pakai posisi begini.”

Mendengar ucapan Halina itu, aku pun mengerti. Lalu kutarik kedua tangan Halina, sehingga ia jadi bisa memelukku, sementara batang kemaluanku masih menancap di liang memeknya. Dengan sedikit gerakan, aku bisa menyangga bokong Halina dan melangkah ke arah bed dengan hati-hati, dengan penis tetap tertanam di liang memeknya.

Kemudian kucelentangkan Halina di atas bed, sambil berusaha agar penisku jangan sampai lepas dari liang sanggamanya.

Tadinya aku ingin mengajari Halina untuk melakukannya dalam posisi yang berbeda dengan yang pertama. Tapi tampaknya Halina kurang nyaman dengan posisi di atas meja makan tadi. Karena itu aku melakukannya dalam posisi missionaris lagi seperti yang pertama tadi siang.

“Kamu merasa lebih nyaman dalam posisi begini?” tanyaku sambil menatap wajah jelita Halina.

“Iya… dalam posisi begini terasa lebih lengkap. Karena kita seakan menyatu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut,” sahutnya sambil melingkarkan lengannya di leherku.

Aku pun mulai mengentotnya perlahan-lahan dulu. Makin lama makin kupercepat, sampai ke batas kecepatan normal.

Halina pun mulai merintih-rintih erotis, “Saaaam… this is better… ooooh… I love you so much Saaaam… yessss… yesss… fuck me Saaam… fuck… fuck.. Saaam… oooo… o… ooooooh… fuck me honey… fuck… fuck… !”

Halina ngoceh terus dalam bahasa Inggris tentunya. Tapi terkadang dia ngoceh dalam bahasanya sendiri, “Pieprzyć mnie mocniej, proszę… !“ (entot aku lebih keras, please)

Aku pun mengikuti keinginannya. Kugenjot penisku dalam kecepatan tinggi dan keras. Sehingga biji pelerku menepuk-nepuk bagian di bawah memek Halina dan menimbulkan suara plok… ploookkk… plokkkkk… plokkkkk… ploooook… ploookkk…!

Rintihan dan desahan erotis Halina pun semakin menjadi-jadi. “Saaam… ini luar biasa enaknya Saaaam… aaaaa… aaaah… aaaaa… aaaaah… hajar terus Saaam… enak sekali honey… aaaaa… aaaa… aaaaaaah… Saaaam… Saaaam… Saaam… !”

Meski berada di dalam kamar berAC yang cukup dingin, tubuhku mulai keringatan. Halina juga sama. Namun hal itu membuatnya semakin seksi di mataku. Sehingga aku mulai lahap menjilati lehernya yang sudah keringatan disertai gigitan-gigitan kecil.

“Saaaammmmm… aaaaaaaa… aaaaah Saaaam… alamku semakin indah Saaam… aaaa… aaaah… fuck me Saaam… fuck me… fuck… fuck… aaaaaa… aaaah… !”

Terlebih ketika aku mulai mengemut pentil toket gedenya… menjilati dan menyedot-nyedotnya seperti bayi sedang menyusu ke tetek ibunya. Semakin klepek-klepek juga Halina dibuatnya.

Ketika kedua tangannya terjulur ke atas kepalanya, aku pun leluasa menjilati ketiaknya, disertai dengan gigitan-gigitan kecil pula.

Ini semua membuat Halina semakin klepek-klepek. Bahkan akhirnya dia mulai berkelojot-kelojot… menahan nafas dan mengejang tegang… dengan perut agak terangkat.. dengan nafas tetap tertahan…!

Lalu kupercepat entotanku, sampai pada suatu saat kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, tanpa menggerakkannya lgai.

Untuk kedua kalinya aku merasakan nikmatnya waktu liang kemaluan Halina terasa seperti menggeliat dan mengejut-ngejut, seolah ingin memuntahkan batang kemaluanku. Lalu terasa liang sanggamanya seolah dibanjiri oleh lendir libidonya.

“Aaaaaaaah… !“Halina melepaskan nafas panjang sambil memelukku erat-erat. Dan akhirnya tubuh Halina melemah, dengan keringat membasahi wajah, ketiak dan lehernya.

