Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Populer»Rumah Kami Surga Kami

Rumah Kami Surga Kami

Petualangan HOT (Langkah Langkah Jalang)
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Ternyata perjuangan untuk bercerai dengan Bang Darda tidak sesulit dugaanku.

Mungkin karena Bang Darda mengakui kesalahannya di satu sisi, sementara dia juga menyetujui akan menjatuhkan talak setelah aku berterus terang bahwa telah ada seorang lelaki yang siap untuk menikahiku kalau aku sudah menjadi janda.

Bang Darda juga setuju agar perceraian itu berjalan dengan damai, tanpa menimbulkan dendam dari pihak mana pun.

Mengenai rumah yang masih kutempati itu, Bang Darda memutuskan agar rumah itu menjadi milik kedua anakku dan kedua anaknya. Bahkan rumah itu harus dibagi empat secara adil. Memang seharusnya kalau dibagikan secara hukum agama, pihak perempuan hanya mendapat setengah dari bagian lelaki. Tapi hal itu hanya bisa dilaksanakan kalau aku dan Bang Darda sudah sama-sama tiada.

Demikianlah, perceraian itu berjalan dengan damai dan senyap. Tanpa pengacara dari pihak manapun. Segalanya diatur oleh Bang Darda denganku berdua saja.

Pengadilan agama hanya mengesahkan saja perceraian yang kuinginkan itu. Maka dengan mudahnya aku mendapatkan surat talak itu dari pengadilan agama.

Setelah mendapatkan surat penting itu, aku langsung mendatangi tempat praktek dokter yang dahulu memasangkan IUD di dalam rahimku. Aku minta agar alat KB itu dikeluarkan dari rahimku. Dokter itu pun mengikuti permintaanku.

Berarti mulai saat ini aku tidak boleh bertualang lagi. Aku ingin benar-benar bersih menjelang disahkan sebagai istri Frederick.

Kemudian surat resmi dari pengadilan agama itu kuperlihatkan kepada Frederick beberapa hari berikutnya, dalam suatu pertemuan di salah satu restoran bergengsi di kotaku. Saat itu Frederick meminta agar aku naik taksi saja, jangan bawa mobil sendiri. Mungkin karena Frederick mau mengajakku ke suatu tempat dengan mobilnya.

Wajah Frederick tampak ceria setelah membaca surat resmi dari pengadilan agama itu.

“Jadi Mien sudah siap menjadi permaisuriku ya?” ucapnya sambil menyerahkan kembali surat penting itu padaku.

“Menurut hukum agama kita, harus menunggu sampai masa iddah selesai. Aku harus menstruasi dulu dua atau tiga kali. Sebagai pertanda bahwa rahimku bersih dari benih lelaki mana pun. Supaya pernikahan kita benar-benar suci.”

“Iya… iya… aku juga sudah mempelajari hal itu. Jadi menurut ukuran kalender, kita baru bisa menikah tiga bulan lagi kan?”

“Betul, “aku mengangguk sambil tersenyum.

Setelah makan siang bersama di restoran itu, aku diajak untuk melihat segala yang telah dijanjikan oleh Frederick.

Frederick membuka pintu depan kiri jip mahalnya, lalu membantuku naik ke dalamnya, karena jip itu cukup tinggi, tidak seceper sedanku.

Frederick memang gentleman. Memperlakukanku tak ubahnya seorang lady, seorang wanita terhormat.

Kemudian Frederick mengajakku meninjau pabrik yang dijanjikannya tempo hari.

Menurut keterangan Mahendra, pabrik yang berada di kotaku ini lebih besar daripada pabrik tempatnya Mahendra bekerja. Karena pabrik yang akan diserahkan padaku itu adalah pabrik pertama yang dibangun oleh Frederick semasa istrinya masih hidup.

Memang benar. Pabrik obat itu besar sekali. Membuatku agak panik. Bagaimana caranya memimpin pabrik ini kelak? Aku ini lulusan fakultas sastra Inggris. Bukan lulusan fakultas ekonomi. Mampukah aku mengelola pabrik sebesar ini kelak?

Lalu aku bertanya kepada Frederick, “Aku akan ditempatkan sebagai apa di pabrik ini nanti? Sebagai manager atau…”

Frederick memotong ucapanku, “Sebagai owner… !”

