Tante Salma merintih dan merintih terus dengan kedua tangan mengepak-ngeppak kain seprai. “Saaaam… kontolmu edaaan… terasa banget menggesek-gesek liang memekku Saaaam… aaaaaa… aaaahhh… entot terus Saaaam… jangan brenti-brenti… iyaaaa… iyaaaaaaaa… iyaaaaaaaa… entooooooot… entoooot terussss..
iyaaaaaaaaa… ini luar biasa enaknya Saaaaammmmm… !”
Aku pun semakin gencar mengentot tanteku. Tak cuma mengentot, aku pun mulai terangsang melihat bulu ketiak Tante Salma yang dibiarkan tumbuh gondrong. Maka dengan lahap kujilati ketiak berambut gondrong itu tanpa ragu sedikit pun.
Kalau sudah lama menjilati ketiaknya, mulutku pun pindah sasaran ke sampingnya. Ke pentil toketnya. Di situ aku mengulum sambil menjilati puncak pentilnya. Terkadang aku menyedot-nyedot badan toketnya disertai dengan gigitan-gigitan kecil. Bahkan aku pun mulai mencupangnya berkali-kali, sehingga meninggalkan bekas merah menghitam di badan toket Tante Salma.
Tapi Tante Salma justru senang toketnya dicupangin. Senang juga lehernya dijilatin. Leher yang sudah basah oleh keringatnya.
Dabn akhirnya ia berkelojotan… pasti menuju orgasme pertamanya…!
Aku pun menggenjot batang kemaluanku, mengaduk-aduk liang belut tanteku. Untuk menyambut datangnya Sang Orgasme…!
Ya… dugaanku tidak salah. Tante Salma akhirnya mnggeliat dan mengejang. Sambil meremas kedua pangkal lenganku, diiringi erangan erotisnya, “Saaaaam… oooooo… oooohhhhh… !”
Nafasnya tertahan. Matanya terpejam erat-erat. Lalu terasa liang sanggamanya berkedut-kedut kencang. Sementara penisku sengaja kubenamkan dalam – dalam. Untuk ikut menikmati indahnya liang memek yang sedang orgasme. Kedua gunung kembarnya pun sengaja kuremas lebih kuat dari biasanya.
Wow… terasa sekali liang memek Tante Salma jadi basah sekali. Kebanjiran lendir libidonya. Lendir yang telah sekian tahun tak pernah menghiasi lorong surgawinya.
“Aaaaaaah …” Tante Salma melepaskan nafasnya yang barusan lama tertahan. Mata indahnya pun terbuka sayu. Menatapku dengan senyum di bibirnya. Senyum kepuasan seorang wanita yang baru mencapai puncak kenikmatannya. “Terima kasih, Sayang… sudah lama sekali aku tidak merasakan nikmatnya disetubuhi lelaki…
Aku hanya menanggapinya dengan senyum, sambil membiarkan penisku tertancap di dalam liang memeknya. Penis yang belum meletupkan lahar putih kentalnya.
“Kamu belum ngecrot?” tanyanya sambilmengusap-usap tambutku yang acak-acakan.
“Belum,” sahutku, “santai aja. Aku bisa menunggu sampai Tante pulih lagi fisiknya.”
“Mau ganti posisi?”
“Boleh. Ganti ke posisi doggy aja ya.”
“Ayo,” sahut Tante Salma terdengar bersemangat kembali. Berarti dia sudah bergairah lagi untuk menikmati genjotan kontola – kontoleku.
Lalu kucabut batang kejantananku dari liang kewanitaan Tante Salma. Diikuti dengan gulingan tubuh Tante Salma. Jadi menelungkup dan menungging. Seperti pacet yang mau melompat dari pohon ke pohon lain. Aku pun berlutut di depan bokong yang sedang ditungggingkan itu, sambil memegang kontolku yang belum ejakulasi dan masih sangat ngaceng ini.
Kemudian, dengan mudahnya batang kemaluanku membenam ke dalam liang memek Tante Salma yang masih sangat becek ini. Kutepuk-tepuk sepasang buah pantat yang bentuknya sangat indah ini… plok… plok… plok… plooook…!
Dan mulailah aku mengentotnya sambil berpegangan ke bokong tanteku.