Pada saat itulah aku menatap wajah cantiknya dalam keadaan baru mencapai orgasme. Wajah yang seakan memancarkan aura setelah mencapai kepuasannya. Hatiku pun berkata, bahwa aku merasa sangat menyayanginya lebih daripada cewek-cewek yang telah kumiliki. Entah kenapa, perasaanku penuh dengan unsur-unsur cinta dan kasih sayang…

Katakanlah Halina punya nilai plus di hatiku, yang akan kurahasiakan kepada siapa pun.

Kemudian kulanjutkan lagi ayunan penisku. Diiringi irama cinta dan kasih sayang, tanpa niatan menyakitinya sekecil apa pun.

Sementara kelopak mata Halina sudah terbuka lagi. Menatapku dengan sorot pasrah, sebagai perempuan yang fisiknya telah kumiliki sepenuhnya.

Kalau tadi aku mengentotnya dengan gerakan hardcore, kini aku bermain dalam nafas softcore. Lembut dan mengutamakan keindahan. Bukan sekadar menyalurkan nafsu birahi.

Kalaulah aku sudah punya ikatan batin dengan Halina, mungkin getaran batinku ini sudah sampai di jiwanya tanpa harus mengatakannya. Karena Halina pun terasa jadi lebih romantis. Lebih sering mencium bibirku sambil menyedot-nyedot lidahku yang terjulur tanpa disengaja.

“Sam… oooo… ooooh… ayunan penismu dilambatkan begini, membuatku makin bisa menghayatinya betapa mendalamnya cintaku padamu sekarang Saaam… oooooh… semuanya indaaaah… kamu adalah pangerankuuuuu… come on… entot terus Saaam… aku merasa seolah tengah melayang-layang di langit… melayang-layang di surga Saaam…

“Iya… iya… tapi dari mana kamu tau kata entot, memek dan sebagainya? Aku kan belum pernah mengajarimu.”

“Tadi waktu Sam sedang meeting, aku main WA dengan Aleksandra… ingin belajar kata-kata khusus di dalam bahasa Indonesia… jadi aku mulai menghafalkannya… fuck itu ngentot asal katanya entot… vagina itu memek… penis itu kontol… hihihiiiii… betul kan Honey?”

“Hahahaaa… betul… kamu memang cerdas, Baby…”

Lalu kulanjutkan lagi entotanku dengan irama medium. Terlalu hardcore tidak, softcore pun tidak…!

Halina pun klepek-klepek lagi.

Aku tahu bahwa aku masih bisa bertahan lama di atas perut Halina. Tapi mungkin hal itu bisa menyakitinya, karena baru tadi siang aku memecahkan selaput daranya.

Maka aku menunggu gejala-gejala yang satu itu. Gejala bahwa Halina akan mencapai orgasmenya. Karena aku berniat ingin ejakulasi pada saat Halina tiba di puncak orgasmenya.

Halina pun merintih-rintih erottis…“Saaaam… ooooh… Saaaam… Saaaaam… oooo…”

Lalu tidak terdengar suaranya lagi karena dia sedang menahan nafasnya…!

Tampaknya aku akan berhasil. Ketika Halina berkelojotan aku pun mempercepat entotanku… makin lama makin cepat. Lalu ketika Halina mengejang, aku pun mendorong penisku sedalam mungkin. Ngocoks.com

Dan manakala liang memek Halina menggeliat sambil mengejut-ngejut, penisku pun sedang mengejut-ngejut sambil menyemprot-nyemprotkan cairan maniku di dalam liang surgawi cewek bule itu.

Crooot… croooot… crooootttt… crottt… croooottttt… croooottttttttt… crooooottttttt…!

Kami sama-sama menggelepar… lalu sama-sama terkulai lemas… dalam kepuasan sedalam lautan…!

Esok paginya aku dan Halina makan breakfast di resto hotel. Aku melihat rona wajah putih kemerahan di pipinya, yang membuatku makin sayang padanya.

“Sebenarnya urusanku di Jakarta sudah selesai,” kataku kepada Halina yang sudah selesai menyantap sarapan pagi, “Tapi aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke Puncak. Kamu belum pernah main ke Puncak kan?”

“Belum,” sahut Halina, “Apakah udaranya panas juga seperti di Jakarta ini?”

“Tidak. Di Puncak udaranya sejuk sekali. Jadi kamu takkan kepanasan di sana.”

“Bagus kalau begitu. Aku senang dibawa ke mana pun, asalkan yang udaranya tidak panas.”

Aku mau menjawab. Tiba-tiba terdengar suara wanita di sampingku, “Dek Sammy?! Apa kabar?”