Aku terbelalak kaget.

Frederick melanjutkan, “Direktur cabang dan manager-manager sudah lengkap semua. Jadi Mien bisa duduk manis di pabrik ini. Tapi tiada salahnya kalau mulai sekarang banyak membaca buku-buku tentang managemen, marketing dan sebagainya. Supaya tidak terlalu buta tentang kegiatan pabrik ini.”

“Iya, “aku mengangguk sambil tersenyum, “tapi Fred juga harus mau memberikan pengarahan supaya aku memahami semua kegiatan di pabrik ini.”

“Tentu aja. Setelah Mien menjadi istriku, kita akan tinggal satu atap. Jadi kita bisa berdiskusi kapan pun kita mau.”

Beberapa saat kemudian, Frederick membawaku ke sebuah perumahan elit. Setahuku, perumahan di situ harganya sudah milyaran. Tiada harga dalam hitungan juta lagi.

Lalu Frederick memarkir mobilnya di depan sebuah rumah megah yang tampak 100% baru.

Sebelum mematikan mesin mobilnya, Frederick berkata, “Ini rumah baru. Belum pernah dihuni oleh siapa pun. Di sinilah Mien akan tinggal bersamaku setelah kita resmi menikah nanti.”

Aku cuma menatap wajah ganteng Frederick dengan senyum di bibirku. Tak berani mengucapkan apa pun, karena takut salah ucap.

Seorang lelaki tua membuka pintu gerbang rumah megah itu sambil menyapa Frederick dengan sopan sekali, “Selamat siang Boss.”

Frederick mengangguk. Lalu melangkah ke arah teras depan, sambil menggandeng lenganku. Pintu depan dibuka oleh seorang wanita setengah baya. Mungkin pembokat yang bertugas membersihkan dan menata rumah mentereng itu.

Aku dan Frederick melangkah ke dalam rumah itu. “Sebenarnya aku punya rumah yang kutempati semasa istriku masih hidup. Tapi aku takkan mengajak Mien tinggal di sana. Takut ada kesan yang kurang enak di hati Mien nanti. Kalau rumah ini benar-benar masih baru. Dibelinya juga baru sebulan yang lalu.”

Aku cuma jadi pendengar yang baik. Sekali lagi, aku takut salah ucap menanggapi sesuatu yang luar biasa ini. Mungkin bagi Frederick semua ini biasa-biasa saja. Tapi bagiku… luar biasa dan di luar dugaanku.

Namun ternyata masih ada surprise lain. Fred mengajakku masuk ke dalam garasi. Di situ ada sebuah mobil yang masih terbungkus plastik. Sebuah sedan Eropa berwarna merah maroon metalic, yang aku tahu mahal sekali harganya.

Kata Fred, “Sedan ini juga untuk Mien. Sebagai owner pabrik, Mien harus berwibawa. Kendaraannya juga harus menggambarkan seorang owner nanti.”

Tentu saja aku senang bercampur terharu. Karena ternyata Frederick sudah menyediakan segalanya. Padahal aku belum diapa-apakan olehnya. Yang sudah dilakukannya cuma mencium bibirku. Itu saja. Tentu saja aku pun harus menahan diri, supaya jangan terkesan perempuan gampangan.

“Mobil Mien berikan saja kepada anak-anak. Supaya mereka bisa kuliah pakai mobil,” kata Fred lagi, “Anak cewek jangan dibiarkan pakai motor. Sekalinya terjatuh, pasti ada bekas di badannya.”

“Anakku kan dua orang Fred.”

“Gampang. Nanti belikan aja mobil yang seharga dengan mobil Mien. Biar mereka punya mobil masing-masing. Di zaman sekarang, anak tukang tempe aja udah petentengan pakai mobil kan?”

“Iya sih.”

Setelah melihat-lihat keadaan rumah di lantai satu dan lantai dua, yang sudah lengkap perabotannya itu, Frederick mengantarkanku pulang.

Ohya, setelah aku dan Bang Darda resmi bercerai, Yoga pamitan akan tinggal bersama Sam karena dia sudah ditempatkan sebagai karyawan hotel punya Sam. Sehingga penghuni rumah ini tinggal aku dan kedua anak kandungku.