Sementara Tante Salma tetap menungging sambil memeluk dua bantal sekaligus untuk tumpuan dagunya.
“Sam… !“
“Ya?”
“Tanganmu pasti bisa mencapai itilku. Biar entotanmu dibarengi elusan jarimu ke itilku seperti waktu jilatin memekku tadi.”
Memang tanganku bisa mencapai bagian atas memek Tante Salma. Kucari-cari sebentar, sampai akhirnya kutemukan itil tanteku itu. Lalu kulanjutkan entotanku sambil mengelus-elus kelentit tanteku yang masih tegang ini.
Dan Tante Salma mulai ngoceh lagi, “Iya Sam… oooh… enak sekali Sam… entot terus Sam… sambil elus – elus terus itilku Saaam… ooooh… Saaam… ini enak sekali Saaam… itilnyaaa gesek… iiitiiiiiilllnyaaaaa… !”
Cukup lama berlangsungnya persetubuhan dalam posisi doggy ini.
Sehingga tubuhku sudah bersimbah keringat. Tante Salma pun minta untuk melanjutkannya dalam posisi missionaris kembali. Posisi yang paling sempurna di antara sekian banyak posisi.
Sebelum melanjutkan persetubuhan dalam posisi konvensional ini, Tante Salma berkata, “Jangan dilepaskan di dalam ya Sam.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Nanti kalau aku hamil gimana?”
“Ya rawat aja bayinya dengan sebaik mungkin. Aku siap untuk menanggung biayanya.”
Tapi kalau ketahuan keluarga besar, bisa dikucilkan aku nanti…”
“Biarin aja…”
“Yahhh… terserah kamu aja deh…”
“Tenang aja Tante… segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya…” ucapku sambil mulai mengentotnya kembali. Dibarengi dengan remasan di toket kanannya, sementara pentil toket kirinya berada dalam kuluman dan jilatan ujung lidahku.
Tante Salma pun mulai memperlihatkan kebolehannya dalam menggoyang pinggulnya. Memutar-mutar, meliuk-liuk dan menghempas-hempas. Terlebih pada waktu aku mulai menjilati lehernya yang sudah basah oleh keringatnya, disertai dengan gigitan-gigitan kecil… semakin edan-edanan pula goyangan pinggul Tante Salma itu.
Aku pun semakin bergairah untuk menggenjot batang kemaluanku dalam gerakan yang semakin kencang dan keras. Sehingga berkali-kali aku merasakan moncong penisku mentok di dasar liang memek Tante Salma.
Gak nyangka, liang memek tanteku ini ternyata enak sekali. Membuatku lupa pada segalanya.
Ketika mulutku sudah berada dekat ketiaknya yang berbulu lebat itu, Tante Salma sengaja mnengangkat tangannya ke dekat kepalanya. Seolah ingin memberiku keleluasaan untuk menjilati ketiak gondrongnya itu.
Keringat pun semakin membanjir di tubuh kami.
Sampai pada suatu saat… Tante Salma berkelojotan lagi. Mungkin dia mau orgasme lagi. Sedangkan aku pun merasa sedang berada dalam dertik-detik yang krusial. Detik-detik menuju ejakulasi…!
Maka kupercepat ayunan penisku. Sementara Tante Salma msudah terkejang – kejang.
Lalu pada suatu saat kubenamkan penisku sedalam mungkin, kemudian kudiamkan tanpa digerakkan lagi. Pada saat itulah kurasakan liang kemaluan Tante Salma menggeliat dan berkedut-kedut kencang… bersamaan dengan penisku yang sedang mengejut-ngejut sambil memuntahkan lahar putih kental hangat…
Crooootttt… croooottt… crooottttttt… crotcrot… croooooooottttttt… croooooootttt…!!
Lalu kami sama-sama terkapar di pantai kepuasan.
Semua itu baru awalnya. Karena setelah malam tiba, kami bersetubuh lagi. Menjelang pagi pun kami bersetubuh lagi dengan sepenuh gairah yang menagih-bnagih di jiwa kami.