Aku terkejut dan menoleh ke sebelah kananku. Ternyata yang memanggilku itu salah satu rekan bisnisku. Bu Merry… seorang pengusaha permata…!

“Bu Merry?! Nginap di hotel ini juga?” tanyaku sambil cepat aku berdiri dan menjabat tangan wanita itu.

“Nggak. Saya hanya mau menemui relasi dari Jerman yang sedang nginap di sini.”

Dan… tiba-tiba aku teringat pembicaraanku dengan Halina kemaren. Bahwa Halina memiliki 322 butir berlian dari Afrika Selatan. Kenapa tidak aku tawarkan saja kepada Bu Merry ini?

Lalu aku menoleh kepada Halina dan memberi isyarat agar dia berdiri dan berjabatan tangan dengan Bu Merry. “Bu Merry… kenalkan dulu rekan saya ini.”

Halina pun berjabatan tangan dengan Bu Merry sambil sama-sama menyebutkan nama mereka.

“Bu… mungkin Tuhan mengirim Ibu ke sini, karena saya punya sesuatu yang akan ditawarkan kepada Bu Merry. Sesuatu yang ada hubungannya dengan bisnis Bu Merry. Silakan duduk dulu Bu,” kataku ramah.

“Apa yang mau ditawarkan nih? Semoga saja permata yang akan ditawarkan itu. Karena saya hanya aktif di bidang yang satu itu,” kata Bu Merry setelah duduk berhadapan denganku dibatasi meja resto hotel.

“Iya. Bu Merry tentu tau berlian dari Afrika Selatan kan?”

“Tentu saja. Berlian dari Afrika Selatan itu kualitasnya nomor satu di dunia.”

“Saya punya banyak Bu. Apakah Ibu bersedia memborongnya semua?”

“Kalau ada sertifikatnya, tentu saja saya mau. Berapa pun banyaknya, akan saya beli semuanya.”

Kemudian aku berkata setengah berbisik kepada Halina, “Ibu ini pebisnis permata yang sangat disegani di negara ini. Berlian punyamu tigaratusduapuluhdua butir kan?”

Halina mengangguk.

“Ada contoh sertifikatnya?”

“Hanya ada fotocopynya. Sertifikat aslinya ada di safe deposit box di bank internasional itu.”

“Fotocopynya dibawa sekarang?”

“Ada,” sahut Halina sambil mengeluarkan gulungan fotocopy dari dalam tas kecilnya. Lalu menyerahkannya padaku.

Kemudian gulungan fotocopy itu kuserahkan kepada Bu Merry.

“Ini fotocopy sertuifikatnya Bu. Karena yang aslinya disimpan di safe deposit box di sebuah bank internasional,” kataku.

Bu Merry tampak bersemangat sambil mempelajari fotocopy yang jumlahnya sesuai dengan jumlah berlian milik Halina itu.

Bu Merry mengangguk-angguk. Lalu bertanya serius, “Jumlah semuanya berapa butir?”

“Tigaratusduapuluhdua butir Bu,” sahutku.

“Akan saya beli semua,” kata Bu Merry dengan nada semakin serius, “Kapan bisa transaksi?”

Aku menoleh lagi kepada Halina dan bertanya, “Barangnya ada dimana?”

“Ya di Jakarta ini,” sahut Halina sambil mengeluarkan kartu nama sebuah bank internasional yang ada di Jakarta.

Hmmm… semua ini seolah dituntun oleh Tuhan dan para malaikatNya.

Tanpa direncanakan, tiba-tiba Bu Merry muncul di depan mataku. Bukankah ini suatu miracle juga?

Terima kasih, ya Allah…!

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36
Berlanjut Bersambung Cantik Ibu Kandung Ibu Muda Keluarga Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Petualangan Sedarah Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKeluarga Pak Trisno
Next Article Petualangan Rikku
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.6

    Dampak Suami Loyo

    9.6

    Embun Birahi

    9.7

    Istri Muda Binal

    9.7

    Anak Lurah

    9.8

    Ustadzah Alisha

    9.7

    Kopi Ginseng

    Follow Facebook

    Recent Post

    Dampak Suami Loyo

    Embun Birahi

    Istri Muda Binal

    Anak Lurah

    Ustadzah Alisha

    Kopi Ginseng

    Hasrat yang Tak Tertahankan

    Siasat Paras Elok

    Manajer Perusahaan Multinasional

    Derita Miranda

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.