Frederick kupersilakan duduk di ruang tamu. Kemudian kupanggil Ayu dan Ita, supaya berkenalan dengan calon papa sambung mereka. Ngocoks.com

Dengan sikap ramah Frederick menyambut kedua anakku. Ayu maju duluan, menjabat tangan Frederick sambil menyebutkan namanya. Kemudian Ita berjabatan tangan juga dengan Frederic sambil menyebutkan namanya.

Setelah Ayu dan Ita duduk di sofa, aku berkata kepada mereka, “Nah… inilah calon papa kalian. Jadi mulai saat ini kalian harus manggil Papa padanya ya.”

Ayu dan Ita mengangguk sambil tersenyum.

Frederick yang duduk di sampingku, berkata padaku, “Kalau kita sudah menikah, mereka bisa tinggal di rumah kita nanti.”

“Tapi siapa yang menunggu rumah ini?”

“Bisa aja mereka gantian tinggal di rumah kita.”

“Ohya.. Ayu… mobil mama itu buatmu saja. Sementara Ita sabar dulu ya, Papa barumu ini akan membelikan mobil yang seharga dengan mobil mama.”

Ayu dan Ita terkejut dan bersorak serempak, “Asyiiik… !”

Lalu Ayu dan Ita meninggalkan ruang tamu.

Frederick tersenyum. Lalu membisikiku, “Kirimkan nomor rekening Mien via WA.”

Aku mengangguk. Lalu melakukan apa Fred minta.

Sesaat kemudian Fred berkata, “Coba cek rekeningnya, sudah nambah belum?”

Aku pun mengeceknya lewat handphoneku. Dan terkejut melihat nominal yang sudah Fred transfer itu.

“Banyak banget Fred,” ucapku.

“Biar adil, kalau perlu beli saja dua mobil yang sama persis. Dan mobil Mien itu jual saja. Ohya, besok pagi juga mobil yang di garasi itu akan dikirim ke sini.”

Kugenggam tangan Fred sambil berkata, “Fred kok baik sekali padaku… !”

“Semua itu untuk membuktikan bahwa aku sangat serius padamu, Mien.”

Tanpa ragu, kukecup bibir Fred, disusul dengan bisikan, “Terima kasih buat semuanya ya Fred. Meski belum menikah, aku merasa sudah menjadi istrimu…”

“Aku juga merasakan hal yang sama. Walau pun kita belum menikah, tapi aku merasa sudah menjadi suamimu.”

“Tapi… aku masih penasaran tentang satu hal yang belum kulihat dengan jelas…”

“Apa yang membuatmu masih penasaran?”

Sebagai jawaban, aku berbisik ke telinga Fred, “Aku belum yakin kalau penismu sudah disunat.”

“Ohya?! Perlu kuperlihatkan sekarang, supaya Mien yakin bahwa aku benar-benar sudah disunat?”

“Di pavilyun aja perlihatkannya yuk. Di sini takut anak-anak mendadak muncul,” sahutku sambil berdiri dan memegang pergelangan tangan Fred.

Lalu kutuntun Fred menuju pavilyun.

Setelah berada di dalam pavilyun, kukuncikan pintu keluar dan pintu ke rumah utama.

Fred menoleh ke sekelilingnya. Kemudian dia menarik ritsleting celana panjangnya, memasukkan tangannya ke belahan ritsleting itu dan menyembulkan penisnya sambil mendekatkannya padaku, “Silakan periksa sendiri, apakah aku benar-benar sudah disunat atau belum?”

Aduh Maaak…! Begitu melihat penis putih yang masih agak lemas itu, batinku spontan berdesir-desir. Terlebih setelah memegangnya… terasa hangat. Lalu kuperhatikan dari jarak dekat sekali. Ternyata memang benar. Setelah kuperhatikan secara seksama, Fred memang sudah disunat.

Tapi kenapa aku ingin menciumi penis putih kemerahan ini?

Kenapa aku ingin menyaksikan seperti apa kalau penis bule ini sudah ngaceng?

Dan aku mulai meremas penis Fred sambil menjilati moncong dan lehernya.

Fred bergumam, “Ingin lihat penisku ereksi ya?”

Aku mengangguk sambil melanjutkan remasan lembutku. Sambil melanjutkan ciuman dan jilatanku.

Penis Fred pun mulai mengembang dan menegang. Jadi panjang dan gede sekali…!