Dua hari kemudian anak Tante Salma yang bernama Sisi itu pun datang. Membuatku terpana setelah melihat bentuk adik sepupuku itu…
Rasanya tidak berlebihan kalau Tante Salma mengatakan anaknya yang bernama Sisi itu cantik. Bahkan setelah berjumpa denganku, aku bisa bilang Sisi itu cantik sekali…!
Ini perempuan kedua yang tercantik di dalam lingkunganku.
Kalau aku memberi nilai 95 buat Merry, maka Sisi pun mendapat nilai yang sama, 95. Karena baik Merry maupun Sisi nyaris sempurna di mataku.
Sisi memiliki mata yang bundar bening, bulu mata yang lentik, alis yang tebal tanpa bantuan penghitam, hidung yang mancung meruncing, pipi yang tirus, sepasang bibir yang seolah bibir boneka barbie, dagu yang lancip dan… lesung pipitnya senantiasa menghiasi pipinya pada waktu ia tertawa atau tersenyum.
Perawakan SIsi pun nyaris sempurna. Pinggang yang ramping dengan bokong yang semok. Sementara kulitnya putih bersih, laksana kulit bidadari yang baru turun dari kahyangan. Ngocoks.com
Semua itu kuperhatikan secara diam-diam. Tanpa memperlihatkan rasa kagumku pada adik sepupuku itu. Padahal hatiku benar-benar mengaguminya…!
“Kamu akan kujadikan asisten pribadiku merangkap sebagai sekretaris pribadi juga,” ucapku sebagai awal pembicaraan mengenai job yang akan dipikul oleh Sisi.
“Siap Bang,” ucap adik sepupuku yang luar biasa ccantiknya itu.
“Kamu akan menjadi orang yang paling kupercayai di hotel ini nanti. Tadinya aku akan menyekolahkanmu di akademi sekretaris. Tapi setelah dipikir-pikir, hal itu tidak perlu. Besok aku akan membelikan buku-buku mengenai perhotelan, job sekretaris dan asisten pribadi. Pelajari aja semua buku yang kuberikan besok.
“Siap Bang.”
Kemudian kupanggil dua orang karyawan hotel. Kusuruh mereka membenahi meeting room untuk dijadikan kamar Sisi. Meja rapat dan kursi-kursinya dikeluarkan. Kemudian bed cadangan yang masih baru dimasukkan dan ditata di meeting room yang sudah kosong itu. Berikut meja rias dan satu stel sofa.
Aku memang tidak membutuhkan meeting room segala. Kalau mau mengumpulkan karyawan-karyawati untuk memberikan briefing, bukankah aku sudah punya convention hall itu?
Tante Salma pun pulang ke Makassar setelah berkali-kali mengucapkan kalimat “Titip Sisi ya”. Yang selalu kujawab dengan anggukan.
Setelah Tante Salma berlalu, tentu saja aku membekalinya sejumlah uang yang cukup berarti baginya, aku mengajak Sisi ke FO (factory outlet langganan Frida). Di situ kusuruh Sisi memilih pakaian yang cocok menurut seleranya. Karena dia akan menjadi tangan kananku di hotel. Dengan sendirinya semua pakaian yang dikenakannya harus selalu pantas dan berwibawa, meski usianya baru 18 tahun.
“Pilih sepuluh atau selusin stel pakaian. Supaya penampilanmu lebih cantik dan berwibawa nanti,” kataku.
Meski bersikap malu-malu, akhirnya Sisi mau juga mengikuti perintahku. Dipilihnya 10 helai gaun yang lumayan bagus dan cocok untuk ukuran tubuhnya yang tinggi semampai dengan bokong yang semok.
Semua yang dipilihnya itu gaun sopan. Sedangkan aku ingin juga membelikannya gaun seksi. Gaun mini dengan belahan dada yang lebih terbuka, tanpa lengan pula. Kuambil dua helai gaun yang sesuai dengan keinginanku. Dan kugabungkan dua helai gaun itu dengan gaun pilihan Sisi sendiri. “Gaun ini bukan untuk dipakai di hotel pada jam kerja.
Sisi hanya menatapku dengan sorot heran. Tapi tidak membantah sepatah kata pun.