Mungkin penis Sam kalah gede kalau dibandingkan dengan penis Fred ini. Masalah panjangnya juga, mungkin punya Fred ini lebih panjang daripada penis Sam.

Sedangkan nafsu birahiku gampang sekali dibangunkan. Rasa penasaran pun timbul di benakku. Seperti apa rasanya disetubuhi oleh lelaki bule yang baik hati ini?

Tapi aku tak mau mengajaknya bersetubuh. Harus Fred yang mengajakku, baru akan kuladeni sebisaku.

Karena itu aku mencari akal. Lalu berkata, “Aku sudah melihat penismu… rasanya tidak adil kalau aku tidak memperlihatkan vaginaku. Apakah Fred ingin melihatku telanjang?”

“Kalau Mien tidak keberatan, tentu saja aku mau melihat seperti apa bentuk tubuh wanita yang tiga bulan lagi akan menjadi istriku…” sahut Frederick dengan nada bersemangat.

Aku pun melangkah ke dekat bed. Di situ aku menanggalkan gaun terusanku. Begitu juga dengan CD dan bra… kulepaskan semua.

“O mijn God! “seru Fred dalam bahasa Belanda, “Tubuh Mien luar biasa indahnya.”

Fred merayapkan tangannya dari leher hingga di toketku yhang lumayangede tapi belum kendor ini. Bahkan ia berjongkok di depanku. Memperhatikan kemaluanku dengan mata hampir tak berkedip.

Dan aku yakin nafsu Fred pun sudah bangkit. Karena ia mendorong dadaku, sehingga aku jadi terlentang di atas bed, dengan kedua kaki terjuntai ke lantai. Secepat kilat Fred memposisikan dirinya di antara kedua kakiku. Lalu berlutut di lantai, sambil menyerudukkan mulutnya ke memekku…!

Sesaat kemudian, Fred sudah asyik menjilati memekku. Begitu lahapnya, sehingga lidahnya terasa menyelinap-nyelinap ke daerah di antara kedua labia minoraku (bibir kecil).

“Freeed… ooooh… Freeeed… ooooo… oooooh… ka… kalau dibeginiin… aku… ja… jadi horny Fred… ooooh… Freeeed… aku horny Freeed… “rintihku sambil menggeliat-geliat.

Bahkan akhirnya aku berkata dnegan nada memohon, “Pakai penismu aja Fred… aku sudah sangat horny… !“

“Boleh kumasukkan penisku kedalam vaginamu?” tanya Fred sambil berdiri membungkuk dan menatapku dengan sorot mata lelaki yang sudah dikuasai nafsunya.

“Iya… sudah telanjur jauh langkah kita… yang penting spermamu jangan dilepas di dalam ya.”

“Terus lepasin di mana? Di perut? Di payudara?”

Aku menunjuk ke arah mulutku yang kungangakan sambil berkata, “Di mulutku aja… spermamu akan kutelan semuanya, sebagai tanda cintaku padamu Fred… “ Tadinya kupikir memekku akan langsung diterobos oleh penis Fred sambil berdiri di samping bedku.

Tapi ternyata tidak. Fred melompat ke atas bed, kemudian meraihku ke dalam gumulan hangatnya.

Bukan cuma menggumuliku, tapi juga menciumi bibirku, pentil toketku, leherku dan… aaaah… aku sudah melupakan tekadku, karena aku memang sudah telanjur mencintai Fred. Sangat mencintainya…!

Aku jadi teringat beberapa film bokep yang pernah kutonton. Hampir semua film itu ada adegan felatio (perempuan mengoral pria), terutama kalau pemerannya orang-orang bule.

Mungkin Fred pun sedang mengharapkan agar aku mengoral penisnya, bukan cuma dicium dan dijilati seperti tadi.

Karena itu, begitu ada kesempatan, kutangkap penis Fred yang sudah sangat ngaceng ini. Kukulum penis lelaki bule itu dengan sepenuh gairahku. Kemudian kuselomoti separoh dari batang kemaluannya, sementara tanganku mengurut-urut bagian yang tidak terkulum olehku (saking panjangnya)…

###

Aku sangat bersemangat melakukan semua ini. Sementara Fred tampak enjoy dengan perlakuanku padanya. Ia membelai rambutku dengan lembut, sambil menikmati selomotan dan urutanku. Sehingga aku makin bergairah untuk mengoral penisnya yang luar biasa pande-nya (panjang gede) ini.

Namun beberapa saat kemudian Fred menepuk-nepuk pipiku sambil berkata, “Cukup Sayang…”

Maka kulepaskan penis Fred dari kulumanku.

Pada saat berikutnya, sambil berlutut Fred meletakkan penisnya di permukaan kemaluanku. Lalu memukul-mukulkan meriamnya ke celah memek dan kelentitku, sehingga aku terkejut-kejut sambil menahan tawa geliku.

Tak cuma itu. Kepala penisnya digesek-gesekkan dulu ke celah memekku yang sudah semakin basah ini. Barulah kemudian ia mengarahkan tepat di ambang liang memekku. Dan terasa ia mendesakkan penis gagahnya itu. Sementara sepasang pahaku sudah dikangkangkan selebar mungkin.

Dan… ooooh… penis gagah itu mulai melesak ke dalam liang memekku…!

Meski liang kemaluanku sudah terasa becek, namun penis Fred terasa seret sekali masuknya. Tapi ketika penis Fred baru masuk sedikit, Fred mulai mengentot dengan jarak pendek. Lalu makin lama entotannya makin panjang, karena pada waktu didorong makin jauh membenamnya. Sampai akhirnya Fred mulai lancar mengntotku.

Dan aku langsung merem melek saking nikmatnya. Karena setiap kali penis Fred didorong, selalu mentok di dasar liang kemaluanku. Pada waktu mentok itulah yang membuat mataku terbelalak, lalu merem lagi setelah Fred menarik penisnya.

Aku pun mulai merintih perlahan, sambil melingkarkan lenganku di leher Fred, “Ooooo… ouuhhhh… Freeeed… aku semakin mencintaimu Freeed… ooooh… ooooh… !“

Fred menatapku dari jarak yang sangat dekat. Lalu memagut bibirku ke dalam lumatan hangatnya. Membuatku terpejam-pejam dalam nikmat surga dunia ini.

Fred berhasil membuatku terlupa segalanya. Terlebih ketika entotannya mulai dipercepat, membuat moncong kontolnya terus-terusan mentok dan “menonjok” bagian terpeka di dalam liang memekku.

Jelas hal ini membuat sekujur batinku berdesir-desir di tengah arus kenikmatan hubungan sex.

Terlebih lagi setelah Fred meremas toket kananku, sementara mulutnya “menancap” di puting toket kiriku… menyedotnya, menjilatinya, menciuminya… ooooh… batinku semakin melayang-layang dibuatnya. Batinku seolah tengah melayang di langit tinggi… langit ketujuh yang indah sekali.

“Iya Freeed… fuck me Freeed… fuck me harder please… oooooh… iyaaaa… iyaaaaaaaa… iyaaaa… entot terus Freeeed… !” gumamku tak terkendalikan lagi.

Ternyata gaya Fred agak mirip dengan gaya Sam. Ketika penisnya sedang gencar menggenjot liang kewanitaanku, mulutnya bersarang di leherku. Menjilati dan menyedot-nyedot. Bahkan terkadang sedotannya terasa kuat sekali. Pasti akan meninggalkan bekas cupangan di leherku nanti. Tapi aku tak peduli. Karena sedotan-sedotan kuatnya di leherku, justru membuat persetubuhan ini jadi semakin nikmat…

Tubuh Fred pun sudah bermandikan keringat. Sementara aku diam-diam sudah dua kali orgasme…!

Tapi aku malah mulai menggoyang-goyangkan pinggulku. Liang kemaluanku mulai membesot-besot dan memilin-milin penis Fred… seolah ingin menghabisi penis bule yang gagah perkasa ini.

Sampai pada suatu saat… tiba-tiba Fred mencabut batang kemaluannya… lalu bergerak secepatnya, mendekatkan penisnya ke mulutku.

Aku mengerti apa yang akan terjadi. Kutangkap penis Fred, lalu kukulum sambil menggelutkan lidahku ke moncong penisnya disertai dengan sedotan yang kuat sekali.

Penis bule itu mengejut-ngejut sambil menembak-nembakkan air maninya di dalam mulutku, diiringi dengan dengus-dengus nafas Fred.