Setelah meninggalkan FO itu, kubawa Sisi ke sebuah toko buku yang paling lengkap di kotaku. DI situlah kubelikan bermacam-macam buku yang perlu dibaca dan dipelajari oleh Sisi. Buku-buku tentang ilmu perhotelandan kesekretarisan. Bahkan buku-buku managemen dan marketing pun kubelikan.
“Pelajari semua buku itu nanti ya. Baca dan pelajari sedikit-sedikit saja, sampai hafal kesimpulan – kesimpulannya,” kataku setelah berada di dalam mobil yang sudah kularikan di jalan aspal menuju sebuah rumah makan langgananku pada waktu masih jadi mahasiswa dahulu.
“Iya Bang,” sahutnya dengan nada bersemangat.
“Di Makassar kamu punya pacar?” tanyaku tiba-tiba, yang mungkin mengagetkannya.
“Nggak punya Bang,” sahutnya, “Dulu pernah punya pacar, tapi cuma cinta monyet. Lalu putus begitu aja. Sampai sekarang belum pernah pacaran lagi.”
“Kamu ini cantik Sis… jadi jangan sembarangan menerima cowok sebagai pacarmu. Harus jelas dulu masa depannya ke mana.”
“Iya Bang. Mama malah bilang, aku hanya boleh pacaran sama Bang Sam.”
“Haaa?! Mamamu bilang gitu?”
“Iya Bang.”
“Hahahaaa… kita kan saudara sepupuan. Tapi gak masalah juga sih. Emangnya kamu mau dijadikan pacarku?”
“Mmmm… mau Bang.”
“Karena patuh pada anjuran mamamu?”
“Bukan.”
“Karena aku dianggap banyak duit?”
“Bukan juga.”
“Lantas apa sebabnya?”
“Karena… hihihi… malu nyebutinnya.”
“Kok malu segala. Jawab dong terus terang. Kenapa kamu mau dijadikan pacarku?”
“Karena Bang Sam ganteng dan… sejak awal pun aku sudah terpesona melihat kharisma Bang Sam.”
Tangan kiriku memegang tangan kanan Sisi, sambil berkata, “Kamu juga cantik dan penuh pesona, Sisi…”
Sisi terdiam. Tapi tiba-tiba dia mengecup pipi kiriku. Membuatku tersentak kaget.
“Hihihi… maaf ya Bang. Aku gak kuat nahan gemes… ingin mencium Bang Sam dari kemaren… !” ucapnya malu-malu. Wah… Sisi ini laksana air tenang menghanyutkan.
“Kalau mencium harus ke bibir dong,” kataku sambil meremas tangannya yang masih kupegang.
“Kan bahaya, Abang sedang nyetir.”
Dan hari mulai gelap ketika kami tiba di depan rumah makan langganan lamaku itu.
“Rumah makan ini langgananku pada waktu aku masih mahasiswa dahulu. Kebanyakan yang makan di sini mahasiswa, karena dekat kampus,” kataku pada waktu kami sudah berada di dalam rumah makan yang menggunakan system buffet (prasmanan) ini.
“Iya,” sahut Sisi sambil mengambil piring dan sendok garpu, lalu mengambil nasinya juga, “jenis makanannya banyak ya Bang.”
“Iya… semua makanan di sini murah tapi enak.”
Setelah mengambil lauk pauknya, kami perlihatkan makan di piring kami di depan kasir yang lalu menghitung berapa rupiah kami harus membayarnya. Kemudian kami mengambil meja di sudut yang tampak sepi, setelah membayar semua makanan kami.
Setelah sama-sama duduk, Sisi berkata, “Bang Sam hebat. Sudah jadi big boss masih mau makan di tempat makan mahasiswa gini.”
“Hmm… sebenarnya aku lebih sering makan di tempat seperti ini. Bukan pelit, tapi memang lebih nikmat makannya. Daripada makan di restoran – restoran yang penuh kepalsuan dengan keramahan pelayannya, tentang aneka ragam masakan Eropa dan Amerika. Padahal mereka hanya ingin mengeduk keuntungan sebanyak mungkin.
“Iya Bang. Di Makassar juga begitu. Banyak restoran yang biasa disinggahi oleh boss -boss tambang dan tengkulak ikan… harganya selangit semua.”
“Yang penting makanan itu sehat untuk kita. Jangan pikirkan penampilannya.”