Tanpa ragu sedotanku semakin kuperkuat. Dan air mani Fred yang begitu banyaknya kutelan semua, tanpa kusisakan setetes pun.

“Uuuuugggghhhhhhh… uughhhhhhhhh… ughhhhhh… !” Fred masih mendengus-dengus. sampai akhirnya terkulai di sisiku.

Aku pun bergerak untuk menghimpit Fred. Menciumi bibirnya dengan mesra disusul dengan bisikan, “Aku sangat mencintaimu… dan sekarang aku sudah menjadi milikmu seutuhnya Fred…”

Fred membuka mata birunya. Menatapku sambil berkata, “Aku merasa dirimu laksana bidadari yang turun dari langit untuk membahagiakan sisa-sisa hidupku, Sayang…”

Catatan pribadi Mama baru sampai di situ. Mungkin karena pada hari-hari berikutnya Mama mulai sibuk. Sibuk sekali, sehingga Mama belum sempat melanjutkan catatan pribadinya. Mempersiapkan pernikahannya dengan lelaki bule bernama Frederick itu. Frederick yang mulai kubiasakan memanggil Papa, sebagai pengganti Papa Dardano.

Entah kenapa, aku ikut merasa bahagia membaca catatan Mama itu.

Terlebih setelah aku dan Ita dihadiahi mobil baru, sementara mobil Mama yang lama dijual ke dealer dengan system tukar tambah dengan mobil-mobil baru itu.

Aku dan Ita sepakat untuk memilih mobil SUV. Hanya warnanya yang berbeda. Ita memilih mobil yang berwarna orange, sementara aku memilih mobil yang putih bersih.

Kedua mobil kami sama persis, hanya warnanya saja yang berbeda. Dan kami bangga, karena mobil kami sudah lumayan canggih. Mobil kami sudah menggunakan system keyless. AC-nya bisa diatur dari setir. Begitu juga audionya. Wivernya pun sudah menggunakan sensor hujan. Jadi kalau di jalan tiba-tiba turun hujan, kami tak usah memutar tangkai wiver di balik setir lagi, karena wivernya akan jalan secara automatis.

Seat di dalam pun sudah menggunakan system electronic. Tinggal pijit tombol saja, seat di belakang setir dan di samping kirinya akan bergerak sendiri. Kamera parkir pun sudah tersedia (zaman sekarang gak aneh lagi, mobil murah pun sudah memakai kamera parkir). Cc-nya [un lumayan gede, 2400 cc. Last but not least, mobil kami adalah mobil matic.

Pada hari itu juga sebuah sedan mewah buatan eropa, berwarna merah maroon metalic dikirimkan oleh seorang sopir ke rumah. Kata Mama, mulai hari itu sopir tersebut akan menyopiri Mama ke mana pun Mama pergi.

Tiga bulan kemudian, Mama dan Frederick melaksanakan akad nikah di rumah baru Mama. Kemudian resepsi pernikahan mereka dilaksanakan di sebuah convention hall. Banyak sekali yang datang untuk memberikan selamat kepada Mama dan Papa baruku. Kebanyakan dari tamu yang datang itu adalah relasi suami baru Mama.

Papa Dardano tidak hadir. Mungkin karena untuk menjaga perasaan Mama dan perasaan Papa sendiri. Tapi Sam dan Yoga hadir. Ngocoks.com

Yoga datang bersama pacarnya, sementara Sam datang bersama istri keduanya, cewek bule yang bernama Aleksandra itu. Sam seolah tak mau kalah. Mama menikah dengan lelaki bule, Sam pun membawa istri bulenya yang berasal dari Eropa Timur itu.

Aku dan Sam sudah kompak. Untuk membuka catatan pribadi kami masing-masing. Bahkan di pesta pernikahan Mama itu, masih sempat Sam berbisik padaku, “Tadi pagi aku sudah kirim email berisi catatan pribadiku yang terbaru.”

“Ohya?! Nanti aku baca. Thanks ya,” sahutku.

Sam tahu bahwa aku akan memuat catatan pribadinya di sebuah media. Sam menyetujuinya. Bahkan bersemangat mengirimkan catatan pribadinya via email. Tentu saja aku sudah berjanji akan menyamarkan semua nama pelaku dalam catatan pribadinya.