Lalu kami makan tanpa banyak bicara lagi.
Sementara pikiranku melayang-layang tak menentu. Tentang segala hal. Terutama tentang Sisi yang sangat cantik ini. Mampukah aku menahan perasaan setibanya di hotelku nanti?
###
Setibanya di hotelku, di meeting room yang sudah dijadikan kamar Sisi itu, aku berkata, “Sebenarnya kamar ini untuk sementara aja dijadikan kamarmu. Nanti kalau sudah beradaptasi dengan suasana lingkungan di kota ini, akan kutempatkan kamu di sebuah rumah pribadi.”
Tapi aku merasa lebih nyaman tinggal di sini Bang. Kalau tinggal di rumah sendirian, takut juga sih, karena belum kenal dengan suasana di sekitar rumah itu. Tapi kalau di sini kan banyak orang. Satpam juga banyak. Jadi aku lebih merasa aman dan nyaman. Lagian kalau lapar, tinggal pergi ke kantin.”
“Tapi kalau udah punya anak, sebaiknya tinggal di rumah pribadi.”
“Hihihi… Bang Sam ada-ada aja. Anak dari siapa?”
“Dari aku,” sahutku sambil duduk di atas sofa, agak jauh dari bed Sisi.
“Emang Abang udah punya rancangan sejauh itu?” tanya Sisi sambil menghampiriku, lalu duduk di samping kiriku.
“Segala sesuatu bisa aja terjadi di antara kita berdua Sis,” sahutku.
Tiba-tiba saja Sisi mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu mencium bibirku dengan mesranya.
Jadi jelas nih… Sisi yang pertama “menyerang”ku. Tadi di dalam mobil mencium pipiku. Kini mencium bibirku.
Lalu terdengar suaranya di dekat telingaku, “Ini pertama kalinya aku mencium bibir lelaki Bang.”
“Masa?! Berarti kamu masih perawan dong.”
“Tentu aja. Di Makassar kami tinggal di daerah fanatik Bang. Kalau ada remaja macem-macem, bisa dihajar sama penduduk asli di sana. Makanya aku sih mendingan gak gaul sekalian.”
“Sini duduknya,” kataku sambil menepuk pahaku sendiri.
“Gak kurang ajar duduk di pangkuan Abang?” tanyanya ragu.
“Gak. Justru biar kita makin akrab.”
Meski ragu, Sisi memberanikan diri duduk di pangkuanku. Yang kusambut dengan lingkaran lenganku di pinggangnya. Lalu kataku, “Sebenarnya begitu melihat kamu, aku langsung merasa sayang padamu Sis.”
“Sama Bang. Mungkin inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama.”
Aku bicara sayang, Sisi bicara cinta. Tapi aku akan tetap bicara secara diplomatis, mengingat jatah untuk istri keempat sudah ada sosoknya, yaitu Merry (seandainya dia sudah jadi janda).
“Baju-baju barunya gak mau dicobain dulu satu persatu?” tanyaku sambil mengecup pipinya yang terasa hangat.
“Tadi kan sudah dicobain semua di fitting room. Tinggal yang pilihan Abang itu yang belum dicobain.”
“Ya cobain deh sekarang.”
“Sekarang Bang?”
“Iya… biar aku bisa menilai selain cantik kamu ini seksi nggak?”
“Aku hanya ingin seksi di mata Bang Sam doang. Biarin kata orang lain sih dibilang gak seksi juga gak apa-apa,” sahut Sisi sambil turun dari pangkuanku, menuju kantong plasti yang berisi gaun-gaun barunya itu. Lalu dikeluarkannya salah satu gaun pilihanku, gaun mini berwarna orange, dengan belahan lebar di dadanya itu.
Lalu ia melangkah ke balik partisi sambil membawa gaun orange dengan bintik-bintik kecil berwarna merah itu.
Tak lama kemudian Sisi muncul dari balik partisi itu. Dalam gaun mini berwarna orange itu. Menghampiriku sambil tersenyum malu-malu. Mungkin karena ia sendiri merasa bahwa gaun yang satu itu banyak mempertontonkan bagian kaki dan dadanya. Paha putih mulusnya terpamerkan lebih dari 50%, sementara pertemuan dua bukit kembarnya pun nampak di mataku, karena bagian dada gaun itu terbuka lebar.