Keesokan harinya Mama dan Papa Fred langsung terbang ke Nederland, untuk berbulan madu, sekaligus untuk memperkenalkan Mama kepada keluarga besar Papa Fred yang tinggal di negara kincir angin yang biasa disebut negara bunga tulip itu.

Aku dan Ita pada istirahat di rumah. Karena acara pernikahan Mama dan Papa Fred sangat meletihkan bagi kami.

Tapi Ita sudah menghidupkan mesin mobilnya ketika aku masih rebahan di dalam kamarku. Aku pun turun ke garasi.

“Mau ke mana?” tanyaku sambil menghampiri Ita yang sedang mengelap mobilnya dengan kanebo.

“Mau main ke rumah teman. Mumpung lagi libur,” sahutnya.

“Pulangnya jangan terlalu malam ya.”

“Iya Mbak.”

“Eh… pinjam laptopmu Ta. Punyaku lagi error, harus diinstall ulang.”

“Ambil aja sendiri di kamarku. Nih kunci kamarku,” sahut Ita sambil menyerahkan kunci kamarnya.

“Aku pergi dulu ya Mbak,” ucap Ita sambil membuka pintu mobilnya yang mesinnya sudah dipanaskan.

“Iya… hati-hati di jalan Ta. Jangan ngebut yaaa… “seruku yang disambut dengan anggukan kepala Ita.

Sesaat kemudian SUV orange itu sudah bergerak keluar dari garasi. Kututupkan pintu garasi, kemudian masuk kembali ke dalam rumah.

Aku tidak menuju kamarku sendiri, melainkan menuju pintu kamar Ita yang kuncinya sudah berada di tanganku.

Aku hanya cari-cari alasan saja meminjam laptop punya Ita. Karena tujuan yang sebenarnya ingin mencari-cari sesuatu di laptop adikku itu.

Maka begitu duduk di belakang meja tulis Ita, kubuka dan kuaktifkan laptop adikku itu.

Kucari dan kucari catatan pribadi Ita, yang aku yakin berada di laptopnya ini. Tapi setelah mencarinya belasan menit, aku tidak menemukan file yang kucari.

Kemudian kutarik laci meja tulisnya. Kutemukan sebuah flashdisk hitam dan sebuah flashdisk putih.

Kucari-cari di flashdisk putih, tidak ada apa-apa di situ. Hanya berisi lagu-lagu kegemaran Ita. Kemudian kubuka flashdisk yang hitam. Nah… aku menemukan apa yang kucari itu. Ada file Word berjudul Lembaran Kehidupanku.

Kuambil flashdisk hitam itu ke dalam kamarku. Dan kucopy isi Lembaran Kehidupanku itu ke dalam laptopku.

Kemudian flashdisk hitam itu kukembalikan ke dalam kamar Ita, ke dalam laci meja tulisnya.

Setelah mengunci pintu kamar Ita, aku naik ke atas lagi. Untuk membuka file Lembaran Kehidupanku itu.

Setelah membaca halaman demi halaman catatan pribadi Ita itu, aku tercenung sendiri.

Aku sendiri tidak merasa suci. Kehidupanku juga sudah dicemari oleh noda-noda. Tapi aku hanya bertualang dengan Sam dan Yoga. Tidak ada orang lain selain mereka berdua. Bahkan setelah Sam “menghilang”, aku hanya menyerahkan tubuhku kepada Yoga seorang.

Tapi Ita itu… langkahnya sudah begitu jauh. Sehingga aku merinding-rinding waktu membaca catatan pribadinya yang diberi judul Lembaran Kehidupanku itu.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36
Berlanjut Bersambung Cantik Ibu Kandung Ibu Muda Keluarga Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Petualangan Sedarah Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKeluarga Pak Trisno
Next Article Petualangan Rikku
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.6

    Dampak Suami Loyo

    9.6

    Embun Birahi

    9.7

    Istri Muda Binal

    9.7

    Anak Lurah

    9.8

    Ustadzah Alisha

    9.7

    Kopi Ginseng

    Follow Facebook

    Recent Post

    Dampak Suami Loyo

    Embun Birahi

    Istri Muda Binal

    Anak Lurah

    Ustadzah Alisha

    Kopi Ginseng

    Hasrat yang Tak Tertahankan

    Siasat Paras Elok

    Manajer Perusahaan Multinasional

    Derita Miranda

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.