Aku berdecak kagum dibuatnya, “Ck… ck… ckkkk… luar biasa seksi gaun itu, Sis… !”
Sisi menghampiriku sambil tersenyum. Lalu tangannya kutarik agar duduk di atas pahaku lagi.
Setelah Sisi duduk di atas pahaku, tangan kananku langsung mengusap-usap paha putih mulusnya yang hangat, licin dan padat. “Selain ingin mendapat pekerjaan, apa lagi cita-cita paling penting buatmu, Sis?” tanyaku.
Sisi menatapku dari jarak yang sangat dekat. Dan menyahut lugu, “Ingin jadi milik Bang Sam.”
“Kenapa secepat itu kamu bercita-cita ingin menjadi milikku?”
“Soalnya berdekatan begini saja dengan Abang, hatiku terasa nyaman sekali Bang.”
Lalu kupeluk lehernya dan kucium bibir sensualnya. Lama kulumat bibirnya. Sementara Sisi sudah tampak pasrah. Pasrah sekali.
Tapi rasanya terlalu cepat juga kalau aku mengeksekusinya sekarang. Sisi tidak bisa disamakan dengan Halina. Karena Sisi ini saudara sepupuku. Kakek dan nenek Sisi dari ibunya, adalah kakek dan nenekku juga dari pihak Papa.
“Kan sekarang kamu sudah duduk di pangkuanku. Berarti kamu udah menjadi milikku,” kataku sambil melanjutkan rayapan tanganku sampai ke pangkal pahanya yang lebih hangat lagi rasanya.
“Aku dinggalin oleh Papa sejak umurku baru delapan tahun. Sehingga aku merindukan hadirnya seorang lelaki sebagai pelindungku, yang bisa menyayangiku seperti seorang ayah melindungi dan menyayangi anaknya sendiri.”
”Itu juga sudah kamu dapatkan Sis, Biasanya lelaki yang membiarkan orang lain duduk di pangkuan seperti ini sikap seorang ayah kepada anaknya kan?”
Sisi menatapku lagi dengan senyum manisnya. Lalu memagut bibirku ke dalam ciuman mesranya, sambil merangkul leherku ke dalam pelukannya.
Lalu terdengar suaranya, “Kalau begitu cita-citaku sudah tercapai semua. Yang lain-lainnya biarkan mengalir sendiri aja, seperti air dari hulu mengalir ke muara…”
Pada saat itulah tanganku sudah menyelinap ke balik celana dalam Sisi. Mulai menggerayangi kemaluannya yang terasa masih benar-benar kencang… tiada kerutan segaris pun kutemukan.
Prinsip awalku pun mulai runtuh. Karena aku mulai menemukan bagian yang sebesar kacang hijau itu. Jemariku pun mulai mengelus-elus bagian yang sangat kecil tapi terpenting di daerah kemaluan perempuan ini. Sisi pun mulai menggeliat-geliut di atas pangkuanku.
Llau terdengar suaranya terengah, “Bang.. aku ingin tidur bersama Abang… ingin mejamkan mata dalam belaian Abang…”
Sebagai jawaban, kutarik tanganku dari balik celana dalamnya. Lalu mengangkat tubuh anak Tante Salma itu dan membopongnya menuju kamarku sendiri.
Kemudian kuletakkan Sisi di atas bedku. Namun SIsi berkata, “Sebentar… mau ganti baju dulu Bang.”
Aku jadi serasa diingatkan bahwa tadi di FO. seharusnya Sisi dibelikan pakaian tidur juga. Tapi biarlah. Aku ingin tahu pakaian apa yang akan dikenakannya nanti.
Pada saat Sisi berada di kamarnya, aku pun mengganti pakaianku dengan baju dan celana piyama.
Tak lama kemudian Sisi sudah kembali lagi ke kamarku, dalam daster biru tua polos. Lumayan lah. Tapi Sisi tetap tampak cantik meski mengenakan daster murahan begitu. Nanti akan kubelikan gaun tidur yang bagus.
Lalu kuraih pinggang Sisi ke atas bedku.
“Kamar Abang ini mewah sekali, “gumam Sisi sambil merebahkan diri di atas bedku.
Aku tak mau menanggapinya. Aku cuma merebahkan diri di samping Sisi sambil bertanya, “Kamu serius mencintaiku?”
“Kalau tidak cinta, masa kubiarkan Abang megang-megang memekku segala tadi.”
“Kamu gak pake beha ya?”
“Iya Bang… katanya kalau tidur pake beha, mengganggu pernafasan. Makanya kalau mau tidur, aku terbiasa gak pake beha dan celana dalam. Jadi perut dan dada tidak terkekang.”
“Pernah tidur telanjang bulat?”
“Sering. Di Makassar kan panas Bang. Makanya aku sering tidur telanjang atau cuma mengenakan kaus singlet.
“Sekarang berani tidur telanjang?”
“Di sini pakai AC. Dingin Bang.”
“Kalau kamu telanjang, aku juga mau telanjang. Biar enak tidurnya saling peluk dan bersentuhan kulit dengan kulit.”
Sisi menatapku dengan sorot lugu. Lalu dilepaskanlah dasternya sambil berkata, “Iya deh. Ingin liat juga seperti apa bentuk Abang dalam keadaan telanjang.”
Aku pun menanggalkan segala yang melekat di tubuhku, sampai telanjang seperti Sisi. Namun pandanganku tetap terpusat ke arah sekujur tubuh Sisi yang sudah telanjang itu. Fantastis… tubuh adik sepupuku itu sangat mulus. Tiada noda setitik pun di tubuh putih mulusnya itu.
Sementara pandangan Sisi terpusat ke arah penisku yang sudah mulai menegang ini. Bahkan lalu memegangnya sambil bergumam, “Ternyata kontol lelaki sepanjang dan segede ini ya Bang. Kirain cuma segede jempol tangan.”
“Kamu mau kontolku dimasukkan ke dalam memekmu?”
“Terserah Abang. Tapi… kalau aku hamil nanti gimana?”
“Soal itu sih jangan takut. Aku punya pil anti hamil. Kalau sudah minum pil itu, disetubuhi sepuluh kali juga takkan bisa hamil,” kataku sambil menarik laci lemari pakaianku dan mengeluarkan tiga strip pil kontrasepsi. Kemudian memberikannya kepada Sisi.
Dengan teliti Sisi membaca aturan pakai pil-pil itu.
Setelah Sisi meletakkan ketiga strip pil kontrasepsi itu, aku pun merayap ke atas perut Sisi.
“Abang mau menyetubuhiku sekarang?” tanyanya lugu.
“Nanti… santai aja dulu… gak usah buru-buru. Kan memekmu harus basah dulu, supaya tidak sakit waktu kontolku dimasukkan nanti.”
Sisi tampak pasrah sekali. Sementara batinku bergulat. Ada perasaan bersalah kalau aku mengeksekusinya secepat ini. Tapi nafsuku sudah menagih-nagih. Nafsu yang sudah menguasai sekujur jiwaku. Untuk melakukannya secepat mungkin. Karena aku merasa Sisi terlalu cantik. Karena itu aku harus menanam “patok” di fisiknya, supaya dia hanya memusatkan cintanya padaku.
Maka ketika aku berada di atas tubuhnya, kuciumi bibirnya sebagai tanda bahwa terompet birahi mulai ditiup… treteteeeettt! Ngocoks.com
Sisi memang sudah benar-benar pasrah. Bahkan tampak seperti berharap agar aku melanjutkan sampai titik yang paling krusial… sampai pada titik klimaksnya nanti. Itu terbukti dari tubuhnya yang terasa mulai menghangat. Terlebih ketika aku mulai mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku mulai meremas toket kanannya dengan lembut.
Nafsu birahi memang sangat kuat pengaruhnya. Terkadang manusia bisa melakukan apa saja untuk menyalurkan nafsunya. Bahkan banyak kejadian di dunia, bahwa seorang pejabat tinggi pun bisa rusak reputasinya hanya gara-gara bagian di bawah perut wanita. Tak jarang juga yang akhirnya mengundurkan diri atau dipecat, karena melampiaskan nafsunya secara gegabah.
Karena itu aku selalu berusaha untuk melampiaskan nafsuku setelah dirasa aman untuk melakukannya. Aku pun tak pernah memperkosa perempuan. Semuanya kulakukan atas dasar suka sama suka.
Ketika aku menggeluti sepasang toket berukuran sedang yang padat kencang ini, tubuh Sisi terasa makin menghangat. Sebagai tanda sudah dikuasai oleh libidonya juga.
Terlebih setelah aku melorot turun, sehingga wajahku mulai berhadapan dengan kemaluan Sisi yang bersih dari jembut dan hanya berbentuk garis lurus dari atas ke bawah… Sisi pasrah saja. Tiada penolakan sedikit pun. Begitu juga pada saat kedua tanganku mengangakan kemaluan yang rapat itu, sampai tampak bagian dalamnya yang berwarna pink itu…
Namun ketika aku mulai menjilati bagian yang berwarna pink itu, Sisi tersentak sambil berkata, “Bang… memekku dijilatin?”
Sebagai jawaban, aku memberi isyarat dengan telapak tanganku, agar dia tetap diam. Sementara aku sudah mengambil kesimpulan bahwa Sisi nenang masih perawan. Itu kulakukan secara diam-diam dengan bantuan lampu senter kecil untuk melihat keadaan di dalam liang memek Sisi.
Sisi tidak complain lagi. Tapi ketika jilatanku mulai fokus ke kelentitnya, Sisi mulai menggeliat-geliat dengan nafas tertahan-tahan… sementara tangannya pun terasa mengusao-usap rambutku yang berada di bawah perutnya.
Sementara itu batang kemaluanku semakin ngaceng saja rasanya. Tapi aku berusaha menahan diri, karena ingin agar liang kemaluan Sisi benar-benar basah, supaya memudahkanku untuk melakukan penetrasi tanpa menimbulkan rasa sakit padanya.
Sisi pun mulai merintih-rintih histeris dan erotis, “Baaang… oooo… oooooh… Baaaang… iiiniiii… geli sekali Bang… tapi enak banget… ooo… oooooh… oooo… oooooh… Baaaang… enak sekali Baaang… ooo… oooh… Baaaang…!”
Namun aku tetap menjilati celah memek dan kelentitnya. Bahkan terkadang kelentitnya kuisap-isap sekuatnya, supaya muncul lebih dominan, sehingga aku semakin lahap menjilatinya.
Sampai akhirnya aku menilai memek Sisi sudah sangat basah dan siap untuk melakukan penetrasi.
Aku pun menjauhkan mulutku dari kemaluan saudara sepupuku, sambil mendekatkan moncong kontolku ke celah memek Sisi. Kucolek-colekkan dulu moncong penisku ke celah yang sudah ternganga itu, sekalian mencari arah yang tepat untuk memasukkan penis ngacengku ini. Sementara kedua paha Sisi sudah kudorong agar mengangkang selebar mungkin.
Aku pun mulai mendorong batang kemaluanku sekuat mungkin… sampai akhirnya terbenam sebatas lehernya.
“Aaaa… aaaahhhh… ini… su… sudah masuk ya Bang?” tanya Sisi sambil menatapku dengan sorot pasrah.
“Sudah Sayang… kalau agak sakit tahan ya…” sahutku sambil berusaha membenamkan penisku lebih dalam lagi.
Sisi menahan nafasnya sambil menatap langit – langit kamarku.
Setelah batang kemaluanku masuk separohnya (lewat perjuangan yang susah payah), aku pun menarik lagi batang kemaluanku perlahan-lahan… lalu mendorongnya kembali. Menariknya lagi… mendorongnya lagi… menarik… mendorong… menarik… mendorong dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya aku bisa mengentotnya secara normal.
Sisi pun mulai merintih – rintih erotis, “Baaaang… ini… enak sekali Baaang… oooooh… luar biasa enaknya Baaaang… aaaa… aaaah… aaa… aaaah… aaa… aaaah… !”
Namun aku pun mulai lupa segalanya. Batang kemaluanku semakin gencar kuayun, membuat Sisi menggeliat- geliat dan merintih – merintih terus…
Bersambung…




